JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap == Yovita, Chatimatun Nisa, Rahmi Zulhidiani
16 September 2013, 9:21 am
Filed under: Penelitian

Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap Hasil Tanaman Jagung Manis Di Tanah Gambut Pedalaman

(Effects of Three Compost Types and NPK Doses on Yield of Sweet Corn in Ombrogen Peat Soil)

Yovita1, Chatimatun Nisa2, Rahmi Zulhidiani2

1UPBJJ-Universitas Terbuka Palangka Raya

2 Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Korespondensi : yovita@ut.ac.id

ABSTRACT

The objective of the research was to compare the growth of corn among all treatments (single-single, single-combination and combination-combination). The research was conducted on peat land in KalampanganVillage, SabangauSub-district, Palangkaraya Central Kalimantan Province. It was a planned comparative study (orthogonal contrast) with Random Group Design arranged singly with 12 (twelve) treatments namely Control, kascing dose of 20 tons ha-1, chicken manure dose of 20 ton ha-1, kayambang dose of 20 tons ha-1, NPK dose of 200kg ha-1, NPK dose of 400kg ha-1, kascing in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, kascing in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, and kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1 to 3 (three) repetitions. The result indicated that the growth and yield of sweet corn provided with treatment were better than those provided with control, the comparison of 3 types of compost and NPK showed significant effect on components of yield, and the treatment chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1 was the treatment showing the best effect on plant growth and yield of sweet corn.

Key Word : Compost, Doses, Yield,  Sweet Corn, Ombrogen Peat

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pertumbuhan tanaman jagung antara semua perlakuan (tunggal dengan tunggal, tunggal dengan kombinasi dan kombinasi dengan kombinasi). Penelitian dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian pembanding berencana (kontras orthogonal) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 12 (duabelas) perlakuan yaitu Kontrol, kascing takaran 20 ton ha-1, pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1, dosis NPK 200kg ha-1, dosis NPK 400kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, dan kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1 dengan 3 (tiga) ulangan. Hasil percobaan menunjukan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yang diberikan perlakuan lebih baik daripada kontrol, perbandingan 3 jenis kompos dan NPK menunjukan pengaruh nyata pada komponen hasil, dan perlakuan Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1 merupakan perlakuan yang menunjukan pengaruh yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

Kata Kunci : Kompos, Dosis, Hasil, Jagung Manis, Gambut Pedalaman

I.  PENDAHULUAN

Di Indonesia sweet corn (Zea mays L. saccharata Sturt), dikenal dengan nama jagung manis. Tanaman ini merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, jagung memegang peranan penting sebagai bahan pangan di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan, jagung pun dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak dan bahan baku industri dengan tingkat kebutuhan yang besar. Jagung dan komoditas pertanian lainnya di Indonesia terdesak ke lahan yang kurang subur. Hal ini disebabkan lahan pertanian yang sesuai untuk usahatani beralih fungsi menjadi tempat pemukiman, pabrik dan sebagainya. Salah satu jenis tanah yang kurang subur dan menjadi sasaran pengembangan usaha pertanian saat ini adalah lahan gambut. Dimana luasan gambut di Indonesia mencapai 20,96 juta ha, sedangkan Provinsi Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut seluas 2,93 juta ha (Noor, 2010).

Tanah gambut mempunyai berbagai kendala dalam menunjang usaha budidaya tanaman pertanian. Tanah gambut pedalaman pada umumnya mempunyai lapisan gambut yang tebal dan berasal dari kayu-kayuan, miskin akan unsur hara, bereaksi masam hingga sangat masam, kapasitas tukat kation (KTK) sangat tinggi dan kejenuhan basa yang rendah. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju dan kemudahan penyediaan hara yang memadai bagi tanaman terutama basa K dan Ca. dalam suasana kaya akan bahan organik, seperti gambut, ketersediaan Cu, Zn, Fe, dan Mo sangat rendah, karena sebagian besar hara mikro tersebut dijerat kuat oleh analir pengikat sehingga tidak mudah tersedia bagi tanaman (Salampak, 1993).

Penempatan pupuk organik dalam hal ini kompos ke dalam tanah secara garis besar manfaat yang diperoleh yaitu : memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Walaupun begitu penggunakan pupuk organik memiliki sisi kekurangan juga yaitu : kandungan hara rendah, ketersediaan unsur hara lambat dan menyediakan hara dalam jumlah terbatas. Tetapi pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang diperlukan pada masa pertumbuhan tanaman. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik mencegah terjadinya erosi, pergerakan permukaan tanah (crusting) dan retakan tanah, mempertahankan kelengasan tanah serta memperbaiki internal drainage (Sutanto, 2008b).

Permasalahan yang akan dipecahkan adalah “ Apakah dengan pemberian 3 jenis kompos dan pupuk majemuk NPK akan menunjukan perbedaan dalam meningkatkan hasil tanaman serta dapat memperbaiki kesuburan tanah?”.

 BAHAN DAN   METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksanaan penelitian akan dilakukan selama 4 bulan  dari bulan Februari sampai Mei 2012. Percobaan ini dilaksankan di lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 3 (tiga) ulangan. Perlakuan tersebut dengan pemberian kascing, pupuk kandang kotoran ayam, kayambang dan NPK. Variabel   komponen yang diamati adalah : umur berbunga, dimater tongkol, panjang tongkol, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot. Analisis hasil penelitian dalam bentuk pembanding atau kontras yang didefinisikan sebagai anak gugus (sub-set) fungsi linier. Perbandingan kontras orthogonal adalah penguraian jumlah kuadrat perlakuan ke dalam pembanding-pembanding linier (Langai, 2002).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji ragam tersebut menunjukan bahwa semua peubah-peubah pengamatan yang diamati memiliki ragam yang homogen. Dengan demikian semua peubah data pengamatan tersebut layak dilakukan analisis ragam.

Hasil analisis ragam terhadap komponen hasil yaitu terdiri dari umur berbunga, dan panen (diameter, panjang dan berat tongkol berkelobot dan tanpa kelobot).

Tabel 1.    Nilai rata-rata umur  berbunga (HST)

Tabel 1 Vita

Keterangan:   angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 1 menunjukan bahwa pengamatan umur berbunga menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai umur berbunga tanaman yang tercepat pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 39,07 HST dan umur berbunga yang paling lambat pada perlakuan “a” (kontrol) yaitu 42,70 HST.

Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)  dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

gambar vita 1

Gambar 1.   Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)

Pengamatan yang diambil pada saat tongkol jagung sudah panen dimana peubah yang diamati diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm) dan berat tongkol (g) yang berkelobot yang disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 2.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung berkelobot pada pengamatan diameter (cm) (X10), panjang (cm) (X11), dan berat (g) (X12)

Tabel 2 Vita

Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 2 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung berkelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol berkelobot pada perlakuan “j” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1) yaitu 5,46 cm.

Pengamatan tongkol jagung berkelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh  nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol berkelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 28,86 cm.

Tabel 3 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, pada perbandingan pemberian NPK 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata,  dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan  400  kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 4,90 cm.

Tabel 3.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung tanpa kelobot pada pengamatan diameter (cm) (X13), panjang (cm) (X14), dan berat (g) (X15)

Tabel 3 Vita

Keterangan :    angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 20,68 cm.

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada berat tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan berat tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 275.84 g.

Hasil tanaman secara umum dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif tanaman itu sendiri. Apabila pertumbuhan vegetatif berjalan dengan normal, pada gilirannya akan menghasilkan hasil yang baik pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjadi (1979), bahwa fase generatif sangat ditentukan oleh fase vegetatif.

Pengamatan umur berbunga pada perbandingan C1, C2, C3, C4, C7 dan C8 menunjukan pengaruh yang nyata dan sangat nyata. C1 merupakan perbandingan antara kontrol dan perlakuan disini kita dapat melihat perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dan tidak diberi pupuk, ditanah gambut yang miskin. Hal ini sesuai dengan pendapat Widjaja-Adhi (1994), kendala utama yang menjadi perhatian pada tanah gambut pedalaman yaitu pedalaman dengan tingkat pelapukannya tergolong muda (fibrik dan hemik), ketebalan yang tinggi, kadar nitrogen yang tinggi namun tidak tersedia bagi tanaman, kadar fosfor yang tergolong rendah, kalium sedang, pH sangat masam (4,5 atau kurang), kapasitas tukaar kation tinggi, kejenuhan basa (KB) rendah adalah faktor yang menyebabkan hara sulit untuk diserap juga ketersediaan akan unsur hara mikro seperti Cu, Zn, Fe dan Mn sangat rendah.

Terjadinya pengaruh pemberian pupuk  sesuai perlakuan terlihat dapat cepatnya umur berbunga hail ini berkaitan pada saat pertumbuhan tanaman, tanah sebagai media tumbuh harus mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah cukup. Pemupukan perlu dilakuan sebagai penambahan zat hara bagi tanaman kedalam tanah yang juga pada akhirnya akan memperbaiki sifat-sifat tanah (Hardjowigeno, 2007). Apabila unsur hara yang ada dalam tanah memadai bagi pertumbuhan tanaman, maka tanaman akan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut.

Sifat kimia dan unsur hara pada 3 jenis kompos dapat dilihat pada Lampiran 15. Dapat dilihat bahwa P tersedianya terlihat sangat tinggi, dimana unsur P diabsorpsi tanaman dalam bentuk ion H2PO4 dan HPO4-2 (Jumin, 1989). Fosfor esensial bagi pembentukan biji (Soepardi, 1985), serta dalam mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah (Lingga, 2004). Lebih lanjut Rosmarkam dan Yuwono (2002) mengungkapkan bahwa P diperlukan untuk pembentukan bunga dan organ reproduktif dan P juga berkaitan erat dengan pembentukan pati terutama biji-bijian seperti halnya jagung.

Pada pengamatan komponen hasil tongkol jagung berkelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Pada komponen hasil bekelobot perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi.

Demikian pula pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Dan pada perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Pada perbandingan masing-masing kompos menunjukan bahwa kasing dan kotoran ayam lebih baik dari pada kayambang, dan diantara kascing dan kotoran ayam bahwa kotoran ayam lebih baik. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan kotoran ayam baik yang tunggal maupun yang kombinasi mampu memberikan perbaikan kondisi media tumbuh sehingga secara langsung maupun tidak langsung menyediakan lingkungan tumbuh yang memberikan ketersediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman jagung

Kompos kotoran ayam mengandung nitrogen dan kalium yang relatif tinggi dibanding dengan kompos lainnya. Nitrogen merupakan  penyusun senyawa untuk metabolisme, sedangkan kalium berperan sebagai zat pengaktif dalam proses fotosintesis, respirasi, dan translokasi karbohidrat. Magnesium dan nitrogen merupakan unsure pembentuk klorofil sehingga terlibat dalam proses fotosintesis (Gardner et al, 1991 ; Salisbury dan Ross, 1995).

Pupuk kandang kotoran ayam mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro. Oleh karena sifat dari kotoran ayam dalam melepas hara berlangsung secara bertahap dan berlangsung lama, tampaknya pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah gambut. Dimana berdasarkan penelitian Limin (1992), bahwa pemberian kotoran ayam pada tanah gambut ternyata mampu meningkatkan pH, K-dd, dan P-tersedia yang juga diikuti dengan kenaikan KTK gambut.

Peningkatan aktivitas fotosintesis berarti dapat meningkatkan fotosintat yang dibentuk, kemudian ditransfer kebiji sebagai cadangan makanan. Sehingga makin besar cadangan makanan yang terbentuk dalam biji, semakin besar ukuran biji. Hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap ukuran tongkol baik itu diameter maupun panjang, serta berat tongkol. Peningkatan panjang dan diameter tongkol berarti terjadi pula peningkatan pula jumlah biji yang terdapat pada tongkol. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan berat tongkol yang seimbang dengan peningkatan ukuran tongkol dan jumlah biji. Semakin besar ukuran tongkol dan banyaknya biji secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan berat tongkol.

Hasil fotosintesis pada tanaman mula-mula digunakan untuk pertumbuhan kemudian untuk pembentukan organ generative dan pembentukan biji. Protein yang dibentuk pada akhirnya disimpan dalam biji sebagai lanjutan proses fotosintesis yang semula dipakai untuk menyusun pertumbuhan vegetatif. Setelah pertumbuhan vegetative berhenti, maka dipindahkan menjadi penimbunan protein didalam biji sebagai cadangan makanan (Lingga, 2004).

Pemberian perlakuan pada penelitian ini akan memperbesar ketersediaan unsur hara pada tanah, dimana tanaman akan mengabsorbsi unusr hara tersebut untuk pertumbuhan dan perkembangan, sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi keperluan proses metabolisme tanaman. Dan dengan melihat nilai rerata pada pengamatan hasil tanaman bahwa perlakuan “i” (kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1) menunjukan nilai tertinggi.

  

 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pemberian perlakuan 3 jenis kompos dan pupuk NPK menunjukan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik  dibandingkan dengan kontrol.
  2. Pemberian perlakuan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan bahwa perlakuan kotoran ayam memberi hasil yang terbaik kemudian berturut-turut kascing dan kayambang.
  3. Pemberian perlakuan pupuk NPK dengan dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1  tidak menunjukan perbedaan diameter tongkol jagung tanpa kelobot
  4. Pemberian kombinasi pupuk NPK dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan perbedaan pada beberapa komponen pertumbuhan dan hasil tanaman, sedangkan perbandingan antara 1 (satu) jenis kompos dengan 2 (dua) dosis NPK (200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1) keseluruhan menunjukan tidak perbedaan pada komponen-komponen pengamatan.
  5. Hasil yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada perlakuan tunggal dengan pemberian kotoran ayam, sedangkan kombinasinya yang terbaik yaitu kotoran ayam 20 ton ha-1 yang ditambahkan NPK dosis 200 kg ha-1.

SARAN

Perlunya penelitian lanjutan dengan menggunakan tanaman indikator lainnya di lahan gambut dengan menggunakan pupuk organik guna semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih menggunakan pupuk organik daripada pupuk anorganik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gardner, F.P., Paerce, R.B, dan Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2007b. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta

Jumin, H. B. 1989. Ekologi Tanaman, Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press. Jakarta

Langai, B. F. 2002. Perancangan Percobaan. Buku Ajar. Fakultas Pertanian Unlam. Banjarbaru

Limin, S. H. 1992. Respons Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Terhadap Pemberian Kotoran Ayam, Fosfat Dan Dolomit Pada Tanah Gambut Pedalaman. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lingga, P. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta

Noor, M..2010. Lahan Gambut, Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim. UGM Press. Yogyakarta

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Salampak. 1993. Studi asam fenol tanah gambut pedalaman di Berengbengkel pada keadaan anaerob. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soepardi . G. 1985. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor

Sutanto, R. 2008. Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: