JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 1 Maret 2011 == PERENCANAAN PEMANFAATAN LAHAN PERTANIAN BERBASIS SUMBERDAYA == ANDY BERMANA
11 Maret 2012, 7:37 am
Filed under: Penelitian
PERENCANAAN PEMANFAATAN LAHAN PERTANIAN BERBASIS SUMBERDAYA LAHAN UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN(STUDI KASUS: DAERAH BUNTOK, KABUPATEN BARITO SELATAN)(Agricultural land use planing on the basis of land resources to support agricultural development)(case study: buntok area, south barito regency)

Andy Bhermana

Kalimantan Tengah Assessment Institute for Agricultural Technology Jalan G. Obos KM 5.5 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia

Email : andybhermana@yahoo.com

ABSTRACT

Not all lands can be used for agricultural purposes and sustainable land use can  only be achieved through proper land use, appropriate agriculture system and ecologically sound management technologies. The information about land resources and land use recommendation are urgently required for basic consideration and reference in land use planning. Therefore, land with the right location and appropriate agricultural system can be cultivated effectively, optimally, efficiently, and precisely, while at the same time conserving those resources for the future. Mainly on the basis of land resources information, delineating integrated database of unique (homogeneous) polygons using GIS technology and with aid of expert system can produce digitized maps such as 3-D landform map, agricultural land region map, available arable land map, and soil map,. These maps with their integrated database that is geographically displayed as a part of GIS facilitate agricultural land regions selection, land use recommendation and provide other  land resources information for basic consideration in land use planning. In Buntok area, there are 9 (nine) LMU with 5 (five) soil ordo, i.e. Entisols, Histosols, Inceptisols, Spodosols, and Ultisols. The landform occurring at elevation between 15-55 meters above sea level, consist primarily of flat lowland and undulating plain with slope classes 0-8% and 8-15%. Lands suitable for cultivation cover almost 50,928 hectares or 76% of the entire area. There are three main zones with its agricultural system were found. Zone I with agricultural system for plantation crop occupies about 30% of study area (19,881 hectares) and zone II with agricultural system for food crop occupy 46% (31,047 hectares). While, zone III with agricultural system for forest occupies only 24% of the entire area or 15,957 hectares. There were general restrictive factors that indicate the need of soil management within each zone. The general restrictive factors in zone I (agricultural system for plantation crop) involve oxygen available, nutrient retention, and rooting condition. While in zone II (agricultural system for food crop) involve oxygen available, nutrient retention and rooting condition.

Key Words: map, land use, planning, land resources, agricultural system

ABSTRAK

Tidak semua lahan dalam dimanfaatkan untuk tujuan pertanian dan pemanfaatan lahan yang berkelanjutan (sustainable land use) hanya dapat tercapai melalui penggunaan lahan tepat dengan sistem pertanian yang sesuai serta teknologi pengelolaan yang berbasis pada ekologi lingkungannya. Informasi sumberdaya lahan dan rekomendasi penggunaan lahan sangat diperlukan sebagai dasar pertimbangan dan referensi dalam perencanaan pemanfaatan lahan. Dengan sistem pertanian yang sesuai, suatu kawasan dapat dikelola secara efektif, efisien, dan sesuai dengan tetap mengacu pada kelestarian sumberdaya lahan untuk pengelolaan dimasa mendatang.  Teknologi sistem informasi geografi (GIS) dan sistem pakar dapat diaplikasikan untuk mengelola data dan informasi sumberdaya lahan ke dalam format sistem database yang terintegrasi selanjutnya sebagai dasar untuk mendelineasi poligon-poligon homogen (homogeneous polygons) dalam format peta-peta digital  berupa peta sebaran jenis tanah, peta bentuk wilayah 3D, peta peta ketersediaan lahan pertanian, dan peta pewilayahan lahan-lahan pertanian. Peta-peta dengan sistem database yang telah terintegrasi sebagai bagian dari GIS untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam pemilihan kawasan pengembangan pertanian, rekomendasi penggunaan lahan dan informasi dasar dalam perencanaan pemanfaatan lahan. Hasil analisis spasial secara geografis, untuk daerah Buntok dan sekitarnya  terdapat 9 (sembilan) unit lahan dengan 5 (lima) jenis ordo tanah yaitu Entisols, Histosols, Inceptisols, Spodosols, and Ultisols. Bentuk wilayah (landform) yang terdapat pada ketinggian 15-55 meter di atas permukaan laut sebagian besar berupa dataran (flat) dan dataran bergelombang (undulating plain)dengan kelas kelerengan (slope classes) 0-8% dan 8-15%. Kawasan lahan yang memiliki kesesuaian untuk pengembangan pertanian mencakup area seluas 50.93 Ha atau 76% dari total keseluruhan wilayah. Terdapat 3 (tiga) zona utama dengan masing-masing sistem pertaniannya. Zona I dengan sistem pertanian untuk perkebunan seluas 19.881 hektares (30%); zona II dengan sistem pertanian tanaman pangan seluas  31.047 hektares (46%); dan sisanya zone III untuk kehutanan dengan luas 15.957 hektares (24%).  Terdapat beberapa faktor pembatas yang mengindikasikan perlunya pengelolaan lahan untuk masing-masing zona. Faktor-faktor pembatas  untuk sistem pertanian perkebunan terdiri dari ketersediaan oksigen, retensi hara, dan kondisi perakaran, sedangkan untuk sistem pertanian tanaman pangan yaitu oksigen, retensi hara, dan kondisi perakaran.

Kata kunci: peta, penggunaan lahan, sumberdaya lahan, sistem pertanian

PENDAHULUAN

            Salah satu tujuan dari pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan standar hidup masyarakat (petani) melalui pertanian modern yang berkelanjutan untuk mendukung pengembangan suatu kawasan. Beberapa kebijakan yang sudah ditempuh oleh Pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian antara lain melalui intensifikasi ekstensifikasi pertanian termasuk juga di dalamnya diversifikasi pertanian. Langkah-langkah ini perlu dilaksanakan mengingat sektor pertanian memegang peran yang sangat penting  dalam meningkatkan perekonomian suatu wilayah dan pendapatan  masyarakat.

Lebih lanjut, agar suatu sistem pertanian dapat berkelanjutan, pelaksanaan pembangunan pertanian seyogyanya berorientasi pada kelestarian sumberdaya lahan. Hal ini salah satunya dapat dicapai melalui perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan yang efektif dan sesuai berdasarkan kesesuaian dan kemampuan lahan (FAO, 1983) and pemanfaatan lahan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai dengan memperhatikan aspek-aspek konservasi dan daya regenerasi  suatu kawasan (Rukmana and Zubair, 1999).

Perencanaan wilayah untuk penggunaan lahan menjadi hal yang sangat penting bilamana suatu kawasan memiliki potensi sumberdaya lahan untuk dikembangkan. Dan salah satu upaya untuk mendukung perencanaan wilayah adalah melalui penilaian dan evaluasi sumber daya lahan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang strategis untuk tujuan tertentu (Flaherty and Smit, 1982).

Perencanaan wilayah perlu didukung dengan ketersediaan data dan informasi yang memadai untuk membantu dalam pengambilan keputusan mengenai penggunaan lahan yang tepat (Flaherty dan Smit, 1982; Selman, 1982) dan dalam perencanaan harus didasarkan pada pemahaman lingkungan biofisik dan pertimbangan penggunaan lahan dipertimbangkan sehingga perencanaan wilayah untuk pemanfaatan lahan pertanian menuntut pengambilan keputusan alokasi penggunaan lahan yang tepat dengan tetap melestarikan sumber daya lahan untuk masa depan. (FAO, 1976).

Informasi biofisik lingkungan di wilayah Kalimantan Tengah khususnya di daerah Buntok cukup tersedia, namun data tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk tujuan pertanian dan pengembangan wilayah. Kebutuhan dan pengelolaan serta pengembangan informasi  berupa database menjadi suatu keharusan dalam proses perencanaan (planning) baik di tingkat nasional maupun regional. Database yang tersedia dapat dikelola dan disusun  menjadi  suatu sistem database  yang dapat menyajikan informasi sebagai konsep pewilayahan komoditas untuk dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan  (decision making) dalam perencanaan pengembangan wilayah.

Selama ini pemanfaatan informasi sumberdaya lahan untuk tujuan tersebut masih dilakukan secara manual. Untuk mengimbangi percepatan laju informasi khususnya di bidang penyediaan data dan informasi sumberdaya lahan, maka suatu sistem pengelolaan informasi database  sumberdaya lahan sangat diperlukan.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, informasi  berupa database  dapat disimpan, dikelola dan diproses  untuk dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan prosedur komputer (Buurman and Dai, 1989) dan akses terhadap data termasuk pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara optimal melalui sistem pengelolaan data yang baik (Suharta etal., 1998). Sejumlah besar informasi yang digunakan untuk tujuan perencanan penggunaan lahan (landuse planning) perlu dibangun (set-up) ke dalam suatu sistem database dan diperbaharui (up-date) secara periodik dan semua dapat dilakukan dan disimpan dalam komputer (Rapera, 1985). Dengan beragamnya data dan informasi baik  yang diperoleh secara sekunder  maupun primer kurang praktis bila dikelola secara manual dan sejumlah besar informasi menjadi kurang bermanfaat bagi pengguna  jika tidak disimpan dalam komputer. Kemajuan teknologi informasi dan dan komputer telah memunculkan suatu sistem yang dapat digunakan uutuk mengelola dan menganalisis data geografis wilayah yang dikenal sebagai sistem informasi geografis (GIS) (Redjekiningrum, 1997; Basit et al., 1999; Bhermana et al., 2002).

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk menyajikan informasi mengenai sumberdaya lahan dan alokasi penggunaan lahan di daerah Buntok, Kabupaten Barito Selatan dalam format spasial dengan sistem database yang terintegrasi di dalamnya sebagai bagian dari sistem informasi geografi untuk dasar pertimbangan dan referensi dalam perencanaan wilayah untuk mendukung pembangunan kawasan pertanian.

BAHAN DAN METODE

Metodologi penelitian mengacu pada konsep evaluasi lahan untuk menilai potensi lahan sehingga didapat kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu (FAO, 1976; Dent and Young, 1981; Abdullah, 1993: Puslittanak, 1993) dan teknologi GIS diaplikasikan untuk penyusunan sistem database dan dimanfaatkan untuk kepentingan analisis geografis wilayah.

Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan, kompilasi, dan interpretasi data yang dilanjutkan dengan penyusunan database. Data dan informasi  sumberdaya lahan sebagian telah tersedia untuk lokasi penelitian baik dalam format tabular maupun spasial. Informasi dasar tersebut merupakan data sekunder, sedangkan data primer diperoleh melalui survei lapangan untuk melengkapi data yang hilang (blank data) dan tidak konsisten (inconsistent data).

Data tabular terdiri atas Site and Horizon (SH), Soil Sample Analysis (SSA) dan Land Unit (LU), sedang data spasial berupa peta-peta dasar dan peta pendukung terdiri dari peta tanah Semi Detail skala 1:50.000 WPP I Buntok SKP A dan B and Peta Rupa Bumi (lembar: Buntok, Ampah Kota, Tumpung Lahung, and Babai), serta peta foto udara dan administrasi untuk melengkapi data spasial yang telah ada.

Peralatan yang digunakan untuk pengolahan dan interpretasi data meliputi program Modul Pewilayahan Komoditas (MPK) 1.0 dan software Automated Land Evaluation System (ALES) versi 4.65d untuk keperluan evaluasi lahan  sedangkan untuk penyimpanan data dan penyajian hasil dan untuk kepentingan analisis digunakan software berbasis GIS yaitu Arc-View 3.1 dan Surfer 7.0.

Seluruh data dan informasi sumberdaya lahan diinventarisasi dan dikompilasi untuk diproses lebih lanjut melalui tahapan interpretasi data, dimana pada tahapan ini data lahan berupa karakteristik lahan (land characteristic) dan kualitas lahan (land quality) diproses menggunakan software ALES 4.65d dan MPK 1.0 untuk menentukan klasifikasi kesesuaian lahan dan penentuan pewilayahan komoditas. Terdapat  beberapa tanaman yang dianggap sebagai komoditas unggulan yang dipilih untuk kepentingan evaluasi lahan yaitu  karet, kelapa sawit, padi lading, jagung dan kedelai. Sebagian data lahan yaitu titik tinggi tempat dan kontur diproses dan diinterpretasi menggunakan software Surfer 7.0 untuk menyusun deskripsi bentuk wilayah.

Hasil dari proses interpretasi kemudian disusun ke dalam  sistem data base yang selanjutnya disimpan sebagai format dBase (DBF). Sistem database sebagai data set kemudian juga disimpan dalam software Arc-View 3.1 sebagai media penyimpanan dan untuk keperluan transfer data sehingga hasil pengolahan data tabular dapat ditransfer menjadi data spasial untuk menampilkan gambar (graphic).

Tahap terakhir adalah pemetaan, dimana pada proses penyusunan peta, data-data spasial berupa peta-peta dasar dioverlay untuk menentukan batas-batas delineasi poligon berikut legenda secara manual. Hasil proses pemetaan secara manual divalidasi melalui kegiatan verifikasi lapangan untuk memperbaiki batas-batas poligon yang belum jelas. Hasil perbaikan dilanjutkan dengan proses digitasi menggunakan digitizer (plotter). Sistem database yang telah disusun kemudian disimpan ke dalam software Arc-View 3.1 dan Surfer untuk divisualisasikan dalam bentuk peta-peta digital.

HASIL DAN PEMBAHASAN

INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN

Tahap awal untuk perencanaan suatu wilayah, infomasi sumberdaya lahan termasuk iklim perlu disusun ke dalam suatu inventori  (Arnot and Grant, 1981). Sistem data base sumberdaya lahan disusun ke dalam format spasial dan tabular sebagai bagian dari sistem informasi geografi sehingga dapat menampilkan polygon-poligon yang homogen tersaji dalam format peta-peta digital yang menggambarkan pola sebaran geografis untuk kepentingan analisis.

Peta tanah disusun untuk menyajikan informasi dasar sumberdaya lahan di daerah studi. Untuk wilayah Buntok terdapat 9 (sembilan) unit lahan dengan 5 (lima) ordo tanah yaitu Entisols, Histosols, Inceptisols, Spodosols, and Ultisols (Gambar 1).  Asosiasi tanah dari sub group Typic Hapludults, Typic Udipsamments, and Typic Haplorthods banyak mendominasi wilayah studi dengan luas 29.708 hektares atau 44.30% dari total wilayah studi. Sedangkan asosiasi tanah Typic Udipsamments and Typic Haplorthods hanya memiliki luas  1,340 hectares (2.00%) sebagaiman ditampilkan pada legenda peta.

Data elevasi berdasarkan peta foto udara diinterpretasi dan diproses menggunakan Surfer untuk menghasilkan peta bentuk wilayah (landfrom) dalam format tiga dimensi (3D). Peta bentuk wilayah memvisualisasikan keadaan fisiografi permukaan  dari berbagai posisi untuk mempermudah pemahaman dan interpretasi bentuk wilayah (Gambar 2).  Berdasarkan peta bentuk wilayah, daerah Buntok terbagi menjadi 2 (dua) group landform yaitu dataran dan dataran bergelombang dengan kelas kelas kelerengan masing-masing  0-8% and 8-15%.  Kawasan dengan bentuk wilayah datar terdapat di bagian sebelah barat terletak di sepanjang jalar aliran sunga Barito, sedangkan wilayah dataran bergelombang umumnya tersebar di bagian sebelah Timur. Secara umum, pada kawasan datar dengan kelas lereng 0-8% adalah bukan faktor pembatas untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian.

Pada kawasan yang memiliki bentuk permukaan dataran bergelombang banyak didominasi oleh lahan dengan kelerengan yang agak curam, dan hal ini merupakan salah satu faktor pembatas yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan pertanian. Sebagai bagian dari topografi, faktor kelerengan  dapat menentukan jenis-jenis usahatani sehingga faktor kelerengan sangat perlu dipertimbangkan khususnya dalam dalam perencanaan wilayah untuk pengembangan kawasan pertanian. Teknologi pengelolaan lahan dan rakitan paket teknologi pertanian untuk selanjutnya perlu disesuaikan dengan mempertimbangkan faktor kelerengan (de Lima, 1988).

Dalam kondisi kelangkaan data, peta bentuk wilayah dalam format 3D mampu menyajikan data dasar garis kontur, ketinggian tempat dan bentuk visual permukaan bumi suatu kawasan. Data-data ini untuk selanjutnya dapat digunakan dalam penyusunan model elevasi digital (digital elevation model) dan  analisis DEM.  Untuk kepentingan perencanaan wilayah, data dan informasi yang disajikan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengembangkan sarana dan prasarana serat infrastruktur penunjang untuk pertanian seperti sistem irigasi dan drainase serta jaringan transportasi jalan.

DELINEASI WILAYAH-WILAYAH PERTANIAN

Berdasarkan sistem database sumberdaya lahan yang telah dibangun dan mempertimbangkan hasil evaluasi lahan, pewilayahan untuk kawasan pengembangan pertanian disusun ke dalam bentuk peta ketersediaan lahan untuk pengembangan pertanian (Gambar 3). Peta ketersediaan lahan menyajikan informasi spasial berupa kawasan-kawasan yang memiliki kesesuain lahan untuk pertanian di daerah Buntok. Secara umum, pengembangan pertanian di wilayah ini terdapat  kawasan-kawasan pertanian lahan kering dengan luas areal mencapai 50.928 hektare atau 76% dari total luas wilayah studi. Informasi alokasi lahan untuk pengembangan pertanian dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan wilayah khususnya untuk kawasan ekstensifikasi (perluasan areal tanam) dan perencanaan untuk kawasan pemukiman penduduk atau transmigrasi sebagai salah satu upaya untuk pemanfaatan lahan.

Hasil interpretasi menggunakan Modul Pewilayah Komoditas (MPK) dan aplikasi GIS dijadikan dasar dalam mendelineasi batas-batas homogeneous polygon berdasarkan sistem pertanian yang tertuang dalam peta pewilayahan lahan pertanian  yang menginformasikan pembagian zona-zona berdasarkan sistem pertaniannya. (Gambar 4).  Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa daerah Buntok terbagi ke dalam 3 (tiga) zona utama yaitu zona I, zona II, dan zona III.

Zona I dan II dengan sistem pertanian masing-masing untuk perkebunan dan tanaman pangan merupakan kawasan yang memiliki potensi untuk pengembangan. Zona I untuk perkebunan secara geografis terdapat di bagian sebelah utara dengan luas mencapai  19.881 hektare (30%). Sedangkan zona II tanaman pangan secara umum terdapat di selatan maupun utara dengan luas mencapai 31.047 hektare (46%).

Zona III dengan sistem pertanian untuk kehutanan merupakan kawasan yang memang diperuntukan bukan untuk pertanian.  Kawasan ini tidak dialokasikan untuk kawasan pengembangan dikarenakan memiliki faktor pembatas utama yaitu lahan gambut dengan kedalamanyang bervariasi. Jenis tanaman yang sesuai adalah vegetasi alami untuk lahan gambut.

DELINEASI WILAYAH-WILAYAH PERTANIAN

Berdasarkan sistem database sumberdaya lahan yang telah dibangun dan mempertimbangkan hasil evaluasi lahan, pewilayahan untuk kawasan pengembangan pertanian disusun ke dalam bentuk peta ketersediaan lahan untuk pengembangan pertanian (Gambar 3). Peta ketersediaan lahan menyajikan informasi spasial berupa kawasan-kawasan yang memiliki kesesuain lahan untuk pertanian di daerah Buntok. Secara umum, pengembangan pertanian di wilayah ini terdapat  kawasan-kawasan pertanian lahan kering dengan luas areal mencapai 50.928 hektare atau 76% dari total luas wilayah studi. Informasi alokasi lahan untuk pengembangan pertanian dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan wilayah khususnya untuk kawasan ekstensifikasi (perluasan areal tanam) dan perencanaan untuk kawasan pemukiman penduduk atau transmigrasi sebagai salah satu upaya untuk pemanfaatan lahan.

Hasil interpretasi menggunakan Modul Pewilayah Komoditas (MPK) dan aplikasi GIS dijadikan dasar dalam mendelineasi batas-batas homogeneous polygon berdasarkan sistem pertanian yang tertuang dalam peta pewilayahan lahan pertanian  yang menginformasikan pembagian zona-zona berdasarkan sistem pertaniannya. (Gambar 4).  Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa daerah Buntok terbagi ke dalam 3 (tiga) zona utama yaitu zona I, zona II, dan zona III.

Zona I dan II dengan sistem pertanian masing-masing untuk perkebunan dan tanaman pangan merupakan kawasan yang memiliki potensi untuk pengembangan. Zona I untuk perkebunan secara geografis terdapat di bagian sebelah utara dengan luas mencapai  19.881 hektare (30%). Sedangkan zona II tanaman pangan secara umum terdapat di selatan maupun utara dengan luas mencapai 31.047 hektare (46%).

Zona III dengan sistem pertanian untuk kehutanan merupakan kawasan yang memang diperuntukan bukan untuk pertanian.  Kawasan ini tidak dialokasikan untuk kawasan pengembangan dikarenakan memiliki faktor pembatas utama yaitu lahan gambut dengan kedalamanyang bervariasi. Jenis tanaman yang sesuai adalah vegetasi alami untuk lahan gambut.

Data dan informasi yang disajikan dalam peta pewilayahan lahan pertanian  dapat dijadikan sebagai referensi dalam perencanaan wilayah khususnya dalam hal rekomendasi pemanfaatan lahan melalui program intensifikasi pada kawasan yang sudah dikelola dan ekstensifikasi pada kawasan yang belum dikelola serta program-program rehabilitasi dan konservasi pada kawasan-kawasan yang memiliki sistem pertanian untuk kehutanan. Teknologi spesifik lokasi dan program-program khusus untuk selanjutnya perlu diformulasikan dalam mengembangkan zona-zona kawasan yang terdapat di daerah Buntok.

KESESUAIAN LAHAN BEBERAPA KOMODITAS UNGGULAN

Evaluasi lahan dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi detail mengenai kesesuaian lahan terhadap tanaman yang akan dikembangkan (FAO, 1976; Dent and Young, 1981) yang pada gilirannya untuk mendapatkan suatu sistem pengelolaan lahan  yang berkelanjutan dengan meminimalisir resiko terjadinya degradasi lahan (Latham, 1994). Lebih lanjut, berdasarkan informasi kesesuaian lahan, input dan persyaratan teknologi dalam penggunaan lahan dapat ditentukan tergantung dari factor pembatas pada masing-masing kelas kesesuaian (Bachri et al., 1992). Dalam perencanaan penggunaan lahan yang mengacu pada konsep keberlanjutan, sumberdaya lahan dievaluasi melalui proses interpretasi terhadap beberapa sifat tanah atau lahan terhadap beberapa jenis tanaman yang akan dikembangkan (Arens, 1978).

Berdasarkan peta pewilayahan lahan pertanian, evaluasi terhadap sumberdaya lahan difokuskan zona-zona yang memiliki sistem zonasi untuk pertanian atau perkebunan yaitu zona I dan II.  Terdapat beberapa tanaman dalam masing-masing zona menurut sistem pertanian yang dipilih berdasarkan komoditas unggulan untuk daerah setempat yaitu zona I:  karet dan kelapa sawit dan zona II: padi lading, jagung dan kedelai. Hasil evaluasi lahan terhadap beberapa tanaman in tersaji pada Tabel 1.

Table 1. Klasifikasi kesesuaian lahan untu tanaman karet, kelapa sawit, padi ladang, jagung  dan kedelai.

Land Maping  Unit

Plantation Crop

Food Crop

Rubber

Oil Palm

Upland Rice

Maize

Soybean

1

S3 oa

S3 oa

S3 oa

N oa

N oa

2

S3 nr

S2 oa

S3 nr

N oa

N oa

3

N oa

S3 oa

S3 nr

N oa

N oa

4

N oa

S3 oa

S3 nr

N oa

N oa

5

N oa

S3 oa

S3 nr

N oa

N oa

6

S3 nr

S3 rc

S3 nr

S3 rc

S3 rc

7

S3 rc

S3 rc

S3 rc

S3 rc

S3 rc

8

S3 oa

S3 oa

S3 rc

S3 oa

S3 oa

9

S3 nr

S3 rc

S3 rc

S3 rc

S3 rc

KeteranganKelas kesesuaian lahan: S1:Sangat sesuai;  S2: Agak sesuai; S3:Sesuai marjinal;   N: Tidak SesuaiFaktor pembatas  :  oa:ketersediaan oksigen; nr : retensi hara;  rc : kondisi perakaran

KESIMPULAN

Hasil evaluasi lahan juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa factor pembatas umum  yang mengindikasikan perlunya tindakan pengelolaan lahan yang spesifik yang perlu dipertimbangkan dala perencanaan wilayah pertanian di wilayah ini. Beberapa factor kendala tersebut meliputi: ketersediaan oksigen dan kondisi perakaran untuk pengembangan sistem pertanian untuk perkebunan (karet dan kelapa sawit). Sedangkan pada sistem pertanian tanaman pangan beberapa factor pembatasnya adalah ketersediaan oksigen, retensi hara dan kondisi perakaran.

Berdasarkan data dan informasi sumberdaya yang disusun ke dalam sistem database yang terintegrasi, delineasi batas-batas geografis berupa homogeneous polygon dapat menghasilkan peta-peta digital sebagai bagian dari sistem informasi geografis (GIS) berupa peta sebaran jenis tanah, peta bentuk wilayah, peta ketersediaan lahan wilayah, dan peta pewilayahan lahan pertanian yang dapat dijadikan sebagai rekomendasi pemanfaatan lahan sebagai dasar pertimbangan untuk perencanaan wilayah dan perencanaan penggunaan lahan.

Peta sebaran jens tanah dan peta bentuk wilayah (3D) menginformasikan bahwa daerah Buntok dan sekitarnya terbagi atas 5 ordo tanah yaitu Entisols, Histosols, Inceptisols, Spodosols, and Ultisols. Bentuk wilayah (landform) kawasan ini yang terletak pada ketinggian 15-55 meter di atas permukaan laut secara umum merupakan dataran (flat) dan dataran bergelombang (undulating plain) dengan kelas kelerengan (slope) 0-8% and 8-15%.

Berdasarkan peta ketersediaan lahan dan peta pewilayahan lahan pertanian , kawasan yang sesuai untuk pengembangan pertanian mencakup luasan 50.928 hektares atau 76% dari seluruh daerah Buntok dan sekitarnya. Terdapat 3 (tiga) zona utama dengan masing-masing sistem pertaniannya yaitu zona I dengan sistem pertanian utnuk perkebunan seluas 19.881 hektares (30%); zona II dengan sistem pertanian tanaman pangan seluas  31.047 hektares (46%); dan sisanya zone III untuk kehutanan dengan luas 15.957 hektares (24%).

Hasil evaluasi lahan menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor pembatas yang pengelolaan lahan yang tepat dan perlu dipertimbangkan dalam perencanaan penggunaan lahan untuk pertanian. Faktor-faktor pembatas  untuk sistem pertanian perkebunan terdiri dari ketersediaan oksigen, retensi hara, dan kondisi perakaran, sedangkan untuk sistem pertanian tanaman pangan yaitu oksigen, retensi hara, dan kondisi perakaran. Beberapa tanaman ini dapat direkomendasikan dalam perencanaan penggunan lahan pertanian untuk daerah Buntok dan sekitarnya guna meningkatkan stabilitas ekonomi daerah selain untuk  mendukung ketahanan pangan dengan tetap berorientasi pada kelestarian sumberdaya lahan untuk mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, T.S. 1993. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Penebar Swadaya. (274 pages).

Altieri, M.A. 1987. Agroecology, The Scientific Basis of Alternative Agriculture. Westview Press. London. (227 pages).

Arens, P. L. 1978. Edaphic Criteria in Land Evaluation. In: Land Evaluation Standards  for Rainfed Agriculture. Report of Expert Consultation. Rome, 25 – 28 October  1977. World Soil Resources Reports No. 49. FAO. Rome. pp : 24 – 31.

Arnot, R. H and Grant, K. 1981. The Application of A Method for Terrain Analysis to  Functional Land-Capability Assessment and Aesthetic Landscape Appreciation.    Landscape Planning Journal, Vol. 8. Amsterdam. pp: 269 – 300.

Arshad, A. B. M. 1999. Land Evaluation for Elaeis Guineensis Jacq. Cultivation in Peninsular Malaysia. Ph.D Thesis, University Putra Malaysia. (648 pages).

Bachri, S., Nugroho, K., and Djaenudin, D. 1992. Potential and Land Suitability for Cassava Production. Indonesian Agricultural Research & Development Journal,  Vol.14. No. 3 & 4. pp: 73 – 78.

Basit, A., Y. Yamamoto and S. Uchida. 1999. GIS and Remote Sensing Application  In Planning of  Agricultural Technology Assessment in West Java, Indonesia. Japan International Research Center for Agricultural and Science. (33 P).

Bhermana, A., J. Hamdan., A. R. Anuar and M. Peli. 2002. Determination of Agricultural Land Regions Using AEZ Approach and GIS. In: Jaafar, H., Umi Kalsom., Goh Kah Joo., Zakaria, Z. Z., Che Fauziah., Kheong, Y. F., Mispan, M. R., and Yusoff, M. (Eds). Proceeding of The Malaysian Society of Soil Science Conference. pp:36-40.

Buurman, P and J. Dai. 1989. The Soil Database and Its Role in Soil Science and Agricultural Development. Indonesian Agricultural Research and Development Journal. Vol. 11. No.4: 47 – 51.

Dent, D. and Young, A. 1981. Soil Survey and Land Evaluation. London. (278 pages).

de Lima, J.L.M.P. 1988. Morphological Factors Affecting Overland Flow On Slopes.  Proceeding of a Symposium Organized by The International Society of Soil    Science (ISSS), Wageningen, Netherlands, 22-26 August 1988  pp: 321-324.

Eswaran, H., Kimble,J., Cook,T. and Beinroth, F. H. 1992. Soil Diversity in The Tropic:  Implications for Agricultural Development .Myths an Science of Soils of The Tropics, SSSA Special Publication No.29. pp:1-16.

FAO. 1976. A Frame Work For Land Evaluation. Soils Bulletin No.32. Rome. (72pages).

FAO. 1983. Guidelines: Land Evaluation for Rainfed Agriculture. FAO Soils Bulletin 52. Rome. (237 pages).

Flaherty, M and Smit, B. 1982. An Assessment of Land Classification Techniques in            Planning for Agricultural  Land Use. Journal of Environmental Management. No.           15. pp: 323 – 332.

Hardjowigeno, S.1987. Ilmu Tanah.PT MSP.Jakarta. (220 pages).

Latham, M. 1994. Evaluation of the Soil and Land Resource. In:Syers, J. K and Rimmer, D. L. Soil Science and Sustainable Land Management in The Tropics. British   Society of Soil Science. pp: 16 – 26.

McRae, S. G and Burnham, C. P. 1981. Land Evaluation. Clarendon Press. Oxford. (239 pages).

Olson, G. W. 1984. Field Guide  to Soils and Environment. Applications of Soil Survey.  Dowden and Culver, Inc. (219 pages).

Redjekiningrum, P. 1997. Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Analisis Zona Agroekologi. Makalah Disampaikan Pada Pelatihan Apresiasi Zona Agroekologi. Bogor, 8 – 17 Januari 1996.

Puslittanak. 1993. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan. Departemen Pertanian.

Rukmana, D. dan Zubair,H. 1999. Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.  Materi Lokakarya Pelatihan Zona Agroekologi dan Pewilayahan Komoditi.  Makassar, 11 – 27 November 1999.

Selman, P. H. 1982. The Use of Ecological Evaluations by Local Planning Authorities.  Journal of Environmental Management. Vol. 15. pp: 1 – 19.

Suharta, N., B. Saefoel., S. Rizatus., A. Priyono dan G. Karmini. 1998. Pengembangan Sistem Informasi Untuk Meningkatkan Pendayagunaan Basis Data Sumberdaya Lahan. Studi Kasus Wilayah Sumatra Bagian Selatan. Prosiding Pertemuan, Pembahasan, dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bidang Pedologi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat: 87 – 96.

Tomlinson, R.F. 1968. A Geographical Information System for Regional Planning. Papers of a CSIRO Symposium Organized in Cooperation with  UNESCO 26 – 31 August 1968. Macmillan of Australia. pp: 200-210

Peta bentuk wilayah format 3D untuk daerah Buntok

Peta bentuk wilayah format 3D untuk daerah Buntok

Peta sebaran jenis tanah untuk daerah Buntok

Peta sebaran jenis tanah untuk daerah Buntok

Peta ketersediaan lahan untuk pertanian di daerah Buntok

Peta ketersediaan lahan untuk pertanian di daerah Buntok

Peta pewilayahan lahan lahan pertanian di daerah Buntok

Peta pewilayahan lahan lahan pertanian di daerah Buntok


About these ads

2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

kalo tidak salah klas slope untuk tujuan pertanian berbeda dengan tujuan kehutanan.

Komentar oleh ahmad jauhari

betul pak

Komentar oleh Jurnal Agripeat




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: