JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 1 Maret 2011 == PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI AMELIORAN == KAMBANG V ASIE
11 Maret 2012, 7:19 am
Filed under: Penelitian

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI AMELIORAN DAN NPK TERHADAP  PERTUMBUHAN DAN HASIL

 DUA VARIETAS KEDELAI PADA TANAH GAMBUT PEDALAMAN

(The Effect of combination Ameliorant Application and NPK Fertilizer on the growth and yield of

Two soy variety in inland peat land)

Kambang Vetrani Asie, Hadinnupan Panupesi,  Erina Riak Asie

Dosen Budidaya Pertanian Faperta Unpar

ABSTRACT

This research was to study the effect of interaction between the gift of combination ameliorant and NPK toward the growth and yield of two soy’s varieties in hinterland peat, to determine the best dose of ameliorant and NPK toward the growth and the plants result of two most responsive of soy’s varieties. The research was arranged by factorial group design with two levels of ameliorant, the first factor that ameliorant and NPK, the second of variety Baluran and Rajabasa. The result showed that applying of ameliorant dolomit 2 ton ha-1, chicken dirt 15 ton ha-1, and (urea 37,5 kg ha-1, SP-36 50 kg ha-1, KCL 50 kg  ha-1) can improve the observation variables that are amount of contents of soy’s plants -1. The factors variety Baluran and Rajabasa influential to dry seed in partition-1 and the weight dry 100 Soy Seed.

Keyword : Soy, Ameliorant, Fertilizer and NPK, Hinterland Peat

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai pada lahan gambut pedalaman, untuk menentukan dosis terbaik kombinasi amelioran dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman dua varietas kedelai yang paling responsif. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yaitu amelioran dan NPK, faktor kedua yaitu kedelai varietas Baluran dan Rajabasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi amelioran dan NPK dengan dosis kombinasi amelioran dolomit 2 ton ha-1, kotoran ayam 15 ton ha-1, dan (urea 37,5 kg ha-1, SP-36 50 kg ha-1, KCL 50 kg ha-1) merupakan perlakuan yang terbaik terhadap variabel jumlah polong isi kedelai tanaman-1. Pada faktor varietas Baluran dan Rajabasa berpengaruh terhadap berat kering biji petak-1 dan berat 100 butir biji.

Kata kunci : Kedelai, Dosis Amelioran dan NPK, Tanah Gambut Pedalaman.

PENDAHULUAN

         Pengembangan kedelai, perlu dilakukan upaya-upaya untuk peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam. Sumbangan inovasi teknologi hasil penelitian berupa varietas unggul baru spesifik lokasi dan pengelolaan lahan, air, serta tanaman merupakan andalan untuk meningkatkan produksi baik melalui program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal (Marwoto dkk., 2005).

Tanah gambut pedalaman mempunyai sifat fisik kimia, dan biologi tanah yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.  Beragam sifat yang perlu diperbaiki pada tanah gambut, tidak mungkin dengan aplikasi satu jenis amelioran, tetapi diperlukan perpaduan dari beberapa amelioran yang saling bersinergi dan dikombinasikan dengan pemberian pupuk untuk memperbaiki kendala budidaya pada tanah gambut.

Selama ini, amelioran yang hanya menggunakan satu jenis amelioran seperti kapur, memiliki kelemahan karena kandungan haranya tidak lengkap dan sedikit mengandung koloid sehingga cenderung tidak membentuk kompleks jerapan serta kurang memperbaiki tekstur tanah.  Kelemahan kapur,

perlu diimbangi dengan pemakaian amelioran lain yang dapat melengkapi kelemahan tersebut, antara lain penggunaan pupuk organik seperti pupuk kotoran ayam.

Penggunaan kapur dan pupuk kotoran ayam dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan beberapa sifat kimia tanah. Namun, hal tersebut belum dianggap mampu menyediakan unsur hara makro utama seperti N, P dan K yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar.

Produksi kedelai baik secara nasional maupun regional khususnya di Kalimantan tengah tergolong masih rendah, disebabkan beberapa faktor, yaitu beralih fungsinya lahan, kurangnya pengetahuan petani dalam pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya tanaman kedelai dan kurangnya pengetahuan tentang pemberian pupuk dasar (amelioran), serta kurangnya pemahaman tentang varietas yang digunakan. Sehingga untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut maka  dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui interaksi pengaruh pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman.

BAHAN DAN METODE

         Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah, dari bulan Juli sampai Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 faktor. Faktor pertama (A) adalah kombinasi amelioran (dolomit dan pupuk kotoran ayam) dengan dosis pemupukan NPK.  yang terdiri dari  5 taraf yaitu : A­0 = Tanpa dolomit + 22,5 ton ha-1 kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL),  A1 = 2 ton ha-1 dolomit + 15 ton ha-1 kotoran ayam + (37, 5 kg ha-1 urea, 50 kg ha-1 SP-36, 50 kg ha-1 KCL), A2 = 2 ton ha-1 dolomit + 15 ton ha-1  kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL), A­3 = 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea, 50 kg ha-1 SP-36, 50 kg ha-1 KCL), A4 = 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL). Faktor kedua (V) adalah Varietas Kedelai, yaitu: V1 = Varietas Baluran dan V2 = Varietas Rajabasa. Jumlah kombinasi perlakuan 10 percobaan diulang 3 kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan.

Benih ditanam dengan ditugal jarak tanam 40 cm x 20 cm. Pemupukan P dan K sesuai perlakuan yang diberikan pada saat penanaman benih, sedangkan pemberian N dilakukan 2 kali. 1/2 dosis perlakuan N diberikan 7 hst dan selanjutnya sisa diberikan saat tanaman berumur 21 hst. Panen dilakukan secara bertahap pada varietas Baluran umur 80 hst dan varietas Rajabasa umur 82 hst.

Variabel yang diamati meliputi : Tinggi tanaman (umur 14, 21, 28, 35 dan 42 HST), Berat kering total tanaman (umur 42 HST), Jumlah polong hampa kedelai tanaman-1, Jumlah polong isi kedelai tanaman-1, Berat kering biji petak-1, Berat 100 butir biji,

Data dilakukan analisis ragam dengan uji F pada taraf  5% dan 1%. Jika terdapat pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf  5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tinggi Tanaman Kedelai

Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman kedelai pada semua umur pengamatan. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan tidak ada korelasi atau hubungan dalam memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman yang diamati.

Pertumbuhan tanaman merupakan proses dimana terdapatnya pertambahan ukuran, berat dan jumlah sel pada tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Atas dasar kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan tanaman yang paling mudah dilihat (Sitompul dan Guritno, 1995).

Gambar Kambang 1

Gambar 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Umur 14-42 HST

Secara kualitatif varietas Baluran lebih baik dibandingkan varietas Rajabasa, karena mempunyai dampak positif yang paling besar terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, dan juga secara sifat genetik varietas Baluran lebih tinggi dari varietas Rajabasa. Kombinasi amelioran dan NPK ternyata tidak dapat memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman kedelai sampai diakhir pengamatan (42 hst) (Gambar 1). Secara kualitas kombinasi amelioran dan NPK tertinggi terlihat pada A1 (49,18 cm) dan A2(48,17 cm), meningkatnya tinggi tanaman selama pertumbuhannya akibat efek dari proses fisiologis. Disamping itu juga, ketersediaan air bagi tanaman relatif kurang. Padahal faktor lingkungan seperti air sangat diperlukan oleh tanaman kedelai untuk mencapai pertumbuhan yang baik. Rata-rata curah hujan selama penelitian dari bulan Juli-September 2009 adalah 23,57 mm bulan-1) yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Curah hujan seperti ini tidak menguntungkan karena mengakibatkan kurang tersedianya air bagi tanaman.

Berat Kering Total Tanaman

Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap berat kering total tanaman. Saat penelitian, terjadi kabut asap sehingga terganggunya proses fotosintesis. Saat pertumbuhan tanaman, dimana penyinaran matahari kurang. Padahal pada saat pertumbuhan, tanaman sangat memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis.

Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi fotosintesis. Karena cahaya matahari mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses fotosintesis, yang meliputi intensitas cahaya, lama penyinaran dan kualitas cahaya matahari. Cahaya yang berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity Radiation) yang memiliki panjang gelombang sekitar 400 mm dan 750 mm (Jumin, 1994). Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman harus dapat menyerap sebagian besar radiasi tersebut dengan jaringan fotosintesisnya yang hijau. Daun sebagai organ utama untuk menyerap cahaya dan untuk melakukan fotosintesis pada tanaman budidaya, mungkin berkembang dari embrio di dalam biji atau dari jaringan meristem di batang (Gardner dkk., 1991).

Jumlah Polong Isi Tanaman-1

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap jumlah polong isi tanaman-1, sedangkan pada faktor tunggal varietas tidak berpengaruh.

Tabel  1.   Rata-rata Jumlah Polong Isi Kedelai Tanaman-1

Varietas Kedelai (V)

Amelioran (A)

Rata-rata

A0

A1

A2

A3

A4

V1

12.39 28.06 25.89 23.34 22.67 22.47

V2

17.06 26.72 24.83 24.50 23.95 23.41
Rata-rata 14.73 a  27.39 b 25.36 b 23.92 ab   23.31 a 22.94
BNJ 5 %

A = 10.01

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Pada Tabel 1 dan Gambar 2, perlakuan A1 menghasilkan rata-rata polong isi terbesar yaitu A1 (27,39) dan A2 (25,36). Tingginya hasil perlakuan A1 dan A2 dibandingkan dengan perlakuan A0 (14,73), A3 (23,92), dan A4 (23,31), diduga kombinasi amelioran dan NPK cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari manfaat pengapuran dan pupuk kandang terhadap jumlah polong isi. Hasil analisis tanah awal pH 3,72, penambahan pupuk kandang ke dalam tanah selain berfungsi untuk memperbaiki permeabilitas tanah juga dapat memperbaiki kesuburan kimia tanah karena mengandung unsur N, P, K, Ca, Mg dan Cl, serta dapat meningkatkan kegiatan mikroorganisme tanah yang berarti juga akan meningkatkan kesuburan tanah  (Sutedjo, 2002). Darung (1999), menambahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam 14 ton ha-1 dan kapur 1,70 ton ha-1 mampu mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan tanaman dan hasil panen tanaman kedelai ditanam pada tanah gambut pedalaman Kalimantan.

Jumlah Polong Hampa Tanaman-1

Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap jumlah polong hampa tanaman-1.

Gambar Kambang 2

Gambar 2. Rata-Rata Jumlah Polong Hampa dan Isi Kedelai Tanaman-1

Secara kuantitatif jumlah polong hampa berfluktuasi pada masing-masing perlakuan selain karena terganggunya proses fotosintesis akibat kabut asap selama penelitian, juga karena serangan hama yaitu hama penghisap polong (Riptortus linearis) dan penggerek polong (Etiella zinckenella). Menurut Irwan (2006), hama penghisap polong (Riptortus linearis) menyebabkan polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Penggerek polong (Etiela zinchenella) menyerang pada bagian polong terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil dari budidaya tanaman kedelai serangan hama (Rukmana, 2001).

Berat Biji Petak-1

Faktor tunggal varietas pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap berat biji petak-1.

Tabel  2.      Rata-rata Berat Biji Kedelai Petak-1

Varietas Kedelai (V)

Amelioran (A)

Rata-rata

A0

A1

A2

A3

A4

V1

 193.83

     469.38

370.22

333.67

304.56

334.33 b

V2

 177.23

239.57

264.27

299.92

302.04

256.60 a

Rata-rata

 185.53

354.47

317.24

316.80

303.30

  295.47
BNJ 5 %

V = 17.43

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Pada Tabel 2, kombinasi amelioran dan NPK tidak berpengaruh antara perlakuan, sedangkan faktor varietas berpengaruh. Perlakuan yang diberikan berpengaruh terhadap berat kering biji petak-1, varietas V1 (Baluran)dengan rata-rata 334,33 gram petak-1 lebih tinggi dibandingkan dengan            V2 (Rajabasa)rata-rata 256,60 gram petak-1. Ini karena adanya unsur hara P yang terdapat pada pupuk dasar amelioran seperti dolomit dan kotoran ayam, dan pupuk NPK mampu meningkatkan hasil berat biji petak-1,

Unsur N yang diserap tanaman pada varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A2V1 (3.22), sedangkan pada varietas Rajabasa lebih rendah A3V2 (3.38). Unsur P yang diserap tanaman pada Varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A1V1 (803.84), sedangkan pada varietas Rajabasa lebih rendah A1V2 (623.26). Unsur K yang diserap tanaman pada varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A1V1 (12336.47), dibandingkan dengan varietas Rajabasa lebih rendah A1V2 (12172.87).

Unsur P pada varietas Baluran yang diserap tanaman tertinggi pada perlakuan A1, sehingga dapat meningkatkan hasil biji dan protein yang terdapat dalam biji (Rukmana, 2001). Unsur N yang diserap varietas Baluran tertinggi pada perlakuan A1 merupakan unsur yang juga berperan dalam meningkatkan hasil tanaman, karena N diperlukan dalam pembentukan bagian vegetatif seperti akar, batang, dan cabang untuk memacu terbentuknya bunga. Menurut Rukman (2001), Pemupukan N dan P sering dapat meningkatkan hasil yang baik, terutama bila kandungan N dan P dalam tanah miskin unsur hara.

Unsur K yang diserap oleh varietas Baluran, lebih besar dibandingkan dengan varietas Rajabasa. Berdasarkan hasil analisis jaringan penyerapan unsur K tertinggi pada varietas Baluran A1V1 (12336.47), sedangkan pada varietas Rajabasa A1V2 (12172.87). Tanaman diduga memperoleh suplai unsur hara K yang cukup untuk meningkatkan berat biji petak-1 panen. Menurut Irwan (2006), unsur K sangat penting dan berperan dalam membantu pembentukan protein dan karbohidrat untuk meningkatkan hasil, yaitu berupa biji.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat biji kedelai varietas Baluran adalah 0,56 ton ha-1, dan pada varietas Rajabasa 0,43 ton ha-1. Hasil ini masihlebih rendah dari deskripsi varietas Baluran 2,5 ton ha-1, dan Rajabasa 2,05 ton ha-1 (Saragih, 2004).

Berat Kering 100 Biji

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal varietas akibat pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap berat kering 100 biji.

Tabel  3.      Rata-rata Berat Kering 100 Biji

Varietas Kedelai (V)

Amelioran (A)

Rata-rata

A0

A1

A2

A3

A4

V1

10.71 13.66 11.44 11.68 10.95 11.69  b

V2

  7.61   8.83   8.82   9.58   9.94   8.96  a
Rata-rata 9.16 11.25 10.13 10.63 10.45 10.32
BNJ 5 %

V = 1.10

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama,   tidakberbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Demikian juga untuk berat 100 biji, berdasarkan pengamatan secara kualitatif bahwa varietas Baluran 11,69 gram memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Rajabasa 8,96 gram (Tabel 3). Selain berasal dari sifat genetik juga dipengaruhi oleh tingkat adaptasi terhadap lingkungan tempat tumbuhnya. Menurut Marwoto (2005), faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil produksi tanaman, selain dari tanaman adalah faktor lingkungan seperti tanah yang memberikan unsur hara dan penyinaran dalam bentuk cahaya.

Rendahnya berat biji dan berat 100 biji pada masing-masing varietas yaitu Balurandan Rajabasa dibandingkan dengan deskripsinya, diduga selain faktor genetik juga karena faktor lingkungan yang tidak mendukung, yaitu terjadinya kabut asap hampir selama penelitian berlangsung yang mengakibatkan kurangnya cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Budi dkk. (2009) menyatakan, bahwa meningkatnya energi radiasi matahari yang dapat diterima tajuk tanaman kedelai menjadikan proses fotosintesis meningkat, sehingga fotosintat yang dihasilkan akan meningkatkan hasil biji, karena memperbesar pasokan fotosintat ke bagian biji.

KESIMPULAN DAN SARAN

         Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Interaksi pemberian kombinasi amelioran dan NPK pada dua varietas tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada semua variabel pengamatan.
  2. Pemberian kombinasi amelioran dan NPK tidak berpengaruh nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, berat kering total tanaman, dan jumlah polong hampa terhadap dua varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman. Tetapi pemberian kombinasi amelioran dan NPK pada perlakuan A1 terhadap dua varietas kedelai berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah polong isi tanaman-1 yaitu rata-rata27,39 buah.
  3. Dua varietas yang digunakan tidak menunjukan pengaruh pada variabel tinggi tanaman, berat total tanaman, jumlah polong hampa tanaman-1, jumlah polong isi tanaman-1, tetapi berpengaruh nyata terhadap berat biji petak-1, dan berat 100 biji. secara kualitatif dan kuantitatif varietas Baluran memberikan efek positif yang paling besar dibandingkan dengan varietas Rajabasa. Bila dibandingkan hasil berat biji petak-1 varietas Baluran adalah 0,56 ton ha-1, dan varietas Rajabasa 0,43 ton ha-1,lebih rendah dari standar deskripsi varietas Baluran  2,5 ton ha-1, dan varietas Rajabasa 2,05 ton ha-1.

Varietas Baluran lebih baik dari pada varietas Rajabasa bila ditanam di tanah gambut pedalaman, secara kualitatif dan kuantitatif varietas Baluran memberikan efek positif yang paling besar dibandingkan dengan varietas Rajabasa. Meskipun demikian penelitian ini masih mengandung kelemahan dan menyisakan masalah yang perlu dicari lagi jawabannya, kelemahan dari masalah tersebut antara lain : Penelitian  ini dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober 2009 dimana pada saat itu terjadi kabut asap sehingga penyinaran matahari rendah (rata-rata 57,97) dan curah hujan rata-rata (23,57 mm). Oleh sebab itu, hasil penelitian ini masih perlu dikoreksi dengan hasil penelitian lain, terutama pada pemilihan waktu penanamannya.

UCAPAN TERIMA KASIH

         Ucapan terima kasih disampaikan kepada saudara Saiful yang telah membantu dalam penelitian ini, mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan dilapangan untuk mendapatkan data sampai kepada penyusunan laporan hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Budi, G.P., O,D., Hajoeningtijas. 2009. Kemampuan Kompetisi Beberapa Varietas Kedelai (Glycine max) Terhadap GulmaAlang-Alang (Imperata cylindrica) dan Teki (Cyperus rotundus). http://www.trubusonline. co.id/mod.php?mod= publisher&op= vie  warticle &cid(11 November 2009).

Darung, U. 1999. Pengaruh Waktu Pemberian Kapur dan Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Kedelai pada Tanah Gambut Pedalaman Kalimantan.

http://74.125.153.132/search?q=cache:BCd5E942WoJ:images.soemarno.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/RfusgAoKCpkAAFVNQQo1/KEDELAI2.doc%3Fnmid%3D22330493+hasil+penelitian (11No-vember 2009).

Gardner, F., R.B. Pearce dan R.L., Mitchell. 1991. Fisologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Irwan, A. W. 2006. Budidaya Tanaman Kedelai. Fakultas Pertanian UNPAD.

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/budidaya_tanaman_ kedelai.pdf. ( 3 Juli 2009).

Jumin, Hasan Basri. 1994. Dasar-Dasar Agronomi. Radja Grafindo Persada. Jakarta.

Marwoto, K.S. Swastika dan P. Simatupang.  2005.  Pengembangan Kedelai dan Kebijakan Penelitian di Indonesia.  Seminar Nasional Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Mendukung Kemandirian Pangan.  Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Rukmana, R., 2001. Kedelai Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Jakarta.

Saragih, Bungaran. 2004. Keputusan Menteri Pertanian. http://www.deptan.go.id/bdd/admin/file/SK-171-04.pdf. (15 Juli 2009).

Sitompul, S.M., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhab Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.

Sutedjo, M.M., 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

gambar Rata-Rata Tinggi Tanaman Umur 14-42 HST kok gak ada ??

Komentar oleh Dian

mohon maaf saat input untuk upload tidak lengkap tercopynya

Komentar oleh Jurnal Agripeat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: