JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 1 Maret 2011 == PENINGKATAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG BAHAYA PIRIT (FeS2) = Sustiyah
11 Maret 2012, 5:57 am
Filed under: Penelitian

PENINGKATAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG BAHAYA PIRIT (FeS­­2) DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA PADA USAHA PERTANIAN PASANG SURUT DI DAERAH MENTAREN KALIMANTAN TENGAH

(Improvement of farmer’s knowledge on the dangerous of pirite (FeS­­2) and its preventive efforts on agriculture activity in tidal area in Mentaren Central Kalimantan)

 Sustiyah, Y. Sulistiyanto, Fengky F. Adji

Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Email : sustiyah_upr@yahoo.co.id

ABSTRAK

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengetahui karakteristik, kedalaman pirit, cara pengendalian, dan mengatasi pirit (FeS2), yang tujuan akhirnya dapat meningkatkan hasil pertanian pada lahan pasang surut di daerah Mentaren Kabupaten Pulang Pisau, Propinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan ini  dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2010 dengan melibatkan pula PPL, Perangkat desa dan Dinas Pertanian.  Hasil pengukuran di lapangan diperoleh bahwa kedalaman lapisan pirit dari permukaan tanah di daerah Mentaren berkisar antara 15 – 50 cm untuk lahan sawah dan di tanggul  >50 cm di Rei 8, sedangkan di Rei 7 untuk lahan sawah < 5 cm dan  10 cm untuk lahan di tanggul. Mengingat keberadaan pirit cukup dangkal (5-15 cm), maka pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul dan traktor yang dilakukan petani selama ini harus mendapat perhatian. Jika pirit teroksidasi akan mempengaruhi  pertumbuhan tanaman. Pada awalnya,  pengetahuan dasar mengenai karakteristik pirit tdak diketahui oleh petani, perangkat desa, bahkan penyuluh lapangan di daerah Mentaren, namun setelah program Iptek bagi Masyarakat (IbM) ini dilaksanakan pengetahuan mitra/masyarakat/petani meningkat. Salah satu alternative untuk mengatasi  terjadinya oksidasi pirit adalah dengan melakukan pengolahan tanah secara minimal (minimum tillage) yakni dengan menggunakan herbisida.

Kata Kunci : Pirit, Pertanian Pasang Surut.

ABSTRACT

Aim of the activity is to improve  the farmer’ s knowledge on the characteristic, depth of pyrite, and how to overcome the pyrite’s problem, and at the end, farmer could   increase the agriculture production on tidal area in Mentaren, Pulang Pisau Central Kalimantan. This activity was carried out from October to December 2010, “PPL” and other stake holders get involve in this activity too. Result of practice in the study show that depth of pyrite in Mantaren “Rei” 8 at lower part (rice filed) is from 15 to 50 cm and upper part (Tegalan) is > 50 cm. Mentaren “Rei” 7 at lower part (rice filed) is < 5 cm and upper part (Tegalan) is 10 cm. Due to pyrite is near to the surface (5-10 cm depth), so tillage using hoeand tractor should be pay attention seriously. If pyrite oxidized, the growth of plant will be stagnant. In the beginning, farmer, PPL and other stake holders did not know about pyrite, after this activity (Ibm) was carried out, the knowledge of farmer, PPL and other stake holders improved on pyrite’s knowledge.  One of several alternatives to over come the pyrite’s problem is minimum tillage that is using herbicide technique.

Keyword : pirite, agriculture activity in tidal area.


PENDAHULUAN

Pirit (FeS­­2) merupakan senyawa yang terbentuk dari proses reduksi ion-ion sulfat menjadi sulfida oleh bakteri pereduksi sulfat dalam lingkungan anerobik. Pembentukan Pirit (FeS­­2) berlangsung melalui pengembangan senyawa FeS dengan penjenuhan S elementer, atau pengendapan langsung Fe2+ terlarut setelah bereaksi dengan ion- ion polisulfida. Unsur- unsur penting pembentukan pirit adalah : besi, sulfat, bahan organic (dalam formula CH2O), bakteri pereduksi sulfat, dan kondisi reduksi yang diselingi oleh aerasi terbatas. Unsur- unsur dalam kondisi demikian secara optimum terdapat pada lahan rawa pasang surut dengan vegetasi mangrove, yang telah berkembang sejak dulu (Dent (1986), Langenhoff (1987) dalam PPT (1997).

Pada proses oksidasi pirit akan dilepaskan asam- asam sulfat yang menyebabkan pH tanah turun menjadi < 4. Secara agronomis, kondisi demikian menimbulkan beberapa masalah diantaranya: 1) keracunan aluminium, pada kondisi sangat masam (pH < 4) kelarutan aluminium meningkat drastis. Aluminium dapat meracuni tanaman pada konsentrasi 1-2 ppm (Rorison, 1973) dalam (PPT, 1997); 2) keracunan besi, peningkatan pH akibat genangan air hujan atau irigasi akan menyebabkan reduksi Fe3+ menjadi Fe2+, sehingga konsentrasi Fe2+ meningkat dan pada konsentrasi Fe2+ kira- kira 30 ppm sudah dapat meracuni tanaman secara umum termasuk padi sawah, menimbulkan ketersediaan hara tanaman rendah (Van Bremen dan Voormann, 1978) dalam (PPT, 1997); dan 3) defisiensi unsur hara,  tanah pada pH < 4 menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat karena sejumlah unsur hara tidak tersedia. Ketersediaan fosfat sangat terbatas (Dent, 1986). Bllomfield dan Coulter (1973) melaporkan bahwa telah terjadi difesiensi Ca, Mg, K, Mn, Zn, Cu, dan Mo pada berbagai tanah sulfat masam di daerah tropis.

Tanah yang mempunyai lapisan bahan sulfidik/ pirit, sering dinamakan tanah sulfat masam. Apabila lapisan pirit tersebut masih dalam suasana alami, selalu jenuh air, dan tanah masih netral atau agak masam, tanahnya dinamakan Tanah Sulfat Masam Potensial. Sebaliknya, apabila lapisan pirit telah mengalami oksidasi baik mengalami kekeringan atau didrainase, reaksi tanah menjadi sangat masam, tanahnya disebit sebagai Tanah Sulfat Masam Aktual. Adanya karatan- karatan jarosit berwarna kuning pucat di dalam penampang tanah sulfat masam aktual sering disebut cat clay.

Daerah Mentaren merupakan daerah transmigrasi dengan mata pencaharian utamanya pertanian lahan pasang surut yang hingga saat ini sudah mulai berkembang.  Daerah ini sebagaian besar lahanya terbentuk dari bahan endapan lumpur dan dalam keadaan jenuh air. Pada tanah yang mengarah dekat dengan sungai (tanggul sungai), lapisan atas`merupakan endapan lumpur yang sepenuhnya dipengaruhi oleh sungai besar, bahan-bahan pembentuk tanahnya dinamakan bahan aluvium sungai. Sedangkan pada lapisan tanah bagian bawah, pengendapan lumpur terjadi lebih dahulu (lebih tua), lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas air laut, dan umumnya mengandung pirit (bahan sulfidik), sehingga bahan pembentuk tanah disebut bahan aluvium marine. Permasalahan yang dihadapi dalam usaha tani di lahan pasang surut termasuk di daerah Mentaren , Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah adalah potensi terjadi Oksidasi pirit,  keracunan Aluminium, dan keracunan besi dan defisiensi hara pada lahan pertanian. Hal ini didukung oleh peta tanah yang dilaporkan (PPT, 1997) dan pengamatan penulis (penulis ikut dalam survey pembuatan RTSP di daerah Mentaren pada Oktober 2007 ), dapat dikatakan bahwa daerah Mentaren mempunyai potensi munculnya permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya pirit tersebut. Jika petani tidak dapat mengetahui dan mengatasi permasalahan ini maka akan mengakibatkan rawan/gagal panen.

Petani transmigran di daerah ini sebagian besar berasal dari Jawa dan Bali yang hampir 100% tidak mengetahui masalah yang dihadapi pada lahan pasang surut, terutama masalah Pirit (FeS­­2) dan cara mengatasinya untuk usaha pertanian. Hal ini dibuktikan saat pengusul melakukan survey / wawancara di daerah tersebut pada bulan Oktober tahun 2008. Seandainya ada yang mengetahui, itupun hanya teori tanpa melihat dan praktek di lapangan dan berhadapan dengan pirit.

Dengan mengetahui karakteristik pirit dan cara mencegah dan mengatasinya maka petani dapat menghindari masalah yang akan ditimbulkan oleh pirit tersebut dan rawan/gagal panen dapat diatasi.

 

PERMASALAHAN MITRA

Permasalahan yang dihadapi dalam usaha tani di lahan pasang surut termasuk di daerah Mentaren, Kabupaten Pulang Pisau, Propinsi Kalimantan Tengah:

  1. Potensi terjadi Oksidasi pirit pada lahan pertanian
  2. Keracunan Aluminium
  3. Keracunan besi dan defisiensi hara.

Dengan mengetahui karakteristik pirit dan cara mencegah dan mengatasinya maka petani dapat menghindari masalah yang akan ditimbulkan oleh pirit tersebut.

Berdasarkan pada peta tanah yang dilaporkan (PPT, 1997) dan didukung pengamatan penulis (penulis ikut dalam survey pembuatan RTSP di daerah Mentaren pada Oktober 2007), dapat dikatakan bahwa daerah Mentaren mempunyai potensi munculnya permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya pirit tersebut.

 

SOLUSI YANG DITAWARKAN

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya petani di daerah mitra, maka perlu dilakukan suatu temu wicara peserta pelatihan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dalam:

  1. Mengetahui karakteristik pirit
  2. Cara pengendalian pirit
  3. Mengatasi pirit
  4. Peningkatan hasil pertanian pada lahan pasang surut

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah (penyuluhan dan pembagian leaflet), Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya petani di daerah mitra, maka perlu dilakukan suatu temu wicara/penyuluhan peserta pelatihan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dalam : 1) Mengetahui karakteristik pirit, 2) Cara pengendalian pirit, 3) Mengatasi pirit, dan 4) Peningkatan hasil pertanian pada lahan pasang surut.

Demplot/peragaan praktek di lapangan, dan Praktek serta demplot.

Kegiatan pelatihan ini lebih difokuskan pada sasaran yang dianggap  strategis, yaitu :  ketua- ketua kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan beberapa anggota kelompok tani yang ada di daerah Mentaren dan sekitarnya, Kabupaten Pulang Pisau, Propinsi Kalimantan Tengah. Keterkaitan kegiatan ini dengan instansi lainnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Instansi dan keterlibatannya dalam kegiatan IbM

No.

Instansi

Terkait dalam

Sumbangannya

1.

Dinas Transmigrasi dan kependudukan Penyediaan Fasilitas -Penyediaan Lahan Praktek-Ruang Pertemuan

2.

Dinas Pertanian Informasi Kelompok Tani -Mengumpulkan Ketua Kelompok Tani


TARGET LUARAN

Peserta pelatihan mampu dan terampil dalam mengenali dan mengendalikan permasalahan pirit dilahan pasang surut sehingga dalam melaksanakan kegiatan usaha tani dapat meningkatkan hasil pertaniannya dan mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh serta melatih para transmigran lainnya, dengan rincian spesifik sebagai berikut:

a)      Terampil mengenal dan dapat mengatasi permasalahan pirit.

b)      Terampil melaksanakan pengelolaan lahan dan melaksanakan pengolahan tanah dengan baik dan benar sesuai dengan teknologi pertanian yang ada.

c)      Mampu melakukan budidaya tanaman dengan baik dan benar

d)   Mampu menjadi pelatih bagi transmigran lainnya, mengimbas pengetahuan dan keterampilannya kepada para transmigran sesuai materi pelajaran yang diterima.

EVALUASI KINERJA PROGRAM

a) Kerangka Pemecahan Masalah

Lahan di Daerah Mentaren, Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah merupakan tanah mineral, lapisan atas merupakan pengendapan lumpur yang sepenuhnya dipengaruhi oleh sungai besar; bahan-bahan pembentuk tanahnya dinamakan bahan aluvium sungai. Sedangkan pada lapisan tanah bagian bawah, pengendapan lumpur terjadi dahulu (lebih tua), lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas air laut, dan umumnya mengandung pirit (bahan sulfidik), sehingga bahan pembentuk tanah disebut bahan aluvium marine.

Pirit (FeS2) bila teroksidasi, terutama ketika lahan didrainase, akan terbentuk asam sulfat (H2SO4) dan pH tanah turun menjadi <4, yang akibatnya : Pada kondisi sangat masam (pH < 4), kelarutan aluminium meningkat drastis, kelarutan Fe yang meningkat sehingga dapat meracuni tanaman dan terjadi defisiensi hara.

Teknologi/cara yang dapat digunakan untuk menekan munculnyapirit adalah :

  1. Senyawa pirit hanya stabil pada kondisi reduksi sehingga diusahakan lapisan pirit selalu dalam keadaan jenuh air, dan usaha ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan muka air tanah melalui pengaturan drainase. Ataupun pengelolaan tanah yang minimal (minimal tillage) dengan tidak membalikkan tanah yang mengandung pirit, sehingga lapisan pirit menjadi tidak terangkat ke atas.
  2. Jika pengaruh pirit sudah muncul maka usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian amelioran tanah, yang dapat berupa kaptan, rock phosphat, maupun bahan organik yang dapat mengurangi pengaruh buruk peningkatan aluminium.
  3. Cara lain yang lebih dianjurkan adalah menggabungkan dua cara yang tersebut di atas.

b) Realisasi Pemecahan Masalah

Dalam melaksanakan pemecahan masalah dilakukan sesuai dengan teknologi yang tersebut di bawah ini :

Teknologi  yang Diterapkan

1.      Uji lapisan pirit di lapangan

Bor tanah digunakan untuk mengambil tanah mulai dari permukaan tanah sampai dengan kedalaman 150 cm. Tanah yang telah terambil tersebut, kemudian disusun berurutan dengan saat pengambilan, dibuat lubang pada setiap 5 cm mulai dari permukaan hingga kedalaman 150 cm. Pada lubang yang telah dibuat tersebut diberi hidrogen peroksida (H2O2). Pada tanah yang tidak mengandung pirit tidak akan berbuih, sedangkan pada tanah yang mengandung pirit akan berbuih kuat. Pada kedalaman yang tidak berbuih tersebut (misal 25 cm dari permukaan tanah), maka pada kedalaman tersebut diusahakan dalam keadaan jenuh air, sehingga pirit tidak teroksidasi.

2.      Usaha agar lapisan pirit tidak teroksidasi maka dilakukan usaha

Pengaturan muka air tanah dengan jalan mengatur drainase. Usaha ini dilakukan dengan pengaturan muka air tanah dengan jalan membuka atau menutup pintu air yang berada di lahan usaha tani sehingga lapisan pirit (contoh : 25 cm) selalu dalam keadaan jenuh air.

Pemberian amelioran tanah berupa kaptan, rock phosphat, bahan organik tanah, jika sudah terlanjur sebagian pirit teroksidasi. Pemberian amelioran dilakukan dengan cara menabur di atas lahan secara merata kemudian baru dilakukan pengolahan lahan secara tipis dilapisi olah.

Usaha pengelolaan tanah secara minimal (minimum tillage). Usaha ini dilakukan dengan jalan mengolah lahan secara minimum dan mencangkul tanah jangan sampai terlalu dalam sampai ke lapisan pirit dan dibalik ke atas akan terjadi oksidasi pirit.

c)  Hasil Kegiatan/Evaluasi Kinerja Program

Pelaksanaan Kegiatan

Untuk menjelaskan lebih detail mengenai permasalahan di lahan pasang surut, yang disebabkan oleh oksidasi pirit (FeS2), maka dilakukan pengukuran langsung di lapangan (lahan pertanian). Pelaksanaan Kegiatan penyuluhan dan demplot/ peragaan praktek di lapangan dilaksanakan di 2 (dua) tempat yaitu di Rei 8 dan Rei 7 (Kantor Balai Penyuluh Pertanian). Dari hasil pengukuran di lapangan didapatkan bahwa kedalaman lapisan pirit dari permukaan tanah sebagaimana disajikan pada tabel 2.

Dari hasil pengukuran tersebut di atas menunjukkan bahwa kondisi lahan di lokasi pertanian di daerah Mentaren relatif tidak aman untuk melakukan pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul atau traktor.  Selama kegiatan berlansung, tim pengabdian melakukan pengamatan dan memperoleh input bahwa pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani selama ini menggunakan traktor dan cangkul, serta menggunakan herbisida. Dari hasil diskusi dengan masyarakat dan hasil pengamatan di lapangan ternyata permasalahan yang timbul akibat oksidasi pirit sudah terjadi di daerah Mentaren. Mengingat keberadaan pirit cukup dangkal khususnya di lahan sawah, maka dalam pengolahan tanah tidak diperbolehkan menggunakan traktor dan cangkul tetapi pengelolaan tanah dapat dilakukan secara minimal (minimum tillage) seperti pengolahan menggunakan herbisida.

Pengaruh buruk yang dapat terjadi penurunan pH yang drastis yang berpengaruh pada lahan usaha dan pada tanaman yang diusahakan dapat diuraikan sebagai berikut :

Tabel 2.  Hasil Pengukuran dan Tempat Pengambilan Sampel di Daerah Mentaren

No.

Lokasi Pengambilan Sampel

Kedalaman Pirit (FeS2) +

1.

Rei 8; lokasi 1 di sawah

15 – 50 cm

2.

Rei 8; lokasi 2 di tanggul sawah

>50 cm

3.

Rei 8; lokasi 3 di sawah

15 – 50 cm

4.

Rei 7; lokasi 1 di sawah

< 5 cm

5.

Rei 7; lokasi 2 di tanggul sawah

10 cm

Sumber : Hasil Pengukuran In situ, 2010

  1. a.    Penurunan Kualitas Tanah

Perubahan kualitas tanah dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena drainase lahan yang menyebabkan turunnya permukaan air tanah dan mengakibatkan terjadi kontak antara tanah yang berpirit dengan udara. Oksigen dari udara ini akan menyebabkan terjadinya oksidasi pirit.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa penurunan permukaan air tanah terjadi karena pengamatan di lakukan pada musim kemarau, selanjutnya lapisan pirit sudah teroksidasi karena sudah ada yang terangkat ke permukaan tanah.

Selajutnya sebagian besar pirit sudah teroksidasi sebagai akibat dari kegiatan pengolahan tanah yang berkali-kali dilakukan tanpa mempertimbangkan kedalaman pirit, sehingga yang terjadi adalah pirit teroksidasi yang pada akhir menurunkan hasil pertanian.

  1. b.    Penurunan Kualitas Air

Perubahan kualitas air umumnya terjadi pada saluran. Hal ini terjadi karena pembuatan galian mengangkat lapisan pirit, tetapi hasil pengangkatan tersebut dibuatkan selokan diantara hasil pengangkatan tanah. Sehingga tidak mempengaruhi keadaan pH air tanah di lahan petani. Dengan berlalunya waktu, air selokan tersebut tergelontor keluar karena hujan, yang pada akhirnya akan menurunkan keasaman air pada selokan tersebut.

Keterlibatan/Peran Serta Petani/Penyuluh Dalam Kegiatan

Selama dilaksanakan kegiatan ini, baik pihak petani, maupun penyuluh lapangan mengikuti dengan aktif dan baik sampai selesainya kegiatan penyuluhan/pelatihan dan demplot/peragaan praktek di lapangan. Disamping itu, mitra juga menyediakan/memfasilitasi prasarana pendukung dalam kegiatan tersebut (seperti tempat pertemuan, lahan untuk praktek lapangan, membantu dalam menyaipkan konsumsi selama kegiatan berlangsung). Hal ini menunjukkan antusiasisme khalayak sasaran dalam mengikuti/ingin mengetahui tentang pirit dan cara pengendaliannya di lahan pasang surut daerah Mentaren, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.

 

Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan

Sebelum dan sesudah kegiatan dilaksanakan serta pada saat praktek di lahan petani, dilakukan tanya jawab. Hasil yang didapatkan adalah pengetahuan dari petani meningkat karena pada awalnya mitra tidak mengenal sama sekali apa itu pirit. Disamping itu, setelah kegiatan pengabdian ini dilakukan evaluasi baik melalui uji kemampuan secara lisan dan atau tertulis serta uji keterampilan melalui kegiatan praktek di lapangan, menunjukkan bahwa program Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) ini cukup berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan terjawabnya pertanyaan dasar mengenai sifat dan karakteristik pirit di lapangan baik secara tertulis maupun dalam kegiatan paraktek cukup lancar setelah kegiatan pelatihan/penyuluhan dan demplot/peragaan praktek di lapangan dilaksanakan. Di samping itu, tolok ukur keberhasilan dalam kegiatan ini dapat ditunjukkan dari hasil evaluasi bahwa rata-rata peserta pelatihan dapat menjawab diatas 70 persen dari pertanyaan secara keseluruhan, bahkan ada beberapa peserta  pelatihan mampu menjawab 100% dari pertanyaan yang tersedia. Dan saat ini mitra juga telah mengetahui tentang pirit serta menyadari pentinya pirit dalam pengelolaan tanaman, yang sebelumnya sama sekali belum pernah mendengar dan mengetaui tentang pirit. Keberhasilan dalam kegiatan ini juga terlihat dari aktivitas peserta dalam pelatihan, sehingga mampu dalam menjelaskan langkah-langkah kegiatan praktek di lapangan serta mampu memeragakan/ melaksanakan praktek di lapangan dengan bagus secara baik dan runut.

Indikator Kinerja

Indikator kinerja yang telah ditetapkan sejak awal yang digunakan untuk menetukan keberhasilan program ini meliputi :

1) Uji kemampuan secara lisan dan atau tertulis melalui penyebaran angket/quesioner, dengan indikator capaian tujuan dan tolok ukur yaitu dengan melihat nilai rata-rata peserta pelatihan mencapai di atas 60 persen pertanyaan dapat dijawab secara keseluruhan,

2) Uji keterampilan secara praktek di lapangan, dengan indikator capaian tujuan dan tolok ukur yaitu peserta pelatihan dapat menjelaskan langkah-langkah kegiatan praktek secara baik dan dapat melaksanakan praktek dilapangan dengan bagus.

Impact factor (keberlanjutan kegiatan atau ketepatan solusi)

Keberlanjutan kegiatan

Kegitan IbM yang telah dilaksanakan hingga saat ini masih berlanjut (mitra menyambut positif untuk keberlanjutan kegiatan tersebut, karena tes keberadaan pirit telah dilakukan di lahan masing-masing mitra dan kegiatan ini juga ditularkan ke masyarakat lain disekitarnya yang tidak terlibat).

Ketepatan Solusi

Solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya petani di daerah mitra, maka perlu dilakukan suatu temu wicara peserta pelatihan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dalam: a) Mengetahui karakteristik pirit, b) Cara pengendalian pirit, c) Mengatasi pirit, dan d) Peningkatan hasil pertanian pada lahan pasang surut. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini: a) Ceramah (penyuluhan dan pembagian leaflet), b) Peragaan dan praktek, dan c) Praktek dan demplot/peragaan di lapangan.

Dari hasil evaluasi yang telah dilaksanakan di awal dan akhir kegiatan maupun pada saat kegiatan berlangsung, bahwa solusi yang ditawarkan dan metode yang digunakan dalam kegiatan ini cukup tepat. Hal ini dapat terlihat bahwa pengetahuan, kemampuan dari mitra/masyarakat di Mentaren meningkat setelah dilakukan kegiatan IbM karena pada awalnya mitra tidak mengenal sama sekali apa itu pirit. Dan saat ini mitra juga telah mengetahui tentang pirit serta menyadari pentinya pirit dalam pengelolaan tanaman, yang sebelumnya sama sekali belum pernah mendengar dan mengetaui tentang pirit. Keberhasilan dalam kegiatan ini juga terlihat dari aktivitas peserta dalam pelatihan, sehingga mampu dalam menjelaskan langkah-langkah kegiatan praktek di lapangan serta mampu memeragakan/melaksanakan praktek di lapangan dengan bagus secara baik dan runut. Hal ini juga didukung dari hasil evaluasi kemampuan dan keterampilan mitra/masyarakat di Mentaren baik kemampuan secara lisan dan atau tertulis, maupun keterampilan secara praktek di lapangan menunjukkan hasil di atas dari indikator capaian tujuan dan tolok ukur yang telah ditetapkan sebelum kegiatan dilaksanakan, sebagaimana dijelaskan pada uraian di atas.

 

Produktivitas (Jumlah artikel/kegiatan)

Produktivitas yang diperoleh dari program/kegiatan ini adalah:

1. Mengasilkan Leaflet yang telah disebarkan kepada mitra, juga telah disebarkan ke dinas-dinas terkait seperti Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian di Kalimantan Tengah Khususnya di Kabupaten Pulang Pisau yang langsung berhadapan dengan petani.

2. Hasil tes/pengukuran keberadaan pirit di lapangan (lahan milik petani) menunjukkan bahwa kedalaman lapisan pirit di daerah Mentaren berkisar antara 15 – 50 cm untuk lahan sawah dan di tanggul  >50 cm di Rei 8, sedangkan di Rei 7 untuk lahan sawah < 5 cm, 10 cm untuk lahan di tanggul.

3. Mengingat keberadaan pirit cukup dangkal pada lapisan pirit 5-15 cm, maka pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul dan traktor yang dilakukan petani selama ini harus mendapat perhatian, karena pirit mudah teroksidasi dan berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Mengingat petani di Mentaren pada kondisi tertentu juga melakukan pengolahan tanah secara minimal (minimum tillage) yakni dengan menggunakan herbisida, maka alternative pengolahan tanah inilah yang harus diterapkan untuk mengurangi teroksidasinya pirit di lahan pertaniannya.

4. Pada awalnya pengetahuan dasar mengenai karakteristik, sifat dari pirit bagi petani, petugas penyuluh lapangan di daerah Mentaren masih kurang bahkan tidak mengetahui tentang pirit, namun setelah program IbM ini dilaksnakan pengetahuan mitra atau  masyarakat atau petani meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Buurman, P., and Balsem, T. 1990. Land Unit Classification for the Reconnaissance Soil Survey of Sumatera. Tech. Rep. No. 3. LREP. Center for Soil and Agroclimate Research. Bogor.

Dent, D. 1986. Acid sulphate soils: a basaline for research and development. Wageningen, The Netherlands.

PPT, 1997. Laporan Survey dan pemetaan tanah tinjau mendalam Daerah kerja A Proyek Pengembangan Lahan Gambut sejuta hektar. Bogor.

Haryono dan Vadari, T. 2007. Peningkatan kualitas lahan sulfat masam terlantar melalui optimasi teknik pengelolaan tanah dan air. dalam: Proseding HITI IX. Yogyakarta. 319 – 326.

Salampak, Sulistiyanto, Y., Basuki, Ichriani, G. I., Setiawati, M., 2005. Lahan Gambut dan Pasang Surut. 97 hal. Fakultas Pertanian. Palangka Raya.

Subgyono K, H. Suwardjo, IPG. Widjaja-Adi, 1993. Reklamasi Tanah Sulfat Masam dengan Pengelolaan Air.

—————–, 1988. pola tanam di lahan pasang surut. Proyek Informasi Pertanian Kalimantan Tengah.

Supriyo, A., Hikmat, M. Dan Hatmoko, D. 2007. Identifikasi potensi sumber daya lahan dan arahan pertanian di lahan pasang surut (studi kasus: Desa Kumpai Batu Bawah, Kabupaten Kota Waringin Barat) dalam: Proseding HITI IX. Yogyakarta. 178 – 193.

Sutedjo, M.M dan Kartasapoetra A.G, 1988. Budidaya Tanaman Padi di Lahan Pasang Surut. Bina Aksara. Jakarta.

———-, 1983. Tidal Swamp Agro Ecosystem of Southern Kalimantan. Banjarmasin.

Widjaja-Adhi, IPG. 1988. Physical and chemical characteristics of peat soil of Indonesia IARD Journal. Vol 10 No:3: 59 – 64p.


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

I’m impressed, I must say. Seldom do I come across a blog that’s both educative and amusing, and let me tell you, you have hit the
nail on the head. The issue is something that too few
people are speaking intelligently about. Now
i’m very happy I found this during my search for something relating to this.

Komentar oleh Lawn Mower Blade Sharpener

Thank you very much for your commend. Hopefully our journal in future become give many benefits to people…
Warm regard:)

Agripeat Journal

Komentar oleh Jurnal Agripeat

Thank you very much for your imppress. our pleasure to give educative information to people:)

warm regard,
Jurnal Agripeat

Komentar oleh Jurnal Agripeat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: