JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 13 Nomor 2 September 2012 == PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS KOAGULAN TERHADAP == Panji Surawijaya, Saputera, Muhammad Syafi’i
7 September 2013, 12:59 pm
Filed under: Penelitian

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS KOAGULAN TERHADAP TINGKAT PEMBEKUAN LATEKS TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

(The Effect of Giving some kinds of Coagulant on The Level of Solid Latex of The Rubber Tree)

     Panji Surawijaya, Saputera dan Muhamad Safi’i

   Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

ABSTRACT

Rubber is the one of result agriculture  on sub farming sector that have many contribution on national economic and another non gas source income. Low quality rubber generally resulted by rubber farming that used traditional way usually do by many people , especially on Central Kalimantan treatment after production use many variety coagulant material on coagulation processing that have effect on quality rubber result. At farmer rubber on Central Kalimantan usually use natural coagulants such as Gadung and Pineapple as alternative coagulant have been recommended. The purpose of this research is to know the effect of giving some kinds of coagulant (Gadung, Pineapple, and Acetate Acid ) the level   latex solidness   that is resulted by Rubber Tree .The design that is used in this research are Random Complete Design (RCD) one factor  such as Giving  some kinds of Coagulant which  consist 7 level treatment, such as without giving ,Gadung  Extract  15 ml.l-1 Latex, Gadung Extract 20 ml.l-1 Latex, Pineapple Extract 15 ml.l-1 Latex, Pineapple Extract 20 ml.l-1 Latex, acetate acid 15 ml.l-1 Latex, acetate acid 20 ml.l-1 Latex. The result from this research are giving some different result latex solidness which gave coagulant gadung extract, pineapple Extract and acetate acid. Extract Pineapple Coagulant 15ml/l latex able to process Coagulation rubber latex better until result perfect Coagulum capacity rubber dried with higher coagulum 80 until 90 %.

Key words: Coagulant, Gadung, Pineapple, Acetate Acid, Rubber Latex..

ABSTRAK

Karet merupakan salah satu hasil pertanian di sub sektor perkebunan yang banyak menunjang perekonomian Nasional dan sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia. Rendahnya kualitas karet utamanya yang dihasilkan pada perkebunan karet yang dikelola oleh masyarakat, khususnya di Kalimantan Tengah antara lain karena penanganan pasca panen seperti penggunaan bahan pembeku dalam proses koagulasi yang beragam, sehingga akan berdampak pada kualitas hasil bahan olah karet yang dihasilkan. Dikalangan para petani karet di Kalimantan Tengah sering menggunakan bahan pembeku alami seperti umbi gadung dan buah nanas sebagai alternatif selain dari bahan pembeku yang telah direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis bahan koagulan (gadung, nanas dan asam asetat) terhadap tingkat pembekuan lateks yang dihasilkan tanaman karet. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor berupa pemberian beberapa jenis bahan koagulan yang terdiri dari 7 taraf perlakuan, yaitu  tanpa pemberian koagulan, ekstrak gadung 15 ml.l-1 lateks, ekstrak gadung 20 ml.l-1 lateks, ekstrak nanas ml.l-1 lateks, ekstrak nanas 20 ml.l-1 lateks, asam asetat 15 ml.l-1 lateks dan asam asetat 20 ml.l-1 lateks. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pembekuan lateks karet yang diberi koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat (cuka). Koagulan ekstrak nanas 15 ml/l lateks mampu melakukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna dengan kadar karet kering (KKK) koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 %.

Kata kunci: Koagulan, Gadung, Nanas, Asam Asetat, Lateks Karet.

  PENDAHULUAN

Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian di sub sektor perkebunan yang banyak menunjang perekonomian Nasional yang menduduki posisi yang cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, Selain itu, karet juga mempunyai pengaruh besar terhadap kebutuhan vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari bahan karet. Indonesia memiliki luasan lahan perkebunan karet mencapai 3-3,5 juta hektar, hal ini merupakan lahan perkebunan karet terbesar di dunia. Sementara luas lahan perkebunan karet di Thailand sekitar 2 juta hektar, dan malaysia sekitar 1,3 juta hektar (BPS, 2010).

Dilihat dari pengusahaannya perkebunan karet di Indonesia, sebagian besar masih diusahakan oleh Perkebunan Rakyat (PR), dibandingkan pengusahaan yang dilakukan Perkebunan Besar Negara (PBN) maupun Perkebunan Besar Swasta (PBS). Berdasarkan luasan perkebunan karet di Indonesia yang dikelola cukup luas oleh rakyat tersebut, tetapi tidak diimbangi dengan produktivitas yang baik, sehingga total produktivitas karet di Indonesia rata-rata rendah dan mutu karet yang dihasilkan juga kurang memuaskan bila dibandingkan negara pesaingnya seperti Thailand, Malaysia, dan India (BPS, 2010).

Di Kalimantan Tengah, lateks atau getah karet juga merupakan salah satu komoditas utama usaha rakyat yang cukup dominan, berupa hasil perkebunan yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Hal ini dapat dilihat dari luas areal perkebunan karet yang dimiliki sekitar (408.230.61 ha-1) dari luas total areal perkebunan karet (418.708,61 ha-1) yang dimiliki Kalimantan Tengah (BPS Kal-Teng, 2010).

Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet Nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat, selain masalah teknik budidaya yang masih rendah, banyaknya areal tanaman karet yang telah tua dan tidak produktif juga masalah bahan baku hasil panen yang dihasilkan umumnya bemutu rendah karena penanganan pasca panen yang kurang tepat akibat pengetahuan petani yang terbatas (BPG Salatiga, 2009).

Dalam tahap awal, petani karet biasanya melakukan pengolahan lateks secara sederhana sebelum dijual ke pengumpul (pabrik karet), adapun pengolahan yang dilakukan adalah dengan melakukan prakoagulasi pada lateks sehingga menjadi berbentuk padatan dengan menggunakan koagulan yang lazim digunakan oleh masyarakat. Karet hasil olahan masyarakat ini lazim disebut sebagai bokar, atau “bahan olahan karet rakyat”, hasil olahannya berupa lump dan slab. Bokar merupakan komoditi utama suatu pedesaan. Terutama pedesaan yang letaknya di pedalaman. (Praharnatha, 2011).

Penggunaan koagulan yang disarankan pemerintah saat ini sedang digalakkan besar-besaran bagi petani karet, seperti penggunaan asam formiat (asam semut) maupun deorub-K, akan tetapi pemasaran produk-produk seperti ini ke desa-desa yang memiliki daya beli yang rendah. Oleh karena itu penggunaan jenis koagulan pada karet lateks tergantung dari latar belakang si petani karet sendiri. Bila petani tersebut melakukan penyadapan karet sebagai usaha sampingan dari bertani biasanya  akan menggunakan NPK dan tawas sisa dari pemupukan lahan musim yang lalu sebagai koagulan. Begitu pula bagi petani dengan usaha sampingan berkebun sayur, lebih menggunakan buah nanas yang ditanam di sekitar pekarangan rumah/kebun mereka, maupun umbi gadung. Umbi gadung dan buah nanas, sangat mudah ditemukan di sekitar masyarakat pedesaan. Umbi gadung sangat banyak terdapat dihutan tropis, terutama di hutan yang ada di pedalaman Kalimanatan Tengah, hidup disekitar perkebunan karet rakyat, tumbuh secara liar sehingga sering dianggap sebagai tanaman pengganggu karena dianggap beracun. Buah nanas sering ditanam begitu saja oleh masyarakat desa, sehingga secara tidak langsung penggunaan buah nanas sebagai koagulan alternatif petani karet juga termasuk sebagai pemanfaatan oleh masyarakat desa itu sendiri. Ada petani yang lebih condong menggunakan koagulan yang gratis dan mudah didapat disekitar mereka, dari pada menggunakan koagulan pasaran (Praharnatha, 2011).

            Sehingga memalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui tingkat pembekuan lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan yang digunakan tersebut.

     Penelitiaan ini bertujuan untuk : Mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis bahan koagulan (asam asetat/cuka, nenas, dan gadung), terhadap tingkat pembekuan lateks yang dihasilkan tanaman karet.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan rakyat di Desa Sigi, Kelurahan Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni – Juli 2011.

            Bahan yang digunakan adalah lateks dari karet klon lokal dari perkebunan rakyat berumur ± 23 tahun dan sudah pernah disadap sebelumnya, koagulan yang digunakan asam cuka/cuka makan 20 – 25 % , ekstrak gadung dan ekstrak nanas madu/varietas Queen (sudah tua namun tidak terlalu matang), sedangkan alat – alat yang digunakan hand mangel, kertas lakmus, oven, timbangan digital, bak koagulasi terbuat dari plastik yang memiliki volume ± 1 liter, tempat membekukan lateks, saringan (dengan diameter 2 mm), alat tulis, kamera, serta alat pendukung lainnya.

            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yang terdiri dari pemberian bahan koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas, asam asetat, dan satu sebagai kontrolnya (tanpa pemberian koagulan). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Kontrol (tanpa pemberian koagulan); Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks; Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks; Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks; Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks; Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks; Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks.

          Jumlah 7 taraf perlakuan dan diulang 4 kali, sehingga dalam penelitian ini terdapat 28 satuan percobaan.

          Variabel pengamatan yang diamati dalam penelitian sebagai berikut:

  1. pH Lateks

Pengukuran pH dilaksanakan untuk mengetahui derajat keasaman (pH), dari larutan redaman pada

bak koagulasi setelah diberi bahan ekstrak koagulan.

  1. Tingkat Koagulasi (20 menit/perlakuan)

Mengamati lateks yang telah mengalami pembekuan di dalam bak perlakuan, dengan parameter visual (penampakan koagulum, kejernihan serum, dan penggumpalan) yang diamati 20 menit/perlakuan, sampai akhir pengamatan yaitu selama 3 jam.

  1. Pengukuran Tingkat Penggumpalan lateks (ml)

Pengukuran ini dilakukan untuk menunjukan pengaruh dari pemberian bahan koagulan terhadap koagulum yang terbentuk. Pengukuran dilakukan saat 3 jam setelah proses koagulasi berlangsung. Adapun metode yang digunakan yaitu dengan Metode Saring, dengan tahapan – tahapan sebagai berikut:

a)         Lateks yang telah mengalami pembekuan dimasukan kedalam saringan dengan diameter 2 mm. kemudian didiamkan selama sampai cairan lateks yang belum mengalami pembekuan tersebut keluar dan tertampung dalam tempat penampungan.

b)        Cairan lateks yang belum mengalami bekuan ditampung kedalam penampungan, kemudian diukur volume lateks yang belum mengalami pembekuan tersebut

  1. Bobot atau Isi Lateks (gram)

Bobot atau isi lateks adalah berat lateks dari hasil akhir koagulasi, perhitungan dilakukan per bak perlakuan pada saat akhir pengamatan, dengan menggunakan timbangan digital.

  1. KKK (Kadar Karet Kering) Koagulum (%)

Kadar Karet Kering adalah kandungan zat padat yang terdapat didalam lateks yang tidak dapat menguap bila tidak dikeringan pada suhu 110 – 120 °C selama 3 jam. Standar kadar karet kering yang terdapat pada lateks adalah 60.0% – 62.0 %. Perhitungan dilakukan saat proses koagulasi selasai. Pengeringan contoh uji dilakukan dengan menggunakan oven atau mesin pengering (dryer). Pengeringan dilakukan pada suhu 110-120 °C selama 3 jam. Dalam penelitian ini penentuan KKK koagulum dilakukan pada akhir koagulasi.

Untuk menentukan KKK dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

KKK = b/c x a/d x 100%

Dimana :

a)      Menimbang bahan olah karet.

b)      Bobot hasil gilingan (krep) ditiriskan selama 30 menit.

c)      Bobot potongan krep sebelum dioven.

d)      Bobot hasil potongan krep setelah dioven.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan  analisis ragam (Uji F) pada taraf α = 0,05 dan α = 0,01. Perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perbedaan antar taraf perlakuan pada taraf α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Rendemen

            Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa rata-rata dari 0.975 kg buah nanas menghasilkan rendemen air nanas sebanyak 0.435 l (453 ml) atau sekitar 44.62 % rendemen ekstrak yang dihasilkan. Sedangkan umbi gadung menunjukan bahwa rata-rata dari 1.305 kg menghasilkan rendemen air gadung sebanyak 0.970 l (970 ml) atau sekitar 74.33 % rendemen esktrak yang dihasilkan. Selebihnya adalah kulit dan ampas berturut-turut, yaitu kulit nanas 0.315 kg, empulur 0.090 kg dan ampasnya sendiri 0.135 kg. Sedangkan kulit gadung 0.085 kg dan untuk ampasnya sendiri 0,250 kg. Informasi rendemen akhir ini digunakan untuk menentukan jumlah kebutuhan perlakuan penelitian.

Derajat Keasaman (pH) Lateks

Data hasil pengukuran derajat keasaman (pH) lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1, diketahui bahwa pemberian atau pencampuran beberapa jenis koagulan (ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat) pada lateks karet hasil sadapan menyebabkan terjadi perubahan pH lateks awal (7,0) menjadi pH 4,8 pada perlakuan pencampuran lateks dengan ekstrak gadung (K1 dan K2), pH 4,7 pada perlakuan pencampuran lateks dengan ekstrak nanas (K3 dan K4) dan pH 4,6 pada perlakuan pencampuran lateks dengan asam asetat (K5 dan K6).

Tabel 1. pH Lateks Karet dari Pemberian Beberapa Jenis Koagulan

Tabel 1 Panji            Penggumpalan lateks dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah penurunan muatan listrik. Penurunan muatan listrik lateks dapat disebabkan oleh penurunan pH lateks, penambahan larutan elektrolit dan penambahan zat aktif permukaan (Nurhadiati, 2002). Penambahan beberapa jenis koagulan seperti ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat ternyata berakibat terhadap penurunan pH, dari Gambar 1 tampak terlihat bahwa lateks yang diberikan beberapa jenis koagulan (K1, K2, K3, K4, K5, dan K6) menyebabkan penurunan menjadi pH 4,8 – 4,6, sedangkan yang tidak diberi koagulan (K0) pH nya tetap 7,0.

Gambar 1 Panji

Gambar 1.        pH lateks karet dari pemberian beberapa jenis koagulan

     Terjadinya proses penggumpalan (koagulasi) adalah karena terjadinya penurunan pH.  Lateks segar yang diperoleh dari hasil sadapan mempunyai pH 6,5 – 7,0.  Agar dapat terjadi penggumpalan atau koagulasi, pH yang mendekati netral atau netral tersebut harus diturunkan sampai 4,7. Pada kemasaman ini tercapai titik isoelektrik atau keseimbangan muatan listrik pada permukaan partikel-partikel atau butir-butir karet kehilangan muatan (netral) sehingga menyebabkan terjadinya penggumpalan. Penurunan pH terjadi karena adanya pemberian koagulan yang mengandung asam-asam organik ke dalam lateks sehingga dapat menurunkan pH.

 

Tingkat Koagulasi

Data pengukuran tingkat koagulasi lateks per 20 menit dalam masa waktu 3 jam (180 menit) dari pemberian beberapa jenis koagulan pada lateks,  hasil pengukuran waktu yang diperlukan untuk terjadinya koagulasi yaitu 20 menit dan 40 menit disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2, hasil pengukuran tingkat koagulasi lateks karet dari pemberian beberapa jenis koagulan menunjukkan terjadinya tingkat koagulasi yang berbeda. Semua jenis koagulan yang digunakan menyebabkan terjadi koagulasi, perlakuan ekstrak gadung dan nanas (K1, K2, K3 dan K4) hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk terjadinya koagulasi, sedangkan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk terjadinya koagulasi, adapun tanpa pemberian koagulan (K0) dari hasil pengamatan terjadinya koagulasi setelah 8 jam. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa proses koagulasi akan berlangsung dan terjadi lebih cepat apabila diberikan koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat, namun apabila tidak diberikan koagulan seperti halnya pada perlakuan (K0) maka proses koagulasi pada lateks hasil sadapan terjadinya sangat lambat yakni setelah 8 jam.

 Tabel 2. Tingkat Koagulasi Lateks Karet dari Pemberian Beberapa Jenis Koagulan

Tabel 2 Panji

Keterangan : –  : Belum membeku            : Sudah mengalami pembekuan                             *) : Membekuan setelah 8 jam

 

Tabel 3. Tipe Karakteristik Penampakan Koagulum

Tipe

Penampakan Koagulum

Kejernihan Serum

Penggumpalan

a

Permukaan berwarna coklat, tidak rata, berongga, agak lembek.

Keruh

Kurang Sempurna

b

Permukaan berwarna coklat, tidak rata, berongga, lembek.

Seperti  Susu

Tidak Sempurna

c

Permukaan berwarna putih, rata, halus, padat, keras.

Agak Jernih

Sempurna

d

Permukaan berwarna putih, rata, halus, padat, agak keras.

Agak Jernih

Sempurna

Semua jenis koagulan yang diberikan (Tabel 2), yaitu ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat  yang diberikan menyebabkan terjadinya koagulasi, namun karakteristik penampakan koagulum memperlihatkan tipe yang berbeda-beda. Perlakuan ekstrak gadung (K1 dan K2) memperlihatkan karakterisitik penampakan koagulum tipe a, sedangkan perlakuan ekstrak nanas (K3 dan K4) memperlihatkan karakteristik tipe d dan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) memperlihatkan karakteristik tipe c. Lebih jelas keterangan karakteristik penampakan koagulasi dari masing-masing tipe dapat dilihat pada Tabel 3.

Setelah terjadinya penurunan pH lateks segar dari pH 7,0 menjadi pH 4,8 – 4,6 sebagai akibat pemberian ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat, maka proses koagulasi mulai terjadi. Tingkat koagulasi lateks yang diamati di dalam bak perlakuan dengan parameter visual (penampakan koagulum, kejernihan serum, dan penggumpalan) yang diamati (20 menit/perlakuan), sampai akhir pengamatan yaitu selama 3 jam untuk perlakuan pemberian koagulan dan 8 untuk tanpa pemberian koagulan (Tabel 2 dan 3). Berdasarkan keterangan tipe karakterisitik penampakan koagulum dari hasil pengamatan pada Tabel 6a dan 6b, memperlihatkan. Perlakuan ekstrak nanas (K3 dan K4) dan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) memperlihatkan karakteristik tipe c dan d dengan tingkat penggumpalan yang sempurna, hal ini didukung dengan penampakan koagulan dengan karakterisitik yang lebih baik dan kejernihan serum yang agak jernih, sedangkan perlakuan ekstrak gadung (K1 dan K2) memperlihatkan karakterisitik tipe a dengan tingkat penggumpalan yang kurang sempurna, adapun (K0) tanpa pemberian koagulan setelah 8 jam mengalami penggumpalan dengan karakterisitik tipe b dengan tingkat penggumpalan tidak sempurna. Karakteristik tipe a dan b ini memperlihatkan kejernihan serum masing-masing seperti susu dan keruh. Menurut Nurhadiati (2002), kejernihan serum dipengaruhi proses koagulasi. Lateks yang telah terkoagulasi sempurna ditandai dengan warna serum yang relatif jernih. Serum yang yang tidak jernih menunjukkan bahwa  ada partikel karet yang masih terdapat di dalamnya.

Tingkat Penggumpalan Lateks

            Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan tidak berpengaruh nyata pada variabel tingkat penggumpalan lateks. Rata-rata hasil pengamatan tingkat penggumpalan lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan Tabel 4. Pengukuran tingkat penggumpalan lateks (ml) yang menunjukan pengaruh dari pemberian bahan koagulan terhadap koagulum yang terbentuk setelah proses koagulasi berlangsung menunjukkan tidak terjadi perbedaan yang nyata antar perlakuan, namun dari nilai rata-rata lateks yang belum mengalami pembekuan menunjukkan perlakuan ekstrak nanas yang paling rendah yaitu 25,00 ml.l-1 lateks, dan ini jauh lebih rendah dibandingkan pemberian koagulan lainnya yaitu dengan lateks yang belum mengalami pembekuan yang lebih besar yaitu berkisar 45,00 – 27,50 ml.l-1 lateks. Hal ini diduga terkait dengan tingkat koagulasi lateks yang diberikan koagulan ekstrak nanas termasuk kategori sempurna sesuai karakteristik yang ditunjukkannya.

Tabel 4.    Rata-rata Hasil Pengamatan Tingkat Penggumpalan Lateks

Perlakuan

Tingkat penggumpalan(ml)

Kontrol

27.50

Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks

32.50

Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks

32.50

Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks

25.00

Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks

32.50

Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks

35.00

Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks

45.00

Perbedaan tingkat penggumpalan (koagulasi) lateks dari pemberian jenis koagulan ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan kerja enzim dan waktu lama koagulasi. Sesuai pendapat Harror dan Mazzur (1971), dalam BPTK-Bogor (2003) bahwa kecepatan hidrolisis enzim akan meningkat pada konsentrasi enzim yang lebih besar dan waktu yang lama. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan K hanya menyisakan 27,50 ml.l-1 lateks karena memerlukan waktu yang lama (8 jam) untuk terjadi koagulasi, dan aktifitas enzim yang bekerja untuk proses koagulasi tersebut menjadi lebih besar.  Utami (2010), menambahkan bahwa lamanya waktu kerja enzim juga mempengaruhi keaktifan kecepatan enzim akan meningkat dengan lamanya waktu reaksi.

 Bobot Latek dan Kadar Karet Kering (KKK) Koagulum

            Berdasarkan hasil analisis ragam bobot lateks dan KKK koagulum menunjukkan berpengaruh nyata. Rata-rata hasil pengamatan bobot lateks dan Kadar Karet Kering (KKK) dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan  pada Tabel 5.

Tabel 5, hasil uji beda rata-rata bobot lateks dan kadar karet kering (KKK) dengan BNJ 5% menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Pemberian semua jenis koagulan menunjukkan perbedaan nyata dengan tanpa diberi koagulan dalam menghasilkan bobot lateks dan KKK koagulum. Bobot atau isi lateks dari hasil akhir koagulasi yang diamati per bak perlakuan pada saat akhir pengamatan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks (K3) memiliki bobot lateks yang lebih rendah yaitu 880,00 gram, hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan ini terjadi proses koagulasi yang sempurna sehingga berat lateks menurun diakhir proses koagulasi. Kondisi ini didukung pula pada pengamatan akhir berupa kadar kering karet (KKK) koagulum yang lebih tinggi pada perlakuan K3 yaitu 90,80 % dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 2).

Tabel 5. Rata-rata Hasil Pengamatan Bobot Lateks dan Kadar Karet Kering (KKK)  Koagulum

Perlakuan

Bobot Lateks (g)

KKK Koagulum

(%)

Kontrol

1012.50 b

65.15 a

Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks

917.50 ab

75.36 ab

Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks

965.00 ab

79.41 ab

Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks

880.00 a

90.80 b

Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks

966.25 ab

78.52 ab

Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks

936.25 ab

71.51 ab

Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks

892.50 ab

69.50 ab

BNJ 0,05 %

132,05

25,38

Ket. :  Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada    kolom yang sama, berbeda nyata menurut BNJ 5 %   

Pemberian koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks (K3) merupakan dosis optimal sehingga hasil akhir pada pangamatan KKK koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 % dan ini lebih tinggi dari perlakuan lainnya yaitu di bawah 80 %. Penambahan jumlah dosis koagulan ekstrak nanas menjadi 20 ml.l-1 lateks (K4) tampaknya juga tidak meningkatkan KKK koagulum, sebalik justru menurunkan KKK koagulum yaitu hanya  78,52 %. Lebih baiknya perlakuan ekstrak buah nanas ini karena ekstrak buah nanas dapat menggumpalkan lateks menjadi lebih sempurna dibandingkan perlakuan lainnya karena selain mengandung asam-asam organik, buah nanas juga mengandung enzim bromelin. Menurut Nurhadiati (2002) buah nanas mengandung asam-asam organik seperti asam sitrat, asam malat dan asam oksalat serta enzim bromelin. Asam sitrat adalah asam hidroksil trikarboksilat (2 hidroksi 1,2,3-propana-trikarboksilat). Adanya asam sitrat dapat menurunkan pH lateks sampai titik isolistrik (pH 4,7), yang dapat menyebabkan partikel-partikel karet kehilangan muatan atau netral sehingga tidak terdapat lagi daya tolak partikel-partikel karet yang selanjutnya dapat menyebabkan terjadinya penggumpalan.

Gambar 2 Panji

 Gambar 2.        Kadar karet kering (KKK) koagulum dari pemberian beberapa jenis koagulan

Selain asam, enzim bromelin yang terkandung dalam buah nanas berperan dalam proses penggumpalan lateks. Protein dalam lateks yang berperan sebagai pemantap lateks akan terhidrolisis oleh enzim, sehingga partikel-partikel karet kehilangan muatan (Indrawati, 1983). Kuntoro (1979,) dalam Nurhadiati, 2002), mengemukakan bahwa enzim bromelin merupakan enzim proteolitik yang mampu memecahkan molekul-molekul protein asam amino. Enzim proteolitik sering disebut juga protease merupakan kelompok enzim yang menguraikan protein menjadi molekul yang lebih kecil.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan : terdapat perbedaan pembekuan lateks karet yang diberi koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat (cuka). Koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks mampu melalukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna dengan kadar karet kering (KKK) koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 %. 

SARAN

Koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks dapat disarankan penggunaannya untuk melakukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk variabel-variabel yang lain sehingga dapat menggambarkan kualitas hasil karet yang optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2010. Statistik Karet Indonesia (Indonesian rubber statistic 2009). Hara Uli. Jakarta

Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah. 2010. Kalimantan Tengah Dalam Angka. BPS KAL-TENG, Palangka Raya

Balai Penelitian Getas – Salatiga, 2009. Sejarah dan Prospek Perkembangan Karet (http://www.balaipenelitiangetassalatiga.com). (artikel) (11 febuari 2011)

Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor (BPTKBogor) 2003. Produksi Karet Alam Berprotein Rendah dari Lateks Menggunakan Papain sebagai Penghidrolisis Protein http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/ 123456789/40500/Produksi%20KAret%20Alam%20Berprotein%20rendah.pdf?sequence=1 (jurna vol. 3 No.1)  (29 mei 2012)

Nurhadiati, A. 2002. Pemanfaatan Ekstrak Buah Nanas Sebagai Bahan Penggumpal Lateks. (Skripsi STP). Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. (http://repository.ipb.ac.id) (11 maret 2011)

Praharnatha, 2011. Tentang Karet. (http://xaveriusnatha.wordpress.com/2011/03/31/tentang-karet) (Blog) (29 Febuari 2012)

Utami, D.P. 2010. Pengaruh Penambahan Ekstrak Buah Nanas (Ananas comosus l. Merr) dan Waktu Pemasakan Yang Berbeda Terhadap Kualitas Daging Itik Afkir. (Skripsi SP). Jurasan/ Progam Studi Peternakan, Fakultas Pertanian.Universitas Sebelas Maret.Surakarta. (http://digilib.uns.ac.id) (11 maret 2011)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: