JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Efek Perlakuan Jarak Tanam == Lilies Supriati dkk
18 Juni 2011, 3:28 pm
Filed under: Penelitian

EFEK PERLAKUAN JARAK TANAM TERHADAP PERKEMBANGAN  PENYAKIT

Helminthosporium maydis DAN Curvularia sp. PADA Zea mays saccharata Sturt

DI TANAH GAMBUT PEDALAMAN

(Effect of Plant Spacing to Disease Intensity Helminthosprium maydis and Curvularia sp.

 of Zea mays saccharata Sturt In Peatlands)

 

Lilies Supriati1), Jepriono Nipisa2), Ici Piter Kulu1) dan Dewi Saraswati1)

1)      Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian

2)      Alumni Jurusan Budidaya Pertanian

 

 

ABSTRACT

 

The aim of this study was to know diseases intensity and leaf spots Curvularia sp. on Zea mays saccharata  with plant spacing in peatlands. This research used Randomized Block Design (RBD) with four plant spacings , namely 60 cm x 30 cm, 60 cm x 60 cm, 60 cm x 30 cm x 60 cm, and 60 cm x 60 cm x 60 cm. The results showed that on 60 cm x 60 cm x 60 cm and 60 cm x 60 cm plant spacing, diseases intensity of leaf blight disease (Helminthosporium maydis Nisik)  and leaf spotting diseases (Curvularia sp) were lower than 60 cm x 30 cm, and 60 cm x 30 cm x 60 cm until 8 weeks after planting.

Key words: Zea mays saccharata, plant spacing, Helminthosporium maydis, Curvularia sp.

 

 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan intensitas serangan penyakit hawar daun H. maydis dan bercak daun Curvularia sp. pada tanaman jagung manis karena perlakuan jarak tanam di tanah gambut pedalaman.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan jarak tanam, yaitu 60 cm x 30 cm, 60 cm x 60 cm, 60 cm x 30 cm x 60 cm, dan 60 cm x 60 cm x 60 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm menunjukkan intensitas serangan  penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis) dan penyakit bercak daun (Curvularia sp.) nyata lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm, dan 60 cm x 30 cm x 60 cm hingga umur 8 mst.

Kata Kunci : Zea mays saccharata, jarak tanam, H. maydis, Curvularia sp.

 


PENDAHULUAN

Jagung manis merupakan salah satu varietas jagung yang memiliki keistimewaan karena kadar gula lebih tinggi dibanding jagung biasa.  Kadar gula jagung manis berkisar 13-14%, sedangkan pada jagung biasa hanya 2-3%. Selain memiliki keunggulan akan rasa manis, faktor lain yang menguntungkan adalah masa produksinya lebih cepat dibandingkan jagung biasa, dengan umur panen rata-rata 60-70 hari setelah tanam (Purwanto, 2000).  Salah satu kendala dalam meningkatkan dan mempertahankan produksi jagung adalah serangan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Helminthosporium sp. Penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 59%, terutama bila infeksi terjadi sebelum bunga betina keluar (Pakki, 2005). Spesies yang dominan menyerang pertanaman jagung di dataran rendah adalah Helminthosporium maydis,  sedangkan penyakit lainnya yang juga menyerang daun jagung adalah bercak daun Curvularia sp. Selain menyerang daun juga sebagai seed born diseases (Semangun, 1994). Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida terhadap kedua jenis penyakit ini kurang mampu apabila penanaman dilakukan pada musim hujan, karena tercucinya fungisida akibat air hujan.  Cara pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara kultur teknis, yaitu mengatur jarak tanam. Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk menciptakan kondisi faktor lingkungan yang dibutuhkan tanaman tersedia secara merata bagi setiap tanaman dan mengoptimasi penggunaan faktor lingkungan yang tersedia. Jarak tanam yang diatur sedemikian rupa dapat menekan intensitas serangan penyakit pada tanaman dan tidak menguntungkan bagi perkembangan patogen. Menurut Cahyono (2002), pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan jenis tanaman akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengaturan jarak tanam akan mempengaruhi populasi tanaman persatuan luas, pada jarak tanam yang rapat populasi tanaman menjadi lebih besar sehingga meningkatkan kelembaban yang dapat menstimulir berkembangnya patogen  dan kurang sesuai bagi persyaratan tumbuh tanaman, serta tanaman menjadi peka terhadap serangan penyakit.  Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan penyakit hawar daun H. maydis dan bercak daun Curvularia sp., pada tanaman jagung  manis di tanah gambut pedalaman karena perbedaan perlakuan jarak tanam.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kalampangan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan jarak tanam yaitu: 60 x 30 cm, 60 x 60 cm, 60 x 30 x 60 cm dan 60 x 60 x 60 cm, setiap perlakuan diulang 6 kali.

  Bahan yang diperlukan adalah: benih jagung manis varietas Sweet Boy, pupuk kotoran ayam, dolomit, pupuk urea, SP-36, KCl, insektisida Sidametrin 50 EC. Alat yang digunakan berupa peralatan olah tanah, kamera, alat-alat gelas di laboratorium, timbangan analitik  dan  mikroskop binokuler elektrik.

           Pengolahan tanah dilakukan dengan pencangkulan, kemudian dibuat bedengan berukuran 2 x 3 m.  Jarak antar bedengan 0,5 m dan jarak antar kelompok 1 m.  Di sekeliling lahan dibuat parit drainase untuk memudahkan pembuangan kelebihan air. Aplikasi pupuk organik kotoran ayam  (10 ton.ha-1) dilakukan bersamaan dengan pemberian dolomit dengan dosis 4 ton.ha-1, dengan masa inkubasi satu minggu .  Penanaman dilakukan setelah masa inkubasi, pada bedengan dibuat lubang tanam dengan ditugal sedalaman ±3 cm.  Setiap lubang tanam ditanam 1 benih jagung, kemudian ditutup dengan tanah.   Aplikasi pupuk urea (dosis 200 kg.ha-1) dilakukan saat tanam dilanjutkan pada umur 3 dan 5 mst, masing-masing diberikan 1/3 dosis.  Pupuk SP-36 (dosis 150 kg.ha-1) dan KCl (dosis 100 kg.ha-1) diberikan seluruhnya pada saat tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak sekitar 15 cm dari tanaman dengan kedalaman ± 10 cm.  Pemeliharaan tanaman meliputi: penyiraman, penyiangan, penyulaman, pembubunan,  dan pengendalian hama berdasarkan ambang kendali.  Pengendalian hama secara kimiawi menggunakan insektisida Sidametrin 50 EC  dilakukan mulai umur  2  mst   dengan   konsentrasi  2 ml.l-1 air.   Sidametrin berbahan aktif  sipermetin   50 g.l-1 bersifat racun kontak dan perut, dengan volume larutan semprot 500 l.ha-1.  Panen jagung manis dilakukan pada saat rambut tongkol telah bewarna coklat, tongkol terisi penuh dan bila biji ditekan menggunakan kuku akan mengeluarkan cairan berwarna putih susu atau tanaman telah berumur sekitar 9 mst.

Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah: intensitas serangan penyakit (%) dilakukan 7 kali pengamatan dengan interval 1 minggu sekali.  Pengamatan dilaksanakan pada umur 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 mst.  Intensitas serangan penyakit dihitung menggunakan rumus berdasarkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1998), sebagai berikut:

              z

          ∑ (ni x vi)

             i = o

I =                                x 100%

               Z x N

 

Keterangan :

I    =   Intensitas serangan (%)

ni  =   Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh (daun) dengan skala kerusakan vi

vi  =   Nilai skala kerusakan ke-i

N  =   Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh (daun)  yang diamati

Z   =   Nilai skala kerusakan tertinggi

 

Kategori skala kerusakan intensitas serangan penyakit dianggap tidak mutlak yang digunakan sebagai pedoman seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Kategori Skala Kerusakan Penyakit.

Intensitas serangan

Kategori

Tidak ada kerusakan pada daun

0

Kerusakan daun  1 – 5 % dari luas daun terserang

1

Kerusakan daun  5 – 25 % dari luas daun terserang

3

Kerusakan daun  25 – 50 % dari luas daun terserang

5

Kerusakan daun 50 – 75 % dari luas daun terserang

7

Kerusakan daun 75 – 100 % dari luas daun terserang

9

Sumber :    Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1998)

Pengamatan pendukung yang dilakukan meliputi :

  1. Pengukuran suhu dan kelembaban menggunakan Hygrometer,  alat diletakkan pada masing-masing bedengan perlakuan dengan jarak 30 cm di atas permukaan tanah, diamati pada pagi hari pukul 06.00 wib.
  2. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan menggunakan  lux meter dengan mengukur intensitas sinar datang diatas kanopi dengan sinar diteruskan kanopi.   Pengukuran dilakukan pada umur  3-8 mst.   Jumlah sinar tersekap oleh kanopi diperoleh dengan cara menghitung selisih antara sinar datang dengan sinar yang diteruskan kanopi.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F taraf α 5% dan 1%, bila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf α 5%.

 

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Serangan Penyakit Hawar Daun (Helminthosporium sp.)

Terdapat tiga species Helmintosporium yang menyerang tanaman jagung di dunia, yaitu H. tursicum, H. maydis dan H. carbonum (Semangun, 1994), sedangkan species Helminthosporium yang menyerang tanaman jagung di Indonesia ada dua, yaitu H. maydis dan H. tursicum (Sudjono, 1998 dalam Pakki, 2007).  Berdasarkan pengamatan terhadap gejala serangan penyakit hawar daun, terdapat bercak berwarna kelabu dengan panjang ± 4 cm dan lebar hingga 0,6 cm.  Bercak sejajar dengan tulang daun.  Berdasarkan pengamatan mikroskopis, konidia panjang dan bengkok seperti perahu dengan jumlah sekat 5-11.  Berdasarkan identifikasi terhadap gejala dan bentuk mikroskopis tersebut, penyakit hawar daun yang menyerang tanaman jagung manis di Kalampangan disebabkan oleh H. maydis  (Semangun, 1994).  Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sudjono (1998) dalam Pakki (2007) yang menyatakan bahwa di Indonesia baru terdapat dua species Helminthosporium yang menyerang tanaman jagung, yaitu H. tursicum dan H. maydis, dimana species H. maydis banyak ditemukan menyerang tanaman jagung pada dataran rendah.  

Hasil uji beda rata-rata menunjukkan perlakuan jarak tanam yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas serangan penyakit hawar daun (Tabel 2).  Pada Tabel 2 menunjukan intensitas serangan penyakit hawar daun pada jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam lainnya hingga pengamatan umur 8 mst, dan intensitas serangan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm.

Tabel 2. Nilai Rata-rata Intensitas Serangan Penyakit Hawar Daun (Helminthosporium maydis Nisik)  pada tanaman jagung manis umur 5, 6, 7 dan 8 mst.

Perlakuan

Intensitas Penyakit (%)

5 mst

6 mst

7 mst

8 mst

60x30cm

2,22b

6,72b

10,56b

13,47c

60x60cm

0,96a

2,90a

5,66a

8,38a

60×30 x 60cm

1,33ab

5,86b

8,46b

10,55b

60 x60 x60cm

0,74a

2,71a

5,45a

7,50a

BNT 5 %

0,83

1,63

1,87

2,86

 

Hal itu mengindikasikan bahwa pada perlakuan jarak tanam yang rapat dapat memicu perkembangan intensitas serangan penyakit menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan jarak tanam yang lebih lebar.  Kondisi ini dapat dilihat pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm intensitas serangan penyakit H. maydis selalu meningkat pada setiap waktu pengamatan.  Sedangkan pada jarak tanam yang lebih lebar (60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm) intensitas serangan penyakit yang terjadi lebih rendah dibandingkan jarak tanam yang sempit.  Balitbangtan (2010) melaporkan pada lahan yang relatif terbuka (jarak tanam lebih lebar) dapat mengurangi serangan penyakit, kelembaban semakin berkurang sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.

Djafarudin (2000) menyatakan bahwa kebanyakan penyakit diperkuat oleh kelembaban yang tinggi, maka penanaman dan penyebaran biji yang terlalu rapat akan membantu serangan penyakit.  Oleh karena itu, jarak tanam harus diatur sedemikian rupa sesuai dengan kesuburan tanah dan sifat dari tajuk tanaman.  Jumar (2000) menambahkan rerata suhu udara yang baik untuk pertumbuhan yang optimum adalah sekitar 17 0C, dengan rerata suhu udara minimum 10 0C dan suhu udara maksimum harian adalah 24­­­­ 0C dan rerata kelembaban udara yang tinggi dapat mendukung berkembangnya penyakit yang disebabkan cendawan.

Helminthosporium maydis merupakan spesies yang dominan di pertanaman jagung pada dataran rendah.  Berdasarkan hasil pengukuran suhu di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui suhu rata-rata masing-masing perlakuan adalah : jarak tanam 60 cm x 30 cm  suhu di sekitar tanaman 27,86oC, jarak tanam 60 cm x 60 cm suhu rata-rata 28,86oC, jarak tanam 60 cm x 30 cm x 60 cm suhu rata-rata 28,57oC, dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm suhu rata-rata di sekitar tanaman sebesar 29,43 oC. Spesies H. maydis ditemukan pada dataran rendah dengan suhu optimum 20−30oC,  pada keadaan suhu ini H. maydis lebih berkembang dibanding spesies Helminthosporium lainnya. Perkembangan H. maydis terhambat pada suhu 35oC, dan suhu terbaik untuk perkembangannya sekitar 30oC dengan sebaran hari hujan tinggi selama musim tanam dan kelembaban sekitar 90 %, serta radiasi matahari harian rendah, sekitar 41,20%  (Pakki, 2005).   Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban udara di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui kelembaban rata-rata antara 47,29 – 51% dan kurang dari 83,20%.  Keadaan kelembapan yang demikian kurang mendukung perkembangan H. maysdis, terutama pada produksi pemencaran konidium sehingga intensitas serangan juga rendah. Jamur melepaskan banyak konidium pada siang hari setelah satu malam yang panas dengan kelembaban nisbi di atas 90%. Suhu optimum untuk pembentukan konidium adalah 20-26 0C. Untuk sporulasi tidak diperlukan air bebas, tetapi diperlukan suatu masa gelap dan agar dapat terjadi infeksi harus ada air bebas.  Infeksi memerlukan waktu 6-18 jam pada suhu 18-27 0C (Semangun, 1994).  Oleh sebab itu, pada hasil penelitian ini intensitas serangan penyakit hawar daun yang terjadi masih tergolong ringan < 25%.   Sudjono (1990) menambahkan, bahwa dengan curah hujan yang rendah (6,0 −16,5 mm/bulan) pada musim kemarau, intensitas penyakit hawar daun sangat rendah dibanding pada musim hujan dengan curah hujan 210−480 mm/bulan. Perkembangan penyakit tersebut berkaitan dengan suhu dan kelembaban, pada musim kemarau, suhu udara meningkat dan kelembaban pada siang hari menurun. Sebaliknya, pada musim hujan, suhu siang hari lebih rendah dan stabil serta kelembaban cenderung lebih tinggi dengan variasi tidak ekstrim. Kondisi tersebut mengakibatkan sporulasi H. maydis meningkat atau spora di udara cukup tersedia sehingga peluang terjadinya infeksi cukup besar. Akibatnya, intensitas serangan selalu lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Intensitas serangan H. maydis juga dipengaruhi oleh iklim. Pada sebaran hari hujan lebih tinggi dengan kelembaban lebih besar (83,20 %) dan sebaran radiasi harian matahari yang rendah (38,15%) cukup kondusif bagi perkembangan H. maydis.  Berdasarkan hasil pengukuran penyekapan sinar pada kanopi, rata-rata radiasi di sekitar tanaman pada jarak tanam 60 cm x 60 cm sebesar 39,72% dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm rata-rata radiasi sebesar 41,32%.  Keadaan radiasi di sekitar tanaman yang lebih besar dari 38,15% ini, menyebabkan intensitas serangan H. maydis lebih rendah.

Pengaturan jarak tanam mempengaruhi jumlah populasi tanaman persatuan luas, pada jarak tanam yang rapat jumlah populasi tanaman menjadi lebih besar. Hal ini dapat meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman yang dapat menstimulir berkembangnya patogen sehingga  tidak sesuai dengan persyaratan tumbuhnya tanaman dan menyebabkan tanaman menjadi peka terhadap serangan penyakit (Cahyono, 2002).  Muis (2007) mengemukakan bahwa menanam secara berjajar akan menurunkan suhu dan kelembaban relatif di bawah kanopi dan penetrasi sinar matahari, kondisi seperti ini tidak menguntungkan bagi perkembangan penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung.

Intensitas Serangan Penyakit Bercak Daun Curvularia sp.

Hasil identifikasi bentuk gejala serangan penyakit bercak daun dan pengamatan mikroskopis terhadap bentuk konidia, penyebab penyakit bercak daun pada tanaman jagung manis di Kalampangan disebabkan oleh Curvularia lunata.  Dengan ciri konidia bersekat 1-3, sel nomor dua lebih besar dan lebih gelap (http://pir.uniprot.org/taxonomy/5503, 2010).  Hasil uji beda rata-rata menunjukkan perlakuan jarak tanam yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas serangan penyakit bercak daun Curvularia sp. (Tabel 3).  Pada Tabel 3 menunjukan intensitas serangan penyakit bercak daun pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam lainnya hingga pengamatan umur 6 mst, dan intensitas serangan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm.    Sedangkan pada pengamatan umur 8 mst intensitas serangan nyata lebih tinggi hanya terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm dibanding perlakuan jarak tanam lainnya.

Sama seperti penyakit hawar daun, perkembangan penyakit bercak daun Curvularia sp. sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama suhu dan kelembaban.  Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban udara disekitar tanaman pada 8 mst diketahui kelembaban rata-rata antara 47,29–51,00% dan kurang dari 90%, keadaan mikroklimat yang demikian kurang mendukung perkembangan penyakit Curvularia sp.  Perkembangan penyakit bercak daun sangat dipengaruhi oleh kelembaban.  Kelembaban nisbi yang diperlukan paling rendah 95% yang berlangsung selama 6-8 jam.  Dalam cuaca kering, penyakit baru berkembang banyak bila tanaman berumur 70 hari, sedang dalam cuaca lembab terjadi pada umur 40-45 hari.

Tabel 3. Nilai rata-rata Intensitas Serangan Penyakit Bercak Daun (Curvularia sp)  pada tanaman jagung manis umur 5, 6, 7 dan 8 mst

Perlakuan

Intensitas Penyakit (%)

5 mst

6 mst

7 mst

8 mst

60x30cm

1,40b

2,28b

4,01c

5,36b

60x60cm

0,59a

0,93a

2,01a

2,54a

60×30 x 60cm

0,96b

1,91b

2,90b

3,47a

60 x60 x60cm

0,37a

0,86a

1,79a

2,28a

BNT 5 %

0,53

0,68

0,81

1,47

 

  Hasil penelitian Supriati (2001) menunjukkan bahwa intensitas serangan penyakit bercak daun Curvularia sp. tertinggi terjadi pada perlakuan tanpa fungisida dengan intensitas serangan 35,78% dan tergolong dalam serangan sedang, penelitian dilakukan pada musim kering bulan April-Juni. Berdasarkan hasil pengukuran suhu di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui suhu rata-rata masing-masing perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm 27,86 oC, jarak tanam 60 cm x 60 cm 28,86 oC, jarak tanam 60 cm x 30 cm x 60 cm 28,57 oC, dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm 29,43 oC.  Perkembangan penyakit bercak daun terjadi pada suhu optimum 24-30 ºC.  Pada suhu yang relatif rendah diperlukan waktu yang lebih panjang (Semangun, 1994). 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian efek perlakuan jarak tanam terhadap perkembangan penyakit hawar daun dan bercak daun Curvularia sp. pada tanaman jagung manis di tanah gambut pedalaman disimpulkan sebagai berikut :

  1. Perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm nyata dapat menurunkan intensitas serangan  penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis Nisik) hingga umur 8 mst.
  2. Perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm serta 60 cm x 30 cm x 60 cm nyata dapat menurunkan intensitas serangan  penyakit bercak daun (Curvularia sp) hingga umur 8 mst.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).  2010.  Tanam Padi Jajar Legowo Di Lahan Sawah, Buletin Pertanian Edisi Pebruari 2010 : 09-32. 

Cahyono, B. 2002. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis : Analisis Kelayakan, Secara Intensif, Jenis Kubis Putih. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Djafarudin. 2004. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. 1998. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Proyek Pengendalian Hama Terpadu.  Jakarta.

http://pir.uniprot.org/taxonomy/5503.  Akses 18 Juli 2010.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Muis, A.  2007.  Pengelolaan Penyakit Busuk pelepah (Rhizoctonia solani Kuhn.) pada Tanaman Jagung.   Jurnal Litbang Pertanian 26(3) : 100-103. 

Pakki, S.  2005.  Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun (Helminthosporium sp.) Pada Tanaman Jagung.  Jurnal Litbang Pertanian 24(3) : 101-108. Purwanto.  2000.  Tehknik Budidaya Jagung Manis.  Bina Bangsa.  Bogor.

Semangun, H.  1994.   Penyakit-penyakit Tanaman Pangan Di Indonesia.  Gadjah Mada university Press.  Yogyakarta.

Sudjono, M.S. 1990.  Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.   Bogor.

Supriati, L.  2001.  Efektifitas Lima Jenis Fungisida terhadap Serangan Penyakit Bercak Daun Curvularia sp.  pada Tanaman Jagung Manis. Agripeat 2(1) : 20-23.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

terima kasih

Komentar oleh reka nova

Hi, i think that i saw you visited my blog thus i came to “return the favor”.
I’m trying to find things to enhance my site!I suppose its ok to use a few of your ideas!!

Komentar oleh how to find a work from home job




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: