JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PEMANFAATAN LIMBAH CAIR KARET DAN NPK MAJEMUK UNTUK MENINGKATKAN == Saputera, Lusia Widiastuti, Mukiyat
17 September 2013, 9:24 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR KARET DAN NPK MAJEMUK UNTUK  MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

(Utilization Of Liquid Waste Rubber And NPK Compound to Increase The Growth Of Oil Palm Seedlings  (Elaeis guineensis Jacq))

 Saputera1) Lusia Widiastuti 1) Mukiyat 2)

1)  Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

2) Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : saputeramardi@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of this study was to determine the effect of organic materials and fertilizers NPK compound on the growth of oil palm seedlings on sandy soil. Completely Randomized Design (CRD) factorial with two treatment factors. The first factor was the percentage of the provision of wastewater rubber consisting of five standard treatment namely : control (0 % polybag -1), liquid waste rubber (25%. polybag -1), liquid waste rubber (50%. polybag -1), liquid waste rubber (75%. polybag -1), liquid waste rubber (100%. polybag -1). While the second factor was the provision of NPK compound consisting of five standard treatment namely control (0 g. polybag -1), NPK compound (1.5 g. polybag -1), NPK compound (3 g. polybag -1 ), NPK compound (4.5 g. polybag -1), NPK compound (6 g. polybag -1). Each treatment was repeated 3 times to obtain 75 units of the experiment. The results showed that (1) the interaction between provision of wastewater the rubber and the fertilizer NPK compound for responses growth seedling oil palm were not significant at all ages observations and all variables observations, but from the single factor showed the effect on the growth seedlings oil palm (2) the provision of wastewater rubber L4 influence height on increment  height, leaf area and stem diameter of oil palm seedlings 10,12, 14, and 16 WAP, but the observation of the sheath leaf and root number had no effect. (3) the provision  fertilizer NPK compound with various doses did not give effect to height, stem diameter, number of frond and root number at all ages observation.

Keywords :  Palm Oil, Wastewater Rubber, NPK

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik dan pupuk NPK majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah berpasir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah persentase pemberian limbah cair karet yang terdiri dari lima taraf perlakuan yaitu kontrol (0 kg.polibag-1), limbah cair karet (25%.polibag-1),  limbah cair karet (50%.polibag-1), limbah cair karet (75%.polibag-1), limbah cair karet (100%.polibag-1). Sedangkan faktor kedua adalah pemberian pupuk NPK majemuk yang terdiri dari lima taraf perlakuan yaitu kontrol  (0 g.polibag-1), NPK majemuk (1.5 g.polibag-1), NPK majemuk  (3 g.polibag-1), NPK majemuk  (4.5 g.polibag-1), NPK majemuk  (6 g.polibag-1). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 75 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interaksi antara pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap tanggapan pertumbuhan bibit kelapa sawit tidak berpengaruh nyata pada semua umur pengamatan dan semua variabel pengamatan, namun dari faktor tunggal menunjukan adanya pengaruh terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. (2) pemberian limbah cair karet dengan dosis 2000 ml.polibag-1 memberikan pengaruh yang tinggi terhadap pertambahan tinggi, dan diameter batang bibit kelapa sawit umur 10,12, 14, dan 16 mst, namun pada pengamatan jumlah pelepah daun, dan jumlah akar tidak berpengaruh. (3) pemberian pupuk NPK majemuk dengan berbagai dosis tidak memberikan pengaruh terhadap tinggi, diameter batang, jumlah pelepah daun, dan jumlah akar pada semua umur pengamatan.

Kata kunci : Kelapa Sawit, Limbah Cair Karet, NPK.


PENDAHULUAN

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang menjadi unggulan di Indonesia pada saat ini. karena dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak, tanaman kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar perhektar nya di dunia. Selain itu tanaman kelapa sawit juga sebagai sumber bahan industri tekstil, sabun, deterjen bahan pakan ternak dan mentega (Balai Informasi Pertanian. 1990).  Produksi kelapa sawit di provinsi Kalimantan Tengah mencapai 2.305.515 ton, dengan luas areal 1.256.444 Ha, yang meliputi perkebunan besar negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat (BPS , 2012).

Kalimantan Tengah mempunyai potensi yang cukup besar dalam pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat. Adanya industri kelapa sawit ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa daerah. Menurut Yahya (1990), selain sebagai sumber devisa negara, kelapa sawit juga berperan dalam meningkatkan pendapatan petani sekaligus memberikan kesempatan kerja yang lebih luas.

Pengolahan karet selain dihasilkan produk-produk yang diinginkan juga produk lain berupa limbah. Limbah yang menjadi masalah di pabrik karet biasa berupa cairan. Cairan ini yang dikenal dengan air limbah karet, padahal limbah cair karet tersedia cukup banyak, dan perlu dilakukan suatu pengolahan terhadap limbah tersebut agar dapat dimanfaatkan. Pengolahan air limbah yang dilakukan biasanya menggunakan kolam anaerob dan aerob serta menggunakan lumpur aktif untuk mengurangi jumlah polutan yang terkandung dalam air limbah karet, karena dengan cara menguraikan senyawa organik di dalam air limbah menjadi senyawa sederhana, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan organik. Menurut Widyaningrum, (1989) limbah cair karet hasil fitoremediasi Azolla microphylla Kaulf dapat dimanfaatkan sebagai pemacu pertumbuhan berbagai jenis tanaman, karena dalam limbah cair pabrik karet mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Air limbah karet  selain mengandung bahan organik yang tinggi, juga mengandung beberapa unsur hara seperti N, P, K, dan Mg. Unsur yang terkandung dalam pupuk limbah cair karet lebih dari satu unsur hara, komposisi limbah organik cair karet yaitu N 0,47 mg L-1, P 53,23 mg L-1, K 11,80 mg L-1, Mg 2,00 mg L-1.

Pemberian pupuk NPK majemuk yang baik pada tanah berpasir dapat meningkatkan kesuburan tanah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman.  Pupuk NPK majemuk memiliki kandungan unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam pertumbuhannya, oleh karena itu pemberian pupuk NPK majemuk dapat menambahkan unsur hara ke dalam tanah seperti unsur hara N, P dan K.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah berpasir, pupuk majemuk NPK, bibit kelapa sawit yang berumur 5 bulan, limbah cair karet diambil dari PT. Borneo Makmur Lestari Crumb Rubber Factory (kolam 5), kapur dolomit, pupuk kotoran ayam  dan air. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag ukuran 40 cm x 50 cm, cangkul, meteran, kayu, timbangan, paranet  ember, parang, gembor, kamera, jangka sorong, karung goni, terpal dan alat tulis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor  pertama adalah persentase pemberian limbah cair karet (L) yang terdiri dari   5  taraf yaitu : L0 = Kontrol, L1 = limbah karet 25 % ( 500 ml.polibag-1), L2 = limbah karet 50 % ( 1000 ml.polibag-1), L3 = limbah karet 75 % ( 1500 ml.polibag-1), dan L4 = limbah karet 100 % ( 2000 ml.polibag-1). Faktor yang kedua adalah pemberian pupuk majemuk NPK (M) yang terdiri dari 5 taraf yaitu : M0 = Kontrol, M1 = 120 kg/ha (1,5 g.polibag-1), M2 = 240 kg/ha (3 g.polibag-1), M3 = 360 kg/ha (4,5 g.polibag-1) dan M4 = 480 kg/ha (6 g.polibag-1). Dari kedua faktor perlakuan tersebut terdapat 25 kombinasi  perlakuan,  yang masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali sehingga terdapat 75 satuan percobaan. Penempatan satuan percobaan dilakukan secara acak. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, maka data hasil pengamatan di analisis dengan analisis ragam (uji) pada taraf α=0,05 dan α=0,01. Apabila terdapat pengaruh nyata pada perlakua akan dilakukan uji nilai tengah dengan uji BNJ α 0,05

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tinggi Bibit Kelapa Sawit

Hasil analisis menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pemberian limbah cair karet ( L ) dengan pupuk majemuk NPK  ( M ) terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit pada semua umur pengamatan. Pengaruh terjadi hanya pada faktor tunggal pemberian limbah cair karet. Sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk tidak terjadi pengaruh terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit. Pemberian berbagai dosis limbah cair karet berpengaruh pada umur 10, 12, 14, dan 16 mst, tetapi tidak berpengaruh pada umur 2, 4, 6, dan 8 mst. Adapun tanggapan tinggi bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 1 dan 2.

Pada Gambar 1 dan 2, pemberian limbah cair karet dengan dosis L4 (2000 ml.polibag1) menunjukkan nilai rata-rata tinggi tanaman bibit kelapa sawit yang lebih tinggi yaitu 88,49 cm (16 mst) dan berbeda  nyata dibandingkan dengan tanpa pemberian limbah cair karet L0 (kontrol), tapi tidak berbeda nyata dengan L1 (500 ml. polibag-1),L2 (100 ml. polibag-1) dan  L3 (1500 ml. polibag-1 ), dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit kelapa sawit yaitu 86.56 cm, 84.95 cm dan 85.20 cm. Adanya pengaruh perlakuan L4 (2000 ml. polibag-1) terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit memperlihatkan bahwa pemberian limbah cair karet mampu memperbaiki kondisi kesuburan media tanah berpasir, dimana pemberian limbah cair karet telah mengoptimalkan penyerapan nitrogen oleh tanaman.

Gambar 1 SaputeraGambar 1.   Tinggi Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Limbah Cair Karet

 Gambar 2 SaputeraGambar 2.   Tinggi Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Pada saat fase pertumbuhan tanaman kelapa sawit sangat membutuhkan  unsur hara yang cukup banyak. Menurut Djazuli dan Trisilawati (2004) tanaman kelapa sawit pada saat pertumbuhan vegetatif sangat rakus terhadap unsur hara terutama N, P, dan K, oleh karena itu perlu adanya penambahan unsur hara untuk mempertahankan tingkat kesuburan tanah salah satunya adalah dengan cara pemberian pupuk.

Menurut  Hindersah dan Simarmata (2004), unsur nitrogen sangat penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena unsur nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman. Nitrogen bagi kelapa sawit  adalah unsur yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman. Tanaman kelapa sawit akan tumbuh dengan normal apabila kebutuhan akan unsur haranya terpenuhi, karena unsur hara tersebut digunakan oleh tanaman untuk melakukan aktifitasnya pada fase pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian limbah organik cair karet mampu menyediakan unsur hara terutama unsur nitrogen, karena nitrogen berperan dalam pertumbuhan tinggi tanaman.

 

Jumlah Pelepah Bibit Kelapa Sawit

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara  pemberian limbah cair karet (L) dengan pupuk NPK majemuk (M) terhadap jumlah pelepah tanaman bibit kelapa sawit pada semua umur pengamatan.  Pengaruh terjadi hanya pada pemberian limbah cair karet, sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk tidak terjadi pengaruh terhadap jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit. Pada faktor tunggal pemberian berbagai dosis limbah cair karet berpengaruh nyata pada umur 10, 12, 14, dan 16 mst. Tetapi tidak berpengaruh pada umur 2, 4, 6, dan 8 mst. Adapun gambaran tanggapan jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 3 dan 4.

Pada Gambar 3 dan 4, pemberian limbah cair karet dengan dosis L1 (500 ml. polibag-1 ) menunjukkan nilai rata-rata jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit lebih tinggi yaitu 14,80 helai (16 mst) dan berbeda nyata dibandingkan dengan L0 (kontrol) dan L4 (2000 ml. polibag-1 ). Dengan nilai rata-rata 13.67 helai, 13.60 helai, tetapi tidak berbeda nyata dengan L2 (1000 ml. polibag-1 ) dan L3 (1500 ml. polibag-1 ). Dengan nilai rata-rata jumlah pelepah 14.20 helai dan 14.67 helai. Adanya pengaruh perlakuan L1 (500 ml. polibag-1) terhadap pertambahan jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit menunjukkan bahwa pemberian limbah cair mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit dan memperbaiki kondisi kesuburan media tanah berpasir.

Gambar 3 SaputeraGambar 3.     Jumlah Pelepah Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 4 SaputeraGambar 4.     Jumlah Pelepah Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Berpengaruhnya pemberian limbah cair karet terhadap pertambahan jumlah pelepah daun tanaman kelapa sawit hal ini diduga karena kandungan unsur hara yang terdapat pada tanah berpasir yang digunakan sebagai media pertumbuhan bibit kelapa sawit cukup tinggi. Limbah cair karet juga mengandung beberapa unsur hara seperti N, P, K dan Mg. Menurut  Lakitan (2006), pada saat pertumbuhan daun, diketahui tidak semua unsur hara diperlukan dan berperan langsung terhadap pembentukan daun. Menurut Sutandi (1996) dalam Riwandi (2002), unsur hara N, P, K yang optimal di dalam tanah untuk tanaman  kelapa sawit adalah untuk N 0,51%, P 11ppm, dan untuk  K 0,6 me/100. Menurut Sutedjo dan Kartasapoetra (1991) fungsi N antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan daun. Pertambahan daun kelapa sawit dipengaruhi keadaan musim dan tingkat kesuburan tanah (Pahan, 2008). Selama musim kering proses pertumbuhan daun akan tertunda tetapi daun-daun akan tetap tumbuh dan terakumulasi pada fase pupus daun. Sedangkan pada musim hujan semua daun pada fase pupus akan membuka dan setelah itu laju pembukaan daun akan berjalan normal kembali. Lingkungan yang lebih mendukung umumnya mempercepat terjadinya puncak laju produksi daun pada tanaman muda, banyaknya produksi pelepah daun pada tanaman kelapa sawit dipengaruhi oleh umur tanaman, Sulistyo dkk (2010).

Diameter Batang Bibit Kelapa Sawit

Berdasarkan hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya interaksi antar perlakuan limbah cair karet (L) dan pupuk NPK majemuk (M) pada seluruh umur pengamatan yakni umur pengamatan 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 dan 16 mst. Pengaruh terjadi hanya pada pemberian limbah cair karet terhadap diameter batang bibit tanaman kelapa sawit.  Adapun gambaran tanggapan diameter batang bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 5 dan 6.

Berdasarkan uji BNJ 5% menunjukkan bahwa pada pengamatan 14 mst dan 16 mst perlakuan L4 (2000 ml. polibag-1) tidak berbeda nyata dengan perlakuan L1 (500 ml. polibag-1), L2 (1000 ml. polibag-1), dan L3 (1500 ml. polibag-1), tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan L0 (Kontrol), dengan rata-rata pertambahan pada 16 mst yaitu 5.53 cm, 5.43 cm, 5.32 cm, 5.50 cm dan 4.88 cm. Pemberian limbah cair karet sangat berperan positif dalam merangsang pertambahan diameter batang bibit tanaman kelapa sawit.

Gambar 5 SaputeraGambar 5.     Diameter Batang Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 6 Saputera Gambar 6.     Diameter Batang Bibit Tanaman Kelapa Sawit  Terhadap Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Bahan organik yang terkandung dalam pupuk limbah cair karet cukup tinggi, selain mampu memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah juga berperan memperbaiki sifat fisika tanah. Peranan bahan organik terutama meningkatkan kemampuan menahan air (Hakim dkk, 1986). Dengan meningkatnya kemampuan tanah dalam menahan air maka akar-akar tanaman akan mudah menyerap zat-zat makanan bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Suwandi dan Chan (1982), unsur N berperan dalam meningkatkan perkembangan Batang baik secara horizontal maupun vertikal, kemudian dikemukakan oleh Lingga dan Marsono (2002) unsur K berfungsi menguatkan vigor tanaman yang dapat mempengaruhi besar lingkaran batang. Unsur Ca berperan di dalam menguatkan dinding sel sehingga sangat dibutuhkan untuk memperkokoh batang tanaman.

Pertumbuhan yang baik diindikasikan dengan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis lebih tinggi dan hasil fotosintesis (karbohidrat) yang dihasilkan lebih banyak. Karbohidrat yang lebih banyak ditranslokasi lewat floem dan dapat digunakan untuk memacu pertumbuhan sekunder yaitu perluasan sel batang dan diindikasikan dengan diameter batang yang lebih lebar. Loveless (1987), menambahkan bahwa pertambahan diameter batang terkait oleh adanya pertumbuhan sekunder termasuk pembelahan sel-sel di daerah kambium dan pembentukan jaringan xilem dan floem. Menurut Gardner, dkk (1991), pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan organ-organnya akan bergantung oleh tersedianya meristem, hormon dan hasil fotosintesis (karbohidrat) serta lingkungan yang mendukung. Meristem lateral menghasilkan sel-sel baru yang memperluas lebar atau diameter suatu organ.  Kambium vaskuler merupakan suatu meristem lateral yang terspesialisasi yang membentuk xilem dan floem sekunder.

 

Jumlah Akar Bibit Kelapa Sawit

Berdasarkan hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan limbah  cair karet (L) dan pupuk NPK majemuk (M) pada umur pengamatan 16 mst. Sedangkan pada perlakuan tunggal yakni perlakuan limbah cair karet tidak  menunjukkan pengaruh terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit, demikian pula dengan perlakuan tunggal pemberian pupuk NPK majemuk tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit. Adapun Gambaran tanggapan jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 7 dan 8.

Gambar 7 SaputeraGambar 7.     Jumlah Akar  Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 8 SaputeraGambar 8.     Jumlah Akar  Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Pada Gambar 7 dan 8, diketahui bahwa rata-rata jumlah akar bibit kelapa sawit pada umur pengamatan 16 mst dari pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk belum menunjukkan adanya perbedaan yang nyata. Namun dilihat dari nilai rata-rata masing-masing perlakuan pada umur pengamatan 16 mst, pada perlakuan pemberian limbah cair karet nilai rata-rata yang lebih tinggi yaitu pada perlakuan L4 (2000 ml.polibag-1) sebanyak 21.87 buah. Sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk, rata-rata nilai yang lebih tinggi ditunjukkan pada perlakuan M3 (4 g.polibag-1) sebanyak 21.53 buah.

Tidak berpengaruhnya pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit diduga dari pemberian kedua pupuk tersebut belum mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, khusus unsur hara N, P,  dan K. Menurut Setyati (1979), pembentukan jumlah akar terjadi apabila kandungan auksin, nitrogen, karbohidrat dan zat yang berinteraksi dengan auksin yang menyebabkan perakaran pada bibit kelapa sawit berada dalam keadaan yang seimbang. Sedangkan Golsworhy dan Fisher (1995) menyatakan bahwa ketersediaan karbohidrat yang banyak akan cenderung meningkatkan proses fisiologis pada tanaman dalam proses pembelahan, pembesaran dan pembentukan akar, sehingga pertumbuhan akar akan meningkat.

Terjadinya peningkatan pertumbuhan dan percabangan akar apabila unsur hara N dan P di dalam tanah tersedia cukup besar. Pentingnya ketersediaan unsur hara N dan P dalam jumlah yang cukup dan tersedia bagi tanaman. Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), unsur nitrogen sangat penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena unsur nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman. Sedangkan menurut Rosmarkam (2002), fosfor berperan dalam proses fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan secara keseluruhan, selain itu fosfor berperan juga dalam memperbaiki sistem perakaran tanaman.

 

KESIMPULAN

Interaksi tidak terjadi antara pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit pada semua umur pengamatan dan semua variabel pengamatan, walaupun demikian dari faktor tunggal menunjukkan berpengaruh. Pemberian limbah cair karet meningkatkan tinggi dan diameter batang. Pemberian pupuk NPK majemuk dengan berbagai dosis berpengaruh negatif terhadap tinggi, diameter batang, jumlah pelepah daun dan jumlah akar.

 

SARAN

            Perlu dilakukan penelitian lanjutan menggunakan rancangan acak faktorial dengan mengkombinasi pemberian limbah cair karet dengan pupuk organik lainnya seperti limbah cangkang buah kelapa sawit itu sendiri.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada tim peneliti proyek kerjasama antara Fakultas Pertanian dengan PT. Borneo Makmur Lestari yang mendukung kegiatan penelitian ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah 2012. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2012, Palangka Raya.

Balai Informasi Pertanian. 1990. Pedoman Budidaya Kelapa Sawit.  Departemen Pertanian. Medan. Pp.32 hal.

Djazuli dan O. Trisilawati. 2004. Pemupukan, Pemulsaan dan Pemanfaatan Limbah Nilam Untuk Peningkatan dan Produktivitas Mutu Nilam. Jurnal Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, XVI (2). Balai Penelitian Rempah dan Obat.

Gardner F.P., R. B. Pearce dan R.L. Mitchell.  1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.  UI Press.  Jakarta.

Golsworhy dan Fisher. 1995. Fisiologi tumbuhan. University Press. Yogyakarta.

Hakim, N., Nyakpa, Y. M., Lubis, M. A,. Nugoho, G. S., Diha, A. M., Hong, B. G., Bailey, H. H. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Radja Grafindo. Jakarta.

Hindersah, R dan T. Simarmata. 2004. Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah. (http://http://www.unri.ac.id.)(3 Juni 2012).

Lakitan, B. 2006. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada.  Jakarta.

Lingga, P. dan Marsono. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Loveless, A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jilid I. Gramedia.  Jakarta.

Pahan. I. 2008. Kelapa Sawit Managemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.

Riwandi. 2002. Rekomendasi pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Analisis Tanah dan Tanaman. Akta Agrosia 5 : 27- 34.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah Kanisius.  Yogyakarta.

Sarief, S. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta.

Setyati. 1979. Fisiologi tanaman Budidaya. Kansius. Yogyakarta.

Sulistyo, B. Puba, A. Siahaan, D. Efendi, J. Sidik, A. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Balai Pustaka. Jakarta.

Sutedjo, dan Kartasapoetra. 1991. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta

Suwandi dan F. Chan. 1982. Pemupukan pada Tanaman Kelapa Sawit yang telah menghasilkan dalam Budidaya Kelapa Sawit  (Elaeis guineensis Jacq). Pusat  Penelitian Marihat Pematang Siantar. Medan. Hal 191 – 210.

Widyaningrum, D.Y. 1989. Usaha Pemanfaatan Limbah Pabrik Karet Getas, Salatiga untuk Pemupukan Tanaman Padi (Oryza sativa) dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Enzim Nitrat Reduktase.[Skripsi]. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM .http://www.scribd.com/doc/13097895/b070210 (diakses pada tanggal 10 ; 1; 2012).

Yahya, S. 1990. Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 52 .


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: