JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == DAMPAK LIMBAH PADAT PABRIK PENGOLAHAN KARET TERHADAP PERTUMBUHAN == Sustiyah dan Siti Zubaidah
17 September 2013, 8:59 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

DAMPAK LIMBAH PADAT PABRIK PENGOLAHAN KARET TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH PASIR

 (The Effect Of  Solid Rubber Waste On Palm Oil Growth On Sand Soil)

 Sustiyah1 dan Siti Zubaidah1

1 Staf  Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNPAR

Koresponden : sustiyah_upr@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of this study was to the increase of grow of oil palm seedlings, to giving multiple doses of solid waste rubber processing plant and catle manure of chicken, to get a doses of the best solid waste in an optimal growth at pre-nursery seedlings; and to get information on potensial, opportunities, and utilization of solid  waste rubber on the soil properties. This research was conducted using completely random design (RAL) faktorial with two treatment factor, doses solid rubber waste (L). There are three level  treatments : L0 = non treatment of solid rubber waste (Control), L1 = doses of solid rubber waste 75 kg ha-1 (500 g solid rubber waste seed-1), L2 = doses of solid rubber waste 150 kg ha-1 (1 kg solid rubber waste seed-1) and catle manure of chicken (A). There are three level  treatments :  Ao = non treatment catle manure of chicken (Control), A1 = doses catle manure of chicken 37,5 kg ha-1 (250 g catle manure of chicken seed-1), A2 = doses catle manure of chicken 75 kg ha-1 (500 g catle manure of chicken seed-1), and replicated 3 times (3 x 9) resulted 24 experiment unit.  Result showed that the dosage of the solid rubber waste treatment enough  influence and respond positively  to the growth of soil palm seedlings pre-nursery, and solid waste treatment plan rubber  was potentially  quite useful as a fertilizer for crops.  Providing solid waste rubber processing plant with a doses of 1 kg/ tree (L2) is the best  treatment  and enough to give a positif response and optimal growth in pre nursery.

Keywords : Palm Oil Seed, Solid Rubber Waste

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit terhadap pemberian beberapa  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam, agar mendapatkan dosis limbah padat yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery; dan mendapatkan informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu dosis limbah padat pabrik karet (L) terdiri dari tiga taraf perlakuan: L0 = tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 =  dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1) dan pupuk kandang kotoran ayam (A) terdiri dari tiga taraf perlakuan: Ao= tanpa pupuk kandang kotoran ayam, A1= dosis kotoran ayam 37,5 kg ha-1 (250 g kotoran ayam bibit-1), dan A2 = dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1),     dan diulang sebanyak 3 kali, dengan demikian terdapat (3 x 9) = 24 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman dan dapat menyumbangkan unsur hara tanaman. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/ pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik dan memberikan respon yang positif dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery

Kata kunci : Bibit Kelapa Sawit, Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet

PENDAHULUAN

 

Kalimantan Tengah mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa daerah.

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya kelapa sawit. Pembibitan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga memerlukan perhatian yang serius, tetap dan terus menerus sampai pada umur 1 – 1,5 tahun pertama. Produksi awal di lapangan berkorelasi nyata dengan luas daun pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM). Kondisi ini sangat ditentukan oleh keadaan pembibitan yang baik (Pahan, 2006).

Pembibitan pada pre nursery sering mengalami hambatan karena penyesuaian waktu terhadap keadaan iklim setempat dan memerlukan media tanam yang cukup nutrisi (Hakim, 1985). Di samping itu dampak dan mahalnya harga pupuk anorganik perlu diupayakan pupuk alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik tersebut. Untuk mendapatkan bibit yang baik dan berkualitas, faktor tanah perlu diperhatikan khususnya tanah pasir sebagai media pembibitan yang cukup banyak ditemui di Kota Palangka Raya.

Menurut Lingga (1999), tanah pasir adalah tanah yang berstruktur  terlalu porous, sehingga sangat mudah merembeskan air yang mengangkut zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman tidak akan tumbuh subur.

Tanah pasir umumnya mempunyai kendala seperti miskin akan unsur hara serta sulit mengikat atau menahan unsur hara dan air (Hardjowigeno, 1995).Tanah pasir memiliki pH tanah berkisar 3,5-5,5, ketersediaan unsur hara sangat rendah, kandungan bahan organik sangat rendah, peka terhadap erosi (Syarief, 1986).

Tanah pasir memiliki kendala lain yaitu kondisi tanah yang tergolong masam. Upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi kendala dalam meningkatkan pertumbuhan bibit pre nursery  kelapa sawit pada tanah pasir antara lain melalui pemberian pupuk organik. Salah satu pupuk organik yang bisa dimanfaatkan adalah limbah padat pabrik pengolahan karet.

Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat, tetapi limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.

Kandungan dan kriteria unsur hara dalam limbah padat pabrik pengolahan karet adalah pH H2O sebesar 6,25 (agak masam), N total sebesar  0,28 % (sedang), P- tersedia sebesar 548,44 ppm (sangat tinggi), K-dd sebesar 0,28 me/100 g (sedang), Ca-dd sebesar 7,53 me/100 g (sedang), Na-dd sebesar 0,10 me/100 g (rendah), Mg dd sebesar 0,92 me/100 g (rendah), Kejenuhan Basa (KB) 27,47 % (rendah), dan KTK 31,12 me/100 g (tinggi) . Unsur-unsur tersebut diduga berasal dari bahan yang digunakan petani dalam membekukan lateks dengan berbagai bahan asam seperti asam semut dan asam alami dari buah-buahan yang ikut tercuci oleh air.

Mengingat hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan unsur hara limbah padat pabrik karet masih relatif kurang mencukupi untuk pembibitan dengan menggunakan media tanah pasir, maka perlu dilakukan juga pemberian pupuk pupuk kandang kotoran ayam dalam menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian dampak pemberian beberapa level dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) mengkaji dampak pemberian beberapa dosis limbah padat dari pabrik pengolahan karet yang dihasilkan oleh PT. Borneo Makmur Lestari Crumb Rubber Factory dan pemberian beberapa dosis pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit pre nursery, agar mendapatkan dosis limbah padat dan dosis pupuk kandang kotoran ayam yang paling baik terhadap pertumbuhan bibit  pre nursery; dan 2) informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah pasir.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Desember 2012, di kebun petani Kelurahan Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya. Analisis hara tanah awal dan akhir serta limbah padat dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR. Bahan yang digunakan adalah bibit sawit tahap pre-nursery dan tanah pasir dari milik petani sawit di Kelurahan Petuk Bukit Bibit berasal dari PT. Lonsum Indonesia Medan varietas DxP Lonsum, limbah padat dari pabrik karet PT. Borneo Makmur Lestari di Kota Palangka Raya, kapur dolomit, polybag ukuran 30 x 30 cm, pupuk kandang kotoran ayam, pestisida, dan bahan lainnya yang menunjang penelitian. Peralatan yang digunakan adalah karung  plastik besar, cangkul, parang, gayung ukur, camera, ember, meteran, timbangan, alat tulis, peralatan laboratorium untuk analisis, hand sprayer semi otomatis dan alat bantu lainnya yang menunjang penelitian.

            Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah dosis limbah padat pabrik karet yang terdiri dari tiga taraf perlakuan; L0 = tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 = dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1).  Faktor  kedua adalah dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam (A)  terdiri dari tiga taraf perlakuan : Ao = tanpa pupuk kandang kotoran ayam, A1  = dosis kotoran ayam 37,5 kg ha-1 (250 g kotoran ayam bibit-1), A2 = dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1)

            Kedua faktor perlakuan tersebut dikombinasikan sehingga didapatkan 9 kombinasi perlakuan, masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 (tiga) kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Penempatan masing-masing perlakuan pada satuan percobaan dilakukan secara acak.

Sebagai data pendukung dalam penelitian ini dilakukan analisis kandungan hara tanah sebelum dan sesudah dilakukan pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam. Analisis tanah meliputi analisis pH, N, P, K, Ca, Mg, KTK dan KB sebelum penelitian dan analisis media pH, N, P dan K sesudah penelitian, serta analisis limbah padat sebelum diaplikasikan yang meliputi pH, N, P, K, Ca, Mg, Fe, Pb, Cd, Zn, Cr.

Tanah yang digunakan untuk pembibitan pre-nursery sebanyak 6 kg polybag-1 kemudian diberi kapur dolomit dengan dosis 7 ton ha-1 (50 g polybag-1). Pemeliharaan meliputi pemupukan susulan, penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian hama penyakit.

Pengamatan utama yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi variabel:  Jumlah pelepah daun (helai), Berat Basah Bibit (gr), Berat Kering Bibit (gr),  Berat Basah Akar (gr),  Berat Kering Akar (gr). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf α = 0,05 dan α = 0,01. Apabila terdapat pengaruh nyata pada perlakuan, akan dilakukan uji nilai tengah dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) taraf    α = 0,05 untuk mengetahui perbedaan antar taraf perlakuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Pelepah Bibit Pre Nursery

Berdasarkan hasil analisis ragam (uji F) jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery menunjukkan bahwa perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak berpengaruh nyata dari umur 0 hingga 10 minggu setelah tanam (mst), sedangkan pada umur 12 dan 14 mst memberi pengaruh nyata. Perlakuan yang memberi pengaruh pada umur 12 mst adalah faktor tunggal dari perlakuan dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam,  sedangkan faktor tunggal perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh pada umur 14 mst.

Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 12 dan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) merupakan perlakuan yang terbaik, sedangkan hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal dosis dosis limbah padat menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis limbah padat pabrik karet 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) merupakan perlakuan yang terbaik. Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur  12 dan 14 mst akibat perlakuan dosis pupuk kandang kotoran ayam, dan hasil uji nilai tengah tinggi bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur 14 mst akibat perlakuan dosis limbah padat pabrik karet disajikan pada tabel  1.

Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Pre Nursery

Hasil pengamatan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery tidak dilakukan analisis ragam dikarenakan data diperoleh pada pengamatan di akhir penelitian yaitu pada bibit umur 14 mst, dan tanaman sampel yang diamati hanya satu sampel yang mewakili pada masing-masing perlakuan. Hasil nilai penimbangan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap kombinasi perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam menunjukkan perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) + dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik. Hasil nilai pengukuran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur 14 mst akibat perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan perlakuan pemberian dosis kotoran ayam disajikan pada tabel 2.

 Tabel 1. Hasil Uji Nilai Tengah Jumlah Pelepah Daun Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Faktor Tunggal Perlakuan Dosis Limbah Padat Pabrik Karet (L) dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (A)

Tabel sustiyahKeterangan :    Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan ber-dasarkan Uji BNJ 5%

Tabel 2. Hasil Nilai Pengukuran Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Perlakuan Dosis Limbah Padat Pabrik Karet (L) dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (A)

 Tabel sustiyah 2

Kandungan Hara Limbah Padat  sebagai Data Pendukung

Berdasarkan hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet mengandung unsur hara makro, seperti nitrogen-total (N-total) sebesar 0,28 % dan kalium tersedia (K-dd)  sebesar 0,28 me/100g dengan kriteria sedang, phospor-tersedia (P-tersedia) sebesar 548,44 ppm dengan kriteria tinggi, calsium tersedia (Ca-dd) sebesar 7,53 me/100g (kriteria tergolong sedang), natrium tersedia (Na-dd) sebesar 0,10 me/100g dan magnesium tersedia (Mg-dd) sebesar 0,92 me/100g dengan kriteria tergolong rendah. Dengan demikian limbah padat tersebut cukup berpotensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, terutama bagi tanaman kelapa sawit.

Hasil analisis kandungan KB dan KTK dalam limbah padat karet adalah: Kejenuhan Basa (KB) sebesar 27,47 % (kriteria tergolong rendah), dan KTK sebesar 31,12 me/100 g (kriteria tergolong tinggi). Mengingat limbah padat tersebut diaplikasikan sebagai pupuk tanaman maka kandungan KB dan KTK yang terkandung dalam limbah padat yang dijenuhi kation basa diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Pembahasan

Secara garis besar pertumbuhan tanaman yang baik dapat digambarkan dari kondisi jumlah pelepah daun dan berat basah, berat kering tajuk serta akar tanaman. Pemberian perlakuan kombinasi dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan dosis kotoran ayam cukup memberikan pengaruh dan memberi respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Hasil analisis ragam (uji F) jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery menunjukkan bahwa perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak berpengaruh dari umur 0 hingga 10 mst, sedangkan pada umur 12 dan 14 mst memberi pengaruh nyata. Perlakuan yang memberi pengaruh pada umur 12 adalah faktor tunggal dari perlakuan dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam,  sedangkan faktor tunggal perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh pada umur 14 mst.

Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 12 dan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) merupakan perlakuan yang terbaik, sedangkan hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal dosis dosis limbah padat menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis limbah padat pabrik karet 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) merupakan perlakuan yang terbaik. Gambaran respon jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat perlakuan faktor tunggal pemberian dosis limbah padat pabrik karet yang memberikan pengaruh pada umur pengamtan 14 mst disajikan pada Gambar 1 dan respon jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam memberikan pengaruh pada umur pengamtan 12 dan 14 mst disajikan pada Gambar 2.

gambar sustiyahGambar 1.   Grafik Respon Jumlah Pelepah Daun Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Limbah Padat Pabrik Karet

gambar sustiyah 2Gambar 2. Grafik Respon Jumlah Pelepaha Daun Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam

Berdasarkan hasil penimbangan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap kombinasi perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam menunjukkan perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) + dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik. Gambaran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat pemberian dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam disajikan pada Gambar 3.

Banyaknya jumlah pelepah daun bibit pre nursery akibat perlakuan kombinasi dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak memberi pengaruh, namun faktor tunggal tunggal perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) dan faktor tunggal dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) pada akhir pengamatan (14 mst) merupakan perlakuan terbaik pada umur 12 dan 14 mst. Hal ini berarti bahwa unsur hara khususnya unsur hara makro yang terkandung pada pemberian faktor tunggal limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis tersebut cukup menunjang dalam pertumbuhan jumlah pelepah daun

Unsusr hara makro yang terkadung dalam limbah padat pabrik pengolahan karet diantaranya hara nitrogen (N), phospor (P), kalium (K), calsium tersedia (Ca-dd), natrium tersedia (Na-dd) dan magnesium tersedia (Mg-dd) serta Kejenuhan Basa (KB), dan KTK yang tergolong tinggi) sebagaimana dijelaskan pada uraian di atas.. Sedangkan unsur hara makro yang terkandung pada  pupuk kandang kotoran ayam cukup tinggi yakni nitrogen (N) sebesar 6,27%, phospor (P) sebesar 5,92 %, kalium (K) sebesar 3,27 %  (Sutedjo, 1994).

Jumlah pelepah daun dan berat tajuk dan akar pada tanaman kelapa sawit dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi pertumbuhan yang baik dan merupakan komponen utama produksi sawit karena pelepah daun merupakan tempat keberadaan tandan sawit sebagai hasil fotosintat dari tanaman. Sedangkan tingginya berat tajuk dan akar pada tanaman dapat menggambarkan banyaknya seraapan hara yang dapat dilakukan oleh organ tanaman tersebut karena organ tanaman tersebut berfungsi untuk penyerapan dan menstansformasi hara. Oleh karena itu tajuk dan akar yang sehat dapat menggambarkan kondisi tanaman yang normal dan sehat.

Gambar sustiyah 3Gambar 3. Grafik Respon Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Limbah Padat Pabrik Karet dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam.

Nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif  tanaman. Nitrogen berperan dalam pembentukan sel tanaman terutama pada pertumbuhan vegetatif, seperti pembentukan daun, tinggi tanaman, lingkar batang, dan tajuk tanaman. Gejala kekurangan unsur hara nitrogen adalah tanaman menunjukkan gejala klorosis, terutama daun yang tua; daun muda berwarna hijau muda/pucat, bila terlalu lama kekurangan N semua daun menguning dan akhirnya mati. Gejala lain adalah batang kurus dan berkayu (Sarief, 1986).

Meningkatnya pertumbuhan tanaman dengan meningkatnya pemberian takaran pupuk seperti pemberian limbah padat karet dan pupuk kandang kotoran ayam membuktikan, bahwa pada pertumbuhan awal atau pertumbuhan vegetatif tanaman memerlukan jumlah unsur nitrogen yang tinggi untuk pertumbuhannya. Rendahnya kandungan protein daun akibat suplai N yang rendah pada dosis yang lebih sedikit menyebabkan asimilasi N menjadi protein menjadi lebih rendah yang akan didistribusi pada ke seluruh bagian tanaman. Hal ini di sebabkan karena jumlah terbesar dari N yang dibutuhkan untuk membentuk protein digunakan untuk pembentukan protoplasma sel-sel baru, di samping untuk pembentukan klorofil, sitokrom dan sebagai enzim dalam kloroplas dan mitokondria pada daun (Zakaria, 1999). Di samping itu, protein juga di akumulasikan pada biji dan sebagai protein cadangan pada struktur ikatan membrane yang disebut benda protein (Zolla et al, 2003). Peningkatan ketersediaan hara menyebabkan tanaman akan memanfaatkan hara dengan baik, sebagai bahan baku terhadap terbentuknya assimilat pada tanaman (Purcell et al., 2002; Lawlor, 1993).  Jumlah assimilat yang terbentuk pada tanaman yang lebih tinggi menyebabkan produksi   bahan kering tanaman semakin  meningkat.  Penyerapan N yang lebih tinggi oleh tanaman maka tanaman akan membentuk protein lebih tinggi.  Terbentuknya protein yang tinggi bagi tanaman, menyebabkan perkembangan sel-sel tanaman akan lebih baik sehingga deferensiasi sel tanaman menjadi lebih berkembang (Millar and Heazlewood, 2003).

Phospor berperan dalam pembentukan akar, khususnya pada pembibitan pada tahap pre nursery (pertumbuhan kecambah sawit hingga umur 3 bulan) maupun main nursery (pertumbuhan bibit sawit umur 4 bulan hingga umur 12 bulan, siap untuk dipindahkan ke lapangan/lahan) dan berperan dalam pertumbuhan akar kelapa sawit di lapangan. Phospor sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara phospor pada tumbuhan adalah waktu panen akan terlambat, tumbuhnya kerdil, batang kurus, daun-daun yang lebih tua rontok, warna daun hijau tua dan terdapat bintik/bercak nekrotik (yaitu bintik kecil dari jaringan yang mati) (Sarief, 1986). Dan apabila tanaman kekurangan unsur hara terutama unsur P dapat menyebabkan berkurangnya perkembangan akar, dimana akar akan kelihatan kecil-kecil, sehingga akan mempengaruhi berat kering akar tanaman (Sarief, 1986). Selain itu tanaman yang  kekurangan unsur hara N, P, K, dan Mg akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, akar menjadi lemah dan jumlah akar berkurang, dengan demikian akan mempengaruhi berat kering tanaman.

Kalium berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan pucuk tanaman, mendukung pertumbuhan jaringan tanaman sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit. Kalium sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara kalium pada tumbuhan adalah mula-mula daun yang tua klorosis kemudian muncul bintik/bercak nekrotik pada ujung dan tepi daun yang kemudian meluas ke seluruh daun. Daun menggulung, keriting, batang lemah dan mudah roboh (Sarief, 1986).

Kalsium, natrium dan magnesium dalam tanah berperan untuk mengurangi tingkat kemasaman tanah, sedangkan peranan magnesium bagi tanaman merupakan unsur pokok dalam pembentukan klorofil (hijau daun), calsium dan natrium merupakan unsur pokok pembentuk lamela tengah dinding sel yakni dapat memperkokoh pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara calsium dan natrium pada tumbuhan adalah terjadi nekrosis pada ujung dan sepanjang tepi daun muda, diiringi dengan nekrosis pada ujung pucuk yang akhirnya jaringan meristem ini mati. Sedangkan gejala kekurangan unsur hara magnesium pada tumbuhan adalah klorosis pada urat daun, terjadi pada daun yang tua lebih dahulu, lama kelamaan daun akan berwarna kuning atau putih (Sarief, 1986).

KB merupakan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation asam seperti H dan Al +kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na) yang terdapat dalam komplek jerapan tanah. Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang dierlukan oleh tanaman. Tanah dengan KB yang tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur.  KTK merupakan banyaknya kation yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah. KTK merupakan sifat kimia tanah yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah (Sarief, 1986).

Pemberian bahan organik tanah seperti limbah padat pabrik pengolahan karet pada tanaman cukup dapat menyumbangkan hara bagi pertumbuhan tanaman.  Pupuk organik mempunyai fungsi penting dalam tanah yaitu untuk dapat menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhannya dapat meningkatkan kesuburan tanah pula (Muslihat L, 2009).  Selain itu hara C, H, O yang terkandung di dalam bahan organik pada pupuk limbah padat karet merupakan unsur yang paling dibutuhkan dalam proses fotosintesis sebagai penyusun senyawa-senyawa penting dalam tanaman yang nantinya akan diubah untuk membentuk organ seperti batang, daun, dan akar. Apabila fotosintesis berlangsung dengan baik, tanaman akan dapat tumbuh dengan normal serta diikuti oleh peningkatan berat kering tanaman.

Limbah padat dari pabrik pengolahan karet merupakan limbah yang secara umum memiliki kandungan bahan organik tinggi, bau menyengat dan berwarna hitam. Limbah karet tersebut mempunyai kandungan bahan organik dan nutrien yang tinggi, hal ini disebabkan karena dalam proses pengolahan karet banyak mengunakan bahan kimia seperti NH4OH sebagai antikoagulan dan disenfektan yang ditambahkan pada saat penyadapan sebanyak 5 -10 ml larutan amonia 2 – 2,5 per liter latek (Suwardin, 1989).

Komposisi limbah pabrik karet mengandung bahan organik yang berasal dari serum dan partikel karet yang belum terkoagulasi. Dalam serum terdapat protein, gula, lemak, garam orgnik dan mikroorganisme. Limbah pabrik karet mengandung komponen karet (protein, lipid, karotenoid, dan garam anorganik), lateks tidak terkoagulasi dan bahan kimia yang ditambahkan selama pengolahan (Suwardin, 1989).

 

KESIMPULAN

  1. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman dan dapat menyumbangkan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman.
  2. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) dan pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik pada pembibitan pre nursery.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, 1985. Evaluasi Kemampuan Lahan. Jurusan Ilmu Tanah Faperta IPB. Bogor.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika  Pressindo. Jakarta.

Lingga, P. 1999. Pupuk dan Pemupukan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lawlor, D. W. 1993: Photosyntesis, moleculer, physiologic,al and environ-mental processes.  Scientific Longman & Technical England.

Millar, A. H., and J. L. Heazlewood. 2003. Genomic and proteomic analysis of mitochondria1 carrier proteins in arabodopsis.Plant Physiol. 131: 443-453.

Muslihat, L. 2009. Teknik Pembuatan Kompos Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah di Lahan Gambut. Co_ccfpi@wetlands.or.id.

Pahan,  I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

Purcell, L. C., R. A. all, J. D. Reaper, and E. D. Vories. 2002. Radiation use efficiency and biomass production in soybean at different plant population densities. Crop Sci. 42: 172-177.

Sarief, ES. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana. Bandung.

Suwardin, D. 1989. Tehnik pengendalian limbah pabrik karet. 4(2): 25-32.  Jakarta.

Zakaria, B. 1999. Aktifitas fotosintesis dan rubisco tanaman yang diberi metanol pada berbagai tingkat cekaman air (Kasus pada tanaman kapas). Dis. Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.

Zolla, L., A. M. Tiperio, W. Walcher, and C. G. Huber. 2003.  Proteomics of light-harvesting proteins in different plant species. Analysis and comparison by liquid chromatography-electrospray ionization mass spectrometry. Photosystem , 111. Plat Physiol. 131: 198-214.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: