JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


7. Nomor 2 September 2013-Sustiyah — PENINGKATAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT ATAS PEMBERIAN LIMBAH PADAT
8 Januari 2014, 2:27 pm
Filed under: Penelitian | Tag: ,

PENINGKATAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT ATAS PEMBERIAN LIMBAH PADAT PABRIK PENGOLAHAN KARET DI KALIMANTAN TENGAH

(The Increase Of Palm Oil Grown On Added solid rubber waste in Central Kalimantan)

 Sustiyah1), Salampak1), Siti Zubaidah1), Gusti Irya Ichriani1)

1)  Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNPAR

Telp. 0816282163 Email : sustiyah_upr@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

 

The objectives of this study were to study the increase of the growth of oil palm seedlings to giving multiple doses of solid waste rubber processing plant in Central Kalimantan, to get a dose of the best solid waste in an optimal growth at pre-nursery seedlings, and to get information on potential, opportunities, and utilization of solid waste rubber on the soil properties. This research was conducted using Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments of dosage of solid rubber waste and 9 replications.  Treatments of solid waste of rubber were: (1) L0 = non treatment of solid rubber waste (Control), L1 = doses of solid rubber waste 75 kg ha-1 (500 g solid rubber waste seed-1), and L2 = doses of solid rubber waste 150 kg ha-1 (1 kg solid rubber waste seed-1). The results showed that the dosage of the solid rubber waste treatment enough influence and respond positively to the growth of oil palm seedlings pre nursery, and solid waste treatment plant rubber was potentially quite useful as a fertilizer for crops. Providing solid waste rubber processing plant with a dose of 1 kg / tree (L2) is the best treatment and enough to give a positive response and optimal growth in pre nursery.

 

Keywords : Palm Oil Seed, Solid Rubber Waste

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit atas pemberian beberapa  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet di Kalimantan Tengah, agar mendapatkan dosis limbah padat yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery; dan mendapatkan informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan dosis limbah padat pabrik karet (L) terdiri dari tiga taraf perlakuan: L0 = tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 =  dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1).   Setiap  perlakuan diulang 9 kali, sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman/dapat menyumbangkan unsur hara tanaman. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/ pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik dan cukup memberi respon yang positif serta meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery.

 

Kata kunci : Bibit Kelapa Sawit, Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Salah satu komoditas perkebunan yang menjadi unggulan di Indonesia adalah tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq), hal ini disebabkan kelapa sawit menghasilkan nilai ekonomi dan penambah devisa negara terbesar per hektarnya,  sebagai sumber bahan industri tekstil, sabun, diterjen bahan pakan ternak dan mentega (Balai Informasi Pertanian, 1990).

Kalimantan Tengah mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri kelapa sawit, mengingat luas areal perkebunan tanaman kelapa sawit di Indonesia tahun 2010 mencapai 7,825 juta ha, dengan hasil produksi mencapai 19,845 juta ton. Produksi kelapa sawit di provinsi kalimantan Tengah mencapai 1.449.987 ton, dengan luas areal 909.703 Ha, yang meliputi perkebunan besar negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat (BPS  dalam angka 2010). Dengan adanya industri kelapa sawit ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa daerah.

Rangkaian kegiatan budidaya kelapa sawit.sangat ditentukan oleh keberadaan pembibitan yang merupakan langkah awal dalam berbudidaya. Pembibitan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pembibitan kelapa sawit memerlukan perhatian yang serius, tetap dan terus menerus sampai pada umur 1 – 1,5 tahun pertama. Produksi awal di lapangan berkorelasi nyata dengan luas daun pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM) (Pahan, 2006).

Kegiatan pembibitan pre nursery dan main nursery sering mengalami hambatan, karena penyesuaian terhadap keadaan iklim setempat dan memerlukan media tanam yang cukup nutrisi (Hakim, 1985). Dampak dan mahalnya harga pupuk anorganik perlu diupayakan pupuk alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik. Untuk mendapatkan bibit yang baik dan berkualitas, faktor tanah perlu diperhatikan khususnya tanah pasir sebagai media tanam yang cukup banyak ditemui di Kota Palangka Raya.

Limbah padat pabrik pengolahan karet PT. Borneo Makmur Lestari dapat menyuburkan tanaman pepaya dan nangka yang ditanam di halaman perumahan pabrik. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet PT. Borneo Makmur Lestari di Kota Palangka Raya mengandung  unsur hara yang dapat dimanfaatkan dan berpotensi sebagai pupuk tanaman terutama pada pembibitan pre nursery tanaman kelapa sawit.

 Kandungan dan kriteria unsur hara dalam limbah padat pabrik pengolahan karet adalah pH H2O sebesar 6,25 (agak masam), N total sebesar  0,28 % (sedang), P- tersedia sebesar 548,44 ppm (sangat tinggi), K-dd sebesar 0,28 me/100 g (sedang), Ca-dd sebesar 7,53 me/100 g (sedang), Na-dd sebesar 0,10 me/100 g (rendah), Mg dd sebesar 0,92 me/100 g (rendah), Kejenuhan Basa (KB) 27,47 % (rendah), dan KTK 31,12 me/100 g (tinggi). Unsur-unsur tersebut diduga berasal dari hasil pengenceran lateks yang dilakukan petani dalam membekukan lateks dengan berbagai bahan asam (asam semut dan asam alami dari buah-buahan) yang ikut tercuci oleh air. Mengingat kandungan unsur hara limbah padat pabrik karet masih relatif kurang mencukupi untuk pembibitan dengan menggunakan media tanah pasir, maka perlu dilakukan juga pemberian pupuk anorganik pada pembibitan pre nursery. Pupuk anorganik yang bisa digunakan adalah pupuk majemuk NPK.  

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian dampak pemberian beberapa level dosis limbah padat dengan pupuk majemuk NPK terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Tujuan umum dalam penelitian adalah untuk mengetahui: 1) mengkaji peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit terhadap pemberian beberapa  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet di Kalimantan Tengah, agar mendapatkan dosis limbah padat yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery; dan 2) informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah pasir.

 

BAHAN DAN METODE

 

Penelitian dilaksanakan pada bulan September – Desember 2012, di kebun petani Kelurahan Petuk Bukit, Kec. Rakumpit, Kota Palangka Raya. Analisis hara tanah dan limbah padat dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR.

            Bahan yang digunakan adalah bibit sawit tahap pre-nursery dari petani sawit di Kelurahan Petuk Bukit (varietas DxP Lonsum), limbah padat pabrik karet (PT. Borneo Makmur Lestari di Kota Palangka Raya), kapur dolomit, polybag ukuran 30 x 30 cm,  pupuk kandang kotoran ayam, kayu, terpal ukuran 4 x 6 cm, pestisida.

            Peralatan meliputi karung plastik besar, cangkul, parang, ember, parang, gayung ukur, penggaris, camera, ember, meteran, timbangan, alat tulis, peralatan laboratorium untuk analisis, hand sprayer semi otomatis volume 2 liter dan alat bantu lainnya yang menunjang penelitian.

Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan dosis limbah padat pabrik karet yang terdiri dari tiga taraf: L0 =  tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 = dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1). Setiap perlakuan diulang sebanyak 9 (sembilan) kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan.   

Penelitian diawali dengan membersihkan lokasi penempatan bibit,  persiapan media tanam dengan dibersihkan tanah dari rerumputan dan gumpalan tanah. Tanah yang digunakan untuk pembibitan pre-nursery sebanyak 6 kg polybag-1 kemudian diberi kapur dolomit dengan dosis 4 ton ha-1 (28 g polybag-1), dan pupuk kandang kotoran ayam 4 ton ha-1 (28 g polybag-1).

Limbah padat dikeringanginkan selama 2 minggu sebelum diaplikasikan. Limbah padat diaplikasikan sesuai dosis yang ditentukan dan diberikan 1 kali saat persiapan media tanam, dengan cara dicampur dengan 6 kg tanah yang sudah diberi kapur dan pupuk kandang. Kemudian dimasukkan dalam polybag berukuran 30 x 30 cm dan diinkubasi selama 1 minggu.

Bibit berumur 1,5 bulan dipindah secara hati-hati dan dimasukkan ke polybag berisi media tanam, kemudian diletakkan dan disusun di tempat pembibitan yang telah disediakan.

Pemeliharaan pembibitan tanaman pre nursery meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian hama penyakit.

 Pengamatan dilakukan terhadap semua tanaman dari setiap perlakuan di pembibitan pre nursery. Variabel yang diamati meliputi: tinggi bibit (cm), jumlah pelepah daun (helai), berat basah bibit (gr), berat kering bibit (gr), berat basah dan kering akar (gr).  Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap analisis hara media tanam dan limbah padat pabrik karet yang meliputi analisis pH, N, P, K, Ca, Mg, KTK dan KB sebelum penelitian dan analisi media pH, N, P dan K sesudah penelitian. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf α = 0,05 dan α = 0,01. Apabila terdapat pengaruh nyata pada perlakuan, akan dilakukan uji nilai tengah dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) taraf α = 0,05 untuk mengetahui perbedaan antar taraf perlakuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Bibit Pre Nursery

Berdasarkan hasil analisis ragam tinggi bibit kelapa sawit pre nursery menunjukkan bahwa perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet memberikan pengaruh yang sangat nyata pada umur 0 hingga 14 minggu setelah tanam (mst).

Hasil uji nilai tengah tinggi bibit kelapa sawit pre nursery 0 hingga 14 mst  terhadap perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet menunjukkan bahwa pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik sebagaimana disajikan pada table 1.

 

Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Pre Nursery

Berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery tidak dilakukan analisis ragam karena data diperoleh di akhir penelitian (umur 14 mst), dan tanaman sampel yang diamati hanya satu pada masing-masing perlakuan. Hasil nilai pengukuran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 0,5 Kg/pohon (L1) merupakan perlakuan terbaik. Hasil nilai pengukuran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur 14 mst disajikan pada tabel 2

 

 

Tabel 1.    Hasil Uji Nilai Tengah Tinggi Tanaman Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Perlakuan Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet

Gambar

Keterangan :    Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan berdasarkan Uji BNJ 5%

 

Tabel 2.    Hasil Uji Nilai Tengah Jumlah Pelepah Daun Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Perlakuan Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet.

Gambar

Keterangan : Huruf yang berbeda pada baris yang sama berrbeda berdasarkan Uji BNJ 5%

 

Tabel 3. Hasil Nilai Pengukuran Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Perlakuan Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet

Gambar 

Kandungan Hara Limbah Padat  sebagai Data Pendukung

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet cukup mengadung unsur hara makro, seperti nitrogen-total (N-total) sebesar 0,28 % dan kalium tersedia (K-dd)  sebesar 0,28 me/100g (kriteria sedang), phospor-tersedia (P-tersedia) sebesar 548,44 ppm (kriteria tinggi), kalsium tersedia (Ca-dd) sebesar 7,53 me/100g (kriteria sedang), natrium tersedia (Na-dd) sebesar 0,10 me/100g dan magnesium tersedia (Mg-dd) sebesar 0,92 me/100g (kriteria rendah), sehingga cukup berpotensi sebagai pupuk tanaman, terutama bagi tanaman kelapa sawit.

Hasil analisis kandungan KB dan KTK dalam limbah padat karet adalah kejenuhan basa (KB) sebesar 27,47 % (kriteria rendah), dan KTK sebesar 31,12 me/100 g (kriteria tergolong tinggi). KB dan KTK yang terkandung dalam limbah padat yang dijenuhi kation basa diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

 

PEMBAHASAN

 

Pertumbuhan tanaman yang baik secara keseluruhan dapat diilustrasikan dari kondisi tinggi tanaman, kondisi jumlah pelepah daun dan berat basah, berat kering tajuk dan akar tanaman. Secara garis besar pemberian dosis limbah padat pabrik pengolahan karet cukup memberi pengaruh dan respon positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Hasil uji nilai tengah tinggi bibit kelapa sawit pre nursery terhadap perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet menunjukkan bahwa pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik sebagaimana disajikan pada Gambar 1.

Unsur hara yang tersedia sangat berperan dalam meningkatkan pertumbuhan

tinggi tanaman, hal ini dijelaskan oleh Lubis dkk (1986) bahwa unsur P berperan dalam proses pembelahan sel untuk membentuk organ tanaman. Syarief (1986) mengatakan bahwa kandungan Kalium pada tanaman sawit banyak menumpuk pada titik pertumbuhan tanaman, sehingga diduga unsur hara kalium mempunyai peranan penting dalam proses pertumbuhan tanaman, terutama dalam meningkatkan tinggi tanaman kelapa sawit.  Berdasarkan hasil analisis bahwa kandungan kalium tersedia pada limbah padat tergolong sedang (0,28 me K/100g), sehingga penambahan/ peningkatan jumlah pemberian limbah padat karet secara signifikan akan menambah jumlah hara kalium tersedia bagi bibit tanaman kelapa sawit.

Peningkatan tinggi bibit kelapa sawit bukan satu-satunya untuk menggambarkan kondisi pertumbuhan yang baik, namun jumlah pelepah daun merupakan komponen utama produksi sawit karena merupakan tempat keberadaan tandan sawit sebagai hasil fotosintat dari tanaman.

Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery terhadap

perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet menunjukkan bahwa limbah padat pabrik dengan dosis  1 kg/pohon (L2) merupakan perlakuan terbaik sebagimana disajikan pada Gambar 2.

Hasil nilai pengukuran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 0,5 Kg/pohon (L1) merupakan perlakuan terbaik sebagaimana disajikan pada Gambar 3.

Tinggi dan banyaknya jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada perlakuan limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/pohon (L2), disebabkan oleh limbah padat dengan dosis 1 kh/pohon (L2) cukup menyumbangkan hara makro yang dibutuhkan bagi pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery sehingga cukup membantu meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit pre nursery khususnya terhadap tinggi tanaman.

GambarGambarGambar

Sedangkan pada berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery, hara yang yang terkandung pada perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 0,5 Kg/pohon (L1) cukup memberikan respon terbaik. Unsusr hara makro yang terkadung dalam limbah padat pabrik pengolahan karet diantaranya hara nitrogen (N), phospor (P), kalium (K), kalsium tersedia (Ca-dd), natrium tersedia (Na-dd) dan magnesium tersedia (Mg-dd) serta Kejenuhan Basa (KB), dan KTK yang tergolong tinggi) sebagaimana dijelaskan pada uraian di atas.

Nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif  tanaman, berperan dalam pembentukan sel tanaman terutama pada pertumbuhan vegetatif, seperti pembentukan daun, tinggi tanaman, lingkar batang, dan tajuk tanaman (Sarief, 1986).

Meningkatnya pertumbuhan tanaman dengan meningkatnya pemberian takaran pupuk limbah padat karet, membuktikan, bahwa pada pertumbuhan vegetatif tanaman memerlukan jumlah unsur nitrogen yang tinggi. Rendahnya kandungan protein daun akibat suplai N yang rendah pada dosis yang lebih sedikit menyebabkan asimilasi N menjadi protein menjadi lebih rendah yang akan didistribusi pada ke seluruh bagian tanaman.

Hal ini di sebabkan jumlah terbesar dari N yang dibutuhkan untuk membentuk protein digunakan untuk pembentukan protoplasma sel-sel baru, di samping untuk pembentukan klorofil, sitokrom dan sebagai enzim dalam kloroplas dan mitokondria pada dam (Below, 1995; Zakaria, 1999). Di samping itu, protein juga di akumulasikan pada biji dan sebagai protein cadangan pada struktur ikatan membrane yang disebut benda protein (Zolla et al, 2003). Peningkatan ketersediaan hara menyebabkan tanaman akan memanfaatkan hara dengan baik, sebagai bahan baku terhadap terbentuknya assimilat pada tanaman (Purcell et al., 2002; Lawlor, 1993).  Jumlah assirnilat yang terbentuk pada tanaman yang lebih tinggi menyebabkan produksi bahan kering tanaman semakin  meningkat. Seperti,  dengan  penyerapan N yang lebih tinggi oleh tanaman maka tanaman akan membentuk protein lebih tinggi.  Terbentuknya protein yang tinggi bagi tanaman, menyebabkan perkembangan sel-sel tanaman akan lebih baik sehingga defrensiasi sel tanaman menjadi lebih berkembang (Millar and Heazlewood, 2003).

Phospor berperan dalam pembentukan akar, khususnya pada pembibitan pada tahap pre nursery (pertumbuhan kecambah sawit hingga umur 3 bulan) maupun main nursery (pertumbuhan bibit sawit umur 4 bulan hingga umur 12 bulan, siap untuk dipindahkan ke lapangan/lahan) dan berperan dalam pertumbuhan akar kelapa sawit di lapangan. Phospor sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Sarief, 1986).

Tanaman yang kekurangan unsur hara terutama unsur P dapat menyebabkan berkurangnya perkembangan akar, sehingga akar kelihatan kecil dan akan mempengaruhi berat kering akar tanaman (Sarief, 1986). Selain itu Suseno (1974) menjelaskan apabila tanaman kekurangan unsur hara N, P, K, dan Mg akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, akar menjadi lemah dan jumlah akar berkurang dan akan mempengaruhi berat kering tanaman.

Kalium berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan pucuk tanaman, mendukung pertumbuhan jaringan tanaman sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit.  Kalium sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Sarief, 1986).

Kalsium, natrium dan magnesium dalam tanah berperan untuk mengurangi tingkat kemasaman tanah, sedangkan peranan magnesium bagi tanaman merupakan unsur pokok dalam pembentukan klorofil (hijau daun), kalsium dan natrium merupakan unsur pokok pembentuk lamela tengah dinding sel yakni dapat memperkokoh pertumbuhan tanaman (Sarief, 1986).

KB merupakan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation asam seperti H dan Al +kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na) yang terdapat dalam komplek jerapan tanah. Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang dierlukan oleh tanaman. Tanah dengan KB yang tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan anah yang subur.  KTK merupakan banyaknya yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah. KTK merupakan sifat kimia tanah yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada KTK rendah (Sarief, 1986).

Menurut Sutedjo (1995), sumber bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman, baik berupa sampah tanaman (seresah atau sisa tanaman yang telah mati). Sumber bahan organik lainnya adalah dari kotoran hewan seperti ternak dan unggas. Berdasarkan asalnya, pupuk organik digolongkan menjadi: pupuk organik sisa hasil pertanian, pupuk kandang, pupuk hijau, gambut dan limbah industri (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Salah satu kelebihan dari penggunaan pupuk organik terhadap kesuburan tanah adalah : (1) Bahan organik dalam proses mineralisasi akan melepas­kan hara tanaman dengan  lengkap (N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil; (2) Dapat memperbaiki struktur tanah, menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar; (3) Tanah lebih mudah diolah untuk tanah-tanah berat; (4) Meningkatkan daya menahan air (water holding capaci­ty). Sehingga kamampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak. Kelengasan air tanah lebih terjaga; (5) Permeabilitas tanah menjadi lebih baik, menurunkan permeabilitas pada tanah bertekstur kasar (pasiran), sebaliknya meningkatkan permeabilitas pada tanah bertekstur sangat lembut (lempungan); (6)  Meningkatkan kapasitas pertukaran kation (KPK), se­hingga kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi aki­batnya jika dipupuk dengan dosis tinggi, maka hara tanaman tidak mudah tercuci; (7) Memperbaiki kehidupan biologi tanah karena ketersediaan makanan lebih terjamin; (8) Dapat meningkatkan daya sangga (buffering capasity) terhadap goncangan perubahan drastis sifat tanah; dan (9) Mengandung mikroba dalam jumlah cukup yang berperanan dalam proses dekomposisi bahan organik (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Pemberian bahan organik tanah ( limbah padat pabrik pengolahan karet) pada tanaman cukup dapat menyumbangkan hara bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk organik berfungsi penting dalam tanah yaitu menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhannya dapat meningkatkan kesuburan tanah pula (Muslihat L, 2009).  Selain itu hara C, H, O yang terkandung di dalam bahan organik pada pupuk limbah padat karet merupakan unsur yang paling dibutuhkan dalam proses fotosintesis sebagai penyusun senyawa penting dalam tanaman yang akan diubah untuk membentuk organ seperti batang, daun, dan akar. Sesuai dengan pendapat Darmawan dan Yustika (1982) yang menjelaskan apabila fotosintesis berlangsung dengan baik, tanaman akan dapat tumbuh dengan normal serta diikuti oleh peningkatan berat kering tanaman.

Limbah padat dari pabrik pengolahan karet merupakan limbah yang secara umum memiliki kandungan bahan organik tinggi, bau menyengat dan berwarna hitam. Limbah karet  padat tersebut mempunyai kandungan bahan organik dan unsur hara yang tinggi, karena dalam proses pengolahan karet banyak menggunakan bahan kimia seperti NH4OH sebagai antikoagulan dan juga disenfektan yang ditambahkan pada saat penyadapan karet sebanyak 5 -10 ml larutan amonia 2 – 2,5 per liter latek yang dihasilkan (Setjamidjaja, 2003).

Menurut Chairuddin, (1994) komposisi limbah pabrik karet mengandung bahan organik yang berasal dari serum dan partikel karet yang belum terkoagulasi. Dalam serum terdapat protein, gula, lemak, garam orgnik dan mikroorganisme. Limbah pabrik karet mengandung protein, lipid, karotenoid, dan garam anorganik, lateks yang tidak terkoagulasi dan bahan kimia yang ditambahkan selama pengolahan (Suwardin, 1989).

            Menurut Anonim (2004), limbah karet yang berasal dari latek dapat dimanfaatkan sebagai pupuk setelah diolah. Berdasarkan penelitian, unsur N, P, K, dan Mg terdapat di dalam limbah. Beberapa tempat yang telah melakukan pengolahan limbah memberikan limbah ini pada tanamannya sebagai pupuk.

 

KESIMPULAN

  1. Secara garis besar pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman/dapat menyumbangkan unsur hara tanaman.
  2. Secara khusus dan lebih operasional, bahwa pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/ pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik dan cukup memberi respon yang positif serta meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2004. Budidaya Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Balai Informasi Pertanian. 1990. Pedoman Budidaya Kelapa Sawit.  Departemen Pertanian. Medan. 32 hal.

Below, F.E.l995.  Nitrogen mettabolism and crop productivity. In M.  Pessarakli (ed.). Handbook of Plant and Crop Physiology.  Marcel Dekker. Inc. New York,  Bazel, Hongkong. Pp 275-302.

BPS (Badan Pusat Statistik) provinsi Kalimantan Tengah 2010. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2010, Palangka Raya.

Chairuddin, GT.(1994). Kualitas Air Limbah Dan Pertumbuhan Enceng Gondok dalam Lagoon Limbah Karet. Skripsi SP. Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara.

Hakim, 1985. Evaluasi Kemampuan Lahan. Jurusan Ilmu Tanah Faperta IPB. Bogor.

Lawlor, D. W. 1993: Photosyntesis, moleculer, physiologic,al and environ-mental processes.  Scientific Longman & Technical England.

Millar, A. H., and J. L. Heazlewood.  2003. Genomic and proteomic analysis of mitochondria1 carrier proteins in arabodopsis. Plant Physiol. 131: 443-453.

Muslihat, L. 2009. Teknik Pembuatan Kompos Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah di Lahan Gambut. Co_ccfpi@wetlands.or.id.

Pahan,  I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

Purcell, L. C., R. A. all, J. D. Reaper, and E. D. Vories. 2002. Radiation use efficiency and biomass production in soybean at different plant population densities. Crop Sci. 42: 172-177.

Rosmarkam, A dan N. W. Yuwono, 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Sarief, ES. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana. Bandung.

Setyamidjaja, D. 2003. Karet : Budidaya dan pengolahan. Kansius. Yogyakarta. Jurnal Menejemen dan Kualitas Lingkungan. Lembaga Penelitian Uninersitas Lampung.

Sutedjo, M. M,. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 177.

Suwardin, D. 1989. Tehnik pengendalian limbah pabrik karet. 4(2): 25-32.  Jakarta.

Zakaria, B. 1999. Aktifitas fotosintesis dan rubisco tanaman yang diberi metanol pada berbagai tingkat cekaman air (Kasus pada tanaman kapas). Dis. Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.

Zolla, L., A. M. Tiperio, W. Walcher, and C. G. Huber. 2003.  Proteomics of light-harvesting proteins in different plant species. Analysis and comparison by liquid chromatography-electrospray ionization mass spectrometry. Photosystem , 111. Plat Physiol. 131: 198-214


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: