JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Aplikasi Trichoderma Isolat PLK-1 == Rahmawati Budi Mulyani dkk
18 Juni 2011, 3:35 pm
Filed under: Penelitian

APLIKASI TRICHODERMA ISOLAT PLK-1 DAN WAKTU INKUBASI PUPUK KANDANG AYAM  DI TANAH GAMBUT UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG  JAGUNG MANIS  

(Application of Trichoderma  Plk-1 Isolates and Chicken Manure Incubation Time on Peat Soil Against

 Stem Rot Disease of Sweet Corn)

Rahmawati Budi Mulyani1), Melhanah1), dan Radityo2)

1)        Staf Pengajar di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

2)        Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya

 

ABSTRACT

Effect of incubation time of manure chicken in combination with application of Trichoderma sp. Plk-1 isolates in suppressing the intensity of the stem rot disease on sweet corn plants in peat soils have been studied from June 2007 until January 2008. Research using factorial completely randomized design, with the first factor is application of Trichoderma sp. Plk-1 isolates (with Trichoderma sp., Trichoderma sp. + manure chicken manure), while the second factor is the incubation time of manure (without incubation, incubation of 4 weeks, and 8-week incubation). The control group was treated without Trichoderma inoculation and chicken manure. The results showed that the application of Trichoderma isolates Plk-1 and chicken manure were significantly inhibits the development of disease up to age 4 wap (week after planting) did not cause the formation of sclerotium pathogens (4 weeks after planting). The addition of chicken manure to increase the effectiveness of antagonists was to be very good up to 100%. The longer incubation time of chicken manure which is accompanied by the addition of Trichoderma isolates Plk-1 tended to further improve plant resistance to stem rot disease due to renovation process of organic material will get better and viability sclerotia decreased.

Simak

Baca secara fonetik

Keywords: Trichoderma isolates Plk-1, incubation time, chicken manure, stem rot disease

ABSTRAK

Pengaruh waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam dikombinasikan dengan pemberian Trichoderma  sp. isolat Plk-1 dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang pada tanaman jagung manis pada tanah gambut telah diteliti dari bulan Juni 2007 sampai Januari 2008.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan faktor pertama adalah aplikasi Trichoderma  sp. isolat Plk-1 (dengan Trichoderma sp., Trichoderma sp. + pupuk kandang kotoran ayam), sedangkan faktor kedua adalah waktu inkubasi pupuk kandang (tanpa inkubasi, inkubasi 4 minggu, dan inkubasi 8 minggu). Perlakuan kontrol adalah perlakuan tanpa diinokulasi Trichoderma dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 dan pupuk kandang kotoran ayam sangat nyata menghambat perkembangan penyakit hingga umur tanaman 4 mst dan menyebabkan tidak terbentuknya sklerotium patogen (4 minggu setelah tanam). Penambahan pupuk kandang kotoran ayam meningkatkan  efektivitas antagonis menjadi sangat baik  hingga mencapai 100%. Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam yang disertai dengan  penambahan Trichoderma isolat Plk-1 cenderung semakin meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit busuk pangkal batang karena proses perombakan bahan organik akan semakin baik dan viabilitas sklerotia semakin menurun.

Kata Kunci : Trichoderma isolat Plk-1, waktu inkubasi, pupuk kandang ayam, penyakit busuk batang

 

 

 


PENDAHULUAN

Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii Sacc., merupakan jamur patogen yang inangnya sangat banyak, dilaporkan mempunyai tanaman inang antara 200-500 spesies (Punja, 1988). Infeksi jamur ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil hingga 80% (Widyanti, 2001). Jamur ini relatif sulit dikendalikan karena selain mempunyai banyak inang juga dapat membentuk sklerotium yang mampu bertahan di dalam tanah dalam waktu lama (Semangun, 2001). 

Sklerotium umumnya tidak mati oleh tindakan pengendalian kimiawi. Penggunaan jamur antagonis Trichoderma sp.sejauh ini telah teruji kemampuannya dalam mengendalikan jamur patogen tular tanah  seperti Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dan F. o. f.sp. cubense (Darnetty et al., 2003). Isolat-isolat lokal Trichoderma spp. asal Kalimantan Tengah memiliki kemampuan antagonis yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan F. o.  f.sp. cubense  secara in vitro (Saraswati et al., 2004).  Trichoderma isolat Plk-1 menunjukkan kemampuan yang lebih baik, namun keefektipan penggunaannya di lapangan dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium masih cukup rendah  (Mulyani dan Djaya, 2006).

Lahan gambut memiliki potensi cukup besar sebagai alternatif pengembangan pertanian di Kalimantan Tengah, namun memiliki kendala sehubungan dengan tingkat kesuburannya yang rendah. Gambut yang belum terdekomposisi sempurna biasanya kurang subur. Bahan organik merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah.  Peranan mikroorganisme tanah terhadap dekomposisi  bahan organik sangat besar (Lestari, dan Indrayati,  2000).      Trichoderma sp.  merupakan jamur saprofit tanah yang mampu merombak bahan-bahan organik untuk digunakan sebagai  sumber nutrisinya.  Pemberian pupuk kandang diperkirakan akan meningkatkan kemampuan dan aktivitas jamur tersebut sebagai antagonis terhadap jamur S. rolfsii

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam pada tanah gambut terhadap efektivitas Trichoderma  sp. isolat PLK-1 dalam menekan intensitas serangan S. rolfsii pada tanaman jagung manis pada tanah gambut.

BAHAN DAN METODE

Isolat S. rolfsii, Trichoderma sp. dan Bahan Tanaman.  Trichoderma sp. isolat Plk-1 dan isolat S. rolfsii merupakan koleksi Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Isolat diremajakan pada media potato dextrose agar (PDA), diinkubasikan pada suhu ruang selama 7 hari. Selanjutnya isolat diperbanyak pada substrat dengan komposisi  serbuk gergaji, dedak dan beras jagung (perbandingan 2 : 2: 1), untuk digunakan di lapangan sebagai inokulum maupun antagonis. 

Media tanam merupakan tanah gambut pedalaman pada tingkat kematangan hemik diambil dari lokasi yang belum pernah ditanami. Media tanam yang sudah dikering anginkan  dimasukkan dalam polibag dan ditambahkan pupuk Urea (6 g polibag-1), SP-36 (4,5 g polibag-1), dan  KCl (3,5 g polybag-1), substrat Trichoderma sp. dan pupuk kandang, selanjutnya diinkubasikan sesuai dengan perlakuan.  Patogen S. rolfsii  diberikan sebanyak 10g polibag-1 bersamaan dengan penanaman benih jagung manis, sedangkan Trichoderma diberikan sebanyak 1,2 kg polibag-1.Trichoderma diaplikasikan bersamaan dengan inkubasi pupuk kandang ayam, sedangkan S. rolfsii diinokulasikan bersamaan pada saat benih ditanam.

Rancangan dan Perlakuan.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama aplikasi  Trichoderma isolat Plk-1 (T1), aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 + pupuk kandang kotoran ayam (T2). Faktor kedua waktu inkubasi pupuk kandang ayam yaitu tanpa inkubasi (W0), waktu inkubasi 4 minggu (W1) dan waktu inkubasi 8 minggu (W2).  Setiap perlakuan diulang empat kali, keseluruhan terdapat 24 satuan percobaan.

Jumlah Sklerotium, Intensitas Penyakit, dan Efektivitas Antagonis.  Jumlah sklerotium  dihitung pada minggu keempat setelah tanam dengan metode wet sieving technique (Punja et al., 1985) dengan cara mengambil sampel media tanam sebanyak 10 gram, sampel tanah dicuci dengan air mengalir dalam ayakan 600 mm. Hasil ayakan dikeringanginkan dan sklerotia dihitung menggunakan hand tally counter.  Gejala penyakit busuk batang diamati pada pangkal batang dengan memberi nilai skor 0 =            tanaman sehat, 1= gejala nekrosis dengan luasan ½ lingkar batang, 2 = gejala nekrosis antara ½ – ¾ lingkar batang, 3        = gejala nekrosis telah melingkari batang, bercak cokelat telah meluas, dan kulit batang kadang-kadang sobek, 4 = batang yang terserang mulai terkulai dan sebagian daun layu, dan 5 = tanaman mati (Yusnita dan Sudarsono, 2004).  Intensitas penyakit (IP)  digunakan untuk menentukan keparahan serangan S. rolsii dengan rumus Djatmiko et al. 2000).

 IP = {∑(nixvi)/(NxZ)} x 100%

dimana i : 0-5, ni : jumlah tanaman yang bergejala dengan nilai skor tertentu, zi : nilai skor gejala, N : jumlah total tanaman yang diamati, dan Z : nilai skor gejala tertinggi.

Efektivitas antagonis ditentukan dengan rumus (Sukamto, 2003)

Ea = IPk-Ipp/IPk x 100%

Dimana :

 Ea = efektivitas antagonis, IPk = intensitas

penyakit pada kontrol (tanpa perlakuan), dan  IPp= intensitas penyakit dengan perlakuan. Nilai keefektifan antagonis ditentukan dengan kategori Sangat Baik (Ea > 69 %), Baik (Ea = 50-69 %), Kurang Baik (Ea = 30-49 %), dan Tidak Baik (Ea < 30 %).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Sklerotium.  Ketika menginfeksi tanaman S. rolfsii mengeluarkan asam oksalat dan sejumlah enzim yang dapat menyebabkan kebocoran elektrolit sel inang yang terserang.  Selain itu dalam proses infeksinya, sklerotia dapat dihasilkan dalam jumlah banyak baik di permukaan tanaman yang terserang atau di permukaan tanah sekitar tanaman.  Pada percobaan ini, sklerotia terbentuk pada perlakukan pemberian Trichoderma saja, walaupun jumlahnya cenderung menurun dengan lamanya waktu inkubasi.  Sedangkan pada perlakuan interaksi pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dan waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam patogen tidak membentuk sklerotium (Tabel 1). 

Tabel 1. Rerata Jumlah Sklerotium (4 mst)

Trichoderma (g/polybag)

Lama inkubasi (minggu)

 

W0

W1

W2

 
 

T1

19.00 c

10.75 b

13.00 b

 

T2

0.25 a

0.25 a

0.25 a

 

BNJ 5 %

8.5

 

Keterangan :     Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan menurut uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%

 

                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.        Interaksi pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dan waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam

Hal ini akibat peranan dari jamur Trichoderma isolat Plk-1 sebagai antagonis yang mampu menekan perkembangan  S.rolfsii dan menghambat pembentukan sklerotium sebagai struktur bertahan patogen pada media yang kaya akan bahan organik.  Menurut Yulianti (1996), penambahan bahan organik (pupuk kandang)  ke dalam tanah akan meningkatkan aktivitas mikroba antara lain actinomycetes, bakteri dan jamur.  Genera Trichoderma, Aspergillus, dan Penicillium adalah jamur yang sering ditemukan meningkat populasinya pada tanah yang kaya akan bahan organik, dan seringkali bersifat antagonis terhadap jamur-jamur patogen tanah seperti S. rolfsii. Perlakukan Trichoderma ditambah dengan pemberian pupuk kandang ayam sampai dengan inkubasi 8 minggu mampu menekan pembentukan sklerotium (Gambar 1).  Sesuai dengan hasil penelitian Yulianti (1996), bahwa pupuk kandang ayam setelah diinkubasikan satu bulan mampu menurunkan viabilitas sklerotia S. rolfsii, kemampuan penurunan viabilitas dan degradasi sklerotia semakin besar dan habis setelah tiga bulan inkubasi.

Pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dengan  penambahan pupuk kandang kotoran ayam tanpa inkubasi maupun yang diinkubasikan selama 4-8 minggu nyata menghambat pembentukan sklerotium.  Tersedianya bahan organik pada media tumbuh mampu menyediakan nutrisi yang cukup bagi mikroba antagonis sehingga koloninya berkembang cepat dan menghambat perkembangan koloni S. rolfsii. 

Pengamatan mikroskopis pada biakan oposisi Trichoderma isolat Plk-1 dan S. rolfsii memperlihatkan adanya malformasi miselium yang dilanjutkan dengan  degradasi dan lisisnya miselium patogen. Trichoderma isolat Plk-1 diduga mengeluarkan enzim selulase yang mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii dan miselianya mengalami lisis.  Kemampuan Trichoderma sp. memparasit jamur patogen merupakan komponen penting dalam mekanisme pengendalian hayati penyakit  tanaman.  Mulya dan Harmen (2003) melaporkan kemampuan T. harzianum mendegradasi dinding sel Phytophthora capsici karena menghasilkan enzim endoglukanase atau carboxymethyl cellulase (CMC-ase) yang termasuk dalam kompleks enzim selulase.

Intensitas Penyakit.  Gejala penyakit pada kontrol mulai terlihat pada umur 3 hari setelah inokulasi (hsi) dan semua tanaman pada kontrol menjadi layu dalam waktu yang singkat (umur 7 hsi).  Perlakuan aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 pada media tanam tanpa penambahan pupuk kandang ayam nampaknya belum mampu menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang (Tabel 2). Tingginya intensitas penyakit pada perlakuan tersebut diasumsikan bahwa Trichoderma isolat Plk-1 kurang mampu berkembang secara optimal pada media tanah gambut hemik yang memiliki tingkat dekomposisi pertengahan, sehingga koloninya kurang berkembang dengan baik bila dibandingkan dengan patogen S. rolsii. Pada perlakuan ini masih terdapat serangan penyakit busuk pangkal batang.

Tabel 2. Rerata Intensitas Serangan Penyakit Busuk Pangkal  Batang (Sclerotium rolfsii)

 

Umur Tanaman

 (mst)

Perlakuan

Waktu Inkubasi

W0

W1

W2

1

T1

24.00 b

41.50 b

28.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

19.66

2

T1

32.50 c

31.00 c

21.00 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

6.92

3

T1

36.50 b

25.50 b

44.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

20.07

4

T1

44.00 b

37.50 b

34.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

18.85

Keterangan :     Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan menurut uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%              

 

Kurang optimalnya  perkembangan Trichoderma dalam tanah  gambut akibat kurang tersedianya sumber nutrisi  berupa bahan organik yang bersumber dari pupuk kandang kotoran ayam.  Walaupun Trichoderma dapat mengkoloni pada media gambut ini namun laju perombakan bahan organik tidak dipengaruhi oleh populasinya. Menurut Lestari dan Indrayati (2000), semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang maka rasio C/N tanah gambut yang diinokulasi Trichoderma cenderung menurun.  Hal ini menunjukkan bahwa pelapukan bahan organik berlangsung dengan baik.  Bahan organik merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah. Peranan mikroorganisme tanah, antara lain Trichoderma, terhadap dekomposisi bahan organik sangat besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.   Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 pada media tanam tanpa penambahan pupuk kandang ayam.

  

Pemberian Trichoderma yang disertai dengan penambahan pupuk kandang ayam tanpa diinkubasi, inkubasi 4 dan 8 minggu nyata menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang mulai umur 1 mst (Tabel 2). Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang asumsinya pelapukan bahan organik pada tanah gambut oleh Trichoderma semakin baik, sehingga unsur-unsur hara seperti nitrogen, fosfor,  kalium, kalsium dan magnesium yang diperlukan oleh tanaman menjadi tersedia. Ketersediaan unsur-unsur tersebut diasumsikan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan  mampu mengimbas ketahanan tanaman yang pada akhirnya melindungi tanaman dari serangan patogen S. rolfsii. Lestari dan Indrayati (2000) melaporkan bahwa unsur hara N, P, dan K, serta pH tanah gambut meningkat akibat perombakan bahan organik dengan pemberian Trichoderma. Selain itu, menurut Yulianti (1996), pupuk kandang ayam setelah diinkubasikan satu hingga tiga bulan mampu menurunkan viabilitas sklerotia S. rolfsii dan terjadi degradasi sklerotia.  Hal inilah yang menyebabkan penurunan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang.

Efektivitas Antagonis. Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 dengan penambahan  pupuk kandang kotoran ayam  mempunyai efektivitas pengendalian sangat baik hingga mencapai 100%. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan Trichoderma dan pupuk kandang kotoran ayam walaupun tanpa diinkubasi efektivitasnya masih sangat baik bila dibandingkan dengan aplikasi Trichoderma tanpa penambahan pupuk kandang kotoran ayam (Tabel 3)

 

Tabel 3. Rerata Efektivitas Antagonis (%)

No.

Perlakuan

Efektevitas

Rerata

Kriteria

1

  2

    3

   4

 

1

T1W0

44.19

   38.10

  42.52

    5.38

 

28.90

TB

2

T1W1

3.49

  40.95

  59.84

    19.35

 

26.38

TB

3

1W2

33.7

  60

  29.92

    25.81

 

32.60

KB

4

T2W0

100

   100

  100

   100

 

100

SB

5

T2W1

100

   100

  100

   100

 

100

SB

6

T2W2

100

   100

  100

   100

 

100

SB

Keterangan :     TB = Tidak Baik; KB = Kurang Baik;

SB = Sangat Baik.

         

Efektivitas antagonis yang sangat baik sebagai akibat tersedianya bahan organik yang cukup dan terdekomposisi dengan baik, sehingga mekanisme antagonis yang dimiliki oleh Trichoderma dapat berjalan dengan baik.  Mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma sp. yaitu berupa kompetisi, mikoparasit dan antibiosis. Mikoparasit merupakan mekanisme yang paling berperan, karena Trichoderma sp. menghasilkan enzim litik, terutama kitinase dan ß 1-3 glukanase yang dapat mengakibatkan lisisnya dinding sel jamur patogen (Elfina et  al., 2001).

Hasil analisis tanah pada perlakuan Trichoderma dengan pupuk kandang ayam menunjukkan pengaruh yang lebih baik pada kondisi kimia tanah gambut yaitu terjadi peningkatan pH tanah (5,2),  penurunan rasio C/N (33,55), peningkatan N-total (1,92%), kadar P (346,33 ppm) dan K-dd (2,88 me/100g) (Kamillah et al., 2007).  Kondisi ini sangat mendukung perkembangan dari antagonis, karena unsur-unsur hara hasil dekomposisi bahan organik pada tanah gambut  merupakan sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan Trichoderma. Menurut Yulianti (1996), pupuk kandang ayam mempunyai kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang sapi ataupun babi, antara lain adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium.

 

KESIMPULAN

Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 yang disertai dengan penambahan pupuk kandang ayam tanpa diinkubasi, inkubasi 4 dan 8 minggu sangat nyata menghambat pembentukan sklerotia sekaligus menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang hingga umur 4 mst.  Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang asumsinya pelapukan bahan organik pada tanah gambut oleh Trichoderma semakin baik, sehingga unsur-unsur hara seperti nitrogen, fosfor,  kalium, kalsium dan magnesium yang diperlukan oleh tanaman menjadi tersedia.

Penambahan pupuk kandang kotoran ayam meningkatkan   efektivitas antagonis Trichoderma isolat Plk-1 menjadi sangat baik  hingga mencapai 100% sampai umur 4 mst.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Sdri. Kamillah SP., MP selaku ketua Tim Hibah Penelitian PHK A-2 tahun 2007. 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darnetty, Y. Liswarni, dan N. Litania.  2003.  Uji Kemampuan Tiga Spesies Trichoderma dalam Menekan Pertumbuhan F.o. f.sp. cubense Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang Secara In Vitro. Didalam : Prosiding Kongres XVII dan Seminar Ilmiah Nasional; Bandung,  6-8 Agustus 2003.  Bandung: Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. hlm 116 – 118

Djatmiko, H.A. , Kharisun, Prihatiningsih N. 2000. Potensi Trichoderma harzianum, Pseudomonas fluorescens dan Zeolit Terhadap Penekanan Layu Scelrotium, Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Kedelai. J. Penel. Pert. Agron. 4: 14-24.

Elfina, Y., Mardinus, T. Habazar, dan A. Bachtiar.  2001.  Studi Kemampuan Isolat-isolat Jamur Trichoderma spp. yang Beredar di Sumatera Barat untuk Pengendalian Jamur Patogen Sclerotium rolfsii pada Bibit Cabai.  Di dalam:  Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah;  Bogor, 22-24 Agustus 2001.  Bogor: Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. hlm 167 – 173

Kamillah, R.B. Mulyani, Basuki, S. Wibowo, dan L. Widyastuti.  2007.  Pengaruh Lama Waktu  Inkubasi Trichoderma isolat Plk-1 dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis pada Tanah Gambut Pedalaman.  Laporan Penelitian PHK A-2, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya.

Lestari, Y., dan L. Indrayati.  2000.  Pemanfaatan Trichoderma dalam Mempercepat Perombakan Bahan Organik pada Tanah Gambut. Dalam Prosiding Seminar Hasil Peneltian Tanaman Pangan Lahan Rawa.  Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. hlm 160-165

Mulya, K., dan M. Harmen. 2003.  Degradasi Dinding Sel Phytophthora capsici oleh Enzim Karboksimetil Selulase Asal Trichoderma harzianum.  J. Penelitian Tanaman Industri 9 (2). p. 74-79 

Mulyani, R.B., dan  A.A. Djaya. 2007. Kajian Ketahanan Terimbas Beberapa Kultivar Pisang Lokal Terhadap Penyakit Layu Fusarium dengan Trichoderma spp. Isolat Kal-Teng. Jurnal Agripeat  8 (1). Hlm 1-8

Punja, Z.K.  1988.  Sclerotium (Athelia) rolfsii, a pathogen of many plant species.  Dalam Sidhu GS (ed.) Advances in Plant Pathology San Diego: Academic Pr. Hlm 523-534

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Yulianti, T.  1996.  Hubungan Antara Populasi Mikroorganisme pada Pupuk Kandang dengan Pengendalian Penyakit Tanaman.  Didalam : Kumpulan Makalah Penunjang Seminar Regional III PFI Komda Jateng dan DIY.  Salatiga,  9 November 1996. 9 hlm (makalah 1-13)

­­

 

 

 

 

 

Yustina dan Sudarsono. 2004. Metode Inokulasi dan Reaksi Ketahanan 30 Genotipe Kacang Tanah terhadap Penyakit Busuk Batang Sclerotium.  Hayati 11 (2) : hlm 53-58

Sukamto, S. 2003. Pengendalian Secara Hayati Penyakit Busuk Buah Kakao dengan Jamur Antagonis Trichoderma harzianum. Prosiding Kongres Nasional XVII dan Seminar Ilmiah PFI, Bandung 6-9 Agustus 2003. Hlm 134 – 137

Widyanti.  2001.  Uji Daya Hasil dan Respon terhadap Penyakit dari Berbagai Kacang Tanah Unggul Nasional (Skripsi) Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

JURNAL MENGENAI PENGHAMBATAN KOLONI PATOGEN MENGGUNAKAN TRICHODERMA ADA NGGAK ????

Komentar oleh SARWADI

berdasarkan naskah yang masuk, sampai saat ini masih belum ada pak, tapi tertima kasih atas atensinya. salam

bravo…

Komentar oleh Agripeat

untuk isolat alternaria sp. apa saudara/i Rahmawati Budi Mulyani, Adrianson Agus Djaya, dan Benny Subara masih punya?

Komentar oleh sam1318cam

maaf langsung ke adriansondj@yahoo.com, smoga bermanfaat

terima kasih

Komentar oleh Jurnal Agripeat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: