JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 No. 2 September 2012 Risiko Produksi Usaha Tani == Erlinda Yurisinthae
5 September 2013, 12:06 pm
Filed under: Penelitian

RISIKO PRODUKSI USAHATANI PADI PADA LAHAN PASANG SURUT

DI KABUPATEN KUBU RAYA

(Rice Farming Production Risk in Tidal Swamp Areas in Kubu Raya District)

 

Erlinda Yurisinthae

Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

e-mail : erlindayurisinthae@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

West Kalimantan province has an area of ​​14,680,700 ha and 15.13 percent is wetlands. KKR is a buffer zone for the city of Pontianak, including in support consumption of rice in this community in the city of Pontianak. KKR cultivated rice farming in the tidal area. Entirely many rice farming technology in tidal areas developed and introduced by the government to farmers. But unavoidable that rice farming is closely related to natural factors that cause risks. The method used in the study is survey method. Location was determined on sub-district Sungai Kakap. Population is all rice farmers totaling 5127 people. Sampling technique implemented by the multistage cluster sampling. Farmer respondents totaled 60 farmers (37 farmers used Ciherang and 23 farmers used non Ciherang). The research variables are the production and productivity of rice farming. Data analysis used F test, t test and analysis of coefficient variation. Ciherang rice farming, rice production quantities produced an average of 3367 tones/season. The average productivity of Ciherang is 2.497 tons/ha. While for non Ciherang, total production of rice produced an average of 3182 tones/season. The average productivity of non Ciherang is 2.457 tons/ha. Consider from the data, production of rice farming Ciherang and non Ciherang are under potential production. Based on the F test and t test, there were no statistically significant differences in the production and productivity of rice farming that uses a variety Ciherang and non Ciherang. Based on the calculation of the coefficient of variation (CV) in rice farming obtained CV Ciherang is 17% while the non Ciherang CV is 18%. The source of risks in rice farming Ciherang is not to implementation of cultivation techniques according to the recommendation.

Key words : Production risk, rice farming, tidal swamp area.

ABSTRAK

Provinsi Kalimantan Barat memiliki luas 14.680.700 ha dan 15,13 persen merupakan lahan basah. Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan daerah penyangga bagi Kota Pontianak, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam hal ini konsumsi beras masyarakat.  Usahatani padi di KKR juga diusahakan di daerah pasang surut.  Cukup banyak teknologi usahatani padi di daerah pasang surut yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh pemerintah kepada petani. Namun, tidak dapat dihindarkan bahwa padi merupakan tanaman yang sangat erat kaitannya dengan faktor alam yang menyebabkan terjadinya risiko dalam usahatani.  Metoda yang digunakan dalam penelitian adalah metoda survey.  Lokasi ditentukan secara sengaja di Kecamatan Sungai Kakap KKR.  Populasi adalah seluruh petani padi berjumlah 5.127 orang. Teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan metoda multistage cluster sampling. Petani responden berjumlah 60 petani (37 petani mempergunakan varietas Ciherang dan 23 petani mempergunakan varietas non Ciherang).  Variabel penelitian adalah produksi dan produktivitas usahatani padi. Analisis data dipergunakan uji F, uji t dan analisis koefisien variasi (CV). Usahatani padi dengan varietas Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.367 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,497 ton/ha.  Sedangkan untuk  untuk usahatani padi dengan varietas non Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.182 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,457 ton/ha. Dilihat dari produksi, maka usahatani padi Ciherang maupun non Ciherang di lokasi penelitian masih dibawah potensi produksi. Berdasarkan uji F dan uji t, tidak terdapat perbedaan secara statistik produksi dan produktivitas usahatani padi yang mempergunakan varietas Ciherang dengan varietas non Ciherang. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien variasi pada usahatani padi diperoleh hasil CV usahatani Ciherang sebesar 17% sedangkan untuk usahatani non Ciherang diperoleh CV sebesar 18%.  Sumber risiko pada usahatani padi Ciherang adalah dari belum diterapkannya teknik budidaya yang sesuai dengan rekomendasi.

Kata kunci : Risiko produksi, usahatani padi, lahan pasang surut

 


PENDAHULUAN

 

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia.  Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi jutaan rumahtangga pertanian.  Selain itu juga, beras merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga ketersediaan produksi beras dalam negeri menjadi tolak ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia.  Oleh karena itu, dapat difahami jika campur  tangan pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya meningkatkan produksi dan stabilitas harga beras.

Beras merupakan komoditas pangan yang sangat penting di Indonesia, karena lebih dari 95 persen penduduk Indonesia menggunakan beras sebagai bahan pangan pokok.  Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi dengan tujuan keamanan pangan, pendapatan serta peningkatan kesejahteraan petani (Wahyuningsih, 2012).

Peningkatan produksi padi yang selama ini dilaksanakan dicapai dengan cara intensifikasi (penggunaan varietas unggul dan perbaikan teknik budidaya) serta dengan cara ekstensifikasi (perluasan lahan pertanian).  Untuk perluasan lahan pertanian, saat ini padi tidak saja diusahakan pada areal persawahan di Pulau Jawa, namun juga dikembangkan pada lahan-lahan gambut di luar Pulau Jawa, khususnya Pulau Kalimantan.  Bahkan sesuai dengan pembagian daerah pengembangan pada program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI ), pulau Kalimantan diarahkan sebagai koridor yang nantinya akan bertindak sebagai lumbung energi.

Berdasarkan data dari Forest Climate Center, Provinsi Kalimantan Barat  (Kalbar) memiliki luas 14.680.700 ha dan 15,13 persen merupakan lahan basah (Forest Climate Center, 2011). Lahan rawa di Provinsi Kalbar diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu lahan rawa pasang surut air asin / payau, lahan rawa pasang surut air tawar dan lahan rawa lebak / non pasang surut. Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan satu diantara kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.  KKR merupakan daerah penyangga bagi Kota Pontianak, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam hal ini konsumsi beras masyarakat di Kota Pontianak.

Usahatani padi di KKR diusahakan di daerah pasang surut.  Cukup banyak teknologi usahatani padi di daerah pasang surut yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh pemerintah kepada petani, antara lain adalah penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang serta pemanfaatan tata air.  Namun tidak dapat dihindarkan bahwa padi merupakan tanaman yang sangat erat kaitannya dengan faktor alam.  Alam merupakan suatu ketidakpastian yang menyebabkan terjadinya risiko dalam usahatani.

Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan satu kabupaten baru yang terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 2007.  Secara administrasi KKR merupakan kabupaten dengan wilayah yang cukup luas, yaitu mencapai 6.985,20 km2 yang terdiri dari Sembilan kecamatan dan 106 desa. Produktivitas usahatani padi sawah di KKR menduduki tempat kedua sesudah Kabupaten Sambas (Taufik, 2011).

Taufik (2011) menyatakan bahwa dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kubu Raya, Kecamatan Sungai Kakap merupakan satu kecamatan yang menjadi wilayah pusat pengembangan benih padi oleh UPT UPBTPH Provinsi Kalimantan Barat, sehingga wilayah demplot penanaman benih padi sebagian besar berada pada wilayah di kecamatan ini.  Berdasarkan tipe luapan, padi sawah di Kecamatan Sungai Kakap memiliki tipe lahan pasang surut tipe A, yaitu lahan yang terluapi baik pada saat pasang besar maupun pasang kecil.

Pemanfaatan lahan pasang surut untuk budidaya tanaman khususnya padi, menghadapi  beberapa masalah diantaranya ialah kesuburan tanah yang rendah , reaksi tanah yang masam, adanya pirit, tingginya kadar Al, Fe, Mn,  dan asam organik, kahat P, miskin kation basa seperti Ca, K, Mg serta tertekannya aktivitas mikroba.  Masalah-masalah tersebut menyebabkan produktivitas tanah sulfat masam menjadi rendah. Disamping itu lahan pasang surut umumnya mempunyai tingkat kesuburan yang sangat heterogen, sehingga menyebabkan tanaman padi tidak tumbuh merata (Utami, 2009). Berdasarkan penelitian Akhmad (1997 dalam Taufik, 2011) kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan lahan pasang surut di Kecamatan Sungai Kakap adalah kedalaman dan ketebalan gambut, persen sulfidik dan sulfat yang tinggi serta kedalaman air tanah.

Pada model Neoklasik, analisis risiko digambarkan sebagai uncertainty berkenaan dengan iklim atau cuaca dengan dua kejadian yaitu cuaca baik dan cuaca buruk (Ellis, 1998 dalam Wahyuningsih, 2012).  Penilaian risiko produksi dapat dihitung dengan mempergunakan varians, standar deviasi dan koefisien variasi. Penilaian risiko produksi dilakukan dengan mengukur nilai penyimpangan yang terjadi.  Ketiga ukuran tersebut berkaitan dan nilai varians adalah sebagai penentu ukuran yang lainnya.

Pada  dasarnya  terdapat  beberapa  definisi mengenai  risiko. Secara  umum risiko dibedakan dengan kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian merupakan suatu kondisi yang tidak dapat diketahui atau diperkirakan sebelumnya oleh pengambil keputusan,  sedangkan  risiko  adalah  suatu  kondisi  yang  berhubungan  dengan peluang  terjadinya  kerugian  atau  keuntungan  (Fleisher, 1990 dalam Utami, 2009).

Lee et al. (1980) mengklasifikasikan ketidak pastian di bidang pertanian menjadi enam tipe, yaitu: (1) ketidakpastian produksi yang penyebabnya terkait dengan faktor alam (kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan, serangan hama/penyakit); (2) resiko bencana yang sulit diprediksi misalnya kebanjiran, kebakaran, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan sebagainya; (3) ketidakpastian harga masukan maupun keluaran, (4) ketidak pastian yang terkait dengan ketidak-tepatan teknologi sehingga produktivitas jauh lebih rendah dari harapan; (5) ketidakpastian akibat tindakan pihak lain (sabotase, penjarahan, ataupun adanya peraturan baru yang menyebabkan usahatani tak dapat dilanjutkan; dan (6) ketidakpastian yang sifatnya personal, misalnya petani/anggota keluarganya sakit atau meninggal dunia. Resiko yang terkait tipe (1) dan (2) kadangkala bersifat katastropik dan dapat menyebabkan gagal panen dalam skala yang luas.

Menurut Soekartawi (1993) sumber ketidakpastian yang penting di sektor pertanian adalah adanya fluktuasi hasil pertanian dan fluktuasi harga.  Ketidakpastian akibat fluktuasi hasil pertanian disebabkan faktor alam, sedangkan ketidakpastian akibat fluktuasi harga disebabkan oleh harga yang terus mengalami perubahan. Hal yang sama dikemukakan oleh Iturrioz (2009) yang menyatakan bahwa dua resiko utama di bidang pertanian yang menjadi perhatian, adalah resiko harga pertanian yang disebabkan oleh volatilitas potensial dari harga dan resiko produksi yang disebabkan oleh ketidakpastian tentang tingkat produksi yang dapat dicapai produsen primer dari kegiatan mereka saat ini.

Pengembangan padi di lahan rawa menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi padi.  Kontribusi peningkatan produktivitas yang dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) terhadap produksi nasional mencapai 56,1 %, lebih besar dibanding kontribusi perluasan areal yang hanya 26,3 % (Las dkk., 2004 dalam Hendayana, 2013). Namun penggunaan VUB belum menjadi jaminan akan keberhasilan usahatani, karena besarnya ketergantungan kegiatan usahatani dengan faktor lingkungan.

Berdasarkan paparan di atas dapat dikemukakan bahwa usahatani padi pada lahan pasang surut memiliki risiko  terutama risiko produksi.  Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya risiko produksi usahatani padi pada lahan pasang surut tipe A di Kecamatan Sungai Kakap.

 

METODE ANALISIS

 

Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda survey.  Lokasi ditentukan secara sengaja di Kecamatan Sungai Kakap KKR dari bulan September 2010 sampai Maret 2011.  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani padi yang terdapat di Kecamatan Sungai Kakap KKR berjumlah 5.127 orang (Pemerintah Kecamatan Sungai Kakap, 2010).

Teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan metoda multistage cluster sampling), di mulai dengan sample desa, dilanjutkan dengan sampel kelompok tani.  Petani  responden ditentukan secara acak dari masing-masing sampel kelompok tani.  Berdasarkan metoda tersebut diperoleh 60 responden (37 responden mempergunakan varietas Ciherang dan 23 responden mempergunakan varietas non Ciherang).  Untuk benih varietas padi varietas non Ciherang diperoleh petani dengan cara mempergunakan benih padi dari musim panen sebelumnya.

Variabel penelitian adalah produksi dan produktivitas usahatani padi. Analisis data dipergunakan (1) Analisis beda dua varian dengan metoda F test (Snedecor dan Cochran, 1973; Sumodiningrat, 1996), diikuti dengan uji t dengan sampel independen (Sugiyono, 2007). Selanjutnya analisis risiko produksi usahatani pada dua tipe varietas dilanjutkan dengan mempergunakan analisis koefisien variasi (Snedecor dan Cochran, 1973; Kay, 1981).

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Secara teknis, pada usahatani dengan menggunakan benih varietas Ciherang, pengolahan lahan dilaksanakan dengan pengolahan tanah dan penggunaan pupuk, Pada usahatani non Ciherang, usahatani dilaksanakan secara tanpa olah tanah (TOT) dan tidak menggunakan pupuk. Adapun karakteristik responden secara umum dibedakan menjadi usahatani padi dengan varitas Ciherang dan non Ciherang ditampilkan pada tabel 1.

Untuk produksi, diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi dengan varietas Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.367 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,497 ton/ha.  Angka ini masih belum mencapai rata-rata produktivitas nasional yang sebesar 6,0 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 8,5 ton/ha (Wongtaniku, 2013). Sedangkan untuk  untuk usahatani padi dengan varietas  Non Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.182 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,457 ton/ha.

Dilihat dari produksi, maka usahatani padi Ciherang maupun non Ciherang di lokasi penelitian masih dibawah potensi produksi. Berdasarkan hasil penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah,  bahwa produktivitas padi lokal sangat tergantung dengan tipologi luapan, macam varietas, dan interaksinya.  Produktivitas tertinggi sebesar 3,82 ton/ha  dihasilkan oleh padi varietas Siam Adus yang dibudidayakan di lahan dengan tipe luapan A, sedang produktivitas terendah sebesar 2,29 ton/ha dihasilkan oieh padi varietas Siam Unus yang dibudidayakan di lahan bertipe luapan B (BPTP Kalteng, 2013)

Berdasarkan uji F, tidak terdapat perbedaan varian antara produksi dan produktivitas antara varietas padi Ciherang dan non Ciherang.  Demikian juga berdasarkan hasil uji t, tidak terdapat perbedaan secara statistik produksi dan produktivitas usahatani padi yang mempergunakan varietas Ciherang dengan varietas non Ciherang.

Tabel 1. Karakteristik responden pada usahatani adi di Kecamatan Sungai Kakap

Gambar Tab 1 Erlinda Sumber : Data Primer, 2011.

 Berdasarkan hasil perhitungan koefisien variasi pada usahatani padi dengan mempergunakan varietas Ciherang diperoleh hasil sebesar 17% sedangkan untuk usahatani Non Ciherang diperoleh hasil sebesar 18%.  Berdasarkan data tersebut dapat diketahui dengan dengan perbedaaan produksi dan produktivitas yang tidak berbeda, risiko usahatani padi dengan mempergunakan varietas Ciherang lebih kecil daripada usahatani padi dengan mempergunakan varietas non Ciherang. Namun, perbedaan risiko produksi usahatani ini tidak terlalu besar, yaitu terdapat perbedaan sebesar 1%.

Jika dilihat dari risiko pada usahatani padi Ciherang sumber risiko adalah dari belum diterapkannya teknik budidaya yang sesuai dengan rekomendasi.  Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Taufik (2011), tidak semua lahan usahatani memiliki sistem tata air yang memadai.  Padahal menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian (2013), keberhasilan usahatani pada agroekosistem lahan pasang surut antara lain terletak pada ketepatan pengelolaan lahan dan air. Dengan pengelolaan yang tepat, seperti proses pencucian bahan beracun pada tanah mineral potensial dan sulfat masam serta proses pematangan (dekomposisi) gambut dan konservasi lahan terealisasi dengan baik, maka produktivitas lahan dan tanaman meningkat.

Untuk varietas Ciherang sesuai dengan rekomendasi maka jumlah pupuk dan waktu pemupukan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaannya pada lahan usahatani. Rekomendasi pemupukan adalah
: (1) pemupukan pertama, pupuk Urea 100kg/hektar, SP36 100kg/hektar, waktunya diberikan 1 hari sebelum tanam; (2) pemupukan ke 2 Urea 100kg/hektar, waktunya 15 hari sesudah tanam, dengan cara di semprotkan; (3) pemupuken ke 3 Urea 100kg/hektar, waktunya padi berusia 45 tahun setelah tanam, dengan cara di semprotkan ke tanaman (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian, 2013).

Pemupukan yang dilakukan oleh petani di lokasi penelitian adalah 122,17 kg/ha (Urea), 53,50 kg/ha (SP 36) dan 42,07 kg/ha (KCl).  Dosis pemupukan yang dilakukan oleh petani belum sesuai dengan rekomendasi. Hal ini sejalan dengan penelitian Taufik (2011) yang menyimpulkan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi pupuk di lokasi penelitian yang belum efisien. Permasalahan produktivitas usahatani padi lahan pasang surut yang rendah ini diduga berkaitan erat dengan persoalan efisiensi penggunaan input. Alokasi penggunaan input juga diduga masih belum optimal (Kurniawan, 2013).

Untuk usahatani padi dengan mempergunakan varietas non Ciherang, interaksi dan pemahaman petani terhadap kondisi lingkungan setempat membentuk suatu sistem pengetahuan lokal yang mampu dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai kendala dalam mengelola lahan rawa pasang surut.  Dalam proses pengembangannya pengetahuan lokal masyarakat ini menjadi dasar utama yang membentuk karakter dan sistem sosial masyarakat petani di lahan rawa pasang surut.

Keunggulan dan kelemahan padi varietas lokal ini sudah sejak lama diketahui masyarakat petani setempat, dan dengan kondisi inilah pengetahuan lokal mereka tentang pengelolaan padi di lahan rawa pasang surut dikembangkan. Kekhasan dan sifat spesifik dalam budidaya padi lokal di lahan rawa pasang surut ini melahirkan berbagai pengetahuan lokal petani baik yang menyangkut kondisi biofisik lahan rawa pasang surut serta tanaman padi itu sendiri, juga menyangkut berbagai dimensi  sosiologis dalam sistem pertanian padi di lahan rawa pasang surut.  Masing-masing tipe luapan lahan rawa pasang surut ternyata juga memiliki kekhasan tersendiri, disamping berbagai persamaan mendasar dalam teknik budidayanya.  Perbedaan-perbedaan yang ada ini juga melahirkan berbagai pengetahuan lokal tersendiri pada tipe-tipe lahan rawa pasang surut tersebut.

 

KESIMPULAN

 

  1. Pada usahatani di lahan pasang surut tipe A, tingkat risiko usahatani yang mempergunakan varietas Ciherang sebesar 17%, sedangkan untuk usahatani non Ciherang diperoleh hasil sebesar 18%.
  2. Sumber risiko produksi usahatani yang mempergunakan varietas unggul Ciherang berasal dari pemupukan yang belum sesuai dengan dosis rekomendasi.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian. 2013. Budidaya Padi Unggulan Varietas Ciherang dalam http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/%E2%80%9Cbudidaya-padi-unggulan%E2%80%9D-varietas-ciherang

BPTP Kalteng. 2013.  http://kalteng.litbang.deptan.go.id

Forest Climate Center. 2011. http://forestclimatecenter.org/redd/2011

Hendayana, Rachmat. 2013.  Strategi Pengembangan Padi Varietas Unggul di Lahan Pasang Surut Dan Rawa. http://rhendayana.files.wordpress.com/

Iturrioz, Ramiro. 2009. Agriculture Insurance, Primer Series on Insurance. World Bank.

Kay, R.D. 1981. Farm Management Planning Control and Implementation. International Student Edition, Mc. Graw Hill International Book Company, New York.

Kurniawan, Ahmad Yousuf. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Teknis pada Usahatani Padi Lahan Pasang Surut  di Kecamatan Anjir Muara  Kabupaten Barito Kuala  Kalimantan Selatan. Jurnal Agribisnis Perdesaan Volume 02 Nomor 01 Maret 2012.

Lee W.F., M.D. Boehlje, A.G. Nelson and W.G. Murray. 1980.  Agricultural Finance. Seventh Edition of the Iowa State University Press Ames.

Pemerintah Kecamatan Sungai Kakap. 2010. Monografi Kecamatan Sungai Kakap. Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Snedecor, George W. and W.G. Cochran. 1973. Statistical Method, Sixth Edition. The Iowa State University Press, Ames, Iowa.

Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasinya, Rajawali Press, Jakarta.

Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung.

Sumodiningrat, G. 1996. Pengantar Ekonometrika. BPFE, Yogyakarta.

Taufik, Muhammafd. 2011. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Tesis, Program studi Magister Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Tidak Dipublikasikan, Pontianak.

Utami, Ririn. 2013. Pengukuran Resiko Dan Distribusi Probabilitas Pengukuran Resiko. http://Utamiririnquinshaa.Blogspot.Com

Wikipedia, 2013. http://wikiindonesia.org

Wongtaniku, 2013. Deskripsi varietas Ciherang. http://wongtaniku.wordpress.com/2009/05/21/

Wahyuningsih, Iriana. 2012.  Analisis Risiko Produksi dan Perilaku Penawaran Cabai Merah di Desa Perbawati. www . repository .ipb.ac.id/browse?value=Wahyuningsih%2C+Iriana.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: