JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 No. 2 September 2012 == PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI MAJEMUK CAIR DAN BOKASHI == Erina Riak Asie
5 September 2013, 11:59 am
Filed under: Penelitian

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI MAJEMUK CAIR DAN BOKASHI KOTORAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PADA TANAH GAMBUT

(Effects of Biological Compound Liquid Fertilizer and Chicken Manure Bokashi on Growth and Yield of Soybean on Peat Soil)

 

Erina Riak Asie

Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Palangka Raya

Email : ninalambung@ymail.com

 

ABSTRACT

Soybean is a crop that requires a relatively large number of N, so that the availability of N in the soil is often an obstacle. Therefore, the increased availability of N soil through organic fertilizer and plant symbiosis with N fixation bacteria is very important. Research carried out to assess the response of soybean plants in peat soil against biological compound liquid fertilizer and chicken manure bokashi. Treatment in this study is a combination of biological compound liquid fertilizer complete bifactor and chicken manure bokashi. The first factor is the liquid biological fertilizer compound consisting of four dose levels, namely 0, 2ml/200, 4ml/200, and 6 ml/200 ml water. The second factor is the chicken manure bokashi, consisting of four dose levels, namely 0, 5, 10, 15 ton/ha, assessed by using a completely randomized design (CRD) factorial with three replications. The results showed that the biological compound fertilizer liquid with a dose of 4 or 6 ml/200 ml of water with provision of 15 ton/ha chicken manure bokashi is the best combination, because it is able to deliver growth and highest yield compared to other treatment combinations. Heaviest seed weight per plant obtained in the treatment combination is 18.60 to 19.10 g / plant.

Key words : Biological compound liquid fertilizer, Chicken manure bokashi,           Soybean, Peat soil

 

ABSTRAK

Tanaman kedelai merupakan tanaman yang relatif banyak membutuhkan unsur N, sehingga ketersediaan N dalam tanah sering menjadi kendala.  Oleh karena itu, peningkatan ketersediaan N tanah melalui pemberian pupuk organik dan simbiosis tanaman dengan bakteri penambat N sangat penting. Penelitan dilaksanakan untuk mengkaji respons tanaman kedelai pada tanah gambut terhadap pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam.  Perlakuan dalam penelitian ini adalah kombinasi lengkap bifaktor pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam.  Faktor pertama adalah pupuk hayati majemuk cair yang terdiri atas empat taraf dosis, yaitu 0, 2ml/200, 4ml/200, dan 6 ml/200 ml air.   Faktor kedua adalah bokashi kotoran ayam, terdiri atas empat taraf dosis, yaitu 0, 5, 10, 15 ton/ha, dikaji dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati majemuk cair dengan dosis 4 mL/200 mL air atau 6 mL/200 mL air  bersama pemberian 15 t/ha bokashi kotoran ayam merupakan kombinasi terbaik, karena mampu memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya.  Bobot biji per tanaman terberat yang diperoleh pada kombinasi perlakuan tersebut adalah  adalah  18,60 – 19,10 g/tanaman.

Kata kunci :     Pupuk hayati majemuk cair, Bokashi kotoran ayam, Kedelai, Tanah gambut.

 


PENDAHULUAN

Tanaman kedelai merupakan tanaman penghasil bahan pangan sumber protein nabati berkualitas tinggi yang harganya relatif murah, sehingga kedelai mempunyai potensi besar sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat Indonesia.  Sebagai sumber protein, kedelai menduduki tempat pertama di antara tanaman kacang-kacangan.  Saat ini kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang penting setelah beras, di samping sebagai bahan pakan dan industri, hampir 90% kebutuhan kedelai digunakan sebagai bahan pangan, sehingga ketersediaan kedelai menjadi faktor yang cukup penting.

Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun terus mengalami peningkatan.dan belum dapat diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga setiap tahun Indonesia harus mengimpor kedelai.  Pada tahun 2011, impor kedelai Indonesia mencapai lebih dari 2 juta ton (BPS, 2012).

Untuk memacu perkembangan produksi kedelai di dalam negeri, ditempuh berbagai cara, diantaranya perluasan areal penanaman dan peningkatan produktivitas. Perluasan areal pertanaman kedelai dilaksanakan dengan memanfaatkan tanah marjinal yang tersedia cukup luas terutama yang terdapat di luar pulau Jawa, seperti tanah gambut.  Tanah gambut mempunyai faktor pembatas yang relatif banyak dalam pemanfaatannya sebagai lahan pertanian, antara lain reaksi tanah masam dengan kapasitas tukar kation sangat tinggi tetapi kejenuhan basa sangat rendah.  Kondisi demikian tidak mendukung tersedianya unsur hara yang memadai untuk tanaman terutama unsur K, Mg, Ca, di samping N dan P (Barchia, 2006).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut antara lain dengan pemberian pupuk hayati dan pupuk organik yang merupakan sistem pertanian berwawasan lingkungan. Simarmata dan Hindersah (1999) mengemukakan bahwa aplikasi pupuk biologis atau pupuk hayati yang tepat dapat meningkatkan hasil berbagai tanaman dengan signifikan dan menekan pemakaian pupuk buatan.  Salah satu jenis pupuk biologis adalah pupuk hayati majemuk cair yang mengandung beberapa mikroba seperti Rhizobium sp, Azospirillum sp, Azotobacter sp, dan bakteri pelarut fosfat.   Bashan dan Holguin (1997) menyatakan bahwa penggunaan inokulan campuran Bradyrhizobium dan Azospirillum dapat meningkatkan hasil tanaman legum dibandingkan hanya inokulan tunggal Bradyrhizobium.  Hasil penelitian Asie (2005) menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati majemuk bersama pemberian bahan organik dapat meningkatkan nodulasi dan hasil kedelai pada Ultisol.

Limbah pertanian yang berupa bahan organik, telah lama diketahui dapat digunakan sebagai bahan pembenah tanah yang dapat meningkatkan pH tanah dan meningkatkan ketersediaan hara.  Pemanfaatan limbah pertanian perlu dilakukan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan. Salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik adalah pupuk kotoran ayam.

Pupuk kotoran ayam adalah salah satu jenis pupuk organik yang merupakan pupuk lengkap karena mengandung unsur hara makro dan mikro. Walaupun kandungan haranya dalam jumlah relatif rendah, pupuk kotoran ayam dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah, yaitu memperbaiki struktur tanah, mempertinggi bahan organik, dan mendorong kehidupan mikroba tanah sehingga mempercepat proses dekomposisi bahan organik.  Hasil penelitian Asie et al. (2009) menunjukkan perpaduan antara 2 t/ha dolomit bersama 15 t/ha pupuk kotoran ayam mampu meningkatkan hasil kedelai pada tanah gambut pedalaman. Hasil penelitian Yunizar et al., (2011) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 10 t/ha yang dikombinasikan dengan sistem tanpa olah tanah (TOT) pada lahan pasang surut mampu memberikan hasil biji kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk organik lainnya, yaitu sebesar 2,20 t/ha.

Manfaat pupuk kotoran ayam untuk meningkatkan produktivitas tanah memang tidak diragukan lagi.  Namun, pupuk kotoran ayam juga memiliki pengaruh negatif bagi tanaman, jika pupuk kotoran ayam yang digunakan belum terdekomposisi dengan baik. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dan untuk meningkatkan kualitas pupuk kotoran ayam, dapat dilakukan dengan pembuatan bokashi pupuk kotoran ayam.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh  interaksi antara pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam yang diberikan dengan dosis meningkat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah gambut.  Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan yang memberikan hasil tertinggi tanaman kedelai pada tanah gambut.

BAHAN DAN METODE

          Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya, pada bulan Juli sampai Desember 2012. Perlakuan dalam penelitian ini adalah kombinasi lengkap bifaktor pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam.  Faktor pertama adalah pupuk hayati majemuk cair yang terdiri atas empat taraf takaran, 0, 2ml/200, 4ml/200, dan 6 ml/200 ml air. Faktor kedua adalah bokashi kotoran ayam, terdiri atas empat taraf takaran, yaitu 0, 5, 10, 15 ton/ha. Enam belas kombinasi perlakuan dikaji dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga ulangan, sehingga terdapat 48 satuan percobaan.  Pupuk hayati majemuk cair diberikan 4 kali, yaitu pada saat tanam dan pada saat tanaman berumur  1, 2, dan 3 mst. Satuan percobaan adalah dua tanaman pada tanah 8 kg dalam polibeg. Variabel yang diamati adalah  tinggi tanaman  pada umur 45 hst,  polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan hasil bobot kering biji per tanaman. Data hasil percobaan dianalisis dengan sidik ragam univariat (anova) yang diikuti dengan uji BNT pada taraf α = 0,05.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Pengaruh interaksi antara pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam terhadap tinggi tanaman teruji nyata.  Tanaman kedelai memberikan respons yang sangat baik terhadap pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam.  Hal itu terlihat dari variabel pertumbuhan, yaitu tinggi tanaman pada umur 45 hari setelah tanaman (hst) yang menunjukkan bahwa tanaman kedelai yang tidak diberi pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam lebih rendah dibandingkan dengan tinggi tanaman yang diberi pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam. Peningkatan dosis pupuk hayati majemuk cair yang diberikan pada setiap dosis bokashi kotoran ayam diikuti oleh peningkatan tinggi tanaman. Demikian juga pemberian bokashi kotoran ayam dengan dosis meningkat pada setiap dosis pupuk hayati majemuk cair menyebabkan peningkatan tinggi tanaman kedelai (Tabel 1). Gardner et al., (1991) mengemukakan bahwa pertumbuhan batang yang mengakibatkan pertambahan tinggi tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu zat pengatur tumbuh auksin, cahaya, unsur hara terutama unsur nitrogen dan ketersediaan air.  Pupuk hayati majemuk cair adalah pupuk mikroba yang selain mengandung mikroba penambat N dan mikroba pelarut fosfat juga diperkaya dengan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin.  Auksin merupakan substansi pertumbuhan yang khususnya merangsang perpanjangan sel yang mengakibatkan pertambahan tinggi tanaman.

Tabel 1. Tinggi tanaman (cm) pada umur 45 hst akibat pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam pada tanah gambut

Gambar Tab 1 Erina

Keterangan :         Pengaruh interaksi H x B teruji nyata.  Angka-angka yang ditandai dengan huruf kecil yang sama pada setiap kolom dan huruf besar yang sama pada setiap baris tidak berbeda nyata menurut uji BNT α = 0,05.

Tabel 2.     Jumlah polong isi per tanaman akibat pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam pada tanah gambut

Gambar Tab 2 Erina

Keterangan :         Pengaruh interaksi H x B teruji nyata.  Angka-angka yang ditandai dengan huruf kecil yang sama pada setiap kolom dan huruf besar yang sama pada setiap baris tidak berberda nyata menurut uji BNT α = 0,05.

Kombinasi perlakuan 4 ml/200 ml air  pupuk hayati majemuk cair dengan 15 ton/ha bokashi kotoran ayam merupakan kombinasi terbaik yang mampu memberikan pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi, yaitu 57,16 cm.  Hal itu disebabkan karena pemberian bokashi kotoran ayam akan meningkatkan ketersediaan N tanah sehingga mampu mencukupi kebutuhan tanaman. Nitrogen diketahui merupakan salah satu unsur yang berperan penting dalam proses pembelahan dan pembesaran sel yang merupakan dasar dari pertumbuhan tanaman, seperti pertambahan tinggi tanaman.

Jumlah polong isi per tanaman

Jumlah polong isi per tanaman lebih banyak sejalan dengan lebih tingginya takaran pupuk hayati majemuk cair yang diberikan mulai dari 2 mL/200 mL sampai 6 mL/200 mL  pada pemberian bokashi kotoran ayam mulai dari 5 t/ha sampai dengan 15 ton/ha dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk hayati majemuk cair (Tabel 2).

Pemberian pupuk hayati majemuk cair dengan dosis 4 mL/200 mLatau 6 ml/200ml tanpa pemberian bokashi kotoran ayam belum mampu meningkatkan jumlah polong isi per tanaman secara nyata dibandingkan dengan tanaman yang diberi bokashi kotoran ayam.  Hal ini disebabkan karena tidak adanya penambahan unsur hara yang dapat meningkatkan pH tanah seperti unsur Ca2+ yang terkandung pada bokashi kotoran ayam.  Hanafiah (2012) mengemukakan bahwa penambahan Ca2+ melalui bahan-bahan amelioran tanah seperti bokashi dapat memperkaya nitrogen dan mengurangi kemasaman tanah, sehingga perkembangan mikroba meningkat.

Sebalikya, tanaman yang diberi bokashi kotoran ayam pada setiap pemberian pupuk hayati majemuk, menunjukkan peningkatan yang nyata pada jumlah polong isi per tanaman. Pemberian bokashi kotoran ayam dapat meningkatkan substrat sebagai energi untuk pertumbuhan  mikroba penambat N yang terkandung di dalam pupuk hayati majemuk cair, yaitu Rhizobium sehingga aktivitas fiksasi N2 meningkat. Suryantini (2012) mengemukakan bahwa penambatan N simbiosis merupakan salah satu kunci dalam sistem pertanian input rendah untuk mempertahankan kesuburan tanah jangka panjang.

Di samping itu, adanya cendawan dan bakteri pelarut fosfat di dalam pupuk hayati majemuk cair, dapat lebih meningkatkan ketersediaan P pada rizosfer.  Mikroba pelarut fosfat berperan penting dalam memelihara kecukupan P dalam larutan tanah melalui proses asidifikasi, khelasi, dan reaksi pertukaran (Narsian dan Patel, 2000).

Pemberian bokashi kotoran ayam sangat penting karena selain memperbaiki sifat-sifat tanah gambut, juga merupakan sumber energi dan nutrien bagi mikroba heterotrof seperti yang terkandung di dalam pupuk hayati majemuk cair, serta menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi perakaran tanaman. Perakaran tanaman yang berkembang baik dan ditunjang dengan ketersediaan hara yang meningkat menyebabkan serapan hara juga akan meningkat, sehingga mampu memenuhi kebutuhan tanaman kedelai.  Dengan terpenuhinya kebutuhan hara maka pertumbuhan, pembentukan dan pengisisan polong akan berjalan dengan baik. Jumlah polong isi terbanyak diperoleh pada kombinasi perlakuan 4 mL/200 mL atau 6 mL/200 mL air pupuk hayati majemuk cair bersama pemberian 15 t ha-1 bokashi kotoran ayam, yaitu 85,3 – 86,6 polong isi/tanama.

Jumlah biji per tanaman

Secara umum, jumlah biji per tanaman berhubungan erat dengan jumlah polong isi per tanaman.  Jika jumlah pong isi per tanaman banyak, jumlah biji per tanaman juga banyak.  Jumlah biji per tanaman yang hanya diberi pupuk hayati majemuk cair tanpa pemberian bokashi kotoran ayam belum mampu menyamai jumlah biji per tanaman yang diberi pupuk hayati majemuk cair bersama pemberian bokashi kotoran ayam (Tabel 3).

Tabel 3. Jumlah biji per tanaman akibat pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam pada tanah gambut

Gambar Tab 3 Erina

Keterangan :    Pengaruh interaksi H x B teruji nyata.  Angka-angka yang ditandai dengan huruf kecil yang sama pada setiap kolom dan huruf besar yang sama pada setiap baris tidak berberda nyata menurut uji BNT α = 0,05.

Tabel 4. Bobot biji per tanaman (g) akibat pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam pada tanah gambut

Gambar Tab 4 Erina

Keterangan :    Pengaruh interaksi H x B teruji nyata.  Angka-angka yang ditandai dengan huruf kecil yang sama pada setiap kolom dan huruf besar yang sama pada setiap baris tidak berberda nyata menurut uji BNT α = 0,05.

Terbentuknya polong isi dan biji merupakan fungsi dari jumlah fotosintat yang tersedia untuk pertumbuhan dan pengisian biji, sedangkan jumlah fotosintat yang dapat ditranslokasikan untuk perkembangan organ generatif bergantung pada perkembangan organ fotosintesis dan dukungan faktor lingkungan.  Pemberian bokashi kotoran ayam merupakan salah satu cara untuk memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman kedelai dan kehidupan mikroba, baik yang terkandung dalam pupuk hayati majemuk cair maupun mikroba tanah lainnya. Hasil penelitian Sutarto dan Saraswati (2000) menunjukkkan bahwa pemberian pupuk mikroba multiguna yang mengandung B. Japonicum dan mikroba pelarut fosfat dapat meningkatkan suplai N bagi tanaman kedelai sehingga kandungan klorofil daun meningkat.  Peningkatan klorofil akan meningkatkan laju fotosintesis sehingga fotosintat yang dihasilkan dan diakumulasikan ke bagian reproduktif  tanaman semakin meningkat, sehingga berdampak positif pada hasil biji per tanaman.  Jumlah biji per tanaman yang paling banyak diperoleh pada pemberian 4 mL/200 mL atau 6 mL/200 mL air pupuk hayati hayati majemuk cair bersama pemberian 15 t/ha bokashi kotoran ayam , yaitu 205,0 – 212,0 biji per tanaman.

Bobot biji per tanaman

Tanpa pupuk hayati majemuk cair, bobot biji per tanaman yang diberi bokashi kotoran ayam lebih berat dibandingkan dengan bobot biji per tanaman yang diberi bokashi kotoran ayam, dan bobot biji per tanaman sebagai hasil itu jauh lebih tinggi bersama pemberian pupuk hayati majemuk pada berbagai dosis (Tabel 4).

Lebih meningkatnya hasil biji kering per tanaman akibat pemberian pupuk hayati majemuk cair terjadi karena pemberian bokashi kotoran ayam.  Bokashi kotoran ayam mampu mensuplai unsur hara bagi tanaman dan memacu perkembangan serta aktivitas mikroba tanah.  Bashan dan Holguin (1997) menyatakan bahwa inokulasi campuran Azospirillum dengan mikroba yang menguntungkan memungkin-kan terjadinya keseimbangan nutrisi dan meningkatkan serapan hara N, P, dan hara lainnya dan berdampak pada peningkatan hasil tanaman. Hasil penelitian Asie (2006), pemberian pupuk organik dalam bentuk kompos jerami padi bersama pemberian pupuk hayati majemuk mampu meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman kedelai pada tanah Ultisol. Hasil biji per tanaman tertinggi pada penelitian ini diperoleh pada pemberian pupuk hayati majemuk cair 4 mL/200 mL air atau 6 mL/200 mL air bersama dengan15 t/ha bokashi kotoran ayam, dengan hasil sebesar 18,60 – 19,10 g biji kering/tanaman.

 

KESIMPULAN

            Berdasarkan hasil percobaan yang telah diuraikan, disimpulkan bahwa dalam upaya perbaikan dan pengembangan budidaya tanaman kedelai pada tanah gambut, pemberian pupuk hayati majemuk cair dan bokashi kotoran ayam berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.  Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir berikut :

1.   Terdapat pengaruh interaksi antara pupuk hayati majemuk cair dengan bokashi kotoran ayam. Pupuk hayati majemuk cair dengan bokashi kotoran ayam secara sinergis mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah gambut.

2.   Kombinasi perlakukan terbaik diperoleh pada pemberian pupuk hayati majemuk cair dengan dosis 4 mL/200 mL air atau 6 mL/200 mL air bersama pemberian 15 t ha-1 bokashi kotoran ayam, dengan hasil bobot biji terberat, yaitu 18,60 – 19,10 g/tanaman.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya yang telah membiayai penelitian ini melalui  DIPA BOPTN Universitas Palangka Raya Tahun Anggran 2012, Nomor : 0720/023-04.2.01/17/2012.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asie, E. R.  2005.  Nodulasi dan Hasil Kedelai Akibat pemberian Pupuk Hayati dan Bahan Organik Berbeda Waktu Pengomposan.  Agrivita . 27 (1) : 7-13.

Asie, E.R.  2006.  Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati dan Kompos Jerami Padi pada Komponen Hasil dan Hasil Kedelai pada Ultisol. Dinamika Pertanian. XXI (1) : 27-31.

Asie, E. R.  2009.  Kajian Efektivitas Formulasi Amelioran dan Kombinasi N, P, K terhadap Pertumbuhan dan Hasil Empat Varietas Kedelai pada Tanah Gambut Pedalaman.  Laporan Penelitian Unggulan Strategis Nasional.  Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya.

Badan Pusat Statistik.  2012.  Statistik Indonesia.  Jakarta.

Barchia, M. F.  2006.  Gambut : Agroekosistem dan Transformasi Karbon.  Gadjah Mada University Press.  Yogyakarta.

Bashan, Y., and G. Holguin.  1997.  Azospirillum – Plant Relationship : Environmental and Physiological Advances.  Can. J. Microbiol. 43:103-121.

Gardner, F., R. B. Pearce and R. L. Mitchell.  1991.  Fisiologi Tanaman Budidaya.  Terjemahan Herawati Susilo.  Universitas Indonesia Press.  Jakarta.

Hanafiah, K. A.  2012.  Ilmu Tanah.  PT. Raja Grafindo Persada.  Jakarta.

Narsian, V., and H. H. Patel.  2000.  Aspergillus aculeatus as a Rock Phosphate Solubilizer.  Soil Biol. Biochem. 32 : 559 – 565.

Simarmata, T., R.  Hindersah.  1999.  Optimalisasi Aplikasi Pupuk Biologis untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Menuju Pertanian Berkelanjutan.  Prosiding Kongres Nasional VII HITI, Bandung.  p 729-736.

Suryantini, 2012.  Rhizobium Indigenous dan Pengaruhnya terhadap Keberhasilan Inokulasi. Buletin Palawija 24 : 92-98.

Sutarto, Ig. V., dan R. Saraswati.  2000.  Pengaruh Pemberian Rhizo-Plus pada Kedelai.  Jurnal Mikrobiologi Indonesia 5 (1) : 19-23.

Yunizar, Yarsid Jahari, dan Jakoni.  2011.  Pengaruh Pengolahan Tanah dan Bahan Organik terhadap Produktivitas Kedelai di Lahan Pasang Surut.  Prosiding Seminar Hasil Penelitian Aneka Tanaman Kacang dan Umbi. p170 – 176. Balitkabi. Litbang. go. id.  Diakses tanggal 10 juni 2013.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: