JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 1 Maret 2011 == KAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI == Edwin Noor Fikri
11 Maret 2012, 6:14 am
Filed under: Penelitian

KAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN PISANG DI DESA SUNGKAI BARU KECAMATAN SIMPANG EMPAT KABUPATEN BANJAR

(Study on the Control of Banana Wilt Disease at Sungkai Baru Village in Simpang Empat County in Banjar Regency)

Edwin Noor Fikri dan Elly Liestiany

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

Universitas Lambung Mangkurat

Email : yharoen07@yahoo.com

ABSTRACT

This research is intended to provide healthy young banana plants derived from tissue culture, supplemented with beneficial microorganisms to increase their resistancy against the wilt pathogen, decreasing pathogen population in soil, and protecting plants from wilt disease in field.  This research was done at plant pathology laboratories of the Faculty of Agriculture of Lambung Mangkurat University.  In vivo test was also done in the demonstration plot at Sungkai Baru in Simpang Empat county in Banjar regency.  In vitro test was done to obtain microorganisms antagonistic to the pathogens through dual culture tests and evaluate their ability to inhibit the pathogens.  Three out of 7 fluorescens pseudomonad isolated recovered, i.e. PfB3, PfB4 and PfB7 were effective antagonists against the pathogens.  Demonstration plot shows that plants fortified with both fluorescens pseudomonads (PfB3, PfB4, and PfB7) and endomycorrhyza (Glomus sp.) planted in planting holes supplied with the crucifer and then with the special organic fertilizer, were more healthier than the untreated plants.

Key Word:  Ralstonia solanacearum, fluorescent Pseudomonad.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menyiapkan bibit pisang sehat yang telah diproteksi dengan agensia hayati sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen, menurunkan populasi patogen tular tanah, dan mencegah serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum) pada tanaman pisang di lapangan.  Uji in vitro dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, sedangkan uji in vivo dilaksanakan di Desa Sungkai Baru, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar.  Pengujian in vitro antagonis terhadap bakteri layu dilakukan dengan metode uji biakan ganda, dan dievaluasi kemampuan antagonis menghambat patogen.  Dari 7 isolat Pseudomonas berfluoresen yang diperoleh, 3 isolat efektif mengendalikan bakteri layu yaitu isolat-isolat PfB3, PfB4 PfB7.  Hasil demplot (percontohan penanaman pisang) memperlihatkan bahwa pemberian endomikoriza Glomus sp., 3 isolat Pseudomonas berfluoresen spesifik lokasi (PfB3, PfB4 dan PfB7), sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus mampu menahan infeksi patogen penyebab penyakit layu pisang di lapang.

Kata Kunci:  Ralstonia solanacearum, Pseudomonas berfluoresen.

PENDAHULUAN

Pisang merupakan salah satu komoditas andalan di Kabupaten Banjar.  Sentra penanaman pisang di Kabupaten Banjar terdapat di kecamatan Sungai Pinang, kecamatan Pengaron, kecamatan Sambung Makmur, dan kecamatan Simpang Empat.  Laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banjar Tahun 2005 menyebutkan produksi pisang dari keempat kecamatan tersebut adalah 78.738 kwintal.  Jenis pisang yang ditanam pada umumnya adalah pisang kepok.  Produksi pisang ini selain untuk keperluan konsumsi lokal, sebagian lagi dikirim ke luar daerah terutama ke pulau Jawa untuk keperluan konsumsi dan ada pula yang diproses menjadi tepung pisang yang berpotensi untuk diekspor.

            Melihat prospek penanaman pisang ini, maka selayaknya pertanaman pisang di kabupaten Banjar mendapat perhatian dalam pengembangannya.   Namun sejak tahun 2006 yang lalu terjadi epidemi penyakit layu pada tanaman pisang  di dua kecamatan yaitu di kecamatan Simpang Empat dan di kecamatan Sambung Makmur yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum.  Serangan pada pisang di dua kecamatan tersebut meliputi areal seluas kurang lebih 87 ha hanya dalam periode Juni sampai Agustus 2006, yaitu 32 ha di desa Sungkai Baru (kecamatan Simpang Empat), 29 ha di desa Baliangin dan 26 ha di desa Gunung Batu (keduanya di kecamatan Sambung Makmur).

Serangan Ralstonia solanacearum pada akar dan bonggol menyebabkan tanaman layu.  Sedangkan serangan bakteri pada buah menyebabkan buah mengandung bacterial ooze berupa lendir berwarna merah.

Patogen penyebab penyakit layu ini penyebarannya sangat cepat, dan mampu bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun, maka pengendalian penyakit layu ini perlu dilakukan secara tuntas.  Dikhawatirkan penyakit tersebut akan menyebar ke sentra-sentra produksi pisang lainnya. Ancaman ini tentu akan mengurangi produksi dan kualitas pisang di daerah tersebut yang berdampak pada pendapatan masyarakat dan daerah.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, dan penelitian lapangan di desa Sungkai Baru Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2007 sampai dengan bulan April 2008.

Penelitian ini dimulai dengan isolasi bakteri Ralstonia solanacearum dari tanaman sakit yang diambil di desa Sungkai Baru Kecamatan Simpang Empat, sedangkan isolasi Pseudomonas berfluoresen dari akar pisang yang sehat dari Kabupaten Banjar.

Bahan penelitian yang digunakan terdiri atas médium untuk uji biokimia dan fisiologi bakteri, buffer fosfat ph 7 + 0,1 % pepton, bibit pisang kepok, isolat bakteri yang diisolasi dari pisang kepok bergejala layu, dan tujuh isolat bakteri berfluoresen yang diisolasi dari rizosfer tanaman pisang yang sehat.  Alat-alat yang digunakan terdiri atas cawan petri, neraca analitis, vortex, drigalsky spatula, sirakus, sentrifus, tabung efendorf, mikropipet, lampu UV dengan panjang gelombang 365 nm, otoklaf dan oven.

Karakterisasi bertujuan untuk mengetahui sifat biokimia dan fisiologi dari bakteri patogen dan bakteri antagonis.  Metode yang digunakan untuk menguji sifat-sifat tersebut yaitu metode yang dikemukakan oleh Lelliot & Stead (1987).  Sifat-sifat yang diuji adalah uji reaksi gram, uji katalase, pembentukan figmen, produksi levan, hidrolisis pati, uji oksidatif-fermentatif , hidrolisis gelatin, uji oksidase dan hidrolisis Tween 80.

Uji Antagonisme In Vitro pada Medium King’s B

            Uji antagonisme in vitro Pseudomonas berfluorescen terhadap R solanacearum dilakukan untuk melihat agresivitas dari bakteri antagonis terhadap bakteri patogen penyebab penyakit layu.  Digunakan metode uji biakan ganda, dan dievaluasi sifat pertumbuhan dan zona hambatan. Pseudomonas berfluoresen dan R. solanacearum ditumbuhkan secara oposisi langsung pada cawan petri berdiameter 9 cm berisi 10 ml médium King’s B.  Setelah masa inkubasi selama 48 jam pada suhu kamar, diameter zona hambat yang terbentuk disekitar bakteri antagonis diukur dengan jangka sorong dan diamati sifat antagonismenya.

Uji Antagonisme In Vivo di Lokasi Demplot

            Bibit pisang kepok yang akan ditanam di lokasi demplot adalah hasil kultur jaringan.  Bibit pisang ditanam dalam polibag berisi tanah steril, kemudian diberi endomikoriza (Glomus sp.) dan tiga isolat Pseudomonas berfluoresen (isolat-isolat PfB3, PfB4 dan PfB7).  Sebagai kontrol, bibit pisang tidak diinokulasi dengan Glomus sp. dan tiga isolat Pseudomonas berfluoresen (isolat-isolat PfB3, PfB4 dan PfB7).

Tanah bekas pertanaman pisang yang terserang bakteri layu dibersihkan dan dibajak sebanyak satu kali, digaru sebanyak dua kali, kemudian dibuat lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm dan jarak antar lubang 3 x 3 m.  Setelah lubang dibuat, sawi pahit sebanyak 10 tanaman (yang sudah dicacah halus) dimasukkan ke setiap lubang tanam, kemudian ditimbun dengan sedikit tanah dan dibiarkan selama 1 bulan sampai tanaman sawi pahit terurai (terdekomposisi).  Satu bulan setelah aplikasi sawi pahit, ke dalam setiap lubang tanam dimasukkan pupuk organik fermentasi plus sebanyak 1 kg  per lubang. Pupuk organik fermentasi plus adalah bokashi kotoran sapi yang telah difermentasi dengan EM4 dan ditambah dengan tiga isolat Pseudomons berfluoresen.  Sebagai kontrol, lubang tanam tidak diberi tanaman sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus.

Bibit pisang kepok yang telah diproteksi dengan endomikoriza dan Pseudomonas berfluoresen ditanam pada lubang tanam yang telah diberi sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus.  Pada kontrol, bibit pisang yang tidak diberi endomikoriza dan antagonis ditanam pada lubang tanam yang tidak diberi sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus.

Pengamatan ditujukan terhadap gejala penyakit pada tanaman pisang, yaitu kelayuan pada daun, adanya lendir (ooze) berwarna kemerahan yang keluar dari batang, dan kerusakan pada bonggol pisang yang berwarna kemerahan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan Gejala Layu Bakteri di Lapangan

            Hasil pengamatan serangan bakteri layu pisang pada lahan pertanaman pisang di desa Sungkai Baru di Kecamatan Simpang Empat, desa Baliangin dan desa Gunung Batu di Kecamatan Sambung Makmur, menunjukkan persentase serangan lebih dari 90 %.  Serangan bakteri layu ini cepat sekali, dan menurut laporan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan(2006) persentase serangan bakteri layu pada pisang di Kabupaten Banjar mencapai 82,2 %.

            Gejala yang terlihat di pertanaman pisang milik petani menunjukkan daun tanaman menguning dan akhirnya mengering.  Gejala akan nampak jelas setelah batang tanaman pisang dipotong.  Pembuluh batang yang terinfeksi oleh bakteri layu akan berwarna kemerahan.

            Gejala yang terlihat pada pangkal dan bonggol batang sama dengan pada batang tanaman pisang, hanya lendir lebih banyak sehingga dapat dilihat dengan jelas kumpulan lendir yang menetes.  Lendir tersebut keluar dari berkas pembuluh pengangkutan.  Apabila pada batang terdapat luka, maka cairan merah akan keluar melalui luka tersebut.

            Gejala pada buah baru terlihat pada tahap pemasakan buah, sehingga serangan pada buah baru dapat diketahui lebih lambat dibandingkan serangan pada bagian tanaman lainnya.  Buah pisang yang terinfeksi akan menguning dan bagian tengah buah berisi cairan berupa lendir, sedangkan daging buah menjadi berkurang volumenya, sehingga buah nampak kempes dan lunak.  Gejala serangan pada tangkai buah pisang sama dengan gejala pada batang yaitu berkas pembuluh berwarna kemerahan.

            Karena dari bidang potongan batang pisang yang sakit keluar lendir (ooze) berwarna kemerahan, maka penyakit ini disebut penyakit darah.  Menurut Semangun (1991), survei yang dilakukan oleh Pusat Karantina Pertanian pada tahun 1983 telah mendapatkan penyakit darah pada pisang ini di Kalimantan Selatan.

Identifikasi Patogen Penyebab Penyakit Layu Pisang

            Hasil isolasi patogen penyebab penyakit layu yang menginfeksi tanaman pisang di desa Sungkai Baru  (Kecamatan Simpang Empat), desa Baliangin dan Gunung Batu (Kecamatan Sambung Makmur) adalah bakteri.   Bakteri berbentuk batang dengan pengecatan negatif dan dengan pengecatan gram serta uji KOH 5% bersifat gram negatif.

            Koloni berwarna putih pada medium NA.  Pada medium TTC (triphenyl tetrazolium chloride) koloni bakteri berwarna putih dengan pusat merah jambu  berbentuk fluidal dan berdiameter > 5 mm.  Menurut Goto (1992), tipe koloni seperti ini menunjukkan bahwa isolat yang didapat mempunyai tingkat virulensi yang tinggi.  Pada médium King’s B, koloni bakteri yang berumur 48 jam bila dilihat di bawah sinar ultra violet tidak membentuk pigmen fluoresen.  Menurut Goto (1992) pigmen fluoresen adalah salah satu variabel untuk membedakan bakteri R. solanacearum dengan bakteri lain terutama dengan bakteri P. fluorescens yang dapat membentuk pigmen fluoresen pada médium King’s B.  Ciri-ciri bakteri ini sesuai dengan ciri-ciri dari R solanacearum yang dikemukakan oleh Schaad et al (2001).

          Hasil pengujian sifat-sifat biokimia dan fisiologi menunjukkan bahwa bakteri yang diisolasi dari tanaman sakit bersifat gram negatif,  katalase positif, bersifat oksidatif atau bersifat aerob, bereaksi positif pada uji kovac’s oksidase, tidak mampu merombak gelatin, tidak mendegradasi amilum, dan tidak menghasilkan Levan. Sifat-sifat bakteri tersebut  memperlihatkan sifat-sifat yang mirip dengan R solanacearum yang didiskripsikan oleh Hayward (1976), He (1983), dan Hayward (1994).  Sehingga  dapat disimpulkan bahwa bakteri yang diisolasi dari pisang bergejala layu  adalah R solanacearum (Tabel 1).

Tabel 1.  Hasil uji biokimia dan fisiologi untuk bakteri layu pisang dibandingkan dengan sifat-sifat fisiologi R solanacearum

Pengujian

Hasil isolasi

Hayward (1976)

He (1983)

Hayward (1994)

Gram

Katalase

+

+

+

+

Kovac’s oksidase

+

+

+

+

Oksidatif-fermentatif

O

O

O

O

Pencairan Gelatin

+

Hidrolisis pati

Produksi Levan

Keterangan :+: reaksi positif,  -: reaksi negatif, O: oksidatif

Identifikasi Pseudomonas Berfluoresen

            Hasil isolasi mikroorganisme antagonis dari akar tanaman pisang sehat mendapatkan 7 isolat bakteri yang menghasilkan pigmen fluoresen pada medium King’s B yang jelas terlihat di bawah sinar ultra violet.  Menurut Rudolp et al. (1990), jika koloni bakteri diamati di bawah sinar ultra violet gelombang panjang (365 nm) maka bakteri akan menghasilkan pigmen berpendar kehijauan / kebiruan.   Bakteri berbentuk batang dengan pengecatan negatif dan dengan pengecatan gram serta uji KOH 5% bersifat gram negatif.  Hasil pengamatan morfologi sel ini sesuai dengan ciri-ciri  Pseudomonas berfluoresen yang dibuat oleh Stolp & Gadkari (1981) dan Palleroni (1984).

Hasil pengujian sifat-sifat biokimia dan fisiologi dari isolat-isolat yang didapat menunjukkan bahwa semua isolat bersifat katalase positif, bersifat oksidatif atau bersifat aerob, bereaksi positif pada uji kovac’s oksidase, mampu merombak gelatin, tidak mampu mendegradasi amilum, tidak menghidrolisis Tween 80 dan mampu menghasilkan Levan (Tabel 2).  Sifat-sifat bakteri tersebut  memperlihatkan sifat-sifat yang dimiliki  Pseudomonas fluorescens yang dikemukakan oleh Stolp & Gadkari (1981) dan Holt (1994).

Uji hipersensitif dilakukan dengan cara suspensi bakteri (konsentrasi 108 cfu/ml) diinfiltrasikan ke jaringan daun tembakau.  Pengamatan sampai 10 hari setelah perlakuan tidak terlihat adanya gejala nekrotik pada daun yang diinfiltrasi.  Menurut Klement et al. (1990), jika suspensi bakteri diinfiltrasikan ke daun tembakau dan tidak menimbulkan gejala nekrotik maka bakteri tersebut bukan patogen tumbuhan.  Karena itu isolat-isolat Pseudomonas berfluoresen yang didapat bukan patogen tumbuhan.  Pada uji antagonisme  in vitro yaitu menumbuhkan antagonis dan patogen dengan oposisi langsung pada médium King’s B, menunjukkan bahwa ketujuh isolat-isolat bakteri memiliki sifat antagonistik terhadap R. solanacearum yang ditandai dengan terdapatnya zona hambatan disekeliling bakteri antagonis.

Berdasarkan pengujian sifat biokimia, sifat fisiologi, uji patogenisitas dan uji antagonisme in vitro, dapat disimpulkan bahwa isolat-isolat bakteri yang ditemukan adalah Pseudomonas fluorescens.

Uji Antagonisme In Vitro

            Ketujuh isolat Pseudomonas berfluoresen yang diuji mampu menghambat pertumbuhan R. solanacearum.  Pengaruh Pseudomonas berfluoresen terhadap pertumbuhan R solanacearum pada uji antagonistik dalam medium King’s B menyebabkan terbentuknya lingkaran bening yang tidak ditumbuhi R solanacearum (zona hambatan).  Adanya zona hambatan ini menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas berfluoresen yang diuji berpengaruh sangat nyata dalam menghambat pertumbuhan R solanacearum pada medium King’s B.

Pseudomonas berfluoresen menghasilkan siderofor berfluoresen yang dapat menghambat pertumbuhan R. solanacearum.  Menurut Xio & Kisaalita (1995),  pada medium King’s B yang kandungan ion besinya rendah maka bakteri Pseudomonas berfluoresen akan menghasilkan siderofor yaitu agen transport ion besi yang mengkelat Fe3+ untuk dipindahkan ke sel bakteri.

            Hasil pengujian menunjukkan bahwa 7 isolat Pseudomonas berfluoresen yang diperoleh menghasilkan zona hambatan dengan diameter yang bervariasi yaitu  12 – 35  mm (Tabel 3).

Tabel 2.  Hasil uji biokimia dan fisiologi untuk bakteri antagonis dibandingkan dengan

sifat-sifat fisiologi Pseudomonas berfluoresen

Sifat bakteri

Isolat yang diuji

Stolp & Gadkari (1981)

Holt et al.(1994)

1

2

3

4

5

6

7

Pp

Pf

Pp

Pf

Gram

Katalase

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Kovac’s oksidase

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Oksidasi-Fermentasi

O

O

O

O

O

O

O

O

O

Pigmen (King’s B)

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Hidrolisis Tween 80

Hidrolisis Pati

Hidrolisis Gelatin

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Produksi Levan

+

+

+

+

+

+

+

V

Patogenisitas

Antagonisme

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Keterangan:     +: reaksi positif, -: reaksi negatif, O: Oksidatif

Pp: Pseudomonas putida, Pf: Pseudomonas fluorescens

 Tabel 3.  Penghambatan pertumbuhan R solanacearum oleh Pseudomonas berfluoresen

Zona hambat (mm)

Isolat

< 10

10 – 20

PfB1,  PfB5

> 20 – 30

PfB2,  PfB6

> 30

PfB3,  PfB4,  PfB7

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa zona hambatan yang terbentuk bervariasi diameternya. Perbedaan kemampuan antagonistik dapat diketahui berdasarkan diameter zona hambatan yang terbentuk, terjadi antar daerah maupun dalam daerah yang sama.  Hal ini berarti bahwa kemampuan bakteri untuk menghasilkan reaksi antibiosis atau kemampuan antagonistik bakteri Pseudomonas berfluoresen juga berbeda-beda.

   Perbedaan daya antagonisme ini bisa terjadi pada bakteri, demikian juga pada bakteri Pseudomonas berfluoresen.  Menurut Goto (1992), jumlah siderofor yang dihasilkan menentukan adanya perbedaan dalam daya antagonisme bakteri.

Untuk aplikasi ke lapang, maka isolat yang digunakan adalah  3 isolat yang memberikan zona hambatan yang lebih lebar yaitu PfB3, PfB4 dan PfB7. Hal ini menunjukkan bahwa isolat-isolat Pseudomonas berfluoresen tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai agen pengendalian hayati R solanacearum.

Uji Antagonisme In Vivo di Lapang

Pertumbuhan pisang kepok yang ditanam di bekas kebun pisang yang terinfeksi R solanacearum di desa Sungkai Baru sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan.  Tanaman pisang hasil kultur jaringan yang telah diproteksi dengan endomikoriza Glomus sp dan Pseudomonas berfluoresen (PfB3, PfB4 dan PfB7) yang ditanam pada lubang yang telah difumigasi dengan sawi pahit serta pemberian pupuk organik fermentasi plus mampu tumbuh dengan baik sampai menghasilkan buah (panen).  Di pihak lain,   pisang hasil kultur jaringan yang tidak diberi perlakuan pratanam dan lubang tanamnya tidak diberi sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus menunjukkan gejala layu, kemudian mati sebelum pembungaan.  Hasil pengamatan terhadap keadaan tanaman pisang yang berada di lokasi demplot ditunjukkan pada Tabel 4.

Aplikasi mikoriza dimaksudkan agar tanaman pisang mendapatkan keuntungan karena perbaikan dalam hara mineral.  Mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro.  Kebanyakan mikoriza sangat menguntungkan tanaman, dan bahkan untuk Pinus, suatu keharusan adanya mikoriza untuk menyokong pertumbuhannya.  Menurut Adriana et al. (1999), tanaman pisang sangat tinggi ketergantungannya terhadap endomikoriza.

Aplikasi mikoriza pada bibit pisang juga dimaksudkan sebagai pelindung biologi bagi tanaman terhadap infeksi bakteri layu.  Adanya lapisan hifa yang berfungsi sebagai pelindung fisik terhadap serangan patogen dan pelindung kimiawi berupa antibiotik yang dilepaskannya dapat mematikan patogen tular tanah.  Menurut Imas et al. (1989), akar yang bermikoriza dapat berfungsi lebih lama dibandingkan dengan yang tidak bermikoriza, dan lebih sedikit kemungkinannya terserang oleh patogen tertentu.  Di samping itu endomikoriza menunjang keberadaan mikroorganisme rizosfer yang bermanfaat bagi tanaman (Azcon-Aguilar & Barea 1996).

            Berdasarkan hasil pengamatan tersebut (Tabel 4) dapat dinyatakan bahwa bibit pisang kepok yang sehat dapat tumbuh dengan baik dan terhindar dari serangan bakteri layu apabila Pseudomonas berfluoresen diinokulasikan pada bibit sebelum tanam maupun dicampur dengan  pupuk organik fermentasi.   Pseudomonas berfluoresen mampu menghasilkan antibiotik yang bersifat anti jamur dan anti bakteri, sehingga selain bersifat antagonis terhadap patogen juga dapat bersifat antagonis terhadap beberapa jamur patogen (Steven & Elkins 1996).  Mekanisme penghambatannya sebagian besar adalah bersifat bakterisidal dan sebagian kecil bersifat bakteristatik (Arwiyanto 1997).

            Strain-strain tertentu P fluorescens dan Pseudomonas putida mampu mengoloni akar berbagai jenis tanaman, sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman secara nyata.  Meningkatnya pertumbuhan tanaman seringkali terjadi dengan penekanan terhadap populasi beberapa jamur dan bakteri patogenik (Schroth & Hancock 1982).

Tabel 4.   Keadaan pertumbuhan tanaman pisang di lokasi demplot untuk mengendalikan penyakit layu bakteri pada pisang

Asal bibit pisang

Perlakuan pratanam pada bibit pisang

Perlakuan pada lubang tanam

Keadaan tanaman

Pisang kepok hasil kultur jaringan Diinokulasi dengan endomikoriza Glomus sp dan 3 jenis Pseudomonas berfluoresen (PfB3, PfB4 dan PfB7) Pemberian 10 batang sawi pahit dan pupuk organik fermentasi plus Tumbuh dengan baik, tidak memperlihatkan gejala terserang bakteri layu sampai panen
Pisang kepok hasil kultur jaringan Tidak ada Tidak ada Tanaman pisang memperlihatkan gejala layu, kemudian mati  sebelum pembungaan

            Pseudomonas berfluoresen merupakan bakteri pengoloni akar yang agresif dan efektif, dan mempunyai waktu generasi yang cepat pada zona perakaran.  Hal ini diduga karena keperluan nutrisinya yang mudah karena mampu menggunakan berbagai sumber karbon serta kemampuannya membentuk berbagai senyawa penghambat, sehingga Pseudomonas berfluoresen mampu berkembang biak dengan cepat.  Pseudomonas berfluoresen yang diaplikasikan ke tanaman akan memperbanyak diri dan bertahan selama beberapa waktu untuk berkompetisi dengan mikroorganisme lain (Weller 1988).    Pseudomonas berfluoresen memiliki kemampuan menggunakan berbagai senyawa karbon, mampu berkembang biak dengan cepat, serta mampu menghasilkan berbagai senyawa penghambat (Weller 1988).  Menurut Arwiyanto (1997), pada tahun 1980 Defago et al. menyebutkan beberapa senyawa penghambat yang dihasilkan oleh Pseudomonas berfluoresen yaitu HCN, monoacetilchloroglucinol, siderofor, 2,4-diacetilphloroglucinol, pyoluteorin, asam salisilat, pyrrolnitrin, altericidins dan cepacin.

            Pemberian sawi pahit pada lubang tanam sebelum penanaman bibit pisang adalah untuk biofumigasi tanah, sehingga dapat mematikan patogen tular tanah seperti bakteri layu.  Tanaman dari suku Brassicaceae antara lain sawi mengandung banyak senyawa kimia glukosinolat. Tanaman ini dikenal sebagai biofumigan karena dapat mengganti peran fumigan sintetik.  Tanaman ini kalau dibenamkan ke tanah, dalam proses dekomposisinya glukosinolat diubah menjadi isothiocyanat yang berfungsi sebagai fumigan  (Brown & Morra 1997).

Sementara itu tanaman pisang kepok walaupun berasal dari bibit yang sehat tidak akan dapat tumbuh dengan baik dan akhirnya mati jika ditanam di lahan bekas serangan bakteri layu pisang apabila tidak diberi perlakuan pada bibit sebelum tanam dan perlakuan pada lubang tanam. Hal ini disebabkan tidak adanya pelindung biologi pada bibit pisang maupun pada tanaman yang ditanam di lapang.

KESIMPULAN

            Bibit pisang kepok hasil kultur jaringan yang diproteksi dengan endomikoriza (Glomus sp.) dan 3 isolat Pseudomonas berfluoresen (PfB3, PfB4 dan PfB7), serta pemberian sawi pahit dan pupuk organik fermentasi  plus pada lubang tanam mampu menahan infeksi patogen penyebab penyakit layu  bakteri (R solanacearum) pada tanaman pisang di lapang.

DAFTAR PUSTAKA

Adriana, M.Y., O.J. Saggin Jr., J.M. Lima-Filho & N.F. Melo.  1999.  Effect of arbuscular mycorrhizal fungi on the acclimatization of micropropagated banana plant lets.  Mycorrhiza 9: 119-123.

Arwiyanto, T.  1997.  Pengendalian hayati penyakit layu bakteri tembakau:  1. Isolasi bakteri antagonis.  Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 3:54-60.

Azcon-Aguilar,C. & J.M. Barea.  1996.  Arbuscular mycorrhizas and biological control of soil-borne plant pathogens – an overview of the mechanisms involved.  Mycorrhiza 6: 457-464.

Brown, P.D. & M.J. Morra.  1997.  Control of soil-borne plant pests using glucosinolate containing plants.  Advance in Agronomy 61: 167-231.

Goto, M.  1992.  Fundamentals of Bacterial Plant Pathology.  Academic Press Inc.  San Diego, California.

Hayward, A.C.  1976.  Systematic and relationship of Pseudomonas solanacearum. P. 6-13.  In: Sequeira, L. & Kelman, A. (eds.). Proc. First Int. Conf. Of Bacterial Wilt Caused By Pseudomonas solanacearum.  Raleigh, North Carolina.

Hayward, A.C.  1994.  Systematic and phylogeny of Pseudomonas solanacearum and related bacteria.  Dalam A.C. Hayward & G.L. Hartman (eds.), Bacterial Wilt :  The Diseases and its Causative Agents Pseudomonas solanacearum.  CAB International, Wallingford.

He, L.Y.  1985.  Bacterial wilt in the People’s Republic of China. Pp. 40-48.  In Persley, G.J. (Ed.) Bacterial Wilt Disease in Asia and the South Pacific.  ACIAR. Los Banos, Philippines.

Holt, J.G., N.R. Krieg, P.H.A. Sneath, J.T. Stanley & S.T. Williams.  1994.  Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology.  Ninth edition.  Williams & Wilkins, Baltimore, MD.

Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W. Gunawan & Y. Setiadi.  1989.  Mikrobiologi Tanah II.  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

Klement, Z. K. Rudolph & D.C. Sands.  1990.  Methods in Phytobacteriology.  Akademiai Kiado, Budapest.

Lelliott, R.A. & D.E. Stead.  1987.  Methods for the Diagnosis of Bacterial Diseases of Plants.  Blackwell Scientific Publications.

Rudolph, K., M.A. Roy, M. Sasser, D.E. Stead, M. Davis, J. Swings & F. Gossele.  1990.  Isolation of Bacteria. P.43-94. In Klement, Z., K. Rudolph & D.C. Sand.  Methods in Phytobacteriology.  Akademiai Kiado, Budapest.

Schaad , N.W., J.B. Jones & W. Chun.  2001.  Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteria.  Third Edition.  APS Press.  St. Paul, Minnesota.

Schroth, M.N. & Hancock, J.G.  1982.  Diseases suppressive soils and root colonizing bacteria.  Science 216: 1376-1381.

Steven, E.M. & R. Elkins.  1996.  Interaction of antibiotic with Pseudomonas fluorescens in the control of fire blight and frost injury to pear.  Phytopathology 86: 841-848.

Stolp, H. & D. Gadkari.  1981.  Nonpathogenic members or the genus Pseudomonas.  Dalam M.P. Starr (ed.), The Prokaryotes A Handbook on Habitats,   Isolation, and Identification of Bacteria :  Phytopathogenic Bacteria.  University of California. New York

Weller, D.M.  1988.  Biological control of soilborne plant pathogen in the rhizosphere with bacteria.  Ann. Rev. Phytopathology 26: 1021-1027.

Xiao, R. & W.S. Kisaalita.  1995.  Purification of pyoverdines of Pseudomonas fluorescens 2-79 by copper-chelatenchromatography.  App. And Env. Microbiol. 61(11): 3769-3774.


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

saran kepada pengelola agripeat untuk dapat ditampilkan bagan/diagram/gambar/chart, karena selama ini saya melihat terdapat kalimat yg menunjukkan gambar sekian tetapi gambarnya tidak bisa muncul. demikian

bravo !!!!!

Komentar oleh Muhammad Arjuna

Saran saya, mohon full paper ini diberikan juga alamat sitasinya yang lengkap agar bisa dijadikan rujukan, misalnya diterbitkan di Jurnal Agripeat volume… no… halaman ….

Komentar oleh ramacinta

We are a gaggle of volunteers and starting a brand new scheme in our community.
Your web site provided us with valuable info to work on.
You have performed an impressive process and our whole
group will be thankful to you.

Komentar oleh Spencer




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: