JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA CHINENSIS) == Astuti K, dkk
18 Juni 2011, 3:43 pm
Filed under: Penelitian

RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA CHINENSIS) TERHADAP PEMBERIAN BEBERAPA MIKROBA DAN ABU JANJANG KELAPA SAWIT PADA LAHAN GAMBUT

(Aloe Plant Growth Response (Aloe vera chinensis) To Gift Some Microbes And palm bunch Ash on Peatland)

Astuti Kurnianingsih1), Sudradjat2), Sudirman Yahya2)

1)Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

2)Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB Bogor

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi tanah gambut dengan menambahkan mikroba pada gambut sebagai starter dan menentukan dosis abu janjang yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman lidah buaya, Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit  PT. Bhumireksa Nusasejati, Teluk Bakau, Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemberian bahan organik + mikroba yaitu; tanpa starter mikroba/tanah gambut, tanah gambut + starter Lactobacillus, tanah gambut + starter Bacillus, dan tanah gambut + starter Trichoderma sp. Faktor kedua adalah dosis abu janjang kelapa sawit yaitu; 0 g/tanaman,  25 g/tanaman,  50 g/tanaman, 100 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian abu janjang kelapa sawit meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah. Dari persamaan regresi didapatkan bahwa dosis optimum abu janjang terhadap panjang daun 84.7 g/tanaman (27%), lebar daun sebesar 73.3g/tanaman (16,2%), tebal daun sebesar 65.7 g/tanaman (14,1%) dan bobot basah sebesar 97.8 g/tanaman (91%). Bahan organik yang diaplikasikan belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, jumlah anakan) dan terhadap bobot basah pelepah lidah buaya.

Kata Kunci : Lidah Buaya, Abu Janjang Kelapa Sawit, Mikroba, Gambut.

ABSTRACT

The objective of this research was increased decomposition peatland with kind of microbe as starter and determine dosages of palm bunch ash on growth and leaf fresh weight of Aloe vera chinensis. The research was conducted at PT. Bhumireksa Nusasejati Plantation Indragiri Hilir, Riau. The treatment were arranged factorially Randomized Block Design with 2 factors and 3 replication. The first factors was peat, peat + lactobacillus, peat + bacillus, peat + Trichoderma sp. The second factors was dosages of palm bunch ash,  0 g/plant, 25 g/plant,  50 g/plant, 100 g/plant. Result showed that the application kind of microbe not increased to crop on growth and fresh weight leaf. The application of dosages palm bunch ash significantly increased the plant height about 30.2 %, leaf lenght about 27 %,  leaf  width about  16.2 %,  leaf thickness about 14.1 %, number of leaf about   57.8 %, number of suckers about 14,4 % and leaf fresh weight  about 91 %. Generally the application of palm bunch ash showed kuadratic response to plant height, leaf lenght, leaf width,  leaf thickness, number of leaf, number of suckers and leaf fresh weight.

Keyword : Aloe vera chinensis, palm bunch ash, microbe, peatland.

 


PENDAHULUAN

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan  tanaman sukulen yang termasuk dalam famili Liliaceae. Berdasarkan hasil penelitian, lidah buaya memiliki kandungan zat nutrisi seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida, protein dan komponen lain. Tanaman ini menghendaki tanah yang mengandung bahan organik tinggi, dan tumbuh baik pada daerah gambut yang berpH rendah.

Tanah gambut termasuk dalam lahan marjinal, akhir-akhir ini usaha perluasan areal pertanian lebih diarahkan pada lahan marjinal yang biasanya terdapat di luar pulau Jawa.  Tanah  gambut  mempunyai   reaksi    masam   sampai sangat masam dengan KTK tinggi,  kejenuhan basa yang rendah. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju  dan penyediaan hara yang memadai untuk pertumbuhan tanaman terutama basa-basa seperti K, Ca, Mg dan unsur mikro.

Beberapa hasil penelitian pada lahan gambut menunjukkan bahwa teknologi pengelolaan tanah, pemampatan/pemadatan tanah, pemberian bahan amelioran berupa kapur, pupuk kandang, abu sawmil dan berbagai sumber pupuk fosfat alam serta pemberian pupuk makro N dan K, pupuk mikro CuSO4 (terusi),   FeSO4 dan ZnSO4 dapat meningkatkan produktivitas lahan gambut dan hasil tanaman padi, palawija serta hortikultura (Irawan,1999).

Pemberian abu bakaran tanah gambut memberikan hasil yang baik bagi pertumbuhan tanaman karena tambahan hara dari abu, tetapi memberikan dampak negatif bagi kelestarian tanah gambut (Ismunadji dan Soepardi, 1984).  Penggunaan tandan atau janjang kosong ini dapat menggantikan abu bakaran tanah gambut guna meningkatkan pH gambut.  Menurut Sanchez (1976), pembakaran sisa panen akan meningkatkan pH tanah serta dapat memberikan masukan unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman meskipun jumlahnya relatif kecil.  Penggunaan abu janjang kelapa sawit adalah salah satu cara untuk menaikkan pH di lahan gambut. Menurut Pandjaitan  et al., (1983), abu janjang  kelapa sawit dapat menaikkan  pH tanah dimana semakin tinggi dosis abu janjang kelapa sawit semakin naik pula pH tanah. Dari hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah abu janjang kelapa sawit menandung K2O  35 – 40 % (Chan et al., 1982), tingginya kandungan K2O pada  abu janjang tersebut merupakan potensi sebagai sumber hara kalium bagi tanaman. Penambahan bahan organik yang tingkat dekomposisinya sudah lanjut merupakan tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman untuk meningkatkan dan mengoptimalkan manfaat pupuk sehingga efesiensinya meningkat. Disamping itu dengan menambah populasi mikroorganisme seperti Lactobacillus, Bacillus, maupun Trichoderma di dalam tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi tanah gambut dengan menambahkan mikroba pada gambut sebagai starter dan menentukan dosis abu janjang yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman lidah buaya.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit  PT. Bhumireksa Nusasejati, Teluk Bakau, Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah bahan organik + starter mikroba yaitu;  (M1) tanpa starter mikroba/tanah gambut), tanah gambut + starter Lactobacillus (M2), tanah gambut + starter Bacillus (M3), dan tanah gambut + starter Trichoderma sp (M4). Faktor kedua adalah dosis abu janjang kelapa sawit yaitu; A0 = 0 g/tanaman, A1 = 25 g/tanaman, A2 = 50 g/tanaman, A3 = 100 g/tanaman. Dari kedua faktor tersebut diperoleh  16 kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 48 unit percobaan.

          Sistem pengomposan dilakukan dengan sistem anaerob. Perlakuan Lactobacilus dan Bacilus  diberikan dalam media biakan dengan takaran 1 liter untuk 1 ton bahan organik,  Trichoderma sp diberikan dalam media biakan dengan 0,5 % bahan kering dicampur dengan dedak dan di inkubasikan selama 2 minggu, hasil inkubasi ini dicampur dengan tanah gambut dan diinkubasikan selama 1 bulan. Abu janjang diperoleh dari limbah padat kelapa sawit yaitu berupa tandan kosong yang dibakar di dalam incenerator, hasil pembakaran berupa abu yang digunakan sebagai pupuk. Lahan yang digunakan dibersihkan, selanjutnya dibuat parit keliling yang berfungsi untuk membuang air tanah yang berlebihan (drainase). Ukuran lubang tanam 20 cm x 20 cm x 20 cm, jarak tanam adalah 1 m x 1 m. Lubang tanam diberi abu dan diinkubasikan selama 7 hari. Bibit tanaman lidah buaya yang siap tanam dicirikan dengan tinggi 25 – 30 cm dengan jumlah 5–6 pelepah. Pada saat awal penanaman diberikan pupuk Urea (20g/tanaman) dan RP (10g/tanaman).

Pemeliharaan meliputi penyiraman, pembumbunan, penyiangan, pemupukan susulan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemisahan anakan. Peubah yang diamati yaitu tinggi tanaman, pertumbuhan daun (panjang daun, jumlah daun, lebar daun tebal daun), dan bobot basah daun.

Data hasil penelitian dari tiap peubah dianalisis menggunakan uji F pada taraf nyata 5 % dan dilanjutkan dengan uji Duncan jika hasil analisis tersebut berpengaruh nyata. Untuk mengetahui keeratan dan menentukan bentuk respon dari kurva hubungan peubah dengan taraf faktor perlakuan dilakukan Uji polinomial orthogonal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Respon Pertumbuhan Tanaman Lidah Buaya

Jenis mikroba tidak berpengaruh secara nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, dan jumlah anakan), sedangkan dosis abu janjang berpengaruh nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, dan jumlah anakan) serta bobot basah pelepah tanaman lidah buaya. Interaksi antara jenis mikroba dan dosis abu janjang tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah.

Tinggi tanaman

Dosis abu janjang memberikan pengaruh yang nyata. Perbedaan yang nyata sudah tampak sejak tanaman berumur 4 MST. Terdapat perbedaan sebesar 30.2 % antara perlakuan abu janjang dosis A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman) pada minggu ke-28.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. Dari Gambar 1 menunjukkan peubah tinggi tanaman mempunyai nilai  regresi  Y = 4.0365 + 0.551744x – 0.00405x2 dengan R2 = 0.623 sehingga didapatkan dosis optimum sebesar  68.1 g/tanaman.

Panjang daun.

Tabel 2 menunjukkan bahwa dosis A2 (50 g/tanaman) dan A3 (100 g/tanaman) tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan dosis A1 (25 g/tanaman) dan A0 (0 g/tanaman). Perbedaan yang nyata baru mulai tampak pada minggu ke-10 setelah tanam. Pemberian abu janjang meningkatkan panjang daun sebesar 27 %.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap panjang daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 2) dengan nilai  persamaan regresi     Y = 28.992 + 0.262482x – 0.00155x2 dengan R2 = 0.648. Dosis optimum dari pemberian abu janjang terhadap panjang daun sebesar 84.7 g/tanaman.

Tabel 1. Pengaruh pemberian abu janjang terhadap rata-rata tinggi  tanaman (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

24.9 b

27.3 b

29.4 b

31.6 b

33.4 b

36.1 b

37.9 b

39.6 b

41.4 b

41.8 b

41.9 b

42.0  b

42.6 b

A1

25.6 a

29.4 a

33.0 a

35.8 a

38.2 a

42.0 a

45.1 a

47.4 a

50.5 a

51.5 a

53.1 a

54.5 a

55.4 a

A2

25.9 a

29.6 a

33.1 a

35.2 a

38.1 a

43.2 a

46.6 a

49.1 a

52.4 a

53.5 a

56.0  a

57.6 a

59.6 a

A3

25.5 a

29.7 a

33.4 a

36.0 a

39.0 a

43.9 a

47.4 a

50.1 a

52.3 a

53.5 a

54.9 a

56.4 a

57.8 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Gambar 1. Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Tinggi Tanaman (cm) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Gambar 2. Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Panjang Daun (cm) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST


Tabel 2. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata panjang daun (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

22.3 a

23.08 a

24.09 a

24.38 b

25 b

25.01 b

25.86 b

26.93 b

28.01 b

28.51 b

28.7 b

28.79 c

28.96 c

A1

22.5 a

23.62 a

24.75 a

25.29 a

26.23 a

26.92 a

28.14 a

29.99 a

31.85 a

32.35 a

33.06 a

33.7 b

34.67 b

A2

23.1 a

24.03 a

24.9a

25.78 a

26.67 a

27.06 a

28.53 a

30.73 a

32.93 a

33.43 a

35.63 a

36.8 a

38.18 a

A3

22.8 a

23.91 a

25.05 a

25.72 a

26.41 a

27.26 a

28.77 a

30.91 a

33.05 a

33.55 a

35.18 a

36.73 a

39.73 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 3. Pengaruh pemberian abu janjang terhadap rata-rata lebar daun (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

2.65 a

2.8 a

2.93 c

3.01c

3.04 c

3.08 d

3.09 d

3.23 c

3.33 c

3.34 c

3.38   c

3.45 c

4.25 c

A1

2.81 a

2.96 a

3.21 ab

3.25 b

3.33b

3.39 c

3.41 c

3.54 b

3.77 b

4.05 b

4.25 b

4.45 b

4.77 b

A2

2.8 a

2.95 a

3.12 a

3.27 b

3.43 b

3.58 b

3.85 b

4.16 a

4.53 a

4.76 a

5.04 a

5.32 a

5.72 a

Gambar 3.     Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Lebar daun (cm) Terhadap  PemberianAbu Janjang umur 28 MST

Gambar 4.    Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Tebal daun (cm) Terhadap      Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

A3

2.82 a

2.97 a

3.28 a

3.42 a

3.64 a

3.83 a

4.01 a

4.24 a

4.57 a

4.69 a

4.91 a

5.14 a

5.42 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

 

 

Lebar daun

Lebar daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata mulai tampak pada minggu ke-8 setelah tanam. Terdapat perbedaan sebesar 16.2 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman).

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap lebar daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 3) dengan persamaan regresi Y = 3.342217 + 0.0695x – 0.000494x2 dan nilai R2 =0.807. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar 73.3 g/tanaman.

Tebal daun.

Tebal daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata mulai tampak pada minggu ke-6. Terdapat perbedaan sebesar 14.1 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman).

Tebal daun menunjukkan pengaruh yang nyata dengan respon bersifat kuadratik (Gambar 4) dengan persamaan regresi yaitu Y = 1.14636 + 0.0159x – 0.000121x2 dan nilai R2 = 0.702. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar 65.7 g/tanaman.

Jumlah daun

Jumlah daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata sudah mulai tampak pada umur tanaman 4 MST hingga tanaman berumur 14 MST. Terdapat perbedaan sebesar  57.8 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan  A1 (25 g/tanaman), terdapat peningkatan sebesar 57.8 % setelah pemberian abu janjang dengan dosis 25 g/tanaman.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap jumlah daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (gambar 5) dengan persamaan regresi yaitu Y = 10.2435 + 0.0873x  – 0.000608x2 dan nilai R2 =0.67. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar  71.8 g/tanaman.

Jumlah anakan

Jumlah anakan hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Jumlah anakan mulai tampak perbedaan nyata pada umur 12 MST. Terdapat perbedaan sebesar  144 % antara perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A1 (25 g/tanaman),

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap jumlah anakan yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik (Gambar 6) dengan persamaan regresi yaitu Y = 1.31392 + 0.108395x   – 0.000664x2 dan nilai R2 =0.613. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar  81.6 g/tanaman.

Tabel 4. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata tebal daun (cm)

perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

0.63 a

0.78 b

0.93c

1 b

1.04b

1.08 c

1.1 c

1.11 c

1.11 c

1.11

1.11 b

1.11 b

1.11 b

A1

0.69 a

0.89 a

1.1 b

1.28 a

1.28 a

1.28 b

1.28 b

1.29 b

1.29 b

1.36

1.46 a

1.5 a

1.57 a

A2

0.06 a

0.9 a

1.11 b

1.2 a

1.26 a

1.32 a

1.33 ab

1.34 ab

1.34 ab

1.36

1.46 a

1.5 a

1.57 a

A3

0.69 a

0.94 a

1.18 a

1.27 a

1.31 a

1.36 a

1.37 a

1.38 a

1.38 a

1.39

1.46 a

1.5 a

1.54 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 5. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata jumlah daun (helai)

PERLK

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

4.68 c

5.49 b

6.23 b

6.7 b

 7.16 b

7.53 b

7.78 c

8.01 c

8.18 c

8.88 c

8.93 c

9.85  b

10.11 b

A1

4.85 bc

5.93 a

7.01 a

7.59 a

8.06 a

8.68 a

8.8 b

9.16 b

9.96 b

10.36 bc

10.41 bc

12.25 a

12.38 a

A2

5  b

6.14 a

7.21 a

7.64 a

8.16 a

8.91 a

9.48 a

10.36 a

10.9 a

12.6 a

12.83 a

13.5 a

13.5 a

A3

5.1 a

6.2 a

7.3 a

7.82 a

8.35 a

9.05 a

9.55 a

10.31 a

10.95 a

11.75 a

11.78 a

12.6 a

12.93 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 6. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata jumlah anakan (buah)

PERLK

28

Minggu ke-

10

12

14

16

18

20

22

24

26

A0

0.64

0.75 b

0.77 b

0.77 b

0.77 c

0.91 c

1.1 c

1.1 c

1.1 b

1.15 b

A1

1.25

1.61 a

1.93 a

1.95 a

2.51 b

2.92 b

3.8 b

4.04 b

5.02 a

6.23 a

A2

1.69

1.72 a

2.16 a

2.24 a

3.43 ab

 3.49 b

4.04 b

4.18 ab

4.32 a

4.75 a

A3

1.37

1.43 ab

2.18 a

2.3 a

3.93 a

4 .97 a

5.17 a

5.2 a

5.23 a

5.57 a

Gambar 6.   Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Jumlah anakan (buah) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Gambar 5.    Grafik Regresi Respon Pertumbuhan jumlah daun (helai) Terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 7. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata bobot basah (buah) umur 32 MST

PERLK

Pelepah  ke-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

A0

4.91 b

13 b

24.75 b

55.41 c

98.33 d

144.17 c

171.25 a

176.33 d

162.5 d

140  d

121.25 d

100.45 d

A1

5.25 b

12.5 b

31 b

74.58 b

133.33 c

208.75 b

286.25 c

309.17 c

311.67 c

284.58 c

260.83 c

225.83 c

A2

8.41 ab

17.91 a

45 a

97.91 a

173.75 b

295.83 a

395 b

445 b

462.5 b

452.08 b

411.67 b

377.92 b

A3

Gambar 7. Grafik Regresi Respon Bobot basah (g) terhadap Pemberian Abu Janjang umur    32 MST

9.75 a

21 a

52.08 a

110.41 a

205 a

322.92 a

457.5 a

517.08 a

530.83 a

524.58 a

486.67 a

442.08 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Bobot basah pelepah

Bobot basah pelepah hanya nyata dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Terdapat perbedaan sebesar 91 % terhadap bobot basah pelepah dengan pemberian abu janjang 25 g/tanaman. Gambar 6 menunjukkan bahwa bobot basah pelepah terbesar rata-rata dari semua perlakuan terdapat pada daun   ke-9.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap lebar daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 7) dengan persamaan regresi  yaitu Y = 156.273 + 7.88455x – 0.0402x2 dan nilai R2 = 0.823. Dosis optimum yaitu sebesar  97.8 g/tanaman.

Pembahasan

Hasil percobaan menunjukkan bahwa jenis mikroba yang diberikan dalam pengomposan tanah gambut belum dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya, diduga pada saat pengomposan belum terjadi perombakan sempurna mikroba dan  faktor lingkungan yang belum optimal dalam perombakan tanah gambut oleh mikroba diantaranya adalah pH. Agustina (1996) mengatakan bahwa aktivitas biologi di dalam tanah juga dipengaruhi oleh pH tanah, pengaruhnya di dalam kecepatan penguraian bahan organik, pada pH 6 –7 mikroorganisme tanah paling aktif menguraikan bahan organik dan membantu cepatnya ketersediaan unsur hara dalam tanah dan menurut Soepardi (1983), bakteri memerlukan nilai pH antara 6,5 – 7,5 dan ragi memerlukan pH 4,0 – 4,5.  Diduga pula tanah gambut yang digunakan telah mengalami dekomposisi hampir sempurna, sehingga keberadaan mikroba-mikroba yang ditambahkan ke dalam tanah gambut sebagai inokulum untuk mempercepat laju dekomposisi belum memberikan pengaruh terhadap perubahan tanah gambut menjadi lebih matang.

Gambut adalah timbunan bahan organik yang mempunyai laju perombakan lambat. Lambatnya perombakan pada tanah gambut karena aktivitas mikroorganisme yang rendah. Perombakan dikatakan lebih sempurna jika nisbah C/N < 20. Dari tabel lampiran analisis tanah awal bahwa C-organik tanah sebesar 53,84 dan kandungan N sebesar 0,44 % ini berarti C/N tanah gambut sangat tinggi yaitu sebesar 122. Kussow (1971) mengatakan bahwa jasad mikro dapat memineralisasi bahan organik bilamana cukup tersedia N, kebutuhan N akan terpenuhi bilamana bahan organik mengandung 1,5 – 2,0 % N dan nisbah C/N sama dengan 20 atau 25. Bila bahan organik mengandung kurang dari 1,5 % N dengan C/N lebih besar dari 25, maka besarnya dekomposisi ditentukan oleh seberapa banyak N-anorganik dalam tanah yang dapat digunakan oleh jasad mikro. Kondisi asam (pH rendah) juga menjadi penghambat aktivitas mikrooganisme. Hasil penelitian Komariah et al., (1993) menunjukkan penggunaan mikroorganisme perombak selulosa dapat meningkatkan ketersediaan hara dan pH gambut, tetapi belum dapat menurunkan nisbah C/N.

Abu janjang kelapa sawit merupakan sumber hara kalium. Pemberian abu janjang memberikan pertumbuhan yang lebih baik daripada tanaman yang tidak diberi abu janjang pada semua taraf perlakuan jenis bahan organik tanah gambut. Tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun dan bobot basah pelepah nilainya lebih tinggi pada tanaman yang diberi perlakuan abu janjang (Tabel 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8). Pemberian abu janjang dapat meningkatkan bobot tanaman, jumlah daun dan cabang pada tanaman kacang buncis (Safo et al., 1997).

Fiksasi K tidak terjadi dalam tanah gambut sehingga  K dalam bentuk terlarut akan mudah tercuci bila tidak segera digunakan. Namun pemberian abu janjang sebagai pengganti K yang terus menerus dapat meningkatkan kandungan hara K di dalam tanah, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada penelitian ini pemberian abu janjang sampai batas tertentu meningkatkan kandungan hara K.

Respon kuadratik menunjukkan bahwa pemberian abu janjang dengan kisaran dosis 67 – 95 g/tanaman masih dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya tetapi jika dilakukan penambahan dosis maka pertumbuhannya akan konstan dan cenderung menurun.  Kemungkinannya adalah  unsur K diserap jauh lebih banyak dibandingkan unsur hara lain. Meningkatnya kandungan K daun sejalan dengan meningkatnya pemberian K pada tanah. Pemberian abu janjang memberikan informasi bahwa abu janjang dapat dimanfaatkan sebagai substitusi dari pupuk KCl. Menurut Nelson (1982) bahwa tingginya kandungan K dalam tanah meningkatkan pengambilan kalium oleh tanaman. Tetapi dengan meningkatnya dosis K yang berasal dari abu janjang akan menurunkan kandungan hara, hal tersebut sesuai dengan penelitian Viro dalam Mengel dan Kirkbly (1982) bahwa meningkatnya konsentrasi K dalam kultur larutan hara akan menurunkan kandungan Na, Ca dan Mg daun maupun akar.

KESIMPULAN

  1. Proses pembentukan kompos tanah gambut dengan penambahan mikroba belum dapat terdekomposisi secara sempurna diduga karena faktor lingkungan untuk pertumbuhan mikroba tidak optimal, sehingga kompos yang diaplikasikan belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, jumlah anakan) dan terhadap bobot basah pelepah lidah buaya.
    1. Pemberian abu janjang kelapa sawit meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah.
    2. Dari persamaan regresi didapatkan bahwa dosis optimum abu janjang terhadap panjang daun 84.7 g/tanaman, lebar daun sebesar 73.3g/tanaman, tebal daun sebesar 65.7 g/tanaman dan bobot basah sebesar 97.8 g/tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Chan F, Suwandi , Tobing EL. 1982. Penggunaan abu janjang sebagai pupuk kalium pada pertanaman kelapa sawit. Pedoman TeknisPusat Penelitian. Marihat.

Irawan. 1999. Analisis Ekonomi Penerapan Teknologi Rehabilitasi Lahan Gambut Bongkor: Studi Kasus Di Kalampangan Kalimantan Tengah. Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Tanah, Iklim dan Pupuk. Puslittanak. BPPT. Lido 6 – 8 Des 1999.

Komariah ST, Prihartini dan ME Suryadi. 1993. Aktivitas Mikroorganisme dalam Reklamasi Tanah Gambut. Dalam: Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah dan Agroklimat: Bidang Kesuburan dan Produktivitas Tanah. Puslittanak. Bogor.

Kussow WR. 1971. Introduction to Soil Chemistry. Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Mengel K and Kirkby EA. 1982. Principal of Plant Nutrition. 3rd. International Potash Institut. Bern.Switzerland. 655.

Nelson WL. 1982. Interaction Of Potasium with Moisture and Temperature. Potash Review. Subject 16 No 1. Int Potash Institut Bern.Switzerland.

Panjaitan A. 1983. Pengaruh Abu Janjang Kelapa Sawit Terhadap Keasaman (pH) Tanah Podsolik, Regosol dan Alluvial. Bul. Penelitian Perkebunan Medan. 14 (3) : 97 – 106.

Safo EY, Ankomah, AB Brandford dan Arthur J. 1997. Palm bunch ash effects on growth of cowpea and the characteristic of Ghanian soil. Afican Crop Science Journal. 5(3): 303 -308

Sanchez PA. 1976.  Properties and Management of Soils in the Tropics. John Wiley and Sons. NewYork.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.  Institut Pertanian Bogor. Bogor


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: