JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai == Muliansyah dan Wijantri Kusumdati
16 September 2013, 9:49 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai (Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD)

(Study on Blanching Time and Drying Temperature in Processing “Kalakai” Flour Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD))

 Muliansyah1 dan Wijantri Kusumadati1

1Jurusan Budidaya Pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : muliansyah_tpp@ymail.com

 

ABSTRACT

 The aim of this research was to examine blanching time and drying temperature in processing “kalakai” flour.  The research laid on two factors completely randomized design (CRD).  The first factor was balnching time that divided into three levels; B1 = 1 minute, B2 = 3 minutes, and B3 = 5 minutes.  The second factor was drying temperature that also divided into 3 levels; P1 = 50oC, P2 = 60oC, and P3 = 70oC.  Each experiment units were replicated 3 times. The result showed that interaction between blanching time and drying temperature effected pH value and vitamin C of “kalakai” flour very significant.  Blanching time for 5 monutes and drying temperature at 70oC resulted on pH 6,85 which almost same with material pH base (6,17), and the highest vitamin C amount i.e. 0,0066%.  Drying temperature was effected the content of protein, ash and total microbes of “kalakai” flour significantly.  The highest protein and ash content were delivered by drying temperature at 60oC, respectively 0,99% and 9,15%, while the lowest total microbes, 7,78 colonies/g was delivered by drying temperature at 50oC.  However, there was not any significant effect from the whole treatments on water content.

Key words : “kalakai”, blanching, drying, “kalakai” flour

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengkaji perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai sebagai bahan pangan. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan  diulang sebanyak 3 kali. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1= 1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1 = 50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Interaksi perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berbeda sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %. Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g. Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air.

Kata Kunci : kalakai, blansing, pengeringan, tepung kalakai.

PENDAHULUAN

 Kalakai (Stenochlaena palustris  (Burm.) Bedd) termasuk tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh secara liar di alam.  Di Kalimantan Tengah banyak ditemukan pada daerah-daerah dengan kondisi tanah gambut, masam, lembab atau terendam, bahkan di pinggir-pinggir jalan.  Tumbuhan ini masih banyak ditemukan di alam bebas, ketersediaannya cukup melimpah, sedangkan pembudidayaannya masih belum dilakukan. Sayuran ini juga mudah diperoleh di pasar tradisional Kota Palangka Raya dan daerah lainnya.  Selama ini pemanfaatan kalakai hanya sebagai sayuran. Masyarakat Kalimantan Tengah sebagian memanfaatkan sayuran ini yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka untuk melengkapi konsumsi pangannya. Dengan demikian perlu dicari alternatif lain cara pemanfaatan tumbuhan kalakai ini.  Salah satu cara pemanfaatan kalakai untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperpanjang masa simpan dan untuk menciptakan produk khas daerah berbasis  tumbuhan kalakai adalah dengan mengolah kalakai menjadi tepung kalakai.  Umumnya kandungan senyawa aktifnya seperti alkaloid dan steroid diduga berperan bilamana terkait dengan kulit.  Selain diduga adanya flavonoid terkait dengan keberadaan senyawa anti oksidan seperti vitamin  A dan vitamin C, pada bagian lain potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai komoditas unggulan atau bahan dasar komoditas industri khususnya industri pangan yang saat ini sudah mengacu pada trend back to nature.  Adanya pengolahan menjadi tepung kalakai akan mempermudah pemanfaatannya sebagai bahan pangan misalnya sebagai bahan pangan fungsional.

            Dalam proses pembuatan tepung dari hasil-hasil pertanian, perlu diperhatikan tahapan proses yang dapat mempertahankan kualitas bahan, mampu meningkatkan daya terima konsumen dan dapat memperpanjang masa simpan produk.  Proses yang penting dilakukan adalah perlakuan pendahuluan, yaitu blansing (blanching) dan perlakuan pengeringan.  oleh karena itu diperlukan kajian terhadap lama blansing yang diperlukan dan suhu pengeringan yang sesuai untuk mendapatkan kualitas dari tepung kalakai yang maksimal.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji perlakuan blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan khusus untuk menentukan : 1). waktu blansing pada kalakai, 2). suhu pengeringan kalakai dan 3). waktu blansing dan suhu pengeringan yang tepat dalam pembuatan tepung kalakai.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2011. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalakai segar, yang diperoleh dari kawasan  di daerah Kota Palangka Raya.  Kalakai dipanen pada stadia muda dan besar masing-masing diusahakan seragam.

            Bahan yang digunakan adalah bahan-bahan kimia yang digunakan  untuk keperluan analisis : aquades, formalin, NaOH, asam oksalat, HCl, iodium, amilum fenolphthalein, media PDA. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender,  wadah plastik, oven pengering, timbangan analitik, stopwatch, termometer, refraktometer, pH meter, buret, muffle furnace pisau stainless, keranjang plastik, cawan petri, cawan porselin, eksikator, coloni counter,  kompor,dan dandang.

            Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1 =  1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II adalah suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1            =  50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC.

            Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan bahan yang terdiri dari sortasi bahan dari bagian-bagian yang tidak diinginkan seperti daun rusak, daun tua dan pemotongan tangkai. Pencucian dengan air mengalir dan penirisan.  Blansing dengan uap air (suhu 100oC), dengan lama blansing sesuai perlakuan,  yaitu 1 menit, 3 menit dan 5 menit. Pendinginan dilakukan pada pada wadah berupa saringan sehingga berfungsi juga untuk penirisan. Proses pengeringan, yang terdiri dari penebaran potongan kalakai pada wadah (loyang).  Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven kabinet dengan suhu sesuai perlakuan, yaitu 50oC, 60oC dan 70oC, selama 48 jam. Bahan kering didinginkan dalam ruang pendingin (eksikator) selama 10 menit agar  tidak menyerap air dari lingkungan, lalu ditimbang. Selanjutnya proses penepungan, yang terdiri dari kalakai kering dihaluskan dengan blender, kemudian diayak menggunakan ayakan berukuran 60 mesh.  Produk yang dihasilkan adalah bubuk kalakai (lolos ayakan 60 mesh) dan ampas (tidak lolos ayakan 60 mesh). Tepung kemudian ditimbang.  Pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastik HDPE.  Pengamatan yang dilakukan meliputi : nilai pH, kadar air (%), vitamin C (%), kadar protein (%), kadar abu (%) dan total mikroba (koloni/g).

            Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf kepercayaan 95% dan 99%.  Apabila hasil analisis ragam berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan analisis data lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  α 5%..

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Nilai pH

            Selama proses pengolahan terjadi kenaikan pH pada tepung kalakai.  Berdasarkan analisis ragam, menunjukkan bahwa baik pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan maupun pada interaksi antara kedua perlakuan tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan nilai pH tepung kalakai.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan perubahan nilai pH produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.    Rata-rata perubahan nilai pH tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing.

Tabel 1 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

             Dari Tabel 1 tampak bahwa perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 70oC memiliki perubahan nilai pH yang rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya dan sangat mendekati pH awal yaitu 6,17.  Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan tersebut baik pada perlakuan lama blansing maupun suhu pengeringan terutama pada suhu pengeringan 70oC mampu menekan perubahan kenaikan nilai pH tepung kalakai.  Nilai pH produk yang tinggi akan menurunkan daya simpan.  Desrosier dan Desrosier (1978) menyatakan bahwa bakteri Clostridium botulinum dapat tumbuh dan menghasilkan racun pada produk dengan pH diatas 4.6. Suhu pengeringan 70oC memungkinkan pengeluaran air dari bahan lebih cepat sehingga menghindari kerusakan yang lebih banyak terhadap komponen kimia terutama protein.

            Kenaikan pH yang tinggi pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC diduga karena adanya degradasi protein.  Anglemeir dan montgomery (1976) menyatakan bahwa selama pengolahan, protein akan terdegradasi membentuk amonia dan bereaksi dengan air membentuk NH4OH yang bersifat basa, sehingga nilai pH produk naik. Namun demikian, karena adanya perlakuan blansing dan pengeringan terhadap produk diduga mampu menekan pertumbuhan mikroba, sehingga pada penyimpanan kondisi produk masih baik.

Kadar Air

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh akibat perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan.  Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan blansing dapat mempercepat pengeluaran air dari dalam bahan selama dilakukan proses pengeringan.

Nilai rata-rata hasil pengamatan kadar air produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2.    Rata-rata kadar air (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 2 Mul

Dari Tabel 2 diketahui bahwa kadar air tepung kalakai mencapai 2,00 sampai 2,36, yang menunjukkan bahwa air yang terdapat dalam tepung kalakai tersebut adalah air terikat yang sulit dimanfaatkan oleh mikroba untuk pertumbuhan dan tidak dapat digunakan untuk media reaksi kimia dalam proses metabolisme dalam bahan.  Syarief dan Irawati (1986) menyatakan bahwa bila kadar air bahan berkisar antara 3 – 7 persen maka berdasarkan derajat keterikatan air dalam bahan adalah termasuk tipe I, yaitu molekul air terikat secara kimia dengan molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hidrogen yang berenergi besar.

Perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap kadar air tepung kalakai ini diduga karena proses pengeringan yang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga laju pengeluaran air dari bahan sudah mencapai maksimal walaupun dilakukan pada suhu yang berbeda.

Vitamin C

            Vitamin C pada tepung kalakai berkisar antara 0,0022 (%) sampai 0,0066 (%), sedangkan vitamin C pada bahan dasar adalah 0,014%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar vitamin C tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, suhu pengeringan dan interaksi antara keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata.

Nilai rata-rata hasil pengamatan vitamin C tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata vitamin C (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 3 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

Dari Tabel 3 diketahui bahwa kandungan vitamin C tertinggi pada tepung kalakai terdapat pada perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan jumlah vitamin C mencapai 0,0066%.  Sedangkan jumlah vitamin C paling rendah terdapat pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC dengan jumlah vitamin C sebanyak 0,0022%.  Hal ini diduga bahwa adanya perlakuan blansing menyebabkan udara yang ada dalam jaringan bahan dapat dihilangkan, sehingga akan memperkecil terjadinya reaksi oksidasi terhadap vitamin C.  Hal ini memungkinkan perlakuan blansing cenderung dapat menghambat kerusakan vitamin C dalam tepung kalakai.  Kemudian dengan perlakuan suhu pengeringan yang cukup tinggi (70oC) diduga mampu mempercepat pengeluaran air dari jaringan bahan menjadi lebih cepat sehingga mengurangi aktivitas enzim yang berperan dalam oksidasi vitamin C.  Lee (1954) menyatakan bahwa tujuan blansing diantaranya adalah menghilangkan udara dari jaringan bahan dan dapat mempertahankan karotenoid dan vitamin C serta kerusakan karena oksidasi selama pengeringan dan penyimpanan.

Kadar Protein

            Berdasarkan analisis ragam bahwa kadar protein pada tepung kalakai dipengaruhi oleh perlakuan suhu pengeringan.  Perlakuan lama blansing dan interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap kadar protein tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4.  Rata-rata kadar protein (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu Pengeringan

Tabel 4 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Berdasarkan Tabel 4, bahwa kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 60oC dan tidak berbeda nyata dengan suhu pengeringan 70oC dan keduanya berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 50oC. Hal ini menunjukkan bahwa suhu pengeringan antara 60oC sampai 70oC adalah suhu pengeringan yang cukup baik untuk mengeringkan kalakai untuk diolah menjadi tepung. Proses pengeringan dengan suhu tertentu mampu untuk menekan penurunan kadar protein karena dengan adanya pengeringan diduga dapata menghambat perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim.  Taib dkk. (1987) menyatakan bahwa tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti.  Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan yang lama. Hal ini terlihat dari hasil perlakuan suhu pengeringan dengan suhu 60oC menghasilkan penurunan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu dari kadar protein bahan awal 2,33% menjadi 0,99%.

 Kadar Abu

            Kadar abu tepung kalakai berkisar antara 8,34% sampai 9,15%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar abu tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan kadar abu produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata kadar abu (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu   Pengeringan

Tabel 5 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa suhu pengering 60oC memberikan perbedaan  kadar abu pada tepung kalakai walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC  Perlakuan ini mempunyai kadar abu yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan 50oC memiliki kadar abu yang paling rendah.  Hal ini diduga disebakan karena  proses pengeluaran air dari bahan cukup lambat sehingga komponen bahan lainnya juga relatif sedikit yang mengalami perubahan dan menguap.  Sedangkan pada perlakuan suhu pengeringan 60oC mempunyai kadar abu yang paling banyak dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC.  Hal ini diduga karena semakin tinggi suhu pengeringan yang dilakukan terhadap bahan maka jumlah air yang keluar atau teruapkan dari dalam bahan yang dikeringkan akan semakin besar.  Sudarmadji, dkk. (1989) mengemukakan bahwa kadar abu tergantung pada jenis bahan, cara pengabuan, waktu dan suhu yang digunakan saat pengeringan.  Jika bahan yang diolah melalui proses pengeringan maka lama waktu dan semakin  tinggi suhu pengeringan akan meningkatkan kadar abu, karena air yang keluar dari dalam bahan semakin besar.

Total Mikroba

Total mikroba tepung kalakai berkisar antara 7,78 (koloni/g) sampai 154,55 (koloni/g).  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap total mikroba tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan total mikroba produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.    Rata-rata Total mikroba  (koloni/10 ml) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu  Pengeringan

Tabel 6 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa suhu pengering 50oC memberikan perbedaan  total mikroba pada tepung kalakai.  Perlakuan ini berbeda nyata terhadap perlakuan suhu pengeringan 60oC dan 70oC. Perlakuan ini mempunyai total mikroba  yang paling sedikit dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu 7,78 (koloni/g).  Hal ini diduga bahwa pada suhu pengeringan 50oC tersebut komposisi bahan masih cukup baik, sehingga mampu menekan pertumbuhan mikroba.  Pengeringan terhadap bahan akan menurunkan kadar air dan juga menurunkan aktivitas air sehingga mikroba mengalami penghambatan dalam memperoleh air untuk kebutuhan pertumbuhannya. Wirakartakusuma, dkk.. (1992) menyatakan bahwa mikroorganisme membutuhkan air untuk pertumbuhan dan perkembang-biakannya. Jika kadar air pangan dikurangi, pertumbuhan mikroorganisme akan diperlambat. Dehidrasi akan menurunkan tingkat aktivitas air (water activity (aw) yaitu jumlah air yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya, berat dan volume pangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berpengaruh sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %.

Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g.

Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air

 

SARAN

             Dalam penelitian selanjutnya perlu perlakuan lain terhadap kalakai  seperti perendaman dalam larutan kapur, untuk mengurangi lendir dan memperbaiki warna tepung.  Selain itu diperlukan pengujian fitokimia terhadap tepung kalakai untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dalam mendukung tepung kalakai sebagai bahan pangan fungsional.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anglemeir, A.F. dan M.W. Montgomery.  1976.  Amino Acids, Peptides and Protein.  Dalam Fennema, O.R (ed.).  Principles of Food Science.  Marcel Dekker Inc., New York and Bassel.

Desrosier, N.W. dan J.N. Desrosier.  1978.  The Technology of Food Preservation.  AVI Publishing Company Inc., Westport Connecticut.

Lee, M.S.  1954.  Advance in Food  Research.   54(5): 66. Academic Press, Connecticut.

Sudarmadji, S. B. Haryono dan Suhardi.  1989.  Prosedur Analisis Untuk Bahan  Makanan dan Pertanian.  Liberty.  Yogyakarta.

Syarief, R.  dan A. Irawati.  1986.  Pengetahuan Bahan Untuk Industri.  PT. Mediyatama

Sarana Perkasa.  Jakarta.

Taib, G, S. Gumbira dan W. Sutedja.  1987.  Operasi Pengeringan Pada Pengolahan  Hasil Pertanian.  PT. Mediyatama Sarana Perkasa.  Jakarta.

Wirakartakusumah, dkk. 1992. Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan.   PAU Pangan dan Gizi, IPB Bogor

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: