JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


KAJIAN PENGGUNAAN ASAM PEROKSIDA DALAM MEDIA ASAM == Sri Hidayati
18 Juni 2011, 3:44 pm
Filed under: Penelitian

KAJIAN PENGGUNAAN ASAM PEROKSIDA DALAM MEDIA ASAM ASETAT UNTUK PEMUTIHAN TERHADAP SIFAT KIMIA PULP AMPAS TEBU HASIL ORGANOSOL

(Usage Study Of Peroxide Acid In Acetic Acid Media For Whitening To Bagasse Pulp Chemical Property Result Of Organosol)

Sri Hidayati

Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Universitas Lampung

E-mail: hidayati_thp@unila@ac.id, telp 085841147700

 

ABSTRACT

Baggase represent waste of lignocellulose yielded by sugar mill after sugar cane taken its.  Especial component of bagasse for example fiber about 43-52%, lignine content of  20% and pentosan content of 27%.  pulp had been made from bagasse fiber.  This research conducted to know the bleaching methode using various concentration peracetic acid viewed from their chemical properties.  The bleaching process was carried out using peracetic acid 0, 3, 6, 9, 12 and 15% at 850C for 3 hours.  After works, the pulp was washed and dried at room temperature, analyzed for cellulose, hemicellulose and number of kappa and brightness. The result showed that higher peracetic acid concentration descreased in cellulose, hemicelluse, lignin, permangant number and kappa number.  The best result was obtained at the concentration of 6% with content of cellulose 70,16%, hemicellulose of 18,2%,  and permanganat 24,2 and brightness of  18,4 oGE respectively.

 

Keywords:  bagasse, peracetic acid, cellulose

ABSTRAK

 

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam perasetat terhadap sifat kimia dan derajat putih pulp dari ampas tebu yang dihasilkan melalui proses organosolve. Komponen utama ampas tebu antara lain fiber (serat) sekitar  43 – 52 %, air 46 – 52 %, dan padatan terlarut 2 – 3 %. Penelitian ini yang betujuan untuk mengetahui methode pemutihan dengan menggunakan asam peroksida dengan berbagai senyawa kimia. Proses pemutihan itu dilaksanakan dengan asam peroksida 0, 3, 6, 9, 12 dan 15% pada 850C selama 3 jam. Semakin tinggi konsentrasi perasetat akan menurunkan kadar selulosa, hemiselulosa, dan bilangan permanganat serta meningkatkan derajat putih. Hasil terbaik pada proses pemutihan adalah menggunakan konsentrasi perasetat sebanyak 6% yang menghasilkan rendemen  20,39 %, kadar selulosa 70,16 %, hemiselulosa 18,2%, dan  bilangan permanganat 24,2 dengan derajat putih 18,4 oGE.

Kata Kunci : Ampas Tebu, Asam Peroksida, Gula

 


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu produsen kertas yang berencana menjadi produsen pulp dan kertas terbesar dunia (Syafii, 2000).  Saat ini, produksi kertas Indonesia menduduki peringkat ke-12 dunia, dengan pangsa pasar 2,3% dari total produksi dunia yang mencapai 318,2 juta ton pertahun (www.wartaekonomi.com).  Di tahun 2010, kebutuhan proyeksi kertas dunia akan naik sampai 425 juta ton per tahun (Hurter, 1998).  Pembuatan pulp dan kertas di Indonesia pada umumnya menggunakan kayu hutan seperti pinus.  Eksploitasi hutan yang terus menerus menimbulkan banyak masalah terutama penggundulan hutan dan isu pemanasan global serta semakin menipisnya cadangan kayu dan luas hutan di Indonesia (Biro, 2001, Deperindag dan APKI, 2001, Barr, 2001).  Laju kerusakan hutan pada periode 2001-2004 meningkat menjadi 3,6 juta hektar pertahun karena penggunaan kayu untuk industri pulp (www.kompas.com, 2006). Maka pemerintah perlu mencari alternatif bahan baku lain yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pulp dan kertas seperti ampas tebu.  Potensi ampas tebu di Indonesia sangat besar yaitu mencapai 39.539.944 ton/tahun (Anonim, 2005).

Ampas tebu merupakan limbah lignoselulosa yang dihasilkan oleh pabrik gula setelah tebu diambil niranya.  Komponen utama ampas tebu antara lain fiber (serat) sekitar  43 – 52 %, air 46 – 52 %, dan padatan terlarut 2 – 3 % (Paturau, 1982).  Serat ampas tebu memenuhi syarat sebagai bahan baku kertas yaitu  mempunyai serat yang panjang lurus dengan kadar hemiselulosa tinggi.  Menurut Passaribu (1998), kandungan holosellulosa ampas tebu adalah 75,64%, hemiselulosa 29,05% dan lignin 21,42%, panjang serat rata-rata 2,26 mm, diameter tebal dinding 3,21 mikrometer, dan bilangan Runkel 0,85. 

Ada beberapa proses pengolahan pulping di dunia.  Proses kimia menggunakan soda/pulping sulfat merupakan salah satu proses pengolahan ampas tebu menjadi pulp yang saat ini banyak digunakan.  Hariyadi (1994), Darwis dkk (1994) dan Saptariyani (1992) melakukan penelitian pembuatan pulp dengan menggunakan proses sulfat.  Keuntungan proses ini adalah  biayanya lebih murah dan hampir semua bahan baku dapat menghasilkan pulp dengan kekuatan yang sangat baik.  Tetapi proses ini menimbulkan pencemaran lingkungan karena lindi hitam yang tinggi dan kemampuan daur ulang rendah.  Sementara itu tuntutan masyarakat, baik ditingkat nasional dan internasional, akan mutu lingkungan semakin gencar.  Industri pulp dihadapkan pada kenyataan yang menunjukkan bahwa industri ini merupakan salah satu industri yang mencemari lingkungan hidup yang berat (Syafii, 2000; Suratmaji, 2001, KLH, 2005).  Oleh karena itu, agar produksi pulp tersebut dapat diterima di pasar internasional, maka usaha-usaha pencarian teknologi alternatif yang ramah lingkungan harus dilakukan salah satunya dengan metode organosolv.  Proses ini menggunakan bahan-bahan organik seperti alkohol, asam asetat dan phenol, yang dikenal dengan proses organosolv (Fengel dan Wegener, 1995, Muladi et al., 2002).

Penggunaan bahan-bahan organik dalam proses pembuatan pulp memiliki beberapa keunggulan antara lain, yaitu bebas senyawa sulfur, impregnasi senyawa pelarut organik lebih baik dari pelarut anorganik, dan proses daur ulang limbah lebih mudah dan murah dengan kemurnian cukup tinggi, selain itu rendemen pulp yang dihasilkan lebih tinggi dan dapat diperoleh hasil samping berupa lignin dan furfural dengan kemurnian yang relatif tinggi dan ekonomis dalam skala yang relatif kecil (Aziz dan Sarkanen, 1989).  Baskoro (1986), Ruwelih (1990), dan Hidayati (2000) melakukan penelitian pembuatan pulp dari pada ampas tebu, tetapi metode pulping yang digunakan adalah proses soda.  

Untuk memperoleh pulp dengan mutu tinggi perlu dilakukan proses pemutihan.  Secara umum dasar proses pemutihan adalah menghilangkan warna gelap pada pulp, tingkat rendemen yang tinggi, residu kimia serendah mungkin dan biaya proses yang rendah.  Hal ini dipengaruhi oleh jenis bahan pemutih dan jumlah bahan pemutih yang dipakai (Goyal, 1994).  Salah satu bahan pemutih yang digunakan adalah hidrogen peroksida dalam media asam asetat atau dikenal sebagai asam perasetat  Asam ini mempunyai bilangan oksidasi yang lebih tinggi dan kuat dibandingkan dengan oksidasi dari hidrogen peroksida (Muladi, 2000).  Proses oksidasi pemutihan tergantung beberapa faktor yaitu  pH, suhu, konsentrasi asam perasetat dan lama waktu reaksi.  Keuntungan menggunakan pemutihan perasetat adalah tidak merusak selulosa dan bebas klor.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam perasetat terhadap sifat kimia dan derajat putih pulp dari ampas tebu yang dihasilkan melalui proses organosolve.

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

Bahan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp adalah 8 kg bagase (kering oven) dari PTPN VII Unit Usaha Bunga Mayang, larutan pemasak (asam asetat glasial teknis, 98%), larutan pemutih (asam peroksida 30% dan asam aetat glasial teknis 95%); senyawa-senyawa kimia untuk analisis: KMNO4, KI, Na2S2O3, asam sulfat pekat (72%), asam hidroklorat (HClO3), NaOH, Na2CO3, etanol 95%, dan petroleum eter. 

Alat yang digunakan adalah rotary digester, flat refiner, alat penentu bilangan Kappa, alat penentu gramatur dan alat analisis.

 

Metode Penelitian

Semua perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari knsentrasi perasetat 0, 3, 6, 9, 12 dan 15%.   Data dianalisis sidik ragam dengan taraf 1% dan 5%.  Homogenitas diuji dengan uji Bartlet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey.  Analisis lanjutan dilakukan dengan uji Duncant pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1980). 

 

Pelaksanaan Penelitian

  1. A.   Persiapan bagase

Proses pembuatan pulp dimulai dengan bagase dicuci, dijemur sampai kering, kemudian dihilangkan empelurnya dengan menumbuk bagase sampai tinggal serat-seratnya dan ditampi, lalu diambil 1000 g. 

  1. B.   Pemasakan pulp

Pemasakan pulp dilakukan dengan menggunakan proses acetosolv.  Sebanyak 1000 g bagase dimasukkan ke dalam rotary digester (alat pemasak).  Kondisi pemasakan mengacu pada penelitian Gottlieb et al. (1992).  Pemasakan dilakukan dengan menggunakan larutan asam asetat dalam air dengan konsentrasi 80 (v/v), dan rasio larutan pemasak dengan serpih bagase 8:1 (v/b).  Suhu pemasakan maksimum 1600C pada tekanan yang terjadi pada suhu 1600C (± 2 atm), waktu tuju ke suhu maksimum 90 menit, waktu pada suhu maksimum 90 menit. 

 

 

 

  1. C.   Pencucian pulp

Pulp hasil pemasakan selanjutnya dicuci dengan menggunakan air pada suhu 800C dan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan air pada suhu ruangan hingga jenuh.

 Defibrilisasi

Defibrilisasi adalah proses yang bertujuan untuk memisahkan serat.  Proses ini dilakukan dengan menggunakan defibrator yang memiliki prinsip kerja seperti blender.  Pulp yang telah jenuh dimasukkan ke dalam defibrator menggunakan air sebagai media pemisahan serat.  Defibrisasi dilakukan hingga pulp terurai menjadi serat-serat mandiri (selama 3–5 menit). 

E. Pemutihan pulp bagase

Pulp dipanaskan pada asam perasetat dengan konsentrasi perlakuan pada suhu 85oC selama 3 jam.  Selanjutnya dilakukan pencucian dan pengeringan pada suhu kamar.  Kemudian dilakukan pengamatan seperti yang dilakukan pada pulp sebelum diputihkan.  Pulp yang sudah diputihkan selanjutnya diuji sifat-sifat kimia (kadar selulosa, hemiselulosa (Metode Datta, 1981), dan bilangan permanganat (SNI 0494-89).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen

Rendemen pulp yang dihasilkan berkisar antara 15,93 persen sampai 20,39 persen dengan rata-rata akhir adalah 18,67 persen.  Gambar 1 menunjukkan rendemen yang diperoleh dari hasil penelitian. 

                   

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Rendemen pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi asam perasetat (0%, 3%, 6%, 9%, 12%, dan 15%) tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen pulp.  Dari Gambar 1, dapat dilihat bahwa rendemen yang dihasilkan cenderung meningkat sampai pada konsentrasi 6% kemudian menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi asam prasetat, hal ini diduga disebabkan oleh adanya degraadasi dari selulosa.  Dence dan Reeve (1996) menyebutkan bahwa selama pemutihan pulp, degradasi selulosa dapat terjadi.  Degradasi selulosa ini diakibatkan sifat selulosa yang mudah terhodrolisis oleh asam.  Akibatnya, fragmen-fragmen  selulosa menjadi terlarut sehingga rendemen pulp yang dihasilkan lebih rendah.

Selulosa

Kandungan selulosa sangat perlu diketahui sebab selulosa berpengaruh terhadap kekuatan kertas yang akan dihasilkan.  Presentase selulosa yang dihasilkan berkisar antara 43,41 sampai 70,16 dengan rata-rata akhir adalah 55,74 (Gambar 2). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.  Kadar selulosa pulp hasil pemutihan dengan asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Dari Gambar 2, terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi asam perasetat maka kadar sampai pada konsentrasi 6% akan meningkatkan kadar selulosa tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi selulosanya semakin menurun.  Peningkatan selulosa disebabkan karena asam perasetat merupakan bahan kimia yang sangat selektif.  Terjadinya reaksi asam perasetat pada akarbohidrat melalui rekasi hidrolisis tidak terlalu tajam, tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi, penggunaan asam perasetat akan menyebabkan oksidasi polisakarida melalui pembentukan radikal hidroksi (Nevell dan Zeronian, 1985).  MacDonald dan Franklin (1969) yang menyatakan bahwa selama pemutihan pulp dapat terjadi modifikasi oksidatif dan hidrolitik serta degradasi selulosa.  Gugus fungsi dalam selulosa yang terserang adalah gugus hidroksil dan aldehid ujung menghasilkan aldehid, keton, dan formasi gugus karboksil.

Bilangan Permanganat

Bilangan Permanganat digunakan untuk menentukan tingkat kematangan atau daya terputihkan dari suatu  pulp kimia (Dewan Standarisasi Nasional, 1989).  Nilai bilangan permanganat  hasil penelitian berkisar antara 6,11 sampai 33,92 (Gambar 3).                                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.  Bilangan Permanganat pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

 

Dengan meningkatnya konsentrasi asam perasetat yang digunakan, penetrasi bahan pemutih tersebut tersebut ke dalam serat menjadi lebih sempurna yang mengakibatkan delignifikasi pulp akan semakin bertambah sehiungga menurunkan bilangan permanganat.  Kandungan lignin dalam pulp sangat erat hubungannya dengan bilangan permanganat. Ini didasarkan pada prinsip bahwa lignin akan menkonsumsi kalium permanganat dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pada komponen-komponen karbohidrat di dalam pulp. Sehingga penggunaan kalium permanganat bisa digunakan untuk mengukur kandungan lignin didalam pulp. Kandungan lignin di dalam pulp semakin rendah dengan rendahnya bilangan kappa dan bilangan permanganat (Fuadi dan Sulistiya, 2008).

 

Hemiselulosa

Hemiselulosa merupakan salah satu komponen utama dalam pulp sebab menurut Dence dan Reeve (1996) hemiselulosa memegang peranan penting dalam pengolahan serat dan pengikatan serat dalam lembaran kertas.  Selain itu Casey (1952) menyatakan bahwa hemiselulosa dapat mempengaruhi ketahanan tarik, retak, dan lipat karena berfungsi sebagai perekat antar serat.  Kadar hemiselulosa pulp berkisar antara 15,89 persen sampai 24,36 persen (Gambar 4) dengan rata-rata akhir adalah 18,78 persen. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.     Kadar hemiselulosa pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Kadar hemiselulosa semakin  menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi asam perasetat, selain itu penurunan kadar hemiselulosa ini pun seiring dengan penurunan kadar  selulosa pulp.  Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin banyak selulosa yang terdegradasi oleh larutan asam asetat maka semakin banyak pula hemiselulosa yang terdegradasi. Dimana sebagian besar  hemiselulosa terikat bersamaan dengan seluklosa dalam dinding sel sedangkan sebagian kecil terikat dengan lignin (Fuadi dan Sulistiya, 2008).

Hemiselulosa berbentuk non kristal dan mudah dihidrolisis dan terikat kuat dengan selulosa dan lignin.  Bila selulosa mengalami degradasi akibat pengaruh konsentrasi asam perasetat maka hemiselulosa akan mudah terdegradasi menjadi unit-unit yang lebih sederhana dan larut dalam air sehingga menurunkan kadar hemiselulosa (Fengel dan wagener, 1989).  Menurut Hatakeyama et all (1968), xilan dan mannan dari hemiselulosa lebih mudah terputus dibandingkan selulosa.                                     

 

Derajat Keputihan

Derajat putih adalah perbandingan antara intensitas cahaya biru dengan panjang gelombang 457 nm yang dipantulkan oleh permukaan lembaran pulp dengan cahaya sejenis yang dipantulkan oleh permukaan lapisan magnesium oksida (MgO) pada kondisi sudut datang cahaya 450 dan sudut pantul 00 serta dinyatakan dalam persen (%) (SNI 14-0438-1989).  Derajat putih yang didapatkan setelah dilakukan pemutihan dengan asam perasetat, berkisar antara 15,0100oGE sampai dengan 32,0050oGE. Derajat keputihan tertinggi didapat pada pulp yang diberi perlakuan pemutihan dengan konsentrasi asam perasetat 15%. Sedangkan derajat keputihan terendah didapatkan pada pulp dengan perlakuan pemutihan asam perasetat 0%. (Gambar 5).

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.     Derajat putih pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

 

            Peningkatan konsentrasi asam perasetat akan meningkatkan derajat putih pulp yang dihasilkan dari proses pemutihan.   Hal ini dapat terjadi karena menurut Lai dan Sarkanen (1968) proses oksidasi akan mengalir melalui ion-ion OH-.  Sedangkan Casey (1952) mengemukakan bahwa bahan aktif pemucat dalam proses pemucatan pulp dengan peroksida adalah ion OOH- yang berasal dari ionisasi H2O2. Ion ini menyerang lignin dan bahan-bahan pewarna lain dalam pulp secara selektif. Hal ini diperkuat dengan pendapat Hidayati (2000) yaitu OOH- mengoksidasi gugus kromofor pada lignin.  Goyal (1994) mengemukakan bahwa setiap peningkatan 1% asam perasetat akan meningkatkan derajat putih sampai batas tertentu.   Pemakaian H2O2 meningkat dengan naiknya pH, ini disebabkan karena dekomposisi H2O2 dipercepat dengan pH. Di sisi lain, perhydroxyl anion (HOO-) yang memberikan efek terhadap pemutihan terbentuk dari penambahan alkali terhadap hidrogen peroksida (Fuadi dan Sulistya, 2008).

 

KESIMPULAN

Semakin tinggi konsentrasi perasetat akan menurunkan kadar selulosa, hemiselulosa, dan bilangan permanganat serta meningkatkan derajat putih. Hasil terbaik pada proses pemutihan adalah menggunakan konsentrasi perasetat sebanyak 6% yang menghasilkan rendemen  20,39 %, kadar selulosa 70,16 %, hemiselulosa 18,2%, dan  bilangan permanganat 24,2 dengan derajat putih 18,4 oGE.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.  2005.  Pemanfaatan Ampas Tebu untuk Pulp dan Kertas.  Informasi hotspot 25 September 2005.

Aziz, S.B dan K. Sarkanen.  1989.  Organosolv Pulping.  TAPPI Journal.  March    1989.  169-175.

I.B.W.  1986.  Pengaruh Antrakinon-Soda terhadap Sifat-sifat Pulp Ampas Tebu dan Jerami.  Skripsi.  Teknologi Hasil Hutan.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Barr, C.  2001.  The Financial Collapse of asi Pulp & Paper:  Moral Hazardand Implication for Indonesia’s Forest, dalam Asian Development Forum-3, Bangkok.

BIRO.  2001.  Indonesia Pulp and Paper Industry.  Jakarta: PT Biro Data Indonesia.

Casey, J.P.  1952.  Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology I.  John and Wiley and Son.  New York.

Datta, R.  1981.  Acidogenic fermentation of lignocellulose acid yields and confertion of component.  Biotech Bioneg 23:2167-2170.

Darwis, A.A., Muliah, M. Yani, dan Rohmat.  1994.  Pengaruh Umur dan Konsentrasi Alkali Aktif terhadap Sifat-sifat Pulp Sulfat Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen).  Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. IV:1. 8-14.

Dence, C.V. dan D. W. Reeve.  1996.  Pulp Bleaching, Principle and Practice.  TAPPI PRESS.  Atlanta, Georgia.  Hal 10 dan 50.

Dewan Standardisasi Indonesia.  1989.  SNI 0494-1989-A.  Cara Uji Bilangan Permanganat, Bilangan Kappa, dan Bilangan Khlor Pulp.  Departemen Perindustrian. Jakarta.

Deperindag dan APKI.  2001. Industri Pulp dan Kertas 1999-2003: Realisasi 1999-2000 dan Proyeksi 2001-2003. Jakarta: Direktorat Industri Pulp dan Kertas.

Fengel, D. dan G. Wegener.  1995.  Kayu : Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi.  Diterjemahkan oleh Hardjono Sastromiharjo.  Gadjah  Mada  University   Press. Yogjakarta.  155 – 159.

Fuadi, A.M dan Sulistya, H.  2008.  Pemutihan Pulping dengan Hidrogen Peroksida.  Reaktor, Vol. 12 No. 2, Desember 2008, Hal. 123-128

Gottlieb, J.P., A.W. Preuss, J. Meckel, A. Berg.  1992.  Acetocell Pulping of Spurce and Chlorine Free Bleaching.  Proceding of the TAPPI Solvent Pulping Symposium.  Boston, November 5-6.

Goyal, S.K.  1994.  Bagasse bleaching Parameter Optimazition Pay.  IPPTA Vol 6 (3).

Haryadi, M.B.  1994.  Pengaruh Pengelompokkan Bobot Jenis, Kondisi Alkali Aktif, serta Jenis Pemutihan terhadap Sifat Pulp Sulfat Putih Kayu Campuran.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor. 4-22.

Hatakeyama, H, nakano, M.J and Migita, N.  1968.  Degradation of Cellulose with Peracetic Acid.  Kogua Kgaku Zusshin71 (1), p: 153-156.

Hidayati, S. 2000. Pemutihan Pulp Ampas Tebu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan CMC. Jurnal Agrosains Vol.13(1).

K.L.H.  2005.  Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 228 tahun 2005 Tentang Hasil Penilaian Peringkat Kerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.  Jakarta: Kementrian Lingkungan Hidup.

Macdonald, R.G. dan J.N.  Franklin, Ed.  1969.  Pulp and Paper Manufacture.  Second Edition.  Mc. Graw-Hill Book Company, Inc.  New York.

Muladi, S, E.T Arung,, N.M Nimz dan O.Faix.  2002.  Organosolv Pulping and Bleaching of Pulp with Ozone.  Lembaga Penelitian Universitas Mulawarman Samarinda.

Muladi, S., I.W Kusuma., O K Orsadchia and R. Pratt.  2000.  The elementary chlorine free bleaching (ECF) of some Indonesia timber estate wood species, hlm 335-340.  Di dalam M. Shimada, T Watanabe and T Yoshimura (Ed).  Sustinable Utilization of Forest Product:  Socio economical and Ecological management of tropical forest.  Proceeding of the third wood science symposium.  Japan.

Nevell, T.D daan Zeronian, S.H.  1985.  Oxidant of cellulose in Cellulose Chemistry and Its applications, Ellis Hardwood Limited Chiccherter-West Sussex, p: 243-265.

Pasaribu, R.A dan H. Roliadi.1989.Pengolahan Pulp Secara Kimia. Disajikan Dalam Rangka Alih Ilmu Pengetahuan dan Industri Pulp Kertas dan Papan Serat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosek Kehutanan Bogor.

Paturau, J.M. 1982. Sugar Series 3 : By product of The Care Sugar Industry on Introduction to Their Industrial Utilization. 2nd ed Elsevier Publ. Comp, New York.

Ruwelih.  1990.  Mempelajari Pengaruh Suhu Pemasakan dan Konsentrasi Soda terhadap Sifat Pulp dan Lindi Hitam dari Pemasakan Kayu Albasia (Albazzia falcataria Bucker) dan Ampas Tebu dengan Proses Soda.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Syafii, W.  2000.  Sifat Pulp Daun Kayu Lebar dengan Proses Organosolv.  Jurnal     Teknik Industri Pertanian.

Saptariyani, A.K.P.  1992.  Pengaruh Umur Kayu Albasia (Albazzia fulcataria (L) Fosberg).  Dan Kayu Karet (Hevea brasiliensis muell. Arg) terhadap Sifat Fisik Pulp Sulfat yang Diputihkan.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Steel, R. G. D and Torrie, J. H. 1990. Prinsip dan Prosedur Statistik, Suatu Pendeketan Biometrik. Gramedia. Jakarta.

Suratmaji, T.  2001.  Perkembangan Teknologi Proses Pembuatan Pulp & Kertas Menyongsong Perkembangan 10 tahun KTT Bumi, Peran Penguasaan Teknologi Lingkungan, Jakarta.

www.kompas.com.

www.wartaekonomi.com

About these ads

3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sukses senantiasa buat Jurnal AGRIPEAT (Faperta Unpar, Kalteng). Infonya telah memperluas wawasan saya. Sampe jumpa di Malang, 28-30 Mei 2012 (Loknas FKPTPI) Trims. (Roddialek Pollo, Faperta Undana, Kupang, NTT).

Komentar oleh Roddialek Pollo

tks atas atensinya, bila kawan2 di undana punya naskah berhubungan pemanfaatan lahan gambut dimana saja bisa kirim ke email, dan sukses selalu

Komentar oleh Jurnal Ilmiah Agripeat

Ahaa, its nice conversation about this paragraph at this place at this blog,
I have read all that, so at this time me also commenting here.

Komentar oleh Immigration Solicitors in Greenwich




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: