JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


Pertumbuhan Tanaman Jagung ==== Gusti Irya dkk
18 Juni 2011, 3:26 pm
Filed under: Penelitian

PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG PADA PEMBERIAN KOMPOS

TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN KOMBINASI DOSIS PUPUK NPK

(The growth of maize applied by palm oil empty bunch compost combined with NPK fertilizers)

Gusti Irya Ichriani, Yustinus Sulistiyanto, Siti Zubaidah, Panji Surawijaya, Ruben S. Tinting

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Email : ichriani@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian bertujuan membandingkan pertumbuhan tanaman jagung setelah pemberian  kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kombinasi dosis pupuk NPK yang berbeda.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap  Faktorial. Faktor pertama : kompos TKKS 4 taraf dosis perlakuan (0, 5, 10, 15 ton.ha-1) dan faktor kedua : pupuk NPK  3 taraf dosis perlakuan yaitu  (tanpa pupuk NPK;  Pupuk N 100kg.ha-1 + pupuk P 50kg.ha-1 + pupuk K 25kg.ha-1;  Pupuk N 200kg.ha-1 + pupuk P 100kg.ha-1 + pupuk K 50kg.ha-1), terdapat 12 kombinasi perlakuan dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung pada umur 3-5 mst. Dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk N-100;P-50;K-25 mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain.

Kata Kunci : Kompos tandan kosong kelapa sawit, kombinasi pupuk NPK, tanaman jagung

ABSTRACT

The study was aimed to compare the growth of maize after applied by palm oil empty bunch (POEB) compost and combination doses of NPK fertilizers. This study used completely randomized factorial design. The first factor: Doses of  POEB compost were 4 levels (0, 5, 10, 15 ton.ha-1) and the second factor: the combination doses of NPK fertilizers were 3 levels (without NPK fertilizers; 100kg.ha-1 of N fertilizer + 50kg.ha-1 of P fertilizer + 25kg.ha-1 of K fertilizer; 200kg.ha-1 of N fertilizer + 100kg.ha-1 of P fertilizer + 50kg.ha-1 of K fertilizer), obtained 12 treatments combined and each combinated of treatment repeated 4 times. The results showed that an interaction between doses of POEBcompost and combination doses of NPK fertilizers gave a significant effect on the vegetative growth of maize in 3-5 weeks after planting. The doses of POEB compost 5 ton.ha-1 and the combination fertilizers of  N-100, P-50, K-25 have a significantly different effect compared with other combinations of treatments.

combinations of treatments.

Key words :Palm oil compost, combination of NPK fertilizers, maize

 


PENDAHULUAN

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan perkebunan maupun industri kelapa sawit. Keadaan agroklimat yang mendukung, masih adanya ketersediaan lahan, letak geografis yang strategis dan ketersediaan tenaga kerja yang cukup banyak menjadi modal utama dalam pengembangan industri kelapa sawit. Akan tetapi, dari produktivitas kelapa sawit di Indonesia masih sedikit di bawah Malaysia yaitu 3,04 ton TBS/ha sedangkan Malaysia 3,83 ton TBS/ha. Berdasarkan data pada tahun 2007 usaha perkebunan di Kalimantan Tengah didominasi oleh perkebunan kelapa sawit yang diusahakan oleh sektor swasta maupun perkebunan rakyat yaitu 610.588,65 ha (Pemerintah Daerah Kalteng, 2007).

Keberadaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit merupakan sumber limbah padat dan cair yang besar yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu limbah padat yang dihasilkan adalah tandan sawit kosong (TKKS) yang jumlahnya sekitar 22 -23% atau 220 -230 kg dari jumlah tandan buah segar (TBS) yang diolah. Potensi limbah padat TKKS di Indonesia pada tahun 2004 mencapai 18.2 juta ton (Politeknik Citra Widya Edukasi, 2008). Tandan kosong kelapa sawit merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara utama yang diperlukan tanaman. Dalam setiap ton TKKS mengandung unsur hara N, P, dan Mg setara dengan 3 kg Urea, 0,6 kg CIRP, 12 kg MOP dan 2 kg Kiserit (Loong et.al., 1987 dalam Darnoko dan Sembiring, 2005). Beberapa penelitian penggunaan TKKS dalam bentuk kompos pada tanaman hortikultura memberikan hasil yang cukup baik (Darmosarkoro et.al., 2000 dalam Darnoko dan Sembiring 2005). Selain tanaman hortikultura, TKKS sebagai sumber hara dapat digunakan pada tanaman pangan seperti jagung sehingga sangat berpotensi untuk mengurangi kebutuhan terhadap pupuk anorganik.

Produksi jagung di Kalimantan Tengah terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan jagung. Pada tahun 2005 produksi jagung mencapai 2.400 ton dengan luas areal tanam 1.447 ha, meningkat menjadi 7.367 ton di tahun 2006 dengan luas tanam 2.569 ha (Badan Pusat Statistik, 2006). Kecenderungan untuk peningkatan produksi jagung ini memerlukan input produksi yang lebih banyak termasuk keperluan pupuk. Kesulitan memperoleh pupuk anorganik dan harga yang mahal menjadi momentum untuk mengupayakan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dengan menggunakan bahan organik. Keberadaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Kalimantan Tengah ini diharapkan dapat bersinergi dengan pertanian tanaman pangan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemanfaatan limbah padat TKKS sebagai bahan organik untuk penambah unsur hara tanah sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung.

Penelitian ini bertujuan membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman indikator yaitu tanaman jagung setelah pemberian dosis kompos TKKS dan kombinasi dosis pupuk NPK yang berbeda.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan selama 10 (sepuluh) bulan di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian UNPAR dan Laboratorium Analitik UNPAR. Tandan kosong kelapa sawit diperoleh dari Perkebunan Besar Swasta PT BISMA DHARMA KENCANA di Katingan dan tanah  untuk media tanam yang berupa tanah mineral (podsolik merah kening = PMK) juga diambil di wilayah sekitar PBS PT BISMA DHARMA KENCANA.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  TKKS, tanah PMK, bioaktivator Tricoderma, kompos TKKS, pupuk N dari pupuk Urea, pupuk P dari pupuk SP-36 dan pupuk K dari pupuk KCl, bahan pembuat kompos (dedak, sekam padi, gula pasir, air), benih jagung, polibag 10 kg, plastik klep, plastik sampling, terpal plastik,  karung plastik dan kertas label. Alat yang digunakan terdiri dari neraca analitik, timbangan 10 kg dan 20 kg, meteran, termometer alkohol, sprayer, oven, pH meter, pengocok tanah, ayakan > 2mm, gunting, alat pengaduk dan jangka sorong, alat pencacah TKKS (parang) dan  alat-alat tulis.

Penelitian ini merupakan penelitian percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis kompos TKKS dengan 4 taraf perlakuan dan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK dengan 3 taraf perlakuan. Perlakuan kombinasi yang diperoleh sebanyak 12 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi diulang 4 kali. Total satuan percobaan adalah 12 x 4 =  48 satuan percobaan.

Faktor yang diujikan terdiri atas  :(1) kompos TKKS (K) 4 taraf dosis perlakuan yaitu 0 ton.ha-1 (K0), 5 ton.ha-1 (K5), 10 ton.ha-1 (K10), dan  15 ton .ha-1 dan (2)  pupuk NPK (P) 3 taraf  dosis perlakuan yaitu : Tanpa pupuk  (P1);  pupuk N 100 kg.ha-1 + pupuk P 50 kg.ha-1 + pupuk K 25 kg.ha-1 (P2); dan pupuk  N 200 kg.ha-1 + pupuk P 100 kg.ha-1 + pupuk K 50 kg.ha-1 (P3).

 

Tabel 1. Hasil analisis tanah yang digunakan sebagai media tanam

No

Parameter Analisis

Hasil Analisis

No

Parameter Analisis

Hasil Analisis

1

pH H2O 1 :2,5

4,51

6

Mg-dd (me.100g-1)

0,18

2

N-total (%)

0,16

7

Kejenuhan Basa (%)

3,19

3

P-tersedia (ppm)

15,99

8

KTK (me.100g-1)

22,32

4

K-dd (me.100g-1)

0,04

9

Al-dd (me.100g-1)

0,39

5

Ca-dd (me.100g-1)

0,46

10

H-dd (me.100g-1)

0,20

Sumber : Hasil analisis tanah di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik, UNPAR


Pelaksanaan

Tanah mineral yang sudah ditimbang dan dicampur dengan masing-masing perlakuan, diinkubasi 1 minggu dengan tetap mempertahankan kadar airnya. Sebelumnya tanah sudah dianalisis pendahuluan (Tabel 1). Polibag disusun dengan jarak tanam 40 x 70 cm. Setelah masa inkubasi, benih jagung ditanam pada kedalaman 2 cm sebanyak 2 biji per polibag.

Untuk parameter penelitian pertumbuhan tanaman jagung pada perlakuan pemberian kompos TKKS dan pupuk NPK meliputi  tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), dan diameter batang (cm), ketiga parameter ini diukur  pada umur 3,4,5, 6 dan 7 mst, berat basah tajuk (gram),berat basah akar (gram), berat kering tajuk (gram), berat kering akar (gram), pengamatan 4 parameter ini dilakukan setelah dilakukan panen pada 12 mst.

Data hasil pengamatan diolah dengan menggunakan Uji F dengan taraf  a 5% untuk melihat pengaruh faktor-faktor atau interaksi dari kombinasinya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Apabila terdapat pengaruh nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT taraf a 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan antara dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh interaksi yang nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang pada 3-5 mst serta pada jumlah daun pada 3 mst. Faktor tunggal masing-masing yaitu dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada semua periode pengamatan.

Tabel 2, 3 dan 4 menunjukkan nilai rata-rata dan hasil uji DMRT terhadap tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun akibat pengaruh perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK yang diberikan.  Berdasarkan data rata-rata hasil pengamatan dan hasil uji DMRT terhadap tinggi tanaman (Tabel 2) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan K5P1 (dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk  N-100;P-50;K-25) memberikan pengaruh yang berbeda nyata di 3 mst. Pada 4-5 mst antara K0P2, K5P1, dan K15Pmemberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan lainnya. Namun di antara ketiga kombinasi perlakuan tersebut, interaksi perlakuan  K5P1 menunjukkan pengaruh yang paling positif terhadap tinggi tanaman jagung.

Pada Tabel 3. memperlihatkan diameter tanaman jagung yang menunjukkan pola hasil analisis yang hampir sama dengan parameter tinggi tanaman. Pada 3 mst,  interaksi perlakuan K5P1 memiliki pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain, sedangkan pada 4 mst interaksi perlakuan K5P1, K10P0, K10P1, dan K15P2 memberikan pengaruh yang sama, hal yang juga terjadi pada K5P1 dan  K10P0  di 5 mst. Namun kombinasi perlakuan K5P1 menunjukkan pertumbuhan diameter batang yang paling besar dibandingkan kombinasi perlakuan lain yang juga mempunyai pengaruh yang sama.

Analisis DMRT terhadap jumlah daun tanaman jagung pada 3 mst menghasilkan interaksi perlakuan K5P1 memberikan pengaruh berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya (Tabel 4).  Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun akibat adanya interaksi kombinasi perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK. Terjadinya interaksi ini mengindikasikan bahwa tanah yang digunakan pada penelitian memerlukan kedua perlakuan tersebut supaya dapat digunakan sebagai media pertanaman. Berdasarkan hasil analisis tanah, tanah yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah.

Tabel 2.  Rerata tinggi (cm) tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata tinggi (cm) tanaman pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

30,13

39,70a

51,73a

64,63a

74,68

86,95

K0P1

40,53

53,98ab

70,35ab

88,90abc

102,30

120,23

K0P2

36,95

55,25ab

75,20b

95,78c

107,53

122,78

K5P0

31,80

45,30ab

57,73a

72,78abc

81,85

95,43

K5P1

35,55

61,20b

80,48b

97,05c

107,15

118,58

K5P2

31,05

41,20a

55,13a

66,88ab

75,83

86,88

K10P0

33,38

49,15ab

69,30ab

85,13abc

95,85

108,68

K10P1

30,40

44,68ab

63,53ab

77,73abc

85,53

97,38

K10P2

31,93

45,33ab

62,53ab

76,75abc

85,60

98,23

K15P0

29,45

41,95a

59,85ab

76,05abc

91,78

105,75

K15P1

32,13

42,78a

57,88a

73,03abc

82,93

98,13

K15P2

37,00

54,98ab

75,43b

94,78bc

109,03

126,15

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom berbeda menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

Tabel 3.  Rerata diameter batang tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata diameter (cm) batang pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

0,443

0,483a

0,575a

0,768a

0,910

1,033

K0P1

0,490

0,580a

0,783ab

1,013ab

1,125

1,208

K0P2

0,463

0,565a

0,800ab

1,118ab

1,180

1,223

K5P0

0,443

0,520a

0,663ab

0,865ab

0,895

0,963

K5P1

0,580

0,798b

1,110b

1,273b

1,330

1,380

K5P2

0,428

0,515a

0,635ab

0,758a

0,808

1,110

K10P0

0,503

0,673ab

0,990b

1,233b

1,280

1,310

K10P1

0,443

0,580a

0,910b

0,983ab

1,078

1,195

K10P2

0,445

0,568a

0,768ab

0,970ab

1,065

1,168

K15P0

0,420

0,505a

0,708ab

0,920ab

1,078

1,368

K15P1

0,468

0,568a

0,703ab

0,920ab

1,063

1,200

K15P2

0,548

0,680ab

0,975b

1,110ab

1,245

1,365

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom berbeda menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

Tabel 4.   Rerata jumlah daun (helai) tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata jumlah daun (helai) pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

1,75

3,00a

3,50

3,75

4,00

4,50

K0P1

2,75

3,75ab

4,50

4,50

5,50

5,75

K0P2

2,00

3,50ab

4,25

4,50

4,25

5,50

K5P0

2,75

2,75a

3,75

3,75

4,00

4,25

K5P1

3,25

4,50b

5,00

4,75

4,75

5,25

K5P2

2,50

2,75a

3,25

3,25

3,50

3,75

K10P0

2,75

3,75ab

5,00

5,00

5,25

5,25

K10P1

2,50

3,25a

4,25

4,00

4,00

5,25

K10P2

2,50

3,00a

3,75

4,25

4,25

5,25

K15P0

2,50

3,00a

4,00

4,00

5,50

5,25

K15P1

2,75

3,00a

3,75

4,25

4,50

5,00

K15P2

2,50

3,50ab

4,25

4,50

5,50

5,25

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

 

Pengaruh interaksi perlakuan tersebut baru terlihat nyata pada 3-5 mst, ini dikarenakan tanaman jagung sebagai tanaman indikator mulai memerlukan asupan hara cukup besar dari media tanam untuk menunjang pertumbuhan vegetatifnya. Namun setelah  5 mst, pengaruh perlakuan tidak berpengaruh nyata, diduga diakibatkan asupan hara yang tersedia sudah sangat rendah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman.

Penggunaan TKKS sebagai bahan dasar kompos memerlukan waktu relatif cukup lama untuk menghasilkan kompos yang benar-benar matang. Kandungan C yang tinggi dalam TKKS mempengaruhi kecepatan dekomposisi bahan ini. Hasil analisis jaringan terhadap TKKS memperlihatkan rasio C/N TKKS yang tidak diberi  bioaktivator adalah 72,8% sedangkan TKKS yang diberi bioaktivator EM dan Trichoderma masing-masing memiliki rasio C/N 68,2% dan  70,5%.  Jadi walaupun telah dibantu dengan penambahan bioaktivator, TKKS tetap memerlukan waktu lebih lama (>2 bulan) untuk proses dekomposisinya.

Masih tingginya rasio C/N pada kompos TKKS yang diberikan ke media tanah menyebabkan proses dekomposisi relatif masih aktif. Dalam proses dekomposisi untuk bahan kompos yang memiliki rasio C/N tinggi memerlukan banyak  unsur  N untuk membantu mikroba merombak bahan kompos tersebut. Menurut  Sudiarto dan Gusmaini (2004) pemberian bahan organik dengan rasio C/N tinggi akan memicu pembiakan mikroba atau mengakibatkan immobilisasi unsur N untuk sementara waktu, namun seiring menurunnya rasio C/N  dan sebagian mikroba mati, maka  melalui proses dekomposisi unsur hara menjadi tersedia kembali. Oleh karena diduga unsur N dari pupuk N yang diberikan ke tanah juga digunakan mikroba untuk perombakan sehingga diduga terjadi persaingan kebutuhan unsur N antara tanaman indikator dengan mikroba perombak. Hal ini ditunjukkan dari hasil pengamatan parameter pertumbuhan vegetatif  yang memperlihatkan indikasi bahwa semakin besar dosis kompos TKKS dan semakin besar dosis pupuk NPK yang diberikan maka pengaruhnya tidak berbeda nyata dengan tanpa diberi kompos TKKS.

Berdasarkan hasil analisis jarigan kompos TKKS unsur-unsur hara seperti P, K, Ca, dan Mg yang sangat tinggi (Tabel 2). Namun rendahnya tingkat dekomposisi bahan kompos menyebabkan unsur-unsur tersebut tidak dapat termineralisasi dan tidak tersedia bagi tanaman. Unsur-unsur tersebut cenderung mengalami immobilisasi dalam bentuk unsur organik. Secara umum akar tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah dalam bentuk unsur-unsur anorganik yang terlarut dalam larutan tanah bukan dalam bentuk unsur organik. Hal ini menyebabkan tanaman jagung dalam penelitian ini mengalami defisiensi unsur hara, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

 

KESIMPULAN

 

  1. Interaksi perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung yaitu tinggi tanaman dan diameter batang pada 3-5 mst kecuali jumlah daun hanya pada 3 mst.
  2. Dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk N-100;P-50;K-25 mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pengelola PHK A-2 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya yang telah sepenuhnya mendanai penelitian ini melalui kegiatan Research Grant pada Tahun Anggaran 2009.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Pusat Statistik. 2006. Kalimantan Tengah dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah.

Darnoko, D dan Sembiring. 2005. Sinergi antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Pertanian Melalui Aplikasi Kompos TKS untuk Tanaman Padi. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit 2005 : Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Pemupukan dan Pemanfaatan Limbah PKS. April 2005. Medan.

Indriani, Y.H. 2007. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Matoa. 2009. Membuat kompos. http://matoa.org/

Nawansih, O., T. Hanum dan F. Nurainy. 2008. Kajian Penggunaan Inokulum pada Proses Pengomposan Bagasse. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Lampung.

Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah. 2007. Informasi Umum Kalimantan Tengah. www.kalteng.go.id.2007.

Politeknik Citra Widya Edukasi. 2008. Cara Mudah Mengomposkan Tandan Kosong Kelapa Sawit. politeknikcitrawidyaedukasi.blogspot.com

Sudiarto dan Gusmaini. 2004. Pemanfaatan Bahan Organik In Situ untuk Efisiensi Budidaya Jahe yang Berkelanjutan. Jurnal Litbang Pertanian Vol 23 No2. Hal  37-45. www.pustaka.deptan.go.id/pdf

About these ads

2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bravo, jurnal agripeat sudah bisa diakses online. Makasih sudah menanggapi dengan cepat himbauan dikti untuk karya ilmiah online.

Komentar oleh GII

sebenarnya sudah sejak 2009 awal sudah bisa diakses namun karena kurangnya personil yang luwang waktu untuk upload jadinya ya lambat banaaar….. tks atas atensinya.

Bravo…

Komentar oleh Agripeat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: