JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Volume 12 Nomor 1 Maret 2011 == PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR == NUR HAFIZAH
11 Maret 2012, 7:28 am
Filed under: Penelitian
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABE MERAH PADA LAHAN RAWA LEBAK
(Effect of Organic Liquid Fertilizer and Phosphor on Growth and Yield of Chillion The Swamp Land).

 Nur Hafizah

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai

Kontak Person : fifi_bjm@yahoo.co.id

 ABSTRACT

The purpose of the research was to know the effect of the appliance of organic liquid fertilizer and phosphor on the growth and yield of chilli (Capsicum annum L.) plant in swamp land. This research was conducted in Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara from March until July 2010, using Randomized Block Design with two factors. The first factor was the dosage of organic liquid fertilizer which was, 0; 1,5; 3,0; 4,5; and 6 cc L-1. The second factor was level of phospor fertilizer with three levels ; 0; 150, and 300 kg ha-1 TSP. The result of this research showed that the independently dosage treatment of organic liquid and phospor fertilizer highly significant affected at the all variable, that was the height of plant, the first of flowering time,  percent of flowers to be fruits, and the number of fruits per plant with the best treatment were 3 cc L-1 and  phosphor 300 kg ha-1 TSP.

Key words : Chilli, phosphor, organic liquid fertilizer.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  pengaruh pemberian pupuk organik cair dan fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah (Capsicum annum L.) pada lahan rawa lebak. Percobaan  dilaksanakan di Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten  Hulu Sungai Utara dari bulan Maret sampai Juli 2010, menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor.  Faktor pertama adalah dosis pupuk organik cair, yaitu  0, 1, 5, 3, 4 ,5, dan 6 cc L-1.  Faktor kedua adalah pupuk fosfor  yang terdiri atas  3 taraf,  yaitu 0, 150, dan 300 kg ha-1TSP.  Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian  pupuk organik cair dan fosfor  secara mandiri berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diamati,  yaitu tinggi tanaman, umur berbunga pertama, persentase bunga menjadi buah, dan jumlah buah per tanaman. Perlakuan terbaik diperoleh pada  pemberian pupuk organik cair dengan dosis  3 cc L-1  dan pemberian fosfor dengan dosis 300 kg ha-1 TSP.

Kata kunci: cabe merah, fosfor, pupuk organik cair.

PENDAHULUAN

Cabe merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang cukup penting ditinjau dari segi ekonomi dan kandungan gizinya. Cabe tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga seperti bumbu dapur tetapi juga digunakan dalam industri pengolahan makanan seperti saos cabe, bumbu mie instant dan industri pengolahan obat-obatan karena mengandung senyawa capsaicin, capsikidin dan capsikol. Pemanfaatan cabe sebagai produk olahan dan bahan baku industri menjadikan cabe sebagai komoditas yang bernilai ekonomi tinggi (Bernardinus dan Wiryanta, 2002).

Produksi cabe besar di Kabupaten Hulu Sungai Utara menunjukkan penurunan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi cabe yang terus menurun dari tahun 2007 sampai tahun 2009. Produksi cabe besar pada tahun 2007 mencapai 193 ton, kemudian mengalami penurunan produksi pada tahun 2008 sebesar 148 ton dan pada tahun 2009 sebesar 117,80 ton  (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2009).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2009), jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk pada tahun 2006 sebanyak 102.102 jiwa kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2007 mencapai 216.181 jiwa dan pada tahun 2008 sebanyak 218.191 ji wa.  Dari kedua data tersebut dapat dikatakan bahwa peluang bisnis cabe merah  masih sangat menjanjikan karena dengan pertambahan jumlah penduduk maka kebutuhannya juga meningkat. Selama ini, petani cabe menggunakan varietas unggul yang memerlukan unsur hara dalam jumlah banyak. Jika varietas unggul digunakan secara terus menerus, tanah akan semakin miskin unsur hara. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan penambahan unsur hara secara tepat, yakni melalui pemupukan (Novizan, 2002).

Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi cabe merah, karena  mengandung unsur hara makro dan mikro tinggi sebagai hasil senyawa organik bahan alami tumbuhan yang mengandung sel-sel hidup aktif dan  aman terhadap lingkungan serta pemakai (Desatiga, 2009).  Selain dengan pemberian pupuk organik cair, penambahan pupuk fosfor sangat penting bagi tanaman, terutama pada masa generatif tanaman.  Fosfor  diperlukan untuk pembentukan buah dan biji, mempercepat matangnya buah, dan menetralisir pengaruh negatif nitrogen.  Bagi tanaman cabe merah fosfor diperlukan  untuk menjamin agar tanaman mampu berproduksi dengan optimal.

Lahan rawa di Kecamatan Amuntai Tengah memiliki potensi untuk pengembangan budidaya tanaman cabe merah.   Namun demikian, lahan ini memiliki kendala untuk budidaya tanaman cabe merah, yaitu  sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang kurang baik. Keasaman jenis-jenis tanah sulfat masam umumnya tinggi dengan pH kurang dari 5.  Hal ini dapat menyebabkan tanah kurang unsur hara sehingga  menyebabkan pertumbuhan tanaman cabe merah menjadi terhambat.  Oleh karena itu,  untuk mengatasi masalah tersebut antara lain dapat dilakukan dengan pemberian pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil  tanaman cabe merah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair dan fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah (Capsicum annum L.) pada lahan rawa lebak.  Manfaat hasil penelitian diharapkan dapat sebagai  sumber informasi dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah pada lahan rawa lebak.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2010 bertempat di Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara, menggunakan  Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah  pupuk organik cair  (T) sebanyak 5 taraf, yaitu   T0 = 0 cc L-1 ; T1 = 1,5 cc L-1 ; T2 = 3 cc L-1  ; T3 = 4,5 cc L-1  ; dan T4 = 6 cc L-1.  Faktor kedua adalah pemberian fosfor terdiri atas 3 taraf, yaitu  Po  = 0 kg ha-1 TSP, P1  = 150 kg ha-1TSP ,  dan P2  = 300 kg ha-1  TSP dengan .  Lima belas kombinasi perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 45 satuan percobaan.

Sebelum penelitian dimulai, dilakukan persiapan yang meliputi pemilihan lahan, pengukuran lahan, pengadaan benih cabe merah varietas Mandala, pupuk organik cair hormon tanaman unggul multiguna exclusive, TSP, pupuk kotoran sapi.

Pengolahan tanah dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari rumput-rumput liar, kemudian dilakukan pencangkulan agar diperoleh struktur tanah yang halus dan dibiarkan selama lebih kurang dua minggu. Setelah itu dilakukan pembuatan petakan yang menghadap ke arah utara selatan dengan ukuran 200 cm x 250 cm, jarak antar petakan 50 cm, jarak antar kelompok 75 cm dan banyaknya jumlah petakan di lapangan adalah 45 petakan.

Pupuk yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini, yaitu pupuk dasar dan pupuk organik cair. Pupuk dasar menggunakan pupuk  kotoran sapi, sebanyak 12,5 kg per satuan percobaan sehingga total jumlah pupuk dasar yang dipakai pada semua petakan adalah 250 kg.

Pemupukan dengan pupuk organik cair  dilakukan dengan cara disemprotkan ke bagian batang dan daun tanaman sebanyak  tiga kali sesuai perlakuan dengan interval 10 hari sekali, yaitu pada umur 10 hst, 20 hst, dan 30 hst. Aplikasi pupuk organik cair  dilakukan dengan melarutkan pupuk sesuai konsentrasi perlakuan dalam satu liter air. Sedangkan pupuk P yang bersumber dari TSP diberikan sesuai perlakukan pada saat tanam.

Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, saat berbunga pertama, persentase bunga menjadi buah , dan  jumlah  buah per  tanaman.

Data dianalisa dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada α = 0,05 dan  α = 0,01 dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur pada taraf α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tinggi Tanaman

Efek interaksi  antara dosis pupuk organik cair  dengan pupuk fosfor, tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabe merah.  Namun, pengaruh mandiri  pupuk organik cair dan pupuk fosfor berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (tinggi tanaman, saat berbunga pertama, persentase bunga menjadi buah )  dan hasil tanaman cabe merah (jumlah  buah per tanaman).

Pemberian pupuk organik cair mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah, karena dapat  menyediakan unsur hara makro seperti, N, P, dan K  serta diduga bereaksi lebih cepat karena pupuk organik  diaplikasikan ke daun  sehingga dapat diserap oleh tanaman dalam waktu yang relatif cepat.  Agromedia (2007) dan Liliek (1990), menyatakan tanaman menyerap unsur N dan digunakan  untuk menunjang pertumbuhan vegetatif baik batang, cabang maupun daun. Nitrogen berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim dan persenyawaan lain. Senyawa-senyawa inilah yang akan memacu proses pembelahan sel-sel baru dan pembesaran sel-sel jaringan meristem sehingga terjadi peningkatan pertumbuhan  tanaman.  Secara keseluruhan pada Tabel 1 terlihat bahwa tinggi tanaman yang tertinggi pada umur 10, 20, dan 30 hst diperoleh pada pemberian pupuk organik cair  3 cc L-1 .  Peningkatan dosis pupuk organik cair selanjutnya tidak diikuti dengan peningkatan tinggi tanaman.  Hal ini diduga karena pemberian pupuk dengan  dosis 4,5 cc L-1 dan 6 cc L-1  merupakan dosis maksimum bagi pertumbuhan tanaman cabe merah, sebab pemberian hara  yang terlalu banyak dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan tanaman.  Kelebihan unsur N menyebabkan  tanaman cenderung mensintesis senyawa-senyawa N organik seperti amida, amina, asam-asam amino, protein yang membutuhkan banyak atom C untuk membentuk rantai kerangka karbon, sehingga pembentukan jaringan penguat (selulosa, lignin) terganggu dan kandungan karbohidrat tanaman menjadi rendah (Wijaya, 2008).

Ketersediaan Unsur P yang bersumber dari TSP juga sangat berperan terhadap pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk TSP  dapat menambah ketersediaan P dalam tanah rawa lebak dan sangat bermanfaat dalam meningkatkan tinggi tanaman.  Menurut Sutedjo (1995), fungsi fosfor untuk pertumbuhan tanaman secara langsung merupakan  bahan protoplasma dan inti sel,  berperan dalam transfer energi serta  proses pembelahan jaringan meristem. Selain itu,  fosfor berperan  membantu pertumbuhan perakaran tanaman muda sehingga memperluas sistem perakaran tanaman dan oleh karenanya dapat meningkatkan proses penyerapan unsur hara makro dan mikro.

Saat berbunga pertama, persentase buah menjadi buah, dan jumlah buah per tanaman

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa efek interaksi  antara  pupuk organik cair  dengan pupuk fosfor tidak berpengaruh nyata terhadap saat berbunga pertama, persentase bunga  menjadi buah, dan jumlah buah per tanaman. Sebaliknya perlakuan faktor  tunggal  pupuk organik cair dan pupuk posfor berpengaruh nyata.

Pemberian pupuk organik cair dapat memenuhi kebutuhan tanaman cabe merah untuk pembentukan bunga karena mengandung unsur P yang berperan dalam pembentukan protein dan mineral, mempercepat pembungaan serta pembuahan (Agromedia, 2007). Selain itu, pupuk organik cair juga mengandung zat pengatur tumbuh seperti auksin, gibberelin dan sitokinin yang merupakan senyawa organik tanaman yang bekerja aktif, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mempengaruhi proses fisiologi tanaman terutama dalam pembentukan bunga (Yoxx, 2008). Pada pemberian dosis pupuk cair 1 cc L-, dan tanpa pemberian fosfor  menunjukkan waktu saat berbunga pertama lebih lama dikarenakan kurangnya unsur hara P yang diperlukan dalam pembentukan bunga (Tabel 2).  Unsur P merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman khususnya dalam pembungaan (Agromedia, 2007).

Tabel 1.    Pengaruh pemberian pupuk organik cair dan fosfor terhadap tinggi tanaman cabe merah pada umur 10, 20 dan 30 hst.

Perlakuan

Tinggi tanaman (cm) pada hari ke

10

20

30

T0

22,63 a

26,50 a

31,25 a

T1

26,25 bc

36,50 c

48,13 c

T2

26,38 c

37,88 c

49,63 c

T3

24,38 a

31,50 b

39,88 b

T4

24,75 a

31,63 b

41,13 b

BNJ 5 %

3,60

4,16

5,14

P0

23,45 a

27,56 a

33,12 a

P1

24,64 b

35,62 b

41,26 b

P2

25,48 b

36,89 b

43,37 b

BNJ 5 %

1,18

3,74

6,52

Keterangan :    Nilai rerata  yang diikuti  huruf  berbeda pada  kolom yang  sama menunjukan  perbedaan yang nyata pada uji  BNJ pada  taraf  α = 0,05.

Tabel 2. Pengaruh pemberian pupuk organik cair dan fosfor terhadap  saat berbunga pertama  (X1), persentase bunga  menjadi buah  (X2), dan  jumlah  buah per tanaman (X3)

Perlakuan

Parameter

X1

X2

X3

T0

42,00 c

64,25 b

9,25 a

T1

40,25 b

75,00 c

19,25 bc

T2

37,88 a

80,88 d

24,00 c

T3

40,13 b

66,00 b

16,00 a

T4

40,50 b

50,13 a

11,50 a

BNJ 5 %

1,23

4,36

8,21

P0

40,62 a

78,12 a

16,25 a

P1

39,47 ab

79,08 ab

18,25 b

P2

37,14 b

80,36 b

22,50 c

BNJ 5 %

2,21

2,19

3,87

Keterangan :    Nilai rerata  yang diikuti  huruf  berbeda pada  kolom yang  sama menunjukan  perbedaan yang nyata pada uji  BNJ pada  taraf  α = 0,05.

Pemberian pupuk organik cair dengan dosis 3 cc L-1 merupakan dosis terbaik. Hal ini menunjukan bahwa unsur hara yang terkandung di dalam pupuk organik cair  pada dosis tersebut dapat memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan tanaman cabe merah dan juga dapat diserap serta dimanfaatkan dengan baik oleh tanaman. Unsur P yang terkandung di dalam pupuk organik cair  berperan dalam pembentukan bunga dan buah, sedangkan unsur K  berperan dalam pembentukan karbohidrat dan gula yang berfungsi untuk membuat kualitas bunga dan buah yang dihasilkan akan lebih baik (Agromedia,2007). Fungsi Posfor dalam jumlah yang cukup pada fase generatif adalah membantu proses pembentukan bunga, buah dan biji (Hardjowigeno, 1992 dan Sutedjo, 1995).

Pemberian pupuk organik cair dan fosfor berpengaruh terhadap jumlah buah per tanaman. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk organik cair dan fosfor dapat memenuhi kebutuhan tanaman terutama untuk kepentingan pembentukan buah (Agromedia, 2007). Pada Tabel 2 terlihat bahwa jumlah buah per tanaman terbanyak diperoleh pada dosis pupuk organik cair 3 cc L-1 dan  dosis fosfor 300 kg ha-1. Pembentukan buah memerlukan unsur hara makro, yaitu unsur P dan unsur K dalam jumlah yang optimum yang digunakan untuk membantu pembentukan protein, mineral, karbohidrat dan gula serta membantu  pengangkutan gula dari daun ke buah. Jumlah buah per tanaman menunjukan penurunan  pada pemberian dosis 4,5 cc L-1 dan 6 cc L-1, hal ini terjadi karena pemberian pupuk yang berlebih sehingga berakibat negatif bagi tanaman seperti menurunnya hasil dan kualitas tanaman (Agromedia, 2007). Apabila tanaman kekurangan unsur fosfor maka hasil tanaman yang berupa  bunga, buah serta biji menjadi merosot.  Menurut Gardner dkk, (1991) menyatakan bahwa semakin banyak transfer cadangan makanan (yang terbentuk dari serapan nutrisi) ke buah dan biji akan semakin menambah ukuran dan kualitasnya. Rosmarkam dan Yuwono, (2002) menyatakan bahwa fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan karena berhubungan dengan senyawa energi sel (ATP) yang dibentuk  pertama kali pada saat  fosforilasi dan proses fotosintesis di daun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Efek Interaksi antara  pupuk organik cair dan posfor tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, saat berbunga pertama, persentase bunga menjadi buah dan jumlah buah per tanaman cabe merah.

2. Pemberian pupuk organik cair  dengan dosis 3 cc L-1 dan fosfor dengan dosis 300 kg ha-1 memberikan pengaruh yang terbaik terhadap tinggi tanaman, saat berbunga pertama, persentase bunga menjadi buah dan jumlah buah per tanaman cabe merah.

 

Saran

Agar diperoleh hasil dan kualitas cabe merah yang baik, disarankan menggunakan pupuk organik cair dengan dosis 3 cc L-1 atau fosfor dengan dosis 300 kg ha-1. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pupuk fosfor dengan dosis lebih besar dari  dari 300 kg ha-1TSP untuk mendapatkan dosis optimum.

 DAFTAR PUSTAKA

Agromedia. 2007.  Petunjuk Pemupukan. Agromedia  Pustaka.  Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2009. Data Pokok dan Album Peta Kabupaten Hulu Sungai Utara. Amuntai.

Bernardinus, T dan Wiryanta, W. 2002.  Bertanam Cabai pada Musim Penghujan. Agromedia. Jakarta.

Desatiga. 2009. Panen Raya Cabe Besar Setinggi 2 Meter di Bangli. Nusa Tenggara Barat. http://wordpress.go.id. Diakses tanggal 10 September 2009.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura. 2009. Data Produksi Tanaman Holtikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara. Amuntai.

Gardner, F.P., R.H. Pearce dan R.L. Michell, 1991.  Fisiologi Tanaman Budidaya. U.I. Press.  Jakarta.

Hardjowigeno, S., 1992.  Ilmu Tanah.  Mediyatama Sarana Perkasa.  Jakarta.

Liliek, A., 1990.  Nutrisi  Tanaman.  Rineka Cipta.  Jakarta.

Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono, 2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius. Yogyakarta.

Sutedjo, M.M., 1995.  Pupuk dan Cara Pemupukan.  Rineka Cipta.  Jakarta.

Wijaya, K. A. 2008. Nutrisi Tanaman Sebagai Penentu Kualitas Hasil dan Resistensi Alami Tanaman. Prestasi Pustaka. Jakarta.

Yoxx. 2008. Sedikit Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Jakarta. hhtp: //yoxx.blogspot.com. Diakses tanggal 30 Juli 2010.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: