JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN == Maria Erviana Kusuma dan Lisnawaty Silitonga
16 September 2013, 1:09 pm
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN TERNAK SAPI TERHADAP KUALITAS PUPUK KOMPOS

(The Effect long process of compost waste of livestock to the quality of compost)

Maria Erviana Kusuma1, Lisnawaty Silitonga2

1Dosen Fakultas Peternakan UNKRIP, 2Dosen Jurusan Budidaya Pertanian UNPAR

Korespondensi : lisnawatykeren@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The aim of  this research is to know how long the process of compost of waste of livestock have an effect on to quality of compost. This research represent the field attempt by using RAL with four treatment and three restating. Treatment specified consisted of the the duration pickling that is, 0 day ( control), 14 day, 28 day and 42 day, each treatment repeated thrice so that there are 12 attempt unit. Perception parameter perceived to cover the compost colour, tekstur compost, compost temperature, pH of compost and macro element hara which implied in compost.The Result showed that the duration   process of compost from the waste of livestock have an effect on to quality of compost. The making of compost 42 day show the highest result with the black colour, smooth tekstur and temperature 29ºC as its physics. While for the content of  K the making of compost  42 day show the best result compared the other treatment, but the content of  N the making of compost  42 day was  not different with 28 day and 14 day.  The content of P and pH the making of compost  42 day was not different  from 28 day but different with the treatment 14 day and control. But the making of compost  42 day show a good quality  compost.

 Key words : long process, compost waste of livestock, quality compost

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas kompos. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap  (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan.  Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan yaitu, 0 hari (kontrol), 14 hari, 28 hari dan 42 hari, masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 12 unit percobaan.  Variabel yang diamati meliputi warna kompos, tekstur kompos, suhu kompos, pH kompos dan unsur hara makro yang terkandung dalam kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengomposan berbahan limbah kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.  Lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Kandungan K pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan perlakuan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengomposan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 Kata Kunci : lama proses, kompos berbahan limbah kotoran ternak, kualitas kompos

PENDAHULUAN

Penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman merupakan salah satu program bebas bahan kimia, karena bahan-bahan penyusun kompos terdiri dari kandungan senyawa organik dan cukup berpotensi sebagai penyedia unsur hara. Kompos sangat berperan dalam proses pertumbuhan tanaman, karena kompos tidak hanya sekedar menambah unsur hara, tetapi kompos juga menjaga fungsi tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Alasan utama pemberian kompos pada tanah lebih bertujuan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah daripada menyediakan unsur hara, walaupun unsur hara pada kompos sudah ada dalam jumlah sedikit, dengan demikian pupuk kimia tidak dapat menggantikan fungsi kompos karena masing-masing memiliki peran yang berbeda, pupuk kimia berperan menyediakan nutrisi dalam jumlah besar bagi tanaman, sedangkan kompos cenderung berperan menjaga fungsi tanah agar unsur hara dalam tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk menyerap unsur hara yang disediakan oleh pupuk kimia (Yuwono, 2005).

Limbah ternak yang berasal dari Rumah Potong Hewan sering disebut dengan sampah organik, di kota besar Rumah Potong Hewan menghasilkan limbah yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain tidak dimanfaatkan secara maksimal bau yang ditimbulkan sangat busuk dan menyengat disamping dapat diprediksi sebagai agen pencemaran lingkungan bila tidak diolah terlebih dahulu (Sahidu dan Hermadi, 2004).

Di Rumah Potong Hewan (RPH) Kalampangan ada banyak bahan-bahan sisa dari hasil pemotongan hewan yang tidak termanfaat dengan baik, yaitu diantaranya isi rumen dan kotoran sapi yang kemudian diolah menjadi kompos oleh UPT Rumah Potong Hewan (RPH) di Desa Kalampangan.

Waktu merupakan faktor yang menentukan dalam pembuatan kompos, disamping faktor tempat pembuatan, jenis bahan  yang disimpan serta keadaan fisik dan kimia bahan yang akan disimpan. Waktu yang berkaitan dengan lamanya proses pembuatan kompos akan berpengaruh terhadap kualitas kompos yang dihasilkan. Berdasarkan permasalahan di atas maka dirasa perlu dilakukan penelitian pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan kotoran sapi dan isi rumen  terhadap kualitas pupuk kompos.

Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh  lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas pupuk kompos.

 

BAHAN DAN METODE

            Penelitian ini dilaksanakan di Kebun  percobaan Fakultas Peternakan Universitas Kristen Palangka Raya, Jalan RTA Milono Km. 8,5 , Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan analisis kandungan unsur hara dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik Universitas Palangka Raya. Penelitian berlangsung selama lima bulan mulai dari awal bulan  Maret 2012 sampai akhir bulan Oktober 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: kotoran sapi, isi rumen, kapur dolomit sebagai penetral pH, bioaktivator sebagai sumber jasad renik untuk proses penguraian, air untuk membantu proses penghancuran dan menciptakan kelembaban agar mikrobia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan (L) yaitu: tl1. Lama pengomposan 0 hari; tl2. Lama pengomposan 14 hari; tl3. Lama pengomposan 28 hari; tl4. Lama pengomposan 42 hari.

            Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 12 unit perlakuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji F pada taraf kepercayaan 95% dan 99%. Jika terdapat pengaruh yang nyata antar perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ).

            Pelaksanaan kegiatan penelitian dimulai dari pembuatan bak pengomposan, menyiapkan bahan, pembuatan dan pembalikan kompos serta melakukan pengamatan parameter dilaboratorium. Bak tempat pengomposan terbuat dari papan setebal 2 cm, bak dibuat membentuk segi empat dengan panjang dan lebar masing-masing 50 cm dan tinggi 20 cm sebanyak 12 unit. Bahan-bahan dasar disiapkan berupa kotoran sapi dan isi rumen yang merupakan hasil limbah rumah potong hewan, bio aktivator sebagai sumber jasad renik (mikrobia) yang dapat menghancurkan bahan dasar dan untuk perbandingannya 5 kg bio aktivator untuk 1 ton bahan dasar, tepung kapur (CaCO3) untuk menaikan pH agar perombakan bahan dasar berjalan dengan baik. Bahan-bahan dasar yaitu isi rumen dan kotoran sapi (masing-masing bahan setinggi 5 cm) dimasukkan ke dalam bak pengomposan kemudian dicampur dengan bio activator,  setelah itu diperciki dengan air untuk melembabkan serta ditaburi kapur (CaCO3) di atasnya kurang lebih 1 cm sampai terdapat suatu lapisan tipis berwarna putih. Proses penumpukan diulangi sampai 5 kali penumpukan. Bila ketinggian sudah dicapai, bagian permukaan dan seluruh sisi-sisi tumpukan ditutup dengan lembaran plastik yang transparan agar bahan tidak terlalu kering atau basah sehingga kelembaban tetap terjaga. Setelah 7 hari penutupan lakukan pembalikan, lapisan yang semula di atas diletakan di bawah dan sebaliknya, agar terjadi proses penghancuran yang merata. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap parameter meliputi: Warna, yaitu dengan melihat perubahan warna pada kompos yang telah  diperlakukan. Tekstur, dilakukan dengan memegang dan merasakan kompos yang telah diperlakukan. Suhu, dengan cara memasang thermometer pada bahan yang telah diperlakukan. Sedangkan pengukuran pH dan kandungan N, P, K dilakukan analisa laboratorium.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Lama pengomposan 0 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)  ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 1. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)

Tabel ervina 1

            Dari tabel di atas warna dan tekstur kompos memang tidak banyak mengalami perubahan dari warna dan tekstur asal bahan kompos tersebut, hal ini disebabkan karena waktu inkubasi kompos yang hanya berlangsung selama 0 hari  belum mengalami dekomposisi, sehingga mikroorganisme pengurai yang berasal dari bioaktivator belum bekerja secara maksimal.  Warna yang dihasilkan dalam pembuatan kompos diduga terkait erat dengan adanya aktivitas mikroba yang berhubungan dengan waktu inkubasi, dimana aktivitas mikroba akan mempercepat dekomposisi bahan organik.

Mikroba dalam hal ini berasal dari dekomposer dan dapat pula berasal dari isi rumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardi (1999), yang menyatakan bahwa dekomposer merupakan larutan yang mengandung beberapa kelompok organisme, dimana mikroorganisme ini akan mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik.   Kelompok organisme tersebut antara lain :

  1. Bakteri fotosintetik bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula dan substansi bioaktif lain.  Hasil metabolik yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.
  2. Bakteri asam laktat (Lactobasillus. sp), memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lainnya yang bekerja sama dengan bakteri fotosintesis dan ragi.
  3. Bakteri Streptomyces, sp.  Mengeluarkan enzim streptomycin yang bersifat racun terhadap hama penyakit yang merugikan.
  4. Ragi, memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi.
  5. Actynomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi oleh bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen.

 

Lama pengomposan 14 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan  selama 14 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 2. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 14 hari

Tabel ervina 2

                Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa warna  kompos sedikit mengalami perubahan yaitu yang tadinya berwarna coklat kini sudah menjadi coklat kehitaman, hal ini menunjukkan bahwa proses pengomposan sedang berlangsung.  Demikian pula dengan suhu yang mengalami penurunan dari  38 menjadi 34 hal ini menunjukkan bahwa temperatur maksimum telah dicapai  dimana kadar air bahan telah turun dan aktivitas mikroba mulai berkurang.

            Suhu kompos yang menurun diduga disebabkan pula karena telah dilakukan proses pembalikan atau pengadukan setiap minggunya selain itu disebabkan pula karena tumpukan bahan yang tidak terlalu tinggi.  Hal ini sejalan dengan pendapat Yuwono (2005) dimana dikatakan bahwa volume tumpukan ideal kompos berkisar 1 m X 1 m X 1 m atau maksimal  2 m X 2 m X 2 m. Semakin besar tumpukan bahan, semakin sulit pula mengatur atau mengontrol suhu dan kelembabannya.  Tumpukan yang terlalu tipis, meruncing dan sempit kemungkinan tidak dapat mempertahankan suhu dan kelembaban yang diiginkan sehingga terbentuknya komps memakan waktu yang lama.

 Lama pengomposan 28 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan yang  selama 28 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 3. Pengamatan terhadap warna, tekstur dan suhu proses pengomposan  selama 28 hari

Tabel ervina 3

            Pada tabel di atas terlihat bahwa suhu kompos semakin menurun dibandingkan pada proses pengomposan selama 14 hari.  Hal ini disebabkan karena timbunan kompos yang tidak terlalu tinggi dan proses pembalikan kompos yang rutin dilakukan tiap minggu sekali.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2000) yang mengatakan bahwa pembalikan timbunan kompos membantu pencampuran dan pelonggaran serta aerasi timbunan.  Kondisi yang baru menyebabkan kehidupan mikroorganisme berperanan dan menekan kemungkinan terjadinya kondisi anaerob pada timbunan kompos.  Pembalikan yang dilakukan secara teratur juga menyebabkan bahan yang ada di bagian luar yang kurang panas dipindahkan ke bagian yang lebih panas di bagian tengah.

 

Lama pengomposan 42 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 42 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 4. Pengamatan terhadap Warna, tekstur dan Suhu kompos yang terdekomposisi selama 42 hari

Tabel ervina 4

            Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa suhu kompos telah mendekati suhu kamar (29 ºC ) hal tersebut sesuai dengan pendapat Siburian (2007) yang menyatakan kompos yang baik adalah yang suhunya mendekati suhu kamar, warnanya hitam dan gembur.

 

Kandungan Nitrogen  (N)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan  N kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N

Tabel ervina 5

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 memberikan kandungan unsur hara N yang tertinggi namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan tl 2 dan tl 1 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan tl0 (kontrol).  Dari hasil tersebut terlihat bahwa semakin lama proses pengomposan akan semain meningkatkan kandungan unsur hara N, hal ini diduga karena pada waktu fase awal pengomposan masih berlangsung  proses penguraian bahan kompos yaitu kotoran hewan dan isi rumen. Kemudian ditambahkan oleh Sumardi (1999) bahwa selanjutnya jasad renik dalam bahan kompos memproduksi berbagai enzim untuk merusak ikatan-ikatan kimia dalam bahan organik sehingga rantai-rantai ikatan itu putus menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana.  Perusakan ikatan-ikatan kimia itu menggunakan enzim yang dikeluarkan jasad renik.  Jasad renik memanfaatkan karbon sebagai sumber energi dan menyerap Nitrogen sebagai bahan protein.  Setelah bahan yang mudah diurai habis, makanan bagi jasad renik berkurang sehingga sebagian dari jasad renik itu mati.  Jasad renik yang mati mengandung Nitroen yang sangat tinggi.  Oleh jasad renik yang lain bahan itu diurai lagi  sehingga melepaskan Nitrogen dalam bentuk yang mudah menguap dalam bentuk gas amoniak yang berbau dan dapat diserap tanaman.

            Dari sekian banyak unsur yang diperlukan oleh mikroorganisme yang mendekomposisi bahan organik, Karbon dan Nitrogen merupakan unsur yang penting.  Unsur Karbon dimanfaatkan sebagain sumber energi di dalam proses metabolisme dan perbanyakan sel oleh bakteri, sementara unsur Nitrogen digunakan untuk sintesa protein dan pembentukan protoplasma.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa bahan organik yang mempunyai kandungan C terlalu tinggi memyebabkan proses pengauaraian terlalu lama, semsntara jika kandungan C terlalu rendah maka sisa Nitrogen akan berlebihan sehingga menyebabkan terbentuknya amoni (NH3), kandungan amonia yang berebihan dapat meracuni bakteri dan menyebabkan Nitrogen yang diperlukan hilang.

            Selain itu ditambahkan pula oleh Stevenson (1982) dalam Hartatik dan Widowati (2010) bahwa hasil penelitian pembuatan kompos dari kotoran hewan menunjukan bahwa 10 – 25 % N dalam bahan asal kompos akan hilang sebagai gas NH3 selama proses pengomposan.  Selain itu dihasilkan pula 5 % CH4 dan sekitar 30 % N20 yang berpotensi untuk mencemari lingkungan sekitarnya.

 

Kandungan Phospor (P)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan P kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas bokashi.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara P

Tabel ervina 6

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl 2 dan tl 3 masing-masing tidak berbeda namun berbeda nyata dengan perlakuan tl1 dan tl0 (kontrol).  Perlakuan tl 2  (dekomposisi selama 28 hari) menunjukkan hasil yang tertinggi terhadap kandungan unsur hara P. Semakin lama pengomposan akan meningkatkan kadar P.  Hasil penelitian menunjukkan kadar P tertinggi dicapai pada 28 hari pengomposan.  Hal ini disebabkan komposisi bahan yang bervariasi antara isi rumen dan kotoran ternak, proses mineralisasi berjalan lambat dengan demikian ketersediaan unsur hara juga meningkat sesuai lama pengomposan.  Pada fase awal mikroba menyesuaikan diri dan melakukan metabolisme dan aktivitas meningkatkan ukuran sel.  Selanjutnya sel menggunakan Karbon dari limbah kotoran ternak sebagai makanan dan memperbanyak diri.  Penguraian semakin baik dengan meningkatnya kadar P.  Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kadar P dari waktu inkubasi yaitu mulai dari 14 hari, 28 hari sampai dengan  42 hari dibandingkan dengan kontrol.  Selanjutnya mikroorganisme mencapai kesetimbangan yaitu jumlah mikroba yang dihasilkan sama dengan jumlah mikroba yang mati.  Pada saat ini aktivitas mikroba akan mulai menurun.  Hal ini disebabkan karena kurangnya makanan atau nutrisi dalam hal ini substansi yang mengandung Karbon.

Kandungan Kalium (K)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan K kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara K

Tabel ervina 7Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

             Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 kandungan unsur hara Kaliumnya paling tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan kontrol, tl1 dan tl2. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama proses pengomposan akan semakin meningkatkan kadar Kalium pada kompos.  Sesuai dengan pendapat Hartatik dan Wodowati (2010) yang menyatakan bahwa proses pengomposan akan meningkatkan kadar hara diantaranya adalah Kalium.

Kandungan pH

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan pH kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan pH kompos.  Rata-rata pengaruh lama proses pembuatan kompos terhadap kandungan pH disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8.           Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan pH

Tabel ervina 8Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

Dari tabel di atas terlihat bahwa pH kompos  berkisar antara 7 – 8.  Hal ini menunjukkan bahwa pupuk kompos telah matang.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0 – 8,0.  Derajat keasaman yang terjadi pada kompos tersebut banyak dipengaruhi oleh penambahan kapur pada awal proses pengomposan, hal ini dimaksudkan agar proses pengomposan berlangsung dengan sempurna, karena menurut Setyorini et all (2006)  bakteri kompos lebih menyukai pH netral, ditambahkan pula oleh Yuwono (2005) bahwa perlakuan membolak balikkan kompos secara tepat dan benar dapat mempertahankan kondisi pH menjadi netral.

 

KESIMPULAN

             Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

  1. Lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan limbah isi rumen sapi dan kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.
  2. Lama penyimpanan kompos 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Sedangkan untuk kandungan Kalium lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengompopsan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengompopsan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 

SARAN

 Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lama pengomposan 42 hari dan dosis dekomposer yang lebih tinggi agar kualitas kompos menjadi lebih baik.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atas dana yang diberikan untuk biaya penelitian ini melalui hibah Dosen Pemula, Tahun Anggaran 2012.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sahidu, M. dan Hermadi, A. 2004. Ilmu Pertanian. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Siburian, R. 2007.  Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Inkubasi EM4 terhadap Kualitas Kimia Kompos.  Fakultas Sains dan Tekhnik.  Universitas Nusa Cendana.  Kupang

Setyorini, D., Rasti Saraswati dan Ea Kusman Anwar. 2006.  “Kompos’ Jurnal Pupuk Organik dan Pupuk Hayati.

Sumardi, 1999. Pengaruh Penambahan Bahan Percepat Pada Proses Pengomposan Sampah terhadap hasil Kompos.  Duta Farming. Vol. 17. No. 1, Semarang.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius.Yogyakarta.

Hartatik, W dan L.R Widowati.  2010.  Pupuk Kandang.  http://www.balittanah.litbang.deptan.go.id.  Diakses tanggal 2 November 2012.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY == Kamillah, Kambang V Asie, Melda Nopiani
16 September 2013, 10:22 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY (Brassica chinensis) SECARA VERTIKULTUR  

(Organic Planting Media Composition of Pakchoy Mustard (Brassica chinensis)

in Verticulture System)

Kamillah1, Kambang Vetrani Asie1, Melda Nopiani2

1 Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya;

2 Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.

Korespondensi : miela1306@gmail.com

ABSTRACT

The purpose of this experiment was to determine the right organic planting media compositions in verticulture system to cultivate pakchoy mustard. This experiment laid on Randomized Block Design (RBD) with a comparison of organic planting media composition as a single factor. The planting media composition contained mineral soil, manure, compost, husk charcoal, and coco-peat. Each treatment was repeated 5 times so in total there were 20 experimental units. The results showed that the compositions of soil, manure, husk charcoal, and compost with ratio 2:1:1:1 is the right planting media composition to produce a better plant height, leaves number, leaf length, leaf width, and weight of pakchoy mustard while planting media composition of soil, husk charcoal, cocopeat, and compost (2:1:1:1) resulted the lowest yield.

Key words:  pakchoy mustard, organic planting media, verticulture.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur. Penelitian diatur dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari campuran tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam dan cocopeat . Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan. Hasil menunjukkan bahwa komposisi tanah, pupuk kandang, arang  sekam, dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 merupakan komposisi yang baik dari semua perbandingan yang dicoba, dimana dapat menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan berat basah hasil tanaman sawi pakchoy yang lebih besar dibandingkan komposisi media lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos (2:1:1:1) memberikan hasil pakchoy yang paling rendah.

 Kata kunci: sawi pakchoy, media tanam organik, vertikultur

PENDAHULUAN

Sawi pakchoy ialah tanaman introduksi baru dan belum banyak dibudidayakan di Kota Palangka Raya. Sawi pakchoy memiliki nama ilmiah Brassica chinensis. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman sawi, tetapi lebih pendek dan kompak. Tangkai daunnya lebar dan kokoh. Tulang daun dan daunnya mirip dengan sawi hijau, tapi daunnya lebih tebal. Ada sawi pakchoy yang tangkai daunnya putih dan ada juga yang tangkainya hijau (Haryanto et al., 2003).

Budidaya sayuran ini cukup mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, sehingga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari. Namun kendala yang dihadapi pada skala rumah tangga adalah sempitnya halaman (areal tanam) yang dimiliki oleh setiap rumah, karena itu perlu model penanaman yang dapat dilakukan pada areal halaman yang sempit namun dapat memberikan hasil yang baik. Salah satu pola budidaya yang dapat menghemat lahan adalah dengan cara vertikultur, yaitu dengan menanam tanaman pada wadah yang disusun secara vertikal ke atas, sehingga dapat dilakukan pada lahan yang sempit.

Beberapa hasil penelitian yang berkenaan dengan budidaya sayuran secara vertikultur menunjukkan bahwa metode tersebut selain tepat untuk pekarangan atau lahan yang sempit juga dapat menghasilkan produksi sayuran yang cukup bagus (Kusrini, 2007; Saptana dan Purwantini, 2012)

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, menyebabkan mereka semakin peduli dalam memilih bahan konsumsi. Pada saat ini semakin banyak masyarakat yang menghindari penggunaan bahan kimia buatan seperti pupuk anorganik dan juga berbagai jenis pestisida pada tanaman, hal ini menyebabkan masyarakat beralih ke produk pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman yang tidak menggunakan bahan kimia sintetis sebagai pupuk, pestisida maupun hormon tumbuhan, tetapi menggunakan bahan kimia alami yang ramah lingkungan, tidak mencemar-kan dan tidak merusak lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Agustus–November 2010, di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih pakchoy, papan, kayu bulat, paku, kayu reng, kawat, pupuk kandang kambing, tanah mineral, aram sekam, cocopeat, dan kompos, sedangkan, alat yang digunakan adalah gergaji, palu, meteran, gembor, sprayer, selang air, gunting pangkas, sekop, kamera digital, alat tulis, penggaris, dan peralatan berkebun lainnya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam, dan cocopeat. Besar perbandingan dari masing-masing bahan campuran media tanam tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan komposisi media tanam

Tabel Kamilah 1

Keterangan :    TM = Tanah Mineral; PK = Pupuk Kandang; AS = Arang Sekam; CP = Coco-Peat; Kps = Kompos

Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan.

Menurut Gaspersz (1991). Model linier aditif rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Yij = µ +  λi+ βj+ εij

dimana:

Yij   = Nilai penagamatan dari komposisi media tanam ke-i dalam kelompok ke-j

µ     =  Nilai tengah populasi

λi    = Pengaruh aditif dari komposisi media tanam ke-i (i= 1, 2, 3, 4)

Bj     =  Pengaruh aditif dari kelompok ke-j

(j = 1, 2, 3, 4, 5)

εij     = Pengaruh galat percobaan dari komposisi media tanam ke-i pada kelompok ke-j

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman pakchoy umur 2 mst hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman pakchoy (cm) pada umur 2, 3, 4 dan 5 mst

Tabel Kamilah 2

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%

Tabel 2 menunjukkan perlakuan komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:1:0:1) merupakan media tanam yang menghasilkan tanaman lebih tinggi dibandingkan komposisi media lainnya walaupun secara statistik hal ini tidak jauh berbeda dengan tinggi tanaman pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, kompos dan cocopeat (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1), sedangkan media tanam ynag tidak mendapat pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan tinggi tanaman yang terendah. Hasil penelitian Mahanani (2003) juga menunjukkan bahwa media tanam yang mendapat tambahan pupuk kandang (dalam hal ini tanah + pupuk kandang sapi, dan arang sekam + pupuk kandang sapi dengan masing-masing komposisi 1:1) merupakan media tanam yang dapat meningkatkan pertumbuhan sawi pakchoy yang ditunjukkan dengan bertambah-nya ukuran tinggi tanaman, jumlah daun, diameter tajuk serta bobot basah dan bobot kering tanaman.

Komposisi media tanam yang tidak mendapatkan pupuk kandang yang hanya terdiri atas tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:0:1:1:1) menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang lebih rendah dimana pupuk kandang disini berfungsi sebagai salah satu penyumbang unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman pakchoy, meskipun terdapat kompos yang juga berperan sebagai penyumbang unsur hara akan tetapi jumlahnya belum dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman pakchoy. Hal ini disebabkan dalam budidaya secara organik, tidak digunakan tambahan pupuk kimia sintesis seperti Urea, SP36 dan KCl, sehingga kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman hanya didapatkan dari pupuk kandang dan kompos yang diberikan dalam media tanam.

Jumlah Daun

Jumlah daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata jumlah daun (helai/tanaman) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 3

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Tabel 3 menunjukkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1, menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang lebih banyak dan ini sekaligus menunjukkan komposisi media tanam tersebut lebih baik dibandingkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (2:1:1:0:1) dan tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (1:1:1:1:1), sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang paling sedikit.

Pada budidaya secara vertikultur, pemberian bahan organik (seperti pupuk kandnag dan kompos) dalam media tanam sangat penting sebagai sumber hara. Hasil  penelitian Ardianty (2008) juga menunjukkan bahwa pemberian berbagai macam bahan organik pada media tanam vertikultur dapat meningkatkan jumlah daun tanaman selada.

Semakin banyak daun yang dihasilkan oleh tanaman pakchoy maka hasil tanaman akan semakin baik. Hal ini disebabkan sawi pakchoy merupakan jenis sayuran yang dikonsumsi bagian daunnya. Meskipun pada awal pertumbuhan hingga tanaman berumur 3 mst belum terlihat pengaruh nyata, namun ketika tanaman sudah berumur 4 mst, mulai terlihat perbedaan peningkatan pertumbuhan jumlah daunnya. Hal ini dapat disebabkan pada awal fase pertumbuhan tersebut, proses pelepasan unsur hara oleh media tanam masih berjalan lambat karena media tanam organik memerlukan bantuan mikroorganisme dalam tanah untuk mengurai bahan organik menjadi unsur hara, sehingga pertumbuhan jumlah daun belum maksimal.

Gardner et al. (1991), menyatakan bahwa dengan banyaknya cahaya matahari yang diterima tanaman, maka tanaman tersebut akan memberikan respon dengan memperbanyak jumlah helaian daun. Dengan bertambahnya jumlah helaian daun maka semakin banyak pula karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman tersebut dalam proses fotosintesis sehingga akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Panjang Daun

Panjang daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 4.

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang  sekam, cocopeat dan kompos  dengan perbandingan 2:1:1:0:1 menunjukkan daun tanaman sawi pakchoy yang lebih panjang, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan panjang daun pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1),  sedangkan  campuran media berupa tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1), pertumbuhan panjang daunnya paling lambat dibandingkan  dengan komposisi media tanam lainnya.

Tabel 4.  Rata-rata panjang daun (cm) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 4

Keterangan:     Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Pertumbuhan daun tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan hara yang tersedia bagi proses pertumbuhan tanaman itu sendiri. Pada sistem vertikultur, ketersediaan hara terbatas hanya pada media tanam yang digunakan maupun tambahan pupuk yang diberikan, dalam hal ini adalah tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos, sedangkan tambahan pupuk buatan tidak diberikan karena dibudidayakan secara organik.

Daun sebagai tempat fotosintesis sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Daun merupakan komponen yang paling menentukan kualitas tanaman. Apabila daun mengalami pertumbuhan yang terhambat mengakibatkan bentuk daun menjadi tidak normal sehingga ukuran daun menjadi berbeda apalagi dalam menerima cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Karena itu ketersediaan unsur hara yang cukup bagi tanaman sangat penting, agar tanaman dapat melakukan aktivitas bagi pertumbuhannya.

Pada campuran media tanam 2:1:1:0:1, sumber hara tambahan diperoleh dari pupuk kandang dan kompos, sedangkan arang sekam dapat memperbaiki sifat fisik media tanam, yaitu dengan memperbaiki aerase dan drainase media tanam. Disamping itu, arang sekam juga dapat meningkatkan pH media tanam (Siahaloho, 1992).

Lebar Daun

Lebar daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata lebar daun (cm)  pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 5

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

   Pada Tabel 5 dapat dilihat, komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos (2:1:1:0:1) merupakan komposisi yang menghasilkan daun tanaman pakchoy yang lebih lebar dari komposisi media tanam yang lain, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan lebar daun pada komposisi media tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 juga pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos pada perbandingan 1:1:1:1:1, sedangkan komposisi media tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan lebar daun tanaman paling kecil  dari semua komposisi media tanam tersebut.

          Semakin lebar daun yang dihasilkan oleh tanaman maka semakin banyak sinar matahari yang dapat diserap tanaman untuk melakukan proses fotosintesis. Pada tanaman pakchoy ukuran lebar daunnya hampir sama seperti panjang daun sehingga daunnya berbentuk oval.

          Lebar daun yang dihasilkan tanaman lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan faktor genetik dari tanaman pakchoy itu sendiri sehingga pada kondisi lingkungan tumbuh yang memenuhi kebutuhan tanaman dalam hal ini unsur hara, maka pertumbuhan lebar daun akan maksimal, dan sebaliknya akan berkurang lebarnya pada keadaan lingkungan tumbuh yang unsur haranya tidak mencukupi.

          Pada komposisi media tanam yang mengandung pupuk kandang maupun pupuk kandang dan kompos, pertumbuhan lebar daun tanaman lebih lebar dibanding komposisi media lainnya, hal ini dikarenakan pupuk kandang dapat menyuplai unsur hara pada media tanam yang bisa memenuhi keperluan tumbuh tanaman pakchoy.

          Menurut Gardner et al (1991), pertumbuhan tanaman merupakan akibat adanya pengaruh dari berbagai faktor pendukung pertumbuhan yang berupa faktor kendali genetik dan lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor pertumbuhan yang tidak dapat berubah, sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor pertumbuhan yang dapat berubah.

 Bobot Segar Tanaman

Bobot segar hasil tanaman pakchoy pada saat panen, yaitu pada umur 5 mst disajikan pada Tabel 6.

Pada Tabel 6 dapat dilihat bobot segar hasil panen tanaman pakchoy pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 tidak jauh berbeda dengan hasil panen pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos yang perbandingannya 2:1:1:0:1 dimana bobot segar sawi pakchoy per tanaman yang ditanam pada kedua media tersebut menunjukkan hasil produksi yang lebih tinggi dibandingkan pada komposisi media tanam lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1) tidak jauh berbeda hasilnya dengan komposisi media tanam tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1).

 Tabel 6. Rata – rata bobot segar tanaman pada saat panen (g/tanaman)

Tabel Kamilah 6Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Disini dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang tidak diberi pupuk kandang dan komposisi tanah yang lebih sedikit hasil produksi sawi pakchoynya rendah. Hal ini dikarenakan pupuk kandang berperan dalam menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, dan pada media dengan komposisi tanah yang lebih banyak juga membantu kemantapan struktur media tanam, sehingga kuat untuk mencengkeram perakaran tanaman.

Peningkatan bobot segar tanaman sawi pakchoy berkaitan erat dengan peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun dari masing-masing tanaman pada masa pertumbuhannya. Meningkatnya tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun secara langsung juga mengakibatkan peningkatan bobot segar tanaman, sehingga tanaman yang pada awal masa pertumbuhannya memiliki tinggi tanaman , jumlah daun, panjang dan lebar daun yang lebih besar maka bobot segarnya otomatis juga lebih berat dari perlakuan lainnya.

KESIMPULAN

 Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, komposisi media tanam yang lebih baik digunakan dalam budidaya tanaman sawi pakchoy secara organik dengan metode vertikultur terdiri atas campuran tanah mineral, pupuk kandang, arang sekam dan kompos tanpa ditambahkan cocopeat dengan perbandingan 2:1:1:0:1, selain itu, dalam komposisi media tanam organik harus terdapat pupuk kandang untuk memenuhi kebutuhan unsur hara karena tanpa pupuk kandang, produksi tanaman lebih kecil, sedangkan untuk cocopeat dan arang sekam  bisa diberikan salah satunya saja yang dijadikan alternatif untuk memperbaiki struktur media tanam

 

SARAN

             Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mengukur berapa kali musim tanam  media tanam tersebut dapat digunakan dalam budidaya sayuran khususnya sawi pakchoy.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya yang telah mendanai penelitian ini melalui program Penelitian dan Pengembangan Karya Ilmiah Universitas Palangka Raya, DIPA Universitas Palangka Raya tahun 2010.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Ardianty, I. 2008. Pengaruh Macam Bahan Organik dan Proporsi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Gardner, F.P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press. Jakarta.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Amico. Bandung

Haryanto E., T. Suhartini., E. Rahayu dan H.H. Sunarjon. 2003. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta

Kusrini. 2007. Pengaruh Model dan Kerapatan Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur Organik. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Mahanani, C. L. R. 2003. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPK terhadap Produksi Tanaman Pak-Choi (Brassica chinensis) Varietas Green Pak-Choi. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Saptana, A. dan T. B. Purwantini. 2012. Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 30. No. 1: 13-30.

Siahaloho, M. 1992. Pengaruh Pemanfaatan dan Dosis Pupuk Kandang pada Pertumbuhan Produksi Jahe. Skripsi. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai == Muliansyah dan Wijantri Kusumdati
16 September 2013, 9:49 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai (Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD)

(Study on Blanching Time and Drying Temperature in Processing “Kalakai” Flour Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD))

 Muliansyah1 dan Wijantri Kusumadati1

1Jurusan Budidaya Pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : muliansyah_tpp@ymail.com

 

ABSTRACT

 The aim of this research was to examine blanching time and drying temperature in processing “kalakai” flour.  The research laid on two factors completely randomized design (CRD).  The first factor was balnching time that divided into three levels; B1 = 1 minute, B2 = 3 minutes, and B3 = 5 minutes.  The second factor was drying temperature that also divided into 3 levels; P1 = 50oC, P2 = 60oC, and P3 = 70oC.  Each experiment units were replicated 3 times. The result showed that interaction between blanching time and drying temperature effected pH value and vitamin C of “kalakai” flour very significant.  Blanching time for 5 monutes and drying temperature at 70oC resulted on pH 6,85 which almost same with material pH base (6,17), and the highest vitamin C amount i.e. 0,0066%.  Drying temperature was effected the content of protein, ash and total microbes of “kalakai” flour significantly.  The highest protein and ash content were delivered by drying temperature at 60oC, respectively 0,99% and 9,15%, while the lowest total microbes, 7,78 colonies/g was delivered by drying temperature at 50oC.  However, there was not any significant effect from the whole treatments on water content.

Key words : “kalakai”, blanching, drying, “kalakai” flour

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengkaji perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai sebagai bahan pangan. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan  diulang sebanyak 3 kali. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1= 1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1 = 50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Interaksi perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berbeda sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %. Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g. Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air.

Kata Kunci : kalakai, blansing, pengeringan, tepung kalakai.

PENDAHULUAN

 Kalakai (Stenochlaena palustris  (Burm.) Bedd) termasuk tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh secara liar di alam.  Di Kalimantan Tengah banyak ditemukan pada daerah-daerah dengan kondisi tanah gambut, masam, lembab atau terendam, bahkan di pinggir-pinggir jalan.  Tumbuhan ini masih banyak ditemukan di alam bebas, ketersediaannya cukup melimpah, sedangkan pembudidayaannya masih belum dilakukan. Sayuran ini juga mudah diperoleh di pasar tradisional Kota Palangka Raya dan daerah lainnya.  Selama ini pemanfaatan kalakai hanya sebagai sayuran. Masyarakat Kalimantan Tengah sebagian memanfaatkan sayuran ini yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka untuk melengkapi konsumsi pangannya. Dengan demikian perlu dicari alternatif lain cara pemanfaatan tumbuhan kalakai ini.  Salah satu cara pemanfaatan kalakai untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperpanjang masa simpan dan untuk menciptakan produk khas daerah berbasis  tumbuhan kalakai adalah dengan mengolah kalakai menjadi tepung kalakai.  Umumnya kandungan senyawa aktifnya seperti alkaloid dan steroid diduga berperan bilamana terkait dengan kulit.  Selain diduga adanya flavonoid terkait dengan keberadaan senyawa anti oksidan seperti vitamin  A dan vitamin C, pada bagian lain potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai komoditas unggulan atau bahan dasar komoditas industri khususnya industri pangan yang saat ini sudah mengacu pada trend back to nature.  Adanya pengolahan menjadi tepung kalakai akan mempermudah pemanfaatannya sebagai bahan pangan misalnya sebagai bahan pangan fungsional.

            Dalam proses pembuatan tepung dari hasil-hasil pertanian, perlu diperhatikan tahapan proses yang dapat mempertahankan kualitas bahan, mampu meningkatkan daya terima konsumen dan dapat memperpanjang masa simpan produk.  Proses yang penting dilakukan adalah perlakuan pendahuluan, yaitu blansing (blanching) dan perlakuan pengeringan.  oleh karena itu diperlukan kajian terhadap lama blansing yang diperlukan dan suhu pengeringan yang sesuai untuk mendapatkan kualitas dari tepung kalakai yang maksimal.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji perlakuan blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan khusus untuk menentukan : 1). waktu blansing pada kalakai, 2). suhu pengeringan kalakai dan 3). waktu blansing dan suhu pengeringan yang tepat dalam pembuatan tepung kalakai.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2011. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalakai segar, yang diperoleh dari kawasan  di daerah Kota Palangka Raya.  Kalakai dipanen pada stadia muda dan besar masing-masing diusahakan seragam.

            Bahan yang digunakan adalah bahan-bahan kimia yang digunakan  untuk keperluan analisis : aquades, formalin, NaOH, asam oksalat, HCl, iodium, amilum fenolphthalein, media PDA. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender,  wadah plastik, oven pengering, timbangan analitik, stopwatch, termometer, refraktometer, pH meter, buret, muffle furnace pisau stainless, keranjang plastik, cawan petri, cawan porselin, eksikator, coloni counter,  kompor,dan dandang.

            Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1 =  1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II adalah suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1            =  50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC.

            Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan bahan yang terdiri dari sortasi bahan dari bagian-bagian yang tidak diinginkan seperti daun rusak, daun tua dan pemotongan tangkai. Pencucian dengan air mengalir dan penirisan.  Blansing dengan uap air (suhu 100oC), dengan lama blansing sesuai perlakuan,  yaitu 1 menit, 3 menit dan 5 menit. Pendinginan dilakukan pada pada wadah berupa saringan sehingga berfungsi juga untuk penirisan. Proses pengeringan, yang terdiri dari penebaran potongan kalakai pada wadah (loyang).  Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven kabinet dengan suhu sesuai perlakuan, yaitu 50oC, 60oC dan 70oC, selama 48 jam. Bahan kering didinginkan dalam ruang pendingin (eksikator) selama 10 menit agar  tidak menyerap air dari lingkungan, lalu ditimbang. Selanjutnya proses penepungan, yang terdiri dari kalakai kering dihaluskan dengan blender, kemudian diayak menggunakan ayakan berukuran 60 mesh.  Produk yang dihasilkan adalah bubuk kalakai (lolos ayakan 60 mesh) dan ampas (tidak lolos ayakan 60 mesh). Tepung kemudian ditimbang.  Pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastik HDPE.  Pengamatan yang dilakukan meliputi : nilai pH, kadar air (%), vitamin C (%), kadar protein (%), kadar abu (%) dan total mikroba (koloni/g).

            Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf kepercayaan 95% dan 99%.  Apabila hasil analisis ragam berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan analisis data lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  α 5%..

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Nilai pH

            Selama proses pengolahan terjadi kenaikan pH pada tepung kalakai.  Berdasarkan analisis ragam, menunjukkan bahwa baik pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan maupun pada interaksi antara kedua perlakuan tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan nilai pH tepung kalakai.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan perubahan nilai pH produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.    Rata-rata perubahan nilai pH tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing.

Tabel 1 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

             Dari Tabel 1 tampak bahwa perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 70oC memiliki perubahan nilai pH yang rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya dan sangat mendekati pH awal yaitu 6,17.  Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan tersebut baik pada perlakuan lama blansing maupun suhu pengeringan terutama pada suhu pengeringan 70oC mampu menekan perubahan kenaikan nilai pH tepung kalakai.  Nilai pH produk yang tinggi akan menurunkan daya simpan.  Desrosier dan Desrosier (1978) menyatakan bahwa bakteri Clostridium botulinum dapat tumbuh dan menghasilkan racun pada produk dengan pH diatas 4.6. Suhu pengeringan 70oC memungkinkan pengeluaran air dari bahan lebih cepat sehingga menghindari kerusakan yang lebih banyak terhadap komponen kimia terutama protein.

            Kenaikan pH yang tinggi pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC diduga karena adanya degradasi protein.  Anglemeir dan montgomery (1976) menyatakan bahwa selama pengolahan, protein akan terdegradasi membentuk amonia dan bereaksi dengan air membentuk NH4OH yang bersifat basa, sehingga nilai pH produk naik. Namun demikian, karena adanya perlakuan blansing dan pengeringan terhadap produk diduga mampu menekan pertumbuhan mikroba, sehingga pada penyimpanan kondisi produk masih baik.

Kadar Air

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh akibat perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan.  Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan blansing dapat mempercepat pengeluaran air dari dalam bahan selama dilakukan proses pengeringan.

Nilai rata-rata hasil pengamatan kadar air produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2.    Rata-rata kadar air (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 2 Mul

Dari Tabel 2 diketahui bahwa kadar air tepung kalakai mencapai 2,00 sampai 2,36, yang menunjukkan bahwa air yang terdapat dalam tepung kalakai tersebut adalah air terikat yang sulit dimanfaatkan oleh mikroba untuk pertumbuhan dan tidak dapat digunakan untuk media reaksi kimia dalam proses metabolisme dalam bahan.  Syarief dan Irawati (1986) menyatakan bahwa bila kadar air bahan berkisar antara 3 – 7 persen maka berdasarkan derajat keterikatan air dalam bahan adalah termasuk tipe I, yaitu molekul air terikat secara kimia dengan molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hidrogen yang berenergi besar.

Perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap kadar air tepung kalakai ini diduga karena proses pengeringan yang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga laju pengeluaran air dari bahan sudah mencapai maksimal walaupun dilakukan pada suhu yang berbeda.

Vitamin C

            Vitamin C pada tepung kalakai berkisar antara 0,0022 (%) sampai 0,0066 (%), sedangkan vitamin C pada bahan dasar adalah 0,014%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar vitamin C tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, suhu pengeringan dan interaksi antara keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata.

Nilai rata-rata hasil pengamatan vitamin C tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata vitamin C (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 3 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

Dari Tabel 3 diketahui bahwa kandungan vitamin C tertinggi pada tepung kalakai terdapat pada perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan jumlah vitamin C mencapai 0,0066%.  Sedangkan jumlah vitamin C paling rendah terdapat pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC dengan jumlah vitamin C sebanyak 0,0022%.  Hal ini diduga bahwa adanya perlakuan blansing menyebabkan udara yang ada dalam jaringan bahan dapat dihilangkan, sehingga akan memperkecil terjadinya reaksi oksidasi terhadap vitamin C.  Hal ini memungkinkan perlakuan blansing cenderung dapat menghambat kerusakan vitamin C dalam tepung kalakai.  Kemudian dengan perlakuan suhu pengeringan yang cukup tinggi (70oC) diduga mampu mempercepat pengeluaran air dari jaringan bahan menjadi lebih cepat sehingga mengurangi aktivitas enzim yang berperan dalam oksidasi vitamin C.  Lee (1954) menyatakan bahwa tujuan blansing diantaranya adalah menghilangkan udara dari jaringan bahan dan dapat mempertahankan karotenoid dan vitamin C serta kerusakan karena oksidasi selama pengeringan dan penyimpanan.

Kadar Protein

            Berdasarkan analisis ragam bahwa kadar protein pada tepung kalakai dipengaruhi oleh perlakuan suhu pengeringan.  Perlakuan lama blansing dan interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap kadar protein tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4.  Rata-rata kadar protein (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu Pengeringan

Tabel 4 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Berdasarkan Tabel 4, bahwa kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 60oC dan tidak berbeda nyata dengan suhu pengeringan 70oC dan keduanya berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 50oC. Hal ini menunjukkan bahwa suhu pengeringan antara 60oC sampai 70oC adalah suhu pengeringan yang cukup baik untuk mengeringkan kalakai untuk diolah menjadi tepung. Proses pengeringan dengan suhu tertentu mampu untuk menekan penurunan kadar protein karena dengan adanya pengeringan diduga dapata menghambat perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim.  Taib dkk. (1987) menyatakan bahwa tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti.  Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan yang lama. Hal ini terlihat dari hasil perlakuan suhu pengeringan dengan suhu 60oC menghasilkan penurunan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu dari kadar protein bahan awal 2,33% menjadi 0,99%.

 Kadar Abu

            Kadar abu tepung kalakai berkisar antara 8,34% sampai 9,15%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar abu tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan kadar abu produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata kadar abu (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu   Pengeringan

Tabel 5 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa suhu pengering 60oC memberikan perbedaan  kadar abu pada tepung kalakai walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC  Perlakuan ini mempunyai kadar abu yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan 50oC memiliki kadar abu yang paling rendah.  Hal ini diduga disebakan karena  proses pengeluaran air dari bahan cukup lambat sehingga komponen bahan lainnya juga relatif sedikit yang mengalami perubahan dan menguap.  Sedangkan pada perlakuan suhu pengeringan 60oC mempunyai kadar abu yang paling banyak dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC.  Hal ini diduga karena semakin tinggi suhu pengeringan yang dilakukan terhadap bahan maka jumlah air yang keluar atau teruapkan dari dalam bahan yang dikeringkan akan semakin besar.  Sudarmadji, dkk. (1989) mengemukakan bahwa kadar abu tergantung pada jenis bahan, cara pengabuan, waktu dan suhu yang digunakan saat pengeringan.  Jika bahan yang diolah melalui proses pengeringan maka lama waktu dan semakin  tinggi suhu pengeringan akan meningkatkan kadar abu, karena air yang keluar dari dalam bahan semakin besar.

Total Mikroba

Total mikroba tepung kalakai berkisar antara 7,78 (koloni/g) sampai 154,55 (koloni/g).  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap total mikroba tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan total mikroba produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.    Rata-rata Total mikroba  (koloni/10 ml) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu  Pengeringan

Tabel 6 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa suhu pengering 50oC memberikan perbedaan  total mikroba pada tepung kalakai.  Perlakuan ini berbeda nyata terhadap perlakuan suhu pengeringan 60oC dan 70oC. Perlakuan ini mempunyai total mikroba  yang paling sedikit dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu 7,78 (koloni/g).  Hal ini diduga bahwa pada suhu pengeringan 50oC tersebut komposisi bahan masih cukup baik, sehingga mampu menekan pertumbuhan mikroba.  Pengeringan terhadap bahan akan menurunkan kadar air dan juga menurunkan aktivitas air sehingga mikroba mengalami penghambatan dalam memperoleh air untuk kebutuhan pertumbuhannya. Wirakartakusuma, dkk.. (1992) menyatakan bahwa mikroorganisme membutuhkan air untuk pertumbuhan dan perkembang-biakannya. Jika kadar air pangan dikurangi, pertumbuhan mikroorganisme akan diperlambat. Dehidrasi akan menurunkan tingkat aktivitas air (water activity (aw) yaitu jumlah air yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya, berat dan volume pangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berpengaruh sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %.

Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g.

Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air

 

SARAN

             Dalam penelitian selanjutnya perlu perlakuan lain terhadap kalakai  seperti perendaman dalam larutan kapur, untuk mengurangi lendir dan memperbaiki warna tepung.  Selain itu diperlukan pengujian fitokimia terhadap tepung kalakai untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dalam mendukung tepung kalakai sebagai bahan pangan fungsional.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anglemeir, A.F. dan M.W. Montgomery.  1976.  Amino Acids, Peptides and Protein.  Dalam Fennema, O.R (ed.).  Principles of Food Science.  Marcel Dekker Inc., New York and Bassel.

Desrosier, N.W. dan J.N. Desrosier.  1978.  The Technology of Food Preservation.  AVI Publishing Company Inc., Westport Connecticut.

Lee, M.S.  1954.  Advance in Food  Research.   54(5): 66. Academic Press, Connecticut.

Sudarmadji, S. B. Haryono dan Suhardi.  1989.  Prosedur Analisis Untuk Bahan  Makanan dan Pertanian.  Liberty.  Yogyakarta.

Syarief, R.  dan A. Irawati.  1986.  Pengetahuan Bahan Untuk Industri.  PT. Mediyatama

Sarana Perkasa.  Jakarta.

Taib, G, S. Gumbira dan W. Sutedja.  1987.  Operasi Pengeringan Pada Pengolahan  Hasil Pertanian.  PT. Mediyatama Sarana Perkasa.  Jakarta.

Wirakartakusumah, dkk. 1992. Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan.   PAU Pangan dan Gizi, IPB Bogor

 



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap == Yovita, Chatimatun Nisa, Rahmi Zulhidiani
16 September 2013, 9:21 am
Filed under: Penelitian

Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap Hasil Tanaman Jagung Manis Di Tanah Gambut Pedalaman

(Effects of Three Compost Types and NPK Doses on Yield of Sweet Corn in Ombrogen Peat Soil)

Yovita1, Chatimatun Nisa2, Rahmi Zulhidiani2

1UPBJJ-Universitas Terbuka Palangka Raya

2 Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Korespondensi : yovita@ut.ac.id

ABSTRACT

The objective of the research was to compare the growth of corn among all treatments (single-single, single-combination and combination-combination). The research was conducted on peat land in KalampanganVillage, SabangauSub-district, Palangkaraya Central Kalimantan Province. It was a planned comparative study (orthogonal contrast) with Random Group Design arranged singly with 12 (twelve) treatments namely Control, kascing dose of 20 tons ha-1, chicken manure dose of 20 ton ha-1, kayambang dose of 20 tons ha-1, NPK dose of 200kg ha-1, NPK dose of 400kg ha-1, kascing in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, kascing in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, and kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1 to 3 (three) repetitions. The result indicated that the growth and yield of sweet corn provided with treatment were better than those provided with control, the comparison of 3 types of compost and NPK showed significant effect on components of yield, and the treatment chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1 was the treatment showing the best effect on plant growth and yield of sweet corn.

Key Word : Compost, Doses, Yield,  Sweet Corn, Ombrogen Peat

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pertumbuhan tanaman jagung antara semua perlakuan (tunggal dengan tunggal, tunggal dengan kombinasi dan kombinasi dengan kombinasi). Penelitian dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian pembanding berencana (kontras orthogonal) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 12 (duabelas) perlakuan yaitu Kontrol, kascing takaran 20 ton ha-1, pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1, dosis NPK 200kg ha-1, dosis NPK 400kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, dan kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1 dengan 3 (tiga) ulangan. Hasil percobaan menunjukan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yang diberikan perlakuan lebih baik daripada kontrol, perbandingan 3 jenis kompos dan NPK menunjukan pengaruh nyata pada komponen hasil, dan perlakuan Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1 merupakan perlakuan yang menunjukan pengaruh yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

Kata Kunci : Kompos, Dosis, Hasil, Jagung Manis, Gambut Pedalaman

I.  PENDAHULUAN

Di Indonesia sweet corn (Zea mays L. saccharata Sturt), dikenal dengan nama jagung manis. Tanaman ini merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, jagung memegang peranan penting sebagai bahan pangan di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan, jagung pun dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak dan bahan baku industri dengan tingkat kebutuhan yang besar. Jagung dan komoditas pertanian lainnya di Indonesia terdesak ke lahan yang kurang subur. Hal ini disebabkan lahan pertanian yang sesuai untuk usahatani beralih fungsi menjadi tempat pemukiman, pabrik dan sebagainya. Salah satu jenis tanah yang kurang subur dan menjadi sasaran pengembangan usaha pertanian saat ini adalah lahan gambut. Dimana luasan gambut di Indonesia mencapai 20,96 juta ha, sedangkan Provinsi Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut seluas 2,93 juta ha (Noor, 2010).

Tanah gambut mempunyai berbagai kendala dalam menunjang usaha budidaya tanaman pertanian. Tanah gambut pedalaman pada umumnya mempunyai lapisan gambut yang tebal dan berasal dari kayu-kayuan, miskin akan unsur hara, bereaksi masam hingga sangat masam, kapasitas tukat kation (KTK) sangat tinggi dan kejenuhan basa yang rendah. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju dan kemudahan penyediaan hara yang memadai bagi tanaman terutama basa K dan Ca. dalam suasana kaya akan bahan organik, seperti gambut, ketersediaan Cu, Zn, Fe, dan Mo sangat rendah, karena sebagian besar hara mikro tersebut dijerat kuat oleh analir pengikat sehingga tidak mudah tersedia bagi tanaman (Salampak, 1993).

Penempatan pupuk organik dalam hal ini kompos ke dalam tanah secara garis besar manfaat yang diperoleh yaitu : memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Walaupun begitu penggunakan pupuk organik memiliki sisi kekurangan juga yaitu : kandungan hara rendah, ketersediaan unsur hara lambat dan menyediakan hara dalam jumlah terbatas. Tetapi pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang diperlukan pada masa pertumbuhan tanaman. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik mencegah terjadinya erosi, pergerakan permukaan tanah (crusting) dan retakan tanah, mempertahankan kelengasan tanah serta memperbaiki internal drainage (Sutanto, 2008b).

Permasalahan yang akan dipecahkan adalah “ Apakah dengan pemberian 3 jenis kompos dan pupuk majemuk NPK akan menunjukan perbedaan dalam meningkatkan hasil tanaman serta dapat memperbaiki kesuburan tanah?”.

 BAHAN DAN   METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksanaan penelitian akan dilakukan selama 4 bulan  dari bulan Februari sampai Mei 2012. Percobaan ini dilaksankan di lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 3 (tiga) ulangan. Perlakuan tersebut dengan pemberian kascing, pupuk kandang kotoran ayam, kayambang dan NPK. Variabel   komponen yang diamati adalah : umur berbunga, dimater tongkol, panjang tongkol, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot. Analisis hasil penelitian dalam bentuk pembanding atau kontras yang didefinisikan sebagai anak gugus (sub-set) fungsi linier. Perbandingan kontras orthogonal adalah penguraian jumlah kuadrat perlakuan ke dalam pembanding-pembanding linier (Langai, 2002).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji ragam tersebut menunjukan bahwa semua peubah-peubah pengamatan yang diamati memiliki ragam yang homogen. Dengan demikian semua peubah data pengamatan tersebut layak dilakukan analisis ragam.

Hasil analisis ragam terhadap komponen hasil yaitu terdiri dari umur berbunga, dan panen (diameter, panjang dan berat tongkol berkelobot dan tanpa kelobot).

Tabel 1.    Nilai rata-rata umur  berbunga (HST)

Tabel 1 Vita

Keterangan:   angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 1 menunjukan bahwa pengamatan umur berbunga menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai umur berbunga tanaman yang tercepat pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 39,07 HST dan umur berbunga yang paling lambat pada perlakuan “a” (kontrol) yaitu 42,70 HST.

Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)  dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

gambar vita 1

Gambar 1.   Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)

Pengamatan yang diambil pada saat tongkol jagung sudah panen dimana peubah yang diamati diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm) dan berat tongkol (g) yang berkelobot yang disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 2.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung berkelobot pada pengamatan diameter (cm) (X10), panjang (cm) (X11), dan berat (g) (X12)

Tabel 2 Vita

Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 2 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung berkelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol berkelobot pada perlakuan “j” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1) yaitu 5,46 cm.

Pengamatan tongkol jagung berkelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh  nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol berkelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 28,86 cm.

Tabel 3 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, pada perbandingan pemberian NPK 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata,  dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan  400  kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 4,90 cm.

Tabel 3.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung tanpa kelobot pada pengamatan diameter (cm) (X13), panjang (cm) (X14), dan berat (g) (X15)

Tabel 3 Vita

Keterangan :    angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 20,68 cm.

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada berat tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan berat tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 275.84 g.

Hasil tanaman secara umum dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif tanaman itu sendiri. Apabila pertumbuhan vegetatif berjalan dengan normal, pada gilirannya akan menghasilkan hasil yang baik pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjadi (1979), bahwa fase generatif sangat ditentukan oleh fase vegetatif.

Pengamatan umur berbunga pada perbandingan C1, C2, C3, C4, C7 dan C8 menunjukan pengaruh yang nyata dan sangat nyata. C1 merupakan perbandingan antara kontrol dan perlakuan disini kita dapat melihat perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dan tidak diberi pupuk, ditanah gambut yang miskin. Hal ini sesuai dengan pendapat Widjaja-Adhi (1994), kendala utama yang menjadi perhatian pada tanah gambut pedalaman yaitu pedalaman dengan tingkat pelapukannya tergolong muda (fibrik dan hemik), ketebalan yang tinggi, kadar nitrogen yang tinggi namun tidak tersedia bagi tanaman, kadar fosfor yang tergolong rendah, kalium sedang, pH sangat masam (4,5 atau kurang), kapasitas tukaar kation tinggi, kejenuhan basa (KB) rendah adalah faktor yang menyebabkan hara sulit untuk diserap juga ketersediaan akan unsur hara mikro seperti Cu, Zn, Fe dan Mn sangat rendah.

Terjadinya pengaruh pemberian pupuk  sesuai perlakuan terlihat dapat cepatnya umur berbunga hail ini berkaitan pada saat pertumbuhan tanaman, tanah sebagai media tumbuh harus mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah cukup. Pemupukan perlu dilakuan sebagai penambahan zat hara bagi tanaman kedalam tanah yang juga pada akhirnya akan memperbaiki sifat-sifat tanah (Hardjowigeno, 2007). Apabila unsur hara yang ada dalam tanah memadai bagi pertumbuhan tanaman, maka tanaman akan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut.

Sifat kimia dan unsur hara pada 3 jenis kompos dapat dilihat pada Lampiran 15. Dapat dilihat bahwa P tersedianya terlihat sangat tinggi, dimana unsur P diabsorpsi tanaman dalam bentuk ion H2PO4- dan HPO4-2 (Jumin, 1989). Fosfor esensial bagi pembentukan biji (Soepardi, 1985), serta dalam mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah (Lingga, 2004). Lebih lanjut Rosmarkam dan Yuwono (2002) mengungkapkan bahwa P diperlukan untuk pembentukan bunga dan organ reproduktif dan P juga berkaitan erat dengan pembentukan pati terutama biji-bijian seperti halnya jagung.

Pada pengamatan komponen hasil tongkol jagung berkelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Pada komponen hasil bekelobot perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi.

Demikian pula pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Dan pada perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Pada perbandingan masing-masing kompos menunjukan bahwa kasing dan kotoran ayam lebih baik dari pada kayambang, dan diantara kascing dan kotoran ayam bahwa kotoran ayam lebih baik. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan kotoran ayam baik yang tunggal maupun yang kombinasi mampu memberikan perbaikan kondisi media tumbuh sehingga secara langsung maupun tidak langsung menyediakan lingkungan tumbuh yang memberikan ketersediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman jagung

Kompos kotoran ayam mengandung nitrogen dan kalium yang relatif tinggi dibanding dengan kompos lainnya. Nitrogen merupakan  penyusun senyawa untuk metabolisme, sedangkan kalium berperan sebagai zat pengaktif dalam proses fotosintesis, respirasi, dan translokasi karbohidrat. Magnesium dan nitrogen merupakan unsure pembentuk klorofil sehingga terlibat dalam proses fotosintesis (Gardner et al, 1991 ; Salisbury dan Ross, 1995).

Pupuk kandang kotoran ayam mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro. Oleh karena sifat dari kotoran ayam dalam melepas hara berlangsung secara bertahap dan berlangsung lama, tampaknya pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah gambut. Dimana berdasarkan penelitian Limin (1992), bahwa pemberian kotoran ayam pada tanah gambut ternyata mampu meningkatkan pH, K-dd, dan P-tersedia yang juga diikuti dengan kenaikan KTK gambut.

Peningkatan aktivitas fotosintesis berarti dapat meningkatkan fotosintat yang dibentuk, kemudian ditransfer kebiji sebagai cadangan makanan. Sehingga makin besar cadangan makanan yang terbentuk dalam biji, semakin besar ukuran biji. Hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap ukuran tongkol baik itu diameter maupun panjang, serta berat tongkol. Peningkatan panjang dan diameter tongkol berarti terjadi pula peningkatan pula jumlah biji yang terdapat pada tongkol. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan berat tongkol yang seimbang dengan peningkatan ukuran tongkol dan jumlah biji. Semakin besar ukuran tongkol dan banyaknya biji secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan berat tongkol.

Hasil fotosintesis pada tanaman mula-mula digunakan untuk pertumbuhan kemudian untuk pembentukan organ generative dan pembentukan biji. Protein yang dibentuk pada akhirnya disimpan dalam biji sebagai lanjutan proses fotosintesis yang semula dipakai untuk menyusun pertumbuhan vegetatif. Setelah pertumbuhan vegetative berhenti, maka dipindahkan menjadi penimbunan protein didalam biji sebagai cadangan makanan (Lingga, 2004).

Pemberian perlakuan pada penelitian ini akan memperbesar ketersediaan unsur hara pada tanah, dimana tanaman akan mengabsorbsi unusr hara tersebut untuk pertumbuhan dan perkembangan, sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi keperluan proses metabolisme tanaman. Dan dengan melihat nilai rerata pada pengamatan hasil tanaman bahwa perlakuan “i” (kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1) menunjukan nilai tertinggi.

  

 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pemberian perlakuan 3 jenis kompos dan pupuk NPK menunjukan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik  dibandingkan dengan kontrol.
  2. Pemberian perlakuan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan bahwa perlakuan kotoran ayam memberi hasil yang terbaik kemudian berturut-turut kascing dan kayambang.
  3. Pemberian perlakuan pupuk NPK dengan dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1  tidak menunjukan perbedaan diameter tongkol jagung tanpa kelobot
  4. Pemberian kombinasi pupuk NPK dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan perbedaan pada beberapa komponen pertumbuhan dan hasil tanaman, sedangkan perbandingan antara 1 (satu) jenis kompos dengan 2 (dua) dosis NPK (200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1) keseluruhan menunjukan tidak perbedaan pada komponen-komponen pengamatan.
  5. Hasil yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada perlakuan tunggal dengan pemberian kotoran ayam, sedangkan kombinasinya yang terbaik yaitu kotoran ayam 20 ton ha-1 yang ditambahkan NPK dosis 200 kg ha-1.

SARAN

Perlunya penelitian lanjutan dengan menggunakan tanaman indikator lainnya di lahan gambut dengan menggunakan pupuk organik guna semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih menggunakan pupuk organik daripada pupuk anorganik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gardner, F.P., Paerce, R.B, dan Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2007b. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta

Jumin, H. B. 1989. Ekologi Tanaman, Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press. Jakarta

Langai, B. F. 2002. Perancangan Percobaan. Buku Ajar. Fakultas Pertanian Unlam. Banjarbaru

Limin, S. H. 1992. Respons Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Terhadap Pemberian Kotoran Ayam, Fosfat Dan Dolomit Pada Tanah Gambut Pedalaman. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lingga, P. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta

Noor, M..2010. Lahan Gambut, Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim. UGM Press. Yogyakarta

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Salampak. 1993. Studi asam fenol tanah gambut pedalaman di Berengbengkel pada keadaan anaerob. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soepardi . G. 1985. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor

Sutanto, R. 2008. Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta

 



Volume 13 Nomor 2 September 2012 == PEMANFAATAN AIR LIMBAH SAWIT PADA SISTEM TANAM BERSISIPAN == Yulius Harun, Aswin Dj. Usop, Budya Satata, Dewi Saraswati, M Saleh
7 September 2013, 1:11 pm
Filed under: Penelitian

PEMANFAATAN AIR LIMBAH SAWIT PADA SISTEM TANAM BERSISIPAN (RELAY CROPPING) JAGUNG BISI-16 DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PADA TANAH GAMBUT PEDALAMAN

(Exploiting Wastewater of Palm Oil at System Relay Cropping of  Corn BISI-16 Planted  in Plantation Oil Palm at Peatland)

Yulius Harun, Aswin Dj. Usop, Budya Satata, Dewi Saraswati, M. Saleh

Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UNPAR

Korespondensi : yulh_ka@yahoo.co.id

ABSTRACT

This research aims to know effect of oil palm factory waste water (LPKS) to growth and result of  corn  BISI-16, and growth vegetatip of oil palm at system relay cropping between of corn and oil palm. This research executed in two phase.  This research in laboratory UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR and in plantation of oil palm CV. Tani Jaya, Hampalit Village, District Katingan Hilir, Regency Katingan from June to November 2008.  This research uses Random Block Design (RBD) with 4 water dose treatments LPKS and added by one without gift dose treatment (controlling), that is 0, 1, 2, 3,  and  4 ton/ha water LPKS, and repeated as watchfulness as five times.  Research result shows that soil fertility level at research location belongs to low, but  water LPKS PT. BDK for the farm application  of  value of  BODand COD of matching with suggested for the land application, except pH still be ineligeble (still the acid).  Gift of dose treatments LPKS age 8 MST have an effect on positip at high of crop, crop age, cob length without kelobot, cob diameter, and result pipilan run dry maize BISI-16.    On oil palm plants of gift water dose treatment LPKS have an effect on positip  to high of crop start age 4 to 10 MST, but do not have  an effect on to amount of frond of leaf and bar diameter.  Dose treatment 4 ton/ha water LPKS to best treatment for growth of maize of BISI-16   and oil palm.  Progressively mount dose LPKS progressively mount also the growth and result of maize of BISI-16 and vegetatip of oil palm meaning is correlation positip. Need a continuation research with treatment of higher dose LPKS, in order to gift LPKS able to improve growth and result of crop of maize and oil palm.

Key Word:  wasterwater oil palm,  BISI-16 corn, system relay cropping, peatland

ABSTRAK

Penelitian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air limbah pabrik kelapa sawit (LPKS) terhadap pertumbuhan dan hasil jagung Bisi-16, dan pertumbuhan vegetatif kelapa sawit pada system pertanaman bersisipan (relay cropping) antara jagung dan kelapa sawit.  Penelitian dilaksanakan di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR dan di perkebunan kelapa sawit CV. Tani Jaya, Desa Hampalit, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan sejak bulan Juni-November 2008.   Penelitian menggunakan  Rancangan Acak Blok (RAB) dengan 5 perlakuan dosis air LPKS, yaitu 0, 1, 2, 3,  dan 4 ton air LPKS/ha, dan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah tergolong rendah,  tetapi air LPKS PT. BDK (Bisma Darma Kencana) khususnya nilai BOD (Biology Oxigen Demand) dan COD (Chemistry Oxigen Demand) layak digunakan untuk aplikasi lahan, kecuali pH.  Semua dosis perlakuan air  LPKS umur 8 MST berpengaruh positif pada tinggi tanaman, umur panen, panjang tongkol tanpa kelobot, diameter tongkol, dan hasil pipilan kering jagung BISI-16. Pada tanaman kelapa sawit semua dosis perlakuan air LPKS berpengaruh positip terhadap tinggi tanaman umur 4 s.d 10 MST, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah pelepah daun dan diameter batang. Perlakuan dosis 4 ton/ha air LPKS (A4) merupakan perlakuan terbaik  terhadap pertumbuhan dan perkembangan jagung BISI-16 dan pertumbuhan vegetatip kelapa sawit.  Semakin meningkat dosis perlakuan air LPKS semakin meningkat pula pertumbuhan dan hasil jagung BISI-16, dan vegetatip kelapa sawit artinya ada korelasi positip. Disarankan sebelum air LPKS digunakan untuk aplikasi lahan, perlu diolah kembali sampai pH-nya sesuai yang disarankan, dan untuk penelitian lanjutan dengan perlakuan dosis air LPKS yang lebih tinggi.

Kata Kunci: air limbah sawit, jagung BISI-16, sistem tanam bersisipan, gambut pedalama

PENDAHULUAN

Saat ini Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas areal 6,78 juta ha, dan produksi 17,37 juta ton.  Pada tahun 2007 total ekspor CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya 11 juta ton dengan nilai US$ 6,2 milyar.  Manfaat lainnya, yaitu penyerapan tenaga kerja langsung (on farm dan pabrik kelapa sawit) 3,3 juta kepala keluarga, mendorong pertumbuhan wilayah, mengurangi jumlah penduduk miskin, dan bahan baku bahan bakar nabati.  Pada tahun 1980 luasnya 290.000 ha, dan tahun 2007 mencapai 6,783 juta ha termasuk PR (Perkebunan Rakyat), PBN (Perkebunan Besar Negara), dan PBS (Perkebunan Besar Swasta). Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia luasnya 18 juta ha dari 13 juta ha hutan konversi, dan sudah dimanfaatkan 6,783 juta ha termasuk lahan gambut (Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, 2008).

Lahan gambut di Kalimantan ± 6,523 juta ha, dan ± 6,198 juta ha tergolong gambut pedalaman termasuk 2,164 juta ha berada di Kalimantan Tengah (Halim, 1985).    Sifat tanah gambut kurang tersedia unsur hara, tanah masam, KTK tinggi, dan KB rendah.  Tanaman yang tumbuh pada gambut pedalaman umumnya memperlihatkan gejala klorosis, tumbuh kerdil, nekrosis, dan berakhir dengan kematian.  Tingkat kesuburan tanah dapat diperbaiki melalui pengapuran, dan pemberian pupuk organik termasuk air limbah industri minyak sawit.

Pabrik kelapa sawit kapasitas 30 ton TBS/jam,  jika beroperasi 20 jam/hari akan menghabiskan 600 ton TBS.  Bila 1 ton TBS dihasilkan 0,6 m3 air limbah, dalam satu hari dihasilkan volume air limbah 360 m3, dan setahun 108.000 m3.   Dalam 100 ton air limbah dihasilkan 70 kg N, 12 kg P, 150 kg K, 27 kg Mg dan 32,5 kg Ca (Lubis, 1992). Air limbah umumnya mengandung senyawa organik,  karbohidrat, asam amino dan protein, lemak, asam nukleid, lignin, dan asam-asam organik. Senyawa karbohidrat, asam amino dan protein, dan lemak melalui orgaanisme tanah  dapat dirombak menjadi  senyawa organik sederhana bermanfaat bagi tanaman (Tan, 1994).  Air limbah yang diperbolehkan bagi pemupukan tanah (land application) adalah BOD tidak melebihi 5.000 mg/L, dan pH 6 – 9 (KepMen Negara Lingkungan Hidup Nomor: 29 Tahun 2003).

Perombakan bahan organik dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya   nisbah C/N organik, iklim, sifat tanah (jenis tanah),   pH tanah, suhu dan struktur  tanah  (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).   Tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM) membutuhkan unsur hara yang cukup banyak agar tanaman dapat tumbuh prima dan berproduksi optimal.  Tanaman yang kekurangan unsur hara dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi TBS, dan akhirnya mempengaruhi CPO (Lubis, 1992).

Jagung merupakan tanaman makanan pokok setelah beras, campuran pakan ternak dan industri, dapat ditanam pada berbagai jenis tanah dan dengan tanaman lainnya (AAK, 1993).  Pola tanam antara jagung dengan kelapa sawit, dan penggunaan air limbah industri sawit masih sedikit dilakukan diperkirakan hanya ada 1–2 perusahaan teruma pada tanah-tanah mineral, sedangkan pada tanah gambut belum pernah dilakukan. Sejalan dengan keinginan pemerintah melalui KepMen Negara LH Nomor: 28 dan 29 Tahun 2003,  penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan air LPKS  perkebunan kelapa sawit dengan sistem tanam bersisipan,  jagung BISI-16 ditanam di areal tanaman pokok  kelapa sawit yang masih berumur  1 tahun.  Jagung dan kelapa sawit membutuhkan unsur hara cukup banyak  sehingga pemanfaatan air limbah dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik.  Pemanfaatan air limbah juga mengurangi biaya pengolahan limbah sebesar 50-60% (Departemen Pertanian Jakarta, 2006).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dari Juni  sampai Nopember 2008 di perkebunan kelapa sawit TBM 1 (tanaman belum menghasilkan umur 1 tahun)  CV. Tani Jaya pada tanah gambut (apa jenis tanahnya?), Desa Hampalit, Kecamatan Katingan Hilir,  Kabupaten Katingan, Propinsi Kalimantan Tengah.   Penelitian dilaksanakan 2 tahap, yaitu: penelitian pendahuluan selama 1 bulan untuk analisis air LPKS di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, dan penelitian lapangan selama 4 bulan pada areal 840 m2 (0,084 ha).

Bahan yang digunakan: air  LPKS kolam III, PT. BDK  Kasongan Kabupaten Katingan,  urea 75 kg /ha, 125 kg fosfat 18%/ha, KCl 50 kg /ha, kapur dolomit {CaMg (CO3)2}500 kg/ha, benih jagung BISI-16. Alat yang digunakan: timbangan, cangkul, meteran, parang, plastik gula, tali rapia, kayu ajir, kayu tugal, clurit, gembor, botol aqua volume 600 ml, diregen, kamera foto,  alat  panen dan pencatatan data.

Penelitian menggunakan RAB (Rancangan Acak Blok) sesuai blok tanaman kelapa sawit dengan perlakuan tunggal air LPKS.  Dosis perlakuan air LPKS terdiri dari 4 taraf dosis dan kontrol, dan diulang sebanyak 5 kali yaitu 0 ton air LPKS/Ha, 1 ton air LPKS /Ha,  2 ton air LPKS/Ha, 3 ton air LPKS/Ha dan 4 ton air LPKS/Ha

Lahan di antara tanaman kelapa sawit dibersihkan dari rumputan, tumbuhan, ranting/cabang dan batang pohon hasil tebangan.  Pencangkulan pertama untuk membalik bongkahan tanah sedalam mata cangkul, dan pencangkulan kedua menghancurkan bongkahan tanah menjadi halus.    Tanah diratakan dan dibuat petakan dengan ukuran 2 x 3 m sebanyak 25 petakan.  Untuk memperbaiki pH tanah, lahan diberikan kapur dolomit 500 kg/ha dengan cara ditabur di permukaan petakan, diaduk merata, dan diinkubasikan selama 2 minggu.

Untuk mencegah benih mati, benih terlebih dahulu dikecambahkan selama 3 hari.  Selesai masa inkubasi kapur, dilakukan penanaman benih jagung dengan cara ditugal sedalam ± 5 cm sebanyak 2 biji/lubang, dan jarak tanam 75 x 40 cm.  Dosis fosfat 18% dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam.  Dosis urea diberikan 3 kali, yaitu 1/3 bagian saat tanam, 1/3 bagian saat berumur 21 HST, dan sisanya saat tanaman berumur 42 HST.  Seluruh pupuk diberikan dengan cara ditugal di kiri atau di kanan lubang tanam dengan jarak ±7 cm dengan kedalaman ±10 cm.

Pengamatan dilakukan terhadap pengamatan pendukung: (1) Analisis tingkat kesuburan tanah: pH, C-organik, N-total, P-total, K-total, Ca-dd, dan Mg-dd, dan (2) Analisis kualitas air limbah: pH, BOD, dan COD; dan pengamatan utama: (1) Tanaman jagung BISI-16: tinggi tanaman (cm), umur panen (hari), panjang tongkol tanpa berkelobot (cm), diameter tongkol tanpa kelobot (cm), hasil pipilan kering (ton/ha); (2) Tanaman kelapa sawit: tinggi tanaman (cm), jumlah pelepah daun (pelepah), dan diameter batang (cm).

  Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis kovarian pada taraf α = 5% dan  α = 1%.  Jika terdapat pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji rata-rata menggunakan BNJ pada taraf α = 5% .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Kesuburan Tanah

Hasil analisis tanah gambut pada lokasi penelitian disajikan pada Tabel 1.

C-organik dan N-total rendah, sedangkan tanah gambut umumnya sangat tinggi.  Tanah mineral/gambut mengandung c-organik di bawah 12% – 18% tidak memenuhi ketentuan di atas/mempunyai ketebalan lapisan c-organik < 50 cm digolongkan ke dalam jenis tanah bergambut/tanah mineral humik / humus  (Darmawijaya, 1997). Tingkat kesuburan kimiawi tanah bergambut lokasi penelitian secara umum rendah, ditunjukkan oleh pH, Ca-dd, Mg-dd,  KB dan KTK rendah sekali sampai rendah, kecuali P-total dan K-total sedang sampai tinggi sekali (Hardjowigeno, 1992).

 Tabel 1.  Hasil Analisis Tanah Gambut

No.

Parameter

Hasil Analisis *)

Kriteria **)

1.

pH (H20)

4,65

Rendah

2.

C-organik (%)

1,07

Rendah

3.

N-total (%)

0,26

Sedang

4.

P-total (ppm)

404,0

Tinggi sekali

5.

K-total (ppm)

392,0

Tinggi sekali

6.

Ca-dd (me/100 g)

0,723

Rendah sekali

7.

Mg-dd (me/100 g)

0,118

Rendah sekali

8.

KB (%)

6,94

Rendah sekali

9.

KTK (me/100 g)

11,9

Rendah

Sumber:  *)  UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, 2009

**)  Hardjowigeno, 1992

Kualitas Air  LPKS

Parameter kualitas air LPKS PT. BDK, seperti pH, BOD dan COD disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan KepMen Negara Lingkungan Hidup  No. 28 Tahun 2003, pH, BOD, dan COD  air LPKS PT. BDK masih di bawah ambang batas yang boleh digunakan untuk land application (aplikasi lahan) bagi perkebunan kelapa sawit.   Lubis (1992), dalam 108.000 m3 akan dihasilkan 75 kg N, 12,96 kg P, 162 kg K, 29,16 kg Mg dan 35,1 kg Ca.   Unsur-unsur ini sangat diperlukan bagi tanaman jagung dan tanaman kelapa sawit.

Tanaman Jagung

Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman (X1), umur panen (X2), panjang tongkol tanpa kelobot (X3), diameter tongkol tanpa kelobot (X4), dan hasil pipilan kering (X5) disajikan pada Tabel 3.

Tinggi Tanaman

Pada umur 2, 4, dan 6 MST dosis perlakuan 1 ton/ha air LPKS (A1), 2 ton/ha (A2), 3 ton/ha (A3), dan 4 ton/ha (A4)  tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Diduga air LPKS yang diberikan belum terurai sempurna menjadi senyawa organik sederhana yang bermanfaat bagi tanaman (Tan, 1994). Pada saat penelitian curah hujan  268,1 – 333,0 mm/bulan, curah hujan tinggi ini dapat mempengaruhi perombakan c-organik oleh mikrorganisme tanah karena kekurangan O2. Proses penguraian dipercepat pada curah hujan sedang sampai rendah.   Pada pH tanah 4,65, fungi hidupnya terhambat sehingga penguraian c-organik menjadi terlambat (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).   Nilai KB <10% terjadi hambatan laju penyediaan hara dan penyerapan unsur hara oleh tanaman (Salampak, 2000), Kalimat ini menjelaskan hasil pengamatan apa? (faktor-faktor yg mempengaruhi tidak terurai sempurnanya bahan organik).

Pada umur 8 MST tinggi tanaman dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) menunjukkan perbedaan nyata dengan dosis perlakuan  0 ton LPKS/ha (A0),  1 ton/ha (A1), dan 2 ton/ha (A2), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis perlakuan 3 ton/ha (A3). Diduga air LPKS sudah mengalami proses perombakan oleh mikroba tanah, protein menjadi amida dan asam amino sehingga mudah dihidrolisis menjadi ammonium, dan melalui nitrifikasi diubah menjadi nitrat  (Buckman dan Brady, 1982; Tan, 1994).  Darimana mengetahui bahwa air LPKS diduga mengalami proses perombakan tanah? (Teori atau tinjauan pustaka)  Apakah ada diukur jumlah mikroorganismenya? (tidak ada) Apakah ada diukur jumlah N dalam air LPKS?) (data sekunder hasil penelitian, 1996 2006).  (Air LPKS pada kolam pertama dikategorikan limbah (fat-fit) mengandung minyak dan lemak tinggi dan n total.  Pada umumnya bahan organik bisa terurai sempurna minimal 3 minggu.  Faktor2 yg berpengaruh tersebut telah disebutkan di atas.

Tabel  2.  Kualitas Air LPKS PT. BDK

No.

Parameter

Kualitas Air

Satuan

Rata-rata

Buku Mutu MENLH

1.

pH

-

4,21

6-9

2.

BOD

mg/L

11,87

250

3.

COD

mg/L

51,08

500

Sumber : UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR, 2009

Tabel 3.     Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman (X1), umur panen (X2), panjang tongkol tanpa kelobot (X3), diameter tongkol tanpa kelobot (X4), dan hasil pipilan kering (X5).

Dosis Perlakuan

X1

X2

X3

X4

X5

2 MST

4 MST

6 MST

8 MST

0 ton air LPKS/Ha

29,22 62,67 89,72 164,17a 93,67d 16,40a 13,57a 30,67a

1 ton air LPKS /Ha

23,33 68,44 112,72 181,39a 84,00c 17,16a 15,42b 31,67ab

2 ton air LPKS/Ha

27,17 66,11 123,83 181,11a 82,33c 18,21b 16,89c 32,83bc

3 ton air LPKS/Ha

28,44 73,67 132,56 185,00ab 77,67b 20,27c 18,33d 33,83cd

4 ton air LPKS/Ha

26,56 71,50 158,11 220,78b 71,72a 22,33d 20,69cd 34,83d
Rata-rata 26,94 68,48 123,39 186,49 81,88 18,87 16,98 32,77
BNJ 5%        -        -          -   34,71   4,58   0,93   0,47   1,34

*)  Harga rata-rata yang diikuti huruf yang sama di belakang angka pada kolom yang sama, tidak menunjukkan perbedaan nyata pada taraf uji BNJ 5%.

  

Nitrogen diperlukan pada fase pertumbuhan vegetatif tinggi tanaman sampai pematangan biji.  Tanaman yang kekurangan N pada stadia muda menjadi kerdil dan daun menjadi sempit, akhirnya dapat menurunkan hasil (Suprapto dan Marzuki, 2002). Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 86,51+12,34X dan r = 0.70 (Gambar 1).

gambar 1 yulius

 Gambar 1.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap tinggi tanaman

Umur Panen

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha  (A4) memperlihatkan umur panen lebih cepat (71,72 hari), dan berbeda nyata dibandingkan dengan dosis perlakuan 3 ton air LPKS/ha (A3), 2 ton/ha (A2), 1 ton/ha (A1), dan 0 ton/ha (A0), tetapi dosis perlakuan  2 ton/ha (A2) dan 1 ton/ha (A1) tidak berbeda nyata.

Umur panen ini lebih cepat dibandingkan dengan umur panen berdasarkan kriteria deskripsi tanaman jagung BISI-16 (105 hari).  Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) dapat menyediakan hara P lebih banyak (apakah ada diukur jumlah P dalam air LPKS?) (ada data sekunder hasil penelitian, 1996, hasil ini kemudian dikonversikan= 1 ton air LPKS menghasilkan 0,12 kg P kalau 4 ton = 0,48 kg) sehingga mampu memacu pertumbuhan generatif tanaman jagung, dan pematangan buah. Rinsema (1993), unsur P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), unsur P merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih cepat berbunga dan berbuah.  Pada dosis perlakuan 0 ton air LPKS/ha (Ao), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3) umur panen lebih panjang walaupun masih lebih cepat dibandingkan umur tanaman jagung berdasarkan deskripsi tanaman.  Tanaman mendapat asupan hara P lebih sedikit.  Uji regresi dosis air LPKS pengaruhnya bersifat kuadratik dengan persamaan  Ŷ = 81,74+0,12X dan r = 0.01 (Gambar 2).

gambar 2 yulius

Gambar 2.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap umur tanaman

 

Panjang Tongkol Tanpa Kelobot

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) memperlihatkan rata-rata  tongkol tanpa kelobot terpanjang, dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya, 0 ton/ha (A0), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3), sedangkan perlakuan 0 ton/ha (A0) dan 1 ton/ha (A1) tidak berbeda antar sesamanya. Pada dosis 4 ton/ha (A4) tanaman berkecukupan mendapat asupan hara utama N dan P.  P diperoleh tanaman berasal dari dalam tanah, pemupukan fosfat 18%, dan air LPKS.   Rinsema (1993), hara P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), hara P merangsang pertumbuhan tanaman agar cepat berbunga dan berbuah.

Pada dosis 0 ton/ha (Ao) panjang tongkol tanpa kelobot lebih pendek dibandingkan perlakuan lainnya.  Tanaman sedikit mendapat asupan unsur hara P, hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%.  P-total dalam tanah cukup tinggi, namun kesediaannya sangat terbatas.  pH tanah rendah (pH 4,65), mengakibatkan unsur P terikat dan tidak tersedia bagi tanaman.  Salampak (2000), diprakirakan kandungan P-tersedia ±12% dari P-total tanah gambut.  P-total tanah gambut 404 ppm, diprakirakan tersedia hanya ±48,0 ppm.  Hardjowigeno (1992), pH di bawah 4,0 ketersediaan unsur hara makro P, Ca, Mg dan Mo dinyatakan buruk sekali.  Rinsema (1993), tanaman yang kekurangan P mengakibatkan pertumbuhannya terhambat dan produksi rendah. Uji regresi dosis air LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan  Ŷ = 15,88 + 2,49X dan r = 0,98 (Gambar 3).

Diameter Tongkol

Pada dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) ukuran diameter tongkol tanpa kelobot lebih lebar dibandingkan dosis 0 ton/ha (A0), 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2) dan 3 ton/ha (A3).  Diduga mampu menyediakan unsur hara N, P dan K untuk memenuhi kebutuhan tanaman jagung dalam pembentukan buah/tongkol.  Rinsema (1993), unsur P berperan dalam pembentukan dan pemasakan buah.  Anonim (1977), unsur P merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih cepat berbunga dan berbuah. Warisno (2008), unsur hara K dibutuhkan dalam jumlah paling banyak pada titik tumbuh, unsur K diserap terbanyak pada saat perkembangan tongkol. Pengambilan unsur K diakhiri segera setelah pembungaan, tetapi N dan P berjalan terus sampai menjelang pemasakan biji.

Pada dosis 0 ton/ha (Ao) diameter tongkol tanpa kelobot lebih kecil dibandingkan perlakuan lainnya.  Tanaman sedikit mendapat asupan unsur hara P, unsur hara yang tersedia hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%. Uji regresi dosis perlakuan air LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 13,55 + 2,86X dan r = 1,0 (Gambar 4).

gambar 3 yulius

  Gambar 3.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap panjang tongkol tanpa kelobot

gambar 4 yulius

Gambar 4.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap diameter tongkol

Hasil Pipilan Kering

Pada dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) merupakan perlakuan terbaik hasil pipilan kering  dan berbeda nyata dengan dosis 0 ton/ha (Ao), 1 ton/ha (A1), dan 2 ton/ha (A2) tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 3 ton/ha (A3). Pada dosis ini tanaman berkecukupan mendapat asupan unsur hara utama P. P diperoleh tanaman dapat berasal dari dalam tanah, pemupukan fosfat 18%, dan air LPKS. Unsur hara P sangat dibutuhkan oleh tanaman jagung lebih banyak pada saat pengisian biji.  Warisno (2008), hara P diserap selama pertumbuhan setelah berbunga dan selama pemasakan biji, dan waktu biji masak, 75% dari P yang dibutuhkan  terdapat pada biji.

Pada dosis 0 ton/ha hasil pipilan kering lebih kecil dari perlakuan lainnya.  Tanaman  sedikit mendapatkan asupan hara P, unsur hara yang tersedia hanya berasal dari dalam tanah dan pemberian fosfat 18%. P dalam tanah cukup tinggi, namun kesediaannya sangat terbatas.  pH tanah yang rendah (pH 4,65) mengakibatkan unsur P terikat dan tidak tersedia bagi tanaman. Rinsema (1993), tanaman kekurangan P mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat dan produksi rendah.  Uji regresi dosis air LPKS yang dicobakan pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan  Ŷ = 30,67 + 1,75X dan r = 0,99 (Gambar 5).

 gambar 5 yulius

 Gambar 5.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap hasil pipilan kering

 

Tanaman Kelapa Sawit      

Hasil uji beda harga rata-rata  pertambahan tinggi  tanaman (X1), jumlah pelepah daun (X2), dan diameter batang (X3)  disajikan pada Tabel 4.

Tinggi Tanaman

Pada dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) mulai umur 4 s.d 10 MST merupakan perlakuan terbaik dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan, selain mengandung unsur hara makro dan unsur hara mikro, juga mengandung senyawa organik, yang terkomposisi secara seimbang sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman. Setiap unsur hara dan bahan pembawa yang terdapat di dalam LPKS sangat berperan dalam pertumbuhan tinggi tanaman.

Djafaruddin (1970) dan Setyamidjaja (2003), unsur N berperan di dalam merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman. Tanaman menyerap unsur nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-) dan ammonium (NH4+). Liliek (1990), nitrogen merupakan komponen utama penyusun asam amino, protein dan krolofil. Senyawa ini memacu proses pembelahan sel-sel baru, dan perbesaran sel-sel jaringan meristem sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Unsur hara P juga sangat berperan di dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman. Lubis (1992),  P berperan dalam proses pembelahan sel untuk membentuk organ tanaman. Sarief (1986),  unsur K merangsang titik-titik tumbuh tanaman, dan unsur Mg diperlukan sebagai penyusun khlorofil.

Pada umur 2 MST semua dosis perlakuan air LPKS tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertambahan tinggi tanaman.  Tanaman hanya mendapatkan asupan N dari dalam tanah, hasil analisis tanah kandungan N-total sedang, dan tanaman belum mendapat asupan unsur hara dari air LPKS (diberikan pada umur 3 MST). Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 9,14 + 9,34X dan r = 0.98 (Gambar 6).

Tabel 4. Hasil uji beda rata-rata pertambahan tinggi tanaman (X1), jumlah pelepah daun (X2), dan diameter batang (X3)  umur 2 s/d 10 MST (cm) pengaruh perlakuan dosis air LPKS

Dosis

Perlakuan

X1

X2

X3

2

4

6

8

10

2

4

6

8

10

2

4

6

8

10

A0

3,00 6,33a 10,33a 14,33a 18,67a 0,67 1,67 2,00 4,00 4,67a 1,33 4,17 7,50 10,33 13,17

A1

3,67 9,67ab 14,00a 18,33a 23,00a 1,00 2,33 3,00 4,33 5,00ab 1,67 4,83 10,50 14,00 16,83

A2

2,67 11,67bc 20,33b 27,67b 34,00b 0,67 2,33 3,67 4,67 5,67ab 1,67 5,17 11,17 15,00 18,33

A3

3,67 14,67cd 26,67c 37,67c 45,00c 1,33 2,00 4,00 5,00 6,00ab 1,00 5,50 11,67 15,17 19,0

A4

2,67 17,33d 33,33d 49,67d 60,33d 0,67 2,67 3,67 5,67 6,67b 1,67 6,67 12,17 15,83 19,67

Rata-rata

3,13 11,93 20,93 29,53 36,20 0,87 2,20 3,27 4,73 5,60 1,47 5,27 10,60 14,67 17,40

BNJ 5%

-

3,63 4,06 4,33 5,66

-

-

-

-

1,89

-

-

-

-

-

*)     Harga rata-rata yang diikuti huruf yang sama di belakang angka pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf  uji BNJ 5%

gambar 6 yulius

Gambar 6.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap pertambahan tinggi tanaman

 

Jumlah Pelepah Daun

Pada umur 2, 4, 6, dan 8 MST semua dosis perlakuan air LPKS tidak berpengaruh terhadap jumlah pelepah daun.  Proses pembentukan pelepah daun kelapa sawit jauh lebih lambat dibandingkan dengan pertambahan tinggi tanaman karena dalam 1 bulan jumlah pelepah daun kelapa sawit yang terbentuk hanya  2 pelepah.  Sastrosayono (2003), jumlah pelepah daun yang terbentuk selama 1 tahun adalah 20 – 30 pelepah (1-2 pelepah/bulan).

Pada umur 10 MST dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) berbeda nyata dengan dosis 0 ton/ha (Ao), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis 1 ton/ha (A1), 2 ton/ha (A2), dan 3 ton/ha (A3).  Dosis perlakuan air 4 ton LPKS/ha (A4) mampu memberikan asupan unsur hara ke dalam tanah dalam jumlah yang cukup sehingga mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Meningkatnya penyerapan N akan meningkatkan pengiriman N ke tajuk, dan kondisi tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan kecepatan siklus inisiasi daun (Tolley dan Raper dalam Ruffty, 1997). Suwandi dan Chan (1982),  unsur N menyebabkan perkembangan permukaan daun yang lebih cepat, sedangkan unsur P, K, Mg, dan Ca, berperan dalam menunjang pertumbuhan lebar daun. Uji regresi dosis perlakuan air  LPKS pengaruhnya bersifat linier dengan persamaan Ŷ = 2,72 + 0,51X dan r = 0.95 (Gambar 7).

 gambar 7 yulius

Gambar 7.  Pengaruh dosis perlakuan air LPKS terhadap pertambahan diameter batang

 

KESIMPULAN

Dosis perlakuan air LPKS  pada umur 8 MST berpengaruh positip terhadap tinggi tanaman dan pada semua variabel  generatif jagung BISI -16.

Dosis perlakuan air LPKS berpengaruh positip pada tinggi tanaman kelapa sawit umur 4 s.d 10 MST, tetapi  tidak berpengaruh terhadap pertambahan jumlah pelepah  daun (kecuali umur 10 MST), dan diameter batang.

Dosis perlakuan 4 ton air LPKS/ha (A4) merupakan perlakuan terbaik  terhadap komponen tanaman jagung BISI-16 dan vegetatif kelapa sawit.  Ada korelasi positip antara dosis perlakuan air LPKS dengan pertumbuhan dan hasil jagung BISI-16, dan kelapa sawit.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan dosis perlakuan air LPKS  yang lebih tinggi, agar pemberian air LPKS mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung dan kelapa sawit.

UCAPAN TERIMA KASIH

Diucapkan terima kasih kepada Program Hibah Kompetisi A-2 TA. 2008 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional atas bantuan dananya.

DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kanisius (AAK). 1993.  Teknik Bercocok Tanam Jagung.  Penerbit  Kanasius, Yogyakarta.

Anonim.  1977.  Pedoman Bercocok Tanam Padi, Palawija dan Sayuran.  Badan Pengendali Bimas, Jakarta.

Buckman, H.O. dan N.C.  Brady.  1982.  Ilmu Tanah (Terjemahan). Bhatara Aksara, Jakarta.

Darmawijaya, I. 1980. Klasifikasi Tanah. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Departemen Pertanian Jakarta.  2006.  Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit.  Subdit Pengelolaan Lingkungan Direktorat Pengelolaan Hasil Pertanian Ditjen PPHP, Jakarta.

Direktur Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian.  2008.  Kebijakan Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia.  Dalam Materi Narasumber Seminar Nasional Pembangunan Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan di Kalimantan Tengah.  GPU Tambun Bungai, Palangka Raya, 12 Februari 2008.  Hal. 1-16.

Djafaruddin. 1970. Pupuk dan Pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang.

Gomez, K. A dan A. Gomez.  1983.  Statistical Procedures for Agricultural Research.  2nd Edition.  John Wiley & Sons, New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore

Halim, A.  1985.  Upaya Memproduksi Tanah Gambut Pedalaman Kalimantan Khusus Bereng Bengkel.  Makalah Seminar Kebutuhan dan Pemanfaatan Tanah Gambut di Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

Hardjowigeno, S.  1992.  Ilmu tanah.  Mediyatama Swadaya, Jakarta.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis Pengkajian Pemanfaatan Air Limbah dari Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat dan Tatacara Perizinan Pemanfaatan Air Limbah Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.

Lubis, U. 1992.  Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Pusat Penelitian Perkebunan Marihat-Bandar Kuala, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Salampak.  2000.  Beberapa Sifat Kimia Tanah Gambut Kalimantan Tengah Berdasarkan Lingkungan Pembentukannya.  Jurnal Agripeat. Vol. I No. 1, September 2000: 9 – 16.

Sarief, S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.

Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Setyamidjaja, D.  2003.  Budidaya Kelapa Sawit.  Kanisius.  Yogyakarta.

Sitompul, S. M., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah mada University Press. Yogyakarta.

Suprapto dan H.A. Marzuki.  2002.  Bertanam Jagung, Penebar Swadaya, Jakarta.

Rinsema, W. T.  1993.  Pupuk dan Cara Pemupukan.  Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Ruffty, T. W. 1997. Probing the carbon and nitrogen interaction : a whole plant perspective. A Moleculer Approach to Primary Metabolism in Higher Plants (C. H. Foyer and W. P. Quick/Ed. Taylor & Francis. London. 255-274.

Tan, H.  1994.  Environmental Soil Science.  Marcel Dekker, Inc.  New York, Basel, Hongkong.

Warisno.  2008.  Seri Budi Daya Jagung HibridaKanisius, Yogyakarta.

Wright, C.J. 1989. Interactions between vegetative and reproductive growth. p: 15 – 28 In Wright, C.J.(edt.) Manipulation of Fruiting. Butterworthsbatang



Volume 13 Nomor 2 September 2012 == PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS KOAGULAN TERHADAP == Panji Surawijaya, Saputera, Muhammad Syafi’i
7 September 2013, 12:59 pm
Filed under: Penelitian

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS KOAGULAN TERHADAP TINGKAT PEMBEKUAN LATEKS TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

(The Effect of Giving some kinds of Coagulant on The Level of Solid Latex of The Rubber Tree)

     Panji Surawijaya, Saputera dan Muhamad Safi’i

   Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

ABSTRACT

Rubber is the one of result agriculture  on sub farming sector that have many contribution on national economic and another non gas source income. Low quality rubber generally resulted by rubber farming that used traditional way usually do by many people , especially on Central Kalimantan treatment after production use many variety coagulant material on coagulation processing that have effect on quality rubber result. At farmer rubber on Central Kalimantan usually use natural coagulants such as Gadung and Pineapple as alternative coagulant have been recommended. The purpose of this research is to know the effect of giving some kinds of coagulant (Gadung, Pineapple, and Acetate Acid ) the level   latex solidness   that is resulted by Rubber Tree .The design that is used in this research are Random Complete Design (RCD) one factor  such as Giving  some kinds of Coagulant which  consist 7 level treatment, such as without giving ,Gadung  Extract  15 ml.l-1 Latex, Gadung Extract 20 ml.l-1 Latex, Pineapple Extract 15 ml.l-1 Latex, Pineapple Extract 20 ml.l-1 Latex, acetate acid 15 ml.l-1 Latex, acetate acid 20 ml.l-1 Latex. The result from this research are giving some different result latex solidness which gave coagulant gadung extract, pineapple Extract and acetate acid. Extract Pineapple Coagulant 15ml/l latex able to process Coagulation rubber latex better until result perfect Coagulum capacity rubber dried with higher coagulum 80 until 90 %.

Key words: Coagulant, Gadung, Pineapple, Acetate Acid, Rubber Latex..

ABSTRAK

Karet merupakan salah satu hasil pertanian di sub sektor perkebunan yang banyak menunjang perekonomian Nasional dan sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia. Rendahnya kualitas karet utamanya yang dihasilkan pada perkebunan karet yang dikelola oleh masyarakat, khususnya di Kalimantan Tengah antara lain karena penanganan pasca panen seperti penggunaan bahan pembeku dalam proses koagulasi yang beragam, sehingga akan berdampak pada kualitas hasil bahan olah karet yang dihasilkan. Dikalangan para petani karet di Kalimantan Tengah sering menggunakan bahan pembeku alami seperti umbi gadung dan buah nanas sebagai alternatif selain dari bahan pembeku yang telah direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis bahan koagulan (gadung, nanas dan asam asetat) terhadap tingkat pembekuan lateks yang dihasilkan tanaman karet. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor berupa pemberian beberapa jenis bahan koagulan yang terdiri dari 7 taraf perlakuan, yaitu  tanpa pemberian koagulan, ekstrak gadung 15 ml.l-1 lateks, ekstrak gadung 20 ml.l-1 lateks, ekstrak nanas ml.l-1 lateks, ekstrak nanas 20 ml.l-1 lateks, asam asetat 15 ml.l-1 lateks dan asam asetat 20 ml.l-1 lateks. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pembekuan lateks karet yang diberi koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat (cuka). Koagulan ekstrak nanas 15 ml/l lateks mampu melakukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna dengan kadar karet kering (KKK) koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 %.

Kata kunci: Koagulan, Gadung, Nanas, Asam Asetat, Lateks Karet.

  PENDAHULUAN

Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian di sub sektor perkebunan yang banyak menunjang perekonomian Nasional yang menduduki posisi yang cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, Selain itu, karet juga mempunyai pengaruh besar terhadap kebutuhan vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari bahan karet. Indonesia memiliki luasan lahan perkebunan karet mencapai 3-3,5 juta hektar, hal ini merupakan lahan perkebunan karet terbesar di dunia. Sementara luas lahan perkebunan karet di Thailand sekitar 2 juta hektar, dan malaysia sekitar 1,3 juta hektar (BPS, 2010).

Dilihat dari pengusahaannya perkebunan karet di Indonesia, sebagian besar masih diusahakan oleh Perkebunan Rakyat (PR), dibandingkan pengusahaan yang dilakukan Perkebunan Besar Negara (PBN) maupun Perkebunan Besar Swasta (PBS). Berdasarkan luasan perkebunan karet di Indonesia yang dikelola cukup luas oleh rakyat tersebut, tetapi tidak diimbangi dengan produktivitas yang baik, sehingga total produktivitas karet di Indonesia rata-rata rendah dan mutu karet yang dihasilkan juga kurang memuaskan bila dibandingkan negara pesaingnya seperti Thailand, Malaysia, dan India (BPS, 2010).

Di Kalimantan Tengah, lateks atau getah karet juga merupakan salah satu komoditas utama usaha rakyat yang cukup dominan, berupa hasil perkebunan yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Hal ini dapat dilihat dari luas areal perkebunan karet yang dimiliki sekitar (408.230.61 ha-1) dari luas total areal perkebunan karet (418.708,61 ha-1) yang dimiliki Kalimantan Tengah (BPS Kal-Teng, 2010).

Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet Nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat, selain masalah teknik budidaya yang masih rendah, banyaknya areal tanaman karet yang telah tua dan tidak produktif juga masalah bahan baku hasil panen yang dihasilkan umumnya bemutu rendah karena penanganan pasca panen yang kurang tepat akibat pengetahuan petani yang terbatas (BPG Salatiga, 2009).

Dalam tahap awal, petani karet biasanya melakukan pengolahan lateks secara sederhana sebelum dijual ke pengumpul (pabrik karet), adapun pengolahan yang dilakukan adalah dengan melakukan prakoagulasi pada lateks sehingga menjadi berbentuk padatan dengan menggunakan koagulan yang lazim digunakan oleh masyarakat. Karet hasil olahan masyarakat ini lazim disebut sebagai bokar, atau “bahan olahan karet rakyat”, hasil olahannya berupa lump dan slab. Bokar merupakan komoditi utama suatu pedesaan. Terutama pedesaan yang letaknya di pedalaman. (Praharnatha, 2011).

Penggunaan koagulan yang disarankan pemerintah saat ini sedang digalakkan besar-besaran bagi petani karet, seperti penggunaan asam formiat (asam semut) maupun deorub-K, akan tetapi pemasaran produk-produk seperti ini ke desa-desa yang memiliki daya beli yang rendah. Oleh karena itu penggunaan jenis koagulan pada karet lateks tergantung dari latar belakang si petani karet sendiri. Bila petani tersebut melakukan penyadapan karet sebagai usaha sampingan dari bertani biasanya  akan menggunakan NPK dan tawas sisa dari pemupukan lahan musim yang lalu sebagai koagulan. Begitu pula bagi petani dengan usaha sampingan berkebun sayur, lebih menggunakan buah nanas yang ditanam di sekitar pekarangan rumah/kebun mereka, maupun umbi gadung. Umbi gadung dan buah nanas, sangat mudah ditemukan di sekitar masyarakat pedesaan. Umbi gadung sangat banyak terdapat dihutan tropis, terutama di hutan yang ada di pedalaman Kalimanatan Tengah, hidup disekitar perkebunan karet rakyat, tumbuh secara liar sehingga sering dianggap sebagai tanaman pengganggu karena dianggap beracun. Buah nanas sering ditanam begitu saja oleh masyarakat desa, sehingga secara tidak langsung penggunaan buah nanas sebagai koagulan alternatif petani karet juga termasuk sebagai pemanfaatan oleh masyarakat desa itu sendiri. Ada petani yang lebih condong menggunakan koagulan yang gratis dan mudah didapat disekitar mereka, dari pada menggunakan koagulan pasaran (Praharnatha, 2011).

            Sehingga memalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui tingkat pembekuan lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan yang digunakan tersebut.

     Penelitiaan ini bertujuan untuk : Mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis bahan koagulan (asam asetat/cuka, nenas, dan gadung), terhadap tingkat pembekuan lateks yang dihasilkan tanaman karet.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan rakyat di Desa Sigi, Kelurahan Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni – Juli 2011.

            Bahan yang digunakan adalah lateks dari karet klon lokal dari perkebunan rakyat berumur ± 23 tahun dan sudah pernah disadap sebelumnya, koagulan yang digunakan asam cuka/cuka makan 20 – 25 % , ekstrak gadung dan ekstrak nanas madu/varietas Queen (sudah tua namun tidak terlalu matang), sedangkan alat – alat yang digunakan hand mangel, kertas lakmus, oven, timbangan digital, bak koagulasi terbuat dari plastik yang memiliki volume ± 1 liter, tempat membekukan lateks, saringan (dengan diameter 2 mm), alat tulis, kamera, serta alat pendukung lainnya.

            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yang terdiri dari pemberian bahan koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas, asam asetat, dan satu sebagai kontrolnya (tanpa pemberian koagulan). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Kontrol (tanpa pemberian koagulan); Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks; Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks; Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks; Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks; Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks; Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks.

          Jumlah 7 taraf perlakuan dan diulang 4 kali, sehingga dalam penelitian ini terdapat 28 satuan percobaan.

          Variabel pengamatan yang diamati dalam penelitian sebagai berikut:

  1. pH Lateks

Pengukuran pH dilaksanakan untuk mengetahui derajat keasaman (pH), dari larutan redaman pada

bak koagulasi setelah diberi bahan ekstrak koagulan.

  1. Tingkat Koagulasi (20 menit/perlakuan)

Mengamati lateks yang telah mengalami pembekuan di dalam bak perlakuan, dengan parameter visual (penampakan koagulum, kejernihan serum, dan penggumpalan) yang diamati 20 menit/perlakuan, sampai akhir pengamatan yaitu selama 3 jam.

  1. Pengukuran Tingkat Penggumpalan lateks (ml)

Pengukuran ini dilakukan untuk menunjukan pengaruh dari pemberian bahan koagulan terhadap koagulum yang terbentuk. Pengukuran dilakukan saat 3 jam setelah proses koagulasi berlangsung. Adapun metode yang digunakan yaitu dengan Metode Saring, dengan tahapan – tahapan sebagai berikut:

a)         Lateks yang telah mengalami pembekuan dimasukan kedalam saringan dengan diameter 2 mm. kemudian didiamkan selama sampai cairan lateks yang belum mengalami pembekuan tersebut keluar dan tertampung dalam tempat penampungan.

b)        Cairan lateks yang belum mengalami bekuan ditampung kedalam penampungan, kemudian diukur volume lateks yang belum mengalami pembekuan tersebut

  1. Bobot atau Isi Lateks (gram)

Bobot atau isi lateks adalah berat lateks dari hasil akhir koagulasi, perhitungan dilakukan per bak perlakuan pada saat akhir pengamatan, dengan menggunakan timbangan digital.

  1. KKK (Kadar Karet Kering) Koagulum (%)

Kadar Karet Kering adalah kandungan zat padat yang terdapat didalam lateks yang tidak dapat menguap bila tidak dikeringan pada suhu 110 – 120 °C selama 3 jam. Standar kadar karet kering yang terdapat pada lateks adalah 60.0% – 62.0 %. Perhitungan dilakukan saat proses koagulasi selasai. Pengeringan contoh uji dilakukan dengan menggunakan oven atau mesin pengering (dryer). Pengeringan dilakukan pada suhu 110-120 °C selama 3 jam. Dalam penelitian ini penentuan KKK koagulum dilakukan pada akhir koagulasi.

Untuk menentukan KKK dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

KKK = b/c x a/d x 100%

Dimana :

a)      Menimbang bahan olah karet.

b)      Bobot hasil gilingan (krep) ditiriskan selama 30 menit.

c)      Bobot potongan krep sebelum dioven.

d)      Bobot hasil potongan krep setelah dioven.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan  analisis ragam (Uji F) pada taraf α = 0,05 dan α = 0,01. Perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perbedaan antar taraf perlakuan pada taraf α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Rendemen

            Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa rata-rata dari 0.975 kg buah nanas menghasilkan rendemen air nanas sebanyak 0.435 l (453 ml) atau sekitar 44.62 % rendemen ekstrak yang dihasilkan. Sedangkan umbi gadung menunjukan bahwa rata-rata dari 1.305 kg menghasilkan rendemen air gadung sebanyak 0.970 l (970 ml) atau sekitar 74.33 % rendemen esktrak yang dihasilkan. Selebihnya adalah kulit dan ampas berturut-turut, yaitu kulit nanas 0.315 kg, empulur 0.090 kg dan ampasnya sendiri 0.135 kg. Sedangkan kulit gadung 0.085 kg dan untuk ampasnya sendiri 0,250 kg. Informasi rendemen akhir ini digunakan untuk menentukan jumlah kebutuhan perlakuan penelitian.

Derajat Keasaman (pH) Lateks

Data hasil pengukuran derajat keasaman (pH) lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1, diketahui bahwa pemberian atau pencampuran beberapa jenis koagulan (ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat) pada lateks karet hasil sadapan menyebabkan terjadi perubahan pH lateks awal (7,0) menjadi pH 4,8 pada perlakuan pencampuran lateks dengan ekstrak gadung (K1 dan K2), pH 4,7 pada perlakuan pencampuran lateks dengan ekstrak nanas (K3 dan K4) dan pH 4,6 pada perlakuan pencampuran lateks dengan asam asetat (K5 dan K6).

Tabel 1. pH Lateks Karet dari Pemberian Beberapa Jenis Koagulan

Tabel 1 Panji            Penggumpalan lateks dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah penurunan muatan listrik. Penurunan muatan listrik lateks dapat disebabkan oleh penurunan pH lateks, penambahan larutan elektrolit dan penambahan zat aktif permukaan (Nurhadiati, 2002). Penambahan beberapa jenis koagulan seperti ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat ternyata berakibat terhadap penurunan pH, dari Gambar 1 tampak terlihat bahwa lateks yang diberikan beberapa jenis koagulan (K1, K2, K3, K4, K5, dan K6) menyebabkan penurunan menjadi pH 4,8 – 4,6, sedangkan yang tidak diberi koagulan (K0) pH nya tetap 7,0.

Gambar 1 Panji

Gambar 1.        pH lateks karet dari pemberian beberapa jenis koagulan

     Terjadinya proses penggumpalan (koagulasi) adalah karena terjadinya penurunan pH.  Lateks segar yang diperoleh dari hasil sadapan mempunyai pH 6,5 – 7,0.  Agar dapat terjadi penggumpalan atau koagulasi, pH yang mendekati netral atau netral tersebut harus diturunkan sampai 4,7. Pada kemasaman ini tercapai titik isoelektrik atau keseimbangan muatan listrik pada permukaan partikel-partikel atau butir-butir karet kehilangan muatan (netral) sehingga menyebabkan terjadinya penggumpalan. Penurunan pH terjadi karena adanya pemberian koagulan yang mengandung asam-asam organik ke dalam lateks sehingga dapat menurunkan pH.

 

Tingkat Koagulasi

Data pengukuran tingkat koagulasi lateks per 20 menit dalam masa waktu 3 jam (180 menit) dari pemberian beberapa jenis koagulan pada lateks,  hasil pengukuran waktu yang diperlukan untuk terjadinya koagulasi yaitu 20 menit dan 40 menit disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2, hasil pengukuran tingkat koagulasi lateks karet dari pemberian beberapa jenis koagulan menunjukkan terjadinya tingkat koagulasi yang berbeda. Semua jenis koagulan yang digunakan menyebabkan terjadi koagulasi, perlakuan ekstrak gadung dan nanas (K1, K2, K3 dan K4) hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk terjadinya koagulasi, sedangkan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk terjadinya koagulasi, adapun tanpa pemberian koagulan (K0) dari hasil pengamatan terjadinya koagulasi setelah 8 jam. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa proses koagulasi akan berlangsung dan terjadi lebih cepat apabila diberikan koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat, namun apabila tidak diberikan koagulan seperti halnya pada perlakuan (K0) maka proses koagulasi pada lateks hasil sadapan terjadinya sangat lambat yakni setelah 8 jam.

 Tabel 2. Tingkat Koagulasi Lateks Karet dari Pemberian Beberapa Jenis Koagulan

Tabel 2 Panji

Keterangan : –  : Belum membeku            : Sudah mengalami pembekuan                             *) : Membekuan setelah 8 jam

 

Tabel 3. Tipe Karakteristik Penampakan Koagulum

Tipe

Penampakan Koagulum

Kejernihan Serum

Penggumpalan

a

Permukaan berwarna coklat, tidak rata, berongga, agak lembek.

Keruh

Kurang Sempurna

b

Permukaan berwarna coklat, tidak rata, berongga, lembek.

Seperti  Susu

Tidak Sempurna

c

Permukaan berwarna putih, rata, halus, padat, keras.

Agak Jernih

Sempurna

d

Permukaan berwarna putih, rata, halus, padat, agak keras.

Agak Jernih

Sempurna

Semua jenis koagulan yang diberikan (Tabel 2), yaitu ekstrak gadung, ekstrak nanas, dan asam asetat  yang diberikan menyebabkan terjadinya koagulasi, namun karakteristik penampakan koagulum memperlihatkan tipe yang berbeda-beda. Perlakuan ekstrak gadung (K1 dan K2) memperlihatkan karakterisitik penampakan koagulum tipe a, sedangkan perlakuan ekstrak nanas (K3 dan K4) memperlihatkan karakteristik tipe d dan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) memperlihatkan karakteristik tipe c. Lebih jelas keterangan karakteristik penampakan koagulasi dari masing-masing tipe dapat dilihat pada Tabel 3.

Setelah terjadinya penurunan pH lateks segar dari pH 7,0 menjadi pH 4,8 – 4,6 sebagai akibat pemberian ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat, maka proses koagulasi mulai terjadi. Tingkat koagulasi lateks yang diamati di dalam bak perlakuan dengan parameter visual (penampakan koagulum, kejernihan serum, dan penggumpalan) yang diamati (20 menit/perlakuan), sampai akhir pengamatan yaitu selama 3 jam untuk perlakuan pemberian koagulan dan 8 untuk tanpa pemberian koagulan (Tabel 2 dan 3). Berdasarkan keterangan tipe karakterisitik penampakan koagulum dari hasil pengamatan pada Tabel 6a dan 6b, memperlihatkan. Perlakuan ekstrak nanas (K3 dan K4) dan perlakuan asam asetat (K5 dan K6) memperlihatkan karakteristik tipe c dan d dengan tingkat penggumpalan yang sempurna, hal ini didukung dengan penampakan koagulan dengan karakterisitik yang lebih baik dan kejernihan serum yang agak jernih, sedangkan perlakuan ekstrak gadung (K1 dan K2) memperlihatkan karakterisitik tipe a dengan tingkat penggumpalan yang kurang sempurna, adapun (K0) tanpa pemberian koagulan setelah 8 jam mengalami penggumpalan dengan karakterisitik tipe b dengan tingkat penggumpalan tidak sempurna. Karakteristik tipe a dan b ini memperlihatkan kejernihan serum masing-masing seperti susu dan keruh. Menurut Nurhadiati (2002), kejernihan serum dipengaruhi proses koagulasi. Lateks yang telah terkoagulasi sempurna ditandai dengan warna serum yang relatif jernih. Serum yang yang tidak jernih menunjukkan bahwa  ada partikel karet yang masih terdapat di dalamnya.

Tingkat Penggumpalan Lateks

            Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan tidak berpengaruh nyata pada variabel tingkat penggumpalan lateks. Rata-rata hasil pengamatan tingkat penggumpalan lateks dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan Tabel 4. Pengukuran tingkat penggumpalan lateks (ml) yang menunjukan pengaruh dari pemberian bahan koagulan terhadap koagulum yang terbentuk setelah proses koagulasi berlangsung menunjukkan tidak terjadi perbedaan yang nyata antar perlakuan, namun dari nilai rata-rata lateks yang belum mengalami pembekuan menunjukkan perlakuan ekstrak nanas yang paling rendah yaitu 25,00 ml.l-1 lateks, dan ini jauh lebih rendah dibandingkan pemberian koagulan lainnya yaitu dengan lateks yang belum mengalami pembekuan yang lebih besar yaitu berkisar 45,00 – 27,50 ml.l-1 lateks. Hal ini diduga terkait dengan tingkat koagulasi lateks yang diberikan koagulan ekstrak nanas termasuk kategori sempurna sesuai karakteristik yang ditunjukkannya.

Tabel 4.    Rata-rata Hasil Pengamatan Tingkat Penggumpalan Lateks

Perlakuan

Tingkat penggumpalan(ml)

Kontrol

27.50

Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks

32.50

Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks

32.50

Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks

25.00

Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks

32.50

Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks

35.00

Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks

45.00

Perbedaan tingkat penggumpalan (koagulasi) lateks dari pemberian jenis koagulan ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan kerja enzim dan waktu lama koagulasi. Sesuai pendapat Harror dan Mazzur (1971), dalam BPTK-Bogor (2003) bahwa kecepatan hidrolisis enzim akan meningkat pada konsentrasi enzim yang lebih besar dan waktu yang lama. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan K hanya menyisakan 27,50 ml.l-1 lateks karena memerlukan waktu yang lama (8 jam) untuk terjadi koagulasi, dan aktifitas enzim yang bekerja untuk proses koagulasi tersebut menjadi lebih besar.  Utami (2010), menambahkan bahwa lamanya waktu kerja enzim juga mempengaruhi keaktifan kecepatan enzim akan meningkat dengan lamanya waktu reaksi.

 Bobot Latek dan Kadar Karet Kering (KKK) Koagulum

            Berdasarkan hasil analisis ragam bobot lateks dan KKK koagulum menunjukkan berpengaruh nyata. Rata-rata hasil pengamatan bobot lateks dan Kadar Karet Kering (KKK) dari pemberian beberapa jenis koagulan disajikan  pada Tabel 5.

Tabel 5, hasil uji beda rata-rata bobot lateks dan kadar karet kering (KKK) dengan BNJ 5% menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Pemberian semua jenis koagulan menunjukkan perbedaan nyata dengan tanpa diberi koagulan dalam menghasilkan bobot lateks dan KKK koagulum. Bobot atau isi lateks dari hasil akhir koagulasi yang diamati per bak perlakuan pada saat akhir pengamatan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks (K3) memiliki bobot lateks yang lebih rendah yaitu 880,00 gram, hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan ini terjadi proses koagulasi yang sempurna sehingga berat lateks menurun diakhir proses koagulasi. Kondisi ini didukung pula pada pengamatan akhir berupa kadar kering karet (KKK) koagulum yang lebih tinggi pada perlakuan K3 yaitu 90,80 % dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 2).

Tabel 5. Rata-rata Hasil Pengamatan Bobot Lateks dan Kadar Karet Kering (KKK)  Koagulum

Perlakuan

Bobot Lateks (g)

KKK Koagulum

(%)

Kontrol

1012.50 b

65.15 a

Ekstrak Gadung 15 ml.l-1 lateks

917.50 ab

75.36 ab

Ekstrak Gadung 20 ml.l-1 lateks

965.00 ab

79.41 ab

Ekstrak Nanas 15 ml.l-1 lateks

880.00 a

90.80 b

Ekstrak Nanas 20 ml.l-1 lateks

966.25 ab

78.52 ab

Asam Asetat 15 ml.l-1 lateks

936.25 ab

71.51 ab

Asam Asetat 20 ml.l-1 lateks

892.50 ab

69.50 ab

BNJ 0,05 %

132,05

25,38

Ket. :  Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada    kolom yang sama, berbeda nyata menurut BNJ 5 %   

Pemberian koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks (K3) merupakan dosis optimal sehingga hasil akhir pada pangamatan KKK koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 % dan ini lebih tinggi dari perlakuan lainnya yaitu di bawah 80 %. Penambahan jumlah dosis koagulan ekstrak nanas menjadi 20 ml.l-1 lateks (K4) tampaknya juga tidak meningkatkan KKK koagulum, sebalik justru menurunkan KKK koagulum yaitu hanya  78,52 %. Lebih baiknya perlakuan ekstrak buah nanas ini karena ekstrak buah nanas dapat menggumpalkan lateks menjadi lebih sempurna dibandingkan perlakuan lainnya karena selain mengandung asam-asam organik, buah nanas juga mengandung enzim bromelin. Menurut Nurhadiati (2002) buah nanas mengandung asam-asam organik seperti asam sitrat, asam malat dan asam oksalat serta enzim bromelin. Asam sitrat adalah asam hidroksil trikarboksilat (2 hidroksi 1,2,3-propana-trikarboksilat). Adanya asam sitrat dapat menurunkan pH lateks sampai titik isolistrik (pH 4,7), yang dapat menyebabkan partikel-partikel karet kehilangan muatan atau netral sehingga tidak terdapat lagi daya tolak partikel-partikel karet yang selanjutnya dapat menyebabkan terjadinya penggumpalan.

Gambar 2 Panji

 Gambar 2.        Kadar karet kering (KKK) koagulum dari pemberian beberapa jenis koagulan

Selain asam, enzim bromelin yang terkandung dalam buah nanas berperan dalam proses penggumpalan lateks. Protein dalam lateks yang berperan sebagai pemantap lateks akan terhidrolisis oleh enzim, sehingga partikel-partikel karet kehilangan muatan (Indrawati, 1983). Kuntoro (1979,) dalam Nurhadiati, 2002), mengemukakan bahwa enzim bromelin merupakan enzim proteolitik yang mampu memecahkan molekul-molekul protein asam amino. Enzim proteolitik sering disebut juga protease merupakan kelompok enzim yang menguraikan protein menjadi molekul yang lebih kecil.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan : terdapat perbedaan pembekuan lateks karet yang diberi koagulan ekstrak gadung, ekstrak nanas dan asam asetat (cuka). Koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks mampu melalukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna dengan kadar karet kering (KKK) koagulum yang lebih tinggi yaitu 90,80 %. 

SARAN

Koagulan ekstrak nanas 15 ml.l-1 lateks dapat disarankan penggunaannya untuk melakukan proses koagulasi lateks karet yang lebih baik sehingga menghasilkan koagulum yang sempurna.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk variabel-variabel yang lain sehingga dapat menggambarkan kualitas hasil karet yang optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2010. Statistik Karet Indonesia (Indonesian rubber statistic 2009). Hara Uli. Jakarta

Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah. 2010. Kalimantan Tengah Dalam Angka. BPS KAL-TENG, Palangka Raya

Balai Penelitian Getas – Salatiga, 2009. Sejarah dan Prospek Perkembangan Karet (http://www.balaipenelitiangetassalatiga.com). (artikel) (11 febuari 2011)

Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor (BPTKBogor) 2003. Produksi Karet Alam Berprotein Rendah dari Lateks Menggunakan Papain sebagai Penghidrolisis Protein http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/ 123456789/40500/Produksi%20KAret%20Alam%20Berprotein%20rendah.pdf?sequence=1 (jurna vol. 3 No.1)  (29 mei 2012)

Nurhadiati, A. 2002. Pemanfaatan Ekstrak Buah Nanas Sebagai Bahan Penggumpal Lateks. (Skripsi STP). Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. (http://repository.ipb.ac.id) (11 maret 2011)

Praharnatha, 2011. Tentang Karet. (http://xaveriusnatha.wordpress.com/2011/03/31/tentang-karet) (Blog) (29 Febuari 2012)

Utami, D.P. 2010. Pengaruh Penambahan Ekstrak Buah Nanas (Ananas comosus l. Merr) dan Waktu Pemasakan Yang Berbeda Terhadap Kualitas Daging Itik Afkir. (Skripsi SP). Jurasan/ Progam Studi Peternakan, Fakultas Pertanian.Universitas Sebelas Maret.Surakarta. (http://digilib.uns.ac.id) (11 maret 2011)



Volume 13 Nomor 2 September 2012 == EFEKTIFITAS DOSIS TRICHOKOMPOS AMPAS TAHU DAN PUPUK KANDANG == Pandriyani, Yanetri Asi Nion and Dito Ardian Hadi
7 September 2013, 12:46 pm
Filed under: Penelitian
EFEKTIFITAS DOSIS TRICHOKOMPOS  AMPAS TAHU DAN PUPUK KANDANG KOTORAN AYAM UNTUK MENEKAN  PENYAKIT Sclerotium rolfsii  PADA  TANAMAN CABAI DI TANAH GAMBUT
(Dosage Trichocompost of Tofu Dregs and Chicken Manure against Sclerotium rolfsii  on Chilli in Peat Soil)
Pandriyani, Yanetri Asi Nion and Dito Ardian Hadi
Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya
Korespondensi : yanetri.a.nion.@gmail.com

 ABSTRACT

A trial was conducted to determine the effectiveness and precise dosage of trichocompost of tofu dregs, chicken manure, mixture of tofu dregs and chicken manure to suppress Sclerotium rolfsii on chili seeds and to know its effect on seedling growth since September 2011 to February 2012. The design used was Complete Randomized Design (CRD).  Treatment and dosage Trichokompos (T) were without trichocompost (T0), with trichocompost tofu dregs of 250 g/polybag (T1a), trichocompost tofu dregs of 300 g/polybag (T1b) , trichocompost chiken manure of 250 g/ polybag (T2a), trichocompost chicken manure of 300 g/polybag (T2b), the combination of trichocompost tofu dregs + chicken manure (50%: 50%) of 250 g/polybag (T3a) and combinations trichocompost tofu dregs + chicken manure (50%: 50%) of 300 g/polybag (T3b). Each treatment was repeated three times. The results showed that application of trichocompost chicken manure and combination of tofu dregs and chicken manure suppressed S. rolfsii up to 66,7% on 5 weeks after inoculation. The best dose trichocompost to reduced S. rolfsii and improved plant growth such as plant height and diameter is 250 g/polybag trichompos from chickecn manure or combination of trichocompost tofu dregs + chicken manure.

Keywords: Chili, trichocompost, tofu dregs, chicken manure, Sclerotium rolfsii.

 

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan dosis yang tepat dari trichokompos berbahan ampas tahu,  pupuk kandang kotoran ayam, campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam dalam mengendalikan patogen Sclerotium rolfsii pada bibit cabai serta mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit cabai.  Penelitian telah dilakukan sejak September 2011 – Februari 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan dan dosis Trichokompos (T) terdiri dari:  tanpa trichokompos (T0), trichokompos berbahan ampas tahu dosis 250 g/polibag (T1a), trichokompos berbahan ampas tahu dosis 300 g/polibag (T1b), trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 250 g/polibag (T2a), trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 300 g/polibag (T2b), kombinasi trichokompos ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 250 g/polibag (T3a) dan kombinasi trichokompos ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 300 g/polibag (T3b), masing-masing 3 kali ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian trichompos pupuk kandang kotoran ayam dan trichokompos campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dapat menekan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii  hingga 66,67%  pada minggu kelima setelah inokulasi.  Dosis 250g trichokompos pupuk kandang  kotoran ayam atau trichokompos campuran ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam merupakan dosis yang terbaik dalam mengurangi serangan S. rolfsii dan dapat meningkatkan  pertumbuhan tanaman seperti tinggi dan diameter tanaman.

Kata Kunci : Cabai, trichokompos, ampas tahu, pupuk kandang kotoran ayam, Sclerotium rolfsii.

PENDAHULUAN

Cabai merupakan salah satu tanaman yang  memiliki nilai ekonomi yang penting di Indonesia dan menduduki urutan kedua setelah tanaman kacang-kacangan. Di wilayah Kalimantan Tengah khususnya Palangka Raya,  harga cabai dewasa ini pada Maret 2012  mencapai Rp 40.000 per kilogram (Palangka Raya, Kaltengpos.com).

Penanaman bibit cabai besar seringkali menghadapi banyak kendala, dalam meningkatkan produktivitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas.  Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu  penghambat dalam membudidayakan tanaman cabai. Salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman cabai adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii Sacc., serangan Sclerotium rolfsii  ini terjadi pada fase vegetatif awal  hingga tanaman berumur empat minggu dan menyebabkan kematian. Infeksi jamur ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil hingga 53,4% (Ferry and Dukes, 2005).   Jamur ini relatif sulit dikendalikan karena membentuk sklerotium yang mampu bertahan di dalam tanah dalam waktu yang lama  dan mempunyai banyak sekali inang (Min et al, 2009).

Menurut Daami-Remadi et al (2006),  jamur antagonis Trichoderma sp. sejauh ini telah teruji kemampuannya dalam mengendalikan jamur patogen tular tanah  seperti Rhizoctonia solani, S. rolfsii, Phytium spp., Stereum purpureum, Botrytis cinera, Phomopsip viticola dan Fusarium spp. Isolat-isolat lokal Trichoderma sp. asal Kalimantan Tengah memiliki kemampuan antagonis yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporumf.sp. cubense  secara in vitro (Mulyani, 2003).

 Tanah gambut memiliki potensi cukup besar sebagai alternatif pengembangan pertanian di Kalimantan Tengah, namun memiliki kendala sehubungan dengan tingkat kesuburannya yang rendah. Trichoderma sp merupakan jamur saprofit tanah yang mampu merombak bahan-bahan organik untuk digunakan sebagai  sumber nutrisinya.

Menurut Adeniyan et al. (2011), pupuk kandang kotoran ayam merupakan pupuk kandang yang mempunyai nutrisi lebih tinggi dibanding pupuk kotoran sapi, terutama kandungan N, P, Ca, dan Mg. Analisis kimia dalam penelitian mereka mendapati bahwa unsur hara pupuk kandang sapi dan ayam berupa C organik sebesar 13,5%;  15,1% berturut-turut, 1,30%; 2,21% unsur N, 0,58%; 2,98% unsur P, 2,15%; 2,05% unsur K, 0,99%; 3,28% unsur Ca, 0,52%; 1,06% unsur Mg, 129 ppm; 700 ppm unsur Zn dan 128 ppm; 180 ppm unsur Cu.

Pemberian pupuk kandang  dapat meningkatkan kemampuan dan aktivitas Trichoderma sp sebagai antagonis terhadap jamur S. rolfsii.  Cahyono (2007), mengemukakan bahwa penambahan bahan organik berupa pupuk kandang kotoran sapi pada tanah gambut pedalaman dapat meningkatkan peranan jamur Trichoderma sp, baik sebagai antagonis bagi penyakit tanaman juga sebagai dekomposer yang dapat meningkatkan daya dukung tanah sebagai media tumbuh yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

   Ampas tahu merupakan limbah dari pabrik tahu yang pada umumnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Komposisi ampas tahu tiap 100 g bahan mengandung kalori  393 kal, protein 17,4 g, lemak 5,9 g, karbohidrat 67,5 g,  mineral 4,3g, kalsium  19 g,  fosfor  29  g, besi 4,0 mg, vit. B  0,20 mg, dan  air  4,9 g (Suprapti, 2005) sehingga berpotensi sebagai bahan organik atau pupuk bagi tanaman. Pemanfaatan ampas tahu sebagai trichokompos masih belum diteliti apalagi pemanfaatannya sebagai alternatif pengendalian penyakit tular tanah seperti S. rolfsii pada cabai belum pernah dilakukan sebelumnya.

Tujuan penelitian:1) Mengetahui efektivitas trichokompos ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dalam mengendalikan penyakit S. rolfsii  tanaman cabai, 2) mengetahui dosis trichokompos berbahan ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam yang dapat  mengendalikan S. rolfsii  tanaman cabai.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan mulai bulan  September 2011 sampai Februari 2012. Penelitian  dilaksanakan di laboratorim  dan rumah plastik pada kebun  Jurusan Budidaya Pertanian,  Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

Alat yang digunakan dalam penelitian yaitu autoclave, laminar air flow, hand tally counter,cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, lampu Bunsen, pinset, plastik tahan panas, kertas minyak, tali, panci, kamera, jangka sorong dan terpal. Bahan yang digunakan adalah media Potato Dextrose Agar (PDA), benih cabai, aquades,  alkohol,  isolat jamur Trichoderma harzianum,  gula,  ampas tahu,  pupuk kandang kotoran ayam, dedak, tanah gambut, dolomit  dan polybag.

Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal pemberian dan dosis Trichokompos (T) yang terdiri  dari  7 perlakuan, yaitu: (T0) tanpa trichokompos, (T1a) trichokompos berbahan ampas tahu dosis 250 g/polibag, (T1b) trichokompos berbahan ampas tahu dosis 300 g/polibag, (T2a) trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 250g/polibag, (T2b) trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dosis 300g/polibag, (T3a) kombinasi trichokompos berbahan ampas tahu   + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 250 g/polibag, (T3b) kombinasi trichokompos berbahan ampas tahu + trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam (50% : 50 %) dosis 300 g/polibag.  Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 21 satuan percobaan, dimana  penempatan satuan percobaan dilakukan secara acak.

Variabel yang diamati dalam penelitian sebagai berikut:

  1. Intensitas serangan dihitung dengan  menggunakan  rumus (Djatmiko dkk,. 2000):

Rumus PandriKeterangan:

IP : intensitas penyakit,

n  : jumlah tanaman yang bergejala,

z   : nilai skor gejala,

N : jumlah total tanaman yang diamati, dan

Z  : nilai skor gejala tertinggi.

Gejala penyakit busuk batang diamati pada pangkal batang dengan memberi nilai skor :

0 =   tanaman sehat,

1 = gejala nekrosis dengan luasan ½ lingkar batang,  

2 = gejala nekrosis dengan luas  ½- ¾ lingkaran batang,

3 =  gejala nekrosis telah melingkari batang, bercak cokelat telah meluas, dan kulit batang kadang-kadang sobek,

4 = batang yang terserang mulai terkulai dan sebagian daun layu,

5 = tanaman mati

2.   Efektivitas Antagonis

Efektivitas antagonis dihitung menggunakan rumus menurut      Sukamto (2003) :

Rumus Pandri1Keterangan :

Ea   =   Efektivitas antagonis

IPk  =  Intensitas penyakit pada kontrol (tanpa perlakuan)

IPp  =  Intensitas penyakit dengan perlakuan

Nilai keefektifan dikategorikan sebagai berikut : Ea > 69% = sangat baik; Ea = 50-69% = baik; Ea = 30-49% = kurang baik; Ea = < 30% = tidak baik (Sukamto, 2003).

3.    Jumlah sklerotia  dihitung pada minggu kelima dengan metode wet sieving technique  (Punja et al., 1985).  Dengan cara pengambilan semua tanah yang berada di dalam polybag, kemudian tanah dicuci dengan ayakan 600 µm.  Hasil ayakan dikeringanginkankan dan sklerotia dihitung menggunakan hand tally counter.

4.   Untuk mengetahui efek dari trichokompos pada tanaman, dilakukan pengamatan pendukung berupa :

a. Tinggi tanaman (cm), diukur dari pangkal  batang tanaman sampai bagian ujung tajuk tanaman pada umur 2, 3, 4, dan 5  minggu setelah inokulasi (msi).

b.  Diameter batang (cm), diukur dengan menggunakan jangka sorong pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi.

 Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan analisa ragam (uji F) pada taraf kepercayaan 5%, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji nilai tengah menggunakan uji BNJ pada taraf kepercayaan 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Penyakit Tanaman dan Jumlah Sclerotia pada Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan pada tanaman cabai umur 1-2 mst, perlakuan yang tidak diberi trichokompos (kontrol) menampakkan gejala nekrotik pada batang tanaman dengan luas ½ – ¾ pangkal batang kemudian tanaman rebah dan mati.  Semangun (2001), menyatakan bahwa penyakit busuk pangkal batang disebabkan cendawan S. rolfsii, gejala serangan pada tanaman tampak pada umur 1-4 minggu.  Diawali gejala nekrotik dengan warna coklat muda pada pangkal batang yang terserang dan membusuk, menjadi layu sehingga tanaman mudah rebah.

Perlakukan Trichokompos berbahan ampas tahu (T), pupuk kandang kotoran ayam  (T2) dan Trichokompos berbahan campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam (T3) menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap intesitas serangan S. rolfsii pada bibit tanaman cabai pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi, demikian pula terhadap jumlah skelerotia yang diamati pada umur 5 msi (Tabel 1).

Pemberian trichokompos berbahan ampas tahu (pada perlakuan T1a dan T1b) tampaknya kurang mampu dalam menekan serangan serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii pada tanaman cabai dibandingkan trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam, ini terlihat dari intensitas serangan pada T1a dan T1b masing-masing sebesar 33,33% dan  100% (Tabel 1).

Kurang mampunya trichokompos berbahan ampas tahu dalam menekan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii karena kadar air dari trichokompos berbahan ampas tahu tersebut masih tinggi yaitu rata-rata mencapai 69,60%, hal ini diduga menyebabkan perkembangan dari cendawan Trichoderma sp. yang terkandung dalam trichokompos menjadi terhambat sehingga fungsi antagonisnya untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman cabai menjadi tidak efektif.  Tidak efektifnya  trichokompos ampas tahu dikarenakan bahan yang mempunyai kadar lemak yang tinggi dan diduga membuat pertumbuhan Trichoderma pada bahan ampas tahu tidak dapat berkembang dengan baik hal ini diperlihatkan pada umur  2, ,3 4, 5 msi (Tabel 1).

Tabel 1.    Rata-rata intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang   pada tanaman cabai oleh S. rolfsii pada umur 2, 3, 4, dan 5 msi yang telah diberi perlakukan Trichokompos campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam dan jumlah rata-rata sclerotia pada tanaman cabai oleh S. rolfsii pada umur 5 msi.

Perlakuan

Intensitas Serangan Pada Umur (MSi)

2

3

4

5

Jumlah Sklerotia

T0

100,00b

100,00 b

100,00 b

100,00 b

28,67 c

T1a

33,30 a

33,33 ab

33,33ab

33,33 ab

3,33 ab

T1b

100,00b

100,00 b

100,00 b

100,00 b

9,67 b

T2a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T2b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T3a

0,00 a

33,33 ab

33,33 ab

33,33 ab

3,33 ab

T3b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

0,00 a

BNJ 5%

5,67

8,02

8,02

8,02

2,85

Keterangan :   Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama, dinyatakan berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Pemberian Trichokompos pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap tanaman hal ini karena kandungan unsur hara pada pupuk kandang kotoran ayam sangat lengkap (Adeniyan et al. 2011). Unsur hara berguna  untuk pertumbuhan Trichoderma sp., dan yang paling besar pengaruhnya adalah  kadar air.  Menurut Soetopo dan Endang (2008), kadar air optimum untuk bahan-bahan yang digunakan sebagai medium pertumbuhan mikroba aerobik seperti Trichoderma sp. dalam proses pengomposan adalah 50 – 60 %.  Kelebihan kadar air seperti pada bahan kompos ampas tahu akan menutupi rongga udara dalam bahan yang dikomposkan sehingga kadar oksigen berkurang, hal ini akan berakibat terhadap terhambatnya aktivitas  Trichoderma sp. tidak dapat berkembang dengan baik.  Nilai  pH yang  rendah dapat juga mempengaruhi perkembangan Trichoderma sp. sehingga tidak optimal. Pertumbuhan optimal untuk Trichoderma sp bervariasi, misalnya T. virens antara 5,0-7,0 (Hamzah et al., 2012), sedang pertumbuhan terbaik T. harzianum pada kisaran pH 7,0-8,0 (Hasanzadeh et al., 2012).

Secara statistik tidak ada perlakuan nyata antara perlakuan Trichokompos pupuk kandang ayam dosis 250 g  dengan 300 g  untuk menekan penyakit, dimana kedua perakukan ini ternyata efektif  menekan serangan penyakit.

Perbedaan nyata terhadap intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii antara tanaman cabai yang tidak diberi (kontrol) dengan yang diberi trichokompos spp menunjukkan bahwa Trichoderma sp. yang terkandung dalam trichokompos dapat berperan aktif sebagai pengendali patogen tular tanah seperti penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii.  Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sarwono dkk (2010), dimana pemberian trichokompos mampu menekan penyakit layu Fusarium sp. pada tanaman cabai rawit hingga 78,08 %. Pengendalian penyakit tersebut terjadi karena  Trichoderma sp. memiliki mekanisme antagonis terhadap penyakit tular tanah. yaitu berupa kompetisi, mikoparasit dan antibiosis.  Menurut Elfina dkk. (2001), bahwa mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma sp. dapat berupa kompetisi, mikoparasitisme dan antibiosis.  Peran mikoparasitisme karena Trichoderma sp. menghasilkan enzim litik, terutama kitinase dan ß 1-3 glukanase yang dapat mengakibatkan lisisnya dinding sel jamur patogen seperti S. rolfsii.

Antibiotik yang dihasilkan Trichoderma spp.  Yaitu Gliotoxin dan Viridi, dimana antibiotic yang dihasilkan dapat menekan intensitas penyakit yang disebabkan oleh S. rolfsii dan R. solani pada tanaman buncis, kapas dan tomat.  Antibiotika Viridin yang dihasilkan Trichoderma spp. tahan dalam tanah yang bereaksi asam seperti tanah gambut (Prayudi dkk., 2000; Widyastuti dkk, 2002;  ).

Rata-rata jumlah  sklerotia S. rolfsii yang diamati pada umur 5 msi menunjukkan bahwa tanpa pemberian trichokompos (kontrol) menunjukkan jumlah sklerotia terbanyak rata-rata 28,67 butir yang berbeda nyata dibanding  perlakuan lain dengan rata-rata jumlah sklerotia <10 butir, atau bahkan sama sekali tidak ditemukan sklerotia (Tabel 1).  Hal ini membuktikan bahwa tanpa pemberian trichokompos yang mengandung jamur antagonis Trichoderma sp., pada lingkungan yang lembab jamur S.rolfsii dapat menyebabkan infeksi serangan menjadi lebih berat.  Banyaknya jumlah sklerotia sesuai dengan tingkat intensitas serangan penyakit yang terjadi di lapangan, dimana semakin banyak sclerotia menyebabkan semakin tinggi intensitas serangan (Tabel 1).

Tingginya tingkat serangan dibuktikan dengan ditemukannya sklerotia pada tanah sekitar tanaman yang merupakan struktur dorman dari kumpulan miselium S. rolfsii.  Menurut Semangun (2001), pada lingkungan yang lembab cendawan S. rolfsii dapat mendorong pembentukan  miselium putih seperti bulu pada pangkal batang dan permukaan tanah di sekitarnya,   selanjutnya  miselium ini berkembang menjadi  butir-butir kecil, bulat atau lonjong  mula-mula berwarna putih, kemudian menjadi coklat  yang disebut  sklerotium.

 

Efektivitas Antagonis

Secara umum trichokompos menunjukkan efektivitas antagonis yang sangat baik dalam menekan penyakit busuk pangkal oleh S. rolfsii tanaman cabai pada umur 1, 2, 3, 4, dan 5 msi (Tabel 2)

Tabel 2.    Efektivitas antagonis Trichoderma sp terhadap penyakit busuk pangkal batang oleh S. rolfsii pada tanaman cabai 1, 2, 3, 4, dan 5 msi

Perlakuan

Efektivitas Antagonis/Ea (%)

Rata-rata

Kategori Keefektifan *)

2 msi

3 msi

4 msi

5 msi

T1a

66,67

66,67

66,67

66,67

66,67

Baik

T1b

0,00

0,00

0,00

0,00

20,00

tidak baik

T2a

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

T2b

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

T3a

100,00

66,67

66,67

66,67

75,00

sangat baik

T3b

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

sangat baik

Keterangan :           Nilai keefektifan dikategorikan sebagai berikut : Ea > 69% = sangat baik; Ea = 50-69% =  baik; Ea = 30-49% = kurang baik; Ea = < 30% = tidak baik (Sukamto, 2003).

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa perlakuan pemberian trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dan ampas tahu pada dosis yang lebih rendah (T2a, T2b dan T1a), demikian pula campuran keduanya (T3a dan T3b) menunjukkan kategori tingkat efektivitas antagonis yang sama, yaitu baik yaitu 66,67%, 75,00 % dan 100%.  Menurut Sukamto (2003), rata-rata efektivitas antagonis (Ea) = 50-69% termasuk kategori baik dan Ea > 69 % termasuk kategori sangat baik.

Tingginya kadar lemak yang terkandung pada bahan ampas tahu (T1) menyebabkan pertumbuhan yang kurang baik sehingga  keefektivan antagonis Trichoderma sp. menunjukan respon yang tidak maksimal, terbukti terdapat tanaman yang mati terserang  S. rolfsii, sehingga nilai efektivitas  antagonis  pelakuan T1  kurang baik dengan rata-rata  nilai efektivitas 20 %.  Menurut Sukamto (2003), apabila nilai rata-rata efektivitas antagonis (Ea) < 30 % termasuk kategori kurang  baik.

Efektivitas trichokompos tinggi karena pertumbuhan Trichoderma sp tersebut lebih cepat dibandingkan S. rolfsii sehingga Trichoderma sp dapat dengan mudah memperoleh nutrisi, ruang dan tempat tumbuh.

Tinggi efektivitas antagonis Trichoderma sp dalam menghambat perkembangan S. rolfsii didukung dari hasil uji invitro dari penelitian sebelumnya.  Hasil penelitian Supriati dkk (2010), lima isolat Trichoderma sp asal Kalimantan Tengah yang dicobakan (Isolat Plk, Pps1, Kps7, Kps8, dan Kps14) mempunyai kemampuan antagonis yang sama dalam menghambat perkembangan koloni dan terbentuknya skelerotia S.rolfsii.  Kemampuan antagonis tertinggi terdapat pada isolat Pps1 dengan daya penghambatan sebesar 51,49%.

Kondisi Pertumbuhan Tanaman

Variabel pertumbuhan bibit tanaman cabai yang diamati dari perlakuan pemberian trichokompos yaitu tinggi tanaman dan diameter batang. Pemberian Trichokompos berbahan pupuk kadang dan Trichokompos berbahan campuran ampas tahu pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan pengaruh nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman pada umur 3 msi tetapi pada umur 4 dan 5 msi tdk berpengaruh nyata, sedangkan pengaruhnya terhadap diameter batang juga berpengaruh nyata sejak umur 3-5 msi  (Tabel 3).    Tidak berpengaruhnya pemberian trichokompos terhadap rata-rata tinggi tanaman pada umur 4 dan 5 msi dan hanya berpengaruh nyata pada umur 3 msi, sedangkan terhadap diameter batang berpengaruh nyata dari umur 3-5 msi, diduga karena efek Trichoderma sp yang terkandung dalam trichokompos berpengaruh secara langsung terhadap penghambatan serangan S. rolfsii  yang menyerang pangkal batang tanaman.  Pangkal batang yang telah diberi trichokompos akan dilindungi (atau akan terhindar dari serangan S. rolfsii) oleh Trichoderma sp. sehingga perkembangan diameter batang tanaman cabai lebih cepat, hal ini secara nyata dapat dilihat dari umur 3-5 msi. Sedangkan pengaruh trichokompos tampaknya tidak secara langsung terhadap tinggi tanaman cabai, namun pengaruh nyata hanya diperlihatkan dengan tinggi tanaman umur 3 msi setelah itu pada umur 4 dan 5 msi tidak terjadi pengaruh yang nyata.  Hal ini dapat dilihat pada rata-rata pertambahan tinggi tanaman dari umur 3 ke 4 dan 4 ke 5 msi memang tidak sebesar rata-rata pertambahan diameter batang pada umur yang sama (Tabel 3).

Pemberian trichokompos mengandung Trichoderma sp. mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi, ini dapat dilihat dari pertambahan diameter batang tanaman cabai (Tabel 3).  Hal ini dapat terjadi karena selain mampu menekan pertumbuhan patogen S. rolfsii di rizosfer perakaran tanaman cabai, Trichoderma sp. menghasilkan enzim pengurai yang menguraikan bahan organik  (selulosa) dan lebih berperan pada kondisi asam  dibanding bakteri dan actinomyctes menjadi hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya (Lestari dan Indrayati, 2000).  Dalam proses perombakan bahan organik oleh Trichoderma sp. ini akan dilepaskan hara yang terikat dalam senyawa komplek menjadi senyawa tersedia terutama unsur N, P, dan S.  Meningkatnya ketersediaan unsur hara pada tanah gambut akibat diberikann trichokompos.Tersedianya hara-hara tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik yang ditunjukan dengan meningkatnya diameter batang pada umur 3, 4 dan 5 msi.

Trichokompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam mempunyai kelebihan yaitu selain mengandung Trichoderma sp., juga mengandung sejumlah unsur hara yang diperlukan tanaman.  Menurut Balai Pengkajian Teknologi Jambi (2009), kandungan hara trichokompos yang berbahan pupuk kandang kotoran ayam mengandung 1,00 % N, 9,5 % P dan 0,3 % K.  Untuk pertumbuhan tanaman khususnya fase vegetatif seperti pertumbuhan tinggi tanaman dan pertambahan diameter batang,  tersedianya unsur nitrogen (N) sangat dominan diperlukan. Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), ketersediaan unsur nitrogen adalah penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia pada tanaman.

Unsur fosfor (P) berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman  (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Tabel 3.    Pengaruh pemberian trichokompos terhadap rata-rata tinggi tanaman dan diameter batang cabai umur 2, 3, 4,  dan 5 msi.

Perlakuan

Tinggi Tanaman (cm)

2 msi

3 msi

4 msi

5 msi

T0

0,00

0,00 a

0,00

0,00

T1a

13,00

14,00 b

16,00

18,00

T1b

0,00

0,00 a

0,00

0,00

T2a

16,33

20,67 b

23,00

25,00

T2b

17,33

21,33 b

23,33

25,33

T3a

16,33

21,00 b

24,00

27,00

T3b

12,33

14,00 b

19,00

24,67

BNJ 5%

-

7,77

-

-

Diameter Batang (cm)

T0

0,00

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T1a

0,12

0,15 b

0,19 b

0,23 b

T1b

0,00

0,00 a

0,00 a

0,00 a

T2a

0,13

0,24 c

0,39 c

0,43 c

T2b

0,13

0,25 c

0,38 c

0,41 c

T3a

0,12

0,22 c

0,40 c

0,43 c

T3b

0,13

0,22 c

0,36 bc

0,39 c

BNJ 5%

-

0,06

0,17

0,14

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda, dinyatakan berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %

KESIMPULAN

1.   Pemberian trichompos berbahan pupuk kandang kotoran ayam dan tichokompos berbahan campuran ampas tahu dan pupuk kandang kotoran ayam  dapat menekan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang S. rolfsii  sampai 66,67% hingga minggu ke-5 msi, efektivitas antagonis terbaik mulai minggu ke-2 sampai ke-5, dengan  kategori  sangat baik pada nilai kategori kefektifan (Ea) > 69%.  Rata-rata jumlah  sklerotia S. rolfsii yang diamati umur 5 msi menunjukkan bahwa tanpa pemberian trichokompos (kontrol) menunjukkan jumlah sklerotia yang terbanyak rata-rata 28,67 butir, dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lain dengan rata-rata <10 butir bahkan tidak ditemukan sklerotia.

2.   Dosis 250g trichokompos pupuk kandang  kotoran ayam atau trichokompos campuran ampas tahu + trichokompos pupuk kandang kotoran ayam merupakan dosis yang terbaik dalam mengendalikan serangan S. rolfsii dan dapat meningkatkan  pertumbuhan tanaman seperti tinggi dan diameter tanaman.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan dicoba media alternatif lain selain ampas tahu untuk bahan trichokompos dengan catatan bahwa kadar air harus diperhatikan karena mempengaruhi aktivitas Trichoderma sp.  dalam pengomposan.

DAFTAR PUSTAKA

Adeniyan, O. N., A.O. Ojo, O.A. Akinbode, and Adediran J. A. 2011. Comparative study of different organic manures and NPK fertilizer for improvement of soil chemical properties and dry matter yield of maize in two different soils. J. Soil Sci. Environ. Manage. 2: 9-13.

Balai Pengkajian Teknologi Jambi.  2009.  Pemanfaatan Trichokompos pada Tanaman Sayuran.  Buletin Agro Inovasi.  BPTP Jambi.

Cahyono, A.  2007.  Respon Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Sapi dan Trichoderma sp pada Tanah Gambut Pedalaman.  Skripsi.  Fakultas Pertanian Unpar.  Palangka Raya.

Daami-Remadi, M. K. Hibar, H. Jabnoun-Khiareddine, F. Ayed and M. El Mahjoub. 2006. Effect of two Thrichoderma species on severity of potato tuber dry rot caused by Tunisian Fusarium complex. Int. J. Agric. Res., 1: 432-441.

Djatmiko, H.A., Kharisun, dan N. Prihatiningsih. 2000. Potensi Trichoderma harzianum, Pseudomonas fluorescens dan Zeolit Terhadap Penekanan Layu Scelrotium, Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Kedelai.

Elfina, Y., Mardinus, T. Habazar, dan A. Bachtiar.  2001.  Studi Kemampuan Isolat-isolat Jamur Trichoderma sp. yang Beredar di Sumatera Barat untuk Pengendalian Jamur Patogen Sclerotium rolfsii pada Bibit Cabai.  Dalam  Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah PFI.  Bogor, 22-24 Agustus 2001.

Fery, R.L.  and P. D. Dukes. 2005. Potential for utilization of pepper germplasm with a variable reaction to Sclerotium rolfsii Sacc.to develop southern blight-resistant pepper (Capsicum annuum L.) cultivars,” Plant Genetic Resources, vol. 3, no. 3, pp. 326–330.

Hamzah, A., M.A. Zarin, A.A. Hamid, O. Omar and S. Senafi. 2012. Optimal physical and nutrient parameters for growth of Trichoderma virens ukmp-1m for heavy cruide oil degradation. Sains Malaysiana, 41:71-79.

Hasanzadeh, M., M. Hohammadifar, N. Sahebany, and H.R. Etebarian. 2012. Effect cultural condition on biomass of some nematophagous fungi as biological control agent. Egypt. Acad. J. Biolog. Sci. 5:115-126.

Hindersah, R dan T. Simarmata.  2004.  Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanahwww. unri. ac. id.  02 Februari 2011                         

http://www.kaltengpos.web. di akses pada tanggal 13 maret 2012.

Lestari, Y. dian L. Indrayati.  2000.  Pemanfaatan Trichoderma dalam Mempercepat Perombakan Bahan Organik pada Tanah Gambut. Dalam Prosiding Seminar Hasil Peneltian Tanaman Pangan Lahan Rawa.  Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Min, J.M., K.S. Kim, S.W. Kim, J.H. Jung, K. Lamsal, S. B. Kim, M.Jung and Y.S. Lee. 2009. Effects of Colloidal Silver Nanoparticles on Sclerotium-Forming Phytopathogenic Fungi. Plant Pathol. J. 25: 376-380.

Mulyani, R.B. 2003. Aplikasi Trichoderma Isolat PLK-1 dan Waktu Inkubasi Pupuk Kandang Ayam di Tanah Gambut  untuk Pegendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang Jagung Manis.

Prayudi. B., A. Budiman, M. A. T. Rystham dan Y. Rina. 2000. Trichoderma harzianum Isolat Kalimantan Selatan Agensia Pengendali Hawar Pelepah Daun Padi dan Layu Semai Kedelai di Lahan Pasang Surut. Hlm. 191-294. Dalam Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Banjar Baru.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono.  2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius.  Yogyakarta.

Sarwono, S. Purnomo, E. Korlina, W. Istuti, dan DW. Astuti.  Kaji Terap Cendawan Antagonis Trichoderma sp Terhadap Penyakit Layu pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescent).  Abstrak.  BPTP Jawa Timur.

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soetopo, R.S. dan Endang RCC.  2008.  Efektivitas Proses Pengomposan Limbah Sludge IPAL Industri Kertas Dengan Jamur.  Berita Selulosa Vol. 43(2), hal. 93-100.http://www.bbpk.go.id. Diakses tanggal 21 Februari 2012.

Suprapti, M. L. 2005. Pembuatan Tahu. Kanisius: Yogyakarta.

Supriati, L., R.B. Mulyani, dan Y. Lambang.  2010.  Kemampuan Antagonisme Beberapa Isolat Trichoderma sp. Indigenous Terhadap Sclerotium rolfsii Secara In Vitro.  Agroscientiae No. 3 Vol. 17.  www.faperta.unlam.ac.id.  Diakses tanggal 21 Februari 2012.

Sukamto, S. 2003. Pengendalian Secara Hayati Penyakit Busuk Buah Kakao dengan Jamur Antagonis Trichoderma harzianum. Dalam Prosiding Kongres Nasional XVII dan Seminar Ilmiah PFI, Bandung 6-9 Agustus 2003. Hal: 134 – 137.

Widyastuti. S. M., Sumardi, Irfa’i dan H. H. Murjanto. 2002. Aktivitas Penghambatan Trichoderma spp. Formulasi Terhadap jamur Patogen Tular Tanah Secara In Vitro. 8: 27-34.



Volume 13 Nomor 2 September 2012 ==PENGARUH PEMUPUKAN PHONSKA DAN PUPUK KANDANG AYAM == Shella AJW
7 September 2013, 12:34 pm
Filed under: Penelitian

PENGARUH PEMUPUKAN PHONSKA DAN PUPUK KANDANG AYAM TERHADAP HASIL MENTIMUN (Cucumis sativus, L.) PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

(The Effects of  Phonska  and Chicken Manure Fertilization on Yield of Cucumber (Cucumis sativus, L.) on Red Yellow Podzolic Soils)

Shella, A.J.W.*)

*) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya

ABSTRACT

This research aimed to know the influence of the Phonska and chicken manure fertilization to result of Cucumber crop of Varietas Hercules on red yellow podzolic soils. This research used the Complete Random Device factorial. The first factor is dose of fertilize the Phonska, consisted of three level, that are 450, 900 and 1.350 kg ha-1. Second factor is dose of fertilize the chicken manure, consisted of four level, that are 5,10,15 and 20 t ha-1. The result of research indicated that the interaction fertilize the Phonska with the chicken  manure no have an significant effect to all variables. Single factor of fertilization the Phonska have an significant effec to amount of fruit and fresh fruit weight, in contrast to length and fruit diameter. Dose fertilize the Phonska 1.350 kg ha-1 gave the best result, that is amount of fruit 5,43 fruit.crop-1 and fresh fruit weight 557,53 g crop-1. Fertilization of chicken manure have an significant effect to increase of the amount of fruit and fresh fruit weight, in contrast to length and fruit diameter. Dose fertilize the chicken  manure 20 t ha-1 gave the best result that is amount of fruit 4,76 fruit crop-1 and fresh fruit weight 654,17 g crop-1

Key words  : Cucumber, Phonska  fertilizer, Chicken manure, Red yellow podzolic soils

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam terhadap hasil tanaman Mentimun varietas Hercules pada tanah Podsolik Merah Kuning. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial yaitu faktor pertama adalah dosis pupuk Phonska  dengan tiga taraf yaitu 450, 900 dan 1.350 kg ha-1 dan faktor kedua adalah dosis pupuk kandang ayam terdiri dari empat taraf yaitu 5, 10, 15, dan 20 t ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pupuk Phonska dengan pupuk kandang ayam tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Faktor tunggal dosis pupuk Phonska berpengaruh nyata terhadap jumlah buah dan berat buah segar tapi sebaliknya pada panjang dan diameter buah. Dosis pupuk Phonska 1.350 kg ha-1 memberikan hasil terbaik yaitu jumlah buah 5,43 buah.tanaman-1  dan berat buah segar 557,53 g tanaman-1. Pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan jumlah buah dan berat buah segar, dan sebaliknya pada panjang dan diameter buah. Dosis pupuk kandang ayam 20 ton.ha-1 memberikan hasil terbaik yaitu jumlah buah 4,76 buah tanaman-1 dan berat buah segar 654,17 g tanaman-1.

Kata Kunci : Mentimun, pupuk Phonska, Pupuk Kandang Ayam, Tanah  Podsolik Merah Kuning

 PENDAHULUAN

Berdasarkan data dari Kalimantan Tengah dalam Angka (2010), produksi dan kualitas mentimun di KalimantanTengah, khususnya Kota Palangka Raya masih sangat rendah. Pada tahun 2008 jumlah produksi hanya 410,06 ton, sedangkan pada tahun 2009 terdapat peningkatan jumlah produksi menjadi 1416,36 ton. Walaupun demikian kebutuhan mentimun masih kurang untuk dikonsumsi dan sebagian kekurangannya didatangkan dari daerah lain misalnya dari Kalimantan Selatan dan pulau jawa.  Memperhatikan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap buah mentimun, maka pengembangan secara intensif perlu dilakukan, termasuk memanfaatkan lahan-lahan tidur seperti tanah marjinal dan podsolik merah kuning.

Kalimantan Tengah memiliki luas wilayah ± 15.356.000 hektar,  dari luas tersebut, tanah podsolik merah kuning asosiasi dengan tanah podzol menempati luas 6.477.264 hektar, 42.18%  yang tersebar di kabupaten dan wilayah kota (Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah, 2007).  Tanah Podsolik Merah Kuning memiliki lapisan solum tanah yang agak tebal, yaitu dari 90-180 cm dengan batas-batas antara horizon yang nyata. Warna tanah ini kemerah-merahan hingga kuning atau kekuning-kuningan. Struktur B horizonnya adalah gumpal, sedangkan teksturnya dari lempung berpasir hingga liat sedangkan kebanyakannya adalah lempung berliat. Konsistensinya adalah gembur di bagian atas (top-soil) dan teguh di lapisan tanah bawah (sub-soil). Kandungan bahan organik pada lapisan olah (top-soil) adalah kurang dari 9 persen, umumnya sekitar 5 persen. Kandungan unsur hara tanaman seperti N, P, K, dan Ca umumnya rendah dan reaksi tanahnya sangat rendah, yaitu antara 4,0 sampai 5,5 (Sarief, 1989). Secara umum kondisi tanah Podsolik Merah Kuning dengan KB rendah dengan tingkat status KTK yang manapun (apakah KTK tinggi, sedang apalagi rendah), kondisi ini kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman karena menggambarkan bahwa unsur hara basa-basa terutama Ca, Mg, dan K masih relatif  sulit tersedia bagi tanaman (Widjaja Adhi, 1986). Sebaliknya kation-kation asam terutama H dan Al sangat dominan dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman.

Pemupukan merupakan upaya untuk mencapai kebutuhan unsur hara bagi tanaman yang dapat meningkatkan produktivitas tanah dan produksi tanaman. Alternatif yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanah podsolik yang diketahui mempunyai sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, dalam penelitian ini adalah pupuk Phonska dan pupuk kandang kotoran ayam. Menurut  Sutedjo (1995), bahan organik seperti pupuk kandang  kotoran ayam merupakan sumber  unsur hara, yaitu dengan adanya  dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme  tanah yang berlangsung secara lamban, akan tetapi terus menerus. Pupuk organik sangat baik untuk memperbaiki kesuburan tanah podsolik karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.  Pupuk organik  yang kaya unsur hara makro dan mikro  adalah pupuk kandang ayam. Sedangkan pupuk anorganik seperti  pupuk Phonska diperlukan sebagai sumber untuk menambah unsur hara makro yaitu N, P, K dan S, serta unsur mikro lainnya.

Berdasarkan hal tersebut  di atas maka penelitian tentang pengaruh pemupukan pupuk Phonska dan pupuk kandang kotoran ayam perlu untuk diteliti.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah sulitnya penyerapan pupuk oleh tanaman bila menggunakan pupuk yang melalui daun, serta dapat membantu mengatasi  permasalahan yang ada, terutama dari segi fisika tanah dan kimia tanah disamping itu juga ikut mengembangkan konsep pertanian yang berkelanjutan di lahan Podsolik Merah Kuning.

Dengan penambahan hara  dari pupuk Phonska dan kotoran ayam  pada tanah podsolik Merah Kuning, diharapkan dapat meningkatkan produksi  tanaman mentimun secara khusus pada tanah Podsolik Merah Kuning.

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hasil tanaman mentimun yang diberi pupuk Phonska dan pupuk kotoran ayam pada tanah Podsolik Merah Kuning.

BAHAN DAN METODE

            Penelitian dilaksanakan di rumah plastik berlokasi di Jl. Pilau, Kelurahan Panarung Kota Palangka Raya pada bulan  Maret –  Juni  2012.  Lokasi pengambilan tanah adalah di  Jl. Tjilik Riwut Km. 29, Kec. Bukit Batu  Kota Palangka Raya.

            Bahan–bahan yang digunakan dalam penelitian adalah tanah Podsolik Merah Kuning, plastik, benih mentimun  varietas Herkules, polybag ukuran 25 x 40 cm (volume 12 kg), pupuk kandang ayam dan  pupuk Phonska 20-15-15. Alat yang digunakan adalah parang, cetok, tali rafia, ember, neraca ohaus, kamera, hand sprayer, jangka sorong, kertas label, kayu, plastik, ayakan  ukuran 2 mm dan alat tulis.

            Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah pupuk Phonska (P)  terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu 450 kg P2O5.ha-1 =  2,70 g polybag-1;  900 kg P2O5.ha-1 =  5,40 g polybag-1; 1.350 kg P2O5.ha-1 =  8,10 g polybag-1. Faktor kedua adalah  pupuk kandang  kotoran  ayam  (K) terdiri  dari 4 taraf, yaitu :  5 t ha-1   =  22,5 g polybag-1; 10 t ha-1 =  45,0 g polybag-1; 15 t ha-1 =  67,5 g polybag-1; 20 t ha-1 =  90,0 g polybag-1.

Berdasarkan taraf-taraf yang dicoba dari kedua faktor perlakuan tersebut maka diperoleh 12 kombinasi perlakuan. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 4 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan.

Pelaksanan penelitian

Tanah Podsolik sebagai media tanam diambil pada kedalaman 0–20 cm. Kemudian dikeringanginkan selama 1 minggu dan dibersihkan dari sisa – sisa tanaman berupa akar. Selanjutnya diayak dengan menggunakan ayakan berdiameter lubang lolos butiran ≤ 2 mm dan ditimbang 12 kg untuk setiap polibag.

Tanah yang telah ditimbang tersebut dihamparkan di atas karung plastik dan ditambahkan pupuk kandang ayam sesuai perlakuan.  Tanah dan pupuk kandang ayam dicampur secara merata, selanjutnya dimasukkan ke dalam polybag dan diinkubasi 1 minggu. Sebelum penanaman terlebih dahulu dibuat lubang tanam dengan kedalaman ± 3 cm. Setiap lubang tanam diisi dua benih mentimun.

Pupuk Phonska diberikan sesuai perlakuan melalui 2 tahap, yaitu 1/4 bagian diberikan pada saat tanam dan 3/4 bagian lagi diberikan pada saat tanaman berumur 4 MST. Pemeliharaan dilakukan secara intensif meliputi penyiraman, penjarangan tanaman, pengajiran, penyiangan, pemangkasan serta pengendalian hama dan penyakit.

Panen dilakukan pada umur tanaman  40 hari setelah tanam. Kriteria  panen yaitu buah yang besar tetapi belum tua, dicirikan dengan kulit buah berwarna hijau gelap.  Panen dilakukan 3 hari sekali sebanyak 5 kali panen, dengan cara memetik tangkai buah menggunakan pisau tajam.

Pengamatan dilakukan terhadap komponen generatif  meliputi variabel:

  1. Jumlah buah per tanaman (buah), dihitung saat panen (kumulatif jumlah buah dari 5 kali panen).
  2. Panjang buah (cm), diukur dari pangkal buah sampai ujung buah menggunakan penggaris.  Buah yang diukur adalah semua buah hasil panen pada setiap perlakuan kemudian dirata-ratakan.
  3. Diameter buah (cm), diukur dengan jangka sorong yaitu mengukur pada bagian ujung, bagian tengah dan bagian pangkal buah kemudian dirata-ratakan.
  4. Berat buah segar per tanaman (g) ditimbang saat panen (kumulatif berat segar buah dari 5 kali panen) menggunakan timbangan ohaus.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan, data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Uji F pada taraf a = 5%. Apabila perlakuan memberikan pengaruh nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji nilai rata-rata menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf a = 5 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap jumlah buah, panjang buah, diameter buah dan dan berat buat segar buah  mentimun, diketahui bahwa interaksi antara pemberian pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua variabel pengamatan. Faktor tunggal pemberian pupuk Phonska dan faktor tunggal pupuk kandang ayam hanya berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah buah dan berat buah segar, sedangkan terhadap variabel panjang buah dan diameter buah tidak mampu menunjukkan pengaruh yang nyata.

Hasil uji BNJ terhadap jumlah buah dan berat buah segar, masing-masing akibat pengaruh  pemberian pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam ditampilkan pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa rata – rata jumlah buah dan berat buah segar yang paling baik adalah pada perlakuan pupuk Phonska dosis 1.350 kg ha-1 (perlakuan P3), walaupun hasil uji BNJ perlakuan tersebut tidak berbeda dengan P2, tetapi berbeda dengan perlakuan  P1 yang mempunyai rata-rata jumlah buah paling sedikit. Pada Tabel 1. juga menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam dengan dosis 20 t ha-1  (perlakuan K4) memberikan hasil jumlah buah dan berat buah segar yang terbaik.

Interaksi perlakuan  pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh variabel pengamatan. Hal ini diduga kedua jenis pupuk tersebut mampu memberikan pengaruh secara sendiri-sendiri terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun.

Pupuk Phonska merupakan pupuk anorganik yang dapat menambah unsur hara di dalam tanah dan bersifat lebih cepat tersedia sehingga langsung dapat diserap tanaman setelah larut dalam air. Berbeda dengan pupuk kandang ayam yang termasuk kategori pupuk organik. Pupuk organik umumnya bersifat lambat melepaskan unsur hara (melepaskan unsur hara secara bertahap). Akan tetapi selain sebagai sumber hara pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pH dan meningkatkan Kejenuhan Basa karena pupuk kandang ayam mengandung basa-basa seperti  K, Ca dan Mg serta fungsinya sebagai chelating agent terhadap kation logam Al dan Fe serta dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah.  Selain itu, juga berperan dalam perbaikan sifat fisik dan biologi tanah. Secara fisik, pupuk kandang ayam dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut Hardjowigeno (1992), dan Lingga dan Marsono, (2001), bahwa pupuk kandang memperbaiki sifat fisika tanah melalui perbaikan struktur tanah menjadi lebih gembur dan remah, serta meningkatkan kapasitas menahan air. Secara biologis, mampu menambah jumlah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah sehingga terjadi dekomposisi bahan organik tanah.

Tabel 1.  Hasil uji BNJ terhadap rata-rata jumlah buah, panjang buah, diameter buah dan berat  buah segar mentimun akibat pengaruh pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam

Tabel shela 1

Keterangan :  Nilai  rata-rata yang ditandai oleh huruf yang sama pada kolom  dan perlakuan  sama tidak berbeda menurut Uji BNJ pada taraf  a = 5%.


Pupuk kandang juga dapat meningkatkan suhu tanah, meningkatkan kapasitas sangga tanah, dan meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman ( Stevenson, 1978 dalam Sarief, 1989).

Dalam penelitian ini menggunakan media tanam tanah Podsolik Merah Kuning. Menurut Yulius dkk., (1985), Tanah podsolik merah kuning memiliki sifat fisik dan kimia yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, permeabilitas lambat dengan bertambahnya kedalaman tanah dan stabilitas agregat yang kurang baik.  Kesuburan tanah Podsolik semakin diperburuk oleh reaksi tanah yang masam. Tanah masam dicirikan pula oleh adanya kandungan Al yang tinggi.  Pengaruh buruknya terhadap tanaman budidaya pertumbuhan dapat terlihat dengan adanya gejala-gejala rusaknya pertumbuhan dan perkembangan akar (Evans dan Kamprats,1987 dalam Mursyid, 1991). Berdasarkan kondisi fisik tanah Podsolik tersebut, maka pemberian pupuk kandang ayam  (pupuk organik) akan memperbaiki kondisi fisik tanah menjadi lebih baik. Dari segi penyediaan hara, adanya pemberian pupuk Phonska dan pupuk kandang sangat menunjang ketersediaan unsur hara makro dan mikro secara simultan untuk tanah dan tanaman. Maksudnya unsur hara pupuk anorganik bersifat mudah dan cepat tersedia sedangkan pupuk organik bersifat tersedia secara lambat dan bertahap.

Peningkatan jumlah buah dan berat buah segar per tanaman merupakan penampilan dari tanaman mentimun dalam merespon pupuk yang diberikan. Jumlah buah dan berat buah mentimun per tanaman pada perlakuan pupuk Phonska dan perlakuan pupuk kandang ayam mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya dosis  yang diberikan. Lebih banyaknya buah yang dihasilkan tanaman diikuti dengan berat buah segar yang tinggi pada perlakuan pupuk Phonska dosis 1.350 kg.ha-1 (perlakuan P3) diduga karena kebutuhan nutrisi  terutama N, P, K pada perlakuan tersebut lebih cukup dibandingkan  perlakuan lainnya. Tersedianya unsur N, P dan K secara berkecukupan ini mendukung pertumbuhan tanaman selama fase vegetatif dan generatif sehingga proses-proses fisiologis tanaman pada perlakuan ini lebih baik dan tidak mengalami gangguan dibandingkan perlakuan lainnya. Menurut  Hardjowigeno (1992), adanya keseimbangan unsur hara yang diserap tanaman sangat membantu dalam meningkatkan jumlah buah dan berat segar buah. Sesuai pendapat Flemming (1990) bahwa pemberian molibdenum akan menghasilkan luas daun lebih besar dan jumlah klorofil yang lebih banyak, dengan demikian hasil dari fotosintesa lebih banyak yang akan ditranslokasikan untuk menambah ukuran buah, jumlah buah, memperbaiki kualitas  buah serta menambah kadar mineral dalam buah.

Gardner, Pearce dan Mitchell (1991), menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman mutlak memerlukan hasil asimilasi yang dihasilkan tanaman dari penyerapan unsur hara yang merupakan salah satu faktor penunjang pertumbuhan selain faktor genetik tanaman. Sutedjo dan Kartasapoetra (1991), menjelaskan bahwa dalam perbaikan kualitas buah didukung oleh  unsur N sebagai pembentuk protein dan karbohidrat yang ditransfer ke buah. Liliek (1990), menyatakan tanaman menyerap unsur N diperlukan untuk menunjang pertumbuhan vegetatif baik batang, cabang maupun daun. Nitrogen berperan dalam pembentukan khlorofil, asam amino, lemak, enzim dan persenyawaan lain. Senyawa-senyawa inilah yang akan memacu proses pembelahan sel-sel baru dan pembesaran sel-sel jaringan meristem sehingga terjadi peningkatan pertumbuhan bahkan hasil tanaman.   Selain unsur N, menurut Suprapto (1994) unsur K membantu dalam perkembangan akar, membantu proses pembentukan protein, menambah daya tahan terhadap serangan  penyakit dan merangsang pengisian biji. Menurut Barber (1977), agar efisiensi fotofosforilasi tinggi, dibutuhkan K yang cukup. Disamping itu, peran K dalam meningkatkan translokasi fotosintat, K dapat meningkatkan asimilasi CO2 dan sintesis ATP sehingga dapat meningkatkan laju aliran senyawa organik dan ATP di dalam floem.

Unsur N dan P harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memungkinkan pertambahan bobot dan pengembangan daun secara cepat selama fase perkembangan (Goldsworthy dan Fisher, 1996).

Suprapto (1994) mengemukakan bahwa unsur hara P diperlukan tanaman sepanjang masa pertumbuhannya dan periode terbesar penggunaan P dimulai pada masa pembentukan buah dan pengisian biji. Menurut Ispandi (2000); Rosmarkam dan Yuwono, (2002), bahwa unsur P merupakan unsur sebagai pembentuk ATP yang merupakan sumber energi untuk semua proses metabolisme dalam sel termasuk pembentukan dan proses transportasi yang berlangsung di dalam jaringan tanaman. Lebih lanjut  Gardner, Pearce dan Mitchell (1991) menjelaskan bahwa hasil tanaman ditentukan oleh proses-proses yang mengendalikan produksi antara lain pasokan nutrisi, mineral dan hasil fotosintesis. Peningkatan aktivitas metabolisme berarti dapat meningkatkan proses pembentukan protein yang terbentuk, kemudian ditransfer ke biji sebagai cadangan makanan, sehingga makin besar cadangan makanan yang terbentuk dalam buah, semakin besar pula jumlah dan ukuran buah  yang dihasilkan tanaman.  Meningkatnya jumlah dan ukuran buah maka meningkat pula berat buah yang dihasilkan tanaman mentimun.

Perlakuan pupuk Phonska dan pupuk kandang ayam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rata-rata panjang buah dan diameter buah mentimun, diduga faktor genetik (sifat genetik tanaman) lebih besar pengaruhnya terhadap penampilan buah (panjang dan diameter buah) dari pada perlakuan yang diberikan. Menurut Gardner, Pearce dan Mitchell (1991), bahwa pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif) sangat dipengaruhi oleh faktor kendali genetik (genetic) selain faktor lingkungan (environment) termasuk ketersediaan unsur hara dalam tanah (kesuburan tanah) sehingga mempengaruhi besarnya penampilan tanaman (fenotip).

Kemampuan pupuk kandang kotoran ayam dosis 20 t ha-1 (perlakuan K4) dalam meningkatkan jumlah buah dan berat buah segar paling tinggi dikarenakan pada dosis ini baru didapatkan kondisi tanah yang paling mendukung pertumbuhan tanaman. Seperti yang telah dijelaskan oleh Hardjowigeno (1992), bahwa pupuk kandang mampu meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Kirchner et al., (1993), mengemukakan bahwa bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, infiltrasi, kesuburan dan daya  pegang air yang menciptakan  lingkungan yang baik bagi mikroorganisme tanah dalam  menambat fiksasi N.  Dengan pemberian pupuk kotoran ayam dosis tertentu, kebutuhan hara tanaman terpenuhi melalui perbaikan pH dan penambahan bahan organik tanah. Peningkatan pH tanah akan memperbaiki kehidupan dan aktifitas mikroba tanah yang berperan dalam dekomposisi bahan organik sehingga ketersediaan hara meningkat. Dengan perakaran yang berkembang maksimal, tanaman mampu mengabsorbsi hara, terutama N, P, K, Ca, dan Mg yang disuplai oleh  pupuk kotoran ayam, sehingga proses fotosintesis dan translokasi fotosintat dapat berjalan lancar. Namun dengan kondisi media tanam yang digunakan berupa tanah podsolik merah kuning, dimana tanah ini mempunyai tingkat kesuburan yang sangat rendah maka untuk mendapatkan kondisi tanah  yang baik diperlukan input pemberian pupuk kandang ayam cukup besar supaya dapat memberikan produksi  tanaman yang maksimal.

KESIMPULAN

1.   Interaksi pupuk Phonska dan pupuk kandang kotoran ayam tidak memberikan pengaruh yang nyata  terhadap semua variabel pengamatan.

2.   Pemberian pupuk Phonska memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah dan berat buah segar. Sedangkan terhadap panjang dan diameter buah pupuk tersebut tidak memberikan pengaruh yang nyata.  Jumlah buah terbanyak dan berat buah segar tertinggi terdapat pada perlakuan dosis 1.350 kg ha-1 yang menghasilkan rata-rata 5,43  buah tanaman-1 dan 557,53 g tanaman-1

3.   Pemberian pupuk kandang ayam memberikan pengaruh sangat nyata terhadap peningkatan jumlah buah dan berat buah segar. Sedangkan terhadap panjang buah dan diameter buah pupuk kandang kotoran ayam tidak memberikan pengaruh yang nyata.  Jumlah buah terbanyak dan berat buah segar tertinggi terdapat pada perlakuan dosis 20 t ha-1 yang menghasilkan rata-rata  4,76 buah tanaman-1 dan 654,17 g tanaman-1.

SARAN

Penelitian yang sama perlu dilakukan langsung di lapangan dengan menambah variabel pengamatan, serta untuk mengetahui pengaruh perlakuan sesuai kondisi lapangan, dan untuk tanaman hortikultura lainnya seperti tomat, dan melon.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statisik. 2007. Kalimantan Tengah  Dalam Angka. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Kalimantan Tengah dengan Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah.  Palangka Raya.

Barber, J., 1977.  Energy Convension and Ion Fluxes in Chloroplast.  P.83-93.  In Proceeding of the 13 th  Colloqium of the Int.  Potast,  Inst.  New  York.  UK.

Departemen Pertanian, 2010.  Kalimantan Tengah  Dalam Angka. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Kalimantan Tengah dengan Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

Flemming, G.A. 1990, Essential Micro Nutriens I, B and Mo, Jhon Wiley and Sons, New York, p. 76 – 92.

Gardner, F., R.B. Pearce dan R.L., Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia Press.  Jakarta.

Goldsworthy, P.R. dan N.M. Fisher, 1996.  Fisiologi Tanaman budidaya Tropik (Terjemahan Tosari). Gajah Mada University Press.  Yogyakarta.

Hardjowigeno. S. 1992. Ilmu Tanah.  Media Sarana Perkasa.  Jakarta.

Ispandi, A. 2000. Pemupukan P, K, S dan Tumpang Sari Ubi Kayu + Kacang Tanah di Lahan Kering Alfisol. dalam M. Soedardjo, dkk (eds). Komponen Teknologi Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. BALITKABI, Malang. Hal : 183

Kirchner, M.J., A.G. Wollum, and L.D. King, 1993.  Soil Microbiology and Biochemistry.  Soil Sci.  Am. J., 57 : 1289 – 1295.

Liliek, A., 1990.  Nutrisi  Tanaman.  Rineka Cipta.  Jakarta.

Lingga, P dan Marsono, 2001.  Petunjuk Penggunaan Pupuk.  Penebar Swadaya.  Jakarta.

Mursyid, A.  1991.  Pertanaman Berpola Lorong antara Gamal dan Kaliandra Dengan Kedelai di Tanah Podsolik Bekas Alang-alang.  Tesis.  Fakultas Pasca Sarjana IPB.  Bogor.

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono, 2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius. Yogyakarta.

Sarief, E.S., 1989.  Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah Pertanian.  Pustaka  Buana.  Bandung.

Suprapto, H.S. 1994. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya.  Jakarta.

Sutedjo, M.M., 1995.  Pupuk dan Cara Pemupukan.  Rineka  Cipta.  Jakarta.

Sutedjo, M.M. dan A.G. Kartasapoetra. 1991. Pengantar Ilmu Tanah. Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Rineka Cipta, Jakarta. Soepardi, G., 1984.  Laporan Kemajuan Kegiatan Penelitian di Test Farm Gambut Pedalaman Bereng Bengkel, Kalimantan Tengah.  Kerjasama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dati I Kalimantan Tengah dengan Fakultas Pertanian IPB.  Bogor.

Widjaja Adhi, IPG. 1986.  Pengelolaan Lahan Pasang Surut dan Lebak.  Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol. V (I) 1-9.

Yulius A.  K. P.,   J.  L.  Namere Arifin, S.  R.  Solo, Samosir, R.  Tangkaisai, J.  R.  Lalopud, B.  Ibrahim, H.  Asmadi.  1985.  Dasar-dasar Ilmu Tanah.  BKPTN-INTIM.  Ujung Pandang.



Volume 13 Nomor 2 September 2012 == UJI EVEKTIVITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP HAMA PLUTELLA XYLOSTELLA = Melhanah dan Lilies Supriati
7 September 2013, 12:30 pm
Filed under: Penelitian

UJI EVEKTIVITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP HAMA  PLUTELLA  XYLOSTELLA PADA TANAMAN SAWI

(Effectiveness Test Of Several Bioinsecticides Against Diamond Black Moth On Mustard In Peat Land)

Melhanah*  dan Lilies Supriati *

*) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Faperta UNPAR

Email : melhanah@yahoo.co.id

ABSTRACT

The research to know the effect leaf extract of babadotan (Ageratum conyzoides), butrowali (Tinospora crispa), soursop leaf (Annona muricata L) and pesticide Deltamethrin 25 g L-1 on  intensity of pests attack of Plutella xylostela and yield of  mustard crops on peatlands have been done from June to August 2011. Research using a randomized block design with treatment ie without plant extracts (control); babadotan extract, butrowali extract, and soursop extract with a concentration of 5 mL L-1, and Deltamethrin 0.5 mL L-1 with each treatment 5 times replications. The results showed that bioinsecticide babadotan extracts more effective in suppressing the pest intensity P. xylostella at all ages observations (7,14,21, and 28 days after planting). Highest fresh weight of mustard at treatment babadotan extract was 1,600 g plot-1 (a broad plot 4 m2).

Keywords: Bioinsecticides; Plutella xylostela; mustard; peatland

ABSTRAK

Penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun babadotan (Ageratum conyzoides), butrowali (Tinospora crispa), daun sirsak (Annona muricata L) dan pestisida Deltametrin 25 g L-1 terhadap intensitas serangan hama Plutella xylostela  dan  hasil panen tanaman sawi pada lahan gambut telah dilakukan sejak Juni sampai Agustus 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor dengan perlakuan jenis insektisida yaitu tanpa ekstrak tanaman (kontrol); ekstrak babadotan, butrowali, dan sirsak  dengan konsentrasi 5 mL L-1; dan  Deltametrin 0,5 mL L-1 dengan masing-masing perlakuan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan  Pemberian insektisida nabati ekstrak babadotan lebih efektif dalam menekan intensitas serangan hama P. xylostella pada semua umur pengamatan (7,14,21,dan 28 hari setelah tanam. Bobot segar sawi tertinggi diperoleh pada perlakuan ekstrak babadotan 1.600 g petak-1 dengan luas petak 4 m2

Kata Kunci : Insektisida nabati; Plutella xylostela; tanaman sawi; gambut pedalaman


PENDAHULUAN

Tanah gambut yang ada di Kelurahan Kalampangan dapat dikembangkan untuk tanaman sayuran seperti sawi, akan tetapi produksi tanaman sawi masih relatif rendah dan berfluktuasi, padahal prospek tanaman sawi dimasa akan datang sangat baik.  Kelurahan Kalampangan merupakan  daerah pemasok kebutuhan sayuran termasuk sawi di kota Palangka Raya, sehingga kegiatan pertanian yang dilakukan petani sangat intensif sekali sesuai dengan mata pencaharian mereka.  Produksi pertanian terbanyak dihasilkan di kelurahan Kalampangan (Badan Pusat Statistik Kota Palangka Raya, 2010)

Salah satu masalah utama dalam peningkatan produksi tanaman sawi adalah adanya serangan hama  Plutella xylostella.  Hama P. xylostella  merupakan hama  utama pada tanaman sawi.  Pada populasi tinggi, larva memakan semua daun dan hanya meninggalkan tulang-tulang daun, sehingga terjadi kerusakan berat Serangan berat menyebabkan seluruh daging daun habis termakan sehingga tertinggal hanya tulang-tulang daun (Daryanto dkk., 1998).  Upaya yang dilakukan petani untuk mengendalikan hama pada tanaman sawi selalu menggunakan insektisida kimiawi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua kelompok tani Karya Jaya II dan Harapan Jaya II di Kelurahan Kalampangan, November 2010,  para petani selalu menggunakan insektisida kimia untuk mengendalikan serangan hama.

Penggunaan insektisida kimiawi untuk mengendalikan hama dapat menimbulkan dampak negatif bagi hama yaitu terjadinya resistensi, resurjensi  hama dan pencemaran terhadap lingkungan hidup (Untung, 1996). Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan berbagai senyawa kimia alami yang berasal dari tumbuhan (Schmutterer, 1990). Jenis tumbuhan yang dapat dijadikan insektisida nabati antara lain Babadotan (Ageratum conyzoides), Butrowali (Tinospora crispa) dan Daun Sirsak (Annona muricata L).

Ekstrak daun babadotan kering 90 g L-1 efektif menekan intensitas serangan hama Kepik Hijau (Nezara viridula) pada tanaman kedelai sebesar 12,96 % (57 HST) dan 14,13 % (67 HST) dibanding kontrol (Melhanah, dkk; 2006). Ekstrak daun sirsak 90 g L-1 menekan intensitas serangan, menurunkan populasi nimfa dan imago serta mengurangi jumlah polong rusak pada Kepik Hijau (Nezara viridula) pada tanaman kedelai dibandingkan kontrol (Melhanah, dkk 2009).

Pemanfaatan insektisida nabati selain dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan, bahannya mudah di dapat, dan harganya relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan pestisida kimia (Subiyakto dan Dalmadiyo, 2001).  Tujuan dari penelitian  ini  adalah: 1). Mengetahui pengaruh pemberian insektisida nabati ekstrak daun babadotan butrowali dan daun sirsak serta pemberian  insektisida   sintetik  Deltametrin,  terhadap intensitas serangan hama Plutella xylostela  pada tanaman sawi ditanah gambut pedalaman dan mengetahui pengaruh pemberian insektisida terhadap hasil panen sayuran sawi.

BAHAN DAN METODE

Penelitian telah dilaksanakan di  Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah, mulai bulan Juni sampai Agustus 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor, dengan perlakuan jenis insektisida (N0 = tanpa ekstrak tanaman; N1 =  ekstrak babadotan 5 mL L-1; N2 =  ekstrak butrowali  5mL L-1; N3 =   ekstrak sirsak 5 mL L-1;  dan  N4 = Insektisida Deltametrin 0,5 mL L-1, sebagai pembanding).  Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga diperoleh 25 satuan percobaan.

Bibit sawi yang berumur 3 minggu dan berdaun 3-5 helai diambil untuk penanaman.  Sawi  ditaman dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, pada setiap petakan berukuran  2 x 2 m2.   Tanaman sawi dipanen pada umur 30 HST (hari setelah tanam).

Pembuatan insektisida nabati dilakukan dengan cara perendaman produk ekstrak yang difermentasi menggunakan EM4 (Asmara, 2000). Bahan yang diperlukan adalah  daun babadotan, butrowali, daun sirsak, gula merah dan EM4.  Cara pembuatan insektisida nabati  adalah sebagai berikut : 1).  Bahan-bahan sebanyak 1 kg dirajang atau dipotong kecil-kecil (1-2 cm); 2). Larutkan gula merah 1,72% dari bahan ke dalam 4,93% air, larutan gula merah ini disebut mollases; 3).  Bahan-bahan yang telah dirajang dimasukkan dalam toples, tambahkan larutan EM4 0,02% dari bahan, mollases 10 cc/liter air dan fermentasi selama 5 hari; 4). Saring hasil fermentasi menggunakan kain kasa untuk menghindari kemampetan pada nozel sprayer;

Aplikasi insektisida dilaksanakan satu hari sebelum pengamatan, satu kali dalam seminggu dengan konsentrasi 5 mL L-1.   Insektisida Deltametrin 25 g L-1  (Decis 2,5 EC)  digunakan sebagai pembanding.  Bila hama ulat daun P. xylostela telah mencapai nilai  ambang ekonomi maka dilakukan penyemprotan dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran.  Nilai ambang ekomomi untuk hama P.  xylostela adalah 1 ekor/ tanaman.   Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman sampel pada tiap petakan yang ditentukan secara acak.   Variabel yang diamati meliputi:  Intensitas serangan hama P.  xylostela (%)(Direktorat  Jenderal Perlindungan Tanaman dan  Hortikultura, 2007)  dan bobot segar sawi.

Rumus Melhanah 1

I=Intensitas serangan (%); ni=Jumlah tanaman/ bagian tanaman contoh pada skala vi; vi= Nilai skala kerusakan ke-I; Z=Nilai skala kerusakan tertinggi; N=Jumlah tanaman/bagian tanaman contoh yang diamati. Nilai skala untuk vi adalah sebagai berikut : 0 =  Tidak ada seran-gan terhadap tanaman atau bagian tanaman yang diamati; 1 = Luas  serangan < 25% bagian daun; 2 = Luas serangan > 25% -  50% bagian daun; 3 = Luas serangan > 50% -  75% bagian daun; 4 = Luas serangan > 75% bagian daun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas serangan hama P. xylostella  (%)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan hama P. xylostella lebih rendah 35-52% pada perlakuan yang menggunakan insektisida kimia dan nabati dibanding pada perlakukan kontrol (Tabel 1). Hal ini menunjukkan pemberian insektisida nabati dari bahan alami seperti babadotan, butrowali maupun daun  sirsak memberikan pengaruh positif untuk mengurangi serangan  hama  P. xylostella.

Insektisida nabati dari ekstrak butrowali, sirsak dan deltametrin sama efektifnya menurunkan intensitas serangan  P. xylostella pada umur 14 hst.   Daun sirsak mengandung senyawa kimia annonain dan saponin yang  dapat berperan sebagai insektisida,  repellent (penolak serangga), dan anti feedant (penghambat makan)  Sedangkan daun babadotan mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai pengusir/penolak serangga. Kandungan kimia pada tanaman butrowali adalah amilum, pikroretin, pikroretrosida, alkaloid, saponin dan tannin.  Sebagai insektisida bagian butrowali yang dimanfaatkan adalah batangnya.  Cara kerja racun butrowali sebagai pengusir (repellent), racun syaraf dan menghambat perkembangan serangga (Samsulhidayat dan Hutapea, 1991) 

Pemberian daun babadotan untuk mengendalikan hama P. xylostella pada tanaman sawi menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya pada semua umur pengamatan. Diduga adanya kandungan metabolit sekunder pada daun dan bunga babadotan yang tidak disukai oleh hama P. xylostella. Kardinan, dkk (1999) mengemuka-kan daun dan bunga babadotan mengandung saponin, flavanoid, dan polipenol.  Kandungan bioaktif saponin-flavanoid-polifenol-minyak atsiri bersifat kontak yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan larva menjadi pupa (Rachmat dan Wahyono, 2007).

Daun babadotan merupakan gulma yang mengganggu tanaman, namun untuk pemanfaatan lebih lanjut tentunya dapat dikembangkan  sebagai insektisida nabati terutama pada penggunaan tingkat petani.

 

Hasil/Produksi tanaman        

Hasil  panen tanaman sawi  dalam bentuk bobot segar sawi menunjukkan  ekstrak babadotan  memberikan hasil yang lebih baik  (Tabel 2).

Tanaman babadotan dikenal juga sebagai gulma pada tanaman pangan dan perkebunan. disamping  mengandung saponin, flavanoid, dan polipenol juga mengandung dua jenis bahan aktif, yakni precocene I (7-methoxy-2,2-dimethyl-2H-1-benzopyran) dan precocene II (6,7-dimethoxy-2,2-dimethyl-2H-1-benzopyran)(Kardinan, dkk,1999; Moenandir, 1990).   Senyawa kimia yang beracun dari golongan procene I dan II tersebut mampu bekerja secara sintetik dan kontak terhadap hama P. xylostella.  Disamping itu juga merupakan senyawa anti hormon juvenill (yaitu hormon yang diperlukan serangga dalam proses metamorfosis dan repropduksi) (Darwiati dan S.E, Intari, 2005 dalam  Watt, J.M. dan B. Brandwijk. 1962? Apakah bukan Watt and Brandwijk, 1962 dalam Darwiati dan Intari, 2005).

Tabel 1.    Rata-rata intensitas serangan larva P. xylostella L. pada tanaman sawi pada umur 7, 14, 21, dan 28 HST

Tabel 1 Melhanah

Keterangan:     angka yang diikuti hurup yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan berbeda nyata menurut uji Beda Nyata Jujur taraf 5 %.

Tabel 2.    Rata-rata Bobot Segar Sawi Pada Umur 30 HST

Tabel 2 Melhanah

Keterangan :    angka yang diikuti hurup yang berbeda pada kolom yang sama   menunjukan berbeda nyata menurut uji Beda Nyata Jujur taraf 5 %.

Pemberian insektisida nabati dari ekstrak daun babadotan ternyata memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan perlakuan lainnya. Dengan demikian dapat dianjurkan untuk memanfaatkan daun babadotan sebagai insektisida nabati merupakan salah satu upaya untuk mengurangi serangan hama P.xylostella. Daun babadotan merupakan gulma yang mengganggu tanaman, namun untuk pemanfaatan lebih lanjut tentunya dapat dikembangkan  sebagai insektisida nabati/alami  terutama pada penggunaan tingkat petani.

Petani di Palangka Raya dalam mengendalikan hama tanaman sawi selama ini selalu menggunakan insektisida. Pengaruh penyemprotan tersebut berakibat residu pestisida dalam sayuran cukup tinggi.  Di masa yang akan datang tentunya diupayakan untuk mengurangi pemakaian insektisida sintetik untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.  Hal ini sesuai pendapat  Untung (1996), bahwa pengendalian dengan pestisida kimiawi yang kurang tepat menyebabkan hama menjadi resisten, matinya musuh alami, pencemaran terhadap lingkungan ,gangguan kesehatan bagi konsumen,terjadinya resurgensi,resistensi dan letusan hama kedua, agroekositem biotik dan abiotik serta berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

KESIMPULAN

1.    Tanaman sawi yang mendapat perlakuan ekstrak insektisida nabati dari daun babadotan  menunjukkan intensitas serangan hama Plutella xylostella lebih rendah bila dibandingkan butrowali, sirsak dan Delthametrin  pada semua umur pengamatan (14 HST,7,21, dan 28 HST)

2.    Pemberian insektisida sintetik Deltametrin 25 g/l dan insektisida nabati dari daun sirsak menunjukkan hasil yang sama efektifnya dalam menekan intensitas serangan hama Plutella xylostella pada semua umur pengamatan (7,14,21, dan 28 HST.

3.    Hasil panen tanaman sawi menunjukkan hasil bobot segar sawi tertinggi diperoleh pada perlakuan dari ekstrak babadotan yaitu 1600 g/petak (4 ).

SARAN

Insektisida nabati dari bahan daun babadotan dapat digunakan untuk mengendalikan hama Plutella xylostella karena menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan insektisida nabati dari bahan batang butrowali dan  daun sirsak maupun insektisida sintetik Deltametrin 25 g/l.

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepadaProyek DIPA UNPAR Tahun Anggaran 2011 yang telah menyediakan dana untuk kegiatan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Asmara, N.D.  2000.  Tanaman Pengusir Hama Tanaman.  Dalam  Winarno, P., T. Wirayana, AU. Hadi, D. Setiabudhi dan M. Muntoyah (Ed.).  Bul. Gema Teknologi EM, 3(2), Juli  2000.  Institut Pengembangan Sumberdaya Alam (IPSA).  Jakarta.

Biro Pusat Statistik. 2010. Kalimantan Tengah Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya.

Darmiati, W dan S.E.  Intari.  2005.  Uji Toksikologi Daun Babadotan (Ageratum conyzoides L) dan  Cente Manis (Lantana camara L) terhadap Hama Penggerek Pucuk Mahoni (Lepidoptera:Pyralidae). J. Info Hutan II(4): 353-358. Dalam Watt, J.M. dan B. Brandwijk. 1962.  Medical and poisonous. Plant of Southern and East Africa. 2nd. Living Stone, LTd. Edinburg

Daryanto,H.,Prabaningrum. L..Purwani. E. T. dan Desmawati. 1998.  Pemanfaatan Agens Hayati Parasitoid Diadegma semiclausum Hellen untuk Pengendalian Hama Plutella xylostella L. pada Tanaman Kubis.  Direktorat Bina Perlindungan Tanaman.  Jakarta.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Holtikultura. 2007.  Pedoman Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan.  Direktorat Bina Perlindungan Tanaman.  Jakarta.

Kardinan ,A., Jasni dan M. Iskandar. 1999. Pengaruh Ekstrak daun Mimba, Sirsak dan bunga piretrum terhadap mortalitas dan serangan rayap kayu kering Criptotermes cynocephalus. Dalam Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan Pestisida Nabati, Bogor, 9-10 Nopember 1999.  227-232.

Melhanah., RB. Mulyani., P. Suryawijaya., Sustiyah., S. Wibowo., dan Suparno.    2006. Pengaruh Insektisida Nabati dan Pupuk Organik Cair Terhadap Intensitas Srangan Hama dan Produksi Tanaman Kedelai  Pada Tanah Gambut Pedalaman Laporan Akhir Penelitian Proyek Due-Like Batch III  Fakultas Pertanian. UNPAR.  Palangka Raya.

Melhanah.,  D. Saraswati dan P.A.Bawono.  2009.  Keefektifan Pemberian   Insektisida Nabati dan Pupuk Organik Cair Untuk Mengendalikan hama kepik Hijau.  J. Agripeat 10:48-54.  Fakultas Pertanian. UNPAR.  Palangka Raya.

Moenandir, J. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Buku I. Penerbit Rajawali Jakarta.

Rachmat, M., dan D. Wahyono. 2007. Tanaman Biofarmaka Sebagai Biopestisida. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura Bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Jakarta. 51 hal.

Subiyakto dan G. Dalmadiyo. 2001.  Teknologi  Sederhana Produksi Pestisida Nabati.  (Makalah disajikan dalam Diskusi Panel Sosialisasi Pestisida Nabati.PEI Cabang Malang). Malang.

Schmutterer, H. 1990.  Properties and Potential of Natural Pesticides from the Neem Tree, Azadirachta indica . Ann. Rev. Entomol. 35: 271-297

Syamsulhidayat S.S. dan J.R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Departemen Kesehatan R.I Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan. Bogor.

Untung. K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.



Volume 12 No. 2 September 2012 Risiko Produksi Usaha Tani == Erlinda Yurisinthae
5 September 2013, 12:06 pm
Filed under: Penelitian

RISIKO PRODUKSI USAHATANI PADI PADA LAHAN PASANG SURUT

DI KABUPATEN KUBU RAYA

(Rice Farming Production Risk in Tidal Swamp Areas in Kubu Raya District)

 

Erlinda Yurisinthae

Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

e-mail : erlindayurisinthae@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

West Kalimantan province has an area of ​​14,680,700 ha and 15.13 percent is wetlands. KKR is a buffer zone for the city of Pontianak, including in support consumption of rice in this community in the city of Pontianak. KKR cultivated rice farming in the tidal area. Entirely many rice farming technology in tidal areas developed and introduced by the government to farmers. But unavoidable that rice farming is closely related to natural factors that cause risks. The method used in the study is survey method. Location was determined on sub-district Sungai Kakap. Population is all rice farmers totaling 5127 people. Sampling technique implemented by the multistage cluster sampling. Farmer respondents totaled 60 farmers (37 farmers used Ciherang and 23 farmers used non Ciherang). The research variables are the production and productivity of rice farming. Data analysis used F test, t test and analysis of coefficient variation. Ciherang rice farming, rice production quantities produced an average of 3367 tones/season. The average productivity of Ciherang is 2.497 tons/ha. While for non Ciherang, total production of rice produced an average of 3182 tones/season. The average productivity of non Ciherang is 2.457 tons/ha. Consider from the data, production of rice farming Ciherang and non Ciherang are under potential production. Based on the F test and t test, there were no statistically significant differences in the production and productivity of rice farming that uses a variety Ciherang and non Ciherang. Based on the calculation of the coefficient of variation (CV) in rice farming obtained CV Ciherang is 17% while the non Ciherang CV is 18%. The source of risks in rice farming Ciherang is not to implementation of cultivation techniques according to the recommendation.

Key words : Production risk, rice farming, tidal swamp area.

ABSTRAK

Provinsi Kalimantan Barat memiliki luas 14.680.700 ha dan 15,13 persen merupakan lahan basah. Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan daerah penyangga bagi Kota Pontianak, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam hal ini konsumsi beras masyarakat.  Usahatani padi di KKR juga diusahakan di daerah pasang surut.  Cukup banyak teknologi usahatani padi di daerah pasang surut yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh pemerintah kepada petani. Namun, tidak dapat dihindarkan bahwa padi merupakan tanaman yang sangat erat kaitannya dengan faktor alam yang menyebabkan terjadinya risiko dalam usahatani.  Metoda yang digunakan dalam penelitian adalah metoda survey.  Lokasi ditentukan secara sengaja di Kecamatan Sungai Kakap KKR.  Populasi adalah seluruh petani padi berjumlah 5.127 orang. Teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan metoda multistage cluster sampling. Petani responden berjumlah 60 petani (37 petani mempergunakan varietas Ciherang dan 23 petani mempergunakan varietas non Ciherang).  Variabel penelitian adalah produksi dan produktivitas usahatani padi. Analisis data dipergunakan uji F, uji t dan analisis koefisien variasi (CV). Usahatani padi dengan varietas Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.367 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,497 ton/ha.  Sedangkan untuk  untuk usahatani padi dengan varietas non Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.182 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,457 ton/ha. Dilihat dari produksi, maka usahatani padi Ciherang maupun non Ciherang di lokasi penelitian masih dibawah potensi produksi. Berdasarkan uji F dan uji t, tidak terdapat perbedaan secara statistik produksi dan produktivitas usahatani padi yang mempergunakan varietas Ciherang dengan varietas non Ciherang. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien variasi pada usahatani padi diperoleh hasil CV usahatani Ciherang sebesar 17% sedangkan untuk usahatani non Ciherang diperoleh CV sebesar 18%.  Sumber risiko pada usahatani padi Ciherang adalah dari belum diterapkannya teknik budidaya yang sesuai dengan rekomendasi.

Kata kunci : Risiko produksi, usahatani padi, lahan pasang surut

 


PENDAHULUAN

 

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia.  Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi jutaan rumahtangga pertanian.  Selain itu juga, beras merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga ketersediaan produksi beras dalam negeri menjadi tolak ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia.  Oleh karena itu, dapat difahami jika campur  tangan pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya meningkatkan produksi dan stabilitas harga beras.

Beras merupakan komoditas pangan yang sangat penting di Indonesia, karena lebih dari 95 persen penduduk Indonesia menggunakan beras sebagai bahan pangan pokok.  Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi dengan tujuan keamanan pangan, pendapatan serta peningkatan kesejahteraan petani (Wahyuningsih, 2012).

Peningkatan produksi padi yang selama ini dilaksanakan dicapai dengan cara intensifikasi (penggunaan varietas unggul dan perbaikan teknik budidaya) serta dengan cara ekstensifikasi (perluasan lahan pertanian).  Untuk perluasan lahan pertanian, saat ini padi tidak saja diusahakan pada areal persawahan di Pulau Jawa, namun juga dikembangkan pada lahan-lahan gambut di luar Pulau Jawa, khususnya Pulau Kalimantan.  Bahkan sesuai dengan pembagian daerah pengembangan pada program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI ), pulau Kalimantan diarahkan sebagai koridor yang nantinya akan bertindak sebagai lumbung energi.

Berdasarkan data dari Forest Climate Center, Provinsi Kalimantan Barat  (Kalbar) memiliki luas 14.680.700 ha dan 15,13 persen merupakan lahan basah (Forest Climate Center, 2011). Lahan rawa di Provinsi Kalbar diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu lahan rawa pasang surut air asin / payau, lahan rawa pasang surut air tawar dan lahan rawa lebak / non pasang surut. Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan satu diantara kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.  KKR merupakan daerah penyangga bagi Kota Pontianak, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam hal ini konsumsi beras masyarakat di Kota Pontianak.

Usahatani padi di KKR diusahakan di daerah pasang surut.  Cukup banyak teknologi usahatani padi di daerah pasang surut yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh pemerintah kepada petani, antara lain adalah penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang serta pemanfaatan tata air.  Namun tidak dapat dihindarkan bahwa padi merupakan tanaman yang sangat erat kaitannya dengan faktor alam.  Alam merupakan suatu ketidakpastian yang menyebabkan terjadinya risiko dalam usahatani.

Kabupaten Kubu Raya (KKR) merupakan satu kabupaten baru yang terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 2007.  Secara administrasi KKR merupakan kabupaten dengan wilayah yang cukup luas, yaitu mencapai 6.985,20 km2 yang terdiri dari Sembilan kecamatan dan 106 desa. Produktivitas usahatani padi sawah di KKR menduduki tempat kedua sesudah Kabupaten Sambas (Taufik, 2011).

Taufik (2011) menyatakan bahwa dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kubu Raya, Kecamatan Sungai Kakap merupakan satu kecamatan yang menjadi wilayah pusat pengembangan benih padi oleh UPT UPBTPH Provinsi Kalimantan Barat, sehingga wilayah demplot penanaman benih padi sebagian besar berada pada wilayah di kecamatan ini.  Berdasarkan tipe luapan, padi sawah di Kecamatan Sungai Kakap memiliki tipe lahan pasang surut tipe A, yaitu lahan yang terluapi baik pada saat pasang besar maupun pasang kecil.

Pemanfaatan lahan pasang surut untuk budidaya tanaman khususnya padi, menghadapi  beberapa masalah diantaranya ialah kesuburan tanah yang rendah , reaksi tanah yang masam, adanya pirit, tingginya kadar Al, Fe, Mn,  dan asam organik, kahat P, miskin kation basa seperti Ca, K, Mg serta tertekannya aktivitas mikroba.  Masalah-masalah tersebut menyebabkan produktivitas tanah sulfat masam menjadi rendah. Disamping itu lahan pasang surut umumnya mempunyai tingkat kesuburan yang sangat heterogen, sehingga menyebabkan tanaman padi tidak tumbuh merata (Utami, 2009). Berdasarkan penelitian Akhmad (1997 dalam Taufik, 2011) kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan lahan pasang surut di Kecamatan Sungai Kakap adalah kedalaman dan ketebalan gambut, persen sulfidik dan sulfat yang tinggi serta kedalaman air tanah.

Pada model Neoklasik, analisis risiko digambarkan sebagai uncertainty berkenaan dengan iklim atau cuaca dengan dua kejadian yaitu cuaca baik dan cuaca buruk (Ellis, 1998 dalam Wahyuningsih, 2012).  Penilaian risiko produksi dapat dihitung dengan mempergunakan varians, standar deviasi dan koefisien variasi. Penilaian risiko produksi dilakukan dengan mengukur nilai penyimpangan yang terjadi.  Ketiga ukuran tersebut berkaitan dan nilai varians adalah sebagai penentu ukuran yang lainnya.

Pada  dasarnya  terdapat  beberapa  definisi mengenai  risiko. Secara  umum risiko dibedakan dengan kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian merupakan suatu kondisi yang tidak dapat diketahui atau diperkirakan sebelumnya oleh pengambil keputusan,  sedangkan  risiko  adalah  suatu  kondisi  yang  berhubungan  dengan peluang  terjadinya  kerugian  atau  keuntungan  (Fleisher, 1990 dalam Utami, 2009).

Lee et al. (1980) mengklasifikasikan ketidak pastian di bidang pertanian menjadi enam tipe, yaitu: (1) ketidakpastian produksi yang penyebabnya terkait dengan faktor alam (kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan, serangan hama/penyakit); (2) resiko bencana yang sulit diprediksi misalnya kebanjiran, kebakaran, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan sebagainya; (3) ketidakpastian harga masukan maupun keluaran, (4) ketidak pastian yang terkait dengan ketidak-tepatan teknologi sehingga produktivitas jauh lebih rendah dari harapan; (5) ketidakpastian akibat tindakan pihak lain (sabotase, penjarahan, ataupun adanya peraturan baru yang menyebabkan usahatani tak dapat dilanjutkan; dan (6) ketidakpastian yang sifatnya personal, misalnya petani/anggota keluarganya sakit atau meninggal dunia. Resiko yang terkait tipe (1) dan (2) kadangkala bersifat katastropik dan dapat menyebabkan gagal panen dalam skala yang luas.

Menurut Soekartawi (1993) sumber ketidakpastian yang penting di sektor pertanian adalah adanya fluktuasi hasil pertanian dan fluktuasi harga.  Ketidakpastian akibat fluktuasi hasil pertanian disebabkan faktor alam, sedangkan ketidakpastian akibat fluktuasi harga disebabkan oleh harga yang terus mengalami perubahan. Hal yang sama dikemukakan oleh Iturrioz (2009) yang menyatakan bahwa dua resiko utama di bidang pertanian yang menjadi perhatian, adalah resiko harga pertanian yang disebabkan oleh volatilitas potensial dari harga dan resiko produksi yang disebabkan oleh ketidakpastian tentang tingkat produksi yang dapat dicapai produsen primer dari kegiatan mereka saat ini.

Pengembangan padi di lahan rawa menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi padi.  Kontribusi peningkatan produktivitas yang dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) terhadap produksi nasional mencapai 56,1 %, lebih besar dibanding kontribusi perluasan areal yang hanya 26,3 % (Las dkk., 2004 dalam Hendayana, 2013). Namun penggunaan VUB belum menjadi jaminan akan keberhasilan usahatani, karena besarnya ketergantungan kegiatan usahatani dengan faktor lingkungan.

Berdasarkan paparan di atas dapat dikemukakan bahwa usahatani padi pada lahan pasang surut memiliki risiko  terutama risiko produksi.  Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya risiko produksi usahatani padi pada lahan pasang surut tipe A di Kecamatan Sungai Kakap.

 

METODE ANALISIS

 

Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda survey.  Lokasi ditentukan secara sengaja di Kecamatan Sungai Kakap KKR dari bulan September 2010 sampai Maret 2011.  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani padi yang terdapat di Kecamatan Sungai Kakap KKR berjumlah 5.127 orang (Pemerintah Kecamatan Sungai Kakap, 2010).

Teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan metoda multistage cluster sampling), di mulai dengan sample desa, dilanjutkan dengan sampel kelompok tani.  Petani  responden ditentukan secara acak dari masing-masing sampel kelompok tani.  Berdasarkan metoda tersebut diperoleh 60 responden (37 responden mempergunakan varietas Ciherang dan 23 responden mempergunakan varietas non Ciherang).  Untuk benih varietas padi varietas non Ciherang diperoleh petani dengan cara mempergunakan benih padi dari musim panen sebelumnya.

Variabel penelitian adalah produksi dan produktivitas usahatani padi. Analisis data dipergunakan (1) Analisis beda dua varian dengan metoda F test (Snedecor dan Cochran, 1973; Sumodiningrat, 1996), diikuti dengan uji t dengan sampel independen (Sugiyono, 2007). Selanjutnya analisis risiko produksi usahatani pada dua tipe varietas dilanjutkan dengan mempergunakan analisis koefisien variasi (Snedecor dan Cochran, 1973; Kay, 1981).

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Secara teknis, pada usahatani dengan menggunakan benih varietas Ciherang, pengolahan lahan dilaksanakan dengan pengolahan tanah dan penggunaan pupuk, Pada usahatani non Ciherang, usahatani dilaksanakan secara tanpa olah tanah (TOT) dan tidak menggunakan pupuk. Adapun karakteristik responden secara umum dibedakan menjadi usahatani padi dengan varitas Ciherang dan non Ciherang ditampilkan pada tabel 1.

Untuk produksi, diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi dengan varietas Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.367 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,497 ton/ha.  Angka ini masih belum mencapai rata-rata produktivitas nasional yang sebesar 6,0 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 8,5 ton/ha (Wongtaniku, 2013). Sedangkan untuk  untuk usahatani padi dengan varietas  Non Ciherang, jumlah produksi padi yang dihasilkan rata-rata sebesar 3.182 ton/musim tanam.  Rata-rata produktivitas sebesar 2,457 ton/ha.

Dilihat dari produksi, maka usahatani padi Ciherang maupun non Ciherang di lokasi penelitian masih dibawah potensi produksi. Berdasarkan hasil penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah,  bahwa produktivitas padi lokal sangat tergantung dengan tipologi luapan, macam varietas, dan interaksinya.  Produktivitas tertinggi sebesar 3,82 ton/ha  dihasilkan oleh padi varietas Siam Adus yang dibudidayakan di lahan dengan tipe luapan A, sedang produktivitas terendah sebesar 2,29 ton/ha dihasilkan oieh padi varietas Siam Unus yang dibudidayakan di lahan bertipe luapan B (BPTP Kalteng, 2013)

Berdasarkan uji F, tidak terdapat perbedaan varian antara produksi dan produktivitas antara varietas padi Ciherang dan non Ciherang.  Demikian juga berdasarkan hasil uji t, tidak terdapat perbedaan secara statistik produksi dan produktivitas usahatani padi yang mempergunakan varietas Ciherang dengan varietas non Ciherang.

Tabel 1. Karakteristik responden pada usahatani adi di Kecamatan Sungai Kakap

Gambar Tab 1 Erlinda Sumber : Data Primer, 2011.

 Berdasarkan hasil perhitungan koefisien variasi pada usahatani padi dengan mempergunakan varietas Ciherang diperoleh hasil sebesar 17% sedangkan untuk usahatani Non Ciherang diperoleh hasil sebesar 18%.  Berdasarkan data tersebut dapat diketahui dengan dengan perbedaaan produksi dan produktivitas yang tidak berbeda, risiko usahatani padi dengan mempergunakan varietas Ciherang lebih kecil daripada usahatani padi dengan mempergunakan varietas non Ciherang. Namun, perbedaan risiko produksi usahatani ini tidak terlalu besar, yaitu terdapat perbedaan sebesar 1%.

Jika dilihat dari risiko pada usahatani padi Ciherang sumber risiko adalah dari belum diterapkannya teknik budidaya yang sesuai dengan rekomendasi.  Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Taufik (2011), tidak semua lahan usahatani memiliki sistem tata air yang memadai.  Padahal menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian (2013), keberhasilan usahatani pada agroekosistem lahan pasang surut antara lain terletak pada ketepatan pengelolaan lahan dan air. Dengan pengelolaan yang tepat, seperti proses pencucian bahan beracun pada tanah mineral potensial dan sulfat masam serta proses pematangan (dekomposisi) gambut dan konservasi lahan terealisasi dengan baik, maka produktivitas lahan dan tanaman meningkat.

Untuk varietas Ciherang sesuai dengan rekomendasi maka jumlah pupuk dan waktu pemupukan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaannya pada lahan usahatani. Rekomendasi pemupukan adalah
: (1) pemupukan pertama, pupuk Urea 100kg/hektar, SP36 100kg/hektar, waktunya diberikan 1 hari sebelum tanam; (2) pemupukan ke 2 Urea 100kg/hektar, waktunya 15 hari sesudah tanam, dengan cara di semprotkan; (3) pemupuken ke 3 Urea 100kg/hektar, waktunya padi berusia 45 tahun setelah tanam, dengan cara di semprotkan ke tanaman (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian, 2013).

Pemupukan yang dilakukan oleh petani di lokasi penelitian adalah 122,17 kg/ha (Urea), 53,50 kg/ha (SP 36) dan 42,07 kg/ha (KCl).  Dosis pemupukan yang dilakukan oleh petani belum sesuai dengan rekomendasi. Hal ini sejalan dengan penelitian Taufik (2011) yang menyimpulkan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi pupuk di lokasi penelitian yang belum efisien. Permasalahan produktivitas usahatani padi lahan pasang surut yang rendah ini diduga berkaitan erat dengan persoalan efisiensi penggunaan input. Alokasi penggunaan input juga diduga masih belum optimal (Kurniawan, 2013).

Untuk usahatani padi dengan mempergunakan varietas non Ciherang, interaksi dan pemahaman petani terhadap kondisi lingkungan setempat membentuk suatu sistem pengetahuan lokal yang mampu dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai kendala dalam mengelola lahan rawa pasang surut.  Dalam proses pengembangannya pengetahuan lokal masyarakat ini menjadi dasar utama yang membentuk karakter dan sistem sosial masyarakat petani di lahan rawa pasang surut.

Keunggulan dan kelemahan padi varietas lokal ini sudah sejak lama diketahui masyarakat petani setempat, dan dengan kondisi inilah pengetahuan lokal mereka tentang pengelolaan padi di lahan rawa pasang surut dikembangkan. Kekhasan dan sifat spesifik dalam budidaya padi lokal di lahan rawa pasang surut ini melahirkan berbagai pengetahuan lokal petani baik yang menyangkut kondisi biofisik lahan rawa pasang surut serta tanaman padi itu sendiri, juga menyangkut berbagai dimensi  sosiologis dalam sistem pertanian padi di lahan rawa pasang surut.  Masing-masing tipe luapan lahan rawa pasang surut ternyata juga memiliki kekhasan tersendiri, disamping berbagai persamaan mendasar dalam teknik budidayanya.  Perbedaan-perbedaan yang ada ini juga melahirkan berbagai pengetahuan lokal tersendiri pada tipe-tipe lahan rawa pasang surut tersebut.

 

KESIMPULAN

 

  1. Pada usahatani di lahan pasang surut tipe A, tingkat risiko usahatani yang mempergunakan varietas Ciherang sebesar 17%, sedangkan untuk usahatani non Ciherang diperoleh hasil sebesar 18%.
  2. Sumber risiko produksi usahatani yang mempergunakan varietas unggul Ciherang berasal dari pemupukan yang belum sesuai dengan dosis rekomendasi.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian. 2013. Budidaya Padi Unggulan Varietas Ciherang dalam http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/%E2%80%9Cbudidaya-padi-unggulan%E2%80%9D-varietas-ciherang

BPTP Kalteng. 2013.  http://kalteng.litbang.deptan.go.id

Forest Climate Center. 2011. http://forestclimatecenter.org/redd/2011

Hendayana, Rachmat. 2013.  Strategi Pengembangan Padi Varietas Unggul di Lahan Pasang Surut Dan Rawa. http://rhendayana.files.wordpress.com/

Iturrioz, Ramiro. 2009. Agriculture Insurance, Primer Series on Insurance. World Bank.

Kay, R.D. 1981. Farm Management Planning Control and Implementation. International Student Edition, Mc. Graw Hill International Book Company, New York.

Kurniawan, Ahmad Yousuf. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Teknis pada Usahatani Padi Lahan Pasang Surut  di Kecamatan Anjir Muara  Kabupaten Barito Kuala  Kalimantan Selatan. Jurnal Agribisnis Perdesaan Volume 02 Nomor 01 Maret 2012.

Lee W.F., M.D. Boehlje, A.G. Nelson and W.G. Murray. 1980.  Agricultural Finance. Seventh Edition of the Iowa State University Press Ames.

Pemerintah Kecamatan Sungai Kakap. 2010. Monografi Kecamatan Sungai Kakap. Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Snedecor, George W. and W.G. Cochran. 1973. Statistical Method, Sixth Edition. The Iowa State University Press, Ames, Iowa.

Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasinya, Rajawali Press, Jakarta.

Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung.

Sumodiningrat, G. 1996. Pengantar Ekonometrika. BPFE, Yogyakarta.

Taufik, Muhammafd. 2011. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Tesis, Program studi Magister Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Tidak Dipublikasikan, Pontianak.

Utami, Ririn. 2013. Pengukuran Resiko Dan Distribusi Probabilitas Pengukuran Resiko. http://Utamiririnquinshaa.Blogspot.Com

Wikipedia, 2013. http://wikiindonesia.org

Wongtaniku, 2013. Deskripsi varietas Ciherang. http://wongtaniku.wordpress.com/2009/05/21/

Wahyuningsih, Iriana. 2012.  Analisis Risiko Produksi dan Perilaku Penawaran Cabai Merah di Desa Perbawati. www . repository .ipb.ac.id/browse?value=Wahyuningsih%2C+Iriana.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.