JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PEMANFAATAN LIMBAH CAIR KARET DAN NPK MAJEMUK UNTUK MENINGKATKAN == Saputera, Lusia Widiastuti, Mukiyat
17 September 2013, 9:24 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR KARET DAN NPK MAJEMUK UNTUK  MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

(Utilization Of Liquid Waste Rubber And NPK Compound to Increase The Growth Of Oil Palm Seedlings  (Elaeis guineensis Jacq))

 Saputera1) Lusia Widiastuti 1) Mukiyat 2)

1)  Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

2) Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : saputeramardi@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of this study was to determine the effect of organic materials and fertilizers NPK compound on the growth of oil palm seedlings on sandy soil. Completely Randomized Design (CRD) factorial with two treatment factors. The first factor was the percentage of the provision of wastewater rubber consisting of five standard treatment namely : control (0 % polybag -1), liquid waste rubber (25%. polybag -1), liquid waste rubber (50%. polybag -1), liquid waste rubber (75%. polybag -1), liquid waste rubber (100%. polybag -1). While the second factor was the provision of NPK compound consisting of five standard treatment namely control (0 g. polybag -1), NPK compound (1.5 g. polybag -1), NPK compound (3 g. polybag -1 ), NPK compound (4.5 g. polybag -1), NPK compound (6 g. polybag -1). Each treatment was repeated 3 times to obtain 75 units of the experiment. The results showed that (1) the interaction between provision of wastewater the rubber and the fertilizer NPK compound for responses growth seedling oil palm were not significant at all ages observations and all variables observations, but from the single factor showed the effect on the growth seedlings oil palm (2) the provision of wastewater rubber L4 influence height on increment  height, leaf area and stem diameter of oil palm seedlings 10,12, 14, and 16 WAP, but the observation of the sheath leaf and root number had no effect. (3) the provision  fertilizer NPK compound with various doses did not give effect to height, stem diameter, number of frond and root number at all ages observation.

Keywords :  Palm Oil, Wastewater Rubber, NPK

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik dan pupuk NPK majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah berpasir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah persentase pemberian limbah cair karet yang terdiri dari lima taraf perlakuan yaitu kontrol (0 kg.polibag-1), limbah cair karet (25%.polibag-1),  limbah cair karet (50%.polibag-1), limbah cair karet (75%.polibag-1), limbah cair karet (100%.polibag-1). Sedangkan faktor kedua adalah pemberian pupuk NPK majemuk yang terdiri dari lima taraf perlakuan yaitu kontrol  (0 g.polibag-1), NPK majemuk (1.5 g.polibag-1), NPK majemuk  (3 g.polibag-1), NPK majemuk  (4.5 g.polibag-1), NPK majemuk  (6 g.polibag-1). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 75 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interaksi antara pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap tanggapan pertumbuhan bibit kelapa sawit tidak berpengaruh nyata pada semua umur pengamatan dan semua variabel pengamatan, namun dari faktor tunggal menunjukan adanya pengaruh terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. (2) pemberian limbah cair karet dengan dosis 2000 ml.polibag-1 memberikan pengaruh yang tinggi terhadap pertambahan tinggi, dan diameter batang bibit kelapa sawit umur 10,12, 14, dan 16 mst, namun pada pengamatan jumlah pelepah daun, dan jumlah akar tidak berpengaruh. (3) pemberian pupuk NPK majemuk dengan berbagai dosis tidak memberikan pengaruh terhadap tinggi, diameter batang, jumlah pelepah daun, dan jumlah akar pada semua umur pengamatan.

Kata kunci : Kelapa Sawit, Limbah Cair Karet, NPK.


PENDAHULUAN

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang menjadi unggulan di Indonesia pada saat ini. karena dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak, tanaman kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar perhektar nya di dunia. Selain itu tanaman kelapa sawit juga sebagai sumber bahan industri tekstil, sabun, deterjen bahan pakan ternak dan mentega (Balai Informasi Pertanian. 1990).  Produksi kelapa sawit di provinsi Kalimantan Tengah mencapai 2.305.515 ton, dengan luas areal 1.256.444 Ha, yang meliputi perkebunan besar negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat (BPS , 2012).

Kalimantan Tengah mempunyai potensi yang cukup besar dalam pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat. Adanya industri kelapa sawit ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa daerah. Menurut Yahya (1990), selain sebagai sumber devisa negara, kelapa sawit juga berperan dalam meningkatkan pendapatan petani sekaligus memberikan kesempatan kerja yang lebih luas.

Pengolahan karet selain dihasilkan produk-produk yang diinginkan juga produk lain berupa limbah. Limbah yang menjadi masalah di pabrik karet biasa berupa cairan. Cairan ini yang dikenal dengan air limbah karet, padahal limbah cair karet tersedia cukup banyak, dan perlu dilakukan suatu pengolahan terhadap limbah tersebut agar dapat dimanfaatkan. Pengolahan air limbah yang dilakukan biasanya menggunakan kolam anaerob dan aerob serta menggunakan lumpur aktif untuk mengurangi jumlah polutan yang terkandung dalam air limbah karet, karena dengan cara menguraikan senyawa organik di dalam air limbah menjadi senyawa sederhana, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan organik. Menurut Widyaningrum, (1989) limbah cair karet hasil fitoremediasi Azolla microphylla Kaulf dapat dimanfaatkan sebagai pemacu pertumbuhan berbagai jenis tanaman, karena dalam limbah cair pabrik karet mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Air limbah karet  selain mengandung bahan organik yang tinggi, juga mengandung beberapa unsur hara seperti N, P, K, dan Mg. Unsur yang terkandung dalam pupuk limbah cair karet lebih dari satu unsur hara, komposisi limbah organik cair karet yaitu N 0,47 mg L-1, P 53,23 mg L-1, K 11,80 mg L-1, Mg 2,00 mg L-1.

Pemberian pupuk NPK majemuk yang baik pada tanah berpasir dapat meningkatkan kesuburan tanah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman.  Pupuk NPK majemuk memiliki kandungan unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam pertumbuhannya, oleh karena itu pemberian pupuk NPK majemuk dapat menambahkan unsur hara ke dalam tanah seperti unsur hara N, P dan K.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah berpasir, pupuk majemuk NPK, bibit kelapa sawit yang berumur 5 bulan, limbah cair karet diambil dari PT. Borneo Makmur Lestari Crumb Rubber Factory (kolam 5), kapur dolomit, pupuk kotoran ayam  dan air. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag ukuran 40 cm x 50 cm, cangkul, meteran, kayu, timbangan, paranet  ember, parang, gembor, kamera, jangka sorong, karung goni, terpal dan alat tulis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor  pertama adalah persentase pemberian limbah cair karet (L) yang terdiri dari   5  taraf yaitu : L0 = Kontrol, L1 = limbah karet 25 % ( 500 ml.polibag-1), L2 = limbah karet 50 % ( 1000 ml.polibag-1), L3 = limbah karet 75 % ( 1500 ml.polibag-1), dan L4 = limbah karet 100 % ( 2000 ml.polibag-1). Faktor yang kedua adalah pemberian pupuk majemuk NPK (M) yang terdiri dari 5 taraf yaitu : M0 = Kontrol, M1 = 120 kg/ha (1,5 g.polibag-1), M2 = 240 kg/ha (3 g.polibag-1), M3 = 360 kg/ha (4,5 g.polibag-1) dan M4 = 480 kg/ha (6 g.polibag-1). Dari kedua faktor perlakuan tersebut terdapat 25 kombinasi  perlakuan,  yang masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali sehingga terdapat 75 satuan percobaan. Penempatan satuan percobaan dilakukan secara acak. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, maka data hasil pengamatan di analisis dengan analisis ragam (uji) pada taraf α=0,05 dan α=0,01. Apabila terdapat pengaruh nyata pada perlakua akan dilakukan uji nilai tengah dengan uji BNJ α 0,05

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tinggi Bibit Kelapa Sawit

Hasil analisis menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pemberian limbah cair karet ( L ) dengan pupuk majemuk NPK  ( M ) terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit pada semua umur pengamatan. Pengaruh terjadi hanya pada faktor tunggal pemberian limbah cair karet. Sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk tidak terjadi pengaruh terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit. Pemberian berbagai dosis limbah cair karet berpengaruh pada umur 10, 12, 14, dan 16 mst, tetapi tidak berpengaruh pada umur 2, 4, 6, dan 8 mst. Adapun tanggapan tinggi bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 1 dan 2.

Pada Gambar 1 dan 2, pemberian limbah cair karet dengan dosis L4 (2000 ml.polibag1) menunjukkan nilai rata-rata tinggi tanaman bibit kelapa sawit yang lebih tinggi yaitu 88,49 cm (16 mst) dan berbeda  nyata dibandingkan dengan tanpa pemberian limbah cair karet L0 (kontrol), tapi tidak berbeda nyata dengan L1 (500 ml. polibag-1),L2 (100 ml. polibag-1) dan  L3 (1500 ml. polibag-1 ), dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit kelapa sawit yaitu 86.56 cm, 84.95 cm dan 85.20 cm. Adanya pengaruh perlakuan L4 (2000 ml. polibag-1) terhadap tinggi tanaman bibit kelapa sawit memperlihatkan bahwa pemberian limbah cair karet mampu memperbaiki kondisi kesuburan media tanah berpasir, dimana pemberian limbah cair karet telah mengoptimalkan penyerapan nitrogen oleh tanaman.

Gambar 1 SaputeraGambar 1.   Tinggi Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Limbah Cair Karet

 Gambar 2 SaputeraGambar 2.   Tinggi Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Pada saat fase pertumbuhan tanaman kelapa sawit sangat membutuhkan  unsur hara yang cukup banyak. Menurut Djazuli dan Trisilawati (2004) tanaman kelapa sawit pada saat pertumbuhan vegetatif sangat rakus terhadap unsur hara terutama N, P, dan K, oleh karena itu perlu adanya penambahan unsur hara untuk mempertahankan tingkat kesuburan tanah salah satunya adalah dengan cara pemberian pupuk.

Menurut  Hindersah dan Simarmata (2004), unsur nitrogen sangat penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena unsur nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman. Nitrogen bagi kelapa sawit  adalah unsur yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman. Tanaman kelapa sawit akan tumbuh dengan normal apabila kebutuhan akan unsur haranya terpenuhi, karena unsur hara tersebut digunakan oleh tanaman untuk melakukan aktifitasnya pada fase pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian limbah organik cair karet mampu menyediakan unsur hara terutama unsur nitrogen, karena nitrogen berperan dalam pertumbuhan tinggi tanaman.

 

Jumlah Pelepah Bibit Kelapa Sawit

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara  pemberian limbah cair karet (L) dengan pupuk NPK majemuk (M) terhadap jumlah pelepah tanaman bibit kelapa sawit pada semua umur pengamatan.  Pengaruh terjadi hanya pada pemberian limbah cair karet, sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk tidak terjadi pengaruh terhadap jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit. Pada faktor tunggal pemberian berbagai dosis limbah cair karet berpengaruh nyata pada umur 10, 12, 14, dan 16 mst. Tetapi tidak berpengaruh pada umur 2, 4, 6, dan 8 mst. Adapun gambaran tanggapan jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 3 dan 4.

Pada Gambar 3 dan 4, pemberian limbah cair karet dengan dosis L1 (500 ml. polibag-1 ) menunjukkan nilai rata-rata jumlah pelepah bibit tanaman kelapa sawit lebih tinggi yaitu 14,80 helai (16 mst) dan berbeda nyata dibandingkan dengan L0 (kontrol) dan L4 (2000 ml. polibag-1 ). Dengan nilai rata-rata 13.67 helai, 13.60 helai, tetapi tidak berbeda nyata dengan L2 (1000 ml. polibag-1 ) dan L3 (1500 ml. polibag-1 ). Dengan nilai rata-rata jumlah pelepah 14.20 helai dan 14.67 helai. Adanya pengaruh perlakuan L1 (500 ml. polibag-1) terhadap pertambahan jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit menunjukkan bahwa pemberian limbah cair mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit dan memperbaiki kondisi kesuburan media tanah berpasir.

Gambar 3 SaputeraGambar 3.     Jumlah Pelepah Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 4 SaputeraGambar 4.     Jumlah Pelepah Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Berpengaruhnya pemberian limbah cair karet terhadap pertambahan jumlah pelepah daun tanaman kelapa sawit hal ini diduga karena kandungan unsur hara yang terdapat pada tanah berpasir yang digunakan sebagai media pertumbuhan bibit kelapa sawit cukup tinggi. Limbah cair karet juga mengandung beberapa unsur hara seperti N, P, K dan Mg. Menurut  Lakitan (2006), pada saat pertumbuhan daun, diketahui tidak semua unsur hara diperlukan dan berperan langsung terhadap pembentukan daun. Menurut Sutandi (1996) dalam Riwandi (2002), unsur hara N, P, K yang optimal di dalam tanah untuk tanaman  kelapa sawit adalah untuk N 0,51%, P 11ppm, dan untuk  K 0,6 me/100. Menurut Sutedjo dan Kartasapoetra (1991) fungsi N antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan daun. Pertambahan daun kelapa sawit dipengaruhi keadaan musim dan tingkat kesuburan tanah (Pahan, 2008). Selama musim kering proses pertumbuhan daun akan tertunda tetapi daun-daun akan tetap tumbuh dan terakumulasi pada fase pupus daun. Sedangkan pada musim hujan semua daun pada fase pupus akan membuka dan setelah itu laju pembukaan daun akan berjalan normal kembali. Lingkungan yang lebih mendukung umumnya mempercepat terjadinya puncak laju produksi daun pada tanaman muda, banyaknya produksi pelepah daun pada tanaman kelapa sawit dipengaruhi oleh umur tanaman, Sulistyo dkk (2010).

Diameter Batang Bibit Kelapa Sawit

Berdasarkan hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya interaksi antar perlakuan limbah cair karet (L) dan pupuk NPK majemuk (M) pada seluruh umur pengamatan yakni umur pengamatan 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 dan 16 mst. Pengaruh terjadi hanya pada pemberian limbah cair karet terhadap diameter batang bibit tanaman kelapa sawit.  Adapun gambaran tanggapan diameter batang bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan pemberian dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 5 dan 6.

Berdasarkan uji BNJ 5% menunjukkan bahwa pada pengamatan 14 mst dan 16 mst perlakuan L4 (2000 ml. polibag-1) tidak berbeda nyata dengan perlakuan L1 (500 ml. polibag-1), L2 (1000 ml. polibag-1), dan L3 (1500 ml. polibag-1), tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan L0 (Kontrol), dengan rata-rata pertambahan pada 16 mst yaitu 5.53 cm, 5.43 cm, 5.32 cm, 5.50 cm dan 4.88 cm. Pemberian limbah cair karet sangat berperan positif dalam merangsang pertambahan diameter batang bibit tanaman kelapa sawit.

Gambar 5 SaputeraGambar 5.     Diameter Batang Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 6 Saputera Gambar 6.     Diameter Batang Bibit Tanaman Kelapa Sawit  Terhadap Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Bahan organik yang terkandung dalam pupuk limbah cair karet cukup tinggi, selain mampu memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah juga berperan memperbaiki sifat fisika tanah. Peranan bahan organik terutama meningkatkan kemampuan menahan air (Hakim dkk, 1986). Dengan meningkatnya kemampuan tanah dalam menahan air maka akar-akar tanaman akan mudah menyerap zat-zat makanan bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Suwandi dan Chan (1982), unsur N berperan dalam meningkatkan perkembangan Batang baik secara horizontal maupun vertikal, kemudian dikemukakan oleh Lingga dan Marsono (2002) unsur K berfungsi menguatkan vigor tanaman yang dapat mempengaruhi besar lingkaran batang. Unsur Ca berperan di dalam menguatkan dinding sel sehingga sangat dibutuhkan untuk memperkokoh batang tanaman.

Pertumbuhan yang baik diindikasikan dengan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis lebih tinggi dan hasil fotosintesis (karbohidrat) yang dihasilkan lebih banyak. Karbohidrat yang lebih banyak ditranslokasi lewat floem dan dapat digunakan untuk memacu pertumbuhan sekunder yaitu perluasan sel batang dan diindikasikan dengan diameter batang yang lebih lebar. Loveless (1987), menambahkan bahwa pertambahan diameter batang terkait oleh adanya pertumbuhan sekunder termasuk pembelahan sel-sel di daerah kambium dan pembentukan jaringan xilem dan floem. Menurut Gardner, dkk (1991), pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan organ-organnya akan bergantung oleh tersedianya meristem, hormon dan hasil fotosintesis (karbohidrat) serta lingkungan yang mendukung. Meristem lateral menghasilkan sel-sel baru yang memperluas lebar atau diameter suatu organ.  Kambium vaskuler merupakan suatu meristem lateral yang terspesialisasi yang membentuk xilem dan floem sekunder.

 

Jumlah Akar Bibit Kelapa Sawit

Berdasarkan hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan limbah  cair karet (L) dan pupuk NPK majemuk (M) pada umur pengamatan 16 mst. Sedangkan pada perlakuan tunggal yakni perlakuan limbah cair karet tidak  menunjukkan pengaruh terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit, demikian pula dengan perlakuan tunggal pemberian pupuk NPK majemuk tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit. Adapun Gambaran tanggapan jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit main nursery akibat perlakuan pemberian dosis limbah cair karet dan dosis pupuk NPK majemuk disajikan pada Gambar 7 dan 8.

Gambar 7 SaputeraGambar 7.     Jumlah Akar  Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Limbah Cair Karet

Gambar 8 SaputeraGambar 8.     Jumlah Akar  Bibit Tanaman Kelapa Sawit Terhadap  Pemberian Pupuk NPK Majemuk

Pada Gambar 7 dan 8, diketahui bahwa rata-rata jumlah akar bibit kelapa sawit pada umur pengamatan 16 mst dari pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk belum menunjukkan adanya perbedaan yang nyata. Namun dilihat dari nilai rata-rata masing-masing perlakuan pada umur pengamatan 16 mst, pada perlakuan pemberian limbah cair karet nilai rata-rata yang lebih tinggi yaitu pada perlakuan L4 (2000 ml.polibag-1) sebanyak 21.87 buah. Sedangkan pada pemberian pupuk NPK majemuk, rata-rata nilai yang lebih tinggi ditunjukkan pada perlakuan M3 (4 g.polibag-1) sebanyak 21.53 buah.

Tidak berpengaruhnya pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap jumlah akar bibit tanaman kelapa sawit diduga dari pemberian kedua pupuk tersebut belum mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, khusus unsur hara N, P,  dan K. Menurut Setyati (1979), pembentukan jumlah akar terjadi apabila kandungan auksin, nitrogen, karbohidrat dan zat yang berinteraksi dengan auksin yang menyebabkan perakaran pada bibit kelapa sawit berada dalam keadaan yang seimbang. Sedangkan Golsworhy dan Fisher (1995) menyatakan bahwa ketersediaan karbohidrat yang banyak akan cenderung meningkatkan proses fisiologis pada tanaman dalam proses pembelahan, pembesaran dan pembentukan akar, sehingga pertumbuhan akar akan meningkat.

Terjadinya peningkatan pertumbuhan dan percabangan akar apabila unsur hara N dan P di dalam tanah tersedia cukup besar. Pentingnya ketersediaan unsur hara N dan P dalam jumlah yang cukup dan tersedia bagi tanaman. Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), unsur nitrogen sangat penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena unsur nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman. Sedangkan menurut Rosmarkam (2002), fosfor berperan dalam proses fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan secara keseluruhan, selain itu fosfor berperan juga dalam memperbaiki sistem perakaran tanaman.

 

KESIMPULAN

Interaksi tidak terjadi antara pemberian limbah cair karet dan pupuk NPK majemuk terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit pada semua umur pengamatan dan semua variabel pengamatan, walaupun demikian dari faktor tunggal menunjukkan berpengaruh. Pemberian limbah cair karet meningkatkan tinggi dan diameter batang. Pemberian pupuk NPK majemuk dengan berbagai dosis berpengaruh negatif terhadap tinggi, diameter batang, jumlah pelepah daun dan jumlah akar.

 

SARAN

            Perlu dilakukan penelitian lanjutan menggunakan rancangan acak faktorial dengan mengkombinasi pemberian limbah cair karet dengan pupuk organik lainnya seperti limbah cangkang buah kelapa sawit itu sendiri.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada tim peneliti proyek kerjasama antara Fakultas Pertanian dengan PT. Borneo Makmur Lestari yang mendukung kegiatan penelitian ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah 2012. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2012, Palangka Raya.

Balai Informasi Pertanian. 1990. Pedoman Budidaya Kelapa Sawit.  Departemen Pertanian. Medan. Pp.32 hal.

Djazuli dan O. Trisilawati. 2004. Pemupukan, Pemulsaan dan Pemanfaatan Limbah Nilam Untuk Peningkatan dan Produktivitas Mutu Nilam. Jurnal Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, XVI (2). Balai Penelitian Rempah dan Obat.

Gardner F.P., R. B. Pearce dan R.L. Mitchell.  1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.  UI Press.  Jakarta.

Golsworhy dan Fisher. 1995. Fisiologi tumbuhan. University Press. Yogyakarta.

Hakim, N., Nyakpa, Y. M., Lubis, M. A,. Nugoho, G. S., Diha, A. M., Hong, B. G., Bailey, H. H. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Radja Grafindo. Jakarta.

Hindersah, R dan T. Simarmata. 2004. Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah. (http://http://www.unri.ac.id.)(3 Juni 2012).

Lakitan, B. 2006. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada.  Jakarta.

Lingga, P. dan Marsono. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Loveless, A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jilid I. Gramedia.  Jakarta.

Pahan. I. 2008. Kelapa Sawit Managemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.

Riwandi. 2002. Rekomendasi pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Analisis Tanah dan Tanaman. Akta Agrosia 5 : 27- 34.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah Kanisius.  Yogyakarta.

Sarief, S. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta.

Setyati. 1979. Fisiologi tanaman Budidaya. Kansius. Yogyakarta.

Sulistyo, B. Puba, A. Siahaan, D. Efendi, J. Sidik, A. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Balai Pustaka. Jakarta.

Sutedjo, dan Kartasapoetra. 1991. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta

Suwandi dan F. Chan. 1982. Pemupukan pada Tanaman Kelapa Sawit yang telah menghasilkan dalam Budidaya Kelapa Sawit  (Elaeis guineensis Jacq). Pusat  Penelitian Marihat Pematang Siantar. Medan. Hal 191 – 210.

Widyaningrum, D.Y. 1989. Usaha Pemanfaatan Limbah Pabrik Karet Getas, Salatiga untuk Pemupukan Tanaman Padi (Oryza sativa) dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Enzim Nitrat Reduktase.[Skripsi]. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM .http://www.scribd.com/doc/13097895/b070210 (diakses pada tanggal 10 ; 1; 2012).

Yahya, S. 1990. Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 52 .



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == DAMPAK LIMBAH PADAT PABRIK PENGOLAHAN KARET TERHADAP PERTUMBUHAN == Sustiyah dan Siti Zubaidah
17 September 2013, 8:59 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

DAMPAK LIMBAH PADAT PABRIK PENGOLAHAN KARET TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH PASIR

 (The Effect Of  Solid Rubber Waste On Palm Oil Growth On Sand Soil)

 Sustiyah1 dan Siti Zubaidah1

1 Staf  Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNPAR

Koresponden : sustiyah_upr@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of this study was to the increase of grow of oil palm seedlings, to giving multiple doses of solid waste rubber processing plant and catle manure of chicken, to get a doses of the best solid waste in an optimal growth at pre-nursery seedlings; and to get information on potensial, opportunities, and utilization of solid  waste rubber on the soil properties. This research was conducted using completely random design (RAL) faktorial with two treatment factor, doses solid rubber waste (L). There are three level  treatments : L0 = non treatment of solid rubber waste (Control), L1 = doses of solid rubber waste 75 kg ha-1 (500 g solid rubber waste seed-1), L2 = doses of solid rubber waste 150 kg ha-1 (1 kg solid rubber waste seed-1) and catle manure of chicken (A). There are three level  treatments :  Ao = non treatment catle manure of chicken (Control), A1 = doses catle manure of chicken 37,5 kg ha-1 (250 g catle manure of chicken seed-1), A2 = doses catle manure of chicken 75 kg ha-1 (500 g catle manure of chicken seed-1), and replicated 3 times (3 x 9) resulted 24 experiment unit.  Result showed that the dosage of the solid rubber waste treatment enough  influence and respond positively  to the growth of soil palm seedlings pre-nursery, and solid waste treatment plan rubber  was potentially  quite useful as a fertilizer for crops.  Providing solid waste rubber processing plant with a doses of 1 kg/ tree (L2) is the best  treatment  and enough to give a positif response and optimal growth in pre nursery.

Keywords : Palm Oil Seed, Solid Rubber Waste

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit terhadap pemberian beberapa  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam, agar mendapatkan dosis limbah padat yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan secara optimal pada pembibitan pre nursery; dan mendapatkan informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu dosis limbah padat pabrik karet (L) terdiri dari tiga taraf perlakuan: L0 = tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 =  dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1) dan pupuk kandang kotoran ayam (A) terdiri dari tiga taraf perlakuan: Ao= tanpa pupuk kandang kotoran ayam, A1= dosis kotoran ayam 37,5 kg ha-1 (250 g kotoran ayam bibit-1), dan A2 = dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1),     dan diulang sebanyak 3 kali, dengan demikian terdapat (3 x 9) = 24 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  dosis limbah padat pabrik pengolahan karet cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman dan dapat menyumbangkan unsur hara tanaman. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 1 kg/ pohon (L2) merupakan perlakuan yang terbaik dan memberikan respon yang positif dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery

Kata kunci : Bibit Kelapa Sawit, Limbah Padat Pabrik Pengolahan Karet

PENDAHULUAN

 

Kalimantan Tengah mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa daerah.

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya kelapa sawit. Pembibitan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga memerlukan perhatian yang serius, tetap dan terus menerus sampai pada umur 1 – 1,5 tahun pertama. Produksi awal di lapangan berkorelasi nyata dengan luas daun pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM). Kondisi ini sangat ditentukan oleh keadaan pembibitan yang baik (Pahan, 2006).

Pembibitan pada pre nursery sering mengalami hambatan karena penyesuaian waktu terhadap keadaan iklim setempat dan memerlukan media tanam yang cukup nutrisi (Hakim, 1985). Di samping itu dampak dan mahalnya harga pupuk anorganik perlu diupayakan pupuk alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik tersebut. Untuk mendapatkan bibit yang baik dan berkualitas, faktor tanah perlu diperhatikan khususnya tanah pasir sebagai media pembibitan yang cukup banyak ditemui di Kota Palangka Raya.

Menurut Lingga (1999), tanah pasir adalah tanah yang berstruktur  terlalu porous, sehingga sangat mudah merembeskan air yang mengangkut zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman tidak akan tumbuh subur.

Tanah pasir umumnya mempunyai kendala seperti miskin akan unsur hara serta sulit mengikat atau menahan unsur hara dan air (Hardjowigeno, 1995).Tanah pasir memiliki pH tanah berkisar 3,5-5,5, ketersediaan unsur hara sangat rendah, kandungan bahan organik sangat rendah, peka terhadap erosi (Syarief, 1986).

Tanah pasir memiliki kendala lain yaitu kondisi tanah yang tergolong masam. Upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi kendala dalam meningkatkan pertumbuhan bibit pre nursery  kelapa sawit pada tanah pasir antara lain melalui pemberian pupuk organik. Salah satu pupuk organik yang bisa dimanfaatkan adalah limbah padat pabrik pengolahan karet.

Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat, tetapi limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.

Kandungan dan kriteria unsur hara dalam limbah padat pabrik pengolahan karet adalah pH H2O sebesar 6,25 (agak masam), N total sebesar  0,28 % (sedang), P- tersedia sebesar 548,44 ppm (sangat tinggi), K-dd sebesar 0,28 me/100 g (sedang), Ca-dd sebesar 7,53 me/100 g (sedang), Na-dd sebesar 0,10 me/100 g (rendah), Mg dd sebesar 0,92 me/100 g (rendah), Kejenuhan Basa (KB) 27,47 % (rendah), dan KTK 31,12 me/100 g (tinggi) . Unsur-unsur tersebut diduga berasal dari bahan yang digunakan petani dalam membekukan lateks dengan berbagai bahan asam seperti asam semut dan asam alami dari buah-buahan yang ikut tercuci oleh air.

Mengingat hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan unsur hara limbah padat pabrik karet masih relatif kurang mencukupi untuk pembibitan dengan menggunakan media tanah pasir, maka perlu dilakukan juga pemberian pupuk pupuk kandang kotoran ayam dalam menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian dampak pemberian beberapa level dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) mengkaji dampak pemberian beberapa dosis limbah padat dari pabrik pengolahan karet yang dihasilkan oleh PT. Borneo Makmur Lestari Crumb Rubber Factory dan pemberian beberapa dosis pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit pre nursery, agar mendapatkan dosis limbah padat dan dosis pupuk kandang kotoran ayam yang paling baik terhadap pertumbuhan bibit  pre nursery; dan 2) informasi potensi, peluang, dan pemanfaatan limbah padat karet pada tanah pasir.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Desember 2012, di kebun petani Kelurahan Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya. Analisis hara tanah awal dan akhir serta limbah padat dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik UNPAR. Bahan yang digunakan adalah bibit sawit tahap pre-nursery dan tanah pasir dari milik petani sawit di Kelurahan Petuk Bukit Bibit berasal dari PT. Lonsum Indonesia Medan varietas DxP Lonsum, limbah padat dari pabrik karet PT. Borneo Makmur Lestari di Kota Palangka Raya, kapur dolomit, polybag ukuran 30 x 30 cm, pupuk kandang kotoran ayam, pestisida, dan bahan lainnya yang menunjang penelitian. Peralatan yang digunakan adalah karung  plastik besar, cangkul, parang, gayung ukur, camera, ember, meteran, timbangan, alat tulis, peralatan laboratorium untuk analisis, hand sprayer semi otomatis dan alat bantu lainnya yang menunjang penelitian.

            Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah dosis limbah padat pabrik karet yang terdiri dari tiga taraf perlakuan; L0 = tanpa pemberian limbah padat (kontrol), L1 = dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1), L2 = dosis limbah padat 150 kg ha-1 (1 kg limbah padat bibit-1).  Faktor  kedua adalah dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam (A)  terdiri dari tiga taraf perlakuan : Ao = tanpa pupuk kandang kotoran ayam, A1  = dosis kotoran ayam 37,5 kg ha-1 (250 g kotoran ayam bibit-1), A2 = dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1)

            Kedua faktor perlakuan tersebut dikombinasikan sehingga didapatkan 9 kombinasi perlakuan, masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 (tiga) kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Penempatan masing-masing perlakuan pada satuan percobaan dilakukan secara acak.

Sebagai data pendukung dalam penelitian ini dilakukan analisis kandungan hara tanah sebelum dan sesudah dilakukan pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam. Analisis tanah meliputi analisis pH, N, P, K, Ca, Mg, KTK dan KB sebelum penelitian dan analisis media pH, N, P dan K sesudah penelitian, serta analisis limbah padat sebelum diaplikasikan yang meliputi pH, N, P, K, Ca, Mg, Fe, Pb, Cd, Zn, Cr.

Tanah yang digunakan untuk pembibitan pre-nursery sebanyak 6 kg polybag-1 kemudian diberi kapur dolomit dengan dosis 7 ton ha-1 (50 g polybag-1). Pemeliharaan meliputi pemupukan susulan, penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian hama penyakit.

Pengamatan utama yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi variabel:  Jumlah pelepah daun (helai), Berat Basah Bibit (gr), Berat Kering Bibit (gr),  Berat Basah Akar (gr),  Berat Kering Akar (gr). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf α = 0,05 dan α = 0,01. Apabila terdapat pengaruh nyata pada perlakuan, akan dilakukan uji nilai tengah dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) taraf    α = 0,05 untuk mengetahui perbedaan antar taraf perlakuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Pelepah Bibit Pre Nursery

Berdasarkan hasil analisis ragam (uji F) jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery menunjukkan bahwa perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak berpengaruh nyata dari umur 0 hingga 10 minggu setelah tanam (mst), sedangkan pada umur 12 dan 14 mst memberi pengaruh nyata. Perlakuan yang memberi pengaruh pada umur 12 mst adalah faktor tunggal dari perlakuan dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam,  sedangkan faktor tunggal perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh pada umur 14 mst.

Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 12 dan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) merupakan perlakuan yang terbaik, sedangkan hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal dosis dosis limbah padat menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis limbah padat pabrik karet 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) merupakan perlakuan yang terbaik. Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur  12 dan 14 mst akibat perlakuan dosis pupuk kandang kotoran ayam, dan hasil uji nilai tengah tinggi bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur 14 mst akibat perlakuan dosis limbah padat pabrik karet disajikan pada tabel  1.

Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Pre Nursery

Hasil pengamatan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery tidak dilakukan analisis ragam dikarenakan data diperoleh pada pengamatan di akhir penelitian yaitu pada bibit umur 14 mst, dan tanaman sampel yang diamati hanya satu sampel yang mewakili pada masing-masing perlakuan. Hasil nilai penimbangan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap kombinasi perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam menunjukkan perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) + dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik. Hasil nilai pengukuran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit tanaman kelapa sawit pre nursery  pada umur 14 mst akibat perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan perlakuan pemberian dosis kotoran ayam disajikan pada tabel 2.

 Tabel 1. Hasil Uji Nilai Tengah Jumlah Pelepah Daun Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Faktor Tunggal Perlakuan Dosis Limbah Padat Pabrik Karet (L) dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (A)

Tabel sustiyahKeterangan :    Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan ber-dasarkan Uji BNJ 5%

Tabel 2. Hasil Nilai Pengukuran Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Sawit Pre Nursery Terhadap Perlakuan Dosis Limbah Padat Pabrik Karet (L) dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (A)

 Tabel sustiyah 2

Kandungan Hara Limbah Padat  sebagai Data Pendukung

Berdasarkan hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah padat pabrik pengolahan karet mengandung unsur hara makro, seperti nitrogen-total (N-total) sebesar 0,28 % dan kalium tersedia (K-dd)  sebesar 0,28 me/100g dengan kriteria sedang, phospor-tersedia (P-tersedia) sebesar 548,44 ppm dengan kriteria tinggi, calsium tersedia (Ca-dd) sebesar 7,53 me/100g (kriteria tergolong sedang), natrium tersedia (Na-dd) sebesar 0,10 me/100g dan magnesium tersedia (Mg-dd) sebesar 0,92 me/100g dengan kriteria tergolong rendah. Dengan demikian limbah padat tersebut cukup berpotensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, terutama bagi tanaman kelapa sawit.

Hasil analisis kandungan KB dan KTK dalam limbah padat karet adalah: Kejenuhan Basa (KB) sebesar 27,47 % (kriteria tergolong rendah), dan KTK sebesar 31,12 me/100 g (kriteria tergolong tinggi). Mengingat limbah padat tersebut diaplikasikan sebagai pupuk tanaman maka kandungan KB dan KTK yang terkandung dalam limbah padat yang dijenuhi kation basa diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Pembahasan

Secara garis besar pertumbuhan tanaman yang baik dapat digambarkan dari kondisi jumlah pelepah daun dan berat basah, berat kering tajuk serta akar tanaman. Pemberian perlakuan kombinasi dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan dosis kotoran ayam cukup memberikan pengaruh dan memberi respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery.

Hasil analisis ragam (uji F) jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery menunjukkan bahwa perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak berpengaruh dari umur 0 hingga 10 mst, sedangkan pada umur 12 dan 14 mst memberi pengaruh nyata. Perlakuan yang memberi pengaruh pada umur 12 adalah faktor tunggal dari perlakuan dosis pemberian pupuk kandang kotoran ayam,  sedangkan faktor tunggal perlakuan dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh pada umur 14 mst.

Hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 12 dan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) merupakan perlakuan yang terbaik, sedangkan hasil uji nilai tengah jumlah pelepah daun bibit kelapa sawit pre nursery pada pengamatan 14 mst terhadap perlakuan faktor tunggal dosis dosis limbah padat menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis limbah padat pabrik karet 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) merupakan perlakuan yang terbaik. Gambaran respon jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat perlakuan faktor tunggal pemberian dosis limbah padat pabrik karet yang memberikan pengaruh pada umur pengamtan 14 mst disajikan pada Gambar 1 dan respon jumlah pelepah daun bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat perlakuan faktor tunggal pemberian dosis pupuk kandang kotoran ayam memberikan pengaruh pada umur pengamtan 12 dan 14 mst disajikan pada Gambar 2.

gambar sustiyahGambar 1.   Grafik Respon Jumlah Pelepah Daun Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Limbah Padat Pabrik Karet

gambar sustiyah 2Gambar 2. Grafik Respon Jumlah Pelepaha Daun Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam

Berdasarkan hasil penimbangan berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit pre nursery terhadap kombinasi perlakuan dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam menunjukkan perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) + dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik. Gambaran berat basah, berat kering tajuk dan akar bibit tanaman kelapa sawit pre nursery akibat pemberian dosis limbah padat pabrik pengolahan karet dan pemberian dosis kotoran ayam disajikan pada Gambar 3.

Banyaknya jumlah pelepah daun bibit pre nursery akibat perlakuan kombinasi dosis pemberian limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam tidak memberi pengaruh, namun faktor tunggal tunggal perlakuan pemberian dosis limbah padat 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) (L1) dan faktor tunggal dosis kotoran ayam 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (A2) pada akhir pengamatan (14 mst) merupakan perlakuan terbaik pada umur 12 dan 14 mst. Hal ini berarti bahwa unsur hara khususnya unsur hara makro yang terkandung pada pemberian faktor tunggal limbah padat pabrik karet dan pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis tersebut cukup menunjang dalam pertumbuhan jumlah pelepah daun

Unsusr hara makro yang terkadung dalam limbah padat pabrik pengolahan karet diantaranya hara nitrogen (N), phospor (P), kalium (K), calsium tersedia (Ca-dd), natrium tersedia (Na-dd) dan magnesium tersedia (Mg-dd) serta Kejenuhan Basa (KB), dan KTK yang tergolong tinggi) sebagaimana dijelaskan pada uraian di atas.. Sedangkan unsur hara makro yang terkandung pada  pupuk kandang kotoran ayam cukup tinggi yakni nitrogen (N) sebesar 6,27%, phospor (P) sebesar 5,92 %, kalium (K) sebesar 3,27 %  (Sutedjo, 1994).

Jumlah pelepah daun dan berat tajuk dan akar pada tanaman kelapa sawit dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi pertumbuhan yang baik dan merupakan komponen utama produksi sawit karena pelepah daun merupakan tempat keberadaan tandan sawit sebagai hasil fotosintat dari tanaman. Sedangkan tingginya berat tajuk dan akar pada tanaman dapat menggambarkan banyaknya seraapan hara yang dapat dilakukan oleh organ tanaman tersebut karena organ tanaman tersebut berfungsi untuk penyerapan dan menstansformasi hara. Oleh karena itu tajuk dan akar yang sehat dapat menggambarkan kondisi tanaman yang normal dan sehat.

Gambar sustiyah 3Gambar 3. Grafik Respon Berat Basah, Berat Kering Tajuk dan Akar Bibit Pre Nursery Terhadap Pemberian Limbah Padat Pabrik Karet dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam.

Nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif  tanaman. Nitrogen berperan dalam pembentukan sel tanaman terutama pada pertumbuhan vegetatif, seperti pembentukan daun, tinggi tanaman, lingkar batang, dan tajuk tanaman. Gejala kekurangan unsur hara nitrogen adalah tanaman menunjukkan gejala klorosis, terutama daun yang tua; daun muda berwarna hijau muda/pucat, bila terlalu lama kekurangan N semua daun menguning dan akhirnya mati. Gejala lain adalah batang kurus dan berkayu (Sarief, 1986).

Meningkatnya pertumbuhan tanaman dengan meningkatnya pemberian takaran pupuk seperti pemberian limbah padat karet dan pupuk kandang kotoran ayam membuktikan, bahwa pada pertumbuhan awal atau pertumbuhan vegetatif tanaman memerlukan jumlah unsur nitrogen yang tinggi untuk pertumbuhannya. Rendahnya kandungan protein daun akibat suplai N yang rendah pada dosis yang lebih sedikit menyebabkan asimilasi N menjadi protein menjadi lebih rendah yang akan didistribusi pada ke seluruh bagian tanaman. Hal ini di sebabkan karena jumlah terbesar dari N yang dibutuhkan untuk membentuk protein digunakan untuk pembentukan protoplasma sel-sel baru, di samping untuk pembentukan klorofil, sitokrom dan sebagai enzim dalam kloroplas dan mitokondria pada daun (Zakaria, 1999). Di samping itu, protein juga di akumulasikan pada biji dan sebagai protein cadangan pada struktur ikatan membrane yang disebut benda protein (Zolla et al, 2003). Peningkatan ketersediaan hara menyebabkan tanaman akan memanfaatkan hara dengan baik, sebagai bahan baku terhadap terbentuknya assimilat pada tanaman (Purcell et al., 2002; Lawlor, 1993).  Jumlah assimilat yang terbentuk pada tanaman yang lebih tinggi menyebabkan produksi   bahan kering tanaman semakin  meningkat.  Penyerapan N yang lebih tinggi oleh tanaman maka tanaman akan membentuk protein lebih tinggi.  Terbentuknya protein yang tinggi bagi tanaman, menyebabkan perkembangan sel-sel tanaman akan lebih baik sehingga deferensiasi sel tanaman menjadi lebih berkembang (Millar and Heazlewood, 2003).

Phospor berperan dalam pembentukan akar, khususnya pada pembibitan pada tahap pre nursery (pertumbuhan kecambah sawit hingga umur 3 bulan) maupun main nursery (pertumbuhan bibit sawit umur 4 bulan hingga umur 12 bulan, siap untuk dipindahkan ke lapangan/lahan) dan berperan dalam pertumbuhan akar kelapa sawit di lapangan. Phospor sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara phospor pada tumbuhan adalah waktu panen akan terlambat, tumbuhnya kerdil, batang kurus, daun-daun yang lebih tua rontok, warna daun hijau tua dan terdapat bintik/bercak nekrotik (yaitu bintik kecil dari jaringan yang mati) (Sarief, 1986). Dan apabila tanaman kekurangan unsur hara terutama unsur P dapat menyebabkan berkurangnya perkembangan akar, dimana akar akan kelihatan kecil-kecil, sehingga akan mempengaruhi berat kering akar tanaman (Sarief, 1986). Selain itu tanaman yang  kekurangan unsur hara N, P, K, dan Mg akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, akar menjadi lemah dan jumlah akar berkurang, dengan demikian akan mempengaruhi berat kering tanaman.

Kalium berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan pucuk tanaman, mendukung pertumbuhan jaringan tanaman sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit. Kalium sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara kalium pada tumbuhan adalah mula-mula daun yang tua klorosis kemudian muncul bintik/bercak nekrotik pada ujung dan tepi daun yang kemudian meluas ke seluruh daun. Daun menggulung, keriting, batang lemah dan mudah roboh (Sarief, 1986).

Kalsium, natrium dan magnesium dalam tanah berperan untuk mengurangi tingkat kemasaman tanah, sedangkan peranan magnesium bagi tanaman merupakan unsur pokok dalam pembentukan klorofil (hijau daun), calsium dan natrium merupakan unsur pokok pembentuk lamela tengah dinding sel yakni dapat memperkokoh pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara calsium dan natrium pada tumbuhan adalah terjadi nekrosis pada ujung dan sepanjang tepi daun muda, diiringi dengan nekrosis pada ujung pucuk yang akhirnya jaringan meristem ini mati. Sedangkan gejala kekurangan unsur hara magnesium pada tumbuhan adalah klorosis pada urat daun, terjadi pada daun yang tua lebih dahulu, lama kelamaan daun akan berwarna kuning atau putih (Sarief, 1986).

KB merupakan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation asam seperti H dan Al +kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na) yang terdapat dalam komplek jerapan tanah. Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang dierlukan oleh tanaman. Tanah dengan KB yang tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur.  KTK merupakan banyaknya kation yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah. KTK merupakan sifat kimia tanah yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah (Sarief, 1986).

Pemberian bahan organik tanah seperti limbah padat pabrik pengolahan karet pada tanaman cukup dapat menyumbangkan hara bagi pertumbuhan tanaman.  Pupuk organik mempunyai fungsi penting dalam tanah yaitu untuk dapat menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhannya dapat meningkatkan kesuburan tanah pula (Muslihat L, 2009).  Selain itu hara C, H, O yang terkandung di dalam bahan organik pada pupuk limbah padat karet merupakan unsur yang paling dibutuhkan dalam proses fotosintesis sebagai penyusun senyawa-senyawa penting dalam tanaman yang nantinya akan diubah untuk membentuk organ seperti batang, daun, dan akar. Apabila fotosintesis berlangsung dengan baik, tanaman akan dapat tumbuh dengan normal serta diikuti oleh peningkatan berat kering tanaman.

Limbah padat dari pabrik pengolahan karet merupakan limbah yang secara umum memiliki kandungan bahan organik tinggi, bau menyengat dan berwarna hitam. Limbah karet tersebut mempunyai kandungan bahan organik dan nutrien yang tinggi, hal ini disebabkan karena dalam proses pengolahan karet banyak mengunakan bahan kimia seperti NH4OH sebagai antikoagulan dan disenfektan yang ditambahkan pada saat penyadapan sebanyak 5 -10 ml larutan amonia 2 – 2,5 per liter latek (Suwardin, 1989).

Komposisi limbah pabrik karet mengandung bahan organik yang berasal dari serum dan partikel karet yang belum terkoagulasi. Dalam serum terdapat protein, gula, lemak, garam orgnik dan mikroorganisme. Limbah pabrik karet mengandung komponen karet (protein, lipid, karotenoid, dan garam anorganik), lateks tidak terkoagulasi dan bahan kimia yang ditambahkan selama pengolahan (Suwardin, 1989).

 

KESIMPULAN

  1. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dan pupuk kandang kotoran ayam cukup memberikan pengaruh dan respon yang positif terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pre nursery, dan limbah padat pabrik pengolahan karet cukup bermanfaat dan berpotensi sebagai pupuk tanaman dan dapat menyumbangkan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman.
  2. Pemberian limbah padat pabrik pengolahan karet dengan dosis 75 kg ha-1 (500 g limbah padat bibit-1) dan pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 75 kg ha-1 (500 g kotoran ayam bibit-1) (L1A2) merupakan perlakuan yang terbaik pada pembibitan pre nursery.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, 1985. Evaluasi Kemampuan Lahan. Jurusan Ilmu Tanah Faperta IPB. Bogor.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika  Pressindo. Jakarta.

Lingga, P. 1999. Pupuk dan Pemupukan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lawlor, D. W. 1993: Photosyntesis, moleculer, physiologic,al and environ-mental processes.  Scientific Longman & Technical England.

Millar, A. H., and J. L. Heazlewood. 2003. Genomic and proteomic analysis of mitochondria1 carrier proteins in arabodopsis.Plant Physiol. 131: 443-453.

Muslihat, L. 2009. Teknik Pembuatan Kompos Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah di Lahan Gambut. Co_ccfpi@wetlands.or.id.

Pahan,  I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

Purcell, L. C., R. A. all, J. D. Reaper, and E. D. Vories. 2002. Radiation use efficiency and biomass production in soybean at different plant population densities. Crop Sci. 42: 172-177.

Sarief, ES. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana. Bandung.

Suwardin, D. 1989. Tehnik pengendalian limbah pabrik karet. 4(2): 25-32.  Jakarta.

Zakaria, B. 1999. Aktifitas fotosintesis dan rubisco tanaman yang diberi metanol pada berbagai tingkat cekaman air (Kasus pada tanaman kapas). Dis. Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.

Zolla, L., A. M. Tiperio, W. Walcher, and C. G. Huber. 2003.  Proteomics of light-harvesting proteins in different plant species. Analysis and comparison by liquid chromatography-electrospray ionization mass spectrometry. Photosystem , 111. Plat Physiol. 131: 198-214.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PENGARUH PUPUK KANDANG PADA BEBERAPA JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN Kambang V Asie, Saputera, Hadinnupan Panupesi, Syahrudin
16 September 2013, 1:32 pm
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PENGARUH PUPUK  KANDANG  PADA BEBERAPA JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAHE

(Effects of Several Manures on Different Soil Types on Growth and Yield of Ginger)

Kambang Vetrani Asie1, Saputera1, Hadinnupan Panupesi1 dan Syahrudin1

1Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : kambangvasie@yahoo.co.id

 

ABSTRACK

 The purpose of this research was to determine effects of several manures on different soil types on growth and yield of ginger.  The result showed that (1) there was no interaction between manure and three types of soil  for all parameters (2) application of chicken manure could increase ginger’s plant height, number of tillers, leaf area and fresh weight (3) peat soil could enhanced  growth and yield of ginger by increasing of leaf area and fresh weight per clump.

 Key words : ginger, manure types, soil types

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang pada beberapa jenis tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jahe. Hasil penelitian menunjukkan  (1) tidak ada interaksi antara  pemberian beberapa jenis pupuk kandang dan tiga jenis tanah sebagai  media tumbuh  terhadap semua variabel pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe (2) pemberian pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun dan bobot rimpang segar jahe  (3) tanah gambut sebagai media tumbuh  mampu  meningkatkan  pertumbuhan dan hasil tanaman jahe pada  variabel pengamatan luas daun dan bobot rimpang segar jahe.

 Kata kunci : Jahe, jenis pupuk kandang, jenis tanah.

PENDAHULUAN

Perkembangan tanaman jahe di Kalimantan Tengah saat ini kurang diperhatikan, ini terbukti jahe yang ada dipasaran berasal dari luar daerah.  Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman jahe di Kalimantan Tengah adalah kondisi lahan yang  didominasi oleh tanah marjinal dengan sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, 2011 melaporkan produksi jahe yang dihasilkan di Kalimantan Tengah tahun 2010 sebanyak 381.241 kg.  Produksi terbanyak dihasilkan di Jawa Tengah 30.860.553 kg.

Tanaman jahe dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Kondisi tanah yang diharapkan adalah lahan subur, gembur dan berhumus baik secara fisik maupun kimia.  Kesuburan fisik untuk memberikan kesempatan kepada akar untuk berkembang secara luas, sedangkan kesuburan kimia tanah dapat menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan keadaan tersedia untuk diserap olah tanaman.  Setiap jenis tanah mempunyai nilai kesuburan yang berbeda, sehingga nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan, hasil dan kandungan kimia tanaman,  sehingga perlu dipelajari program pemupukan berbeda  untuk setiap jenis tanah.  Program pemupukan ini untuk meningkatkan kesuburan baik fisik, kimia maupun biologi diperlukan pemberian pupuk organik seperti pupuk kandang. Peranan pupuk kandang sangat ditentukan oleh sumber dan susunan makanan ternak, kelancaran dekomposisi serta hasil dekomposisi.  Gaur (1980) dalam Rizal (2006) mengemukan bahwa keragaman kualitas bahan organik disebabkan oleh sumber bahan organik yang menentukan hasil dekomposisinya.

Kandungan N, P2O5 serta K2O yang terdapat dalam pupuk kandang dari : ayam adalah 1,0%; 0,80%; 0,4%; kambing  0,95%; 0,35%; 1,0%; dan sapi 0,60%; 0,15%; 0,45% (Sutejo, 1995). Menurut Setyamidjaja (1996) jumlah bahan organik yang terdapat pada pupuk kandang kambing, sapi, dan ayam berturut-turut adalah 38%, 12%, dan 20%.  Bahan organik di dalam tanah didekomposisi oleh mikro organisme tanah yang menghasilkan humus yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.  Humus di dalam tanah dapat memperbaiki kestabilan dan struktur tanah, membantu agregasi tanah, memperbaiki drainase dan aerasi tanah (Vaughan dan Malcolm, 1985 dalam  Triwahyuningsih, 1994).  Bahan organik tanah berperan sebagai reservoir untuk hara dan mencegah pencucian hara serta meningkatkan KPK tanah.

Tanaman jahe merupakan salah satu tanaman industri yang dikehendaki menghasilkan rimpang sebanyak mungkin.  Untuk mencapai tujuan tersebut tanaman harus dipersiapkan sebelumnya, yaitu antara lain jenis tanahnya, perlakuan yang diterapkan serta ekosistemnya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan akan sangat berpengaruh terhadap produksi pada waktu selanjutnya, yaitu komposisi kimiawi rimpang jahe. Pemupukan termasuk bagian dari pemeliharaan dengan tujuan untuk mendapatkan pertumbuhan sebaik mungkin,  sehingga tanaman dapat memberikan produksi yang optimal.  Faktor yang mempengaruhi efisiensi pemupukan untuk mendapatkan respon yang baik dari tanaman diantaranya adalah jenis pupuk yang dipakai.

Fase pertumbuhan tanaman jahe yang relatif lama (tergantung jenisnya) memerlukan unsur hara yang cukup, seimbang dan berkesinambungan.  Kebutuhan hara pada fase ini berhubungan erat  dengan potensi tanah, pemupukan serta umur tanaman. Pemupukan pada tanaman jahe hingga saat ini tidak diberi pupuk tambahan, cukup dengan pupuk kandang dengan  takaran minimum 20 ton/ha untuk meningkatkan hasil rimpang jahe (Badang Litbang Pertanian, 2010). Pupuk kotoran ternak yang diberikan dengan kandungan dan bahan ikutan serta sifat tertentu yang tidak sama akan menimbulkan pengaruh yang tidak sama pula terhadap tanaman.

Merunut pada  permasalahan tersebut diatas, maka  perlu dilaksanakan suatu penelitian tentang jenis pupuk kandang ditinjau dari segi agronomis dan efisiensinya, serta  jenis pupuk kandang apa yang sesuai bila ditinjau dari jenis tanahnya, sehingga akan diketahui pertumbuhan, dan hasil  tanaman jahe yang optimal.

BAHAN DAN METODE

             Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.   Waktu Pelaksanaan penelitian selama 4 bulan.  Analisis sampel tanah dilakukan di laboratorium Analitik Universitas Palangka Raya.  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah gambut pedalaman, alluvial dan ultisol, diambil pada lahan yang berbeda, bibit jahe, polibag hitam berdiameter 40 cm dan tinggi 35 cm,  pupuk kandang ayam, sapi, kambing, dan dolomit, dan bahan-bahan kimia yang menunjang analisis di laboratorium.

Alat yang digunakan dalam penelitian adalah alat ukur (meteran/penggaris), alat pemeliharaan tanaman, alat panen, timbangan analitik, pengayak tanah berukuran 2 mm dan 5 mm, dan peralatan lain yang menunjang pengamatan dan analisis data.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial.  Faktor pertama adalah tiga jenis tanah, yaitu tanah gambut pedalaman (T1), tanah alluvial (T2) dan tanah ultisol (T3). Faktor kedua adalah  jenis pupuk kandang yang digunakan, yaitu tanpa pupuk kandang (P0), pupuk kandang ayam (P1), pupuk kandang sapi (P2), dan pupuk kandang kambing (P3). Variabel yang diamati meliputi : tinggi tanaman (cm), jumlah anakan (buah). luas daun (cm²), bobot rimpang segar saat panen (gram).

  

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tidak ada interaksi antara pemberian beberapa jenis pupuk kandang dan tiga jenis tanah yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jahe  pada semua variabel dan umur pengamatan. Hal ini diduga karena kedua perlakuan  tidak mampu bersinergi (bekerjasama) untuk saling berinteraksi (timbal-balik) mendukung pertumbuhan tanaman jahe. Menurut Hanafiah (1995), tidak terjadinya  interaksi dua faktor perlakuan dapat menunjukkan kedua faktor tidak mampu bersinergi (bekerjasama) karena mekanisme kerjanya berbeda atau salah satu faktor tidak berperan secara optimal atau bahkan bersifat antagonis, yaitu saling menekan pengaruh masing-masing atau memiliki  peranan yang sama di dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe. Walaupun tidak terjadi  interaksi pada kedua perlakuan tersebut, namun masing-masing perlakuan faktor tunggal memberikan pengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe.

Pengaruh Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jahe

Pemberian  beberapa jenis pupuk kandang pada tanaman jahe  memberikan pengaruh terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman dan jumlah anakan pada umur pengamatan 9 MST 12 MST dan 15 MST  (Tabel 1 ), begitu juga terhadap variabel luas daun dan bobot rimpang segar jahe (diamati pada saat panen umur 15 MST).

Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe,  dibandingkan dengan perlakuan lainnya (pupuk kandang sapi dan kambing), walaupun pada variabel tinggi tanaman dan jumlah anakan antar perlakuan pupuk kandang tidak berbeda nyata, tetapi secara rata-rata pemberian pupuk kandang ayam memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jahe. Hal ini diduga karena pupuk kandang ayam relatif lebih cepat terdekomposisi. Pupuk kandang ayam (Hardjowigeno, 1995) memiliki kadar N, P dan K cukup tinggi dibandingkan pupuk kandang lainnya.  Kandungan N tiga kali lipat lebih banyak dari pupuk kandang lainnya, karena bagian cair dan padat tercampur menjadi satu, sehingga mampu menambah tersedianya unsur hara bagi tanaman jahe memperbaiki struktur tanah, memacu aktivitas mikroorganisme yang berguna bagi tanaman.

Pupuk kandang ayam merupakan pupuk organik lebih baik dibandingkan pupuk kandang lainnya.  Menurut Suryanto (1997)  bahwa pupuk kandang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada pada pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun serta berat segar.  Pengaruh pupuk kandang 15 ton/ha terhadap berat segar tanaman tertinggi pada pemberian pupuk kandang ayam, kemudian diikuti pupuk kandang kambing, pupuk kandang kerbau dan sapi, juga dilaporkan percobaan dengan tanaman tomat yang menunjukkan bahwa pupuk kandang ayam lebih baik daripada pupuk kandang lainnya.

Tabel 1.    Rata-rata Tinggi Tanaman, Jumlah Anakan, Luas Daun dan Bobot Rimpang Segar Pengaruh Perlakuan Jenis Pupuk Kandang

Tabel Kambang 1Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama  tidak berbeda nyata  menurut uji BNJ pada taraf 5 %.

Tabel 2.  Rata-rata Tinggi Tanaman, Jumlah Anakan, Luas Daun dan Bobot Rimpang Segar Pengaruh Perlakuan Jenis Tanah

Tabel Kambang 2Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada  kolom yang sama  tidak berbeda nyata  menurut uji BNJ pada taraf 5 %.

 Kandungan unsur hara pada pupuk kandang  ayam dengan komposisi  berturut-turut N (1,0%) dan P (0,18%) yang lebih besar dibandingkan pupuk kandang sapi N (0,4%) dan P (0,15%) dan kambing N (0,95%) dan P (0,35%) (Lingga, 1994); Sutejo, 1995), saat diaplikasikan untuk pemupukan media tumbuh tanaman jahe, maka jumlah unsur hara  yang dapat diserap oleh akar tanaman jahe juga lebih banyak.  Unsur hara tersebut selanjutnya terlibat dalam proses pembelahan sel, baik sebagai aktifator enzim maupun sebagai substrat pembelahan sel.  Tersedianya hara  makro dan mikro yang lebih baik dari pupuk kandang ayam akan dapat mendukung pertumbuhan yang lebih baik, dan pada akhirnya hasil tanaman juga lebih baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Marschner (1996), bahwa minimal lima persen dari total unsur hara yang diserap oleh tanaman digunakan sebagai substrat penyusunan organ dan jaringan.

Menurut Sitompul dan Guritno (1995), hasil tanaman sangat ditentukan oleh produksi biomassa pada saat masa pertumbuhan tanaman dan pembagian biomassa pada bagian yang dipanen. Produksi biomassa tersebut mengakibatkan pertambahan berat dapat pula diikuti dengan pertambahan ukuran tanaman. Kondisi ini menurut Gardner dkk.. (1991) sangat dimungkinkan apabila pada saat pertumbuhan tanaman, unsur hara dan faktor pendukung lainnya tersedia dan tidak menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan pembagian hasil fotosintesis (fotosintat) ke organ hasil berjalan dengan baik.  Hal ini terbukti pemberian pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun,  dan bobot segar rimpang jahe  (Tabel 1).

Pengaruh Jenis Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jahe

Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan    yang dicobakan pada tiga jenis tanah umur 9 MST, 12 MST dan 15 MST (Tabel 2), menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada tinggi tanaman dan jumlah anakan tanaman jahe yang ditumbuhkan pada 3 jenis tanah yang berbeda, walaupun demikian ada kecenderungan bahwa tanaman jahe yang ditumbuhkan pada tanah gambut memberikan tinggi tanaman dan jumlah anakan yang lebih tinggi.

Perbedaan lingkungan merupakan keadaan yang sering menjadi penyebab keragaman penampilan tanaman di lapangan.  Perbedaan lingkungan terhadap tanaman tidak hanya pada lingkungan yang luas, tetapi juga pada lingkungan yang sempit (Sitompul dan Guritno, 1995).  Perlakuan jenis tanah yang digunakan memberikan penampilan tanaman jahe yang beragam, hal ini ditunjukkan pada masing-masing variabel pengamatan luas daun dan bobot rimpang segar jahe.

Terjadinya perkembangan peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe pada tanah gambut  dibandingkan dengan lainnya, diduga berhubungan erat dengan perubahan pH sebelum diberi kapur dolomit (4,24) dan sesudah diberi kapur dolomit (5,76).  Menurut Darmawijaya (1997), pH tanah mempunyai pengaruh langsung terhadap ketersediaan beberapa unsur hara dalam tanah, oleh sebab itu peningkatan pH tanah merupakan salah satu faktor penting dalam sistem budidaya tanaman, dan selanjutnya diharapkan struktur tanah menjadi lebih baik dan kehidupan mikroorganisme dalam tanah lebih giat, akibatnya daya melapuk bahan organik menjadi humus lebih cepat.   Perubahan pH dari 4,24 menjadi 5,76 tersebut secara tidak langsung meningkatan ketersediaan unsur hara seperti N, P, dan K, dengan demikian tanaman jahe ini secara genetis mampu menggunakan secara keseluruhan suplai unsur hara yang tersedia di dalam media tersebut sehingga akan memacu pertumbuhan tanaman dan hasil yang ditunjukkan dengan meningkatnya luas daun dan bobot rimpang segar jahe (Tabel 2).

            Tersedianya N, P dan K yang lebih tinggi pada tanah gambut menjadikan tanah ini mampu mendukung pertumbuhan tanaman jahe lebih baik dibandingkan pada tanah alluvial dan ultisol,  khusus unsur N dan P pada tanah gambut kandungannya jauh lebih tinggi melebihi pada tanah alluvial dan ultisol, ini karena pada tanah gambut unsur N dan P bersumber dari bahan organik, berbeda dengan tanah alluvial dan ultisol yang merupakan tanah mineral dengan kandungan bahan organik yang rendah (kurang 20%). Menurut Stevenson (1982) dalam Salampak (1993) bahwa nitrogen dan fosfor yang tinggi pada tanah gambut bersumber dari bahan organik yang tinggi, ditambahkan pula oleh Agustina (1977), bahwa elemen N, P dan K merupakan unsur hara makro esensial yang dibutuhkan dalam jumlah yang besar oleh tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangannnya.

KESIMPULAN

Tidak ada interaksi antara pemberian tiga jenis pupuk kandang dan tiga jenis tanah sebagai  media tumbuh terhadap semua variabel pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe.

Pemberian pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe, pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun, dan bobot rimpang segar jahe.

Tanah gambut sebagai media tumbuh   mampu meningkatkan   pertumbuhan dan hasil tanaman jahe pada variabel luas daun dan bobot rimpang segar jahe.

SARAN

Penelitian ini menggunakan beberapa jenis pupuk kandang dan pemberian pupuk kandang ayam ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe, namun belum diketahui dosis optimun, untuk itu perlu penelitian lanjutan tentang dosis penggunaan pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jahe.

Tanah gambut sebagai media tumbuh  mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jahe, tetapi perlu dikaji tentang penggunaan tanah gambut sebagai lahan untuk pertumbuhan dan hasil tanaman jahe di lapang.

 

Teriamakasih kepada Lembaga Penelitian Unpar Melalui DIPA PNBP Universitas Palangka Raya No.2044A/UN24/PL/2012.   yang telah membiayai penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Agustina, L.  1977.  Nutrisi Tanaman.  Rineka Cipta.  Jakarta.

Badan Pusat Statistik.  2011.  Produksi Tanaman Obat-obat menurut Propinsi (kg). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php ? diakses tgl 22 Maret 2012.

Badan Litbang Pertanian. 2010. http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/85/ diakses 22 maret 2012

Darmawijaya, M.I.  1997.  Klasifikasi Tanah.  Gadjah Mada University.  Yogyakarta.

Gardner, F. P., Pearce, R. B., dan Mitchel, R. L.  1995.  Fisiologi Tanaman Budi-daya. (terjemahan).  UI Press.  Jakarta.

Hanafiah, K.A. 1995. Dasa-dasar Ilmu. Radja Grafindo.  Jakarta.

Hardjowigeno, S.  1995.  Ilmu Tanah.  Akademika Pressindo.  Jakarta.

Lingga,P.  1994.  Pupuk dan Pemupukan.  Penebar Swadaya.  Jakarta.

Marschner, H.  1996.  Mineral Nutriton of Higher Plants.  Academic Press.  London-Tokyo-Toronto.

Rizal, A.  2006.  Keefektifan dan Pola Persistensi Herbisida Metalachor dan Oksifluoerfen Bervriasi Dosis pada Pertanaman Kedelai yang diberi Bahan organic Berbeda Sumber.  Disertasi Program Pasca sarjana UNPAD Bandung

Salampak.  1993.  Studi Asam Fenol Tanah Gambut Pedalaman dari Bereng Bengkel pada Keadaan Anerob. Tesis. Program Pascasarjana IPB.  Bogor.

Setyamidjaja. 1996. Pupuk dan Pemupukan. Simplex. Jakarta.

Sitompul, S. M., dan  Guritno, B.  1995.  Analisis Pertumbuhan Tanaman.  Gadjah Mada University Press.  Yogyakarta.

Suryanto, 1997.  Bahan Organik untuk Budidaya Hortikultura.  Makalah Seminar Ilmiah Nasional Pengembangan Hortikultura.  Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Hortikultura dalam rangka Ulang Tahun ke 51 Fakultas Pertanian UGM.  Yogyakarta 25 September 1997.

Sutedjo, MM, 1995. Pupuk dan Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Triwahyuningsih, N.  1994.  Peranan Mikroorganisme dalam Proses Pengomposan.  Makalah Seminar Kelas.  Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN == Maria Erviana Kusuma dan Lisnawaty Silitonga
16 September 2013, 1:09 pm
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

PENGARUH LAMA PROSES PEMBUATAN PUPUK KOMPOS BERBAHAN LIMBAH KOTORAN TERNAK SAPI TERHADAP KUALITAS PUPUK KOMPOS

(The Effect long process of compost waste of livestock to the quality of compost)

Maria Erviana Kusuma1, Lisnawaty Silitonga2

1Dosen Fakultas Peternakan UNKRIP, 2Dosen Jurusan Budidaya Pertanian UNPAR

Korespondensi : lisnawatykeren@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The aim of  this research is to know how long the process of compost of waste of livestock have an effect on to quality of compost. This research represent the field attempt by using RAL with four treatment and three restating. Treatment specified consisted of the the duration pickling that is, 0 day ( control), 14 day, 28 day and 42 day, each treatment repeated thrice so that there are 12 attempt unit. Perception parameter perceived to cover the compost colour, tekstur compost, compost temperature, pH of compost and macro element hara which implied in compost.The Result showed that the duration   process of compost from the waste of livestock have an effect on to quality of compost. The making of compost 42 day show the highest result with the black colour, smooth tekstur and temperature 29ºC as its physics. While for the content of  K the making of compost  42 day show the best result compared the other treatment, but the content of  N the making of compost  42 day was  not different with 28 day and 14 day.  The content of P and pH the making of compost  42 day was not different  from 28 day but different with the treatment 14 day and control. But the making of compost  42 day show a good quality  compost.

 Key words : long process, compost waste of livestock, quality compost

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas kompos. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap  (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan.  Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan yaitu, 0 hari (kontrol), 14 hari, 28 hari dan 42 hari, masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 12 unit percobaan.  Variabel yang diamati meliputi warna kompos, tekstur kompos, suhu kompos, pH kompos dan unsur hara makro yang terkandung dalam kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengomposan berbahan limbah kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.  Lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Kandungan K pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan perlakuan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengomposan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 Kata Kunci : lama proses, kompos berbahan limbah kotoran ternak, kualitas kompos

PENDAHULUAN

Penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman merupakan salah satu program bebas bahan kimia, karena bahan-bahan penyusun kompos terdiri dari kandungan senyawa organik dan cukup berpotensi sebagai penyedia unsur hara. Kompos sangat berperan dalam proses pertumbuhan tanaman, karena kompos tidak hanya sekedar menambah unsur hara, tetapi kompos juga menjaga fungsi tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Alasan utama pemberian kompos pada tanah lebih bertujuan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah daripada menyediakan unsur hara, walaupun unsur hara pada kompos sudah ada dalam jumlah sedikit, dengan demikian pupuk kimia tidak dapat menggantikan fungsi kompos karena masing-masing memiliki peran yang berbeda, pupuk kimia berperan menyediakan nutrisi dalam jumlah besar bagi tanaman, sedangkan kompos cenderung berperan menjaga fungsi tanah agar unsur hara dalam tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk menyerap unsur hara yang disediakan oleh pupuk kimia (Yuwono, 2005).

Limbah ternak yang berasal dari Rumah Potong Hewan sering disebut dengan sampah organik, di kota besar Rumah Potong Hewan menghasilkan limbah yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain tidak dimanfaatkan secara maksimal bau yang ditimbulkan sangat busuk dan menyengat disamping dapat diprediksi sebagai agen pencemaran lingkungan bila tidak diolah terlebih dahulu (Sahidu dan Hermadi, 2004).

Di Rumah Potong Hewan (RPH) Kalampangan ada banyak bahan-bahan sisa dari hasil pemotongan hewan yang tidak termanfaat dengan baik, yaitu diantaranya isi rumen dan kotoran sapi yang kemudian diolah menjadi kompos oleh UPT Rumah Potong Hewan (RPH) di Desa Kalampangan.

Waktu merupakan faktor yang menentukan dalam pembuatan kompos, disamping faktor tempat pembuatan, jenis bahan  yang disimpan serta keadaan fisik dan kimia bahan yang akan disimpan. Waktu yang berkaitan dengan lamanya proses pembuatan kompos akan berpengaruh terhadap kualitas kompos yang dihasilkan. Berdasarkan permasalahan di atas maka dirasa perlu dilakukan penelitian pengaruh lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan kotoran sapi dan isi rumen  terhadap kualitas pupuk kompos.

Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh  lama proses pembuatan pupuk kompos kotoran sapi dan isi rumen terhadap kualitas pupuk kompos.

 

BAHAN DAN METODE

            Penelitian ini dilaksanakan di Kebun  percobaan Fakultas Peternakan Universitas Kristen Palangka Raya, Jalan RTA Milono Km. 8,5 , Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan analisis kandungan unsur hara dilakukan di Laboratorium Dasar dan Analitik Universitas Palangka Raya. Penelitian berlangsung selama lima bulan mulai dari awal bulan  Maret 2012 sampai akhir bulan Oktober 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: kotoran sapi, isi rumen, kapur dolomit sebagai penetral pH, bioaktivator sebagai sumber jasad renik untuk proses penguraian, air untuk membantu proses penghancuran dan menciptakan kelembaban agar mikrobia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang ditetapkan terdiri dari lama pengomposan (L) yaitu: tl1. Lama pengomposan 0 hari; tl2. Lama pengomposan 14 hari; tl3. Lama pengomposan 28 hari; tl4. Lama pengomposan 42 hari.

            Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 12 unit perlakuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji F pada taraf kepercayaan 95% dan 99%. Jika terdapat pengaruh yang nyata antar perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ).

            Pelaksanaan kegiatan penelitian dimulai dari pembuatan bak pengomposan, menyiapkan bahan, pembuatan dan pembalikan kompos serta melakukan pengamatan parameter dilaboratorium. Bak tempat pengomposan terbuat dari papan setebal 2 cm, bak dibuat membentuk segi empat dengan panjang dan lebar masing-masing 50 cm dan tinggi 20 cm sebanyak 12 unit. Bahan-bahan dasar disiapkan berupa kotoran sapi dan isi rumen yang merupakan hasil limbah rumah potong hewan, bio aktivator sebagai sumber jasad renik (mikrobia) yang dapat menghancurkan bahan dasar dan untuk perbandingannya 5 kg bio aktivator untuk 1 ton bahan dasar, tepung kapur (CaCO3) untuk menaikan pH agar perombakan bahan dasar berjalan dengan baik. Bahan-bahan dasar yaitu isi rumen dan kotoran sapi (masing-masing bahan setinggi 5 cm) dimasukkan ke dalam bak pengomposan kemudian dicampur dengan bio activator,  setelah itu diperciki dengan air untuk melembabkan serta ditaburi kapur (CaCO3) di atasnya kurang lebih 1 cm sampai terdapat suatu lapisan tipis berwarna putih. Proses penumpukan diulangi sampai 5 kali penumpukan. Bila ketinggian sudah dicapai, bagian permukaan dan seluruh sisi-sisi tumpukan ditutup dengan lembaran plastik yang transparan agar bahan tidak terlalu kering atau basah sehingga kelembaban tetap terjaga. Setelah 7 hari penutupan lakukan pembalikan, lapisan yang semula di atas diletakan di bawah dan sebaliknya, agar terjadi proses penghancuran yang merata. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap parameter meliputi: Warna, yaitu dengan melihat perubahan warna pada kompos yang telah  diperlakukan. Tekstur, dilakukan dengan memegang dan merasakan kompos yang telah diperlakukan. Suhu, dengan cara memasang thermometer pada bahan yang telah diperlakukan. Sedangkan pengukuran pH dan kandungan N, P, K dilakukan analisa laboratorium.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Lama pengomposan 0 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)  ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 1. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 0 hari (kontrol)

Tabel ervina 1

            Dari tabel di atas warna dan tekstur kompos memang tidak banyak mengalami perubahan dari warna dan tekstur asal bahan kompos tersebut, hal ini disebabkan karena waktu inkubasi kompos yang hanya berlangsung selama 0 hari  belum mengalami dekomposisi, sehingga mikroorganisme pengurai yang berasal dari bioaktivator belum bekerja secara maksimal.  Warna yang dihasilkan dalam pembuatan kompos diduga terkait erat dengan adanya aktivitas mikroba yang berhubungan dengan waktu inkubasi, dimana aktivitas mikroba akan mempercepat dekomposisi bahan organik.

Mikroba dalam hal ini berasal dari dekomposer dan dapat pula berasal dari isi rumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardi (1999), yang menyatakan bahwa dekomposer merupakan larutan yang mengandung beberapa kelompok organisme, dimana mikroorganisme ini akan mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik.   Kelompok organisme tersebut antara lain :

  1. Bakteri fotosintetik bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula dan substansi bioaktif lain.  Hasil metabolik yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.
  2. Bakteri asam laktat (Lactobasillus. sp), memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lainnya yang bekerja sama dengan bakteri fotosintesis dan ragi.
  3. Bakteri Streptomyces, sp.  Mengeluarkan enzim streptomycin yang bersifat racun terhadap hama penyakit yang merugikan.
  4. Ragi, memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi.
  5. Actynomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi oleh bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen.

 

Lama pengomposan 14 hari (kontrol)

Pengamatan warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan  selama 14 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 2. Pengamatan warna, tekstur dan suhu terhadap proses pengomposan selama 14 hari

Tabel ervina 2

                Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa warna  kompos sedikit mengalami perubahan yaitu yang tadinya berwarna coklat kini sudah menjadi coklat kehitaman, hal ini menunjukkan bahwa proses pengomposan sedang berlangsung.  Demikian pula dengan suhu yang mengalami penurunan dari  38 menjadi 34 hal ini menunjukkan bahwa temperatur maksimum telah dicapai  dimana kadar air bahan telah turun dan aktivitas mikroba mulai berkurang.

            Suhu kompos yang menurun diduga disebabkan pula karena telah dilakukan proses pembalikan atau pengadukan setiap minggunya selain itu disebabkan pula karena tumpukan bahan yang tidak terlalu tinggi.  Hal ini sejalan dengan pendapat Yuwono (2005) dimana dikatakan bahwa volume tumpukan ideal kompos berkisar 1 m X 1 m X 1 m atau maksimal  2 m X 2 m X 2 m. Semakin besar tumpukan bahan, semakin sulit pula mengatur atau mengontrol suhu dan kelembabannya.  Tumpukan yang terlalu tipis, meruncing dan sempit kemungkinan tidak dapat mempertahankan suhu dan kelembaban yang diiginkan sehingga terbentuknya komps memakan waktu yang lama.

 Lama pengomposan 28 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan yang  selama 28 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 3. Pengamatan terhadap warna, tekstur dan suhu proses pengomposan  selama 28 hari

Tabel ervina 3

            Pada tabel di atas terlihat bahwa suhu kompos semakin menurun dibandingkan pada proses pengomposan selama 14 hari.  Hal ini disebabkan karena timbunan kompos yang tidak terlalu tinggi dan proses pembalikan kompos yang rutin dilakukan tiap minggu sekali.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2000) yang mengatakan bahwa pembalikan timbunan kompos membantu pencampuran dan pelonggaran serta aerasi timbunan.  Kondisi yang baru menyebabkan kehidupan mikroorganisme berperanan dan menekan kemungkinan terjadinya kondisi anaerob pada timbunan kompos.  Pembalikan yang dilakukan secara teratur juga menyebabkan bahan yang ada di bagian luar yang kurang panas dipindahkan ke bagian yang lebih panas di bagian tengah.

 

Lama pengomposan 42 hari

Pengamatan terhadap warna, tekstur, suhu terhadap proses pengomposan selama 42 hari   ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 4. Pengamatan terhadap Warna, tekstur dan Suhu kompos yang terdekomposisi selama 42 hari

Tabel ervina 4

            Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa suhu kompos telah mendekati suhu kamar (29 ºC ) hal tersebut sesuai dengan pendapat Siburian (2007) yang menyatakan kompos yang baik adalah yang suhunya mendekati suhu kamar, warnanya hitam dan gembur.

 

Kandungan Nitrogen  (N)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan  N kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara N

Tabel ervina 5

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 memberikan kandungan unsur hara N yang tertinggi namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan tl 2 dan tl 1 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan tl0 (kontrol).  Dari hasil tersebut terlihat bahwa semakin lama proses pengomposan akan semain meningkatkan kandungan unsur hara N, hal ini diduga karena pada waktu fase awal pengomposan masih berlangsung  proses penguraian bahan kompos yaitu kotoran hewan dan isi rumen. Kemudian ditambahkan oleh Sumardi (1999) bahwa selanjutnya jasad renik dalam bahan kompos memproduksi berbagai enzim untuk merusak ikatan-ikatan kimia dalam bahan organik sehingga rantai-rantai ikatan itu putus menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana.  Perusakan ikatan-ikatan kimia itu menggunakan enzim yang dikeluarkan jasad renik.  Jasad renik memanfaatkan karbon sebagai sumber energi dan menyerap Nitrogen sebagai bahan protein.  Setelah bahan yang mudah diurai habis, makanan bagi jasad renik berkurang sehingga sebagian dari jasad renik itu mati.  Jasad renik yang mati mengandung Nitroen yang sangat tinggi.  Oleh jasad renik yang lain bahan itu diurai lagi  sehingga melepaskan Nitrogen dalam bentuk yang mudah menguap dalam bentuk gas amoniak yang berbau dan dapat diserap tanaman.

            Dari sekian banyak unsur yang diperlukan oleh mikroorganisme yang mendekomposisi bahan organik, Karbon dan Nitrogen merupakan unsur yang penting.  Unsur Karbon dimanfaatkan sebagain sumber energi di dalam proses metabolisme dan perbanyakan sel oleh bakteri, sementara unsur Nitrogen digunakan untuk sintesa protein dan pembentukan protoplasma.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa bahan organik yang mempunyai kandungan C terlalu tinggi memyebabkan proses pengauaraian terlalu lama, semsntara jika kandungan C terlalu rendah maka sisa Nitrogen akan berlebihan sehingga menyebabkan terbentuknya amoni (NH3), kandungan amonia yang berebihan dapat meracuni bakteri dan menyebabkan Nitrogen yang diperlukan hilang.

            Selain itu ditambahkan pula oleh Stevenson (1982) dalam Hartatik dan Widowati (2010) bahwa hasil penelitian pembuatan kompos dari kotoran hewan menunjukan bahwa 10 – 25 % N dalam bahan asal kompos akan hilang sebagai gas NH3 selama proses pengomposan.  Selain itu dihasilkan pula 5 % CH4 dan sekitar 30 % N20 yang berpotensi untuk mencemari lingkungan sekitarnya.

 

Kandungan Phospor (P)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan P kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas bokashi.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara P

Tabel ervina 6

Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

            Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl 2 dan tl 3 masing-masing tidak berbeda namun berbeda nyata dengan perlakuan tl1 dan tl0 (kontrol).  Perlakuan tl 2  (dekomposisi selama 28 hari) menunjukkan hasil yang tertinggi terhadap kandungan unsur hara P. Semakin lama pengomposan akan meningkatkan kadar P.  Hasil penelitian menunjukkan kadar P tertinggi dicapai pada 28 hari pengomposan.  Hal ini disebabkan komposisi bahan yang bervariasi antara isi rumen dan kotoran ternak, proses mineralisasi berjalan lambat dengan demikian ketersediaan unsur hara juga meningkat sesuai lama pengomposan.  Pada fase awal mikroba menyesuaikan diri dan melakukan metabolisme dan aktivitas meningkatkan ukuran sel.  Selanjutnya sel menggunakan Karbon dari limbah kotoran ternak sebagai makanan dan memperbanyak diri.  Penguraian semakin baik dengan meningkatnya kadar P.  Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kadar P dari waktu inkubasi yaitu mulai dari 14 hari, 28 hari sampai dengan  42 hari dibandingkan dengan kontrol.  Selanjutnya mikroorganisme mencapai kesetimbangan yaitu jumlah mikroba yang dihasilkan sama dengan jumlah mikroba yang mati.  Pada saat ini aktivitas mikroba akan mulai menurun.  Hal ini disebabkan karena kurangnya makanan atau nutrisi dalam hal ini substansi yang mengandung Karbon.

Kandungan Kalium (K)

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan K kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas kompos.  Rata-rata pengaruh jenis pupuk kandang terhadap kualitas bokashi disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7.  Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan unsur hara K

Tabel ervina 7Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

             Dari tabel di atas terlihat bahwa perlakuan tl3 kandungan unsur hara Kaliumnya paling tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan kontrol, tl1 dan tl2. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama proses pengomposan akan semakin meningkatkan kadar Kalium pada kompos.  Sesuai dengan pendapat Hartatik dan Wodowati (2010) yang menyatakan bahwa proses pengomposan akan meningkatkan kadar hara diantaranya adalah Kalium.

Kandungan pH

            Hasil analisis ragam terhadap kandungan pH kompos menunjukkan bahwa lama proses pembuatan kompos  berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan pH kompos.  Rata-rata pengaruh lama proses pembuatan kompos terhadap kandungan pH disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8.           Rata-rata pengaruh lama pengomposan terhadap kandungan pH

Tabel ervina 8Keterangan : Rata-rata pada masing-masing kolom yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ

Dari tabel di atas terlihat bahwa pH kompos  berkisar antara 7 – 8.  Hal ini menunjukkan bahwa pupuk kompos telah matang.  Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwono (2005) bahwa kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0 – 8,0.  Derajat keasaman yang terjadi pada kompos tersebut banyak dipengaruhi oleh penambahan kapur pada awal proses pengomposan, hal ini dimaksudkan agar proses pengomposan berlangsung dengan sempurna, karena menurut Setyorini et all (2006)  bakteri kompos lebih menyukai pH netral, ditambahkan pula oleh Yuwono (2005) bahwa perlakuan membolak balikkan kompos secara tepat dan benar dapat mempertahankan kondisi pH menjadi netral.

 

KESIMPULAN

             Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

  1. Lama proses pembuatan pupuk kompos berbahan limbah isi rumen sapi dan kotoran ternak sapi berpengaruh terhadap kualitas kompos.
  2. Lama penyimpanan kompos 42 hari menunjukkan hasil yang terbaik dengan warna hitam, tekstur halus dan suhu 29ºC dari segi kualitas fisikanya.  Sedangkan untuk kandungan Kalium lama pengomposan 42 hari menunjukkan hasil yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun untuk kandungan N lama pengomposan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari dan 14 hari sedangkan untuk kandungan P dan pH  lama pengompopsan 42 hari tidak berbeda dengan 28 hari namun berbeda dengan 14 hari dan kontrol. Tetapi secara keseluruhan lama pengompopsan 42 hari memberikan nilai N, P, K dan pH yang terbaik.

 

SARAN

 Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lama pengomposan 42 hari dan dosis dekomposer yang lebih tinggi agar kualitas kompos menjadi lebih baik.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atas dana yang diberikan untuk biaya penelitian ini melalui hibah Dosen Pemula, Tahun Anggaran 2012.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sahidu, M. dan Hermadi, A. 2004. Ilmu Pertanian. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Siburian, R. 2007.  Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Inkubasi EM4 terhadap Kualitas Kimia Kompos.  Fakultas Sains dan Tekhnik.  Universitas Nusa Cendana.  Kupang

Setyorini, D., Rasti Saraswati dan Ea Kusman Anwar. 2006.  “Kompos’ Jurnal Pupuk Organik dan Pupuk Hayati.

Sumardi, 1999. Pengaruh Penambahan Bahan Percepat Pada Proses Pengomposan Sampah terhadap hasil Kompos.  Duta Farming. Vol. 17. No. 1, Semarang.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius.Yogyakarta.

Hartatik, W dan L.R Widowati.  2010.  Pupuk Kandang.  http://www.balittanah.litbang.deptan.go.id.  Diakses tanggal 2 November 2012.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY == Kamillah, Kambang V Asie, Melda Nopiani
16 September 2013, 10:22 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

KOMPOSISI MEDIA TANAM ORGANIK DALAM BUDIDAYA SAWI PAKCHOY (Brassica chinensis) SECARA VERTIKULTUR  

(Organic Planting Media Composition of Pakchoy Mustard (Brassica chinensis)

in Verticulture System)

Kamillah1, Kambang Vetrani Asie1, Melda Nopiani2

1 Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya;

2 Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.

Korespondensi : miela1306@gmail.com

ABSTRACT

The purpose of this experiment was to determine the right organic planting media compositions in verticulture system to cultivate pakchoy mustard. This experiment laid on Randomized Block Design (RBD) with a comparison of organic planting media composition as a single factor. The planting media composition contained mineral soil, manure, compost, husk charcoal, and coco-peat. Each treatment was repeated 5 times so in total there were 20 experimental units. The results showed that the compositions of soil, manure, husk charcoal, and compost with ratio 2:1:1:1 is the right planting media composition to produce a better plant height, leaves number, leaf length, leaf width, and weight of pakchoy mustard while planting media composition of soil, husk charcoal, cocopeat, and compost (2:1:1:1) resulted the lowest yield.

Key words:  pakchoy mustard, organic planting media, verticulture.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur. Penelitian diatur dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari campuran tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam dan cocopeat . Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan. Hasil menunjukkan bahwa komposisi tanah, pupuk kandang, arang  sekam, dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 merupakan komposisi yang baik dari semua perbandingan yang dicoba, dimana dapat menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan berat basah hasil tanaman sawi pakchoy yang lebih besar dibandingkan komposisi media lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos (2:1:1:1) memberikan hasil pakchoy yang paling rendah.

 Kata kunci: sawi pakchoy, media tanam organik, vertikultur

PENDAHULUAN

Sawi pakchoy ialah tanaman introduksi baru dan belum banyak dibudidayakan di Kota Palangka Raya. Sawi pakchoy memiliki nama ilmiah Brassica chinensis. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman sawi, tetapi lebih pendek dan kompak. Tangkai daunnya lebar dan kokoh. Tulang daun dan daunnya mirip dengan sawi hijau, tapi daunnya lebih tebal. Ada sawi pakchoy yang tangkai daunnya putih dan ada juga yang tangkainya hijau (Haryanto et al., 2003).

Budidaya sayuran ini cukup mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, sehingga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari. Namun kendala yang dihadapi pada skala rumah tangga adalah sempitnya halaman (areal tanam) yang dimiliki oleh setiap rumah, karena itu perlu model penanaman yang dapat dilakukan pada areal halaman yang sempit namun dapat memberikan hasil yang baik. Salah satu pola budidaya yang dapat menghemat lahan adalah dengan cara vertikultur, yaitu dengan menanam tanaman pada wadah yang disusun secara vertikal ke atas, sehingga dapat dilakukan pada lahan yang sempit.

Beberapa hasil penelitian yang berkenaan dengan budidaya sayuran secara vertikultur menunjukkan bahwa metode tersebut selain tepat untuk pekarangan atau lahan yang sempit juga dapat menghasilkan produksi sayuran yang cukup bagus (Kusrini, 2007; Saptana dan Purwantini, 2012)

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, menyebabkan mereka semakin peduli dalam memilih bahan konsumsi. Pada saat ini semakin banyak masyarakat yang menghindari penggunaan bahan kimia buatan seperti pupuk anorganik dan juga berbagai jenis pestisida pada tanaman, hal ini menyebabkan masyarakat beralih ke produk pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman yang tidak menggunakan bahan kimia sintetis sebagai pupuk, pestisida maupun hormon tumbuhan, tetapi menggunakan bahan kimia alami yang ramah lingkungan, tidak mencemar-kan dan tidak merusak lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi media tanam yang tepat dalam budidaya sawi pakchoy (Brassica chinensis) secara organik dengan metode vertikultur.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Agustus–November 2010, di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih pakchoy, papan, kayu bulat, paku, kayu reng, kawat, pupuk kandang kambing, tanah mineral, aram sekam, cocopeat, dan kompos, sedangkan, alat yang digunakan adalah gergaji, palu, meteran, gembor, sprayer, selang air, gunting pangkas, sekop, kamera digital, alat tulis, penggaris, dan peralatan berkebun lainnya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa perbandingan komposisi media tanam yang terdiri dari tanah mineral, pupuk kandang, kompos, arang sekam, dan cocopeat. Besar perbandingan dari masing-masing bahan campuran media tanam tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan komposisi media tanam

Tabel Kamilah 1

Keterangan :    TM = Tanah Mineral; PK = Pupuk Kandang; AS = Arang Sekam; CP = Coco-Peat; Kps = Kompos

Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoreh 20 satuan percobaan.

Menurut Gaspersz (1991). Model linier aditif rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Yij = µ +  λi+ βj+ εij

dimana:

Yij   = Nilai penagamatan dari komposisi media tanam ke-i dalam kelompok ke-j

µ     =  Nilai tengah populasi

λi    = Pengaruh aditif dari komposisi media tanam ke-i (i= 1, 2, 3, 4)

Bj     =  Pengaruh aditif dari kelompok ke-j

(j = 1, 2, 3, 4, 5)

εij     = Pengaruh galat percobaan dari komposisi media tanam ke-i pada kelompok ke-j

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman pakchoy umur 2 mst hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman pakchoy (cm) pada umur 2, 3, 4 dan 5 mst

Tabel Kamilah 2

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%

Tabel 2 menunjukkan perlakuan komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:1:0:1) merupakan media tanam yang menghasilkan tanaman lebih tinggi dibandingkan komposisi media lainnya walaupun secara statistik hal ini tidak jauh berbeda dengan tinggi tanaman pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, kompos dan cocopeat (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1), sedangkan media tanam ynag tidak mendapat pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan tinggi tanaman yang terendah. Hasil penelitian Mahanani (2003) juga menunjukkan bahwa media tanam yang mendapat tambahan pupuk kandang (dalam hal ini tanah + pupuk kandang sapi, dan arang sekam + pupuk kandang sapi dengan masing-masing komposisi 1:1) merupakan media tanam yang dapat meningkatkan pertumbuhan sawi pakchoy yang ditunjukkan dengan bertambah-nya ukuran tinggi tanaman, jumlah daun, diameter tajuk serta bobot basah dan bobot kering tanaman.

Komposisi media tanam yang tidak mendapatkan pupuk kandang yang hanya terdiri atas tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:0:1:1:1) menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang lebih rendah dimana pupuk kandang disini berfungsi sebagai salah satu penyumbang unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman pakchoy, meskipun terdapat kompos yang juga berperan sebagai penyumbang unsur hara akan tetapi jumlahnya belum dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman pakchoy. Hal ini disebabkan dalam budidaya secara organik, tidak digunakan tambahan pupuk kimia sintesis seperti Urea, SP36 dan KCl, sehingga kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman hanya didapatkan dari pupuk kandang dan kompos yang diberikan dalam media tanam.

Jumlah Daun

Jumlah daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata jumlah daun (helai/tanaman) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 3

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Tabel 3 menunjukkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1, menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang lebih banyak dan ini sekaligus menunjukkan komposisi media tanam tersebut lebih baik dibandingkan komposisi media yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (2:1:1:0:1) dan tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, kompos (1:1:1:1:1), sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, arang sekam, cocopeat dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan jumlah daun tanaman sawi pakchoy yang paling sedikit.

Pada budidaya secara vertikultur, pemberian bahan organik (seperti pupuk kandnag dan kompos) dalam media tanam sangat penting sebagai sumber hara. Hasil  penelitian Ardianty (2008) juga menunjukkan bahwa pemberian berbagai macam bahan organik pada media tanam vertikultur dapat meningkatkan jumlah daun tanaman selada.

Semakin banyak daun yang dihasilkan oleh tanaman pakchoy maka hasil tanaman akan semakin baik. Hal ini disebabkan sawi pakchoy merupakan jenis sayuran yang dikonsumsi bagian daunnya. Meskipun pada awal pertumbuhan hingga tanaman berumur 3 mst belum terlihat pengaruh nyata, namun ketika tanaman sudah berumur 4 mst, mulai terlihat perbedaan peningkatan pertumbuhan jumlah daunnya. Hal ini dapat disebabkan pada awal fase pertumbuhan tersebut, proses pelepasan unsur hara oleh media tanam masih berjalan lambat karena media tanam organik memerlukan bantuan mikroorganisme dalam tanah untuk mengurai bahan organik menjadi unsur hara, sehingga pertumbuhan jumlah daun belum maksimal.

Gardner et al. (1991), menyatakan bahwa dengan banyaknya cahaya matahari yang diterima tanaman, maka tanaman tersebut akan memberikan respon dengan memperbanyak jumlah helaian daun. Dengan bertambahnya jumlah helaian daun maka semakin banyak pula karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman tersebut dalam proses fotosintesis sehingga akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Panjang Daun

Panjang daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 4.

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, arang  sekam, cocopeat dan kompos  dengan perbandingan 2:1:1:0:1 menunjukkan daun tanaman sawi pakchoy yang lebih panjang, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan panjang daun pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (2:1:0:1:1) juga pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1),  sedangkan  campuran media berupa tanah, arang sekam, cocopeat, dan kompos tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1), pertumbuhan panjang daunnya paling lambat dibandingkan  dengan komposisi media tanam lainnya.

Tabel 4.  Rata-rata panjang daun (cm) pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 4

Keterangan:     Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Pertumbuhan daun tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan hara yang tersedia bagi proses pertumbuhan tanaman itu sendiri. Pada sistem vertikultur, ketersediaan hara terbatas hanya pada media tanam yang digunakan maupun tambahan pupuk yang diberikan, dalam hal ini adalah tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos, sedangkan tambahan pupuk buatan tidak diberikan karena dibudidayakan secara organik.

Daun sebagai tempat fotosintesis sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Daun merupakan komponen yang paling menentukan kualitas tanaman. Apabila daun mengalami pertumbuhan yang terhambat mengakibatkan bentuk daun menjadi tidak normal sehingga ukuran daun menjadi berbeda apalagi dalam menerima cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Karena itu ketersediaan unsur hara yang cukup bagi tanaman sangat penting, agar tanaman dapat melakukan aktivitas bagi pertumbuhannya.

Pada campuran media tanam 2:1:1:0:1, sumber hara tambahan diperoleh dari pupuk kandang dan kompos, sedangkan arang sekam dapat memperbaiki sifat fisik media tanam, yaitu dengan memperbaiki aerase dan drainase media tanam. Disamping itu, arang sekam juga dapat meningkatkan pH media tanam (Siahaloho, 1992).

Lebar Daun

Lebar daun tanaman pakchoy umur 2 mst  hingga 5 mst pada berbagai komposisi media tanam disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Rata-rata lebar daun (cm)  pada umur 2, 3, 4, dan 5 mst

Tabel Kamilah 5

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

   Pada Tabel 5 dapat dilihat, komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos (2:1:1:0:1) merupakan komposisi yang menghasilkan daun tanaman pakchoy yang lebih lebar dari komposisi media tanam yang lain, walaupun secara statistik tidak jauh berbeda dengan lebar daun pada komposisi media tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 juga pada komposisi media berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos pada perbandingan 1:1:1:1:1, sedangkan komposisi media tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1) menghasilkan lebar daun tanaman paling kecil  dari semua komposisi media tanam tersebut.

          Semakin lebar daun yang dihasilkan oleh tanaman maka semakin banyak sinar matahari yang dapat diserap tanaman untuk melakukan proses fotosintesis. Pada tanaman pakchoy ukuran lebar daunnya hampir sama seperti panjang daun sehingga daunnya berbentuk oval.

          Lebar daun yang dihasilkan tanaman lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan faktor genetik dari tanaman pakchoy itu sendiri sehingga pada kondisi lingkungan tumbuh yang memenuhi kebutuhan tanaman dalam hal ini unsur hara, maka pertumbuhan lebar daun akan maksimal, dan sebaliknya akan berkurang lebarnya pada keadaan lingkungan tumbuh yang unsur haranya tidak mencukupi.

          Pada komposisi media tanam yang mengandung pupuk kandang maupun pupuk kandang dan kompos, pertumbuhan lebar daun tanaman lebih lebar dibanding komposisi media lainnya, hal ini dikarenakan pupuk kandang dapat menyuplai unsur hara pada media tanam yang bisa memenuhi keperluan tumbuh tanaman pakchoy.

          Menurut Gardner et al (1991), pertumbuhan tanaman merupakan akibat adanya pengaruh dari berbagai faktor pendukung pertumbuhan yang berupa faktor kendali genetik dan lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor pertumbuhan yang tidak dapat berubah, sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor pertumbuhan yang dapat berubah.

 Bobot Segar Tanaman

Bobot segar hasil tanaman pakchoy pada saat panen, yaitu pada umur 5 mst disajikan pada Tabel 6.

Pada Tabel 6 dapat dilihat bobot segar hasil panen tanaman pakchoy pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos dengan perbandingan 2:1:0:1:1 tidak jauh berbeda dengan hasil panen pada komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan  kompos yang perbandingannya 2:1:1:0:1 dimana bobot segar sawi pakchoy per tanaman yang ditanam pada kedua media tersebut menunjukkan hasil produksi yang lebih tinggi dibandingkan pada komposisi media tanam lainnya, sedangkan komposisi media tanam berupa tanah, pupuk kandang, arang sekam, cocopeat dan kompos (1:1:1:1:1) tidak jauh berbeda hasilnya dengan komposisi media tanam tanpa pupuk kandang (2:0:1:1:1).

 Tabel 6. Rata – rata bobot segar tanaman pada saat panen (g/tanaman)

Tabel Kamilah 6Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

Disini dapat dilihat bahwa komposisi media tanam yang tidak diberi pupuk kandang dan komposisi tanah yang lebih sedikit hasil produksi sawi pakchoynya rendah. Hal ini dikarenakan pupuk kandang berperan dalam menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, dan pada media dengan komposisi tanah yang lebih banyak juga membantu kemantapan struktur media tanam, sehingga kuat untuk mencengkeram perakaran tanaman.

Peningkatan bobot segar tanaman sawi pakchoy berkaitan erat dengan peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun dari masing-masing tanaman pada masa pertumbuhannya. Meningkatnya tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun secara langsung juga mengakibatkan peningkatan bobot segar tanaman, sehingga tanaman yang pada awal masa pertumbuhannya memiliki tinggi tanaman , jumlah daun, panjang dan lebar daun yang lebih besar maka bobot segarnya otomatis juga lebih berat dari perlakuan lainnya.

KESIMPULAN

 Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, komposisi media tanam yang lebih baik digunakan dalam budidaya tanaman sawi pakchoy secara organik dengan metode vertikultur terdiri atas campuran tanah mineral, pupuk kandang, arang sekam dan kompos tanpa ditambahkan cocopeat dengan perbandingan 2:1:1:0:1, selain itu, dalam komposisi media tanam organik harus terdapat pupuk kandang untuk memenuhi kebutuhan unsur hara karena tanpa pupuk kandang, produksi tanaman lebih kecil, sedangkan untuk cocopeat dan arang sekam  bisa diberikan salah satunya saja yang dijadikan alternatif untuk memperbaiki struktur media tanam

 

SARAN

             Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mengukur berapa kali musim tanam  media tanam tersebut dapat digunakan dalam budidaya sayuran khususnya sawi pakchoy.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 Terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya yang telah mendanai penelitian ini melalui program Penelitian dan Pengembangan Karya Ilmiah Universitas Palangka Raya, DIPA Universitas Palangka Raya tahun 2010.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Ardianty, I. 2008. Pengaruh Macam Bahan Organik dan Proporsi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Gardner, F.P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press. Jakarta.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Amico. Bandung

Haryanto E., T. Suhartini., E. Rahayu dan H.H. Sunarjon. 2003. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta

Kusrini. 2007. Pengaruh Model dan Kerapatan Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) secara Vertikultur Organik. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Mahanani, C. L. R. 2003. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPK terhadap Produksi Tanaman Pak-Choi (Brassica chinensis) Varietas Green Pak-Choi. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Saptana, A. dan T. B. Purwantini. 2012. Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 30. No. 1: 13-30.

Siahaloho, M. 1992. Pengaruh Pemanfaatan dan Dosis Pupuk Kandang pada Pertumbuhan Produksi Jahe. Skripsi. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai == Muliansyah dan Wijantri Kusumdati
16 September 2013, 9:49 am
Filed under: Analisis Kritis, Penelitian

Kajian Waktu Blansing dan Suhu Pengeringan Dalam Pembuatan Tepung Kalakai (Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD)

(Study on Blanching Time and Drying Temperature in Processing “Kalakai” Flour Stenochlaena palustris (BURM.F) BEDD))

 Muliansyah1 dan Wijantri Kusumadati1

1Jurusan Budidaya Pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Korespondensi : muliansyah_tpp@ymail.com

 

ABSTRACT

 The aim of this research was to examine blanching time and drying temperature in processing “kalakai” flour.  The research laid on two factors completely randomized design (CRD).  The first factor was balnching time that divided into three levels; B1 = 1 minute, B2 = 3 minutes, and B3 = 5 minutes.  The second factor was drying temperature that also divided into 3 levels; P1 = 50oC, P2 = 60oC, and P3 = 70oC.  Each experiment units were replicated 3 times. The result showed that interaction between blanching time and drying temperature effected pH value and vitamin C of “kalakai” flour very significant.  Blanching time for 5 monutes and drying temperature at 70oC resulted on pH 6,85 which almost same with material pH base (6,17), and the highest vitamin C amount i.e. 0,0066%.  Drying temperature was effected the content of protein, ash and total microbes of “kalakai” flour significantly.  The highest protein and ash content were delivered by drying temperature at 60oC, respectively 0,99% and 9,15%, while the lowest total microbes, 7,78 colonies/g was delivered by drying temperature at 50oC.  However, there was not any significant effect from the whole treatments on water content.

Key words : “kalakai”, blanching, drying, “kalakai” flour

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengkaji perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai sebagai bahan pangan. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan  diulang sebanyak 3 kali. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1= 1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1 = 50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Interaksi perlakuan waktu blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berbeda sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %. Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g. Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air.

Kata Kunci : kalakai, blansing, pengeringan, tepung kalakai.

PENDAHULUAN

 Kalakai (Stenochlaena palustris  (Burm.) Bedd) termasuk tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh secara liar di alam.  Di Kalimantan Tengah banyak ditemukan pada daerah-daerah dengan kondisi tanah gambut, masam, lembab atau terendam, bahkan di pinggir-pinggir jalan.  Tumbuhan ini masih banyak ditemukan di alam bebas, ketersediaannya cukup melimpah, sedangkan pembudidayaannya masih belum dilakukan. Sayuran ini juga mudah diperoleh di pasar tradisional Kota Palangka Raya dan daerah lainnya.  Selama ini pemanfaatan kalakai hanya sebagai sayuran. Masyarakat Kalimantan Tengah sebagian memanfaatkan sayuran ini yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka untuk melengkapi konsumsi pangannya. Dengan demikian perlu dicari alternatif lain cara pemanfaatan tumbuhan kalakai ini.  Salah satu cara pemanfaatan kalakai untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperpanjang masa simpan dan untuk menciptakan produk khas daerah berbasis  tumbuhan kalakai adalah dengan mengolah kalakai menjadi tepung kalakai.  Umumnya kandungan senyawa aktifnya seperti alkaloid dan steroid diduga berperan bilamana terkait dengan kulit.  Selain diduga adanya flavonoid terkait dengan keberadaan senyawa anti oksidan seperti vitamin  A dan vitamin C, pada bagian lain potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai komoditas unggulan atau bahan dasar komoditas industri khususnya industri pangan yang saat ini sudah mengacu pada trend back to nature.  Adanya pengolahan menjadi tepung kalakai akan mempermudah pemanfaatannya sebagai bahan pangan misalnya sebagai bahan pangan fungsional.

            Dalam proses pembuatan tepung dari hasil-hasil pertanian, perlu diperhatikan tahapan proses yang dapat mempertahankan kualitas bahan, mampu meningkatkan daya terima konsumen dan dapat memperpanjang masa simpan produk.  Proses yang penting dilakukan adalah perlakuan pendahuluan, yaitu blansing (blanching) dan perlakuan pengeringan.  oleh karena itu diperlukan kajian terhadap lama blansing yang diperlukan dan suhu pengeringan yang sesuai untuk mendapatkan kualitas dari tepung kalakai yang maksimal.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji perlakuan blansing dan suhu pengeringan bahan untuk mendapatkan tepung kalakai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan khusus untuk menentukan : 1). waktu blansing pada kalakai, 2). suhu pengeringan kalakai dan 3). waktu blansing dan suhu pengeringan yang tepat dalam pembuatan tepung kalakai.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2011. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalakai segar, yang diperoleh dari kawasan  di daerah Kota Palangka Raya.  Kalakai dipanen pada stadia muda dan besar masing-masing diusahakan seragam.

            Bahan yang digunakan adalah bahan-bahan kimia yang digunakan  untuk keperluan analisis : aquades, formalin, NaOH, asam oksalat, HCl, iodium, amilum fenolphthalein, media PDA. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender,  wadah plastik, oven pengering, timbangan analitik, stopwatch, termometer, refraktometer, pH meter, buret, muffle furnace pisau stainless, keranjang plastik, cawan petri, cawan porselin, eksikator, coloni counter,  kompor,dan dandang.

            Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Faktor I adalah lama waktu blansing yang terdiri dari 3 taraf  , yaitu : B1 =  1 menit, B2 =  3 menit dan B3 =  5 menit.  Faktor II adalah suhu pengeringan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: P1            =  50oC, P2 =  60oC dan P3 =  70oC.

            Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan bahan yang terdiri dari sortasi bahan dari bagian-bagian yang tidak diinginkan seperti daun rusak, daun tua dan pemotongan tangkai. Pencucian dengan air mengalir dan penirisan.  Blansing dengan uap air (suhu 100oC), dengan lama blansing sesuai perlakuan,  yaitu 1 menit, 3 menit dan 5 menit. Pendinginan dilakukan pada pada wadah berupa saringan sehingga berfungsi juga untuk penirisan. Proses pengeringan, yang terdiri dari penebaran potongan kalakai pada wadah (loyang).  Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven kabinet dengan suhu sesuai perlakuan, yaitu 50oC, 60oC dan 70oC, selama 48 jam. Bahan kering didinginkan dalam ruang pendingin (eksikator) selama 10 menit agar  tidak menyerap air dari lingkungan, lalu ditimbang. Selanjutnya proses penepungan, yang terdiri dari kalakai kering dihaluskan dengan blender, kemudian diayak menggunakan ayakan berukuran 60 mesh.  Produk yang dihasilkan adalah bubuk kalakai (lolos ayakan 60 mesh) dan ampas (tidak lolos ayakan 60 mesh). Tepung kemudian ditimbang.  Pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastik HDPE.  Pengamatan yang dilakukan meliputi : nilai pH, kadar air (%), vitamin C (%), kadar protein (%), kadar abu (%) dan total mikroba (koloni/g).

            Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf kepercayaan 95% dan 99%.  Apabila hasil analisis ragam berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan analisis data lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  α 5%..

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Nilai pH

            Selama proses pengolahan terjadi kenaikan pH pada tepung kalakai.  Berdasarkan analisis ragam, menunjukkan bahwa baik pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan maupun pada interaksi antara kedua perlakuan tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan nilai pH tepung kalakai.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan perubahan nilai pH produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.    Rata-rata perubahan nilai pH tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing.

Tabel 1 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

             Dari Tabel 1 tampak bahwa perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 70oC memiliki perubahan nilai pH yang rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya dan sangat mendekati pH awal yaitu 6,17.  Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan tersebut baik pada perlakuan lama blansing maupun suhu pengeringan terutama pada suhu pengeringan 70oC mampu menekan perubahan kenaikan nilai pH tepung kalakai.  Nilai pH produk yang tinggi akan menurunkan daya simpan.  Desrosier dan Desrosier (1978) menyatakan bahwa bakteri Clostridium botulinum dapat tumbuh dan menghasilkan racun pada produk dengan pH diatas 4.6. Suhu pengeringan 70oC memungkinkan pengeluaran air dari bahan lebih cepat sehingga menghindari kerusakan yang lebih banyak terhadap komponen kimia terutama protein.

            Kenaikan pH yang tinggi pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC diduga karena adanya degradasi protein.  Anglemeir dan montgomery (1976) menyatakan bahwa selama pengolahan, protein akan terdegradasi membentuk amonia dan bereaksi dengan air membentuk NH4OH yang bersifat basa, sehingga nilai pH produk naik. Namun demikian, karena adanya perlakuan blansing dan pengeringan terhadap produk diduga mampu menekan pertumbuhan mikroba, sehingga pada penyimpanan kondisi produk masih baik.

Kadar Air

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh akibat perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan.  Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan blansing dapat mempercepat pengeluaran air dari dalam bahan selama dilakukan proses pengeringan.

Nilai rata-rata hasil pengamatan kadar air produk tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2.    Rata-rata kadar air (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 2 Mul

Dari Tabel 2 diketahui bahwa kadar air tepung kalakai mencapai 2,00 sampai 2,36, yang menunjukkan bahwa air yang terdapat dalam tepung kalakai tersebut adalah air terikat yang sulit dimanfaatkan oleh mikroba untuk pertumbuhan dan tidak dapat digunakan untuk media reaksi kimia dalam proses metabolisme dalam bahan.  Syarief dan Irawati (1986) menyatakan bahwa bila kadar air bahan berkisar antara 3 – 7 persen maka berdasarkan derajat keterikatan air dalam bahan adalah termasuk tipe I, yaitu molekul air terikat secara kimia dengan molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hidrogen yang berenergi besar.

Perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap kadar air tepung kalakai ini diduga karena proses pengeringan yang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga laju pengeluaran air dari bahan sudah mencapai maksimal walaupun dilakukan pada suhu yang berbeda.

Vitamin C

            Vitamin C pada tepung kalakai berkisar antara 0,0022 (%) sampai 0,0066 (%), sedangkan vitamin C pada bahan dasar adalah 0,014%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar vitamin C tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, suhu pengeringan dan interaksi antara keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata.

Nilai rata-rata hasil pengamatan vitamin C tepung kalakai pada perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata vitamin C (%) tepung kalakai akibat  perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan

Tabel 3 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

Dari Tabel 3 diketahui bahwa kandungan vitamin C tertinggi pada tepung kalakai terdapat pada perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan jumlah vitamin C mencapai 0,0066%.  Sedangkan jumlah vitamin C paling rendah terdapat pada perlakuan lama blansing 3 menit dan suhu pengeringan 60oC dengan jumlah vitamin C sebanyak 0,0022%.  Hal ini diduga bahwa adanya perlakuan blansing menyebabkan udara yang ada dalam jaringan bahan dapat dihilangkan, sehingga akan memperkecil terjadinya reaksi oksidasi terhadap vitamin C.  Hal ini memungkinkan perlakuan blansing cenderung dapat menghambat kerusakan vitamin C dalam tepung kalakai.  Kemudian dengan perlakuan suhu pengeringan yang cukup tinggi (70oC) diduga mampu mempercepat pengeluaran air dari jaringan bahan menjadi lebih cepat sehingga mengurangi aktivitas enzim yang berperan dalam oksidasi vitamin C.  Lee (1954) menyatakan bahwa tujuan blansing diantaranya adalah menghilangkan udara dari jaringan bahan dan dapat mempertahankan karotenoid dan vitamin C serta kerusakan karena oksidasi selama pengeringan dan penyimpanan.

Kadar Protein

            Berdasarkan analisis ragam bahwa kadar protein pada tepung kalakai dipengaruhi oleh perlakuan suhu pengeringan.  Perlakuan lama blansing dan interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap kadar protein tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4.  Rata-rata kadar protein (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu Pengeringan

Tabel 4 Mul

Keterangan :    Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Berdasarkan Tabel 4, bahwa kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 60oC dan tidak berbeda nyata dengan suhu pengeringan 70oC dan keduanya berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 50oC. Hal ini menunjukkan bahwa suhu pengeringan antara 60oC sampai 70oC adalah suhu pengeringan yang cukup baik untuk mengeringkan kalakai untuk diolah menjadi tepung. Proses pengeringan dengan suhu tertentu mampu untuk menekan penurunan kadar protein karena dengan adanya pengeringan diduga dapata menghambat perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim.  Taib dkk. (1987) menyatakan bahwa tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti.  Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan yang lama. Hal ini terlihat dari hasil perlakuan suhu pengeringan dengan suhu 60oC menghasilkan penurunan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu dari kadar protein bahan awal 2,33% menjadi 0,99%.

 Kadar Abu

            Kadar abu tepung kalakai berkisar antara 8,34% sampai 9,15%.  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap kadar abu tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan kadar abu produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata kadar abu (%) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu   Pengeringan

Tabel 5 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa suhu pengering 60oC memberikan perbedaan  kadar abu pada tepung kalakai walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC  Perlakuan ini mempunyai kadar abu yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan 50oC memiliki kadar abu yang paling rendah.  Hal ini diduga disebakan karena  proses pengeluaran air dari bahan cukup lambat sehingga komponen bahan lainnya juga relatif sedikit yang mengalami perubahan dan menguap.  Sedangkan pada perlakuan suhu pengeringan 60oC mempunyai kadar abu yang paling banyak dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu pengeringan 70oC.  Hal ini diduga karena semakin tinggi suhu pengeringan yang dilakukan terhadap bahan maka jumlah air yang keluar atau teruapkan dari dalam bahan yang dikeringkan akan semakin besar.  Sudarmadji, dkk. (1989) mengemukakan bahwa kadar abu tergantung pada jenis bahan, cara pengabuan, waktu dan suhu yang digunakan saat pengeringan.  Jika bahan yang diolah melalui proses pengeringan maka lama waktu dan semakin  tinggi suhu pengeringan akan meningkatkan kadar abu, karena air yang keluar dari dalam bahan semakin besar.

Total Mikroba

Total mikroba tepung kalakai berkisar antara 7,78 (koloni/g) sampai 154,55 (koloni/g).  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap total mikroba tepung kalakai ternyata bahwa perlakuan lama blansing, interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata.  Sedangkan perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata.

            Nilai rata-rata hasil pengamatan terhadap perubahan total mikroba produk tepung kalakai pada perlakuan suhu pengeringan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.    Rata-rata Total mikroba  (koloni/10 ml) tepung kalakai akibat  perlakuan suhu  Pengeringan

Tabel 6 Mul

Keterangan : Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5%.

            Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa suhu pengering 50oC memberikan perbedaan  total mikroba pada tepung kalakai.  Perlakuan ini berbeda nyata terhadap perlakuan suhu pengeringan 60oC dan 70oC. Perlakuan ini mempunyai total mikroba  yang paling sedikit dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu 7,78 (koloni/g).  Hal ini diduga bahwa pada suhu pengeringan 50oC tersebut komposisi bahan masih cukup baik, sehingga mampu menekan pertumbuhan mikroba.  Pengeringan terhadap bahan akan menurunkan kadar air dan juga menurunkan aktivitas air sehingga mikroba mengalami penghambatan dalam memperoleh air untuk kebutuhan pertumbuhannya. Wirakartakusuma, dkk.. (1992) menyatakan bahwa mikroorganisme membutuhkan air untuk pertumbuhan dan perkembang-biakannya. Jika kadar air pangan dikurangi, pertumbuhan mikroorganisme akan diperlambat. Dehidrasi akan menurunkan tingkat aktivitas air (water activity (aw) yaitu jumlah air yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya, berat dan volume pangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Interaksi perlakuan lama blansing dan suhu pengeringan memberikan hasil berpengaruh sangat nyata terhadap nilai pH dan vitamin C tepung kalakai. Perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70oC dengan nilai pH 6,85 mendekati pH bahan dasar 6,17 dan menghasilkan vitamin C tertinggi yaitu 0,0066 %.

Perlakuan suhu pengeringan berpengaruh yang nyata terhadap kadar protein, kadar abu dan total mikroba.  Perlakuan suhu pengeringan 60oC memberikan hasil kadar protein dan kadar abu tertinggi, masing-masing 0,99 % dan 9,15 %.  Sedangakan pada total mikroba, nilai paling rendah terdapat pada perlakuan suhu pengeringan 50oC dengan jumlah 7,78 koloni/g.

Perlakuan interkasi lama blansing dan suhu pengeringan maupun perlakuan tunggalnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan kadar air

 

SARAN

             Dalam penelitian selanjutnya perlu perlakuan lain terhadap kalakai  seperti perendaman dalam larutan kapur, untuk mengurangi lendir dan memperbaiki warna tepung.  Selain itu diperlukan pengujian fitokimia terhadap tepung kalakai untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dalam mendukung tepung kalakai sebagai bahan pangan fungsional.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anglemeir, A.F. dan M.W. Montgomery.  1976.  Amino Acids, Peptides and Protein.  Dalam Fennema, O.R (ed.).  Principles of Food Science.  Marcel Dekker Inc., New York and Bassel.

Desrosier, N.W. dan J.N. Desrosier.  1978.  The Technology of Food Preservation.  AVI Publishing Company Inc., Westport Connecticut.

Lee, M.S.  1954.  Advance in Food  Research.   54(5): 66. Academic Press, Connecticut.

Sudarmadji, S. B. Haryono dan Suhardi.  1989.  Prosedur Analisis Untuk Bahan  Makanan dan Pertanian.  Liberty.  Yogyakarta.

Syarief, R.  dan A. Irawati.  1986.  Pengetahuan Bahan Untuk Industri.  PT. Mediyatama

Sarana Perkasa.  Jakarta.

Taib, G, S. Gumbira dan W. Sutedja.  1987.  Operasi Pengeringan Pada Pengolahan  Hasil Pertanian.  PT. Mediyatama Sarana Perkasa.  Jakarta.

Wirakartakusumah, dkk. 1992. Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan.   PAU Pangan dan Gizi, IPB Bogor

 



Volume 14 Nomor 1 Maret 2013 == Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap == Yovita, Chatimatun Nisa, Rahmi Zulhidiani
16 September 2013, 9:21 am
Filed under: Penelitian

Pengaruh Pemberian Tiga Jenis Kompos Dan Dosis NPK Terhadap Hasil Tanaman Jagung Manis Di Tanah Gambut Pedalaman

(Effects of Three Compost Types and NPK Doses on Yield of Sweet Corn in Ombrogen Peat Soil)

Yovita1, Chatimatun Nisa2, Rahmi Zulhidiani2

1UPBJJ-Universitas Terbuka Palangka Raya

2 Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Korespondensi : yovita@ut.ac.id

ABSTRACT

The objective of the research was to compare the growth of corn among all treatments (single-single, single-combination and combination-combination). The research was conducted on peat land in KalampanganVillage, SabangauSub-district, Palangkaraya Central Kalimantan Province. It was a planned comparative study (orthogonal contrast) with Random Group Design arranged singly with 12 (twelve) treatments namely Control, kascing dose of 20 tons ha-1, chicken manure dose of 20 ton ha-1, kayambang dose of 20 tons ha-1, NPK dose of 200kg ha-1, NPK dose of 400kg ha-1, kascing in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, kascing in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1, kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1, and kayambang in dose of 20 ton ha-1 + NPK in dose of 400kg ha-1 to 3 (three) repetitions. The result indicated that the growth and yield of sweet corn provided with treatment were better than those provided with control, the comparison of 3 types of compost and NPK showed significant effect on components of yield, and the treatment chicken manure in dose of 20 tons ha-1 + NPK in dose of 200kg ha-1 was the treatment showing the best effect on plant growth and yield of sweet corn.

Key Word : Compost, Doses, Yield,  Sweet Corn, Ombrogen Peat

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pertumbuhan tanaman jagung antara semua perlakuan (tunggal dengan tunggal, tunggal dengan kombinasi dan kombinasi dengan kombinasi). Penelitian dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian pembanding berencana (kontras orthogonal) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 12 (duabelas) perlakuan yaitu Kontrol, kascing takaran 20 ton ha-1, pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1, dosis NPK 200kg ha-1, dosis NPK 400kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, kascing takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1, kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1, dan kayambang takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 400kg ha-1 dengan 3 (tiga) ulangan. Hasil percobaan menunjukan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yang diberikan perlakuan lebih baik daripada kontrol, perbandingan 3 jenis kompos dan NPK menunjukan pengaruh nyata pada komponen hasil, dan perlakuan Pupuk kandang kotoran ayam takaran 20 ton ha-1 + dosis NPK 200kg ha-1 merupakan perlakuan yang menunjukan pengaruh yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

Kata Kunci : Kompos, Dosis, Hasil, Jagung Manis, Gambut Pedalaman

I.  PENDAHULUAN

Di Indonesia sweet corn (Zea mays L. saccharata Sturt), dikenal dengan nama jagung manis. Tanaman ini merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, jagung memegang peranan penting sebagai bahan pangan di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan, jagung pun dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak dan bahan baku industri dengan tingkat kebutuhan yang besar. Jagung dan komoditas pertanian lainnya di Indonesia terdesak ke lahan yang kurang subur. Hal ini disebabkan lahan pertanian yang sesuai untuk usahatani beralih fungsi menjadi tempat pemukiman, pabrik dan sebagainya. Salah satu jenis tanah yang kurang subur dan menjadi sasaran pengembangan usaha pertanian saat ini adalah lahan gambut. Dimana luasan gambut di Indonesia mencapai 20,96 juta ha, sedangkan Provinsi Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut seluas 2,93 juta ha (Noor, 2010).

Tanah gambut mempunyai berbagai kendala dalam menunjang usaha budidaya tanaman pertanian. Tanah gambut pedalaman pada umumnya mempunyai lapisan gambut yang tebal dan berasal dari kayu-kayuan, miskin akan unsur hara, bereaksi masam hingga sangat masam, kapasitas tukat kation (KTK) sangat tinggi dan kejenuhan basa yang rendah. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju dan kemudahan penyediaan hara yang memadai bagi tanaman terutama basa K dan Ca. dalam suasana kaya akan bahan organik, seperti gambut, ketersediaan Cu, Zn, Fe, dan Mo sangat rendah, karena sebagian besar hara mikro tersebut dijerat kuat oleh analir pengikat sehingga tidak mudah tersedia bagi tanaman (Salampak, 1993).

Penempatan pupuk organik dalam hal ini kompos ke dalam tanah secara garis besar manfaat yang diperoleh yaitu : memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Walaupun begitu penggunakan pupuk organik memiliki sisi kekurangan juga yaitu : kandungan hara rendah, ketersediaan unsur hara lambat dan menyediakan hara dalam jumlah terbatas. Tetapi pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang diperlukan pada masa pertumbuhan tanaman. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik mencegah terjadinya erosi, pergerakan permukaan tanah (crusting) dan retakan tanah, mempertahankan kelengasan tanah serta memperbaiki internal drainage (Sutanto, 2008b).

Permasalahan yang akan dipecahkan adalah “ Apakah dengan pemberian 3 jenis kompos dan pupuk majemuk NPK akan menunjukan perbedaan dalam meningkatkan hasil tanaman serta dapat memperbaiki kesuburan tanah?”.

 BAHAN DAN   METODE

Penelitian telah dilaksanakan pada tanah gambut di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksanaan penelitian akan dilakukan selama 4 bulan  dari bulan Februari sampai Mei 2012. Percobaan ini dilaksankan di lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara tunggal dengan 3 (tiga) ulangan. Perlakuan tersebut dengan pemberian kascing, pupuk kandang kotoran ayam, kayambang dan NPK. Variabel   komponen yang diamati adalah : umur berbunga, dimater tongkol, panjang tongkol, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot. Analisis hasil penelitian dalam bentuk pembanding atau kontras yang didefinisikan sebagai anak gugus (sub-set) fungsi linier. Perbandingan kontras orthogonal adalah penguraian jumlah kuadrat perlakuan ke dalam pembanding-pembanding linier (Langai, 2002).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji ragam tersebut menunjukan bahwa semua peubah-peubah pengamatan yang diamati memiliki ragam yang homogen. Dengan demikian semua peubah data pengamatan tersebut layak dilakukan analisis ragam.

Hasil analisis ragam terhadap komponen hasil yaitu terdiri dari umur berbunga, dan panen (diameter, panjang dan berat tongkol berkelobot dan tanpa kelobot).

Tabel 1.    Nilai rata-rata umur  berbunga (HST)

Tabel 1 Vita

Keterangan:   angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 1 menunjukan bahwa pengamatan umur berbunga menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai umur berbunga tanaman yang tercepat pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 39,07 HST dan umur berbunga yang paling lambat pada perlakuan “a” (kontrol) yaitu 42,70 HST.

Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)  dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

gambar vita 1

Gambar 1.   Kecepatan tanaman jagung dalam mengeluarkan memasuki fase generatif dengan melihat umur berbunga (HST)

Pengamatan yang diambil pada saat tongkol jagung sudah panen dimana peubah yang diamati diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm) dan berat tongkol (g) yang berkelobot yang disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 2.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung berkelobot pada pengamatan diameter (cm) (X10), panjang (cm) (X11), dan berat (g) (X12)

Tabel 2 Vita

Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Tabel 2 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung berkelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol berkelobot pada perlakuan “j” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1) yaitu 5,46 cm.

Pengamatan tongkol jagung berkelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh  nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol berkelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 28,86 cm.

Tabel 3 menunjukan bahwa pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada diameter tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh nyata, pada perbandingan pemberian NPK 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh nyata,  dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan  400  kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan diameter tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 4,90 cm.

Tabel 3.    Nilai rata-rata komponen hasil tanaman tongkol jagung tanpa kelobot pada pengamatan diameter (cm) (X13), panjang (cm) (X14), dan berat (g) (X15)

Tabel 3 Vita

Keterangan :    angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata secara hirarki menurut uji pembanding orthogonal (orthogonal contrast)

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada panjang tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan panjang tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 20,68 cm.

Pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot pada berat tongkol menunjukan pada kontrol versus perlakuan menunjukan pengaruh sangat nyata, pada pengamatan perbandingan perlakuan pupuk tanpa penambahan NPK dengan perlakuan pupuk dengan penambahan NPK menunjukan pengaruh nyata, perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik menunjukan pengaruh sangat nyata, perbandingan pemberian kascing dengan kotoran ayam versus kayambang menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kascing dengan kotoran ayam menunjukan pengaruh sangat nyata, dan pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kayambang dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh  sangat nyata, demikian pula halnya pada perbandingan kelompok  kascing dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 versus kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 menunjukan pengaruh sangat nyata. Nilai rerata tertinggi pada pengamatan berat tongkol tanpa kelobot pada perlakuan “i” ((kotoran ayam 20 ton ha-1 + NPK 200 kg ha-1) yaitu 275.84 g.

Hasil tanaman secara umum dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif tanaman itu sendiri. Apabila pertumbuhan vegetatif berjalan dengan normal, pada gilirannya akan menghasilkan hasil yang baik pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjadi (1979), bahwa fase generatif sangat ditentukan oleh fase vegetatif.

Pengamatan umur berbunga pada perbandingan C1, C2, C3, C4, C7 dan C8 menunjukan pengaruh yang nyata dan sangat nyata. C1 merupakan perbandingan antara kontrol dan perlakuan disini kita dapat melihat perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dan tidak diberi pupuk, ditanah gambut yang miskin. Hal ini sesuai dengan pendapat Widjaja-Adhi (1994), kendala utama yang menjadi perhatian pada tanah gambut pedalaman yaitu pedalaman dengan tingkat pelapukannya tergolong muda (fibrik dan hemik), ketebalan yang tinggi, kadar nitrogen yang tinggi namun tidak tersedia bagi tanaman, kadar fosfor yang tergolong rendah, kalium sedang, pH sangat masam (4,5 atau kurang), kapasitas tukaar kation tinggi, kejenuhan basa (KB) rendah adalah faktor yang menyebabkan hara sulit untuk diserap juga ketersediaan akan unsur hara mikro seperti Cu, Zn, Fe dan Mn sangat rendah.

Terjadinya pengaruh pemberian pupuk  sesuai perlakuan terlihat dapat cepatnya umur berbunga hail ini berkaitan pada saat pertumbuhan tanaman, tanah sebagai media tumbuh harus mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah cukup. Pemupukan perlu dilakuan sebagai penambahan zat hara bagi tanaman kedalam tanah yang juga pada akhirnya akan memperbaiki sifat-sifat tanah (Hardjowigeno, 2007). Apabila unsur hara yang ada dalam tanah memadai bagi pertumbuhan tanaman, maka tanaman akan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut.

Sifat kimia dan unsur hara pada 3 jenis kompos dapat dilihat pada Lampiran 15. Dapat dilihat bahwa P tersedianya terlihat sangat tinggi, dimana unsur P diabsorpsi tanaman dalam bentuk ion H2PO4- dan HPO4-2 (Jumin, 1989). Fosfor esensial bagi pembentukan biji (Soepardi, 1985), serta dalam mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah (Lingga, 2004). Lebih lanjut Rosmarkam dan Yuwono (2002) mengungkapkan bahwa P diperlukan untuk pembentukan bunga dan organ reproduktif dan P juga berkaitan erat dengan pembentukan pati terutama biji-bijian seperti halnya jagung.

Pada pengamatan komponen hasil tongkol jagung berkelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Pada komponen hasil bekelobot perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi.

Demikian pula pengamatan tongkol jagung tanpa kelobot (diameter, panjang dan berat) pada perbandingan C1 (kontrol vs perlakuan) menunjukan pengaruh sangat nyata hal ini keterkaitan dengan ketersediaan hara yang dipenuhi oleh pemberian perlakuan. Dan pada perbandingan kompos dan NPK (C3) menunjukan pengaruh sangat nyata. Pada perbandingan masing-masing kompos menunjukan bahwa kasing dan kotoran ayam lebih baik dari pada kayambang, dan diantara kascing dan kotoran ayam bahwa kotoran ayam lebih baik. Dan pada perlakuan kombinasi pada perbandingan C8 menunjukkan berpengaruh sangat nyata dimana dengan melihat nilai reratanya maka perlakuan i dan j menunjukan nilai tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan kotoran ayam baik yang tunggal maupun yang kombinasi mampu memberikan perbaikan kondisi media tumbuh sehingga secara langsung maupun tidak langsung menyediakan lingkungan tumbuh yang memberikan ketersediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman jagung

Kompos kotoran ayam mengandung nitrogen dan kalium yang relatif tinggi dibanding dengan kompos lainnya. Nitrogen merupakan  penyusun senyawa untuk metabolisme, sedangkan kalium berperan sebagai zat pengaktif dalam proses fotosintesis, respirasi, dan translokasi karbohidrat. Magnesium dan nitrogen merupakan unsure pembentuk klorofil sehingga terlibat dalam proses fotosintesis (Gardner et al, 1991 ; Salisbury dan Ross, 1995).

Pupuk kandang kotoran ayam mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro. Oleh karena sifat dari kotoran ayam dalam melepas hara berlangsung secara bertahap dan berlangsung lama, tampaknya pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah gambut. Dimana berdasarkan penelitian Limin (1992), bahwa pemberian kotoran ayam pada tanah gambut ternyata mampu meningkatkan pH, K-dd, dan P-tersedia yang juga diikuti dengan kenaikan KTK gambut.

Peningkatan aktivitas fotosintesis berarti dapat meningkatkan fotosintat yang dibentuk, kemudian ditransfer kebiji sebagai cadangan makanan. Sehingga makin besar cadangan makanan yang terbentuk dalam biji, semakin besar ukuran biji. Hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap ukuran tongkol baik itu diameter maupun panjang, serta berat tongkol. Peningkatan panjang dan diameter tongkol berarti terjadi pula peningkatan pula jumlah biji yang terdapat pada tongkol. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan berat tongkol yang seimbang dengan peningkatan ukuran tongkol dan jumlah biji. Semakin besar ukuran tongkol dan banyaknya biji secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan berat tongkol.

Hasil fotosintesis pada tanaman mula-mula digunakan untuk pertumbuhan kemudian untuk pembentukan organ generative dan pembentukan biji. Protein yang dibentuk pada akhirnya disimpan dalam biji sebagai lanjutan proses fotosintesis yang semula dipakai untuk menyusun pertumbuhan vegetatif. Setelah pertumbuhan vegetative berhenti, maka dipindahkan menjadi penimbunan protein didalam biji sebagai cadangan makanan (Lingga, 2004).

Pemberian perlakuan pada penelitian ini akan memperbesar ketersediaan unsur hara pada tanah, dimana tanaman akan mengabsorbsi unusr hara tersebut untuk pertumbuhan dan perkembangan, sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi keperluan proses metabolisme tanaman. Dan dengan melihat nilai rerata pada pengamatan hasil tanaman bahwa perlakuan “i” (kotoran ayam dan penambahan 200 kg ha-1) menunjukan nilai tertinggi.

  

 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pemberian perlakuan 3 jenis kompos dan pupuk NPK menunjukan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik  dibandingkan dengan kontrol.
  2. Pemberian perlakuan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan bahwa perlakuan kotoran ayam memberi hasil yang terbaik kemudian berturut-turut kascing dan kayambang.
  3. Pemberian perlakuan pupuk NPK dengan dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1  tidak menunjukan perbedaan diameter tongkol jagung tanpa kelobot
  4. Pemberian kombinasi pupuk NPK dosis 200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1 dengan 3 (tiga) jenis kompos menunjukan perbedaan pada beberapa komponen pertumbuhan dan hasil tanaman, sedangkan perbandingan antara 1 (satu) jenis kompos dengan 2 (dua) dosis NPK (200 kg ha-1 dan 400 kg ha-1) keseluruhan menunjukan tidak perbedaan pada komponen-komponen pengamatan.
  5. Hasil yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada perlakuan tunggal dengan pemberian kotoran ayam, sedangkan kombinasinya yang terbaik yaitu kotoran ayam 20 ton ha-1 yang ditambahkan NPK dosis 200 kg ha-1.

SARAN

Perlunya penelitian lanjutan dengan menggunakan tanaman indikator lainnya di lahan gambut dengan menggunakan pupuk organik guna semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih menggunakan pupuk organik daripada pupuk anorganik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gardner, F.P., Paerce, R.B, dan Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2007b. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta

Jumin, H. B. 1989. Ekologi Tanaman, Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press. Jakarta

Langai, B. F. 2002. Perancangan Percobaan. Buku Ajar. Fakultas Pertanian Unlam. Banjarbaru

Limin, S. H. 1992. Respons Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Terhadap Pemberian Kotoran Ayam, Fosfat Dan Dolomit Pada Tanah Gambut Pedalaman. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lingga, P. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta

Noor, M..2010. Lahan Gambut, Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim. UGM Press. Yogyakarta

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Salampak. 1993. Studi asam fenol tanah gambut pedalaman di Berengbengkel pada keadaan anaerob. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soepardi . G. 1985. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor

Sutanto, R. 2008. Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta

 




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.