JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


EFEKTIFITAS DOSIS TRICHOKOMPOS AMPAS TAHU = Pandriyani, Yanetri Asi Nion and Dito Ardian Hadi
16 Juli 2013, 1:41 pm
Filed under: Penelitian

EFEKTIFITAS DOSIS TRICHOKOMPOS  AMPAS TAHU DAN PUPUK KANDANG KOTORAN AYAM UNTUK MENEKAN  PENYAKIT Sclerotium rolfsii 

PADA  TANAMAN CABAI DI TANAH GAMBUT

(Dosage Trichocompost of Tofu Dregs and Chicken Manure against Sclerotium rolfsii  on Chilli in Peat Soil)

Pandriyani, Yanetri Asi Nion and Dito Ardian Hadi

Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian,

Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya

Kontak Korespondensi : yanetri.a.nion.@gmail.com

ABSTRACT

A trial was conducted to determine the effectiveness and precise dosage of trichocompost of tofu dregs, chicken manure, mixture of tofu dregs and chicken manure to suppress Sclerotium rolfsii on chili seeds and to know its effect on seedling growth since September 2011 to February 2012. The design used was Complete Randomized Design (CRD).  Treatment and dosage Trichokompos (T) were without trichocompost (T0), with trichocompost tofu dregs of 250 g/polybag (T1a), trichocompost tofu dregs of 300 g/polybag (T1b) , trichocompost chiken manure of 250 g/ polybag (T2a), trichocompost chicken manure of 300 g/polybag (T2b), the combination of trichocompost tofu dregs + chicken manure (50%: 50%) of 250 g/polybag (T3a) and combinations trichocompost tofu dregs + chicken manure (50%: 50%) of 300 g/polybag (T3b). Each treatment was repeated three times. The results showed that application of trichocompost chicken manure and combination of tofu dregs and chicken manure suppressed S. rolfsii up to 66,7% on 5 weeks after inoculation. The best dose trichocompost to reduced S. rolfsii and improved plant growth such as plant height and diameter is 250 g/polybag trichompos from chickecn manure or combination of trichocompost tofu dregs + chicken manure.

Keywords: Chili, trichocompost, tofu dregs, chicken manure, Sclerotium rolfsii.

 

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan dosis yang tepat dari trichokompos berbahan ampas tahu,  pupuk kandang kotoran ayam, campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam dalam mengendalikan patogen Sclerotium rolfsii pada bibit cabai serta mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit cabai.  Penelitian telah dilakukan sejak September 2011 – Februari 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan dan dosis Trichokompos (T) terdiri dari:  tanpa trichokompos (T0), trichokompos berbahan ampas tahu dosis 250 g/polibag (T1a), trichokompos berbahan ampas tahu dosis 300 g/polibag (T1b), trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 250 g/polibag (T2a), trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 300 g/polibag (T2b), kombinasi trichokompos ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 250 g/polibag (T3a) dan kombinasi trichokompos ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 300 g/polibag (T3b), masing-masing 3 kali ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian trichompos pupuk kandang kotoran ayam dan trichokompos campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dapat menekan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii  hingga 66,67%  pada minggu kelima setelah inokulasi.  Dosis 250g trichokompos pupuk kandang  kotoran ayam atau trichokompos campuran ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam merupakan dosis yang terbaik dalam mengurangi serangan S. rolfsii dan dapat meningkatkan  pertumbuhan tanaman seperti tinggi dan diameter tanaman.

Kata Kunci : Cabai, trichokompos, ampas tahu, pupuk kandang kotoran ayam, Sclerotium rolfsii.

PENDAHULUAN

Cabai merupakan salah satu tanaman yang  memiliki nilai ekonomi yang penting di Indonesia dan menduduki urutan kedua setelah tanaman kacang-kacangan. Di wilayah Kalimantan Tengah khususnya Palangka Raya,  harga cabai dewasa ini pada Maret 2012  mencapai Rp 40.000 per kilogram (Palangka Raya, Kaltengpos.com).

Penanaman bibit cabai besar seringkali menghadapi banyak kendala, dalam meningkatkan produktivitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas.  Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu  penghambat dalam membudidayakan tanaman cabai. Salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman cabai adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii Sacc., serangan Sclerotium rolfsii  ini terjadi pada fase vegetatif awal  hingga tanaman berumur empat minggu dan menyebabkan kematian. Infeksi jamur ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil hingga 53,4% (Ferry and Dukes, 2005).   Jamur ini relatif sulit dikendalikan karena membentuk sklerotium yang mampu bertahan di dalam tanah dalam waktu yang lama  dan mempunyai banyak sekali inang (Min et al, 2009).

Menurut Daami-Remadi et al (2006),  jamur antagonis Trichoderma sp. sejauh ini telah teruji kemampuannya dalam mengendalikan jamur patogen tular tanah  seperti Rhizoctonia solani, S. rolfsii, Phytium spp., Stereum purpureum, Botrytis cinera, Phomopsip viticola dan Fusarium spp. Isolat-isolat lokal Trichoderma sp. asal Kalimantan Tengah memiliki kemampuan antagonis yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporumf.sp. cubense  secara in vitro (Mulyani, 2003).

Tanah gambut memiliki potensi cukup besar sebagai alternatif pengembangan pertanian di Kalimantan Tengah, namun memiliki kendala sehubungan dengan tingkat kesuburannya yang rendah. Trichoderma sp merupakan jamur saprofit tanah yang mampu merombak bahan-bahan organik untuk digunakan sebagai  sumber nutrisinya.

Menurut Adeniyan et al. (2011), pupuk kandang kotoran ayam merupakan pupuk kandang yang mempunyai nutrisi lebih tinggi dibanding pupuk kotoran sapi, terutama kandungan N, P, Ca, dan Mg. Analisis kimia dalam penelitian mereka mendapati bahwa unsur hara pupuk kandang sapi dan ayam berupa C organik sebesar 13,5%;  15,1% berturut-turut, 1,30%; 2,21% unsur N, 0,58%; 2,98% unsur P, 2,15%; 2,05% unsur K, 0,99%; 3,28% unsur Ca, 0,52%; 1,06% unsur Mg, 129 ppm; 700 ppm unsur Zn dan 128 ppm; 180 ppm unsur Cu.

Pemberian pupuk kandang  dapat meningkatkan kemampuan dan aktivitas Trichoderma sp sebagai antagonis terhadap jamur S. rolfsii.  Cahyono (2007), mengemukakan bahwa penambahan bahan organik berupa pupuk kandang kotoran sapi pada tanah gambut pedalaman dapat meningkatkan peranan jamur Trichoderma sp, baik sebagai antagonis bagi penyakit tanaman juga sebagai dekomposer yang dapat meningkatkan daya dukung tanah sebagai media tumbuh yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Ampas tahu merupakan limbah dari pabrik tahu yang pada umumnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Komposisi ampas tahu tiap 100 g bahan mengandung kalori  393 kal, protein 17,4 g, lemak 5,9 g, karbohidrat 67,5 g,  mineral 4,3g, kalsium  19 g,  fosfor  29  g, besi 4,0 mg, vit. B  0,20 mg, dan  air  4,9 g (Suprapti, 2005) sehingga berpotensi sebagai bahan organik atau pupuk bagi tanaman. Pemanfaatan ampas tahu sebagai trichokompos masih belum diteliti apalagi pemanfaatannya sebagai alternatif pengendalian penyakit tular tanah seperti S. rolfsii pada cabai belum pernah dilakukan sebelumnya.

Tujuan penelitian:1) Mengetahui efektivitas trichokompos ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dalam mengendalikan penyakit S. rolfsii  tanaman cabai, 2) mengetahui dosis trichokompos berbahan ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam yang dapat  mengendalikan S. rolfsii  tanaman cabai.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan mulai bulan  September 2011 sampai Februari 2012. Penelitian  dilaksanakan di laboratorim  dan rumah plastik pada kebun  Jurusan Budidaya Pertanian,  Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

Alat yang digunakan dalam penelitian yaitu autoclave, laminar air flow, hand tally counter,cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, lampu Bunsen, pinset, plastik tahan panas, kertas minyak, tali, panci, kamera, jangka sorong dan terpal. Bahan yang digunakan adalah media Potato Dextrose Agar (PDA), benih cabai, aquades,  alkohol,  isolat jamur Trichoderma harzianum,  gula,  ampas tahu,  pupuk kandang kotoran ayam, dedak, tanah gambut, dolomit  dan polybag.

Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal pemberian dan dosis Trichokompos (T) yang terdiri  dari  7 perlakuan, yaitu: (T0) tanpa trichokompos, (T1a) trichokompos berbahan ampas tahu dosis 250 g/polibag, (T1b) trichokompos berbahan ampas tahu dosis 300 g/polibag, (T2a) trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 250g/polibag, (T2b) trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 300g/polibag, (T3a) kombinasi trichokompos berbahan ampas tahu   + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 250 g/polibag, (T3b) kombinasi trichokompos berbahan ampas tahu + trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 300 g/polibag.  Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 21 satuan percobaan, dimana  penempatan satuan percobaan dilakukan secara acak.

Variabel yang diamati dalam penelitian sebagai berikut:

  1. Intensitas serangan dihitung dengan  menggunakan  rumus (Djatmiko dkk,. 2000):
 Gambar

Keterangan:

IP : intensitas penyakit,

n  : jumlah tanaman yang bergejala,

z   : nilai skor gejala,

N : jumlah total tanaman yang diamati, dan

Z  : nilai skor gejala tertinggi.

Gejala penyakit busuk batang diamati pada pangkal batang dengan memberi nilai skor :

0 =   tanaman sehat,

1 = gejala nekrosis dengan luasan ½ lingkar batang,  

2 = gejala nekrosis dengan luas  ½- ¾ lingkaran batang,

3 =  gejala nekrosis telah melingkari batang, bercak cokelat telah meluas, dan kulit batang kadang-kadang sobek,

4 = batang yang terserang mulai terkulai dan sebagian daun layu,

5 = tanaman mati

2.   Efektivitas Antagonis

Efektivitas antagonis dihitung menggunakan rumus menurut      Sukamto (2003) :

Gambar

Keterangan :

Ea   =   Efektivitas antagonis

IPk  =  Intensitas penyakit pada kontrol (tanpa perlakuan)

IPp  =  Intensitas penyakit dengan perlakuan

Nilai keefektifan dikategorikan sebagai berikut : Ea > 69% = sangat baik; Ea = 50-69% = baik; Ea = 30-49% = kurang baik; Ea = < 30% = tidak baik (Sukamto, 2003).

3.    Jumlah sklerotia  dihitung pada minggu kelima dengan metode wet sieving technique  (Punja et al., 1985).  Dengan cara pengambilan semua tanah yang berada di dalam polybag, kemudian tanah dicuci dengan ayakan 600 µm.  Hasil ayakan dikeringanginkankan dan sklerotia dihitung menggunakan hand tally counter.

4.   Untuk mengetahui efek dari trichokompos pada tanaman, dilakukan pengamatan pendukung berupa :

a. Tinggi tanaman (cm), diukur dari pangkal  batang tanaman sampai bagian ujung tajuk tanaman pada umur 2, 3, 4, dan 5  minggu setelah inokulasi (msi).

b.  Diameter batang (cm), diukur dengan menggunakan jangka sorong pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi.

 Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan analisa ragam (uji F) pada taraf kepercayaan 5%, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji nilai tengah menggunakan uji BNJ pada taraf kepercayaan 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Penyakit Tanaman dan Jumlah Sclerotia pada Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan pada tanaman cabai umur 1-2 mst, perlakuan yang tidak diberi trichokompos (kontrol) menampakkan gejala nekrotik pada batang tanaman dengan luas ½ – ¾ pangkal batang kemudian tanaman rebah dan mati.  Semangun (2001), menyatakan bahwa penyakit busuk pangkal batang disebabkan cendawan S. rolfsii, gejala serangan pada tanaman tampak pada umur 1-4 minggu.  Diawali gejala nekrotik dengan warna coklat muda pada pangkal batang yang terserang dan membusuk, menjadi layu sehingga tanaman mudah rebah.

Perlakukan Trichokompos berbahan ampas tahu (T), pupuk kandang kotoran ayam  (T2) dan Trichokompos berbahan campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam (T3) menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap intesitas serangan S. rolfsii pada bibit tanaman cabai pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi, demikian pula terhadap jumlah skelerotia yang diamati pada umur 5 msi (Tabel 1).

Pemberian trichokompos berbahan ampas tahu (pada perlakuan T1a dan T1b) tampaknya kurang mampu dalam menekan serangan serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii pada tanaman cabai dibandingkan trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam, ini terlihat dari intensitas serangan pada T1a dan T1b masing-masing sebesar 33,33% dan  100% (Tabel 1).

Kurang mampunya trichokompos berbahan ampas tahu dalam menekan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii karena kadar air dari trichokompos berbahan ampas tahu tersebut masih tinggi yaitu rata-rata mencapai 69,60%, hal ini diduga menyebabkan perkembangan dari cendawan Trichoderma sp. yang terkandung dalam trichokompos menjadi terhambat sehingga fungsi antagonisnya untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman cabai menjadi tidak efektif.  Tidak efektifnya  trichokompos ampas tahu dikarenakan bahan yang mempunyai kadar lemak yang tinggi dan diduga membuat pertumbuhan Trichoderma pada bahan ampas tahu tidak dapat berkembang dengan baik hal ini diperlihatkan pada umur  2, ,3 4, 5 msi (Tabel 1).

Tabel 1.    Rata-rata intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang   pada tanaman cabai oleh S. rolfsii pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi yang telah diberi perlakukan Trichokompos campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam dan jumlah rata-rata sclerotia pada tanaman cabai oleh S. rolfsii pada umur 5 msi.

Perlakuan

Intensitas Serangan Pada Umur (MSi)

2

3

4

5

Jumlah Sklerotia

T0

100,00b

100,00 b

100,00 b

100,00 b

28,67 c

T1a

33,30 a

33,33 ab

33,33ab

33,33 ab

3,33 ab

T1b

100,00b

100,00 b

100,00 b

100,00 b

9,67 b

T2a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T2b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T3a

0,00 a

33,33 ab

33,33 ab

33,33 ab

3,33 ab

T3b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

BNJ 5%

5,67

8,02

8,02

8,02

2,85

Keterangan :   Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama, dinyatakan berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Pemberian Trichokompos pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap tanaman hal ini karena kandungan unsur hara pada pupuk kandang kotoran ayam sangat lengkap (Adeniyan et al. 2011). Unsur hara berguna  untuk pertumbuhan Trichoderma sp., dan yang paling besar pengaruhnya adalah  kadar air.  Menurut Soetopo dan Endang (2008), kadar air optimum untuk bahan-bahan yang digunakan sebagai medium pertumbuhan mikroba aerobik seperti Trichoderma sp. dalam proses pengomposan adalah 50 – 60 %.  Kelebihan kadar air seperti pada bahan kompos ampas tahu akan menutupi rongga udara dalam bahan yang dikomposkan sehingga kadar oksigen berkurang, hal ini akan berakibat terhadap terhambatnya aktivitas  Trichoderma sp. tidak dapat berkembang dengan baik.  Nilai  pH yang  rendah dapat juga mempengaruhi perkembangan Trichoderma sp. sehingga tidak optimal. Pertumbuhan optimal untuk Trichoderma sp bervariasi, misalnya T. virens antara 5,0-7,0 (Hamzah et al., 2012), sedang pertumbuhan terbaik T. harzianum pada kisaran pH 7,0-8,0 (Hasanzadeh et al., 2012).

Secara statistik tidak ada perlakuan nyata antara perlakuan Trichokompos pupuk kandang ayam dosis 250 g  dengan 300 g  untuk menekan penyakit, dimana kedua perakukan ini ternyata efektif  menekan serangan penyakit.

Perbedaan nyata terhadap intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii antara tanaman cabai yang tidak diberi (kontrol) dengan yang diberi trichokompos spp menunjukkan bahwa Trichoderma sp. yang terkandung dalam trichokompos dapat berperan aktif sebagai pengendali patogen tular tanah seperti penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii.  Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sarwono dkk (2010), dimana pemberian trichokompos mampu menekan penyakit layu Fusarium sp. pada tanaman cabai rawit hingga 78,08 %. Pengendalian penyakit tersebut terjadi karena  Trichoderma sp. memiliki mekanisme antagonis terhadap penyakit tular tanah. yaitu berupa kompetisi, mikoparasit dan antibiosis.  Menurut Elfina dkk. (2001), bahwa mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma sp. dapat berupa kompetisi, mikoparasitisme dan antibiosis.  Peran mikoparasitisme karena Trichoderma sp. menghasilkan enzim litik, terutama kitinase dan ß 1-3 glukanase yang dapat mengakibatkan lisisnya dinding sel jamur patogen seperti S. rolfsii.

Antibiotik yang dihasilkan Trichoderma spp.  Yaitu Gliotoxin dan Viridi, dimana antibiotic yang dihasilkan dapat menekan intensitas penyakit yang disebabkan oleh S. rolfsii dan R. solani pada tanaman buncis, kapas dan tomat.  Antibiotika Viridin yang dihasilkan Trichoderma spp. tahan dalam tanah yang bereaksi asam seperti tanah gambut (Prayudi dkk., 2000; Widyastuti dkk, 2002;  ).

Rata-rata jumlah  sklerotia S. rolfsii yang diamati pada umur 5 msi menunjukkan bahwa tanpa pemberian trichokompos (kontrol) menunjukkan jumlah sklerotia terbanyak rata-rata 28,67 butir yang berbeda nyata dibanding  perlakuan lain dengan rata-rata jumlah sklerotia <10 butir, atau bahkan sama sekali tidak ditemukan sklerotia (Tabel 1).  Hal ini membuktikan bahwa tanpa pemberian trichokompos yang mengandung jamur antagonis Trichoderma sp., pada lingkungan yang lembab jamur S.rolfsii dapat menyebabkan infeksi serangan menjadi lebih berat.  Banyaknya jumlah sklerotia sesuai dengan tingkat intensitas serangan penyakit yang terjadi di lapangan, dimana semakin banyak sclerotia menyebabkan semakin tinggi intensitas serangan (Tabel 1).

Tingginya tingkat serangan dibuktikan dengan ditemukannya sklerotia pada tanah sekitar tanaman yang merupakan struktur dorman dari kumpulan miselium S. rolfsii.  Menurut Semangun (2001), pada lingkungan yang lembab cendawan S. rolfsii dapat mendorong pembentukan  miselium putih seperti bulu pada pangkal batang dan permukaan tanah di sekitarnya,   selanjutnya  miselium ini berkembang menjadi  butir-butir kecil, bulat atau lonjong  mula-mula berwarna putih, kemudian menjadi coklat  yang disebut  sklerotium.

 

Efektivitas Antagonis

Secara umum trichokompos menunjukkan efektivitas antagonis yang sangat baik dalam menekan penyakit busuk pangkal oleh S. rolfsii tanaman cabai pada umur 1, 2, 3, 4, dan 5 msi (Tabel 2)

Tabel 2.    Efektivitas antagonis Trichoderma sp terhadap penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii pada tanaman cabai 1, 2, 3, 4, dan 5 msi

Perlakuan

Efektivitas Antagonis/Ea (%)

Rata-rata

Kategori Keefektifan *)

2 msi

3 msi

4 msi

5 msi

T1a

66,67

66,67

66,67

66,67

66,67

Baik

T1b

0,00

0,00

0,00

0,00

20,00

tidak baik

T2a

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

T2b

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

T3a

100,00

66,67

66,67

66,67

75,00

sangat baik

T3b

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

Keterangan :           Nilai keefektifan dikategorikan sebagai berikut : Ea > 69% = sangat baik; Ea = 50-69% =  baik; Ea = 30-49% = kurang baik; Ea = < 30% = tidak baik (Sukamto, 2003).

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa perlakuan pemberian trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dan ampas tahu pada dosis yang lebih rendah (T2a, T2b dan T1a), demikian pula campuran keduanya (T3a dan T3b) menunjukkan kategori tingkat efektivitas antagonis yang sama, yaitu baik yaitu 66,67%, 75,00 % dan 100%.  Menurut Sukamto (2003), rata-rata efektivitas antagonis (Ea) = 50-69% termasuk kategori baik dan Ea > 69 % termasuk kategori sangat baik.

Tingginya kadar lemak yang terkandung pada bahan ampas tahu (T1) menyebabkan pertumbuhan yang kurang baik sehingga  keefektivan antagonis Trichoderma sp. menunjukan respon yang tidak maksimal, terbukti terdapat tanaman yang mati terserang  S. rolfsii, sehingga nilai efektivitas  antagonis  pelakuan T1  kurang baik dengan rata-rata  nilai efektivitas 20 %.  Menurut Sukamto (2003), apabila nilai rata-rata efektivitas antagonis (Ea) < 30 % termasuk kategori kurang  baik.

Efektivitas trichokompos tinggi karena pertumbuhan Trichoderma sp tersebut lebih cepat dibandingkan S. rolfsii sehingga Trichoderma sp dapat dengan mudah memperoleh nutrisi, ruang dan tempat tumbuh.

Tinggi efektivitas antagonis Trichoderma sp dalam menghambat perkembangan S. rolfsii didukung dari hasil uji invitro dari penelitian sebelumnya.  Hasil penelitian Supriati dkk (2010), lima isolat Trichoderma sp asal Kalimantan Tengah yang dicobakan (Isolat Plk, Pps1, Kps7, Kps8, dan Kps14) mempunyai kemampuan antagonis yang sama dalam menghambat perkembangan koloni dan terbentuknya skelerotia S.rolfsii.  Kemampuan antagonis tertinggi terdapat pada isolat Pps1 dengan daya penghambatan sebesar 51,49%.

Kondisi Pertumbuhan Tanaman

Variabel pertumbuhan bibit tanaman cabai yang diamati dari perlakuan pemberian trichokompos yaitu tinggi tanaman dan diameter batang. Pemberian Trichokompos berbahan pupuk kadang dan Trichokompos berbahan campuran ampas tahu pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan pengaruh nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman pada umur 3 msi tetapi pada umur 4 dan 5 msi tdk berpengaruh nyata, sedangkan pengaruhnya terhadap diameter batang juga berpengaruh nyata sejak umur 3-5 msi  (Tabel 3).    Tidak berpengaruhnya pemberian trichokompos terhadap rata-rata tinggi tanaman pada umur 4 dan 5 msi dan hanya berpengaruh nyata pada umur 3 msi, sedangkan terhadap diameter batang berpengaruh nyata dari umur 3-5 msi, diduga karena efek Trichoderma sp yang terkandung dalam trichokompos berpengaruh secara langsung terhadap penghambatan serangan S. rolfsii  yang menyerang pangkal batang tanaman.  Pangkal batang yang telah diberi trichokompos akan dilindungi (atau akan terhindar dari serangan S. rolfsii) oleh Trichoderma sp. sehingga perkembangan diameter batang tanaman cabai lebih cepat, hal ini secara nyata dapat dilihat dari umur 3-5 msi. Sedangkan pengaruh trichokompos tampaknya tidak secara langsung terhadap tinggi tanaman cabai, namun pengaruh nyata hanya diperlihatkan dengan tinggi tanaman umur 3 msi setelah itu pada umur 4 dan 5 msi tidak terjadi pengaruh yang nyata.  Hal ini dapat dilihat pada rata-rata pertambahan tinggi tanaman dari umur 3 ke 4 dan 4 ke 5 msi memang tidak sebesar rata-rata pertambahan diameter batang pada umur yang sama (Tabel 3).

Pemberian trichokompos mengandung Trichoderma sp. mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi, ini dapat dilihat dari pertambahan diameter batang tanaman cabai (Tabel 3).  Hal ini dapat terjadi karena selain mampu menekan pertumbuhan patogen S. rolfsii di rizosfer perakaran tanaman cabai, Trichoderma sp. menghasilkan enzim pengurai yang menguraikan bahan organik  (selulosa) dan lebih berperan pada kondisi asam  dibanding bakteri dan actinomyctes menjadi hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya (Lestari dan Indrayati, 2000).  Dalam proses perombakan bahan organik oleh Trichoderma sp. ini akan dilepaskan hara yang terikat dalam senyawa komplek menjadi senyawa tersedia terutama unsur N, P, dan S.  Meningkatnya ketersediaan unsur hara pada tanah gambut akibat diberikann trichokompos.Tersedianya hara-hara tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik yang ditunjukan dengan meningkatnya diameter batang pada umur 3, 4 dan 5 msi.

Trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam mempunyai kelebihan yaitu selain mengandung Trichoderma sp., juga mengandung sejumlah unsur hara yang diperlukan tanaman.  Menurut Balai Pengkajian Teknologi Jambi (2009), kandungan hara trichokompos yang berbahan pupuk kandang kotoran ayam mengandung 1,00 % N, 9,5 % P dan 0,3 % K.  Untuk pertumbuhan tanaman khususnya fase vegetatif seperti pertumbuhan tinggi tanaman dan pertambahan diameter batang,  tersedianya unsur nitrogen (N) sangat dominan diperlukan. Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), ketersediaan unsur nitrogen adalah penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia pada tanaman.

Unsur fosfor (P) berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman  (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Tabel 3.    Pengaruh pemberian trichokompos terhadap rata-rata tinggi tanaman dan diameter batang cabai umur 2, 3, 4,  dan 5 msi.

Perlakuan

Tinggi Tanaman (cm)

2 msi

3 msi

4 msi

5 msi

T0

0,00

0,00 a

0,00

0,00

T1a

13,00

14,00 b

16,00

18,00

T1b

0,00

0,00 a

0,00

0,00

T2a

16,33

20,67 b

23,00

25,00

T2b

17,33

21,33 b

23,33

25,33

T3a

16,33

21,00 b

24,00

27,00

T3b

12,33

14,00 b

19,00

24,67

BNJ 5%

7,77

Diameter Batang (cm)

T0

0,00

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T1a

0,12

0,15 b

0,19 b

0,23 b

T1b

0,00

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T2a

0,13

0,24 c

0,39 c

0,43 c

T2b

0,13

0,25 c

0,38 c

0,41 c

T3a

0,12

0,22 c

0,40 c

0,43 c

T3b

0,13

0,22 c

0,36 bc

0,39 c

BNJ 5%

0,06

0,17

0,14

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda, dinyatakan berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %

KESIMPULAN

1.   Pemberian trichompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dan tichokompos berbahan campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dapat menekan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii  sampai 66,67% hingga minggu ke-5 msi, efektivitas antagonis terbaik mulai minggu ke-2 sampai ke-5, dengan  kategori  sangat baik pada nilai kategori kefektifan (Ea) > 69%.  Rata-rata jumlah  sklerotia S. rolfsii yang diamati umur 5 msi menunjukkan bahwa tanpa pemberian trichokompos (kontrol) menunjukkan jumlah sklerotia yang terbanyak rata-rata 28,67 butir, dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lain dengan rata-rata <10 butir bahkan tidak ditemukan sklerotia.

2.   Dosis 250g trichokompos pupuk kandang  kotoran ayam atau trichokompos campuran ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam merupakan dosis yang terbaik dalam mengendalikan serangan S. rolfsii dan dapat meningkatkan  pertumbuhan tanaman seperti tinggi dan diameter tanaman.

 

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan dicoba media alternatif lain selain ampas tahu untuk bahan trichokompos dengan catatan bahwa kadar air harus diperhatikan karena mempengaruhi aktivitas Trichoderma sp.  dalam pengomposan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adeniyan, O. N., A.O. Ojo, O.A. Akinbode, and Adediran J. A. 2011. Comparative study of different organic manures and NPK fertilizer for improvement of soil chemical properties and dry matter yield of maize in two different soils. J. Soil Sci. Environ. Manage. 2: 9-13.

Balai Pengkajian Teknologi Jambi.  2009.  Pemanfaatan Trichokompos pada Tanaman Sayuran.  Buletin Agro Inovasi.  BPTP Jambi.

Cahyono, A.  2007.  Respon Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Sapi dan Trichoderma sp pada Tanah Gambut Pedalaman.  Skripsi.  Fakultas Pertanian Unpar.  Palangka Raya.

Daami-Remadi, M. K. Hibar, H. Jabnoun-Khiareddine, F. Ayed and M. El Mahjoub. 2006. Effect of two Thrichoderma species on severity of potato tuber dry rot caused by Tunisian Fusarium complex. Int. J. Agric. Res., 1: 432-441.

Djatmiko, H.A., Kharisun, dan N. Prihatiningsih. 2000. Potensi Trichoderma harzianum, Pseudomonas fluorescens dan Zeolit Terhadap Penekanan Layu Scelrotium, Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Kedelai.

Elfina, Y., Mardinus, T. Habazar, dan A. Bachtiar.  2001.  Studi Kemampuan Isolat-isolat Jamur Trichoderma sp. yang Beredar di Sumatera Barat untuk Pengendalian Jamur Patogen Sclerotium rolfsii pada Bibit Cabai.  Dalam  Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah PFI.  Bogor, 22-24 Agustus 2001.

Fery, R.L.  and P. D. Dukes. 2005. Potential for utilization of pepper germplasm with a variable reaction to Sclerotium rolfsii Sacc.to develop southern blight-resistant pepper (Capsicum annuum L.) cultivars,” Plant Genetic Resources, vol. 3, no. 3, pp. 326–330.

Hamzah, A., M.A. Zarin, A.A. Hamid, O. Omar and S. Senafi. 2012. Optimal physical and nutrient parameters for growth of Trichoderma virens ukmp-1m for heavy cruide oil degradation. Sains Malaysiana, 41:71-79.

Hasanzadeh, M., M. Hohammadifar, N. Sahebany, and H.R. Etebarian. 2012. Effect cultural condition on biomass of some nematophagous fungi as biological control agent. Egypt. Acad. J. Biolog. Sci. 5:115-126.

Hindersah, R dan T. Simarmata.  2004.  Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanahwww. unri. ac. id.  02 Februari 2011                         

http://www.kaltengpos.web. di akses pada tanggal 13 maret 2012.

Lestari, Y. dian L. Indrayati.  2000.  Pemanfaatan Trichoderma dalam Mempercepat Perombakan Bahan Organik pada Tanah Gambut. Dalam Prosiding Seminar Hasil Peneltian Tanaman Pangan Lahan Rawa.  Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Min, J.M., K.S. Kim, S.W. Kim, J.H. Jung, K. Lamsal, S. B. Kim, M.Jung and Y.S. Lee. 2009. Effects of Colloidal Silver Nanoparticles on Sclerotium-Forming Phytopathogenic Fungi. Plant Pathol. J. 25: 376-380.

Mulyani, R.B. 2003. Aplikasi Trichoderma Isolat PLK-1 dan Waktu Inkubasi Pupuk Kandang Ayam di Tanah Gambut  untuk Pegendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang Jagung Manis.

Prayudi. B., A. Budiman, M. A. T. Rystham dan Y. Rina. 2000. Trichoderma harzianum Isolat Kalimantan Selatan Agensia Pengendali Hawar Pelepah Daun Padi dan Layu Semai Kedelai di Lahan Pasang Surut. Hlm. 191-294. Dalam Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Banjar Baru.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono.  2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius.  Yogyakarta.

Sarwono, S. Purnomo, E. Korlina, W. Istuti, dan DW. Astuti.  Kaji Terap Cendawan Antagonis Trichoderma sp Terhadap Penyakit Layu pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescent).  Abstrak.  BPTP Jawa Timur.

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soetopo, R.S. dan Endang RCC.  2008.  Efektivitas Proses Pengomposan Limbah Sludge IPAL Industri Kertas Dengan Jamur.  Berita Selulosa Vol. 43(2), hal. 93-100.http://www.bbpk.go.id. Diakses tanggal 21 Februari 2012.

Suprapti, M. L. 2005. Pembuatan Tahu. Kanisius: Yogyakarta.

Supriati, L., R.B. Mulyani, dan Y. Lambang.  2010.  Kemampuan Antagonisme Beberapa Isolat Trichoderma sp. Indigenous Terhadap Sclerotium rolfsii Secara In Vitro.  Agroscientiae No. 3 Vol. 17.  www.faperta.unlam.ac.id.  Diakses tanggal 21 Februari 2012.

Sukamto, S. 2003. Pengendalian Secara Hayati Penyakit Busuk Buah Kakao dengan Jamur Antagonis Trichoderma harzianum. Dalam Prosiding Kongres Nasional XVII dan Seminar Ilmiah PFI, Bandung 6-9 Agustus 2003. Hal: 134 – 137.

Widyastuti. S. M., Sumardi, Irfa’i dan H. H. Murjanto. 2002. Aktivitas Penghambatan Trichoderma spp. Formulasi Terhadap jamur Patogen Tular Tanah Secara In Vitro. 8: 27-34.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: