JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


UJI EVEKTIVITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP HAMA  PLUTELLA 
11 Juli 2013, 1:24 pm
Filed under: Penelitian

UJI EVEKTIVITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP HAMA  PLUTELLA  XYLOSTELLA PADA TANAMAN SAWI

(Effectiveness Test Of Several Bioinsecticides Against Diamond Black Moth On Mustard In Peat Land)

Melhanah*  dan Lilies Supriati *

*) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Faperta UNPAR

Email : melhanah@yahoo.co.id

                                                                        ABSTRACT

The research to know the effect leaf extract of babadotan (Ageratum conyzoides), butrowali (Tinospora crispa), soursop leaf (Annona muricata L) and pesticide Deltamethrin 25 g L-1 on  intensity of pests attack of Plutella xylostela and yield of  mustard crops on peatlands have been done from June to August 2011. Research using a randomized block design with treatment ie without plant extracts (control); babadotan extract, butrowali extract, and soursop extract with a concentration of 5 mL L-1, and Deltamethrin 0.5 mL L-1 with each treatment 5 times replications. The results showed that bioinsecticide babadotan extracts more effective in suppressing the pest intensity P. xylostella at all ages observations (7,14,21, and 28 days after planting). Highest fresh weight of mustard at treatment babadotan extract was 1,600 g plot-1 (a broad plot 4 m2).

Keywords: Bioinsecticides; Plutella xylostela; mustard; peatland

ABSTRAK

Penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun babadotan (Ageratum conyzoides), butrowali (Tinospora crispa), daun sirsak (Annona muricata L) dan pestisida Deltametrin 25 g L-1 terhadap intensitas serangan hama Plutella xylostela  dan  hasil panen tanaman sawi pada lahan gambut telah dilakukan sejak Juni sampai Agustus 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor dengan perlakuan jenis insektisida yaitu tanpa ekstrak tanaman (kontrol); ekstrak babadotan, butrowali, dan sirsak  dengan konsentrasi 5 mL L-1; dan  Deltametrin 0,5 mL L-1 dengan masing-masing perlakuan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan  Pemberian insektisida nabati ekstrak babadotan lebih efektif dalam menekan intensitas serangan hama P. xylostella pada semua umur pengamatan (7,14,21,dan 28 hari setelah tanam. Bobot segar sawi tertinggi diperoleh pada perlakuan ekstrak babadotan 1.600 g petak-1 dengan luas petak 4 m2

Kata Kunci : Insektisida nabati; Plutella xylostela; tanaman sawi; gambut pedalaman


PENDAHULUAN

Tanah gambut yang ada di Kelurahan Kalampangan dapat dikembangkan untuk tanaman sayuran seperti sawi, akan tetapi produksi tanaman sawi masih relatif rendah dan berfluktuasi, padahal prospek tanaman sawi dimasa akan datang sangat baik.  Kelurahan Kalampangan merupakan  daerah pemasok kebutuhan sayuran termasuk sawi di kota Palangka Raya, sehingga kegiatan pertanian yang dilakukan petani sangat intensif sekali sesuai dengan mata pencaharian mereka.  Produksi pertanian terbanyak dihasilkan di kelurahan Kalampangan (Badan Pusat Statistik Kota Palangka Raya, 2010)

Salah satu masalah utama dalam peningkatan produksi tanaman sawi adalah adanya serangan hama  Plutella xylostella.  Hama P. xylostella  merupakan hama  utama pada tanaman sawi.  Pada populasi tinggi, larva memakan semua daun dan hanya meninggalkan tulang-tulang daun, sehingga terjadi kerusakan berat Serangan berat menyebabkan seluruh daging daun habis termakan sehingga tertinggal hanya tulang-tulang daun (Daryanto dkk., 1998).  Upaya yang dilakukan petani untuk mengendalikan hama pada tanaman sawi selalu menggunakan insektisida kimiawi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua kelompok tani Karya Jaya II dan Harapan Jaya II di Kelurahan Kalampangan, November 2010,  para petani selalu menggunakan insektisida kimia untuk mengendalikan serangan hama.

Penggunaan insektisida kimiawi untuk mengendalikan hama dapat menimbulkan dampak negatif bagi hama yaitu terjadinya resistensi, resurjensi  hama dan pencemaran terhadap lingkungan hidup (Untung, 1996). Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan berbagai senyawa kimia alami yang berasal dari tumbuhan (Schmutterer, 1990). Jenis tumbuhan yang dapat dijadikan insektisida nabati antara lain Babadotan (Ageratum conyzoides), Butrowali (Tinospora crispa) dan Daun Sirsak (Annona muricata L).

Ekstrak daun babadotan kering 90 g L-1 efektif menekan intensitas serangan hama Kepik Hijau (Nezara viridula) pada tanaman kedelai sebesar 12,96 % (57 HST) dan 14,13 % (67 HST) dibanding kontrol (Melhanah, dkk; 2006). Ekstrak daun sirsak 90 g L-1 menekan intensitas serangan, menurunkan populasi nimfa dan imago serta mengurangi jumlah polong rusak pada Kepik Hijau (Nezara viridula) pada tanaman kedelai dibandingkan kontrol (Melhanah, dkk 2009).

Pemanfaatan insektisida nabati selain dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan, bahannya mudah di dapat, dan harganya relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan pestisida kimia (Subiyakto dan Dalmadiyo, 2001).  Tujuan dari penelitian  ini  adalah: 1). Mengetahui pengaruh pemberian insektisida nabati ekstrak daun babadotan butrowali dan daun sirsak serta pemberian  insektisida   sintetik  Deltametrin,  terhadap intensitas serangan hama Plutella xylostela  pada tanaman sawi ditanah gambut pedalaman dan mengetahui pengaruh pemberian insektisida terhadap hasil panen sayuran sawi.

BAHAN DAN METODE

Penelitian telah dilaksanakan di  Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah, mulai bulan Juni sampai Agustus 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor, dengan perlakuan jenis insektisida (N0 = tanpa ekstrak tanaman; N1 =  ekstrak babadotan 5 mL L-1; N2 =  ekstrak butrowali  5mL L-1; N3 =   ekstrak sirsak 5 mL L-1;  dan  N4 = Insektisida Deltametrin 0,5 mL L-1, sebagai pembanding).  Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga diperoleh 25 satuan percobaan.

Bibit sawi yang berumur 3 minggu dan berdaun 3-5 helai diambil untuk penanaman.  Sawi  ditaman dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, pada setiap petakan berukuran  2 x 2 m2.   Tanaman sawi dipanen pada umur 30 HST (hari setelah tanam).

Pembuatan insektisida nabati dilakukan dengan cara perendaman produk ekstrak yang difermentasi menggunakan EM4 (Asmara, 2000). Bahan yang diperlukan adalah  daun babadotan, butrowali, daun sirsak, gula merah dan EM4.  Cara pembuatan insektisida nabati  adalah sebagai berikut : 1).  Bahan-bahan sebanyak 1 kg dirajang atau dipotong kecil-kecil (1-2 cm); 2). Larutkan gula merah 1,72% dari bahan ke dalam 4,93% air, larutan gula merah ini disebut mollases; 3).  Bahan-bahan yang telah dirajang dimasukkan dalam toples, tambahkan larutan EM4 0,02% dari bahan, mollases 10 cc/liter air dan fermentasi selama 5 hari; 4). Saring hasil fermentasi menggunakan kain kasa untuk menghindari kemampetan pada nozel sprayer;

Aplikasi insektisida dilaksanakan satu hari sebelum pengamatan, satu kali dalam seminggu dengan konsentrasi 5 mL L-1.   Insektisida Deltametrin 25 g L-1  (Decis 2,5 EC)  digunakan sebagai pembanding.  Bila hama ulat daun P. xylostela telah mencapai nilai  ambang ekonomi maka dilakukan penyemprotan dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran.  Nilai ambang ekomomi untuk hama P.  xylostela adalah 1 ekor/ tanaman.   Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman sampel pada tiap petakan yang ditentukan secara acak.   Variabel yang diamati meliputi:  Intensitas serangan hama P.  xylostela (%)(Direktorat  Jenderal Perlindungan Tanaman dan  Hortikultura, 2007)  dan bobot segar sawi.

Jumlahn1v1

I =     —————- x 100%,

ZN

I=Intensitas serangan (%); ni=Jumlah tanaman/ bagian tanaman contoh pada skala vi; vi= Nilai skala kerusakan ke-I; Z=Nilai skala kerusakan tertinggi; N=Jumlah tanaman/bagian tanaman contoh yang diamati. Nilai skala untuk vi adalah sebagai berikut : 0 =  Tidak ada seran-gan terhadap tanaman atau bagian tanaman yang diamati; 1 = Luas  serangan < 25% bagian daun; 2 = Luas serangan > 25% -  50% bagian daun; 3 = Luas serangan > 50% -  75% bagian daun; 4 = Luas serangan > 75% bagian daun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas serangan hama P. xylostella  (%)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan hama P. xylostella lebih rendah 35-52% pada perlakuan yang menggunakan insektisida kimia dan nabati dibanding pada perlakukan kontrol (Tabel 1). Hal ini menunjukkan pemberian insektisida nabati dari bahan alami seperti babadotan, butrowali maupun daun  sirsak memberikan pengaruh positif untuk mengurangi serangan  hama  P. xylostella.

Insektisida nabati dari ekstrak butrowali, sirsak dan deltametrin sama efektifnya menurunkan intensitas serangan  P. xylostella pada umur 14 hst.   Daun sirsak mengandung senyawa kimia annonain dan saponin yang  dapat berperan sebagai insektisida,  repellent (penolak serangga), dan anti feedant (penghambat makan)  Sedangkan daun babadotan mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai pengusir/penolak serangga. Kandungan kimia pada tanaman butrowali adalah amilum, pikroretin, pikroretrosida, alkaloid, saponin dan tannin.  Sebagai insektisida bagian butrowali yang dimanfaatkan adalah batangnya.  Cara kerja racun butrowali sebagai pengusir (repellent), racun syaraf dan menghambat perkembangan serangga (Samsulhidayat dan Hutapea, 1991) 

Pemberian daun babadotan untuk mengendalikan hama P. xylostella pada tanaman sawi menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya pada semua umur pengamatan. Diduga adanya kandungan metabolit sekunder pada daun dan bunga babadotan yang tidak disukai oleh hama P. xylostella. Kardinan, dkk (1999) mengemuka-kan daun dan bunga babadotan mengandung saponin, flavanoid, dan polipenol.  Kandungan bioaktif saponin-flavanoid-polifenol-minyak atsiri bersifat kontak yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan larva menjadi pupa (Rachmat dan Wahyono, 2007).

Daun babadotan merupakan gulma yang mengganggu tanaman, namun untuk pemanfaatan lebih lanjut tentunya dapat dikembangkan  sebagai insektisida nabati terutama pada penggunaan tingkat petani.

 

Hasil/Produksi tanaman        

Hasil  panen tanaman sawi  dalam bentuk bobot segar sawi menunjukkan  ekstrak babadotan  memberikan hasil yang lebih baik  (Tabel 2).

Tanaman babadotan dikenal juga sebagai gulma pada tanaman pangan dan perkebunan. disamping  mengandung saponin, flavanoid, dan polipenol juga mengandung dua jenis bahan aktif, yakni precocene I (7-methoxy-2,2-dimethyl-2H-1-benzopyran) dan precocene II (6,7-dimethoxy-2,2-dimethyl-2H-1-benzopyran)(Kardinan, dkk,1999; Moenandir, 1990).   Senyawa kimia yang beracun dari golongan procene I dan II tersebut mampu bekerja secara sintetik dan kontak terhadap hama P. xylostella.  Disamping itu juga merupakan senyawa anti hormon juvenill (yaitu hormon yang diperlukan serangga dalam proses metamorfosis dan repropduksi) (Darwiati dan S.E, Intari, 2005 dalam  Watt, J.M. dan B. Brandwijk. 1962? Apakah bukan Watt and Brandwijk, 1962 dalam Darwiati dan Intari, 2005).


Tabel 1.    Rata-rata intensitas serangan larva P. xylostella L. pada tanaman sawi pada umur 7, 14, 21, dan 28 HST

Perlakuan Intensitas Serangan (%) / Tanaman
7 HST 14 HST

21 HST

28 HST
No= Tanpa ekstrak

N1= Ekstrak babadotan

N2= Ekstrak butrowali

N3= Ekstrak sirsak

N4= Deltametrin

16.43   b

7.48   a

10.05 ab

9.85ab

9.77   ab

21.10   b

8.83    a

13.02  a

10.85  a

10.51  a

26.96   c

11.08   a

17.31   b

14.59   ab

14.15   ab

28.57   c

13.67   a

18.51   b

16.46  ab

15.40 ab

BNJ 5 %

6.67

6.43

5.50

3.88

Keterangan:     angka yang diikuti hurup yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan berbeda nyata menurut uji Beda Nyata Jujur taraf 5 %.

Tabel 2.    Rata-rata Bobot Segar Sawi Pada Umur 30 HST

Perlakuan

Bobot Segar Sawi (g)

/Petak

No= Tanpa ekstrak

N1= Ekstrak babadotan

N2= Ekstrak butrowali

N3= Ekstrak sirsak

N4= Deltametrin

1015   a

1600   b

1096   ab

1560  ab

1500 ab

BNJ 5 %

576.86

Keterangan :    angka yang diikuti hurup yang berbeda pada kolom yang sama   menunjukan berbeda nyata menurut uji Beda Nyata Jujur taraf 5 %.

Pemberian insektisida nabati dari ekstrak daun babadotan ternyata memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan perlakuan lainnya. Dengan demikian dapat dianjurkan untuk memanfaatkan daun babadotan sebagai insektisida nabati merupakan salah satu upaya untuk mengurangi serangan hama P.xylostella. Daun babadotan merupakan gulma yang mengganggu tanaman, namun untuk pemanfaatan lebih lanjut tentunya dapat dikembangkan  sebagai insektisida nabati/alami  terutama pada penggunaan tingkat petani.

Petani di Palangka Raya dalam mengendalikan hama tanaman sawi selama ini selalu menggunakan insektisida. Pengaruh penyemprotan tersebut berakibat residu pestisida dalam sayuran cukup tinggi.  Di masa yang akan datang tentunya diupayakan untuk mengurangi pemakaian insektisida sintetik untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.  Hal ini sesuai pendapat  Untung (1996), bahwa pengendalian dengan pestisida kimiawi yang kurang tepat menyebabkan hama menjadi resisten, matinya musuh alami, pencemaran terhadap lingkungan ,gangguan kesehatan bagi konsumen,terjadinya resurgensi,resistensi dan letusan hama kedua, agroekositem biotik dan abiotik serta berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

KESIMPULAN

1.    Tanaman sawi yang mendapat perlakuan ekstrak insektisida nabati dari daun babadotan  menunjukkan intensitas serangan hama Plutella xylostella lebih rendah bila dibandingkan butrowali, sirsak dan Delthametrin  pada semua umur pengamatan (14 HST,7,21, dan 28 HST)

2.    Pemberian insektisida sintetik Deltametrin 25 g/l dan insektisida nabati dari daun sirsak menunjukkan hasil yang sama efektifnya dalam menekan intensitas serangan hama Plutella xylostella pada semua umur pengamatan (7,14,21, dan 28 HST.

3.    Hasil panen tanaman sawi menunjukkan hasil bobot segar sawi tertinggi diperoleh pada perlakuan dari ekstrak babadotan yaitu 1600 g/petak (4 ).

SARAN

Insektisida nabati dari bahan daun babadotan dapat digunakan untuk mengendalikan hama Plutella xylostella karena menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan insektisida nabati dari bahan batang butrowali dan  daun sirsak maupun insektisida sintetik Deltametrin 25 g/l.

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepadaProyek DIPA UNPAR Tahun Anggaran 2011 yang telah menyediakan dana untuk kegiatan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Asmara, N.D.  2000.  Tanaman Pengusir Hama Tanaman.  Dalam  Winarno, P., T. Wirayana, AU. Hadi, D. Setiabudhi dan M. Muntoyah (Ed.).  Bul. Gema Teknologi EM, 3(2), Juli  2000.  Institut Pengembangan Sumberdaya Alam (IPSA).  Jakarta.

Biro Pusat Statistik. 2010. Kalimantan Tengah Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya.

Darmiati, W dan S.E.  Intari.  2005.  Uji Toksikologi Daun Babadotan (Ageratum conyzoides L) dan  Cente Manis (Lantana camara L) terhadap Hama Penggerek Pucuk Mahoni (Lepidoptera:Pyralidae). J. Info Hutan II(4): 353-358. Dalam Watt, J.M. dan B. Brandwijk. 1962.  Medical and poisonous. Plant of Southern and East Africa. 2nd. Living Stone, LTd. Edinburg

Daryanto,H.,Prabaningrum. L..Purwani. E. T. dan Desmawati. 1998.  Pemanfaatan Agens Hayati Parasitoid Diadegma semiclausum Hellen untuk Pengendalian Hama Plutella xylostella L. pada Tanaman Kubis.  Direktorat Bina Perlindungan Tanaman.  Jakarta.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Holtikultura. 2007.  Pedoman Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan.  Direktorat Bina Perlindungan Tanaman.  Jakarta.

Kardinan ,A., Jasni dan M. Iskandar. 1999. Pengaruh Ekstrak daun Mimba, Sirsak dan bunga piretrum terhadap mortalitas dan serangan rayap kayu kering Criptotermes cynocephalus. Dalam Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan Pestisida Nabati, Bogor, 9-10 Nopember 1999.  227-232.

Melhanah., RB. Mulyani., P. Suryawijaya., Sustiyah., S. Wibowo., dan Suparno.    2006. Pengaruh Insektisida Nabati dan Pupuk Organik Cair Terhadap Intensitas Srangan Hama dan Produksi Tanaman Kedelai  Pada Tanah Gambut Pedalaman Laporan Akhir Penelitian Proyek Due-Like Batch III  Fakultas Pertanian. UNPAR.  Palangka Raya.

Melhanah.,  D. Saraswati dan P.A.Bawono.  2009.  Keefektifan Pemberian   Insektisida Nabati dan Pupuk Organik Cair Untuk Mengendalikan hama kepik Hijau.  J. Agripeat 10:48-54.  Fakultas Pertanian. UNPAR.  Palangka Raya.

Moenandir, J. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Buku I. Penerbit Rajawali Jakarta.

Rachmat, M., dan D. Wahyono. 2007. Tanaman Biofarmaka Sebagai Biopestisida. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura Bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Jakarta. 51 hal.

Subiyakto dan G. Dalmadiyo. 2001.  Teknologi  Sederhana Produksi Pestisida Nabati.  (Makalah disajikan dalam Diskusi Panel Sosialisasi Pestisida Nabati.PEI Cabang Malang). Malang.

Schmutterer, H. 1990.  Properties and Potential of Natural Pesticides from the Neem Tree, Azadirachta indica . Ann. Rev. Entomol. 35: 271-297

Syamsulhidayat S.S. dan J.R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Departemen Kesehatan R.I Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan. Bogor.

Untung. K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

About these ads

2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

bisa minta fienya dalam bentuk PDF gak mbak ? saya juga mengamati tentang efektivitas daun sebagai pestisida walangsangit…trims sebelumnya

Komentar oleh dinni

naskah dalam bentuk pdf sudah kami kirim, dan kami mohon kerjasamanya bila ada naskah ilmiah yang siap untuk dimuat dalam jurnal kami yang berhubungan dengan budidaya (agro, tanah, hpt) dan pemanfaatan lahan gambut dpt disampaikan kepada kami untuk kami seleksi dan kami terbitkan dalam jurnal kami. tks. salam

Komentar oleh Jurnal Ilmiah Agripeat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: