JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 2 September 2011 == POLA PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT == Erlinda Yurisinthae
4 Juni 2012, 9:00 am
Filed under: Penelitian

POLA PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT OLEH PETANI LIDAH BUAYA DI KOTAMADYA PONTIANAK

(Utilization of Peat land by Aloe Vera Farmers in Municipality of Pontianak)

 Erlinda Yurisinthae

Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

e-mail : erlindayurisinthae@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

This study was aimed to analyze the pattern of peat land used for farming by farmers in Aloe Vera Agribusiness Center in the Municipality of Pontianak. This study was conducted for six months, from January 2010 until June 2010, by using survey methods that were. descriptive. Location was determined purposively by considering that those locations were The Center of Aloe Vera’s production in the Province of West Borneo and farmers were still active to do aloe vera farming activity. The research showed there was a change in the pattern of land used by farmers of aloe vera, from the special pattern became a mixed pattern. The pattern of mixed farming by farmer’s Aloe vera was intercropping between the aloe and vegetables, maize and papaya.

Key words : utilization of peat land, aloe vera farmers.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan dari Januari 2010 sampai Juni 2010, dengan menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah sentra produksi lidah buaya di Provinsi Kalimantan Barat dan petani masih aktif melakukan kegiatan usahatani lidah buaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan pola pemanfaatan lahan usahatani oleh petani lidah buaya, dari usahatani dengan pola khusus menjadi usahatani dengan pola campuran.  Pola usahatani campuran yang dilakukan oleh petani lidah buaya adalah usahatani tumpang sari antara tanaman lidah buaya dengan tanaman sayur-sayuran, jagung dan pepaya.

Kata Kunci : pemanfaatan lahan gambut, petani lidah buaya

PENDAHULUAN

 

Pemerintah Daerah Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki program  pengembangan produk pertanian yang mempunyai keunggulan komperatif. Salah satu komoditi  pertanian yang dijadikan komoditi unggulan adalah lidah buaya (Aloe vera L.). Produk ini merupakan salah satu produk pertanian yang diharapkan akan mempunyai daya saing di pasar internasional (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar, 2008).

Usahatani lidah buaya di Kalbar pada awalnya ditanam masyarakat dalam pot di halaman rumah dan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Minat petani  untuk mengembangkan tanaman lidah buaya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan sehingga lambat laun terjadi pergeseran dari pertanian subsisten ke arah pertanian komersil dan menjadi sumber pendapatan pokok bagi petani.

Tanaman lidah buaya mulai dibudidayakan secara komersil di Kalbar khususnya Kotamadya Pontianak pada tahun 1996 dengan luas tanaman 14,80 ha dengan jumlah populasi tanaman sebanyak 109.520 pohon, dan produksi rata-rata 140,18 ton/tahun (Bank Indonesia, 2008). Kondisi ini terus meningkat sampai tahun 2004 dengan luas tanaman 161 ha, dan produksi 26.304 ton, dengan jumlah petani lidah buaya sebanyak 105 orang. Selanjutna mulai tahun 2005 kondisi ini terus menurun, sampai dengan tahun 2009 dengan luas tanaman 38,1 ha dan produksi 1.512 ton dengan jumlah petani masih aktif sebanyak 43 orang (UPTD Terminal Agribisnis Kota Pontianak, 2010).

Pendapatan petani dari usahatani lidah buaya  di sentra produksi lidah buaya Kotamadya Pontianak sejak tahun 2005  berfluktuatif dan cenderung menurun. Beberapa  penyebabnya diduga karena berkurangnya luas lahan usahatani lidah buaya (Tabel 1),  belum efisien dan efektifnya petani dalam mengalokasikan sarana produksi (input) dalam usahatani lidah buaya, kurangnya permintaan akan daun lidah buaya serta pengaruh berfluktuatifnya harga kebutuhan pokok sarana produksi usahatani (input produksi) dan harga daun lidah buaya segar.

Tabel 1.    Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Lidah Buaya di Kotamadya  Pontianak Tahun 2004 – 2009

Tahun

Luas Areal

(Ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi

(ton/bln)

Produksi

(ton/th)

2004

2005

2006

2007

2008

2009

161

121

100

60

60

38,1

137

121

65

43

55

35

2.192

1.888

845

559

869

126

26.304

22.651

10.140

6.708

10.428

1.512

Total

540,1

556

6.479

77.743

Sumber : UPTD Terminal Agribisnis, 2010.

Tingkat keuntungan yang diperoleh petani lidah buaya diduga dipengaruhi juga oleh sistem distribusi pemasaran dan cakupan wilayah pemasaran daun lidah buaya ke konsumen. Kendala yang dihadapi oleh petani sebagai produsen dalam hal pemasaran adalah terbatasnya kemampuan produsen untuk memasarkan secara langsung ke wilayah antar pulau dan ekspor.

Petani produsen sangat ketergantungan dengan pedagang pengumpul atau pedagang besar untuk dapat memasarkan produk daun lidah buaya ke luar daerah atau ekspor.  Hal ini menyebabkan wilayah pemasaran daun lidah buaya menjadi lebih sempit  atau terbatas,  akibatnya  penyerapan produk yang dihasilkan oleh petani tidak seimbang dengan kemampuan atau daya beli dari pedagang pengumpul, pedagang besar atau eksportir.  Bahkan berdasarkan penelitian Muin et.al. (2010) R/C rasio hasil penelitian pada tahun 2010 lebih rendah dibandingkan hasil penelitian Burhansyah (2002), yakni dari adalah 2,11 menjadi 1,19.

Menghadapi keadaan ini, terdapat indikasi petani lidah buaya mengalami pergeseran dalam pemanfaatan lahan usahataninya.  Semula pola usahatani yang dilakukan bersifat khusus, yaitu untuk budidaya lidah buaya menjadi pola usahatani campuran.  Berdasarkan uraian maka rumusan permasalahan  yang akan dianalisis adalah bagaimanakah pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak ?

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak. Hasil penelitian ini bermanfaat terutama bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan lahan usahatani serta produksi usahatani lidah buaya.  Pergeseran pola usahatani yang terjadi pada akhirnya akan mempengaruhi strategi pembangunan pertanian secara umum dan khususnya usahatani lidah buaya.

 

METODE ANALISIS

Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah sentra produksi lidah buaya di Provinsi Kalimantan Barat dan petani masih aktif melakukan kegiatan usahatani lidah buaya. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari Januari 2010 sampai Juni 2010. Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Terminal Agribisnis Dinas  Ketahanan Pengan dan Penyuluhan  Kotamadya Pontianak (2010), sampai dengan tahun 2010 jumlah petani lidah buaya di sentra produksi lidah buaya Kotamadya  Pontianak yang masih aktif adalah sebanyak 43 orang. Sehingga penelitian ini menjadi penelitian sensus. Data yang  dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kota Pontianak merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 dengan luas wilayah 107.82 km2 atau 0.07 persen dari luas Kalimantan Barat. Secara geografis terletak tepat di lintasan khatulistiwa, sehingga menjadikan Kota Pontianak dijuluki dengan sebutan Kota Khatulistiwa (Bappeda dan BPM Kota Pontianak dalam Ellyta, 2006). Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 5 Tahun 2002, secara administratif Kota Pontianak dibagi menjadi lima kecamatan. Adapun luas wilayah Kota Pontianak menurut kecamatan seperti pada Tabel 2.

Tabel 2.   Luas Wilayah Kotamadya Pontianak Menurut Kecamatan.

No.

Kecamatan

Luas (km2)

Persentase (%)

1

2

3

4

5

Pontianak Utara

Pontianak Selatan

Pontianak Timur

Pontianak Barat

Pontianak Kota

37,22

29,37

8,78

22,11

10,34

34,52

27,24

8,14

20,51

9,59

Jumlah

107,82

100,00

Sumber : BPS Kota Pontianak dalam Ellyta (2006).

Sentra Produksi lidah buaya yang merupakan lokasi penelitian termasuk dalam  kawasan sentra agribisnis Pontianak yang terletak di Kecamatan Pontianak Utara. Kawasan Sentra Agribisnis (KSA) merupakan salah satu kawasan yang dibangun oleh Pemerintah Kota Pontianak sebagai salah satu bentuk perencanaan ruang sektor strategis khususnya di bidang pertanian. Pengembangan KSA Pontianak dipandang dapat mengakomodir hal tersebut dengan pendekatan produk unggulan daerah, dan salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah tanaman lidah buaya (Aloe vera L.).

Kawasan Sentra Agribisnis  Kota Pontianak terletak di Kecamatan Pontianak Utara meliputi Kelurahan Siantan Hulu, Siantan Tengah dan Siantan Hilir. Luas KSA adalah 800 ha dan secara geografis wilayah kawasan tersebut terletak antara 109° 19,621’ BT -109° 21,648’BT dan 0°00,211’LU – 0° 02,178’LU.

Data dari Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika Supadio Pontianak, KSA Pontianak termasuk daerah beriklim tropis tipe A dengan curah hujan rata-rata setiap tahunnya mencapai 3.102 mm atau 258.5 mm/bulan dengan kisaran antara 225.3 mm-325.7 mm/bulan. Suhu udara rata-rata per hari mencapai 26.6 0C dengan kisaran 26.30C-26.90C. Kelembaban udara rata-rata tahunan adalah 86.2 persen. Intensitas penyinaran matahari rata-rata tahunan adalah 59.2 persen dan tekanan udara rata-rata tahunan adalah 1.010.6 mb. Secara agroklimat Kota Pontianak memenuhi persyaratan sebagai daerah pengembangan lidah buaya karena Kota Pontianak terletak tepat pada garis Khatulistiwa (0°) yang mendapat penyinaran penuh sepanjang hari.

Sebagai salah satu kawasan yang diusahakan untuk pengembangan tanaman lidah buaya maka KSA sangat tepat. Hal ini disebabkan karena tanaman lidah buaya sudah lama diusahakan oleh petani keturunan etnis Cina di Kelurahan Siantan Hilir dan Siantan Hulu. Di Kota Pontianak tanaman lidah buaya sudah mulai banyak ditanam sekitar tahun 1980 an yang pemanfaatannya saat itu masih terbatas pada tanaman hias dan tanaman obat panas dalam.  Sejalan dengan tumbuhnya permintaan, maka tanaman ini mulai diusahakan secara serius oleh petani.

Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik petani lidah buaya di KSA adalah sebagian besar (55,81 %) berumur  40- 50, dengan tingkat pendidikan adalah SD (58,14 persen).  Rata-rata petani lidah buaya di sentra produksi lidah buaya Kalbar memiliki pengalaman usahatani lidah buaya antara 8 – 18 tahun (Tabel 3).

Tabel 3.           Komposisi Luas Lahan Yang Dimiliki Petani Berdasarkan Lama Berusahatani Lidah Buaya

No

Luas Lahan (Ha)

Lama Berusahatani Lidah Buaya (Tahun)

Total

8

9

10

11

12

13

18

1

0.20

1

1

2

0.30

3

1

4

3

0.40

1

1

4

0.50

2

4

6

3

4

2

1

22

5

0.75

1

1

6

1.00

1

3

1

2

7

7

1.50

1

1

2

4

8

2.00

1

1

2

9

8.00

1

1

Total

3

10

12

6

8

2

2

43

Keterangan : Angka dalam table yang tercetak miring dalam satuan orang. Sumber : Data Primer, 2010.

Tabel 4. Profil Petani Lidah BuayaBerdasarkan Pekerjaan Utama dan Sampingan.

No

 Profil Usahatani

Jumlah (org)

Persetase (%)

1.

 Sebagai Pekerjaan Utama
 1. Tani Lidah Buaya

38

88.37

 2. Tani sayur

 3. Tani Pepaya

1

2.33

 4. Tani pepaya/sayur/jagung

 5. Satpam Swasta

1

              20.00

 6. TNI

1

              20.00

 7. Dagang

2

                8.33

Total Utama

43

            100.00

2.

 Sebagai Pekerjaan Sampingan
 1. Tani Lidah Buaya

5

              11.63

 2. Tani sayur

5

              11.63

 3. Tani Pepaya

24

              55.81

 4. Tani pepaya/sayur/jagung

9

              20.93

 5. Satpam Swasta

                   –

 6. TNI

                   –

 7. Dagang

                   –

Total Sampingan

43

            100.00

Sumber : Data Primer, 2010.

Tabel 5. Perbandingan Luas Lahan Dimiliki Dan Ditanami Lidah Buaya

Sumber : Data Primer, 2010.

Petani lidah buaya rata-rata memiliki tanggungan keluarga berjumlah lima orang. Anggota keluarga ini sekaligus juga membantu dalam usahatani lidah buaya. Petani lidah buaya di KSA, selain berusahatani lidah buaya sebagai pekerjaan utama maupun sampingan, petani tersebut mempunyai usaha lain yakni sebagai petani yang berkebun sayur, jagung dan pepaya serta menjadi pedagang (Tabel 4).

Sebagian besar petani lidah buaya (29 petani) mengusahakan usahatani lidah buaya dengan luasan kurang dari satu  hektar, dan 14 petani yang mengusahakan usahatani lidah buaya dengan luas lahan satu hektar atau lebih. (Tabel 5). Luasan lahan usahatani lidah buaya  yang dimiliki petani pada saat penelitian sama dengan luas lahan pada waktu awal dilakukan usahatani lidah buaya.  Selanjutnya luas lahan yang digunakan untuk usahatani  lidah buaya sekitar 58 persen dari total luas lahan usahatani yang dimiliki. Luas lahan yang tidak ditanami atau diusahakan untuk tanaman lidah buaya umumnya ditanami dengan tanaman pepaya, jagung dan sayuran.

Berdasarkan pengklasifikasian yang dikemukakan oleh Suratiyah (2008), usahatani dikelompokan menjadi usahatani dengan pola khusus, pola tidak khusus dan pola campuran. Petani lidah buaya semula mengusahakan lahan yang dimiliki dengan pola khusus, yaitu usahatani lidah buaya, maka saat ini lahan yang dimiliki diusahakan dengan pola usahatani campuran.  Pola tanam yang dilakukan oleh petani lidah buaya terdokumentasi pada gambar 1 – 4.

Berdasarkan hasil wawancara dengan petani lidah buaya, kurangnya keinginan petani untuk memperluas lahan usahatani lidah buaya dikarenakan harga pelepah daun lidah buaya tidak pernah meningkat dan sejak tahun 2000 harga daun lidah buaya segar  sebesar Rp 900,- per kilogram serta permintaan daun lidah buaya tidak rutin setiap saat.

Oleh karena itu, petani lebih memilih memanfaatkan lahan yang belum diusahakan untuk ditanami pepaya dan sayuran daripada ditanami lidah  buaya, karena dari  produksi usahatani sayur dan pepaya dengan pola usahatani campuran dapat dijual setiap saat, sehingga setiap harinya petani tersebut akan mendapatkan pemasukan tunai.  Bahkan hasil dari usahatani lainnya dipergunakan untuk membeli sarana produksi untuk usahatani lidah buaya.

Tanaman pepaya merupakan jenis tanaman yang paling banyak diusahakan oleh petani (Tabel 4) karena permintaan akan buah pepaya segar relatif stabil setiap hari, pemeliharaan yang tidak memerlukan perlakuan khusus dan kemudahan pemasaran karena pedagang pengumpul akan mengambil hasil produksi setiap hari dari petani.  Dari segi harga, buah pepaya dijual Rp 4.000,- sampai Rp 5.000,- /kg.  Bahkan untuk pepaya madu dapat mencapai Rp 6.500,-/kg.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan pola pemanfaatan lahan usahatani oleh petani lidah buaya, dari usahatani dengan pola khusus menjadi usahatani dengan pola campuran.  Pola usahatani campuran yang dilakukan oleh petani lidah buaya adalah usahatani tumpang sari antara tanaman lidah buaya dengan tanaman sayur-sayuran, jagung dan pepaya.

Mempertimbangkan hasil analisis yang menunjukan adanya perubahan pola usahatani petani lidah buaya, jika KSA Lidah Buaya yang ada di Kotamadya Pontianak akan dipertahankan dan dikembangkan, maka disarankan pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berkoordinasi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh petani lidah buaya

 

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. 2008. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK), Budidaya Lidah Buaya. Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, Bank Indonesia. Email : tbtkm@bi.go.id.

Burhansyah, R. 2002. Analisis Ekonomi Usahatani Lidah Buaya Di Kota Pontianak. Tesis.  Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Kalimantan Barat. 2008. Ekspor Komoditi Unggulan di Kalimantan Barat.  Makalah Pertemuan Konsultasi Pengembangan Komoditi Unggulan Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor Nasional dan Potensi Daerah. Pontianak, 7 Juli 2008.

Ellyta. 2006. Analisis Jaringan Komunikasi Petani Dalam Pemasaran Lidah Buaya (Kasus di Kawasan Sentra Agribisnis Pontianak Kalimantan Barat). Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Muin, Sudirman; Erlinda Yurisinthae dan Nurliza, (2010). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keuntungan Usahatani Lidah Buaya Di Sentra Produksi Lidah Buaya Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Aloe Vera, IX (2) : 5-9.

Suratiyah,  K. 2008. Ilmu Usahatani. Cetakan ke 2. Penebar Swadaya. Jakarta.

UPTD Terminal Agribisnis, Dinas Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kotamadya Pontianak. 2010Data Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Lidah Buaya Tahun 2004 – 2009 dan Perkembangan Ekspor dan Penjualan Antar Pulau Produk Lidah Buaya Tahun 2000 – 2007. Dinas Ketahanan pangan dan Penyuluhan Kotamadya  Pontianak.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: