JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN == Maria Erviana Kusuma dan Lisnawaty Silitonga
16 September 2013, 1:09 pm
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN TERNAK SAPI TERHADAP KUALITAS PUPUK KOMPOS

(The Effect long process of compost waste of livestock to the quality of compost)

Maria Erviana Kusuma1, Lisnawaty Silitonga2

1Dosen Fakultas Peternakan UNKRIP, 2Dosen Jurusan Budidaya Pertanian UNPAR

Korespondensi : lisnawatykeren@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The aim of  this research is to know how long the process of compost of waste of livestock have an effect on to quality of compost. This research represent the field attempt by using RAL with four treatment and three restating. Treatment specified consisted of the the duration pickling that is, 0 day ( control), 14 day, 28 day and 42 day, each treatment repeated thrice so that there are 12 attempt unit. Perception parameter perceived to cover the compost colour, tekstur compost, compost temperature, pH of compost and macro element hara which implied in compost.The Result showed that the duration   process of compost from the waste of livestock have an effect on to quality of compost. The making of compost 42 day show the highest result with the black colour, smooth tekstur and temperature 29ºC as its physics. While for the content of  K the making of compost  42 day show the best result compared the other treatment, but the content of  N the making of compost  42 day was  not different with 28 day and 14 day.  The content of P and pH the making of compost  42 day was not different  from 28 day but different with the treatment 14 day and control. But the making of compost  42 day show a good quality  compost.

 Key words : long process, compost waste of livestock, quality compost

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas kompos. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap  (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan.  Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan yaitu, 0 hari (kontrol), 14 hari, 28 hari dan 42 hari, masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 12 unit percobaan.  Variabel yang diamati meliputi warna kompos, tekstur kompos, suhu kompos, pH kompos dan unsur hara makro yang terkandung dalam kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengomposan berbahan limbah kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.  Lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Kandungan K pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan perlakuan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengomposan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 Kata Kunci : lama proses, kompos berbahan limbah kotoran ternak, kualitas kompos

PENDAHULUAN

Penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman merupakan salah satu program bebas bahan kimia, karena bahan-bahan penyusun kompos terdiri dari kandungan senyawa organik dan cukup berpotensi sebagai penyedia unsur hara. Kompos sangat berperan dalam proses pertumbuhan tanaman, karena kompos tidak hanya sekedar menambah unsur hara, tetapi kompos juga menjaga fungsi tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Alasan utama pemberian kompos pada tanah lebih bertujuan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah daripada menyediakan unsur hara, walaupun unsur hara pada kompos sudah ada dalam jumlah sedikit, dengan demikian pupuk kimia tidak dapat menggantikan fungsi kompos karena masing-masing memiliki peran yang berbeda, pupuk kimia berperan menyediakan nutrisi dalam jumlah besar bagi tanaman, sedangkan kompos cenderung berperan menjaga fungsi tanah agar unsur hara dalam tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk menyerap unsur hara yang disediakan oleh pupuk kimia (Yuwono, 2005).

Limbah ternak yang berasal dari Rumah Potong Hewan sering disebut dengan sampah organik, di kota besar Rumah Potong Hewan menghasilkan limbah yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain tidak dimanfaatkan secara maksimal bau yang ditimbulkan sangat busuk dan menyengat disamping dapat diprediksi sebagai agen pencemaran lingkungan bila tidak diolah terlebih dahulu (Sahidu dan Hermadi, 2004).

Di Rumah Potong Hewan (RPH) Kalampangan ada banyak bahan-bahan sisa dari hasil pemotongan hewan yang tidak termanfaat dengan baik, yaitu diantaranya isi rumen dan kotoran sapi yang kemudian diolah menjadi kompos oleh UPT Rumah Potong Hewan (RPH) di Desa Kalampangan.

Waktu merupakan faktor yang menentukan dalam pembuatan kompos, disamping faktor tempat pembuatan, jenis bahan  yang disimpan serta keadaan fisik dan kimia bahan yang akan disimpan. Waktu yang berkaitan dengan lamanya proses pembuatan kompos akan berpengaruh terhadap kualitas kompos yang dihasilkan. Berdasarkan permasalahan di atas maka dirasa perlu dilakukan penelitian pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan kotoran sapi dan isi rumen  terhadap kualitas pupuk kompos.

Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh  lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas pupuk kompos.

 

BAHAN DAN METODE

            Penelitian ini dilaksanakan di Kebun  percobaan Fakultas Peternakan Universitas Kristen Palangka Raya, Jalan RTA Milono Km. 8,5 , Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan analisis kandungan unsur hara dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik Universitas Palangka Raya. Penelitian berlangsung selama lima bulan mulai dari awal bulan  Maret 2012 sampai akhir bulan Oktober 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: kotoran sapi, isi rumen, kapur dolomit sebagai penetral pH, bioaktivator sebagai sumber jasad renik untuk proses penguraian, air untuk membantu proses penghancuran dan menciptakan kelembaban agar mikrobia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan (L) yaitu: tl1. Lama pengomposan 0 hari; tl2. Lama pengomposan 14 hari; tl3. Lama pengomposan 28 hari; tl4. Lama pengomposan 42 hari.

            Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 12 unit perlakuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji F pada taraf kepercayaan 95% dan 99%. Jika terdapat pengaruh yang nyata antar perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ).

            Pelaksanaan kegiatan penelitian dimulai dari pembuatan bak pengomposan, menyiapkan bahan, pembuatan dan pembalikan kompos serta melakukan pengamatan parameter dilaboratorium. Bak tempat pengomposan terbuat dari papan setebal 2 cm, bak dibuat membentuk segi empat dengan panjang dan lebar masing-masing 50 cm dan tinggi 20 cm sebanyak 12 unit. Bahan-bahan dasar disiapkan berupa kotoran sapi dan isi rumen yang merupakan hasil limbah rumah potong hewan, bio aktivator sebagai sumber jasad renik (mikrobia) yang dapat menghancurkan bahan dasar dan untuk perbandingannya 5 kg bio aktivator untuk 1 ton bahan dasar, tepung kapur (CaCO3) untuk menaikan pH agar perombakan bahan dasar berjalan dengan baik. Bahan-bahan dasar yaitu isi rumen dan kotoran sapi (masing-masing bahan setinggi 5 cm) dimasukkan ke dalam bak pengomposan kemudian dicampur dengan bio activator,  setelah itu diperciki dengan air untuk melembabkan serta ditaburi kapur (CaCO3) di atasnya kurang lebih 1 cm sampai terdapat suatu lapisan tipis berwarna putih. Proses penumpukan diulangi sampai 5 kali penumpukan. Bila ketinggian sudah dicapai, bagian permukaan dan seluruh sisi-sisi tumpukan ditutup dengan lembaran plastik yang transparan agar bahan tidak terlalu kering atau basah sehingga kelembaban tetap terjaga. Setelah 7 hari penutupan lakukan pembalikan, lapisan yang semula di atas diletakan di bawah dan sebaliknya, agar terjadi proses penghancuran yang merata. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap parameter meliputi: Warna, yaitu dengan melihat perubahan warna pada kompos yang telah  diperlakukan. Tekstur, dilakukan dengan memegang dan merasakan kompos yang telah diperlakukan. Suhu, dengan cara memasang thermometer pada bahan yang telah diperlakukan. Sedangkan pengukuran pH dan kandungan N, P, K dilakukan analisa laboratorium.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Lama pengomposan 0 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)  ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 1. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)

Tabel ervina 1

            Dari tabel di atas warna dan tekstur kompos memang tidak banyak mengalami perubahan dari warna dan tekstur asal bahan kompos tersebut, hal ini disebabkan karena waktu inkubasi kompos yang hanya berlangsung selama 0 hari  belum mengalami dekomposisi, sehingga mikroorganisme pengurai yang berasal dari bioaktivator belum bekerja secara maksimal.  Warna yang dihasilkan dalam pembuatan kompos diduga terkait erat dengan adanya aktivitas mikroba yang berhubungan dengan waktu inkubasi, dimana aktivitas mikroba akan mempercepat dekomposisi bahan organik.

Mikroba dalam hal ini berasal dari dekomposer dan dapat pula berasal dari isi rumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardi (1999), yang menyatakan bahwa dekomposer merupakan larutan yang mengandung beberapa kelompok organisme, dimana mikroorganisme ini akan mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik.   Kelompok organisme tersebut antara lain :

  1. Bakteri fotosintetik bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula dan substansi bioaktif lain.  Hasil metabolik yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.
  2. Bakteri asam laktat (Lactobasillus. sp), memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lainnya yang bekerja sama dengan bakteri fotosintesis dan ragi.
  3. Bakteri Streptomyces, sp.  Mengeluarkan enzim streptomycin yang bersifat racun terhadap hama penyakit yang merugikan.
  4. Ragi, memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi.
  5. Actynomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi oleh bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen.

 

Lama pengomposan 14 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan  selama 14 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 2. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 14 hari

Tabel ervina 2

                Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa warna  kompos sedikit mengalami perubahan yaitu yang tadinya berwarna coklat kini sudah menjadi coklat kehitaman, hal ini menunjukkan bahwa proses pengomposan sedang berlangsung.  Demikian pula dengan suhu yang mengalami penurunan dari  38 menjadi 34 hal ini menunjukkan bahwa temperatur maksimum telah dicapai  dimana kadar air bahan telah turun dan aktivitas mikroba mulai berkurang.

            Suhu kompos yang menurun diduga disebabkan pula karena telah dilakukan proses pembalikan atau pengadukan setiap minggunya selain itu disebabkan pula karena tumpukan bahan yang tidak terlalu tinggi.  Hal ini sejalan dengan pendapat Yuwono (2005) dimana dikatakan bahwa volume tumpukan ideal kompos berkisar 1 m X 1 m X 1 m atau maksimal  2 m X 2 m X 2 m. Semakin besar tumpukan bahan, semakin sulit pula mengatur atau mengontrol suhu dan kelembabannya.  Tumpukan yang terlalu tipis, meruncing dan sempit kemungkinan tidak dapat mempertahankan suhu dan kelembaban yang diiginkan sehingga terbentuknya komps memakan waktu yang lama.

 Lama pengomposan 28 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan yang  selama 28 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 3. Pengamatan terhadap warna, tekstur dan suhu proses pengomposan  selama 28 hari

Tabel ervina 3

            Pada tabel di atas terlihat bahwa suhu kompos semakin menurun dibandingkan pada proses pengomposan selama 14 hari.  Hal ini disebabkan karena timbunan kompos yang tidak terlalu tinggi dan proses pembalikan kompos yang rutin dilakukan tiap minggu sekali.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2000) yang mengatakan bahwa pembalikan timbunan kompos membantu pencampuran dan pelonggaran serta aerasi timbunan.  Kondisi yang baru menyebabkan kehidupan mikroorganisme berperanan dan menekan kemungkinan terjadinya kondisi anaerob pada timbunan kompos.  Pembalikan yang dilakukan secara teratur juga menyebabkan bahan yang ada di bagian luar yang kurang panas dipindahkan ke bagian yang lebih panas di bagian tengah.

 

Lama pengomposan 42 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 42 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 4. Pengamatan terhadap Warna, tekstur dan Suhu kompos yang terdekomposisi selama 42 hari

Tabel ervina 4

            Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa suhu kompos telah mendekati suhu kamar (29 ºC ) hal tersebut sesuai dengan pendapat Siburian (2007) yang menyatakan kompos yang baik adalah yang suhunya mendekati suhu kamar, warnanya hitam dan gembur.

 

Kandungan Nitrogen  (N)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan  N kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N

Tabel ervina 5

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 memberikan kandungan unsur hara N yang tertinggi namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan tl 2 dan tl 1 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan tl0 (kontrol).  Dari hasil tersebut terlihat bahwa semakin lama proses pengomposan akan semain meningkatkan kandungan unsur hara N, hal ini diduga karena pada waktu fase awal pengomposan masih berlangsung  proses penguraian bahan kompos yaitu kotoran hewan dan isi rumen. Kemudian ditambahkan oleh Sumardi (1999) bahwa selanjutnya jasad renik dalam bahan kompos memproduksi berbagai enzim untuk merusak ikatan-ikatan kimia dalam bahan organik sehingga rantai-rantai ikatan itu putus menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana.  Perusakan ikatan-ikatan kimia itu menggunakan enzim yang dikeluarkan jasad renik.  Jasad renik memanfaatkan karbon sebagai sumber energi dan menyerap Nitrogen sebagai bahan protein.  Setelah bahan yang mudah diurai habis, makanan bagi jasad renik berkurang sehingga sebagian dari jasad renik itu mati.  Jasad renik yang mati mengandung Nitroen yang sangat tinggi.  Oleh jasad renik yang lain bahan itu diurai lagi  sehingga melepaskan Nitrogen dalam bentuk yang mudah menguap dalam bentuk gas amoniak yang berbau dan dapat diserap tanaman.

            Dari sekian banyak unsur yang diperlukan oleh mikroorganisme yang mendekomposisi bahan organik, Karbon dan Nitrogen merupakan unsur yang penting.  Unsur Karbon dimanfaatkan sebagain sumber energi di dalam proses metabolisme dan perbanyakan sel oleh bakteri, sementara unsur Nitrogen digunakan untuk sintesa protein dan pembentukan protoplasma.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa bahan organik yang mempunyai kandungan C terlalu tinggi memyebabkan proses pengauaraian terlalu lama, semsntara jika kandungan C terlalu rendah maka sisa Nitrogen akan berlebihan sehingga menyebabkan terbentuknya amoni (NH3), kandungan amonia yang berebihan dapat meracuni bakteri dan menyebabkan Nitrogen yang diperlukan hilang.

            Selain itu ditambahkan pula oleh Stevenson (1982) dalam Hartatik dan Widowati (2010) bahwa hasil penelitian pembuatan kompos dari kotoran hewan menunjukan bahwa 10 – 25 % N dalam bahan asal kompos akan hilang sebagai gas NH3 selama proses pengomposan.  Selain itu dihasilkan pula 5 % CH4 dan sekitar 30 % N20 yang berpotensi untuk mencemari lingkungan sekitarnya.

 

Kandungan Phospor (P)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan P kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas bokashi.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara P

Tabel ervina 6

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl 2 dan tl 3 masing-masing tidak berbeda namun berbeda nyata dengan perlakuan tl1 dan tl0 (kontrol).  Perlakuan tl 2  (dekomposisi selama 28 hari) menunjukkan hasil yang tertinggi terhadap kandungan unsur hara P. Semakin lama pengomposan akan meningkatkan kadar P.  Hasil penelitian menunjukkan kadar P tertinggi dicapai pada 28 hari pengomposan.  Hal ini disebabkan komposisi bahan yang bervariasi antara isi rumen dan kotoran ternak, proses mineralisasi berjalan lambat dengan demikian ketersediaan unsur hara juga meningkat sesuai lama pengomposan.  Pada fase awal mikroba menyesuaikan diri dan melakukan metabolisme dan aktivitas meningkatkan ukuran sel.  Selanjutnya sel menggunakan Karbon dari limbah kotoran ternak sebagai makanan dan memperbanyak diri.  Penguraian semakin baik dengan meningkatnya kadar P.  Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kadar P dari waktu inkubasi yaitu mulai dari 14 hari, 28 hari sampai dengan  42 hari dibandingkan dengan kontrol.  Selanjutnya mikroorganisme mencapai kesetimbangan yaitu jumlah mikroba yang dihasilkan sama dengan jumlah mikroba yang mati.  Pada saat ini aktivitas mikroba akan mulai menurun.  Hal ini disebabkan karena kurangnya makanan atau nutrisi dalam hal ini substansi yang mengandung Karbon.

Kandungan Kalium (K)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan K kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara K

Tabel ervina 7Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

             Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 kandungan unsur hara Kaliumnya paling tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan kontrol, tl1 dan tl2. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama proses pengomposan akan semakin meningkatkan kadar Kalium pada kompos.  Sesuai dengan pendapat Hartatik dan Wodowati (2010) yang menyatakan bahwa proses pengomposan akan meningkatkan kadar hara diantaranya adalah Kalium.

Kandungan pH

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan pH kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan pH kompos.  Rata-rata pengaruh lama proses pembuatan kompos terhadap kandungan pH disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8.           Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan pH

Tabel ervina 8Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

Dari tabel di atas terlihat bahwa pH kompos  berkisar antara 7 – 8.  Hal ini menunjukkan bahwa pupuk kompos telah matang.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0 – 8,0.  Derajat keasaman yang terjadi pada kompos tersebut banyak dipengaruhi oleh penambahan kapur pada awal proses pengomposan, hal ini dimaksudkan agar proses pengomposan berlangsung dengan sempurna, karena menurut Setyorini et all (2006)  bakteri kompos lebih menyukai pH netral, ditambahkan pula oleh Yuwono (2005) bahwa perlakuan membolak balikkan kompos secara tepat dan benar dapat mempertahankan kondisi pH menjadi netral.

 

KESIMPULAN

             Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

  1. Lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan limbah isi rumen sapi dan kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.
  2. Lama penyimpanan kompos 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Sedangkan untuk kandungan Kalium lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengompopsan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengompopsan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 

SARAN

 Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lama pengomposan 42 hari dan dosis dekomposer yang lebih tinggi agar kualitas kompos menjadi lebih baik.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atas dana yang diberikan untuk biaya penelitian ini melalui hibah Dosen Pemula, Tahun Anggaran 2012.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sahidu, M. dan Hermadi, A. 2004. Ilmu Pertanian. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Siburian, R. 2007.  Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Inkubasi EM4 terhadap Kualitas Kimia Kompos.  Fakultas Sains dan Tekhnik.  Universitas Nusa Cendana.  Kupang

Setyorini, D., Rasti Saraswati dan Ea Kusman Anwar. 2006.  “Kompos’ Jurnal Pupuk Organik dan Pupuk Hayati.

Sumardi, 1999. Pengaruh Penambahan Bahan Percepat Pada Proses Pengomposan Sampah terhadap hasil Kompos.  Duta Farming. Vol. 17. No. 1, Semarang.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius.Yogyakarta.

Hartatik, W dan L.R Widowati.  2010.  Pupuk Kandang.  http://www.balittanah.litbang.deptan.go.id.  Diakses tanggal 2 November 2012.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: