JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY == Kamillah, Kambang V Asie, Melda Nopiani
16 September 2013, 10:22 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY (Brassica chinensis) SECARA VERTIKULTUR  

(Organic Planting Media Composition of Pakchoy Mustard (Brassica chinensis)

in Verticulture System)

Kamillah1, Kambang Vetrani Asie1, Melda Nopiani2

1 Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya;

2 Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.

Korespondensi : miela1306@gmail.com

ABSTRACT

The purpose of this experiment was to determine the right organic planting media compositions in verticulture system to cultivate pakchoy mustard. This experiment laid on Randomized Block Design (RBD) with a comparison of organic planting media composition as a single factor. The planting media composition contained mineral soil, manure, compost, husk charcoal, and coco-peat. Each treatment was repeated 5 times so in total there were 20 experimental units. The results showed that the compositions of soil, manure, husk charcoal, and compost with ratio 2:1:1:1 is the right planting media composition to produce a better plant height, leaves number, leaf length, leaf width, and weight of pakchoy mustard while planting media composition of soil, husk charcoal, cocopeat, and compost (2:1:1:1) resulted the lowest yield.

Key words:  pakchoy mustard, organic planting media, verticulture.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur. Penelitian diatur dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari campuran tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam dan cocopeat . Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan. Hasil menunjukkan bahwa komposisi tanah, pupuk kandang, arang  sekam, dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 merupakan komposisi yang baik dari semua perbandingan yang dicoba, dimana dapat menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan berat basah hasil tanaman sawi pakchoy yang lebih besar dibandingkan komposisi media lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos (2:1:1:1) memberikan hasil pakchoy yang paling rendah.

 Kata kunci: sawi pakchoy, media tanam organik, vertikultur

PENDAHULUAN

Sawi pakchoy ialah tanaman introduksi baru dan belum banyak dibudidayakan di Kota Palangka Raya. Sawi pakchoy memiliki nama ilmiah Brassica chinensis. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman sawi, tetapi lebih pendek dan kompak. Tangkai daunnya lebar dan kokoh. Tulang daun dan daunnya mirip dengan sawi hijau, tapi daunnya lebih tebal. Ada sawi pakchoy yang tangkai daunnya putih dan ada juga yang tangkainya hijau (Haryanto et al., 2003).

Budidaya sayuran ini cukup mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, sehingga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari. Namun kendala yang dihadapi pada skala rumah tangga adalah sempitnya halaman (areal tanam) yang dimiliki oleh setiap rumah, karena itu perlu model penanaman yang dapat dilakukan pada areal halaman yang sempit namun dapat memberikan hasil yang baik. Salah satu pola budidaya yang dapat menghemat lahan adalah dengan cara vertikultur, yaitu dengan menanam tanaman pada wadah yang disusun secara vertikal ke atas, sehingga dapat dilakukan pada lahan yang sempit.

Beberapa hasil penelitian yang berkenaan dengan budidaya sayuran secara vertikultur menunjukkan bahwa metode tersebut selain tepat untuk pekarangan atau lahan yang sempit juga dapat menghasilkan produksi sayuran yang cukup bagus (Kusrini, 2007; Saptana dan Purwantini, 2012)

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, menyebabkan mereka semakin peduli dalam memilih bahan konsumsi. Pada saat ini semakin banyak masyarakat yang menghindari penggunaan bahan kimia buatan seperti pupuk anorganik dan juga berbagai jenis pestisida pada tanaman, hal ini menyebabkan masyarakat beralih ke produk pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman yang tidak menggunakan bahan kimia sintetis sebagai pupuk, pestisida maupun hormon tumbuhan, tetapi menggunakan bahan kimia alami yang ramah lingkungan, tidak mencemar-kan dan tidak merusak lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Agustus–November 2010, di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih pakchoy, papan, kayu bulat, paku, kayu reng, kawat, pupuk kandang kambing, tanah mineral, aram sekam, cocopeat, dan kompos, sedangkan, alat yang digunakan adalah gergaji, palu, meteran, gembor, sprayer, selang air, gunting pangkas, sekop, kamera digital, alat tulis, penggaris, dan peralatan berkebun lainnya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam, dan cocopeat. Besar perbandingan dari masing-masing bahan campuran media tanam tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan komposisi media tanam

Tabel Kamilah 1

Keterangan :    TM = Tanah Mineral; PK = Pupuk Kandang; AS = Arang Sekam; CP = Coco-Peat; Kps = Kompos

Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan.

Menurut Gaspersz (1991). Model linier aditif rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Yij = µ +  λi+ βj+ εij

dimana:

Yij   = Nilai penagamatan dari komposisi media tanam ke-i dalam kelompok ke-j

µ     =  Nilai tengah populasi

λi    = Pengaruh aditif dari komposisi media tanam ke-i (i= 1, 2, 3, 4)

Bj     =  Pengaruh aditif dari kelompok ke-j

(j = 1, 2, 3, 4, 5)

εij     = Pengaruh galat percobaan dari komposisi media tanam ke-i pada kelompok ke-j

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman pakchoy umur 2 mst hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman pakchoy (cm) pada umur 2, 3, 4 dan 5 mst

Tabel Kamilah 2

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%

Tabel 2 menunjukkan perlakuan komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:1:0:1) merupakan media tanam yang menghasilkan tanaman lebih tinggi dibandingkan komposisi media lainnya walaupun secara statistik hal ini tidak jauh berbeda dengan tinggi tanaman pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, kompos dan cocopeat (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1), sedangkan media tanam ynag tidak mendapat pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan tinggi tanaman yang terendah. Hasil penelitian Mahanani (2003) juga menunjukkan bahwa media tanam yang mendapat tambahan pupuk kandang (dalam hal ini tanah + pupuk kandang sapi, dan arang sekam + pupuk kandang sapi dengan masing-masing komposisi 1:1) merupakan media tanam yang dapat meningkatkan pertumbuhan sawi pakchoy yang ditunjukkan dengan bertambah-nya ukuran tinggi tanaman, jumlah daun, diameter tajuk serta bobot basah dan bobot kering tanaman.

Komposisi media tanam yang tidak mendapatkan pupuk kandang yang hanya terdiri atas tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:0:1:1:1) menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang lebih rendah dimana pupuk kandang disini berfungsi sebagai salah satu penyumbang unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman pakchoy, meskipun terdapat kompos yang juga berperan sebagai penyumbang unsur hara akan tetapi jumlahnya belum dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman pakchoy. Hal ini disebabkan dalam budidaya secara organik, tidak digunakan tambahan pupuk kimia sintesis seperti Urea, SP36 dan KCl, sehingga kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman hanya didapatkan dari pupuk kandang dan kompos yang diberikan dalam media tanam.

Jumlah Daun

Jumlah daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata jumlah daun (helai/tanaman) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 3

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Tabel 3 menunjukkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1, menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang lebih banyak dan ini sekaligus menunjukkan komposisi media tanam tersebut lebih baik dibandingkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (2:1:1:0:1) dan tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (1:1:1:1:1), sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang paling sedikit.

Pada budidaya secara vertikultur, pemberian bahan organik (seperti pupuk kandnag dan kompos) dalam media tanam sangat penting sebagai sumber hara. Hasil  penelitian Ardianty (2008) juga menunjukkan bahwa pemberian berbagai macam bahan organik pada media tanam vertikultur dapat meningkatkan jumlah daun tanaman selada.

Semakin banyak daun yang dihasilkan oleh tanaman pakchoy maka hasil tanaman akan semakin baik. Hal ini disebabkan sawi pakchoy merupakan jenis sayuran yang dikonsumsi bagian daunnya. Meskipun pada awal pertumbuhan hingga tanaman berumur 3 mst belum terlihat pengaruh nyata, namun ketika tanaman sudah berumur 4 mst, mulai terlihat perbedaan peningkatan pertumbuhan jumlah daunnya. Hal ini dapat disebabkan pada awal fase pertumbuhan tersebut, proses pelepasan unsur hara oleh media tanam masih berjalan lambat karena media tanam organik memerlukan bantuan mikroorganisme dalam tanah untuk mengurai bahan organik menjadi unsur hara, sehingga pertumbuhan jumlah daun belum maksimal.

Gardner et al. (1991), menyatakan bahwa dengan banyaknya cahaya matahari yang diterima tanaman, maka tanaman tersebut akan memberikan respon dengan memperbanyak jumlah helaian daun. Dengan bertambahnya jumlah helaian daun maka semakin banyak pula karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman tersebut dalam proses fotosintesis sehingga akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Panjang Daun

Panjang daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 4.

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang  sekam, cocopeat dan kompos  dengan perbandingan 2:1:1:0:1 menunjukkan daun tanaman sawi pakchoy yang lebih panjang, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan panjang daun pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1),  sedangkan  campuran media berupa tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1), pertumbuhan panjang daunnya paling lambat dibandingkan  dengan komposisi media tanam lainnya.

Tabel 4.  Rata-rata panjang daun (cm) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 4

Keterangan:     Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Pertumbuhan daun tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan hara yang tersedia bagi proses pertumbuhan tanaman itu sendiri. Pada sistem vertikultur, ketersediaan hara terbatas hanya pada media tanam yang digunakan maupun tambahan pupuk yang diberikan, dalam hal ini adalah tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos, sedangkan tambahan pupuk buatan tidak diberikan karena dibudidayakan secara organik.

Daun sebagai tempat fotosintesis sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Daun merupakan komponen yang paling menentukan kualitas tanaman. Apabila daun mengalami pertumbuhan yang terhambat mengakibatkan bentuk daun menjadi tidak normal sehingga ukuran daun menjadi berbeda apalagi dalam menerima cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Karena itu ketersediaan unsur hara yang cukup bagi tanaman sangat penting, agar tanaman dapat melakukan aktivitas bagi pertumbuhannya.

Pada campuran media tanam 2:1:1:0:1, sumber hara tambahan diperoleh dari pupuk kandang dan kompos, sedangkan arang sekam dapat memperbaiki sifat fisik media tanam, yaitu dengan memperbaiki aerase dan drainase media tanam. Disamping itu, arang sekam juga dapat meningkatkan pH media tanam (Siahaloho, 1992).

Lebar Daun

Lebar daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata lebar daun (cm)  pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 5

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

   Pada Tabel 5 dapat dilihat, komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos (2:1:1:0:1) merupakan komposisi yang menghasilkan daun tanaman pakchoy yang lebih lebar dari komposisi media tanam yang lain, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan lebar daun pada komposisi media tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 juga pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos pada perbandingan 1:1:1:1:1, sedangkan komposisi media tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan lebar daun tanaman paling kecil  dari semua komposisi media tanam tersebut.

          Semakin lebar daun yang dihasilkan oleh tanaman maka semakin banyak sinar matahari yang dapat diserap tanaman untuk melakukan proses fotosintesis. Pada tanaman pakchoy ukuran lebar daunnya hampir sama seperti panjang daun sehingga daunnya berbentuk oval.

          Lebar daun yang dihasilkan tanaman lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan faktor genetik dari tanaman pakchoy itu sendiri sehingga pada kondisi lingkungan tumbuh yang memenuhi kebutuhan tanaman dalam hal ini unsur hara, maka pertumbuhan lebar daun akan maksimal, dan sebaliknya akan berkurang lebarnya pada keadaan lingkungan tumbuh yang unsur haranya tidak mencukupi.

          Pada komposisi media tanam yang mengandung pupuk kandang maupun pupuk kandang dan kompos, pertumbuhan lebar daun tanaman lebih lebar dibanding komposisi media lainnya, hal ini dikarenakan pupuk kandang dapat menyuplai unsur hara pada media tanam yang bisa memenuhi keperluan tumbuh tanaman pakchoy.

          Menurut Gardner et al (1991), pertumbuhan tanaman merupakan akibat adanya pengaruh dari berbagai faktor pendukung pertumbuhan yang berupa faktor kendali genetik dan lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor pertumbuhan yang tidak dapat berubah, sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor pertumbuhan yang dapat berubah.

 Bobot Segar Tanaman

Bobot segar hasil tanaman pakchoy pada saat panen, yaitu pada umur 5 mst disajikan pada Tabel 6.

Pada Tabel 6 dapat dilihat bobot segar hasil panen tanaman pakchoy pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 tidak jauh berbeda dengan hasil panen pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos yang perbandingannya 2:1:1:0:1 dimana bobot segar sawi pakchoy per tanaman yang ditanam pada kedua media tersebut menunjukkan hasil produksi yang lebih tinggi dibandingkan pada komposisi media tanam lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1) tidak jauh berbeda hasilnya dengan komposisi media tanam tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1).

 Tabel 6. Rata – rata bobot segar tanaman pada saat panen (g/tanaman)

Tabel Kamilah 6Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Disini dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang tidak diberi pupuk kandang dan komposisi tanah yang lebih sedikit hasil produksi sawi pakchoynya rendah. Hal ini dikarenakan pupuk kandang berperan dalam menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, dan pada media dengan komposisi tanah yang lebih banyak juga membantu kemantapan struktur media tanam, sehingga kuat untuk mencengkeram perakaran tanaman.

Peningkatan bobot segar tanaman sawi pakchoy berkaitan erat dengan peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun dari masing-masing tanaman pada masa pertumbuhannya. Meningkatnya tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun secara langsung juga mengakibatkan peningkatan bobot segar tanaman, sehingga tanaman yang pada awal masa pertumbuhannya memiliki tinggi tanaman , jumlah daun, panjang dan lebar daun yang lebih besar maka bobot segarnya otomatis juga lebih berat dari perlakuan lainnya.

KESIMPULAN

 Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, komposisi media tanam yang lebih baik digunakan dalam budidaya tanaman sawi pakchoy secara organik dengan metode vertikultur terdiri atas campuran tanah mineral, pupuk kandang, arang sekam dan kompos tanpa ditambahkan cocopeat dengan perbandingan 2:1:1:0:1, selain itu, dalam komposisi media tanam organik harus terdapat pupuk kandang untuk memenuhi kebutuhan unsur hara karena tanpa pupuk kandang, produksi tanaman lebih kecil, sedangkan untuk cocopeat dan arang sekam  bisa diberikan salah satunya saja yang dijadikan alternatif untuk memperbaiki struktur media tanam

 

SARAN

             Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mengukur berapa kali musim tanam  media tanam tersebut dapat digunakan dalam budidaya sayuran khususnya sawi pakchoy.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya yang telah mendanai penelitian ini melalui program Penelitian dan Pengembangan Karya Ilmiah Universitas Palangka Raya, DIPA Universitas Palangka Raya tahun 2010.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Ardianty, I. 2008. Pengaruh Macam Bahan Organik dan Proporsi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Gardner, F.P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press. Jakarta.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Amico. Bandung

Haryanto E., T. Suhartini., E. Rahayu dan H.H. Sunarjon. 2003. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta

Kusrini. 2007. Pengaruh Model dan Kerapatan Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur Organik. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Mahanani, C. L. R. 2003. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPK terhadap Produksi Tanaman Pak-Choi (Brassica chinensis) Varietas Green Pak-Choi. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Saptana, A. dan T. B. Purwantini. 2012. Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 30. No. 1: 13-30.

Siahaloho, M. 1992. Pengaruh Pemanfaatan dan Dosis Pupuk Kandang pada Pertumbuhan Produksi Jahe. Skripsi. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: