JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


2. Nomor 2 September 2013-Nyahu — Emisi Karbon dioksida dan sekuestrasi karbon ……
8 Januari 2014, 1:28 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

EMISI  KARBON DIOKSIDA DAN SEKUESTRASI KARBON DARI  BEBERAPA TIPE PENGGUNAAN LAHAN GAMBUT  DI KALIMANTAN

(Carbon Dioxide Emission and Carbon Sequestration of  Several Land Use Types of Peatland in Kalimantan)

 

Nyahu Rumbang 1), Azwar Ma’as 2), Djoko Prajitno dan 2) Bostang Radjagukguk 2)

1) Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas  Palangka Raya

2) Fakultas Pertanian, Universitas  Gadjah Mada, Yogyakarta

Telp. 081328009808   e-mail: nyahurumbang@yahoo.com

 

Abstract

Study of carbon dioxide emissions and carbon sequestration in different types of peatlands use in Central and West Kalimantan has been conducted in January-June 2006 and January-April 2007. The study represents 4 types of land use in Central Kalimantan as treatment: 5 years for chinesse cabbage,  10 years for chinesse cabbage, 5 years for sweet corns, and 10 years for sweet corns.  As for the treatments in West Kalimantan, they include corn field, Aloe vera field, oil palm plantation, and rubber plantation. Carbon dioxide was measured using infrared gas analysis (model EGM-4, PP systems, Hitchin, UK). In Central Kalimantan, the highest CO2 is emitted from sweet corn plants (arable land for 10 years) by 0.79 g CO2/m2/hour, chinesse cabbage plants (for 5 years) by 0.73 g CO2/m2/hour, chinesse cabbage plants (for 10 years) by 0.67 g CO2/m2/hour and, the least, sweet corn plants (for 5 years) by 0.41 g CO2/m2/hour. The highest CO2 emission from West Kalimantan is released from rubber plants at 1.22 g CO2/m2/hour, followed by palm oil plants by 0.96 g CO2/m2/hour, Aloe vera plants by 0.68 g CO2/m2/hour and corn plants by 0.35 g CO2/m2/hour. Groundwater table depth are the most important factors among other factors that influence CO2 emissions. Groundwater table depth indicated a positive correlation with CO2 emissions in all types of peatlands use. C-organic production of sweet corn plants at 11.66 t C/ha/year is higher than that of chinesse cabbage plants at 1.64 t C/ha /year. Corn plants produce organic-C was 11.66 t C/ha/year, equivalent to the amount of loss of C through CO2 emissions by 11.29 t C/ha/year.

Keys word:  emission, carbon dioxide,  land use type

Abstrak

 

Penelitian emisi karbon dioksida dan sekuestrasi karbon pada  berbagai tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat telah dilakukan pada Januari–Juni 2006 dan Januari–April 2007. Penelitian di Kalimantan Tengah mewakili 4 tipe penggunaan lahan sebagai perlakuan yaitu lahan  dikelola 5 tahun pada sawi hijau, 10 tahun pada sawi hijau, 5 tahun pada jagung manis, dan 10 tahun pada jagung manis sedangkan perlakuan di Kalimantan Barat yaitu pada lahan jagung, lidah buaya, kelapa sawit dan karet. Pengukuran karbon dioksida menggunakan analisis gas infrared (model EGM-4, PP system, Hitchin, UK). Di Kalimantan Tengah,  emisi CO2 tertinggi dilepas oleh jagung manis (lahan 10 tahun) sebesar 0,79 g CO2/m2/jam, diikuti oleh sawi hijau (5 tahun) sebesar 0,73 g CO2/m2/jam, sawi hijau (10 tahun) sebesar 0,67 g CO2/m2/jam dan paling rendah  pada jagung manis (5 tahun) sebesar 0,41 g CO2/m2/jam). Emisi CO2 tertinggi di Kalimantan Barat dilepas pada lahan karet sebesar 1,22 g CO2/m2/jam, yang diikuti kelapa sawit sebesar  0,96 g CO2/m2/jam, lidah buaya sebesar  0,68 g CO2/m2/jam dan jagung sebesar 0,35 g CO2/m2/jam. Kedalaman muka air tanah merupakan faktor yang paling penting diantara faktor lainnya dalam mempengaruhi emisi CO2. Kedalaman muka air tanah menunjukkan korelasi yang positif terhadap emisi CO2 pada semua tipe penggunaan lahan gambut. Produksi C-organik dari tanaman jagung manis sebesar 11,66 t C/ha/tahun, lebih tinggi dibandingkan dengan produksi C dari tanaman sawi hijau sebesar 1,64 t C/ha/tahun. Tanaman jagung menghasilkan C-organik sebesar 11,66 t C/ha/tahun,  setara dengan besarnya kehilangan C melalui emisi CO2  sebesar 11,29 t C/ha/tahun.

Kata kunci: gambut, tipe penggunaan lahan, karbon, emisi CO2

 

 

PENDAHULUAN

Lahan gambut di Indonesia mencapai luas 20,69 juta ha, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya, Sulawesi, Halmahera dan Seram. Sebagian besar gambut di Kalimantan tersebar di Kalimantan Barat (4,5 juta ha) dan Kalimantan Tengah (2,25 juta ha) (Rieley et al., 1996; Page et al., 2008, Radjagukguk, 1997).

Salah satu fungsi ekologi lahan  gambut adalah sebagai gudang karbon.  Total karbon pada lahan gambut di Indonesia diperkirakan  sekitar 44,5 Gt (Rieley et al., 2008). Konversi hutan rawa gambut merupakan sumber emisi CO2 (Hooijer et al., 2006 dalam Verwer et al., 2008).

            Pengertian gas rumah kaca dalam kaitannya dengan pemanasan global  meliputi karbon dioksida (CO2), dinitrogen oksida (N2O), metan (NH4) dan  hidrokarbon seperti (CFC). Temperatur permukaan bumi meningkat disebabkan karena konsentrasi  gas rumah kaca dalam atmosfir khususnya karbondioksida, metan, dan nitro oksida mengalami peningkatan (Jauhiainen et al., 2004). Menurut laporan IPPC (2001) bahwa selama abad 20, terjadi peningkatan rata-rata suhu permukaan bumi  sebesar 0,6±0,2 oC.

            Kontribusi emisi karbon dioksida terhadap efek rumah kaca sebesar  48%, yang diikuti oleh sumber emisi lain seperti freon (26%), ozon (10%), metan (8%) dinitrogen oksida (6%), dan gas lain (2%) (Pirkko, 1990). IPCC (2001) juga melaporkan bahwa kontribusi karbon dioksida terhadap pemanasan global sebesar 60%, metan (20 %) dan nitro oksida (6 %).  

Hasil penelitian Jauhiainen et al. (2008) di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa emisi CO2 pada hutan gambut tebang pilih yang tidak didrainase pada berbagai kondisi hidrologi berkisar 953±86 – 1061±83 g C/m2/tahun.  Pada hutan gambut sekunder di Kalimantan Selatan, emisi CO2 pada kisaran 1200±430 g C/m2/tahun (Inubushi et al., 2003). Terjadi perbedaan yang sangat besar dibandingkan dengan hasil penelitian Melling (2005) di Sarawak (Malaysia),  dimana ekosistem hutan gambut mengeluarkan emisi sebesar 2130 g C/m2/ tahun,  lebih besar dibandingkan dengan emisi dari lahan perkebunan kelapa sawit (1540 g C/m2/tahun) dan emisi dari lahan sagu (1110 g C/m2/tahun).

Tujuan penelitian ini untuk (i) mengukur besarnya emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut dengan beberapa tipe penggunaan lahan, (ii) membandingkan besarnya emisi CO2 dari lahan tanaman tahunan dengan emisi CO2 dari lahan tanaman semusim, (iii) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya  pelepasan emisi CO2 dan (iv) mengetahui kemampuan tanaman menghasilkan C-organik untuk mensubstitusi C yang hilang melalui emisi CO2.

  

BAHAN DAN METODE

 Penelitian ini dilakukan  di lahan gambut di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, dalam 2 periode (Tabel 1).  Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan multilokasi dan multitemporal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 perlakuan,  masing-masing dengan 3 ulangan. Lahan petani yang dijadikan sebagai ulangan berukuran  20 x 30 m.    Lahan gambut yang digunakan diusahakan mempunyai beberapa sifat yang relatif sama yaitu  merupakan gambut pedalaman, dengan ketebalan sedang (1-2 m) dengan derajat dekomposisi hemik.

 

Penelitian di Kalimantan Tengah.

Pada penelitian di Kalimantan Tengah, tipe penggunaan lahan yang dijadikan perlakuan  berasal dari kombinasi  faktor lamanya (durasi) lahan dibuka dan jenis tanaman.  Lamanya (durasi)  lahan dibuka dikelompokkan dalam  dua kelompok yaitu (i)  kelompok lahan  yang dibuka 5 tahun dan  (ii) kelompok lahan yang dibuka 10 tahun. Pada masing-masing kelompok lahan tersebut, ditentukan dua jenis tanaman yaitu  (i) sawi hijau dan (ii) jagung manis. Kombinasi antara durasi lahan dibuka dengan jenis tanaman, maka diperoleh 4 tipe penggunaan lahan yang dijadikan perlakuan (Tabel 1).

 

Penelitian di Kalimantan Barat

Tipe penggunaan lahan gambut  sebagai perlakuan dalam penelitian di Kalimantan Barat yaitu  lahan jagung, lahan lidah buaya, lahan kelapa sawit, lahan karet, masing-masing dengan tiga ulangan.  Pada perlakuan lahan jagung, lahan lidah buaya dan lahan karet,  menggunakan lahan petani dengan ukuran 20 x 30 m sebagai ulangan.  Khusus untuk perlakuan lahan kelapa sawit, maka blok kebun dijadikan sebagai ulangan. Ringkasan dari lokasi penelitian, perlakuan, parameter pengamatan dan periode pengukuran yang dilakukan baik  di Kalimantan Tengah maupun di Kalimantan Barat disajikan pada Tabel 1.

Pengukuran emisi CO2 dengan menggunakan analisis gas infrared (PP system, model EGM-4).  Sebuah chamber silinder terbuat dari aluminium (diameter 30 cm, tinggi 10 cm) dihubungkan dengan CO2 analyser menggunakan selang kecil yang terbuat dari karet sintetik yang bersifat elastis. Agar terjadi sirkulasi udara dalam chamber, maka di dalam chamber dipasang kipas angin kecil (diameter 3 cm).  Emisi CO2 yang dilepas oleh gambut masuk kedalam chamber, kemudian direkam oleh analyser.  Data emisi CO2 yang terekam dalam  EGM-4,  kemudian ditransfer ke komputer. Tingkat keakuratan data dilihat dari besarnya nilai r2 untuk setiap emisi CO2 yang terekam pada setiap titik pengukuran. Batas toleransi dalam penelitian ini dengan nilai r2 terendah sebesar 0,98. Pada setiap kali pengukuran emisi CO2, dilakukan juga pengukuran tinggi permukaan air tanah dan pengukuran suhu udara. Selain itu juga dilakukan pengukuran suhu tanah pada kedalaman 10, 20, 30 dan 40 cm.

 Tabel 1. Ringkasan lokasi, tipe penggunaan lahan, periode penelitian dan parameter pengamatan pada  4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat                                                              

Lokasi

Tipe Penggunaan Lahan

Parameter pengamatan

Periode 2006

Periode 2007

Kalimantan Tengah

Kalampangan

 

1. Sawi hijau (lahan 5 tahun)

3. Sawi hijau (lahan 10 tahun)

4. Jagung manis  (lahan 5 tahun)

5. Jagung  manis (lahan 10 tahun)

Jan – April

T,E,P

T,E,P

T,E,P

T,E,P

Jan – April

T,E,P,O

T,E,P,O

T,E,P,O

T,E,P,O

Kalimantan Barat

Rasau Jaya

Siantan Hulu

Sungai Ambawang

Sungai Ambawang

1.Jagung

2.Lidah buaya

3.Kelapa sawit

4. Karet

Juni

T,E

T,E

T,E

T,E

Maret

T,E,O

T,E,O

T,E,O

T,E,O

Keterangan:

T = Tanah      E = Emisi CO2       P = Produksi biomassa     O = Total bakteri

Pengambilan contoh gambut yang terusik pada kedalaman 0-15, 15-45 dan 45-100 cm dengan menggunakan bor Edjelkamp. Contoh gambut yang yang terambil merupakan contoh komposit. Contoh gambut dikering anginkan, kemudian dianalisa kandungan N, P, K, Ca, Mg, Cu dan Zn-total, pH (H2O), KPK dan kandungan C-organik. Untuk analisis korelasi  menggunakan nilai rata rata gambut dari kedalaman 0-45 cm.

Pengambilan contoh gambut yang tidak terusik untuk analisis berat volume diambil dari kedalaman 40 cm menggunakan cincin logam (tinggi cincin 5,0  cm dengan diameter 5,0 cm). Sedangkan untuk analisa total bakteri, contoh gambut  diambil dari kedalaman 10-20 cm. Analisis total bakteri (Total Plate Count) menggunakan media nutrien agar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Baik di Kalimantan Tengah maupun di Kalimantan Barat, lahan gambut yang digunakan merupakan lahan gambut pedalaman., dengan derajat dekomposisi yang sama yaitu tergolong dalam derajat dekomposisi hemik. Berat volume gambut Kalimantan Tengah berkisar 0,13 – 0,15 g/cm3, sedangkan berat volume gambut Kalimantan Barat berkisar antara 0,13 – 0,16 g/cm2.

Hasil pengukuran terhadap rata-rata emisi CO2 yang dilepas oleh 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada periode pengukuran  2006 dan 2007 disajikan  pada Tabel 2. 

Hasil pengukuran terhadap  emisi CO2 yang dilepas oleh 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Barat pada periode pengukuran 2006 dan 2007 disajikan pada Tabel 3.

Emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut di Kalimantan Barat berkisar antara 0,35 – 1,22 CO2/m2/jam (Tabel 2), lebih tinggi dibandingkan dengan emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut  Kalimantan Tengah,  hanya berkisar antara 0,43 – 0,79  g  CO2/m2/jam (Tabel 3).

Tabel 2.  Rata-rata emisi  CO2  (g CO2/m2/jam) pada 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah, periode penelitian  tahun 2006 dan 2007

Tipe Penggunaan Lahan

Emisi  CO2 (g CO2/m2/jam)

Hasil uji t *)

Periode 2006

Periode 2007

Rata-rata

Sawi hijau, lahan 5 tahun

0,74 a

0,72 a

0,73

tn

Sawi hijau, lahan 10 tahun

0,82 a

0,52 ab

0,67

n

Jagung manis, lahan 5 tahun

0,56 a

0,29 b

0,43

n

Jagung manis, lahan 10 tahun

0,81 a

0,77 a

0,79

tn

Keterangan: Rata-rata yang diikuti  oleh huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan 5%

*) uji t dilakukan untuk membandingkan rata-rata  emisi tahun 2006 dengan 2007;  tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5%,  n = berbeda nyata pada taraf 5%

Tabel 3. Rata-rata emisi CO2 (g CO2/m2/jam) pada 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Barat periode penelitian tahun 2006 dan 2007

Tipe Penggunaan Lahan

Emisi  CO2 (g CO2/m2/jam)

Hasil uji t *)

Periode 2006

Periode 2007

Rata-rata

Jagung

0,30 c

0,39 b

0,35

tn

Lidah buaya

0,64 bc

0,72 b

0,68

tn

Kelapa sawit

0,78 b

1,15 a

0,97

tn

Karet

1,26 a

1,18 a

1,22

tn

Keterangan: Rata-rata yang diikuti  oleh huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan 5%

*) uji t dilakukan untuk membandingkan rata-rata  emisi tahun 2006 dengan emisi tahun 2007; tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5%,  n = berbeda nyata pada taraf 5%

Di Kalimantan Tengah pada periode pengukuran tahun 2006, emisi CO2 yang dilepas oleh 4 tipe penggunaan lahan gambut tidak berbeda secara nyata. Namun, pada periode tahun 2007, durasi lahan dikelola pada tanaman jagung mampu mempengaruhi secara nyata besarnya emisi CO2 yang dilepas (Tabel 2). Emisi CO2 yang dilepas oleh semua tipe penggunaan lahan pada periode pengukuran tahun 2006 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan emisi CO2 pada periode pengukuran tahun 2007.

Pada penelitian di Kalimantan Barat periode pengukuran tahun 2006,  lahan karet melepas emisi CO2 yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan emisi CO2 yang dilepas oleh lahan jagung, lidah buaya dan lahan kelapa sawit. Pada periode penelitian tahun 2007, emisi CO2 yang dilepas oleh lahan karet dan kelapa sawit lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan emisi CO2 yang dilepas oleh lahan lidah dan jagung. Pada periode tahun 2007, emisi CO2 yang dilepas lahan kelapa sawit dan lahan lidah buaya lebih tinggi meningkat secara nyata dibandingkan dengan emisi CO2 pada periode pengukuran tahun 2006.

Emisi CO2 yang dilepas oleh sawi hijau (lahan 10 tahun) dan jagung manis (lahan 5 tahun) di Kalimantan Tengah pada periode pengukuran tahun 2006 lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan emisi CO2 pada pengukuran tahun 2007. Sedangkan di Kalimantan Barat, emisi CO2 yang dilepas pada periode pengukuran tahun 2006 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan dengan emisi CO2 yang dilepas pada periode pengukuran tahun 2007 pada semua tipe penggunaan lahan.

Besarnya emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, diantaranya kedalaman muka air tanah, suhu udara dan suhu tanah. Selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, emisi CO2 juga dipengaruhi oleh sifat gambut seperti pH gambut, KPK dan kandungan C-organik.  Pola korelasi antara kedalaman muka air tanah, pH (H2O) gambut, KPK, suhu udara, suhu tanah dan kandungan C-organik dengan emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut Kalimantan Tengan dan Kalimantan Barat disajikan pada Gambar 1.

Kedalaman muka air tanah merupakan faktor yang utama dalam mempengaruhi besarnya emisi CO2 yang dilepas. Kedalaman muka air tanah semakin turun, maka emisi CO2 yang dilepas semakin meningkat. Bersamaan dengan penurunan kedalaman muka air tanah,  terjadi perubahan nilai pH (H2O) gambut, KPK dan kandungan C-organik gambut. Terlihat bahwa sejalan dengan terjadinya peningkatan nilai pH (H2O) gambut, KPK dan kandungan C-organik gambut diikuti dengan peningkatan emisi CO2 yang dilepas (Gambar 1b, 1c dan 1f).

Penurunan kedalaman muka air tanah mengakibatkan perubahan kondisi  anaerob menjadi aerob. Pada kondisi aerob ini, terjadi peningkatan ketersediaan  oksigen dalam gambut lapisan atas, sehingga aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam proses  dekomposisi menjadi lebih meningkat. Dengan demikian,  maka CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi mikroorganisme juga meningkat. Hasil dari respirasi mikroorganisme dalam tanah tersebut dilepas ke udara dalam  bentuk emisi CO2. Emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut merupakan hasil dari proses biokimia yang melibatkan aktivitas mikroorganisme (Luo dan Zhou, 2006). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Jauhiainen et al. (2001), dimana laju emisi CO2 pada hutan yang tidak tergenang berkisar 0,486-0,610 g CO2/m2/jam, sementara pada kondisi hutan yang tergenang  laju emisi  CO2  berkisar 0,236-0,605 g CO2/m2/jam. Menurut Vasander et al. 2007 bahwa salah satu faktor yang mengontrol emisi CO2 adalah tinggi permukaan air.

Emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut juga mempunyai korelasi dengan faktor lingkungan terutama suhu udara dan suhu tanah. Pengaruh suhu udara terhadap emisi CO2 kontradiktif antara Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat (Gambar 1d). Hal ini disebabkan karena perbedaan tipe penggunaan lahan antara tanaman semusim di Kalimantan Tengah dengan tanaman tahunan di Kalimantan Barat. Perbedaan besarnya kanopi daun berpengaruh terhadap suhu udara dibawah kanopi.

 Gambar

Gambar 1. Pola korelasi antara emisi CO2 dengan kedalaman muka air tanah (a),  pH (H2O) gambut (b), KPK (c), suhu udara (d), suhu tanah (e) dan kandungan C-organik (f) pada lahan gambut Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

 

 

Korelasi antara suhu tanah dengan emisi CO2 hanya terjadi pada lahan gambut di Kalimantan Barat. Terjadinya peningkatan emisi CO2 dengan semakin menurunnya suhu tanah (Gambar 1e), disebabkan karena dua dari empat tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Barat merupakan tanaman perkebunan atau tanaman perkebunan,  dengan kanopi yang berbeda dibandingkan tanaman pangan. Perbedaan kanopi baik jumlah maupun ukuran mempengaruhi suhu udara  dibawah kanopi dan mempengaruhi suhu tanah. Dengan demikian suhu tanah pada lahan karet dan kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tanah pada lahan tanaman pangan. Meskipun suhu tanah pada lahan karet dan kelapa sawit rendah, namun emisi CO2 yang dilepas lebih tinggi. Emisi CO2 yang dilepas dari lahan gambut tidak hanya bersumber dari hasil aktivitas mikroorganisme dalam  proses dekomposisi, tetapi juga bersumber dari respirasi akar. Jenis tanaman dan umur tanaman mempengaruhi besarnya respirasi akar. Diduga bahwa emisi CO2 yang bersumber dari respirasi akar  pada lahan karet dan kelapa sawit memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap jumlah emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut.  Hasil penelitian Jauhiainen et al. (2012) menunjukkan bahwa kontribusi respirasi akar mencapai 21% dari total emisi CO2 pada perkebunan akasia yang diusahakan pada lahan gambut di Jambi.

Kemampuan tanaman untuk menambat karbon dan besarnya emisi CO2 yang dilepas serta selisih antara penambatan karbon dengan emisi CO2 pada 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 4. Pada sawi hijau, baik lahan 5 tahun maupun lahan lahan 10 tahun, terjadi defisit karbon  yang sangat besar dibandingkan dengan lahan jagung, baik lahan 5 tahun maupun lahan 10 tahun. Defisit yang besar pada lahan sawi hijau disebabkan karena rendahnya kemampuan tanaman sawi hijau untuk menambat karbon jika dibandingkan dengan kemampauan tanaman jagung untuk menambat karbon. Dilain pihak, rata-rata emisi CO2 yang dilepas oleh lahan sawi hijau sebesar 13,18 t C/ha/tahun,  tidak jauh berbeda dengan rata-rata  emisi CO2 yang dilepas oleh lahan jagung manis yaitu sebesar 11,29 t C/ha/tahun.

Tabel 4.  Penambatan C-organik (t C/ha/tahun), emisi CO2 (t C/ha/tahun) dan selisih antara penambatan dengan emisi (t C/ha/tahun)  pada 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Tipe Penggunaan Lahan

Penambatan C-organik

(tC/ha/tahun)

Emisi CO2  dari dekomposisi 1)

(tC/ha/tahun)

Selisih antara penambatan dengan emisi (tC/ha/tahun)

Sawi hijau, lahan 5 tahun

1,48

13,72

-12,24

Sawi Hijau, Lahan 10 Tahun

1,80

12,64

-10,84

Jagung Manis, Lahan 5 Tahun

9,02

7,70

1,32

Jagung Manis, Lahan 10 Tahun

14,30

14,88

-0,58

Keterangan: 1) Setelah dikurangi 21% yang diduga emisi dari repirasi akar (Jauhiainen et al., 2012). 

Di Kalimantan Barat, kemampuan tanaman untuk menambat karbon dan besarnya emisi CO2 yang dilepas serta selisih antara penambatan karbon dengan emisi CO2 pada 4 tipe penggunaan lahan gambut disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Penambatan C-organik (t C/ha/tahun), emisi CO2 (t C/ha/tahun) dan selisih antara penambatan dengan emisi (t C/ha/tahun)  pada 4 tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan Barat.

Tipe Penggunaan Lahan

Penambatan C-organik

(t C/ha/tahun)

Emisi CO2 dari dekomposisi 1)

(tC/ha/tahun)

Selisih antara penambatan dengan emisi (t C/ha/tahun)

Jagung

11,66 2)

6,49

5,17

Lidah Buaya

td

12,83

td

Kelapa Sawit

2,443)

18,21

-15,77

Karet

2,563)

23,02

20,46

Keterangan:

td = tidak ada data dan referensi

1)   Setelah dikurangi 21% yang diduga emisi dari repirasi akar (Jauhiainen et al., 2012). 

2)  Rata-rata  penambatan C di Kalimantan Tengah (Tabel 4)

3)  Rogi (2002)

4) Agus dan Subiksa (2008)

            Defisit karbon terbesar terjadi pada lahan karet sebesar -20,46 t C/ha/tahun, diikuti oleh lahan lahan kelapa sawit sebesar -15,77 t C/ha/tahun.  Besarnya defisit karbon baik pada lahan karet maupun lahan kelapa sawit disebabkan karena kemampuan tanaman karet dan tanaman kelapa sawit dalam menambat karbon sangat rendah, sementara emisi karbon yang dilepas melalui emisi CO2 sangat tinggi. Pada lahan jagung, justru tidak terjadi defisit, hal ini disebabkan karena kemampuan tanaman jagung dalam menambat karbon jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan karbon melalui emisi CO2.

            Kedalaman muka air tanah merupakan faktor yang utama dalam mempengaruhi besarnya emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut. Faktor lainnya yang mempengaruhi emisi CO2 adalah pH gambut, KPK dan kandungan C-organik.  Kuat dugaan bahwa perubahan pH gambut, KPK dan kandungan C-organik merupakan pengaruh dari perubahan kedalaman muka air tanah.  Limin (1992)  menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya bahwa nilai KPK meningkat sesuai dengan dimensi waktu pada gambut yang didrainase, diduga disebabkan terjadi peningkatan jenis dan populasi mikroorganisme, sehingga proses pelapukan gambut semakin hebat.  Sedangkan menurut Lambert dan Staelens (1993), nilai KPK meningkat mengikuti peningkatan nilai pH. Dan menurut hasil penelitian Sri Nuryani et al,  (2009), pH pada gambut hidrofilik lebih tinggi dibandingkan dengan pH gambut hidrofobik. Demikian juga dengan nilai KPK, gambut hidrofilik mempunyai nilai KPK yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KPK gambut hidrofobik. Dan menurut Vasander et al, 2006 bahwa emisi CO2 yang dilepas oleh lahan gambut  selain dipengaruhi oleh tinggi permukaan air dan temperatur, juga dikontrol oleh pH gambut.

 

KESIMPULAN

 

  1. Emisi CO2 yang diperoleh dari penelitian ini, tidak hanya merupakan hasil dari proses dekomposisi gambut, tetapi juga terdapat kontribusi dari respirasi akar tanaman.  Tipe penggunaan lahan, baik komoditi yang diusahakan maupun durasi waktu  pengelolaannya, ternyata mengeluarkan emisi  CO2 dengan nilai yang berbeda-beda, walaupun pada tahun 2006 di Kalimantan Tengah empat tipe penggunaan lahan tersebut tidak  memperlihatkan perbedaan yang nyata dalam mengeluarkan emisi CO2.
  2. Berdasarkan rata-rata emisi CO2 yang diukur  tahun 2006 dan 2007 di Kalimantan Tengah,  emisi CO2 tertinggi dilepas oleh lahan jagung manis (10 tahun), diikuti oleh lahan sawi hijau (5 tahun), sawi hijau (10 tahun) dan jagung manis (5 tahun), yaitu berturut-turut  0,79, 0,73, 0,67 dan 0,43 g CO2/m2/jam.  Di Kalimantan Barat, rata-rata emisi CO2 yang diukur tahun 2006 dan 2007, tertinggi dilepas oleh lahan karet, yaitu 1,22 g CO2/m2/jam,  diikuti oleh lahan kelapa sawit 0,97 g CO2/m2/jam, lahan lidah buaya 0,68 g CO2/m2/jam  dan lahan jagung 0,35 g CO2/m2/jam. 
  3. Di Kalimantan Tengah, faktor yang mempengaruhi dan berkorelasi nyata terhadap besarnya emisi CO2 yang dilepas dari tipe penggunaan lahan adalah kedalaman muka air tanah,  pH (H2O), kapasitas pertukaran kation (KPK) dan suhu udara.  Sedangkan di Kalimantan Barat, adalah kedalaman muka air tanah, pH (H2O), kapasitas pertukaran kation (KPK), suhu udara, suhu tanah dan kandungan C-organik.
  4. Penambatan C oleh tanaman, sangat ditentukan oleh species dan durasi pengelolaannya.   Rata-rata penambatan C  oleh tanaman pada empat tipe penggunaan lahan di Kalimantan Tengah adalah sawi hijau (lahan 5 tahun) 1,48 t C/ha/tahun, sawi hijau (10 tahun) 1,80 t C/ha/tahun, jagung manis (5 tahun) 9,02 t C/ha/tahun dan jagung manis (10 tahun) 14,30 t C/ha/tahun.    Sedangkan  untuk komoditi yang diteliti di Kalimantan Barat, penambatan C oleh jagung diketahui rata-rata 11,66 t C/ha/tahun.  Kelapa sawit dan karet yang menggunakan data sekunder (hasil penelitian sebelumnya), diketahui bahwa dari kelapa sawit       2,44 t C/ha/tahun, karet 2,56 t C/ha/tahun, sedangkan untuk lidah buaya tidak tersedia data. 
  5. Tingkat emisi CO2 yang dilepas dari masing-masing tipe penggunaan lahan berdasarkan selisih antara emisi CO2 dengan penambatan C oleh tanaman pada empat tipe penggunaan lahan di Kalimantan Tengah, sawi hijau (lahan 5 tahun) memiliki angka defisit terbesar, yaitu -12,24 t C/ha/tahun dan dikuti oleh sawi hijau (lahan 10 tahun) sebesar -10,84 t C/ha/tahun, jagung manis (lahan 5 tahun) ada penambahan sebesar 1,32 t C/ha/tahun dan jagung manis (lahan 10 tahun) defisit  -0,58 t C/ha/tahun.   Di Kalimantan  Barat, dari komoditi jagung tidak terjadi defisit, yaitu 5,17 t C/ha/tahun, sedangkan defisit terbesar terjadi pada komoditi karet, yaitu -20,46 t C/ha/tahun, diikuti dari kelapa sawit sebesar -15,77 t C/ha/tahun.    
  6. Berdasarkan tingkat emisi  CO2 yang dilepas dari beberapa tipe penggunaan lahan yang diteliti dan kapasitas penambatan C oleh masing-masing komoditi yang dikembangkan, maka komoditi tahunan seperti karet dan kelapa sawit serta jenis sayuran seperti sawi hijau, dipertimbangkan akan lebih banyak memberikan dampak  negatif bagi lingkungan dibandingkan komoditi jagung yang mampu meminimalkan selisih antara  penambatan C dan emisi CO2.

UCAPAN TERIMA KASIH

 

Kepada European Union (Prof. Dr. Jack Rieley), Strapeat  Research Project (Prof. Dr. Bostang Radjagukguk, dan Keytrop Project (Prof. Dr. Harry Vasander dan Dr. Jyrki Jauhiainen, University of Helsinki, Finland). Kepada Dr. Jyrki Jauhianinen, terima kasih atas peminjaman EGM-4 dan diskusi serta sarannya. Terima kasih juga kepada Dr. Ir. Suwido Limin (Direktur Cimtrop Unpar).

DAFTAR PUSTAKA

 

IPPC-Intergovernmental Panel on Climate Change. 2001. Climate Change 2001: The  Scientific basis. Contribution of Working Group 1 to the Third Assessment Report of the  Intergovernmental Panel on Climate Change. Houghton, J.T., Ding, Y., Griggs, D.J., Noguer, M., van der linden, P.J., Xiaosu, D. Cambridge University Press Cambridge. 

Inubushi, K.,  Y. Furakawa., A. Hadi., E. Purnomo., and H. Tsuruta.  2003.  Seasonal change of CO2, CH4 and N2O fluxes in relation to land-use change in tropical peatlands located in coastal area of South Kalimantan, Chemosphere. 52:603-608.

Jauhiainen, J., J. Heikkinen, P.J. Martikainen and H. Vasander. (2001). CO2 and CH4 fluxes in pristine peat swamp forest and peatland converted to agriculture in Central Kalimantan. International Peat Journal  11. 43-49. International Peat Society.

Jauhiainen, J., H. Vasander., A. Jaya., T. Inoue., J. Heikkinen., and P. Martikainen. 2004. Carbon balance in managed tropical peat in Central Kalimantan, Indonesia.  Dalam: Päivänen, J. (ed.). Wise Use of Peatlands. Proceeding of  the 12th International Peat Congress. Tampere, Finland. Publisher International Peat Society, Vapaudenkatu,  Jyväskylä,  Finland. 653-658. 

Jauhiainen, J., S. Limin., H. Silvennoinen., and H. Vasander. 2008.  Carbon dioxide and methane fluxes in drained tropical peat before and after hydrological restoration. Dalam: Ecology, 89(12):3503-3514.

Jauhiainen, J., A. Hooijer., and S.E. Page. 2012. Carbon dioxide emissions from an Acacia plantation on Sumatra, Indonesia. Biogeosciences. 9: 617-630. doi: 10.5194/bg-9-617-2012

Lambert, K and N. Staelens. 1993.  The agricultural and horticultural value of tropical peatland, a case study. International  Peat Journal. 5:41-57

Limin, S. H. 1992. Respon jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) terhadap pemberian kotoran ayam, fosfat dan dolomit pada tanah gambut pedalaman. Tesis Magister. PPs-IPB Bogor. 116

Luo, Y and Zhou, X.  2006. Soil Respiration and the Environment. Academi Press. 317

Melling, L. 2005. Greenhouse gas fluxes from tropical peatland of Sarawak, Malaysia.  Ph.D Thesis. Soil Science Laboratory. Division of Environmental Resources. Graduate School of Agriculture.  Hokkaido University. Japan. 2005.

Page, S.E., C.J. Banks., J.O. Rieley., and R. Wűst. 2008. Extent, significance and vulnerability of the tropical peatland carbon pool: past, present and future prospects. Dalam: C. Farrel., and J. Feehan (eds.). After Wise Use-The Future of Peatlands.  Proceeding of  the 13th International Peat Congress. Tullamore, Ireland. 1:233-236.

Pirkko, S., and T. Nyronen. 1990. The carbon dioxide emissions and peat production.  International  Conference on Peat Production and Use.   Jiväskylä. Finland. 1:150-157.

Radjagukguk, B. (1997) Peat soil of Indonesia: location, classification and problems for sustainability. In: J.O. Rieley & S.E. Page,  Biodiversity  and Sustainability of Tropical Peatlands.  Proceeding of the International Symposium and Biodiversity, Environmental Importance  and Sustainability of Tropical Peat and Peatlands. Palangkaraya, Indonesia, 4-8 September 1995.  Samara Publishing Limited, Cardigan, UK, 45-54.   

Rieley, J.O., S.E. Page., and B. Setiadi. 1996.  Distribution of peatlands in Indonesia.  Dalam:  E. Lappalainen (ed.). Global Peat Resources. Publisher International Peat Society, Jyskä, Finland. 169-178.

Rieley, J.O., R.A.J.Wüst., J. Jauhiainen., S.E. Page., H. Wösten., A.Hoijer.,F. Siegert., S. Limin., H. Vasander.,  and M. Stahlhut.  2008. Tropical peatlands: carbon store, carbon gas emissions and contribution to climate change processes. Dalam: M. Strack (ed.), Peatlands and Climate Change. Publisher International Peat Society, Vapaudenkatu, Jyväskilä, Finland. 149-181.

Ritzema, H and  Adi Jaya. (2007) Water management for sustainable wise use of tropical peatlands.  In:J.O. Rieley, Limin, S.H. and Jaya, A.  Restoration and Wise use of Tropical Peatland: Problem of Biodiversity, Fire, Poverty and Water Management. Proceeding of International Symposium and Workshop on Tropical peatland. Palangkaraya, 20-24 September 2005.  EU RESTORPEAT Partnership, University of Palangka Raya, Indonesia and Wageningen University and Research Institute, The Netherlands. 41-51.

Sri Nuryani, H, U., A.Maas., B.H. Purwanto and B. Radjagukguk. 2009.  Effects of surfactant and ameliorant on effectiveness of P fertilizer on hidrofobik peat from Central Kalimantan. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan,  9(2):103-103

Vasander, H., S. Limin and J. Jauhiainen. (2007) Carbon storage in tropical peatland  and losses resulting from fire and land use change. In:J.O. Rieley, Limin, S.H. and Jaya, A.  Restoration and Wise use of Tropical Peatland: Problem of Biodiversity, Fire, Poverty and Water Management. Proceeding of International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Palangka Raya, 20-24 September 2005.  EU RESTORPEAT Partnership, University of Palangka Raya, Indonesia and Wageningen University and Research Institute, The Netherlands. 52-59.

Verwer, C., P. van der Meer., G-J. Nabuurs.  2008.  Review of  carbon flux estimates and other greenhouse gas emissions from oil palm cultivation on tropical peatlands-Identifying the gaps in knowledge.  Alterra-rapport 1731.  Alterra, Wageningen. 44


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: