JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


6. Nomor 2 September 2013-Zubaidah — Peningkatan Pertumbuhan dan HAsil Jamur Tiram ……
8 Januari 2014, 2:16 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR TIRAM (Pleurotus Ostreatus) MELALUI  VARIASI KOMPOSISI MEDIA TANAM

 (Increase Growth and Yield Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) with Various Composition of Growing Media)

 Siti Zubaidah1); Saputera1), Yulia Sartika 1)

 1)  Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Telp. 081349669934  Email : zubaiyog@yahoo.com

 

ABSTRACT

 

The purpose of this study : 1. Determine the effect of the composition of growth media on the growth and yield of oyster mushroom 2. Getting the best planting medium composition for growth and yield of oyster mushroom. Research carried out for 5 months, from July to November 2012 at Rumah Jamur Taheta on Tamiang Layang City, Regency of Barito Timur, Province of Central Kalimantan. This research uses Completely Randomized Design (RAL) single factor experiment, treatment composition of growing media comprising, sawdust, rice bran, gypsum (CaSO4) and limestone (CaCO3) each treatment had 6 replicates, so that there are 24 units in research trials. Treatment in this study are as follows : K0 : control (95 % sawdust : 3 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum); K1 : 80 % sawdust : 18 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum K2 : 65 % sawdust : 33 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum; dan K3 : 50 % sawdust : 48 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum. Composition of the growth media K1 (80 % sawdust : 18 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum ) provide the highest growth for body of fruiting and the age of first harvest fastest, gave the highest yield in the number of fruiting bodies in one clump and highest body weight of fresh fruit oyster mushrooms. But not significantly different from the composition of the growth media 95 % sawdust : 3 % rice bran : 1 % limestone : 1 % gypsum.

 

Keywords :  Composition of the growth media, sawdust, rice bran.

 

ABSTRAK

 

Tujuan dari penelitian ini adalah Mendapatkan komposisi media tanam yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil jamur tiram. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan yaitu dari bulan Juli sampai bulan November 2012 di Rumah Jamur Taheta di Kota Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (single factor experiment), yang terdiri dari perlakuan komposisi media tanam, serbuk gergaji,  bekatul, gips (CaSO4), dan kapur (CaCO3) setiap perlakuan ada 6 ulangan, sehingga dalam penelitian terdapat 24 satuan percobaan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 95 % serbuk kayu gergaji : 3 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips; 80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips; 65 % serbuk kayu gergaji : 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips; dan 50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips. Komposisi media tanam 80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips memberikan pertumbuhan terbaik saat muncul tubuh buah dan pada umur panen pertama, memberikan hasil terbaik pada jumlah tubuh buah dalam satu rumpun dan berat tubuh buah jamur tiram segar. Tetapi tidak berbeda nyata dengan komposisi media tanam 95 % serbuk kayu gergaji : 3 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips.

 

Kata Kunci :  Jamur, Media, serbuk, bekatul.

 

 

PENDAHULUAN

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu, karena jamur ini banyak tumbuh pada media kayu yang sudah lapuk. Jamur tiram atau oyster musroom memiliki bentuk tudung membulat, lonjong, dan melengkung seperti cangkang tiram. Batang atau tangkai tidak berada pada tengah tudung, tetapi agak miring ke pinggir (Cahyana, 1997).

Jamur tiram di alam bebas dapat dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk.Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Dalam budidaya jamur tiram dapat digunakan substrat, seperti kompos serbuk kayu gergaji, ampas tebu atau sekam  (Gunawan, 2004).

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan media sangat beragam, tetapi setiap formula selalu menggunakan komponen utama berupa serbuk kayu gergaji lebih dari 90 % ditambah bekatul 2 %, campuran lainnya serta penambahan mikroelemen dan vitamin seperti kapur (CaCO3) dan gips (CaSO4). Mikroelemen dan vitamin berguna untuk meningkatkan pembentukan tubuh buah serta meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil (Suriawiria, 2006). Menurut Cahyana (2000) kayu atau serbuk kayu gergaji yang digunakan sebagai tempat tumbuh jamur mengandung serat organik selulosa, hemi selulosa, serat, lignin, karbohidrat. Sedang faktor yang menghambat antara lain getah dan zat pengawet. Menurut Trubus (2007) bekatul yang kaya karbohidrat, karbon dan vitamin B komplek bisa mempercepat pertumbuhan dan mendorong perkembangan tubuh buah jamur. Gips atau CaSO4 digunakan sebagai sumber kalsium (Ca) dan berguna untuk memperkokoh media baglog, dalam keadaan kokoh media tidak akan cepat rusak (Rachmatullah, 2009). Menurut Cahyana, dkk (1997) CaCO3 berupa kapur yang berfungsi mengontrol pH dan sebagai sumber kalsium yang dibutuhkan oleh jamur dalam pertumbuhannya.

            Ketepatan dalam membuat suatu komposisi media tanam jamur tiram merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan tumbuh jamur, dengan komposisi yang tepat akan diperoleh produksi yang maksimal. Menurut Gunawan (1992) media jamur tiram yang digunakan untuk tumbuh dan berkembang, seluruh kebutuhan nutrisinya harus terpenuhi di dalam media, sehingga diperlukan suatu komposisi media yang tepat untuk mendapatkan suatu pertumbuhan jamur tiram yang optimal. Substrat media tanam jamur terdiri atas serbuk kayu gergaji sengon yang dicampur dengan 10 % bekatul, 1,5 % kapur, dan 1,5 % gips. Ada beberapa komposisi campuran media antara serbuk kayu gergaji dan penambahan nutrisi yang berbeda-beda. Salah satu komposisi campuran media tumbuh jamur tiram adalah serbuk kayu gergaji 95 %, bekatul 3 %, kapur atau CaCO3 1 %, dan gips atau CaSO4 1 % (Redaksi Agromedia, 2009).

            Semakin beragamnya komposisi yang digunakan dalam budidaya jamur tiram oleh petani, serta belum diperolehnya informasi produksi atau hasil yang baik, studi ini dimaksudkan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil jamur tiram (Pleurotus ostreatus) pada berbagai komposisi media tanam.

   Tujuan penelitian untuk mendapatkan komposisi media tanam jamur yang memberikan produksi optimum. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi masukan kepada petani jamur tiram tentang komposisi media tanam jamur tiram agar berproduksi optimum.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan yaitu sejak Juli sampai November 2012 di Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Propinsi Kalimantan Tengah.

Bahan yang digunakan antara lain bibit jamur tiram, serbuk kayu gergaji, bekatul, CaCO3 (kapur), CaSO4 (Gips), plastik polipropilen, karet gelang, potongan kertas koran, dan air. Sedangkan alat yang digunakan adalah ayakan, sekop, thermometer, potongan pralon, ember, drum, dan kumbung jamur. Bibit jamur tiram berasal dari Ketua Umum Asosiasi Pembudidaya Jamur Tiram, di lokasi pembibitan kumbung Bogor.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu perlakuan komposisi media tanam, bekatul, CaSO4, dan CaCO3. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : K0 = Kontrol (95 % serbuk kayu gergaji : 3 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips), K1 = 80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips, K2 = 65 % serbuk kayu gergaji : 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips, K3 = 50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips, Pada penelitian ini setiap perlakuan ada 6 ulangan, sehingga dalam penelitian terdapat 24 satuan percobaan.

            Metode linier aditif yang digunakan dalam penelitian ini menurut Yitnosumarto (1993) adalah :

Yij    :  µ + τi + eij

Yij    :  Nilai respon jamur yang diamati

τi       :  Pengaruh Perlakuan ke-i

∑ij        :           Komponen acak (galat pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j).

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Saat  Munculnya Miselium (Hari)

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa saat munculnya miselium pada komposisi media tanam K3 yang banyak mengandung bekatul berbeda nyata terhadap media tanam K0, K1, dan K2. Pada perlakuan K3 menunjukkan munculnya miselium tercepat dengan rata – rata satu hari setelah tanam. Pada komposisi K3 mengandung bekatul yang sangat banyak dengan perbandingan 50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips. Media tanam yang mengandung bekatul paling tinggi lebih cepat dalam pertumbuhan dan perkembangan munculnya miselium, sedangkan pada perlakuan K0 dengan komposisi bekatul dalam jumlah sedikit mengalami pertumbuhan miselium yang agak lambat dikarenakan proses dekomposisi yang terjadi lebih lambat dibandingkan perlakuan K3 sehingga ketersediaan nutrisi belum dapat sepenuhnya tersedia bagi jamur. Dekomposisi terjadi karena aktivitas dari mikroflora termofolik, yang merombak selulosa, hemiselulosa, serta lignin sehingga lebih mudah dicerna oleh jamur. Selama proses dekomposisi akan timbul panas yang akan mematikan organisme pesaing yang merugikan bagi pertumbuhan jamur (Tjokrokusumo dan Netty., 2008)

Kecepatan munculnya miselium selain dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, suhu udara, dan kelembaban, faktor utama lainnya adalah ketersediaan sumber nutrisi yang cukup. Tetapi untuk masa awal pertumbuhan miselium untuk mencapai fully-colonized dengan kandungan nutrisi yang berlebihan yang terdapat pada bekatul  justru mengakibatkan miselium mudah terkontaminasi. Perlakuan K3 (50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) saat munculnya miselium sangat cepat tetapi saat umur 4 – 7 hari setelah tanam semua media baglog mengalami kontaminasi. Media dengan komposisi K3 (50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) lebih banyak mengandung bekatul sehingga kemampuan menyerap air lebih banyak, akibatnya media baglog menjadi sangat lembab sehingga resiko untuk terkontaminasi sangat tinggi. Selain itu jumlah bekatul yang banyak menyebabkan nutrisi yang terkandung dalam bekatul sangat banyak sehingga disukai oleh mikro organisme lainnya yang merupakan musuh jamur tiram.

 

 

Tabel 1.    Nilai rata-rata saat munculnya miselium (hari), lama penyebaran miselium pada baglog (hari), dan saat muncul tubuh buah (hari) jamur tiram pada berbagai komposisi media tanam

Perlakuan

Saat munculnya miselium (hari)

Lama penyebaran miselium pada baglog (hari)

Saat muncul tubuh buah (hari)

K0

1,45 b

  33,00 bc

67,83 b

K1

1,28 b

33,89 c

64,78 b

K2

1,34 b

32,06 b

66,89 b

K3

1,00 a

 0,00 a

0,00 a

BNJ 5%

0,25

0,09

0,55

Keterangan : Nilai rata – rata yang diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut BNJ 5%

 

Tabel 2.    Nilai rata-rata umur panen pertama (hari), jumlah tubuh buah pada satu rumpun (buah), dan berat tubuh buah jamur segar (gram).

Perlakuan

Umur panen pertama (hari)

Jumlah tubuh buah pada satu rumpun (buah)

Berat tubuh buah jamur segar (gr)

K0

8,97 b

10,48 c

103,25 c

K1

8,73 b

10,99 c

108,06 c

K2

8,87 b

8,65 b

95,65 b

K3

0,00 a

0,00 a

0,00 a

BNJ 5%

0,52

0,27

0,21

Keterangan : Nilai rata – rata yang diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut BNJ 5%

 

 

Pemberian salah satu bahan dari media tanam yang berlebihan akan menganggu keseimbangan nutrisi yang tersedia bagi jamur tiram sehingga dapat menghambat pertumbuhan jamur. Kontaminasi dapat dikenali dari warna sporanya yang khas, diantaranya  Trichoderma sp. yang berwarna kehijauan,  Aspergillus sp. yang berwarna  kehitaman dan  Monilia sitophilla yang berwarna jingga kemerahan (Darlina dan Darliana, 2008). Menurut Sritopo (1999)  Fusarium sp.,  Penicillium sp.,  Trichothecium sp. dan  Mucor sp juga bersaing dengan  Pleurotus.

Pada komposisi media tanam K0, K1 dan K2 memiliki rata-rata munculnya miselium yang tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan nutrisi yang terkandung diduga relatif sama dan  lebih rendah dibanding  pada perlakuan K3 (50 % serbuk kayu gergaji : 48 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips), sehingga belum dapat secara nyata meningkatkan munculnya miselium.

Jamur tiram tumbuh pada tempat-tempat yang mengandung nutrisi berupa senyawa karbon, nitrogen, vitamin dan mineral. Bekatul sebagai sumber karbohidrat, lemak dan protein. Kapur sebagai  sumber mineral dan pengatur pH media, gips sebagai bahan penambah mineral dan sebagai bahan pemadat (mengokohkan media) (Cahyana dan Muchroji, 2000). Selain itu  juga digunakan bekatul yang merupakan bahan untuk pertumbuhan tubuh buah jamur, bekatul ini juga kaya vitamin, terutama vitamin B (Suriawiria, 2001).

Karbon digunakan sebagai sumber energi sekaligus unsur pertumbuhan. Nitrogen diperlukan dalam sintesis protein,  purin, dan pirimidin. Vitamin seperti B1, B2, B5  dan B7  diperlukan sebagai katalisator sekaligus sebagai koenzim. Unsur mineral untuk pertumbuhan jamur  meliputi unsur makro (K, P, Ca, Mg) dan unsur mikro (Cu, Zn)  (Djarijah, 2001).

 

Lama Penyebaran Miselum pada Baglog (Hari)

Berdasarkan Tabel 1, komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap lama penyebaran miselium pada media baglog. Komposisi media tanam perlakuan K2  (65 % serbuk kayu gergaji : 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips)  dalam penyebaran miselium pada baglog memiliki rata-rata paling cepat yaitu 32,06 hari. Hal ini disebabkan karena komposisi K2 memiliki jumlah bekatul lebih tinggi dibandingkan komposisi K1. Besarnya kandungan bekatul di dalam media tanam akan meningkatkan pertumbuhan, khususnya penyebaran miselium pada baglog. Bekatul memiliki sumber nutrisi, vitamin, niasin yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan miselium (Susilowati, 1982). Menurut Suhardiman (2000), semakin kecil persentase bekatul maka akan semakin kecil pula kandungan vitamin B kompleks, karbohidrat, protein, dan lemak yang tersedia untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tim Agro Media Pustaka (2002) menyatakan bekatul memegang peranan penting sebagai sumber karbohidrat dan protein untuk perkembangan miselium jamur.

Hasil penelitian Simatupang (2008) menunjukkan dosis bekatul 15% dari berat medium menunjukkan lebih cepat tumbuhnya misellium dan awal munculnya pinhead., hal ini disebabkan dengan dosis bekatul 15% dari berat medium telah mencukupi nutrisi  untuk pertumbuhan misellium dan pembentukan pinhead.

 

Saat Muncul Tubuh Buah (Hari)

Tabel 2 menunjukkan bahwa komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap saat munculnya tubuh buah. Saat munculnya tubuh buah pada komposisi media tanam K0, K1, dan K2 tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi media tanam dengan 65 % – 95% serbuk kayu gergaji : 3% – 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips cukup baik untuk media tanam jamur tiram putih. Bahan penyusun media tanam jamur sebagian besar berpengaruh pada masa perkembangan dari tubuh buah jamur. Pengaruh bekatul baru akan terlihat setelah melewati masa  fully-colonized, pada saat penebalan miselium diakhir masa inkubasi yaitu 10  hari terakhir (Simatupang, 2008).

Komposisi media tanam   K1 (80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips ) memiliki rata-rata saat muncul tubuh buah pada baglog tercepat yaitu 64,78 hari.

 

Umur Panen Pertama (Hari)

Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap umur panen pertama. Meskipun demikian, pada komposisi media tanam perlakuan K1 (80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) memiliki rata-rata umur panen pertama tercepat tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan K0 dan K2. Hal ini menunjukkan serbuk kayu gergaji  65 – 95 %, bekatul 3 – 33 %, kapur 1 %, gips 1 %, menghasilkan  panen pertama  tercepat. Perbedaan komposisi media tanam pada penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap perbedaan umur panen, hal ini juga ditunjukan saat munculnya tubuh buah yang tidak berbeda nyata.

Bekatul merupakan nutrisi yang diperlukan oleh pertumbuhan jamur tiram, nutrisi merupakan stimulus untuk pembentukan tubuh buah. Chang and Miles (1982) menyatakan bahwa terjadi perubahan penggunaan lignin dan polimer protein selama pertumbuhan miselium menjadi penggunaan selulosa dan hemilulosa ketika inisiasi tubuh buah jamur. Perkembangan tubuh buah  membutuhkan materi yang mengandung nitrogen yang disuplai oleh miselium, oleh sebab itu akan terjadi pendegradasian protein ekstraseluler untuk memenuhi kebutuhan jamur selama pertumbuhan. Hal ini yang mempengaruhi lama masa panen jamur.

Pada umumnya pengaruh nutrisi yang terdapat dalam media tanam jamur tiram akan terlihat saat melewati masa fullycolonized, dimana jamur tiram masuk pada masa penebalan dan peningkatan masa tubuh dari jamur. Perbedaan waktu munculnya primordial ini diduga disebabkan oleh kandungan nutrisi yang terdapat dalam substrat. Menurut Sivapprakasam et al (1994) kandungan selulosa dan lignin dalam substrat merupakan komponen penting yang menentukan hasil pembentukan tubuh buah. Terdapat hubungan positif antara pembentukan tubuh buah dengan kandungan selulosa dan resio selulosa, lignin ada hubungan negatif dengan kandungan lignin dan ortho dihidroksi phenol yang terkandung dalam substrat. Substrat yang kaya selulosa merupakan substrat yang baik untuk budidaya jamur. Kandungan selulosa yang tinggi akan meningkatkan produksi enzim selulase dan produksi enzim ini mempunyai hubungan positif dengan pembentukan tubuh buah. Jamur tiram menghasilkan enzim selulase baik secara in vitro maupun  in vivo. Aktivitas selulosa secara in vivo akan meningkat selama inisiasi tubuh buah kemudian akan menurun. Aktivitas selulosa pada substrat dilaporkan menghasilkan panen jamur yang lebih tinggi (Sivaprakasam et al, 1994).

 

Jumlah Tubuh Buah Pada Satu Rumpun (Buah)

Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah tubuh buah pada satu rumpun. Pada pengamatan jumlah tubuh buah dalam satu rumpun dapat diketahui komposisi K1 (80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) menghasilkan jumlah tubuh buah tidak berbeda nyata dengan K0. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi media tanam dengan serbuk kayu gergaji 80 – 95% dan bekatul 3 – 18% merupakan komposisi paling baik dan memberikan komposisi proposional terhadap pertumbuhan jamur tiram. Terutama komposisi penyusunan utama yaitu serbuk kayu gergaji dan bekatul. Menurut  Suryawiria  (2002), bahwa  jamur  akan  tumbuh  subur  pada  tempat-tempat  yang  mengandung  karbohidrat  tinggi  baik  dalam  bentuk  terurai  maupun  yang  masih  dalam  bentuk  selulosa. 

Pada perlakuan K2 (65 % serbuk kayu gergaji : 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) menunjukkan bahwa penambahan bahan bekatul menyebabkan  terjadinya penurunan jumlah tubuh buah pada satu rumpun karena asupan nutrisi pada bahan lain penyusun media tanam jamur khususnya serbuk kayu gergaji lebih rendah. Serbuk kayu gergaji merupakan tempat tumbuh jamur kayu yang mengandung serat organik (selulosa, hemi selulosa, dan lignin) sebagai sumber makanan jamur, sehingga dalam suatu media tanam jamur tiram dibutuhkan komposisi proposional dari serbuk kayu.

Faktor yang mempengaruhi jumlah tudung jamur adalah banyaknya jumlah primordial jamur (Quimio, 1981 dalam Sukahar, 1999). Menurut Oei (1996), jumlah primordial dipengaruhi oleh faktor  lingkungan yaitu perubahan suhu, kelembaban yang tinggi, defisiensi nutrient, kensentrasi CO2 dan physical shock. Banyaknya kadar karbondioksida yang masuk dapat mempengaruhi pembentukan tubuh buah jamur, karbondioksida dapat menyebabkan terjadinya pemanjangan tubuh buah atau etiolasi (Tim Agro Media Pustaka 2009).

 

Berat Tubuh Buah Jamur Segar

Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap berat tubuh buah jamur segar. Komposisi media tanam perlakuan K0 dan K1 berbeda nyata terhadap perlakuan K2 (65 % serbuk kayu gergaji : 33 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips). Hal ini menunjukkan bahwa 80 – 95 % serbuk kayu gergaji, 3 – 18 %, 1 % kapur, 1 % gips, memberikan berat tubuh buah jamur tiram lebih tinggi. Hal ini diduga media tanam jamur tiram dengan komposisi 80 – 95 % serbuk kayu gergaji, 3 – 18 %, 1 % kapur, 1 % gips mampu dimanfaatkan secara optimal oleh jamur tiram. Komposisi dan dosis bahan yang tepat akan menghasilkan berat tubuh buah jamur tiram mencapai optimal. Hal ini ditunjukan pada parameter jumlah buah dimana media tanam K0 dan K1 memiliki jumlah tubuh buah terbanyak. Komposisi media tanam yang tepat dapat meningkatkan perumbuhan dan hasil jamur tiram. Serbuk kayu gergaji baik digunakan sebagai media tumbuh jamur  karena  mudah dicampur dengan bahan – bahan lain sebagai pelengkap nutrisi serta mudah  dibentuk (Cahyana dan Muchroji,  2000).

Berat tubuh buah jamur dipengaruhi oleh peningkatan kadar isi sel.  Meningkatnya kadar isi sel akibat terakumulasinya senyawa-senyawa yang  mengandung nitrogen kedalam isi sel disamping produk hasil degradasi lignin.  Nutrisi yang diserap oleh miselium jamur digunakan untuk pembentukan berat tubuh buah. Pada panen puncak yang terjadi pada panen kedua terjadi perbedaan antara  perlakuan 3% bekatul dan 18% bekatul. Meskipun demikian perlakuan K1 memiliki hasil lebih tinggi, hal ini disebabkan karena persediaan karbohidrat, protein, kalori, fosfor, asam amino dan air di dalam media  tinggi. Unsur-unsur tersebut diperlukan untuk berbagai proses metabolisme sel  dalam rangka menghasilkan energi tinggi dalam bentuk ATP untuk pertumbuhan  (Sumiati dan Herbagiandono, 2003). Pada saat metabolisme terjadi proses  akumulasi senyawa-senyawa yang mengandung karbon, nitrogen, fosfor, air dan  produk hasil degradasi lignin, sehingga terjadi peningkatan kadar isi sel. Berkurangnya unsur hara makro dan mikro dalam media menyebabkan  kadar isi sel menurun, hal ini menyebabkan penurunan berat jamur tiram.

 

KESIMPULAN

 

Dari penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.  Komposisi media tanam 80 – 95 % serbuk kayu gergaji, 3 – 18 % bekatul, 1 % kapur, 1 % gips memberikan pertumbuhan dan hasil jamur tiram segar yang baik.

2.  Komposisi K1 (80 % serbuk kayu gergaji : 18 % bekatul : 1 % kapur : 1 % gips) memberikan nilai rata – rata saat muncul tubuh buah 64,78 hari , umur panen pertama 116,38 hari, jumlah tubuh buah 10,99 buah, dan berat tubuh buah jamur segar 108,06 gram.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cahyana, Muchroji, dan Bakrun, 1997. Jamur Tiram. Penebar Swadaya. Jakarta

Cahyana dan Muchroji, 2000, Budidaya Jamur Kuping. Penebar Swadaya, Jakarta

Djarijah, Marlina dan Abbas Siregar, (2001). Budidaya Jamur Tiram (Pembibitan Pemeliharaan daa Pengendalian Hama Penyakit). Yogyakarta: Kanisius.

Gunawan, A.W. 1992. Budidaya Jamur Tiram Putih  (Pleurotus ostreatus) Pada Serbuk Gergaji Kayu Jeunjing (Paraserianthes falcataria). Technical Notes. Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. 

Gunawan, A. W., 2004. Usaha Pembibitan Jamur. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 13.pleurotus.html) (20 September 2011).

Rachmatullah, 2009. Bahan-Bahan Baku Budidaya Jamur Tiram. (20 September 2011)

Redaksi Agromedia. 2009. Buku Pintar Bertanam Jamur Konsumsi. Agromedia Pustaka. Jakarta Selatan

Sivaprakasam, S. Doraisamy and K. Seetharaman. 1994. Factors Influencing The Sporophore Production in Oyister mushroom eith Special Reference to Plerotus sajor-caju. Dalam Nair, M.C (ed). 1994. Advances in Mushroom Biotechnology. Scientific Publ. India. P. 134-138.

Sukahar, A. 1999. Pengaruh Kandungan Bungkil Kelapa pada Media Serbuk Gergaji Kayu Alba terhadap Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Skripsi. FMIPA Biologi. UNDIP, Semarang

Suriawiria, U. 2006. Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisus.

Tim Agro Media Pustaka. 2009. Karbondioksida Dapat Menyebabkan Terjadinya Pemanjangan Tubuh Buah Atau Etiolasi. Agro Media Pustaka. Jakarta

Tjokrokusumo, D dan Netty, W., 2008. Aspek Lingkungan Sebagai Faktor Penentu Keberhasilan Budidaya Jamur Tiram (Pleurotus sp). Teknologi Bioindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta

Trubus. 2007. Pijakan anyar jamur tiram. Jakarta: Trubus Swadaya. Hal. 21-27.

Oei, B. 1996. Mushroom Cultivation.Technical Center For Agriculture and Rural Cooperation. Tool Publications, Leiden, Netherlands.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: