JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Pengaruh Pupuk Majemuk Terhadap Pertumbuhan == M Irwansyah Noor dkk
18 Juni 2011, 3:42 pm
Filed under: Penelitian

PENGARUH BEBERAPA PUPUK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN

BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH ALUVIAL DAN PODSOLIK MERAH KUNING

(Effects of Compound Fertilizer to the Growth of Oil Palm Young Plant on Alluvial and Red Yellow Podsolic)

 

M. Irwansyah Noor1, Kamillah2; Kambang Vetrani Asie2

1) Alumni Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

2) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

 

ABSTRACT

The aims of this experiment were to analyze the effects of different compound fertilizers to the growth of oil palm young plants on alluvial and red yellow podsolic, and the interaction between soil’s types and compound fertilizers. This experiment was held on a factorial completely randomized design consisting of two factors, first factor was the type of soil; Alluvial and Red Yellow Podsolic and the second factor was the type of compound fertilizer; Without Compound Fertilizer, Compound Fertilizer Dekastar Plus, Compound Fertilizer Mutiara, and Compound Fertilizer Bintang. The result indicated that application of compound fertilizers Mutiara, Dekastar Plus and Bintang on alluvial and red yellow podsolic gave better responses to the growth of oil palm young plants than control. Among the three types of compound fertilizers, compound fertilizers Mutiara gave better growth to oil palm young plant compared to compound fertilizer Dekastar Plus and Bintang, the different of soil types was not response significantly to the growth of oil palm young plant and there was not any interaction between soil types and compound fertilizer’s types to the growth of oil palm young plant.

 

Key words: oil palm young plants, Compound Fertilizer, Alluvial, Red Yellow Podsolic

 

ABSTRAK

Tujuan dari  penelitian ini untuk mengetahui kadar unsur beberapa pupuk majemuk yang berbeda terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit di tanah alluvial dan podsolik merah kuning, dan interaksi antara jenis pupuk majemuk dengan jenis tanah. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah jenis tanah yaitu tanah alluvial dan Podsolik Merah Kuning, dan faktor kedua adalah jenis dari pupuk majemuk yaitu Tanpa Pupuk Majemuk, Pupuk Majemuk Dekastar Plus, Pupuk Majemuk Mutiara, dan Pupuk Majemuk Bintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk majemuk Mutiara, Dekastar Plus dan Bintang di tanah alluvial dan podsolik merah kuning memberi tanggapan lebih baik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit dibanding kontrol. Di antara tiga jenis pupuk majemuk, pupuk majemuk Mutiara memberikan hasil pertumbuhan lebih baik terhadap bibit tanaman kelapa sawit dibandingkan dengan pupuk majemuk Dekastar Plus dan Bintang. Perbedaan kedua jenis tanah tidak berbeda nyata responsnya pada pertumbuhan bibit kelapa sawit, serta tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis tanah dengan jenis pupuk majemuk dalam pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

Key words : Bibit Kelapa Sawit, Pupuk Majemuk, Alluvial,  Podsolik Merah Kuning

 

 

 

 


PENDAHULUAN

          Dalam budidaya tanaman kelapa sawit banyak tahapan yang harus diperhatikan, salah satunya adalah tahap pembibitan, dimana tahap ini sangat penting agar dapat menghasilkan bibit kelapa sawit yang berkualitas baik dan tumbuh dengan optimal.

          Pada umumnya Provinsi Kalimantan Tengah terdiri atas jenis-jenis tanah podsolik merah kuning, organosol, laterit, regosol, aluvial, podsol, lithosol dan latosol. Dominasi terbesar oleh jenis tanah podsolik merah kuning dengan luas 6.033.693 ha, sedangkan jenis tanah aluvial memiliki luasan lahan 1.452.305 ha (BPS Kalteng, 2006). Dengan kondisi luas lahan seperti itu, menjadikan kawasan tersebut banyak dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit.

          Podsolik merah kuning memiliki tingkat kesuburan yang sangat rendah untuk tanaman pangan. Podsolik merah kuning juga memiliki pH yang rendah, dan seringkali mengalami keracunan aluminium, namun podsolik merah kuning memiliki tanggapan yang baik terhadap pemupukan, sehingga dengan perbaikan tanah dan pemberian pupuk, podsolik merah kuning dapat dikembangkan untuk lahan pertanian (Hardjowigeno, 2003; Foth, 1994).

          Tanah aluvial hanya meliputi lahan yang sering atau baru saja mengalami banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada diferensiasi horizon. Keadaan tekstur tanah tergolong kepada proses transportasi dan akumulasinya. Pada umumnya, tekstur tanah yang demikian memperlihatkan tekstur kasar jika terletak berdekatan dengan sungai dan bertekstur halus jika berjauhan dari sungai atau di luar jalur dataran banjir (flood plain) (Darmawijaya, 1990; Rafi’i, 1980).

          Baik tanah podsolik merah kuning maupun tanah aluvial, merupakan tanah yang tingkat kesuburannya kurang sehingga memerlukan pengolahan yang intensif untuk memperbaiki kualitas tanah agar dapat digunakan sebagai media tanam. Seperti podsolik merah kuning yang memiliki karakteristik pH, bahan organik, KTK, KB, Ketersediaan P dan retensi (daya simpan) air yang cukup rendah, serta tingginya kejenuhan Al, Fe dan tingkat erodibilitas tanah yang kurang standar untuk media tanam (Koedadiri, 2004).

          Pemberian pupuk majemuk yang baik kepada kedua jenis tanah tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman. Pupuk majemuk memiliki unsur hara makro yang sangat diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya, oleh karena itu pemberian pupuk majemuk dapat menambahkan unsur hara ke dalam tanah seperti unsur hara N, P dan K (Sutedjo, 1995).

          Pentingnya pembibitan kelapa sawit menyebabkan begitu pentingnya perawatan pada tahap pembibitan. Tingkat kesuburan tanah sangat mempengaruhi tahapan ini, dimana tingkat kesuburan tanah yang baik akan dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan cara pemberian pupuk untuk menambahkan unsur hara yang tidak tersedia bagi tanaman. Pupuk majemuk merupakan salah satu contoh pupuk yang dapat digunakan, dimana pupuk ini memiliki kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman dan baik untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara.

            Sebagian besar perkebunan kelapa sawit tersebar di daerah tanah podsolik merah kuning dan aluvial, sehingga pembibitan kelapa sawit sering menggunakan kedua jenis tanah tersebut. Kendala yang dihadapi kedua jenis tanah ini adalah kurang tersedianya unsur hara yang diperlukan tanaman, karena itu pemupukan dengan pupuk majemuk sangat membantu untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara tersebut.

            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah podsolik merah kuning dengan pemberian pupuk majemuk yang berbeda, pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah aluvial dengan pemberian pupuk majemuk yang berbeda dan interaksi antara perbedaan jenis pupuk majemuk dengan tanah podsolik merah kuning dan aluvial pada pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

          Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis tanah yang terdiri dari dua taraf, yaitu :

S1 = Tanah aluvial

S2 = Tanah podsolik merah kuning

          Faktor kedua adalah perlakuan tiga jenis pupuk majemuk yang berbeda kandungan hara NPK-nya dan satu tanpa pupuk majemuk.

P0 = Tanpa Pupuk Majemuk

P1 = Pupuk Dekastar plus (13: 13: 13: TE )

P2 = Pupuk Mutiara (16: 16: 16 )

P3 = Pupuk Bintang (15: 15: 15 )

          Dengan demikian terdapat delapan kombinasi perlakuan (Tabel 1), masing-masing kombinasi diulang sebanyak 3 (tiga) kali, sehingga secara keseluruhan terdapat 24 satuan percobaan. Satu kombinasi perlakuan terdiri dari enam tanaman.

 

Tabel 1. Kombinasi perlakuan jenis pupuk dan jenis tanah

Jenis Tanah (S)

Jenis Pupuk (P)

P0

P1

P2

P3

S1

S1P0

S1P1

S1P2

S1P3

S2

S2P0

S2P1

S2P2

S2P3

 

     Model linear aditif yang digunakan dalam penelitian ini, menurut  Yitnosumarto (1993) adalah sebagai berikut :

Yijk = m + Si + Pj + (SP)ij + eijk

 

Dimana :

Yijk    = Nilai pengamatan perlakuan pemberian pupuk majemuk ke-j terhadap jenis tanah ke-i pada ulangan ke-k (k = 1, 2, 3)

m       = Nilai tengah umum seluruh pengamatan (rata-rata umum)

Si       = Pengaruh jenis tanah taraf ke-i (i = 1, 2)

Pj      = Pengaruh jenis pupuk majemuk taraf ke-j (j = 1, 2, 3, 4)

(SP)ij =  Pengaruh interaksi antara jenis tanah ke-i dan jenis pupuk majemuk ke-j

eijk   =    Galat percobaan untuk jenis tanah ke-i, jenis pupuk majemuk ke-j pada ulangan ke-k.

            Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, luas daun yang diukur menggunakan metode kertas milimeter blok, bobot basah dan bobot kering biomass tanaman, serta kandungan N, P dan K dalam jaringan tanaman.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Pemberian pupuk majemuk yang berbeda memberikan hasil pertambahan tinggi bibit kelapa sawit yang signifikan dibandingkan dengan bibit kelapa sawit yang tidak diberikan pupuk majemuk (kontrol).

Dari ketiga jenis pupuk majemuk tersebut terlihat bahwa pemberian pupuk majemuk Dekastar Plus (P1) menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk majemuk Mutiara dan Bintang (Gambar 1).

Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang dapat digunakan untuk mengukur atau menduga pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.        Pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit pada umur 9 – 21 minggu setelah tanam (mst)

          Hingga umur 17 mst, pengaruh perlakuan pemberian pupuk majemuk tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun mulai bibit kelapa sawit berumur 19 mst hingga 21 mst baru pengaruh perlakuan terlihat nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

          Pada umur 19 mst terlihat jelas laju pertumbuhan bibit kelapa sawit, dimana pada bibit kelapa sawit yang digunakan sebagai kontrol hanya memiliki rata-rata tinggi sebesar 24,15 cm sedangkan pada bibit kelapa sawit yang diberikan perlakuan pemberian pupuk majemuk mutiara memberikan pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman yang lebih tinggi sebesar 27,95 cm.

          Pada umur 21 mst tampak jelas pemberian pupuk majemuk berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit, dimana jika dibandingkan dengan tanpa perlakuan (kontrol) hanya memiliki tinggi rata-rata sebesar 26,2 cm, sedangkan perlakuan pemberian pupuk majemuk dekastar plus menghasilkan tinggi rata-rata tanaman sebesar 32,5 cm.   

 

Luas daun

          Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman budidaya harus dapat menyerap sebagian besar radiasi matahari tersebut dengan jaringan fotosintesis yang hijau (Serano dkk, 1995). Daun sebagai organ utama untuk menyerap cahaya dan untuk melakukan fotosintesis pada tanaman daerah tropis memiliki struktur daun yang hampir menutup sebagian besar permukaan tanah (Lubis, 1992).

 

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Perkembangan luas daun bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

         

          Kelapa sawit termasuk dalam spesies tanaman budidaya golongan C4, dimanatanaman golongan C4 efisien dalam menggunakan radiasi matahari pada proses fotosintesis, dan cenderung menginvestasikan sebagian besar hasil fotosintesis pada awal pertumbuhan dalam bentuk penambahan luas daun (Salisbury dan Ross, 1995). Oleh sebab itu luas daun sering dijadikan sebagai parameter pertumbuhan untuk menduga adanya pengaruh perlakuan dalam penelitian.

          Hasil analisis ragam menunjukkan ada perbedaan yang nyata pada perkembangan luas daun dari setiap perlakuan yang diberikan. Hasil analisis ragam perkembangan luas daun menunjukkan pemberian pupuk majemuk mutiara memberikan perkembangan luas daun bibit kelapa sawit yang lebih luas dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 2).

          Hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara jenis tanah dan jenis pupuk majemuk pada bibit kelapa sawit. Dari semua pengamatan pada umur 13 – 21 mst terlihat perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara menunjukkan hasil yang baik di setiap jenis tanah, dimana pada pemberian pupuk majemuk Mutiara, perkembangan luas daun selalu meningkat. Hal ini dikarenakan pupuk majemuk Mutiara memiliki kandungan kadar unsur yang lebih tinggi dibanding jenis pupuk majemuk lainnya, dimana pupuk majemuk Mutiara memiliki kandungan NPK dengan komposisi 16:16:16. Selain itu pupuk majemuk Mutiara juga memiliki kandungan unsur hara sekunder seperti CaO dan MgO (Sutedjo, 1995).           

 

Bobot Basah Biomasa Bibit Kelapa Sawit

          Bobot basah tanaman budidaya hanya dapat digunakan untuk menggambarkan hasil asimilasi secara umum, bukan hasil asimilasi bersih karena masih mengandung sejumlah air dan sebagian kecil hara mineral. Meskipun demikian, jika kondisi air tanah stabil pada kapasitas lapang, maka bobot basah tanaman juga dapat untuk memprediksikan hasil bersih fotosintesis dan dengan demikian bobot basah tanaman bisa dijadikan sebagai salah satu parameter untuk mengukur pengaruh lingkungan tumbuh.

          Laju pertumbuhan tanaman budidaya adalah bertambahnya berat dalam komunitas tanaman persatuan luas tanah dalam satu satuan waktu, dan dapat digunakan secara luas dalam analisis pertumbuhan tanaman budidaya di lapangan (Gardner dkk, 1991)

          Hasil analisis ragam bobot basah biomasa bibit kelapa sawit pada umur 13, 17 dan 21 mst menunjukkan pada umur 21 mst, pemberian pupuk majemuk Dekastar Plus dan Mutiara kepada kedua jenis tanah bobot basah biomassa bibit lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol dan pemberian pupuk majemuk Bintang.    

Interaksi antara jenis tanah dan jenis pupuk majemuk tidak menunjukkan interaksi yang signifikan, dimana hasil analisis ragamnya tidak  berbeda nyata.

          Terjadinya keragaman perkembangan bobot basah bibit kelapa sawit yang signifikan diantara perlakuan pupuk majemuk menunjukkan bahwa secara kualitatif ada perbedaan diantara pupuk majemuk tersebut. Hal ini di karenakan pupuk majemuk Mutiara mengandung unsur hara N, P, dan K dengan perbandingan (16:16:16), yang berarti kandungan N sebesar 16%, P2O5 sebesar 16%, dan K2O sebesar 16%. Dimana dengan perbandingan tersebut menunjukkan kandungan hara N, P dan K yang terdapat pada pupuk majemuk Mutiara lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pupuk majemuk Bintang (15: 15: 15) dan pupuk majemuk Dekastar Plus (13: 13: 13).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.      Bobot basah biomassa bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

         

Bobot Kering Biomasa Bibit Kelapa Sawit

          Bobot kering total tanaman budidaya di lapangan merupakan akibat dari penimbunan hasil bersih asimilasi CO2 sepanjang pertumbuhannya, faktor utama yang mempengaruhi bobot kering total tanaman adalah radiasi matahari yang diabsorbsi dan efisiensi pemanfaatan energi matahari tersebut untuk asimilasi CO2 oleh daun (Gardner dkk, 1991).

          Hasil analisis ragam boot kering bibit kelapa sawit menunjukkan perbedaan yang nyata dari perbedaan jenis pupuk majemuk pada umur 21 mst. Pemberian pupuk majemuk terhadap dua jenis tanah memberikan pertumbuhan yang signifikan yang dapat dilihat dari bobot kering bibit kelapa sawit, dimana pemberian pupuk majemuk memberikan pengaruh yang nyata dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada kedua jenis tanah

          Pada umur tanaman 21 mst terlihat pemberian pupuk majemuk Mutiara menunjukkan Bobot kering bibit kelapa sawit yang lebih berat dibandingkan pupuk majemuk lainnya. Bobot kering tanaman budidaya di lapangan merupakan akibat dari penimbunan hasil bersih fotosintesis (asimilasi CO2) sepanjang musim pertumbuhan, yang telah dipengaruhi oleh berbagai dampak faktor penghambat dan pendukung dari lingkungan (Gardner dkk, 1991).

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.   Bobot kering bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

 

          Terlihat perbandingan yang cukup signifikan pada bobot kering bibit kelapa sawit tanpa pupuk majemuk (kontrol) dengan bibit kelapa sawit yang diberi perlakuan, tetapi antar perlakuan pupuk majemuk tidak memperlihatkan pengaruh yang signifikan dimana bibit kelapa sawit yang diberi perlakuan pupuk majemuk memberikan hasil yang hampir sama. (Gambar 4).

          Interaksi dari tiga jenis pupuk majemuk dan dua jenis tanah tidak menunjukkan interaksi yang signifikan, dimana dari hasil analisis ragam tidak terjadi interaksi antara ketiga jenis pupuk majemuk terhadap jenis media tanah yang digunakan.

 

Kandungan Total Hara Bibit Kelapa Sawit

          Analisis kandungan unsur hara N, P, dan K dalam jaringan bibit kelapa sawit dilakukan secara komposit, yaitu dengan cara mencabut (destruktif) bibit kelapa sawit yang ditanam pada polibag, diambil satu bibit kelapa sawit sebagai sampel pada setiap kombinasi perlakuan dan ulangan, selanjutnya seluruh bagian tanaman (akar, batang dan daun) dianalisis kandungan unsur hara lebih lanjut. Hasil analisis kandungan unsur hara disajikan pada

          Hasil analisis jaringan tanaman menunjukkan bahwa kandungan hara tanaman kelapa sawit terbesar pada jenis tanah aluvial yang mendapat perlakuan pupuk majemuk Mutiara, dengan jumlah N-total tertinggi sebesar 1,59 %, kandungan P-total sebesar 626,31 ppm dan kandungan K-total sebesar 8.317,39 ppm, sedangkan pada tanah podsolik merah kuning, kandungan hara bibit kelapa sawit yang terbaik adalah perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara juga, dengan nilai N-total sebesar 1,11 %, P-total sebesar 322,70 ppm dan K-total sebesar 6.094,58 ppm.

          Pada kedua jenis tanah tersebut pemberian pupuk majemuk memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan bibit kontrol, dimana pemberian jenis pupuk majemuk Mutiara memberikan nilai kandungan unsur lebih besar dibanding dengan jenis pupuk majemuk yang lain. Hal ini dikarenakan pupuk majemuk Mutiara merupakan pupuk yang memiliki komposisi terbesar diantara jenis pupuk lainnya dan pupuk majemuk Mutiara ini merupakan jenis pupuk majemuk yang mudah terlarut di dalam tanah, sehingga dapat diserap dengan cepat oleh tanaman (Sutedjo, 1995).

Dari kedua jenis tanah tersebut terlihat perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara memberikan pengaruh yang berbeda dari pemberian jenis pupuk majemuk lainnya. Terlihat jenis tanah aluvial memberikan respons yang lebih baik dibanding jenis tanah podsolik merah kuning, dimana nilai kandungan N-total, P-total dan K-total lebih tinggi dibandingkan pada jenis tanah podsolik merah kuning (Gambar 5).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Hasil analisis kandungan N, P dan K dalam jaringan tanaman  bibit kelapa sawit pada masing-masing perlakuan

 

KESIMPULAN

          Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh beberapa pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah aluvial dan podsolik merah kuning dapat disimpulkan:

  1. Pemberian jenis pupuk majemuk Mutiara, Dekastar Plus dan Bintang pada tanah aluvial dan podsolik merah kuning memberikan respons pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih baik dibandingkan kontrol. Dari ketiga jenis pupuk majemuk, pupuk majemuk Mutiara memberikan hasil pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk majemuk Dekastar Plus dan Bintang.
  2. Perbedaan kedua jenis tanah tidak berbeda nyata responsnya pada pertumbuhan bibit kelapa sawit.
  3. Tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis tanah dengan jenis pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BPS Kalteng. 2006. Kalimantan Tengah dalam Angka. Badan Pusat Statistik, Kalimantan Tengah. Palangka Raya

Darmawidjaja, M. I. 1990. Klasifikasi Tanah Dasar Teori Bagi Peneliti dan Pelaksana Pertanian Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Foth, H. D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Purbayanti, E.D., Lukiwati dan Trimulatsih, R. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Gardner, F. P., R. B., Pearce dan R. L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. (Terjemahan). UI Press. Jakarta

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta

Koedadiri, A. D. 2004. Produktivitas Kelapa Sawit Generasi Pertama Pada Tanah Ultisol di Beberapa Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia. PPKS (Avalable on-line with updates at http://www.iopri.orgindex.phpoption/com_content&task/section&id/105&Itemid/47.htm (verified 09 Okt. 2008)

Lubis, L. 1992. Usaha dan Budidaya Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta

Rafi’i. 1980. Ilmu Tanah. Angkasa. Bandung

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 1 (terjemahan). ITB. Bandung

Serrano L., J. A. Pardos, F. I. Pugnaire dan F. Domingo. 1995. Absorption of Radiation, Photosynthessis and Biomass Production in Plants. In Pessarakli M. (ed.) 1995. Handbook of Plant and Crop Physiology. Marcel Dekker, inc. New York – Hongkong.

Setyamidjaja, D. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta

Sitompul, S. M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Sutedjo, M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta

Yitnosumarto, S. 1993. Percobaan Perancangan Analisis dan Interprestasinya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: