JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 13 Nomor 2 September 2012 == PEMANFAATAN AIR LIMBAH SAWIT PADA SISTEM TANAM BERSISIPAN == Yulius Harun, Aswin Dj. Usop, Budya Satata, Dewi Saraswati, M Saleh
7 September 2013, 1:11 pm
Filed under: Penelitian

PEMANFAATAN AIR LIMBAH SAWIT PADA SISTEM TANAM BERSISIPAN (RELAY CROPPING) JAGUNG BISI-16 DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PADA TANAH GAMBUT PEDALAMAN

(Exploiting Wastewater of Palm Oil at System Relay Cropping of  Corn BISI-16 Planted  in Plantation Oil Palm at Peatland)

Yulius Harun, Aswin Dj. Usop, Budya Satata, Dewi Saraswati, M. Saleh

Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UNPAR

Korespondensi : yulh_ka@yahoo.co.id

ABSTRACT

This research aims to know effect of oil palm factory waste water (LPKS) to growth and result of  corn  BISI-16, and growth vegetatip of oil palm at system relay cropping between of corn and oil palm. This research executed in two phase.  This research in laboratory UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR and in plantation of oil palm CV. Tani Jaya, Hampalit Village, District Katingan Hilir, Regency Katingan from June to November 2008.  This research uses Random Block Design (RBD) with 4 water dose treatments LPKS and added by one without gift dose treatment (controlling), that is 0, 1, 2, 3,  and  4 ton/ha water LPKS, and repeated as watchfulness as five times.  Research result shows that soil fertility level at research location belongs to low, but  water LPKS PT. BDK for the farm application  of  value of  BODand COD of matching with suggested for the land application, except pH still be ineligeble (still the acid).  Gift of dose treatments LPKS age 8 MST have an effect on positip at high of crop, crop age, cob length without kelobot, cob diameter, and result pipilan run dry maize BISI-16.    On oil palm plants of gift water dose treatment LPKS have an effect on positip  to high of crop start age 4 to 10 MST, but do not have  an effect on to amount of frond of leaf and bar diameter.  Dose treatment 4 ton/ha water LPKS to best treatment for growth of maize of BISI-16   and oil palm.  Progressively mount dose LPKS progressively mount also the growth and result of maize of BISI-16 and vegetatip of oil palm meaning is correlation positip. Need a continuation research with treatment of higher dose LPKS, in order to gift LPKS able to improve growth and result of crop of maize and oil palm.

Key Word:  wasterwater oil palm,  BISI-16 corn, system relay cropping, peatland

ABSTRAK

Penelitian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air limbah pabrik kelapa sawit (LPKS) terhadap pertumbuhan dan hasil jagung Bisi-16, dan pertumbuhan vegetatif kelapa sawit pada system pertanaman bersisipan (relay cropping) antara jagung dan kelapa sawit.  Penelitian dilaksanakan di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR dan di perkebunan kelapa sawit CV. Tani Jaya, Desa Hampalit, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan sejak bulan Juni-November 2008.   Penelitian menggunakan  Rancangan Acak Blok (RAB) dengan 5 perlakuan dosis air LPKS, yaitu 0, 1, 2, 3,  dan 4 ton air LPKS/ha, dan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah tergolong rendah,  tetapi air LPKS PT. BDK (Bisma Darma Kencana) khususnya nilai BOD (Biology Oxigen Demand) dan COD (Chemistry Oxigen Demand) layak digunakan untuk aplikasi lahan, kecuali pH.  Semua dosis perlakuan air  LPKS umur 8 MST berpengaruh positif pada tinggi tanaman, umur panen, panjang tongkol tanpa kelobot, diameter tongkol, dan hasil pipilan kering jagung BISI-16. Pada tanaman kelapa sawit semua dosis perlakuan air LPKS berpengaruh positip terhadap tinggi tanaman umur 4 s.d 10 MST, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah pelepah daun dan diameter batang. Perlakuan dosis 4 ton/ha air LPKS (A4) merupakan perlakuan terbaik  terhadap pertumbuhan dan perkembangan jagung BISI-16 dan pertumbuhan vegetatip kelapa sawit.  Semakin meningkat dosis perlakuan air LPKS semakin meningkat pula pertumbuhan dan hasil jagung BISI-16, dan vegetatip kelapa sawit artinya ada korelasi positip. Disarankan sebelum air LPKS digunakan untuk aplikasi lahan, perlu diolah kembali sampai pH-nya sesuai yang disarankan, dan untuk penelitian lanjutan dengan perlakuan dosis air LPKS yang lebih tinggi.

Kata Kunci: air limbah sawit, jagung BISI-16, sistem tanam bersisipan, gambut pedalama

PENDAHULUAN

Saat ini Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas areal 6,78 juta ha, dan produksi 17,37 juta ton.  Pada tahun 2007 total ekspor CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya 11 juta ton dengan nilai US$ 6,2 milyar.  Manfaat lainnya, yaitu penyerapan tenaga kerja langsung (on farm dan pabrik kelapa sawit) 3,3 juta kepala keluarga, mendorong pertumbuhan wilayah, mengurangi jumlah penduduk miskin, dan bahan baku bahan bakar nabati.  Pada tahun 1980 luasnya 290.000 ha, dan tahun 2007 mencapai 6,783 juta ha termasuk PR (Perkebunan Rakyat), PBN (Perkebunan Besar Negara), dan PBS (Perkebunan Besar Swasta). Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia luasnya 18 juta ha dari 13 juta ha hutan konversi, dan sudah dimanfaatkan 6,783 juta ha termasuk lahan gambut (Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, 2008).

Lahan gambut di Kalimantan ± 6,523 juta ha, dan ± 6,198 juta ha tergolong gambut pedalaman termasuk 2,164 juta ha berada di Kalimantan Tengah (Halim, 1985).    Sifat tanah gambut kurang tersedia unsur hara, tanah masam, KTK tinggi, dan KB rendah.  Tanaman yang tumbuh pada gambut pedalaman umumnya memperlihatkan gejala klorosis, tumbuh kerdil, nekrosis, dan berakhir dengan kematian.  Tingkat kesuburan tanah dapat diperbaiki melalui pengapuran, dan pemberian pupuk organik termasuk air limbah industri minyak sawit.

Pabrik kelapa sawit kapasitas 30 ton TBS/jam,  jika beroperasi 20 jam/hari akan menghabiskan 600 ton TBS.  Bila 1 ton TBS dihasilkan 0,6 m3 air limbah, dalam satu hari dihasilkan volume air limbah 360 m3, dan setahun 108.000 m3.   Dalam 100 ton air limbah dihasilkan 70 kg N, 12 kg P, 150 kg K, 27 kg Mg dan 32,5 kg Ca (Lubis, 1992). Air limbah umumnya mengandung senyawa organik,  karbohidrat, asam amino dan protein, lemak, asam nukleid, lignin, dan asam-asam organik. Senyawa karbohidrat, asam amino dan protein, dan lemak melalui orgaanisme tanah  dapat dirombak menjadi  senyawa organik sederhana bermanfaat bagi tanaman (Tan, 1994).  Air limbah yang diperbolehkan bagi pemupukan tanah (land application) adalah BOD tidak melebihi 5.000 mg/L, dan pH 6 – 9 (KepMen Negara Lingkungan Hidup Nomor: 29 Tahun 2003).

Perombakan bahan organik dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya   nisbah C/N organik, iklim, sifat tanah (jenis tanah),   pH tanah, suhu dan struktur  tanah  (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).   Tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM) membutuhkan unsur hara yang cukup banyak agar tanaman dapat tumbuh prima dan berproduksi optimal.  Tanaman yang kekurangan unsur hara dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi TBS, dan akhirnya mempengaruhi CPO (Lubis, 1992).

Jagung merupakan tanaman makanan pokok setelah beras, campuran pakan ternak dan industri, dapat ditanam pada berbagai jenis tanah dan dengan tanaman lainnya (AAK, 1993).  Pola tanam antara jagung dengan kelapa sawit, dan penggunaan air limbah industri sawit masih sedikit dilakukan diperkirakan hanya ada 1–2 perusahaan teruma pada tanah-tanah mineral, sedangkan pada tanah gambut belum pernah dilakukan. Sejalan dengan keinginan pemerintah melalui KepMen Negara LH Nomor: 28 dan 29 Tahun 2003,  penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan air LPKS  perkebunan kelapa sawit dengan sistem tanam bersisipan,  jagung BISI-16 ditanam di areal tanaman pokok  kelapa sawit yang masih berumur  1 tahun.  Jagung dan kelapa sawit membutuhkan unsur hara cukup banyak  sehingga pemanfaatan air limbah dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik.  Pemanfaatan air limbah juga mengurangi biaya pengolahan limbah sebesar 50-60% (Departemen Pertanian Jakarta, 2006).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dari Juni  sampai Nopember 2008 di perkebunan kelapa sawit TBM 1 (tanaman belum menghasilkan umur 1 tahun)  CV. Tani Jaya pada tanah gambut (apa jenis tanahnya?), Desa Hampalit, Kecamatan Katingan Hilir,  Kabupaten Katingan, Propinsi Kalimantan Tengah.   Penelitian dilaksanakan 2 tahap, yaitu: penelitian pendahuluan selama 1 bulan untuk analisis air LPKS di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, dan penelitian lapangan selama 4 bulan pada areal 840 m2 (0,084 ha).

Bahan yang digunakan: air  LPKS kolam III, PT. BDK  Kasongan Kabupaten Katingan,  urea 75 kg /ha, 125 kg fosfat 18%/ha, KCl 50 kg /ha, kapur dolomit {CaMg (CO3)2}500 kg/ha, benih jagung BISI-16. Alat yang digunakan: timbangan, cangkul, meteran, parang, plastik gula, tali rapia, kayu ajir, kayu tugal, clurit, gembor, botol aqua volume 600 ml, diregen, kamera foto,  alat  panen dan pencatatan data.

Penelitian menggunakan RAB (Rancangan Acak Blok) sesuai blok tanaman kelapa sawit dengan perlakuan tunggal air LPKS.  Dosis perlakuan air LPKS terdiri dari 4 taraf dosis dan kontrol, dan diulang sebanyak 5 kali yaitu 0 ton air LPKS/Ha, 1 ton air LPKS /Ha,  2 ton air LPKS/Ha, 3 ton air LPKS/Ha dan 4 ton air LPKS/Ha

Lahan di antara tanaman kelapa sawit dibersihkan dari rumputan, tumbuhan, ranting/cabang dan batang pohon hasil tebangan.  Pencangkulan pertama untuk membalik bongkahan tanah sedalam mata cangkul, dan pencangkulan kedua menghancurkan bongkahan tanah menjadi halus.    Tanah diratakan dan dibuat petakan dengan ukuran 2 x 3 m sebanyak 25 petakan.  Untuk memperbaiki pH tanah, lahan diberikan kapur dolomit 500 kg/ha dengan cara ditabur di permukaan petakan, diaduk merata, dan diinkubasikan selama 2 minggu.

Untuk mencegah benih mati, benih terlebih dahulu dikecambahkan selama 3 hari.  Selesai masa inkubasi kapur, dilakukan penanaman benih jagung dengan cara ditugal sedalam ± 5 cm sebanyak 2 biji/lubang, dan jarak tanam 75 x 40 cm.  Dosis fosfat 18% dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam.  Dosis urea diberikan 3 kali, yaitu 1/3 bagian saat tanam, 1/3 bagian saat berumur 21 HST, dan sisanya saat tanaman berumur 42 HST.  Seluruh pupuk diberikan dengan cara ditugal di kiri atau di kanan lubang tanam dengan jarak ±7 cm dengan kedalaman ±10 cm.

Pengamatan dilakukan terhadap pengamatan pendukung: (1) Analisis tingkat kesuburan tanah: pH, C-organik, N-total, P-total, K-total, Ca-dd, dan Mg-dd, dan (2) Analisis kualitas air limbah: pH, BOD, dan COD; dan pengamatan utama: (1) Tanaman jagung BISI-16: tinggi tanaman (cm), umur panen (hari), panjang tongkol tanpa berkelobot (cm), diameter tongkol tanpa kelobot (cm), hasil pipilan kering (ton/ha); (2) Tanaman kelapa sawit: tinggi tanaman (cm), jumlah pelepah daun (pelepah), dan diameter batang (cm).

  Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis kovarian pada taraf α = 5% dan  α = 1%.  Jika terdapat pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji rata-rata menggunakan BNJ pada taraf α = 5% .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Kesuburan Tanah

Hasil analisis tanah gambut pada lokasi penelitian disajikan pada Tabel 1.

C-organik dan N-total rendah, sedangkan tanah gambut umumnya sangat tinggi.  Tanah mineral/gambut mengandung c-organik di bawah 12% – 18% tidak memenuhi ketentuan di atas/mempunyai ketebalan lapisan c-organik < 50 cm digolongkan ke dalam jenis tanah bergambut/tanah mineral humik / humus  (Darmawijaya, 1997). Tingkat kesuburan kimiawi tanah bergambut lokasi penelitian secara umum rendah, ditunjukkan oleh pH, Ca-dd, Mg-dd,  KB dan KTK rendah sekali sampai rendah, kecuali P-total dan K-total sedang sampai tinggi sekali (Hardjowigeno, 1992).

 Tabel 1.  Hasil Analisis Tanah Gambut

No.

Parameter

Hasil Analisis *)

Kriteria **)

1.

pH (H20)

4,65

Rendah

2.

C-organik (%)

1,07

Rendah

3.

N-total (%)

0,26

Sedang

4.

P-total (ppm)

404,0

Tinggi sekali

5.

K-total (ppm)

392,0

Tinggi sekali

6.

Ca-dd (me/100 g)

0,723

Rendah sekali

7.

Mg-dd (me/100 g)

0,118

Rendah sekali

8.

KB (%)

6,94

Rendah sekali

9.

KTK (me/100 g)

11,9

Rendah

Sumber:  *)  UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, 2009

**)  Hardjowigeno, 1992

Kualitas Air  LPKS

Parameter kualitas air LPKS PT. BDK, seperti pH, BOD dan COD disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan KepMen Negara Lingkungan Hidup  No. 28 Tahun 2003, pH, BOD, dan COD  air LPKS PT. BDK masih di bawah ambang batas yang boleh digunakan untuk land application (aplikasi lahan) bagi perkebunan kelapa sawit.   Lubis (1992), dalam 108.000 m3 akan dihasilkan 75 kg N, 12,96 kg P, 162 kg K, 29,16 kg Mg dan 35,1 kg Ca.   Unsur-unsur ini sangat diperlukan bagi tanaman jagung dan tanaman kelapa sawit.

Tanaman Jagung

Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman (X1), umur panen (X2), panjang tongkol tanpa kelobot (X3), diameter tongkol tanpa kelobot (X4), dan hasil pipilan kering (X5) disajikan pada Tabel 3.

Tinggi Tanaman

Pada umur 2, 4, dan 6 MST dosis perlakuan 1 ton/ha air LPKS (A1), 2 ton/ha (A2), 3 ton/ha (A3), dan 4 ton/ha (A4)  tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Diduga air LPKS yang diberikan belum terurai sempurna menjadi senyawa organik sederhana yang bermanfaat bagi tanaman (Tan, 1994). Pada saat penelitian curah hujan  268,1 – 333,0 mm/bulan, curah hujan tinggi ini dapat mempengaruhi perombakan c-organik oleh mikrorganisme tanah karena kekurangan O2. Proses penguraian dipercepat pada curah hujan sedang sampai rendah.   Pada pH tanah 4,65, fungi hidupnya terhambat sehingga penguraian c-organik menjadi terlambat (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).   Nilai KB <10% terjadi hambatan laju penyediaan hara dan penyerapan unsur hara oleh tanaman (Salampak, 2000), Kalimat ini menjelaskan hasil pengamatan apa? (faktor-faktor yg mempengaruhi tidak terurai sempurnanya bahan organik).

Pada umur 8 MST tinggi tanaman dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) menunjukkan perbedaan nyata dengan dosis perlakuan  0 ton LPKS/ha (A0),  1 ton/ha (A1), dan 2 ton/ha (A2), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis perlakuan 3 ton/ha (A3). Diduga air LPKS sudah mengalami proses perombakan oleh mikroba tanah, protein menjadi amida dan asam amino sehingga mudah dihidrolisis menjadi ammonium, dan melalui nitrifikasi diubah menjadi nitrat  (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).  Darimana mengetahui bahwa air LPKS diduga mengalami proses perombakan tanah? (Teori atau tinjauan pustaka)  Apakah ada diukur jumlah mikroorganismenya? (tidak ada) Apakah ada diukur jumlah N dalam air LPKS?) (data sekunder hasil penelitian, 1996 2006).  (Air LPKS pada kolam pertama dikategorikan limbah (fat-fit) mengandung minyak dan lemak tinggi dan n total.  Pada umumnya bahan organik bisa terurai sempurna minimal 3 minggu.  Faktor2 yg berpengaruh tersebut telah disebutkan di atas.

Tabel  2.  Kualitas Air LPKS PT. BDK

No.

Parameter

Kualitas Air

Satuan

Rata-rata

Buku Mutu MENLH

1.

pH

4,21

6-9

2.

BOD

mg/L

11,87

250

3.

COD

mg/L

51,08

500

Sumber : UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, 2009

Tabel 3.     Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman (X1), umur panen (X2), panjang tongkol tanpa kelobot (X3), diameter tongkol tanpa kelobot (X4), dan hasil pipilan kering (X5).

Dosis Perlakuan

X1

X2

X3

X4

X5

2 MST

4 MST

6 MST

8 MST

0 ton air LPKS/Ha

29,22 62,67 89,72 164,17a 93,67d 16,40a 13,57a 30,67a

1 ton air LPKS /Ha

23,33 68,44 112,72 181,39a 84,00c 17,16a 15,42b 31,67ab

2 ton air LPKS/Ha

27,17 66,11 123,83 181,11a 82,33c 18,21b 16,89c 32,83bc

3 ton air LPKS/Ha

28,44 73,67 132,56 185,00ab 77,67b 20,27c 18,33d 33,83cd

4 ton air LPKS/Ha

26,56 71,50 158,11 220,78b 71,72a 22,33d 20,69cd 34,83d
Rata-rata 26,94 68,48 123,39 186,49 81,88 18,87 16,98 32,77
BNJ 5%        –        –          –   34,71   4,58   0,93   0,47   1,34

*)  Harga rata-rata yang diikuti huruf yang sama di belakang angka pada kolom yang sama, tidak menunjukkan perbedaan nyata pada taraf uji BNJ 5%.

  

Nitrogen diperlukan pada fase pertumbuhan vegetatif tinggi tanaman sampai pematangan biji.  Tanaman yang kekurangan N pada stadia muda menjadi kerdil dan daun menjadi sempit, akhirnya dapat menurunkan hasil (Suprapto dan Marzuki, 2002). Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 86,51+12,34X dan r = 0.70 (Gambar 1).

gambar 1 yulius

 Gambar 1.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap tinggi tanaman

Umur Panen

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha  (A4) memperlihatkan umur panen lebih cepat (71,72 hari), dan berbeda nyata dibandingkan dengan dosis perlakuan 3 ton air LPKS/ha (A3), 2 ton/ha (A2), 1 ton/ha (A1), dan 0 ton/ha (A0), tetapi dosis perlakuan  2 ton/ha (A2) dan 1 ton/ha (A1) tidak berbeda nyata.

Umur panen ini lebih cepat dibandingkan dengan umur panen berdasarkan kriteria deskripsi tanaman jagung BISI-16 (105 hari).  Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) dapat menyediakan hara P lebih banyak (apakah ada diukur jumlah P dalam air LPKS?) (ada data sekunder hasil penelitian, 1996, hasil ini kemudian dikonversikan= 1 ton air LPKS menghasilkan 0,12 kg P kalau 4 ton = 0,48 kg) sehingga mampu memacu pertumbuhan generatif tanaman jagung, dan pematangan buah. Rinsema (1993), unsur P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), unsur P merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih cepat berbunga dan berbuah.  Pada dosis perlakuan 0 ton air LPKS/ha (Ao), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3) umur panen lebih panjang walaupun masih lebih cepat dibandingkan umur tanaman jagung berdasarkan deskripsi tanaman.  Tanaman mendapat asupan hara P lebih sedikit.  Uji regresi dosis air LPKS pengaruhnya bersifat kuadratik dengan persamaan  Ŷ = 81,74+0,12X dan r = 0.01 (Gambar 2).

gambar 2 yulius

Gambar 2.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap umur tanaman

 

Panjang Tongkol Tanpa Kelobot

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) memperlihatkan rata-rata  tongkol tanpa kelobot terpanjang, dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya, 0 ton/ha (A0), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3), sedangkan perlakuan 0 ton/ha (A0) dan 1 ton/ha (A1) tidak berbeda antar sesamanya. Pada dosis 4 ton/ha (A4) tanaman berkecukupan mendapat asupan hara utama N dan P.  P diperoleh tanaman berasal dari dalam tanah, pemupukan fosfat 18%, dan air LPKS.   Rinsema (1993), hara P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), hara P merangsang pertumbuhan tanaman agar cepat berbunga dan berbuah.

Pada dosis 0 ton/ha (Ao) panjang tongkol tanpa kelobot lebih pendek dibandingkan perlakuan lainnya.  Tanaman sedikit mendapat asupan unsur hara P, hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%.  P-total dalam tanah cukup tinggi, namun kesediaannya sangat terbatas.  pH tanah rendah (pH 4,65), mengakibatkan unsur P terikat dan tidak tersedia bagi tanaman.  Salampak (2000), diprakirakan kandungan P-tersedia ±12% dari P-total tanah gambut.  P-total tanah gambut 404 ppm, diprakirakan tersedia hanya ±48,0 ppm.  Hardjowigeno (1992), pH di bawah 4,0 ketersediaan unsur hara makro P, Ca, Mg dan Mo dinyatakan buruk sekali.  Rinsema (1993), tanaman yang kekurangan P mengakibatkan pertumbuhannya terhambat dan produksi rendah. Uji regresi dosis air LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan  Ŷ = 15,88 + 2,49X dan r = 0,98 (Gambar 3).

Diameter Tongkol

Pada dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) ukuran diameter tongkol tanpa kelobot lebih lebar dibandingkan dosis 0 ton/ha (A0), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2) dan 3 ton/ha (A3).  Diduga mampu menyediakan unsur hara N, P dan K untuk memenuhi kebutuhan tanaman jagung dalam pembentukan buah/tongkol.  Rinsema (1993), unsur P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), unsur P merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih cepat berbunga dan berbuah. Warisno (2008), unsur hara K dibutuhkan dalam jumlah paling banyak pada titik tumbuh, unsur K diserap terbanyak pada saat perkembangan tongkol. Pengambilan unsur K diakhiri segera setelah pembungaan, tetapi N dan P berjalan terus sampai menjelang pemasakan biji.

Pada dosis 0 ton/ha (Ao) diameter tongkol tanpa kelobot lebih kecil dibandingkan perlakuan lainnya.  Tanaman sedikit mendapat asupan unsur hara P, unsur hara yang tersedia hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%. Uji regresi dosis perlakuan air LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 13,55 + 2,86X dan r = 1,0 (Gambar 4).

gambar 3 yulius

  Gambar 3.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap panjang tongkol tanpa kelobot

gambar 4 yulius

Gambar 4.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap diameter tongkol

Hasil Pipilan Kering

Pada dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) merupakan perlakuan terbaik hasil pipilan kering  dan berbeda nyata dengan dosis 0 ton/ha (Ao), 1 ton/ha (A1), dan 2 ton/ha (A2) tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 3 ton/ha (A3). Pada dosis ini tanaman berkecukupan mendapat asupan unsur hara utama P. P diperoleh tanaman dapat berasal dari dalam tanah, pemupukan fosfat 18%, dan air LPKS. Unsur hara P sangat dibutuhkan oleh tanaman jagung lebih banyak pada saat pengisian biji.  Warisno (2008), hara P diserap selama pertumbuhan setelah berbunga dan selama pemasakan biji, dan waktu biji masak, 75% dari P yang dibutuhkan  terdapat pada biji.

Pada dosis 0 ton/ha hasil pipilan kering lebih kecil dari perlakuan lainnya.  Tanaman  sedikit mendapatkan asupan hara P, unsur hara yang tersedia hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%. P dalam tanah cukup tinggi, namun kesediaannya sangat terbatas.  pH tanah yang rendah (pH 4,65) mengakibatkan unsur P terikat dan tidak tersedia bagi tanaman. Rinsema (1993), tanaman kekurangan P mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat dan produksi rendah.  Uji regresi dosis air LPKS yang dicobakan pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan  Ŷ = 30,67 + 1,75X dan r = 0,99 (Gambar 5).

 gambar 5 yulius

 Gambar 5.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap hasil pipilan kering

 

Tanaman Kelapa Sawit      

Hasil uji beda harga rata-rata  pertambahan tinggi  tanaman (X1), jumlah pelepah daun (X2), dan diameter batang (X3)  disajikan pada Tabel 4.

Tinggi Tanaman

Pada dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) mulai umur 4 s.d 10 MST merupakan perlakuan terbaik dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan, selain mengandung unsur hara makro dan unsur hara mikro, juga mengandung senyawa organik, yang terkomposisi secara seimbang sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman. Setiap unsur hara dan bahan pembawa yang terdapat di dalam LPKS sangat berperan dalam pertumbuhan tinggi tanaman.

Djafaruddin (1970) dan Setyamidjaja (2003), unsur N berperan di dalam merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman. Tanaman menyerap unsur nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3) dan ammonium (NH4+). Liliek (1990), nitrogen merupakan komponen utama penyusun asam amino, protein dan krolofil. Senyawa ini memacu proses pembelahan sel-sel baru, dan perbesaran sel-sel jaringan meristem sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Unsur hara P juga sangat berperan di dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman. Lubis (1992),  P berperan dalam proses pembelahan sel untuk membentuk organ tanaman. Sarief (1986),  unsur K merangsang titik-titik tumbuh tanaman, dan unsur Mg diperlukan sebagai penyusun khlorofil.

Pada umur 2 MST semua dosis perlakuan air LPKS tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertambahan tinggi tanaman.  Tanaman hanya mendapatkan asupan N dari dalam tanah, hasil analisis tanah kandungan N-total sedang, dan tanaman belum mendapat asupan unsur hara dari air LPKS (diberikan pada umur 3 MST). Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 9,14 + 9,34X dan r = 0.98 (Gambar 6).

Tabel 4. Hasil uji beda rata-rata pertambahan tinggi tanaman (X1), jumlah pelepah daun (X2), dan diameter batang (X3)  umur 2 s/d 10 MST (cm) pengaruh perlakuan dosis air LPKS

Dosis

Perlakuan

X1

X2

X3

2

4

6

8

10

2

4

6

8

10

2

4

6

8

10

A0

3,00 6,33a 10,33a 14,33a 18,67a 0,67 1,67 2,00 4,00 4,67a 1,33 4,17 7,50 10,33 13,17

A1

3,67 9,67ab 14,00a 18,33a 23,00a 1,00 2,33 3,00 4,33 5,00ab 1,67 4,83 10,50 14,00 16,83

A2

2,67 11,67bc 20,33b 27,67b 34,00b 0,67 2,33 3,67 4,67 5,67ab 1,67 5,17 11,17 15,00 18,33

A3

3,67 14,67cd 26,67c 37,67c 45,00c 1,33 2,00 4,00 5,00 6,00ab 1,00 5,50 11,67 15,17 19,0

A4

2,67 17,33d 33,33d 49,67d 60,33d 0,67 2,67 3,67 5,67 6,67b 1,67 6,67 12,17 15,83 19,67

Rata-rata

3,13 11,93 20,93 29,53 36,20 0,87 2,20 3,27 4,73 5,60 1,47 5,27 10,60 14,67 17,40

BNJ 5%

3,63 4,06 4,33 5,66

1,89

*)     Harga rata-rata yang diikuti huruf yang sama di belakang angka pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf  uji BNJ 5%

gambar 6 yulius

Gambar 6.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap pertambahan tinggi tanaman

 

Jumlah Pelepah Daun

Pada umur 2, 4, 6, dan 8 MST semua dosis perlakuan air LPKS tidak berpengaruh terhadap jumlah pelepah daun.  Proses pembentukan pelepah daun kelapa sawit jauh lebih lambat dibandingkan dengan pertambahan tinggi tanaman karena dalam 1 bulan jumlah pelepah daun kelapa sawit yang terbentuk hanya  2 pelepah.  Sastrosayono (2003), jumlah pelepah daun yang terbentuk selama 1 tahun adalah 20 – 30 pelepah (1-2 pelepah/bulan).

Pada umur 10 MST dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) berbeda nyata dengan dosis 0 ton/ha (Ao), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3).  Dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) mampu memberikan asupan unsur hara ke dalam tanah dalam jumlah yang cukup sehingga mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Meningkatnya penyerapan N akan meningkatkan pengiriman N ke tajuk, dan kondisi tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan kecepatan siklus inisiasi daun (Tolley dan Raper dalam Ruffty, 1997). Suwandi dan Chan (1982),  unsur N menyebabkan perkembangan permukaan daun yang lebih cepat, sedangkan unsur P, K, Mg, dan Ca, berperan dalam menunjang pertumbuhan lebar daun. Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 2,72 + 0,51X dan r = 0.95 (Gambar 7).

 gambar 7 yulius

Gambar 7.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap pertambahan diameter batang

 

KESIMPULAN

Dosis perlakuan air LPKS  pada umur 8 MST berpengaruh positip terhadap tinggi tanaman dan pada semua variabel  generatif jagung BISI -16.

Dosis perlakuan air LPKS berpengaruh positip pada tinggi tanaman kelapa sawit umur 4 s.d 10 MST, tetapi  tidak berpengaruh terhadap pertambahan jumlah pelepah  daun (kecuali umur 10 MST), dan diameter batang.

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) merupakan perlakuan terbaik  terhadap komponen tanaman jagung BISI-16 dan vegetatif kelapa sawit.  Ada korelasi positip antara dosis perlakuan air LPKS dengan pertumbuhan dan hasil jagung BISI-16, dan kelapa sawit.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan dosis perlakuan air LPKS  yang lebih tinggi, agar pemberian air LPKS mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung dan kelapa sawit.

UCAPAN TERIMA KASIH

Diucapkan terima kasih kepada Program Hibah Kompetisi A-2 TA. 2008 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional atas bantuan dananya.

DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kanisius (AAK). 1993.  Teknik Bercocok Tanam Jagung.  Penerbit  Kanasius, Yogyakarta.

Anonim.  1977.  Pedoman Bercocok Tanam Padi, Palawija dan Sayuran.  Badan Pengendali Bimas, Jakarta.

Buckman, H.O. dan N.C.  Brady.  1982.  Ilmu Tanah (Terjemahan). Bhatara Aksara, Jakarta.

Darmawijaya, I. 1980. Klasifikasi Tanah. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Departemen Pertanian Jakarta.  2006.  Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit.  Subdit Pengelolaan Lingkungan Direktorat Pengelolaan Hasil Pertanian Ditjen PPHP, Jakarta.

Direktur Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian.  2008.  Kebijakan Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia.  Dalam Materi Narasumber Seminar Nasional Pembangunan Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan di Kalimantan Tengah.  GPU Tambun Bungai, Palangka Raya, 12 Februari 2008.  Hal. 1-16.

Djafaruddin. 1970. Pupuk dan Pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang.

Gomez, K. A dan A. Gomez.  1983.  Statistical Procedures for Agricultural Research.  2nd Edition.  John Wiley & Sons, New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore

Halim, A.  1985.  Upaya Memproduksi Tanah Gambut Pedalaman Kalimantan Khusus Bereng Bengkel.  Makalah Seminar Kebutuhan dan Pemanfaatan Tanah Gambut di Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

Hardjowigeno, S.  1992.  Ilmu tanah.  Mediyatama Swadaya, Jakarta.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis Pengkajian Pemanfaatan Air Limbah dari Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat dan Tatacara Perizinan Pemanfaatan Air Limbah Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.

Lubis, U. 1992.  Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Pusat Penelitian Perkebunan Marihat-Bandar Kuala, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Salampak.  2000.  Beberapa Sifat Kimia Tanah Gambut Kalimantan Tengah Berdasarkan Lingkungan Pembentukannya.  Jurnal Agripeat. Vol. I No. 1, September 2000: 9 – 16.

Sarief, S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.

Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Setyamidjaja, D.  2003.  Budidaya Kelapa Sawit.  Kanisius.  Yogyakarta.

Sitompul, S. M., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah mada University Press. Yogyakarta.

Suprapto dan H.A. Marzuki.  2002.  Bertanam Jagung, Penebar Swadaya, Jakarta.

Rinsema, W. T.  1993.  Pupuk dan Cara Pemupukan.  Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Ruffty, T. W. 1997. Probing the carbon and nitrogen interaction : a whole plant perspective. A Moleculer Approach to Primary Metabolism in Higher Plants (C. H. Foyer and W. P. Quick/Ed. Taylor & Francis. London. 255-274.

Tan, H.  1994.  Environmental Soil Science.  Marcel Dekker, Inc.  New York, Basel, Hongkong.

Warisno.  2008.  Seri Budi Daya Jagung HibridaKanisius, Yogyakarta.

Wright, C.J. 1989. Interactions between vegetative and reproductive growth. p: 15 – 28 In Wright, C.J.(edt.) Manipulation of Fruiting. Butterworthsbatang


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: