JURNAL ILMIAH AGRI PEAT FAPERTA UNPAR


KAJIAN PENGGUNAAN ASAM PEROKSIDA DALAM MEDIA ASAM == Sri Hidayati
18 Juni 2011, 3:44 pm
Filed under: Penelitian

KAJIAN PENGGUNAAN ASAM PEROKSIDA DALAM MEDIA ASAM ASETAT UNTUK PEMUTIHAN TERHADAP SIFAT KIMIA PULP AMPAS TEBU HASIL ORGANOSOL

(Usage Study Of Peroxide Acid In Acetic Acid Media For Whitening To Bagasse Pulp Chemical Property Result Of Organosol)

Sri Hidayati

Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Universitas Lampung

E-mail: hidayati_thp@unila@ac.id, telp 085841147700

 

ABSTRACT

Baggase represent waste of lignocellulose yielded by sugar mill after sugar cane taken its.  Especial component of bagasse for example fiber about 43-52%, lignine content of  20% and pentosan content of 27%.  pulp had been made from bagasse fiber.  This research conducted to know the bleaching methode using various concentration peracetic acid viewed from their chemical properties.  The bleaching process was carried out using peracetic acid 0, 3, 6, 9, 12 and 15% at 850C for 3 hours.  After works, the pulp was washed and dried at room temperature, analyzed for cellulose, hemicellulose and number of kappa and brightness. The result showed that higher peracetic acid concentration descreased in cellulose, hemicelluse, lignin, permangant number and kappa number.  The best result was obtained at the concentration of 6% with content of cellulose 70,16%, hemicellulose of 18,2%,  and permanganat 24,2 and brightness of  18,4 oGE respectively.

 

Keywords:  bagasse, peracetic acid, cellulose

ABSTRAK

 

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam perasetat terhadap sifat kimia dan derajat putih pulp dari ampas tebu yang dihasilkan melalui proses organosolve. Komponen utama ampas tebu antara lain fiber (serat) sekitar  43 – 52 %, air 46 – 52 %, dan padatan terlarut 2 – 3 %. Penelitian ini yang betujuan untuk mengetahui methode pemutihan dengan menggunakan asam peroksida dengan berbagai senyawa kimia. Proses pemutihan itu dilaksanakan dengan asam peroksida 0, 3, 6, 9, 12 dan 15% pada 850C selama 3 jam. Semakin tinggi konsentrasi perasetat akan menurunkan kadar selulosa, hemiselulosa, dan bilangan permanganat serta meningkatkan derajat putih. Hasil terbaik pada proses pemutihan adalah menggunakan konsentrasi perasetat sebanyak 6% yang menghasilkan rendemen  20,39 %, kadar selulosa 70,16 %, hemiselulosa 18,2%, dan  bilangan permanganat 24,2 dengan derajat putih 18,4 oGE.

Kata Kunci : Ampas Tebu, Asam Peroksida, Gula

 


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu produsen kertas yang berencana menjadi produsen pulp dan kertas terbesar dunia (Syafii, 2000).  Saat ini, produksi kertas Indonesia menduduki peringkat ke-12 dunia, dengan pangsa pasar 2,3% dari total produksi dunia yang mencapai 318,2 juta ton pertahun (www.wartaekonomi.com).  Di tahun 2010, kebutuhan proyeksi kertas dunia akan naik sampai 425 juta ton per tahun (Hurter, 1998).  Pembuatan pulp dan kertas di Indonesia pada umumnya menggunakan kayu hutan seperti pinus.  Eksploitasi hutan yang terus menerus menimbulkan banyak masalah terutama penggundulan hutan dan isu pemanasan global serta semakin menipisnya cadangan kayu dan luas hutan di Indonesia (Biro, 2001, Deperindag dan APKI, 2001, Barr, 2001).  Laju kerusakan hutan pada periode 2001-2004 meningkat menjadi 3,6 juta hektar pertahun karena penggunaan kayu untuk industri pulp (www.kompas.com, 2006). Maka pemerintah perlu mencari alternatif bahan baku lain yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pulp dan kertas seperti ampas tebu.  Potensi ampas tebu di Indonesia sangat besar yaitu mencapai 39.539.944 ton/tahun (Anonim, 2005).

Ampas tebu merupakan limbah lignoselulosa yang dihasilkan oleh pabrik gula setelah tebu diambil niranya.  Komponen utama ampas tebu antara lain fiber (serat) sekitar  43 – 52 %, air 46 – 52 %, dan padatan terlarut 2 – 3 % (Paturau, 1982).  Serat ampas tebu memenuhi syarat sebagai bahan baku kertas yaitu  mempunyai serat yang panjang lurus dengan kadar hemiselulosa tinggi.  Menurut Passaribu (1998), kandungan holosellulosa ampas tebu adalah 75,64%, hemiselulosa 29,05% dan lignin 21,42%, panjang serat rata-rata 2,26 mm, diameter tebal dinding 3,21 mikrometer, dan bilangan Runkel 0,85. 

Ada beberapa proses pengolahan pulping di dunia.  Proses kimia menggunakan soda/pulping sulfat merupakan salah satu proses pengolahan ampas tebu menjadi pulp yang saat ini banyak digunakan.  Hariyadi (1994), Darwis dkk (1994) dan Saptariyani (1992) melakukan penelitian pembuatan pulp dengan menggunakan proses sulfat.  Keuntungan proses ini adalah  biayanya lebih murah dan hampir semua bahan baku dapat menghasilkan pulp dengan kekuatan yang sangat baik.  Tetapi proses ini menimbulkan pencemaran lingkungan karena lindi hitam yang tinggi dan kemampuan daur ulang rendah.  Sementara itu tuntutan masyarakat, baik ditingkat nasional dan internasional, akan mutu lingkungan semakin gencar.  Industri pulp dihadapkan pada kenyataan yang menunjukkan bahwa industri ini merupakan salah satu industri yang mencemari lingkungan hidup yang berat (Syafii, 2000; Suratmaji, 2001, KLH, 2005).  Oleh karena itu, agar produksi pulp tersebut dapat diterima di pasar internasional, maka usaha-usaha pencarian teknologi alternatif yang ramah lingkungan harus dilakukan salah satunya dengan metode organosolv.  Proses ini menggunakan bahan-bahan organik seperti alkohol, asam asetat dan phenol, yang dikenal dengan proses organosolv (Fengel dan Wegener, 1995, Muladi et al., 2002).

Penggunaan bahan-bahan organik dalam proses pembuatan pulp memiliki beberapa keunggulan antara lain, yaitu bebas senyawa sulfur, impregnasi senyawa pelarut organik lebih baik dari pelarut anorganik, dan proses daur ulang limbah lebih mudah dan murah dengan kemurnian cukup tinggi, selain itu rendemen pulp yang dihasilkan lebih tinggi dan dapat diperoleh hasil samping berupa lignin dan furfural dengan kemurnian yang relatif tinggi dan ekonomis dalam skala yang relatif kecil (Aziz dan Sarkanen, 1989).  Baskoro (1986), Ruwelih (1990), dan Hidayati (2000) melakukan penelitian pembuatan pulp dari pada ampas tebu, tetapi metode pulping yang digunakan adalah proses soda.  

Untuk memperoleh pulp dengan mutu tinggi perlu dilakukan proses pemutihan.  Secara umum dasar proses pemutihan adalah menghilangkan warna gelap pada pulp, tingkat rendemen yang tinggi, residu kimia serendah mungkin dan biaya proses yang rendah.  Hal ini dipengaruhi oleh jenis bahan pemutih dan jumlah bahan pemutih yang dipakai (Goyal, 1994).  Salah satu bahan pemutih yang digunakan adalah hidrogen peroksida dalam media asam asetat atau dikenal sebagai asam perasetat  Asam ini mempunyai bilangan oksidasi yang lebih tinggi dan kuat dibandingkan dengan oksidasi dari hidrogen peroksida (Muladi, 2000).  Proses oksidasi pemutihan tergantung beberapa faktor yaitu  pH, suhu, konsentrasi asam perasetat dan lama waktu reaksi.  Keuntungan menggunakan pemutihan perasetat adalah tidak merusak selulosa dan bebas klor.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam perasetat terhadap sifat kimia dan derajat putih pulp dari ampas tebu yang dihasilkan melalui proses organosolve.

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

Bahan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp adalah 8 kg bagase (kering oven) dari PTPN VII Unit Usaha Bunga Mayang, larutan pemasak (asam asetat glasial teknis, 98%), larutan pemutih (asam peroksida 30% dan asam aetat glasial teknis 95%); senyawa-senyawa kimia untuk analisis: KMNO4, KI, Na2S2O3, asam sulfat pekat (72%), asam hidroklorat (HClO3), NaOH, Na2CO3, etanol 95%, dan petroleum eter. 

Alat yang digunakan adalah rotary digester, flat refiner, alat penentu bilangan Kappa, alat penentu gramatur dan alat analisis.

 

Metode Penelitian

Semua perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari knsentrasi perasetat 0, 3, 6, 9, 12 dan 15%.   Data dianalisis sidik ragam dengan taraf 1% dan 5%.  Homogenitas diuji dengan uji Bartlet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey.  Analisis lanjutan dilakukan dengan uji Duncant pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1980). 

 

Pelaksanaan Penelitian

  1. A.   Persiapan bagase

Proses pembuatan pulp dimulai dengan bagase dicuci, dijemur sampai kering, kemudian dihilangkan empelurnya dengan menumbuk bagase sampai tinggal serat-seratnya dan ditampi, lalu diambil 1000 g. 

  1. B.   Pemasakan pulp

Pemasakan pulp dilakukan dengan menggunakan proses acetosolv.  Sebanyak 1000 g bagase dimasukkan ke dalam rotary digester (alat pemasak).  Kondisi pemasakan mengacu pada penelitian Gottlieb et al. (1992).  Pemasakan dilakukan dengan menggunakan larutan asam asetat dalam air dengan konsentrasi 80 (v/v), dan rasio larutan pemasak dengan serpih bagase 8:1 (v/b).  Suhu pemasakan maksimum 1600C pada tekanan yang terjadi pada suhu 1600C (± 2 atm), waktu tuju ke suhu maksimum 90 menit, waktu pada suhu maksimum 90 menit. 

 

 

 

  1. C.   Pencucian pulp

Pulp hasil pemasakan selanjutnya dicuci dengan menggunakan air pada suhu 800C dan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan air pada suhu ruangan hingga jenuh.

 Defibrilisasi

Defibrilisasi adalah proses yang bertujuan untuk memisahkan serat.  Proses ini dilakukan dengan menggunakan defibrator yang memiliki prinsip kerja seperti blender.  Pulp yang telah jenuh dimasukkan ke dalam defibrator menggunakan air sebagai media pemisahan serat.  Defibrisasi dilakukan hingga pulp terurai menjadi serat-serat mandiri (selama 3–5 menit). 

E. Pemutihan pulp bagase

Pulp dipanaskan pada asam perasetat dengan konsentrasi perlakuan pada suhu 85oC selama 3 jam.  Selanjutnya dilakukan pencucian dan pengeringan pada suhu kamar.  Kemudian dilakukan pengamatan seperti yang dilakukan pada pulp sebelum diputihkan.  Pulp yang sudah diputihkan selanjutnya diuji sifat-sifat kimia (kadar selulosa, hemiselulosa (Metode Datta, 1981), dan bilangan permanganat (SNI 0494-89).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen

Rendemen pulp yang dihasilkan berkisar antara 15,93 persen sampai 20,39 persen dengan rata-rata akhir adalah 18,67 persen.  Gambar 1 menunjukkan rendemen yang diperoleh dari hasil penelitian. 

                   

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Rendemen pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi asam perasetat (0%, 3%, 6%, 9%, 12%, dan 15%) tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen pulp.  Dari Gambar 1, dapat dilihat bahwa rendemen yang dihasilkan cenderung meningkat sampai pada konsentrasi 6% kemudian menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi asam prasetat, hal ini diduga disebabkan oleh adanya degraadasi dari selulosa.  Dence dan Reeve (1996) menyebutkan bahwa selama pemutihan pulp, degradasi selulosa dapat terjadi.  Degradasi selulosa ini diakibatkan sifat selulosa yang mudah terhodrolisis oleh asam.  Akibatnya, fragmen-fragmen  selulosa menjadi terlarut sehingga rendemen pulp yang dihasilkan lebih rendah.

Selulosa

Kandungan selulosa sangat perlu diketahui sebab selulosa berpengaruh terhadap kekuatan kertas yang akan dihasilkan.  Presentase selulosa yang dihasilkan berkisar antara 43,41 sampai 70,16 dengan rata-rata akhir adalah 55,74 (Gambar 2). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.  Kadar selulosa pulp hasil pemutihan dengan asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Dari Gambar 2, terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi asam perasetat maka kadar sampai pada konsentrasi 6% akan meningkatkan kadar selulosa tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi selulosanya semakin menurun.  Peningkatan selulosa disebabkan karena asam perasetat merupakan bahan kimia yang sangat selektif.  Terjadinya reaksi asam perasetat pada akarbohidrat melalui rekasi hidrolisis tidak terlalu tajam, tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi, penggunaan asam perasetat akan menyebabkan oksidasi polisakarida melalui pembentukan radikal hidroksi (Nevell dan Zeronian, 1985).  MacDonald dan Franklin (1969) yang menyatakan bahwa selama pemutihan pulp dapat terjadi modifikasi oksidatif dan hidrolitik serta degradasi selulosa.  Gugus fungsi dalam selulosa yang terserang adalah gugus hidroksil dan aldehid ujung menghasilkan aldehid, keton, dan formasi gugus karboksil.

Bilangan Permanganat

Bilangan Permanganat digunakan untuk menentukan tingkat kematangan atau daya terputihkan dari suatu  pulp kimia (Dewan Standarisasi Nasional, 1989).  Nilai bilangan permanganat  hasil penelitian berkisar antara 6,11 sampai 33,92 (Gambar 3).                                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.  Bilangan Permanganat pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

 

Dengan meningkatnya konsentrasi asam perasetat yang digunakan, penetrasi bahan pemutih tersebut tersebut ke dalam serat menjadi lebih sempurna yang mengakibatkan delignifikasi pulp akan semakin bertambah sehiungga menurunkan bilangan permanganat.  Kandungan lignin dalam pulp sangat erat hubungannya dengan bilangan permanganat. Ini didasarkan pada prinsip bahwa lignin akan menkonsumsi kalium permanganat dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pada komponen-komponen karbohidrat di dalam pulp. Sehingga penggunaan kalium permanganat bisa digunakan untuk mengukur kandungan lignin didalam pulp. Kandungan lignin di dalam pulp semakin rendah dengan rendahnya bilangan kappa dan bilangan permanganat (Fuadi dan Sulistiya, 2008).

 

Hemiselulosa

Hemiselulosa merupakan salah satu komponen utama dalam pulp sebab menurut Dence dan Reeve (1996) hemiselulosa memegang peranan penting dalam pengolahan serat dan pengikatan serat dalam lembaran kertas.  Selain itu Casey (1952) menyatakan bahwa hemiselulosa dapat mempengaruhi ketahanan tarik, retak, dan lipat karena berfungsi sebagai perekat antar serat.  Kadar hemiselulosa pulp berkisar antara 15,89 persen sampai 24,36 persen (Gambar 4) dengan rata-rata akhir adalah 18,78 persen. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.     Kadar hemiselulosa pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

Kadar hemiselulosa semakin  menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi asam perasetat, selain itu penurunan kadar hemiselulosa ini pun seiring dengan penurunan kadar  selulosa pulp.  Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin banyak selulosa yang terdegradasi oleh larutan asam asetat maka semakin banyak pula hemiselulosa yang terdegradasi. Dimana sebagian besar  hemiselulosa terikat bersamaan dengan seluklosa dalam dinding sel sedangkan sebagian kecil terikat dengan lignin (Fuadi dan Sulistiya, 2008).

Hemiselulosa berbentuk non kristal dan mudah dihidrolisis dan terikat kuat dengan selulosa dan lignin.  Bila selulosa mengalami degradasi akibat pengaruh konsentrasi asam perasetat maka hemiselulosa akan mudah terdegradasi menjadi unit-unit yang lebih sederhana dan larut dalam air sehingga menurunkan kadar hemiselulosa (Fengel dan wagener, 1989).  Menurut Hatakeyama et all (1968), xilan dan mannan dari hemiselulosa lebih mudah terputus dibandingkan selulosa.                                     

 

Derajat Keputihan

Derajat putih adalah perbandingan antara intensitas cahaya biru dengan panjang gelombang 457 nm yang dipantulkan oleh permukaan lembaran pulp dengan cahaya sejenis yang dipantulkan oleh permukaan lapisan magnesium oksida (MgO) pada kondisi sudut datang cahaya 450 dan sudut pantul 00 serta dinyatakan dalam persen (%) (SNI 14-0438-1989).  Derajat putih yang didapatkan setelah dilakukan pemutihan dengan asam perasetat, berkisar antara 15,0100oGE sampai dengan 32,0050oGE. Derajat keputihan tertinggi didapat pada pulp yang diberi perlakuan pemutihan dengan konsentrasi asam perasetat 15%. Sedangkan derajat keputihan terendah didapatkan pada pulp dengan perlakuan pemutihan asam perasetat 0%. (Gambar 5).

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.     Derajat putih pulp hasil pemutihan dengan  asam perasetat dalam berbagai konsentrasi.

 

            Peningkatan konsentrasi asam perasetat akan meningkatkan derajat putih pulp yang dihasilkan dari proses pemutihan.   Hal ini dapat terjadi karena menurut Lai dan Sarkanen (1968) proses oksidasi akan mengalir melalui ion-ion OH-.  Sedangkan Casey (1952) mengemukakan bahwa bahan aktif pemucat dalam proses pemucatan pulp dengan peroksida adalah ion OOH- yang berasal dari ionisasi H2O2. Ion ini menyerang lignin dan bahan-bahan pewarna lain dalam pulp secara selektif. Hal ini diperkuat dengan pendapat Hidayati (2000) yaitu OOH- mengoksidasi gugus kromofor pada lignin.  Goyal (1994) mengemukakan bahwa setiap peningkatan 1% asam perasetat akan meningkatkan derajat putih sampai batas tertentu.   Pemakaian H2O2 meningkat dengan naiknya pH, ini disebabkan karena dekomposisi H2O2 dipercepat dengan pH. Di sisi lain, perhydroxyl anion (HOO-) yang memberikan efek terhadap pemutihan terbentuk dari penambahan alkali terhadap hidrogen peroksida (Fuadi dan Sulistya, 2008).

 

KESIMPULAN

Semakin tinggi konsentrasi perasetat akan menurunkan kadar selulosa, hemiselulosa, dan bilangan permanganat serta meningkatkan derajat putih. Hasil terbaik pada proses pemutihan adalah menggunakan konsentrasi perasetat sebanyak 6% yang menghasilkan rendemen  20,39 %, kadar selulosa 70,16 %, hemiselulosa 18,2%, dan  bilangan permanganat 24,2 dengan derajat putih 18,4 oGE.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.  2005.  Pemanfaatan Ampas Tebu untuk Pulp dan Kertas.  Informasi hotspot 25 September 2005.

Aziz, S.B dan K. Sarkanen.  1989.  Organosolv Pulping.  TAPPI Journal.  March    1989.  169-175.

I.B.W.  1986.  Pengaruh Antrakinon-Soda terhadap Sifat-sifat Pulp Ampas Tebu dan Jerami.  Skripsi.  Teknologi Hasil Hutan.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Barr, C.  2001.  The Financial Collapse of asi Pulp & Paper:  Moral Hazardand Implication for Indonesia’s Forest, dalam Asian Development Forum-3, Bangkok.

BIRO.  2001.  Indonesia Pulp and Paper Industry.  Jakarta: PT Biro Data Indonesia.

Casey, J.P.  1952.  Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology I.  John and Wiley and Son.  New York.

Datta, R.  1981.  Acidogenic fermentation of lignocellulose acid yields and confertion of component.  Biotech Bioneg 23:2167-2170.

Darwis, A.A., Muliah, M. Yani, dan Rohmat.  1994.  Pengaruh Umur dan Konsentrasi Alkali Aktif terhadap Sifat-sifat Pulp Sulfat Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen).  Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. IV:1. 8-14.

Dence, C.V. dan D. W. Reeve.  1996.  Pulp Bleaching, Principle and Practice.  TAPPI PRESS.  Atlanta, Georgia.  Hal 10 dan 50.

Dewan Standardisasi Indonesia.  1989.  SNI 0494-1989-A.  Cara Uji Bilangan Permanganat, Bilangan Kappa, dan Bilangan Khlor Pulp.  Departemen Perindustrian. Jakarta.

Deperindag dan APKI.  2001. Industri Pulp dan Kertas 1999-2003: Realisasi 1999-2000 dan Proyeksi 2001-2003. Jakarta: Direktorat Industri Pulp dan Kertas.

Fengel, D. dan G. Wegener.  1995.  Kayu : Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi.  Diterjemahkan oleh Hardjono Sastromiharjo.  Gadjah  Mada  University   Press. Yogjakarta.  155 – 159.

Fuadi, A.M dan Sulistya, H.  2008.  Pemutihan Pulping dengan Hidrogen Peroksida.  Reaktor, Vol. 12 No. 2, Desember 2008, Hal. 123-128

Gottlieb, J.P., A.W. Preuss, J. Meckel, A. Berg.  1992.  Acetocell Pulping of Spurce and Chlorine Free Bleaching.  Proceding of the TAPPI Solvent Pulping Symposium.  Boston, November 5-6.

Goyal, S.K.  1994.  Bagasse bleaching Parameter Optimazition Pay.  IPPTA Vol 6 (3).

Haryadi, M.B.  1994.  Pengaruh Pengelompokkan Bobot Jenis, Kondisi Alkali Aktif, serta Jenis Pemutihan terhadap Sifat Pulp Sulfat Putih Kayu Campuran.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor. 4-22.

Hatakeyama, H, nakano, M.J and Migita, N.  1968.  Degradation of Cellulose with Peracetic Acid.  Kogua Kgaku Zusshin71 (1), p: 153-156.

Hidayati, S. 2000. Pemutihan Pulp Ampas Tebu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan CMC. Jurnal Agrosains Vol.13(1).

K.L.H.  2005.  Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 228 tahun 2005 Tentang Hasil Penilaian Peringkat Kerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.  Jakarta: Kementrian Lingkungan Hidup.

Macdonald, R.G. dan J.N.  Franklin, Ed.  1969.  Pulp and Paper Manufacture.  Second Edition.  Mc. Graw-Hill Book Company, Inc.  New York.

Muladi, S, E.T Arung,, N.M Nimz dan O.Faix.  2002.  Organosolv Pulping and Bleaching of Pulp with Ozone.  Lembaga Penelitian Universitas Mulawarman Samarinda.

Muladi, S., I.W Kusuma., O K Orsadchia and R. Pratt.  2000.  The elementary chlorine free bleaching (ECF) of some Indonesia timber estate wood species, hlm 335-340.  Di dalam M. Shimada, T Watanabe and T Yoshimura (Ed).  Sustinable Utilization of Forest Product:  Socio economical and Ecological management of tropical forest.  Proceeding of the third wood science symposium.  Japan.

Nevell, T.D daan Zeronian, S.H.  1985.  Oxidant of cellulose in Cellulose Chemistry and Its applications, Ellis Hardwood Limited Chiccherter-West Sussex, p: 243-265.

Pasaribu, R.A dan H. Roliadi.1989.Pengolahan Pulp Secara Kimia. Disajikan Dalam Rangka Alih Ilmu Pengetahuan dan Industri Pulp Kertas dan Papan Serat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosek Kehutanan Bogor.

Paturau, J.M. 1982. Sugar Series 3 : By product of The Care Sugar Industry on Introduction to Their Industrial Utilization. 2nd ed Elsevier Publ. Comp, New York.

Ruwelih.  1990.  Mempelajari Pengaruh Suhu Pemasakan dan Konsentrasi Soda terhadap Sifat Pulp dan Lindi Hitam dari Pemasakan Kayu Albasia (Albazzia falcataria Bucker) dan Ampas Tebu dengan Proses Soda.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Syafii, W.  2000.  Sifat Pulp Daun Kayu Lebar dengan Proses Organosolv.  Jurnal     Teknik Industri Pertanian.

Saptariyani, A.K.P.  1992.  Pengaruh Umur Kayu Albasia (Albazzia fulcataria (L) Fosberg).  Dan Kayu Karet (Hevea brasiliensis muell. Arg) terhadap Sifat Fisik Pulp Sulfat yang Diputihkan.  Skripsi.  Fakultas Teknologi Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Steel, R. G. D and Torrie, J. H. 1990. Prinsip dan Prosedur Statistik, Suatu Pendeketan Biometrik. Gramedia. Jakarta.

Suratmaji, T.  2001.  Perkembangan Teknologi Proses Pembuatan Pulp & Kertas Menyongsong Perkembangan 10 tahun KTT Bumi, Peran Penguasaan Teknologi Lingkungan, Jakarta.

www.kompas.com.

www.wartaekonomi.com



RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA CHINENSIS) == Astuti K, dkk
18 Juni 2011, 3:43 pm
Filed under: Penelitian

RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA CHINENSIS) TERHADAP PEMBERIAN BEBERAPA MIKROBA DAN ABU JANJANG KELAPA SAWIT PADA LAHAN GAMBUT

(Aloe Plant Growth Response (Aloe vera chinensis) To Gift Some Microbes And palm bunch Ash on Peatland)

Astuti Kurnianingsih1), Sudradjat2), Sudirman Yahya2)

1)Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

2)Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB Bogor

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi tanah gambut dengan menambahkan mikroba pada gambut sebagai starter dan menentukan dosis abu janjang yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman lidah buaya, Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit  PT. Bhumireksa Nusasejati, Teluk Bakau, Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemberian bahan organik + mikroba yaitu; tanpa starter mikroba/tanah gambut, tanah gambut + starter Lactobacillus, tanah gambut + starter Bacillus, dan tanah gambut + starter Trichoderma sp. Faktor kedua adalah dosis abu janjang kelapa sawit yaitu; 0 g/tanaman,  25 g/tanaman,  50 g/tanaman, 100 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian abu janjang kelapa sawit meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah. Dari persamaan regresi didapatkan bahwa dosis optimum abu janjang terhadap panjang daun 84.7 g/tanaman (27%), lebar daun sebesar 73.3g/tanaman (16,2%), tebal daun sebesar 65.7 g/tanaman (14,1%) dan bobot basah sebesar 97.8 g/tanaman (91%). Bahan organik yang diaplikasikan belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, jumlah anakan) dan terhadap bobot basah pelepah lidah buaya.

Kata Kunci : Lidah Buaya, Abu Janjang Kelapa Sawit, Mikroba, Gambut.

ABSTRACT

The objective of this research was increased decomposition peatland with kind of microbe as starter and determine dosages of palm bunch ash on growth and leaf fresh weight of Aloe vera chinensis. The research was conducted at PT. Bhumireksa Nusasejati Plantation Indragiri Hilir, Riau. The treatment were arranged factorially Randomized Block Design with 2 factors and 3 replication. The first factors was peat, peat + lactobacillus, peat + bacillus, peat + Trichoderma sp. The second factors was dosages of palm bunch ash,  0 g/plant, 25 g/plant,  50 g/plant, 100 g/plant. Result showed that the application kind of microbe not increased to crop on growth and fresh weight leaf. The application of dosages palm bunch ash significantly increased the plant height about 30.2 %, leaf lenght about 27 %,  leaf  width about  16.2 %,  leaf thickness about 14.1 %, number of leaf about   57.8 %, number of suckers about 14,4 % and leaf fresh weight  about 91 %. Generally the application of palm bunch ash showed kuadratic response to plant height, leaf lenght, leaf width,  leaf thickness, number of leaf, number of suckers and leaf fresh weight.

Keyword : Aloe vera chinensis, palm bunch ash, microbe, peatland.

 


PENDAHULUAN

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan  tanaman sukulen yang termasuk dalam famili Liliaceae. Berdasarkan hasil penelitian, lidah buaya memiliki kandungan zat nutrisi seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida, protein dan komponen lain. Tanaman ini menghendaki tanah yang mengandung bahan organik tinggi, dan tumbuh baik pada daerah gambut yang berpH rendah.

Tanah gambut termasuk dalam lahan marjinal, akhir-akhir ini usaha perluasan areal pertanian lebih diarahkan pada lahan marjinal yang biasanya terdapat di luar pulau Jawa.  Tanah  gambut  mempunyai   reaksi    masam   sampai sangat masam dengan KTK tinggi,  kejenuhan basa yang rendah. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju  dan penyediaan hara yang memadai untuk pertumbuhan tanaman terutama basa-basa seperti K, Ca, Mg dan unsur mikro.

Beberapa hasil penelitian pada lahan gambut menunjukkan bahwa teknologi pengelolaan tanah, pemampatan/pemadatan tanah, pemberian bahan amelioran berupa kapur, pupuk kandang, abu sawmil dan berbagai sumber pupuk fosfat alam serta pemberian pupuk makro N dan K, pupuk mikro CuSO4 (terusi),   FeSO4 dan ZnSO4 dapat meningkatkan produktivitas lahan gambut dan hasil tanaman padi, palawija serta hortikultura (Irawan,1999).

Pemberian abu bakaran tanah gambut memberikan hasil yang baik bagi pertumbuhan tanaman karena tambahan hara dari abu, tetapi memberikan dampak negatif bagi kelestarian tanah gambut (Ismunadji dan Soepardi, 1984).  Penggunaan tandan atau janjang kosong ini dapat menggantikan abu bakaran tanah gambut guna meningkatkan pH gambut.  Menurut Sanchez (1976), pembakaran sisa panen akan meningkatkan pH tanah serta dapat memberikan masukan unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman meskipun jumlahnya relatif kecil.  Penggunaan abu janjang kelapa sawit adalah salah satu cara untuk menaikkan pH di lahan gambut. Menurut Pandjaitan  et al., (1983), abu janjang  kelapa sawit dapat menaikkan  pH tanah dimana semakin tinggi dosis abu janjang kelapa sawit semakin naik pula pH tanah. Dari hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa limbah abu janjang kelapa sawit menandung K2O  35 – 40 % (Chan et al., 1982), tingginya kandungan K2O pada  abu janjang tersebut merupakan potensi sebagai sumber hara kalium bagi tanaman. Penambahan bahan organik yang tingkat dekomposisinya sudah lanjut merupakan tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman untuk meningkatkan dan mengoptimalkan manfaat pupuk sehingga efesiensinya meningkat. Disamping itu dengan menambah populasi mikroorganisme seperti Lactobacillus, Bacillus, maupun Trichoderma di dalam tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi tanah gambut dengan menambahkan mikroba pada gambut sebagai starter dan menentukan dosis abu janjang yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman lidah buaya.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit  PT. Bhumireksa Nusasejati, Teluk Bakau, Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah bahan organik + starter mikroba yaitu;  (M1) tanpa starter mikroba/tanah gambut), tanah gambut + starter Lactobacillus (M2), tanah gambut + starter Bacillus (M3), dan tanah gambut + starter Trichoderma sp (M4). Faktor kedua adalah dosis abu janjang kelapa sawit yaitu; A0 = 0 g/tanaman, A1 = 25 g/tanaman, A2 = 50 g/tanaman, A3 = 100 g/tanaman. Dari kedua faktor tersebut diperoleh  16 kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 48 unit percobaan.

          Sistem pengomposan dilakukan dengan sistem anaerob. Perlakuan Lactobacilus dan Bacilus  diberikan dalam media biakan dengan takaran 1 liter untuk 1 ton bahan organik,  Trichoderma sp diberikan dalam media biakan dengan 0,5 % bahan kering dicampur dengan dedak dan di inkubasikan selama 2 minggu, hasil inkubasi ini dicampur dengan tanah gambut dan diinkubasikan selama 1 bulan. Abu janjang diperoleh dari limbah padat kelapa sawit yaitu berupa tandan kosong yang dibakar di dalam incenerator, hasil pembakaran berupa abu yang digunakan sebagai pupuk. Lahan yang digunakan dibersihkan, selanjutnya dibuat parit keliling yang berfungsi untuk membuang air tanah yang berlebihan (drainase). Ukuran lubang tanam 20 cm x 20 cm x 20 cm, jarak tanam adalah 1 m x 1 m. Lubang tanam diberi abu dan diinkubasikan selama 7 hari. Bibit tanaman lidah buaya yang siap tanam dicirikan dengan tinggi 25 – 30 cm dengan jumlah 5–6 pelepah. Pada saat awal penanaman diberikan pupuk Urea (20g/tanaman) dan RP (10g/tanaman).

Pemeliharaan meliputi penyiraman, pembumbunan, penyiangan, pemupukan susulan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemisahan anakan. Peubah yang diamati yaitu tinggi tanaman, pertumbuhan daun (panjang daun, jumlah daun, lebar daun tebal daun), dan bobot basah daun.

Data hasil penelitian dari tiap peubah dianalisis menggunakan uji F pada taraf nyata 5 % dan dilanjutkan dengan uji Duncan jika hasil analisis tersebut berpengaruh nyata. Untuk mengetahui keeratan dan menentukan bentuk respon dari kurva hubungan peubah dengan taraf faktor perlakuan dilakukan Uji polinomial orthogonal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Respon Pertumbuhan Tanaman Lidah Buaya

Jenis mikroba tidak berpengaruh secara nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, dan jumlah anakan), sedangkan dosis abu janjang berpengaruh nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, dan jumlah anakan) serta bobot basah pelepah tanaman lidah buaya. Interaksi antara jenis mikroba dan dosis abu janjang tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah.

Tinggi tanaman

Dosis abu janjang memberikan pengaruh yang nyata. Perbedaan yang nyata sudah tampak sejak tanaman berumur 4 MST. Terdapat perbedaan sebesar 30.2 % antara perlakuan abu janjang dosis A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman) pada minggu ke-28.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. Dari Gambar 1 menunjukkan peubah tinggi tanaman mempunyai nilai  regresi  Y = 4.0365 + 0.551744x – 0.00405x2 dengan R2 = 0.623 sehingga didapatkan dosis optimum sebesar  68.1 g/tanaman.

Panjang daun.

Tabel 2 menunjukkan bahwa dosis A2 (50 g/tanaman) dan A3 (100 g/tanaman) tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan dosis A1 (25 g/tanaman) dan A0 (0 g/tanaman). Perbedaan yang nyata baru mulai tampak pada minggu ke-10 setelah tanam. Pemberian abu janjang meningkatkan panjang daun sebesar 27 %.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap panjang daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 2) dengan nilai  persamaan regresi     Y = 28.992 + 0.262482x – 0.00155x2 dengan R2 = 0.648. Dosis optimum dari pemberian abu janjang terhadap panjang daun sebesar 84.7 g/tanaman.

Tabel 1. Pengaruh pemberian abu janjang terhadap rata-rata tinggi  tanaman (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

24.9 b

27.3 b

29.4 b

31.6 b

33.4 b

36.1 b

37.9 b

39.6 b

41.4 b

41.8 b

41.9 b

42.0  b

42.6 b

A1

25.6 a

29.4 a

33.0 a

35.8 a

38.2 a

42.0 a

45.1 a

47.4 a

50.5 a

51.5 a

53.1 a

54.5 a

55.4 a

A2

25.9 a

29.6 a

33.1 a

35.2 a

38.1 a

43.2 a

46.6 a

49.1 a

52.4 a

53.5 a

56.0  a

57.6 a

59.6 a

A3

25.5 a

29.7 a

33.4 a

36.0 a

39.0 a

43.9 a

47.4 a

50.1 a

52.3 a

53.5 a

54.9 a

56.4 a

57.8 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Gambar 1. Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Tinggi Tanaman (cm) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Gambar 2. Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Panjang Daun (cm) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST


Tabel 2. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata panjang daun (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

22.3 a

23.08 a

24.09 a

24.38 b

25 b

25.01 b

25.86 b

26.93 b

28.01 b

28.51 b

28.7 b

28.79 c

28.96 c

A1

22.5 a

23.62 a

24.75 a

25.29 a

26.23 a

26.92 a

28.14 a

29.99 a

31.85 a

32.35 a

33.06 a

33.7 b

34.67 b

A2

23.1 a

24.03 a

24.9a

25.78 a

26.67 a

27.06 a

28.53 a

30.73 a

32.93 a

33.43 a

35.63 a

36.8 a

38.18 a

A3

22.8 a

23.91 a

25.05 a

25.72 a

26.41 a

27.26 a

28.77 a

30.91 a

33.05 a

33.55 a

35.18 a

36.73 a

39.73 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 3. Pengaruh pemberian abu janjang terhadap rata-rata lebar daun (cm)

Perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

2.65 a

2.8 a

2.93 c

3.01c

3.04 c

3.08 d

3.09 d

3.23 c

3.33 c

3.34 c

3.38   c

3.45 c

4.25 c

A1

2.81 a

2.96 a

3.21 ab

3.25 b

3.33b

3.39 c

3.41 c

3.54 b

3.77 b

4.05 b

4.25 b

4.45 b

4.77 b

A2

2.8 a

2.95 a

3.12 a

3.27 b

3.43 b

3.58 b

3.85 b

4.16 a

4.53 a

4.76 a

5.04 a

5.32 a

5.72 a

Gambar 3.     Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Lebar daun (cm) Terhadap  PemberianAbu Janjang umur 28 MST

Gambar 4.    Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Tebal daun (cm) Terhadap      Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

A3

2.82 a

2.97 a

3.28 a

3.42 a

3.64 a

3.83 a

4.01 a

4.24 a

4.57 a

4.69 a

4.91 a

5.14 a

5.42 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

 

 

Lebar daun

Lebar daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata mulai tampak pada minggu ke-8 setelah tanam. Terdapat perbedaan sebesar 16.2 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman).

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap lebar daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 3) dengan persamaan regresi Y = 3.342217 + 0.0695x – 0.000494x2 dan nilai R2 =0.807. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar 73.3 g/tanaman.

Tebal daun.

Tebal daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata mulai tampak pada minggu ke-6. Terdapat perbedaan sebesar 14.1 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A2 (50 g/tanaman).

Tebal daun menunjukkan pengaruh yang nyata dengan respon bersifat kuadratik (Gambar 4) dengan persamaan regresi yaitu Y = 1.14636 + 0.0159x – 0.000121x2 dan nilai R2 = 0.702. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar 65.7 g/tanaman.

Jumlah daun

Jumlah daun hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Perbedaan yang nyata sudah mulai tampak pada umur tanaman 4 MST hingga tanaman berumur 14 MST. Terdapat perbedaan sebesar  57.8 % pada perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan  A1 (25 g/tanaman), terdapat peningkatan sebesar 57.8 % setelah pemberian abu janjang dengan dosis 25 g/tanaman.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap jumlah daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (gambar 5) dengan persamaan regresi yaitu Y = 10.2435 + 0.0873x  – 0.000608x2 dan nilai R2 =0.67. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar  71.8 g/tanaman.

Jumlah anakan

Jumlah anakan hanya dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Jumlah anakan mulai tampak perbedaan nyata pada umur 12 MST. Terdapat perbedaan sebesar  144 % antara perlakuan A0 (0 g/tanaman) dengan A1 (25 g/tanaman),

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap jumlah anakan yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik (Gambar 6) dengan persamaan regresi yaitu Y = 1.31392 + 0.108395x   – 0.000664x2 dan nilai R2 =0.613. Dosis optimum dari pemberian abu janjang yaitu sebesar  81.6 g/tanaman.

Tabel 4. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata tebal daun (cm)

perlakuan

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

0.63 a

0.78 b

0.93c

1 b

1.04b

1.08 c

1.1 c

1.11 c

1.11 c

1.11

1.11 b

1.11 b

1.11 b

A1

0.69 a

0.89 a

1.1 b

1.28 a

1.28 a

1.28 b

1.28 b

1.29 b

1.29 b

1.36

1.46 a

1.5 a

1.57 a

A2

0.06 a

0.9 a

1.11 b

1.2 a

1.26 a

1.32 a

1.33 ab

1.34 ab

1.34 ab

1.36

1.46 a

1.5 a

1.57 a

A3

0.69 a

0.94 a

1.18 a

1.27 a

1.31 a

1.36 a

1.37 a

1.38 a

1.38 a

1.39

1.46 a

1.5 a

1.54 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 5. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata jumlah daun (helai)

PERLK

Minggu ke-

4

6

8

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

A0

4.68 c

5.49 b

6.23 b

6.7 b

 7.16 b

7.53 b

7.78 c

8.01 c

8.18 c

8.88 c

8.93 c

9.85  b

10.11 b

A1

4.85 bc

5.93 a

7.01 a

7.59 a

8.06 a

8.68 a

8.8 b

9.16 b

9.96 b

10.36 bc

10.41 bc

12.25 a

12.38 a

A2

5  b

6.14 a

7.21 a

7.64 a

8.16 a

8.91 a

9.48 a

10.36 a

10.9 a

12.6 a

12.83 a

13.5 a

13.5 a

A3

5.1 a

6.2 a

7.3 a

7.82 a

8.35 a

9.05 a

9.55 a

10.31 a

10.95 a

11.75 a

11.78 a

12.6 a

12.93 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 6. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata jumlah anakan (buah)

PERLK

28

Minggu ke-

10

12

14

16

18

20

22

24

26

A0

0.64

0.75 b

0.77 b

0.77 b

0.77 c

0.91 c

1.1 c

1.1 c

1.1 b

1.15 b

A1

1.25

1.61 a

1.93 a

1.95 a

2.51 b

2.92 b

3.8 b

4.04 b

5.02 a

6.23 a

A2

1.69

1.72 a

2.16 a

2.24 a

3.43 ab

 3.49 b

4.04 b

4.18 ab

4.32 a

4.75 a

A3

1.37

1.43 ab

2.18 a

2.3 a

3.93 a

4 .97 a

5.17 a

5.2 a

5.23 a

5.57 a

Gambar 6.   Grafik Regresi Respon Pertumbuhan Jumlah anakan (buah) terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Gambar 5.    Grafik Regresi Respon Pertumbuhan jumlah daun (helai) Terhadap Pemberian Abu Janjang umur 28 MST

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

Tabel 7. Pengaruh pemberian abu janjang  terhadap rata-rata bobot basah (buah) umur 32 MST

PERLK

Pelepah  ke-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

A0

4.91 b

13 b

24.75 b

55.41 c

98.33 d

144.17 c

171.25 a

176.33 d

162.5 d

140  d

121.25 d

100.45 d

A1

5.25 b

12.5 b

31 b

74.58 b

133.33 c

208.75 b

286.25 c

309.17 c

311.67 c

284.58 c

260.83 c

225.83 c

A2

8.41 ab

17.91 a

45 a

97.91 a

173.75 b

295.83 a

395 b

445 b

462.5 b

452.08 b

411.67 b

377.92 b

A3

Gambar 7. Grafik Regresi Respon Bobot basah (g) terhadap Pemberian Abu Janjang umur    32 MST

9.75 a

21 a

52.08 a

110.41 a

205 a

322.92 a

457.5 a

517.08 a

530.83 a

524.58 a

486.67 a

442.08 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf a = 0,05 %

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Bobot basah pelepah

Bobot basah pelepah hanya nyata dipengaruhi faktor  tunggal dosis abu janjang. Terdapat perbedaan sebesar 91 % terhadap bobot basah pelepah dengan pemberian abu janjang 25 g/tanaman. Gambar 6 menunjukkan bahwa bobot basah pelepah terbesar rata-rata dari semua perlakuan terdapat pada daun   ke-9.

Berdasarkan uji polinomial ortogonal  abu janjang berpengaruh  nyata  terhadap lebar daun yang ditunjukkan dengan respon bersifat kuadratik. (Gambar 7) dengan persamaan regresi  yaitu Y = 156.273 + 7.88455x – 0.0402x2 dan nilai R2 = 0.823. Dosis optimum yaitu sebesar  97.8 g/tanaman.

Pembahasan

Hasil percobaan menunjukkan bahwa jenis mikroba yang diberikan dalam pengomposan tanah gambut belum dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya, diduga pada saat pengomposan belum terjadi perombakan sempurna mikroba dan  faktor lingkungan yang belum optimal dalam perombakan tanah gambut oleh mikroba diantaranya adalah pH. Agustina (1996) mengatakan bahwa aktivitas biologi di dalam tanah juga dipengaruhi oleh pH tanah, pengaruhnya di dalam kecepatan penguraian bahan organik, pada pH 6 –7 mikroorganisme tanah paling aktif menguraikan bahan organik dan membantu cepatnya ketersediaan unsur hara dalam tanah dan menurut Soepardi (1983), bakteri memerlukan nilai pH antara 6,5 – 7,5 dan ragi memerlukan pH 4,0 – 4,5.  Diduga pula tanah gambut yang digunakan telah mengalami dekomposisi hampir sempurna, sehingga keberadaan mikroba-mikroba yang ditambahkan ke dalam tanah gambut sebagai inokulum untuk mempercepat laju dekomposisi belum memberikan pengaruh terhadap perubahan tanah gambut menjadi lebih matang.

Gambut adalah timbunan bahan organik yang mempunyai laju perombakan lambat. Lambatnya perombakan pada tanah gambut karena aktivitas mikroorganisme yang rendah. Perombakan dikatakan lebih sempurna jika nisbah C/N < 20. Dari tabel lampiran analisis tanah awal bahwa C-organik tanah sebesar 53,84 dan kandungan N sebesar 0,44 % ini berarti C/N tanah gambut sangat tinggi yaitu sebesar 122. Kussow (1971) mengatakan bahwa jasad mikro dapat memineralisasi bahan organik bilamana cukup tersedia N, kebutuhan N akan terpenuhi bilamana bahan organik mengandung 1,5 – 2,0 % N dan nisbah C/N sama dengan 20 atau 25. Bila bahan organik mengandung kurang dari 1,5 % N dengan C/N lebih besar dari 25, maka besarnya dekomposisi ditentukan oleh seberapa banyak N-anorganik dalam tanah yang dapat digunakan oleh jasad mikro. Kondisi asam (pH rendah) juga menjadi penghambat aktivitas mikrooganisme. Hasil penelitian Komariah et al., (1993) menunjukkan penggunaan mikroorganisme perombak selulosa dapat meningkatkan ketersediaan hara dan pH gambut, tetapi belum dapat menurunkan nisbah C/N.

Abu janjang kelapa sawit merupakan sumber hara kalium. Pemberian abu janjang memberikan pertumbuhan yang lebih baik daripada tanaman yang tidak diberi abu janjang pada semua taraf perlakuan jenis bahan organik tanah gambut. Tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun dan bobot basah pelepah nilainya lebih tinggi pada tanaman yang diberi perlakuan abu janjang (Tabel 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8). Pemberian abu janjang dapat meningkatkan bobot tanaman, jumlah daun dan cabang pada tanaman kacang buncis (Safo et al., 1997).

Fiksasi K tidak terjadi dalam tanah gambut sehingga  K dalam bentuk terlarut akan mudah tercuci bila tidak segera digunakan. Namun pemberian abu janjang sebagai pengganti K yang terus menerus dapat meningkatkan kandungan hara K di dalam tanah, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada penelitian ini pemberian abu janjang sampai batas tertentu meningkatkan kandungan hara K.

Respon kuadratik menunjukkan bahwa pemberian abu janjang dengan kisaran dosis 67 – 95 g/tanaman masih dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya tetapi jika dilakukan penambahan dosis maka pertumbuhannya akan konstan dan cenderung menurun.  Kemungkinannya adalah  unsur K diserap jauh lebih banyak dibandingkan unsur hara lain. Meningkatnya kandungan K daun sejalan dengan meningkatnya pemberian K pada tanah. Pemberian abu janjang memberikan informasi bahwa abu janjang dapat dimanfaatkan sebagai substitusi dari pupuk KCl. Menurut Nelson (1982) bahwa tingginya kandungan K dalam tanah meningkatkan pengambilan kalium oleh tanaman. Tetapi dengan meningkatnya dosis K yang berasal dari abu janjang akan menurunkan kandungan hara, hal tersebut sesuai dengan penelitian Viro dalam Mengel dan Kirkbly (1982) bahwa meningkatnya konsentrasi K dalam kultur larutan hara akan menurunkan kandungan Na, Ca dan Mg daun maupun akar.

KESIMPULAN

  1. Proses pembentukan kompos tanah gambut dengan penambahan mikroba belum dapat terdekomposisi secara sempurna diduga karena faktor lingkungan untuk pertumbuhan mikroba tidak optimal, sehingga kompos yang diaplikasikan belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya (tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, tebal daun, jumlah daun, jumlah anakan) dan terhadap bobot basah pelepah lidah buaya.
    1. Pemberian abu janjang kelapa sawit meningkatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya dan bobot basah pelepah.
    2. Dari persamaan regresi didapatkan bahwa dosis optimum abu janjang terhadap panjang daun 84.7 g/tanaman, lebar daun sebesar 73.3g/tanaman, tebal daun sebesar 65.7 g/tanaman dan bobot basah sebesar 97.8 g/tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Chan F, Suwandi , Tobing EL. 1982. Penggunaan abu janjang sebagai pupuk kalium pada pertanaman kelapa sawit. Pedoman TeknisPusat Penelitian. Marihat.

Irawan. 1999. Analisis Ekonomi Penerapan Teknologi Rehabilitasi Lahan Gambut Bongkor: Studi Kasus Di Kalampangan Kalimantan Tengah. Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Tanah, Iklim dan Pupuk. Puslittanak. BPPT. Lido 6 – 8 Des 1999.

Komariah ST, Prihartini dan ME Suryadi. 1993. Aktivitas Mikroorganisme dalam Reklamasi Tanah Gambut. Dalam: Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah dan Agroklimat: Bidang Kesuburan dan Produktivitas Tanah. Puslittanak. Bogor.

Kussow WR. 1971. Introduction to Soil Chemistry. Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Mengel K and Kirkby EA. 1982. Principal of Plant Nutrition. 3rd. International Potash Institut. Bern.Switzerland. 655.

Nelson WL. 1982. Interaction Of Potasium with Moisture and Temperature. Potash Review. Subject 16 No 1. Int Potash Institut Bern.Switzerland.

Panjaitan A. 1983. Pengaruh Abu Janjang Kelapa Sawit Terhadap Keasaman (pH) Tanah Podsolik, Regosol dan Alluvial. Bul. Penelitian Perkebunan Medan. 14 (3) : 97 – 106.

Safo EY, Ankomah, AB Brandford dan Arthur J. 1997. Palm bunch ash effects on growth of cowpea and the characteristic of Ghanian soil. Afican Crop Science Journal. 5(3): 303 -308

Sanchez PA. 1976.  Properties and Management of Soils in the Tropics. John Wiley and Sons. NewYork.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.  Institut Pertanian Bogor. Bogor



Pengaruh Pupuk Majemuk Terhadap Pertumbuhan == M Irwansyah Noor dkk
18 Juni 2011, 3:42 pm
Filed under: Penelitian

PENGARUH BEBERAPA PUPUK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN

BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH ALUVIAL DAN PODSOLIK MERAH KUNING

(Effects of Compound Fertilizer to the Growth of Oil Palm Young Plant on Alluvial and Red Yellow Podsolic)

 

M. Irwansyah Noor1, Kamillah2; Kambang Vetrani Asie2

1) Alumni Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

2) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

 

ABSTRACT

The aims of this experiment were to analyze the effects of different compound fertilizers to the growth of oil palm young plants on alluvial and red yellow podsolic, and the interaction between soil’s types and compound fertilizers. This experiment was held on a factorial completely randomized design consisting of two factors, first factor was the type of soil; Alluvial and Red Yellow Podsolic and the second factor was the type of compound fertilizer; Without Compound Fertilizer, Compound Fertilizer Dekastar Plus, Compound Fertilizer Mutiara, and Compound Fertilizer Bintang. The result indicated that application of compound fertilizers Mutiara, Dekastar Plus and Bintang on alluvial and red yellow podsolic gave better responses to the growth of oil palm young plants than control. Among the three types of compound fertilizers, compound fertilizers Mutiara gave better growth to oil palm young plant compared to compound fertilizer Dekastar Plus and Bintang, the different of soil types was not response significantly to the growth of oil palm young plant and there was not any interaction between soil types and compound fertilizer’s types to the growth of oil palm young plant.

 

Key words: oil palm young plants, Compound Fertilizer, Alluvial, Red Yellow Podsolic

 

ABSTRAK

Tujuan dari  penelitian ini untuk mengetahui kadar unsur beberapa pupuk majemuk yang berbeda terhadap pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit di tanah alluvial dan podsolik merah kuning, dan interaksi antara jenis pupuk majemuk dengan jenis tanah. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah jenis tanah yaitu tanah alluvial dan Podsolik Merah Kuning, dan faktor kedua adalah jenis dari pupuk majemuk yaitu Tanpa Pupuk Majemuk, Pupuk Majemuk Dekastar Plus, Pupuk Majemuk Mutiara, dan Pupuk Majemuk Bintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk majemuk Mutiara, Dekastar Plus dan Bintang di tanah alluvial dan podsolik merah kuning memberi tanggapan lebih baik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit dibanding kontrol. Di antara tiga jenis pupuk majemuk, pupuk majemuk Mutiara memberikan hasil pertumbuhan lebih baik terhadap bibit tanaman kelapa sawit dibandingkan dengan pupuk majemuk Dekastar Plus dan Bintang. Perbedaan kedua jenis tanah tidak berbeda nyata responsnya pada pertumbuhan bibit kelapa sawit, serta tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis tanah dengan jenis pupuk majemuk dalam pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

Key words : Bibit Kelapa Sawit, Pupuk Majemuk, Alluvial,  Podsolik Merah Kuning

 

 

 

 


PENDAHULUAN

          Dalam budidaya tanaman kelapa sawit banyak tahapan yang harus diperhatikan, salah satunya adalah tahap pembibitan, dimana tahap ini sangat penting agar dapat menghasilkan bibit kelapa sawit yang berkualitas baik dan tumbuh dengan optimal.

          Pada umumnya Provinsi Kalimantan Tengah terdiri atas jenis-jenis tanah podsolik merah kuning, organosol, laterit, regosol, aluvial, podsol, lithosol dan latosol. Dominasi terbesar oleh jenis tanah podsolik merah kuning dengan luas 6.033.693 ha, sedangkan jenis tanah aluvial memiliki luasan lahan 1.452.305 ha (BPS Kalteng, 2006). Dengan kondisi luas lahan seperti itu, menjadikan kawasan tersebut banyak dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit.

          Podsolik merah kuning memiliki tingkat kesuburan yang sangat rendah untuk tanaman pangan. Podsolik merah kuning juga memiliki pH yang rendah, dan seringkali mengalami keracunan aluminium, namun podsolik merah kuning memiliki tanggapan yang baik terhadap pemupukan, sehingga dengan perbaikan tanah dan pemberian pupuk, podsolik merah kuning dapat dikembangkan untuk lahan pertanian (Hardjowigeno, 2003; Foth, 1994).

          Tanah aluvial hanya meliputi lahan yang sering atau baru saja mengalami banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada diferensiasi horizon. Keadaan tekstur tanah tergolong kepada proses transportasi dan akumulasinya. Pada umumnya, tekstur tanah yang demikian memperlihatkan tekstur kasar jika terletak berdekatan dengan sungai dan bertekstur halus jika berjauhan dari sungai atau di luar jalur dataran banjir (flood plain) (Darmawijaya, 1990; Rafi’i, 1980).

          Baik tanah podsolik merah kuning maupun tanah aluvial, merupakan tanah yang tingkat kesuburannya kurang sehingga memerlukan pengolahan yang intensif untuk memperbaiki kualitas tanah agar dapat digunakan sebagai media tanam. Seperti podsolik merah kuning yang memiliki karakteristik pH, bahan organik, KTK, KB, Ketersediaan P dan retensi (daya simpan) air yang cukup rendah, serta tingginya kejenuhan Al, Fe dan tingkat erodibilitas tanah yang kurang standar untuk media tanam (Koedadiri, 2004).

          Pemberian pupuk majemuk yang baik kepada kedua jenis tanah tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman. Pupuk majemuk memiliki unsur hara makro yang sangat diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya, oleh karena itu pemberian pupuk majemuk dapat menambahkan unsur hara ke dalam tanah seperti unsur hara N, P dan K (Sutedjo, 1995).

          Pentingnya pembibitan kelapa sawit menyebabkan begitu pentingnya perawatan pada tahap pembibitan. Tingkat kesuburan tanah sangat mempengaruhi tahapan ini, dimana tingkat kesuburan tanah yang baik akan dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan cara pemberian pupuk untuk menambahkan unsur hara yang tidak tersedia bagi tanaman. Pupuk majemuk merupakan salah satu contoh pupuk yang dapat digunakan, dimana pupuk ini memiliki kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman dan baik untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara.

            Sebagian besar perkebunan kelapa sawit tersebar di daerah tanah podsolik merah kuning dan aluvial, sehingga pembibitan kelapa sawit sering menggunakan kedua jenis tanah tersebut. Kendala yang dihadapi kedua jenis tanah ini adalah kurang tersedianya unsur hara yang diperlukan tanaman, karena itu pemupukan dengan pupuk majemuk sangat membantu untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara tersebut.

            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah podsolik merah kuning dengan pemberian pupuk majemuk yang berbeda, pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah aluvial dengan pemberian pupuk majemuk yang berbeda dan interaksi antara perbedaan jenis pupuk majemuk dengan tanah podsolik merah kuning dan aluvial pada pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

          Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis tanah yang terdiri dari dua taraf, yaitu :

S1 = Tanah aluvial

S2 = Tanah podsolik merah kuning

          Faktor kedua adalah perlakuan tiga jenis pupuk majemuk yang berbeda kandungan hara NPK-nya dan satu tanpa pupuk majemuk.

P0 = Tanpa Pupuk Majemuk

P1 = Pupuk Dekastar plus (13: 13: 13: TE )

P2 = Pupuk Mutiara (16: 16: 16 )

P3 = Pupuk Bintang (15: 15: 15 )

          Dengan demikian terdapat delapan kombinasi perlakuan (Tabel 1), masing-masing kombinasi diulang sebanyak 3 (tiga) kali, sehingga secara keseluruhan terdapat 24 satuan percobaan. Satu kombinasi perlakuan terdiri dari enam tanaman.

 

Tabel 1. Kombinasi perlakuan jenis pupuk dan jenis tanah

Jenis Tanah (S)

Jenis Pupuk (P)

P0

P1

P2

P3

S1

S1P0

S1P1

S1P2

S1P3

S2

S2P0

S2P1

S2P2

S2P3

 

     Model linear aditif yang digunakan dalam penelitian ini, menurut  Yitnosumarto (1993) adalah sebagai berikut :

Yijk = m + Si + Pj + (SP)ij + eijk

 

Dimana :

Yijk    = Nilai pengamatan perlakuan pemberian pupuk majemuk ke-j terhadap jenis tanah ke-i pada ulangan ke-k (k = 1, 2, 3)

m       = Nilai tengah umum seluruh pengamatan (rata-rata umum)

Si       = Pengaruh jenis tanah taraf ke-i (i = 1, 2)

Pj      = Pengaruh jenis pupuk majemuk taraf ke-j (j = 1, 2, 3, 4)

(SP)ij =  Pengaruh interaksi antara jenis tanah ke-i dan jenis pupuk majemuk ke-j

eijk   =    Galat percobaan untuk jenis tanah ke-i, jenis pupuk majemuk ke-j pada ulangan ke-k.

            Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, luas daun yang diukur menggunakan metode kertas milimeter blok, bobot basah dan bobot kering biomass tanaman, serta kandungan N, P dan K dalam jaringan tanaman.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Pemberian pupuk majemuk yang berbeda memberikan hasil pertambahan tinggi bibit kelapa sawit yang signifikan dibandingkan dengan bibit kelapa sawit yang tidak diberikan pupuk majemuk (kontrol).

Dari ketiga jenis pupuk majemuk tersebut terlihat bahwa pemberian pupuk majemuk Dekastar Plus (P1) menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk majemuk Mutiara dan Bintang (Gambar 1).

Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang dapat digunakan untuk mengukur atau menduga pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.        Pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit pada umur 9 – 21 minggu setelah tanam (mst)

          Hingga umur 17 mst, pengaruh perlakuan pemberian pupuk majemuk tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun mulai bibit kelapa sawit berumur 19 mst hingga 21 mst baru pengaruh perlakuan terlihat nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

          Pada umur 19 mst terlihat jelas laju pertumbuhan bibit kelapa sawit, dimana pada bibit kelapa sawit yang digunakan sebagai kontrol hanya memiliki rata-rata tinggi sebesar 24,15 cm sedangkan pada bibit kelapa sawit yang diberikan perlakuan pemberian pupuk majemuk mutiara memberikan pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman yang lebih tinggi sebesar 27,95 cm.

          Pada umur 21 mst tampak jelas pemberian pupuk majemuk berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit, dimana jika dibandingkan dengan tanpa perlakuan (kontrol) hanya memiliki tinggi rata-rata sebesar 26,2 cm, sedangkan perlakuan pemberian pupuk majemuk dekastar plus menghasilkan tinggi rata-rata tanaman sebesar 32,5 cm.   

 

Luas daun

          Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman budidaya harus dapat menyerap sebagian besar radiasi matahari tersebut dengan jaringan fotosintesis yang hijau (Serano dkk, 1995). Daun sebagai organ utama untuk menyerap cahaya dan untuk melakukan fotosintesis pada tanaman daerah tropis memiliki struktur daun yang hampir menutup sebagian besar permukaan tanah (Lubis, 1992).

 

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Perkembangan luas daun bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

         

          Kelapa sawit termasuk dalam spesies tanaman budidaya golongan C4, dimanatanaman golongan C4 efisien dalam menggunakan radiasi matahari pada proses fotosintesis, dan cenderung menginvestasikan sebagian besar hasil fotosintesis pada awal pertumbuhan dalam bentuk penambahan luas daun (Salisbury dan Ross, 1995). Oleh sebab itu luas daun sering dijadikan sebagai parameter pertumbuhan untuk menduga adanya pengaruh perlakuan dalam penelitian.

          Hasil analisis ragam menunjukkan ada perbedaan yang nyata pada perkembangan luas daun dari setiap perlakuan yang diberikan. Hasil analisis ragam perkembangan luas daun menunjukkan pemberian pupuk majemuk mutiara memberikan perkembangan luas daun bibit kelapa sawit yang lebih luas dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 2).

          Hasil analisis ragam tidak menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara jenis tanah dan jenis pupuk majemuk pada bibit kelapa sawit. Dari semua pengamatan pada umur 13 – 21 mst terlihat perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara menunjukkan hasil yang baik di setiap jenis tanah, dimana pada pemberian pupuk majemuk Mutiara, perkembangan luas daun selalu meningkat. Hal ini dikarenakan pupuk majemuk Mutiara memiliki kandungan kadar unsur yang lebih tinggi dibanding jenis pupuk majemuk lainnya, dimana pupuk majemuk Mutiara memiliki kandungan NPK dengan komposisi 16:16:16. Selain itu pupuk majemuk Mutiara juga memiliki kandungan unsur hara sekunder seperti CaO dan MgO (Sutedjo, 1995).           

 

Bobot Basah Biomasa Bibit Kelapa Sawit

          Bobot basah tanaman budidaya hanya dapat digunakan untuk menggambarkan hasil asimilasi secara umum, bukan hasil asimilasi bersih karena masih mengandung sejumlah air dan sebagian kecil hara mineral. Meskipun demikian, jika kondisi air tanah stabil pada kapasitas lapang, maka bobot basah tanaman juga dapat untuk memprediksikan hasil bersih fotosintesis dan dengan demikian bobot basah tanaman bisa dijadikan sebagai salah satu parameter untuk mengukur pengaruh lingkungan tumbuh.

          Laju pertumbuhan tanaman budidaya adalah bertambahnya berat dalam komunitas tanaman persatuan luas tanah dalam satu satuan waktu, dan dapat digunakan secara luas dalam analisis pertumbuhan tanaman budidaya di lapangan (Gardner dkk, 1991)

          Hasil analisis ragam bobot basah biomasa bibit kelapa sawit pada umur 13, 17 dan 21 mst menunjukkan pada umur 21 mst, pemberian pupuk majemuk Dekastar Plus dan Mutiara kepada kedua jenis tanah bobot basah biomassa bibit lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol dan pemberian pupuk majemuk Bintang.    

Interaksi antara jenis tanah dan jenis pupuk majemuk tidak menunjukkan interaksi yang signifikan, dimana hasil analisis ragamnya tidak  berbeda nyata.

          Terjadinya keragaman perkembangan bobot basah bibit kelapa sawit yang signifikan diantara perlakuan pupuk majemuk menunjukkan bahwa secara kualitatif ada perbedaan diantara pupuk majemuk tersebut. Hal ini di karenakan pupuk majemuk Mutiara mengandung unsur hara N, P, dan K dengan perbandingan (16:16:16), yang berarti kandungan N sebesar 16%, P2O5 sebesar 16%, dan K2O sebesar 16%. Dimana dengan perbandingan tersebut menunjukkan kandungan hara N, P dan K yang terdapat pada pupuk majemuk Mutiara lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pupuk majemuk Bintang (15: 15: 15) dan pupuk majemuk Dekastar Plus (13: 13: 13).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.      Bobot basah biomassa bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

         

Bobot Kering Biomasa Bibit Kelapa Sawit

          Bobot kering total tanaman budidaya di lapangan merupakan akibat dari penimbunan hasil bersih asimilasi CO2 sepanjang pertumbuhannya, faktor utama yang mempengaruhi bobot kering total tanaman adalah radiasi matahari yang diabsorbsi dan efisiensi pemanfaatan energi matahari tersebut untuk asimilasi CO2 oleh daun (Gardner dkk, 1991).

          Hasil analisis ragam boot kering bibit kelapa sawit menunjukkan perbedaan yang nyata dari perbedaan jenis pupuk majemuk pada umur 21 mst. Pemberian pupuk majemuk terhadap dua jenis tanah memberikan pertumbuhan yang signifikan yang dapat dilihat dari bobot kering bibit kelapa sawit, dimana pemberian pupuk majemuk memberikan pengaruh yang nyata dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada kedua jenis tanah

          Pada umur tanaman 21 mst terlihat pemberian pupuk majemuk Mutiara menunjukkan Bobot kering bibit kelapa sawit yang lebih berat dibandingkan pupuk majemuk lainnya. Bobot kering tanaman budidaya di lapangan merupakan akibat dari penimbunan hasil bersih fotosintesis (asimilasi CO2) sepanjang musim pertumbuhan, yang telah dipengaruhi oleh berbagai dampak faktor penghambat dan pendukung dari lingkungan (Gardner dkk, 1991).

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.   Bobot kering bibit kelapa sawit umur 13, 17 dan 21 mst

 

          Terlihat perbandingan yang cukup signifikan pada bobot kering bibit kelapa sawit tanpa pupuk majemuk (kontrol) dengan bibit kelapa sawit yang diberi perlakuan, tetapi antar perlakuan pupuk majemuk tidak memperlihatkan pengaruh yang signifikan dimana bibit kelapa sawit yang diberi perlakuan pupuk majemuk memberikan hasil yang hampir sama. (Gambar 4).

          Interaksi dari tiga jenis pupuk majemuk dan dua jenis tanah tidak menunjukkan interaksi yang signifikan, dimana dari hasil analisis ragam tidak terjadi interaksi antara ketiga jenis pupuk majemuk terhadap jenis media tanah yang digunakan.

 

Kandungan Total Hara Bibit Kelapa Sawit

          Analisis kandungan unsur hara N, P, dan K dalam jaringan bibit kelapa sawit dilakukan secara komposit, yaitu dengan cara mencabut (destruktif) bibit kelapa sawit yang ditanam pada polibag, diambil satu bibit kelapa sawit sebagai sampel pada setiap kombinasi perlakuan dan ulangan, selanjutnya seluruh bagian tanaman (akar, batang dan daun) dianalisis kandungan unsur hara lebih lanjut. Hasil analisis kandungan unsur hara disajikan pada

          Hasil analisis jaringan tanaman menunjukkan bahwa kandungan hara tanaman kelapa sawit terbesar pada jenis tanah aluvial yang mendapat perlakuan pupuk majemuk Mutiara, dengan jumlah N-total tertinggi sebesar 1,59 %, kandungan P-total sebesar 626,31 ppm dan kandungan K-total sebesar 8.317,39 ppm, sedangkan pada tanah podsolik merah kuning, kandungan hara bibit kelapa sawit yang terbaik adalah perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara juga, dengan nilai N-total sebesar 1,11 %, P-total sebesar 322,70 ppm dan K-total sebesar 6.094,58 ppm.

          Pada kedua jenis tanah tersebut pemberian pupuk majemuk memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan bibit kontrol, dimana pemberian jenis pupuk majemuk Mutiara memberikan nilai kandungan unsur lebih besar dibanding dengan jenis pupuk majemuk yang lain. Hal ini dikarenakan pupuk majemuk Mutiara merupakan pupuk yang memiliki komposisi terbesar diantara jenis pupuk lainnya dan pupuk majemuk Mutiara ini merupakan jenis pupuk majemuk yang mudah terlarut di dalam tanah, sehingga dapat diserap dengan cepat oleh tanaman (Sutedjo, 1995).

Dari kedua jenis tanah tersebut terlihat perlakuan pemberian pupuk majemuk Mutiara memberikan pengaruh yang berbeda dari pemberian jenis pupuk majemuk lainnya. Terlihat jenis tanah aluvial memberikan respons yang lebih baik dibanding jenis tanah podsolik merah kuning, dimana nilai kandungan N-total, P-total dan K-total lebih tinggi dibandingkan pada jenis tanah podsolik merah kuning (Gambar 5).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Hasil analisis kandungan N, P dan K dalam jaringan tanaman  bibit kelapa sawit pada masing-masing perlakuan

 

KESIMPULAN

          Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh beberapa pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah aluvial dan podsolik merah kuning dapat disimpulkan:

  1. Pemberian jenis pupuk majemuk Mutiara, Dekastar Plus dan Bintang pada tanah aluvial dan podsolik merah kuning memberikan respons pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih baik dibandingkan kontrol. Dari ketiga jenis pupuk majemuk, pupuk majemuk Mutiara memberikan hasil pertumbuhan bibit kelapa sawit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk majemuk Dekastar Plus dan Bintang.
  2. Perbedaan kedua jenis tanah tidak berbeda nyata responsnya pada pertumbuhan bibit kelapa sawit.
  3. Tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis tanah dengan jenis pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BPS Kalteng. 2006. Kalimantan Tengah dalam Angka. Badan Pusat Statistik, Kalimantan Tengah. Palangka Raya

Darmawidjaja, M. I. 1990. Klasifikasi Tanah Dasar Teori Bagi Peneliti dan Pelaksana Pertanian Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Foth, H. D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Purbayanti, E.D., Lukiwati dan Trimulatsih, R. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Gardner, F. P., R. B., Pearce dan R. L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. (Terjemahan). UI Press. Jakarta

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta

Koedadiri, A. D. 2004. Produktivitas Kelapa Sawit Generasi Pertama Pada Tanah Ultisol di Beberapa Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia. PPKS (Avalable on-line with updates at http://www.iopri.orgindex.phpoption/com_content&task/section&id/105&Itemid/47.htm (verified 09 Okt. 2008)

Lubis, L. 1992. Usaha dan Budidaya Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta

Rafi’i. 1980. Ilmu Tanah. Angkasa. Bandung

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 1 (terjemahan). ITB. Bandung

Serrano L., J. A. Pardos, F. I. Pugnaire dan F. Domingo. 1995. Absorption of Radiation, Photosynthessis and Biomass Production in Plants. In Pessarakli M. (ed.) 1995. Handbook of Plant and Crop Physiology. Marcel Dekker, inc. New York – Hongkong.

Setyamidjaja, D. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta

Sitompul, S. M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Sutedjo, M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta

Yitnosumarto, S. 1993. Percobaan Perancangan Analisis dan Interprestasinya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.



Aplikasi Trichoderma Isolat PLK-1 == Rahmawati Budi Mulyani dkk
18 Juni 2011, 3:35 pm
Filed under: Penelitian

APLIKASI TRICHODERMA ISOLAT PLK-1 DAN WAKTU INKUBASI PUPUK KANDANG AYAM  DI TANAH GAMBUT UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG  JAGUNG MANIS  

(Application of Trichoderma  Plk-1 Isolates and Chicken Manure Incubation Time on Peat Soil Against

 Stem Rot Disease of Sweet Corn)

Rahmawati Budi Mulyani1), Melhanah1), dan Radityo2)

1)        Staf Pengajar di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

2)        Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya

 

ABSTRACT

Effect of incubation time of manure chicken in combination with application of Trichoderma sp. Plk-1 isolates in suppressing the intensity of the stem rot disease on sweet corn plants in peat soils have been studied from June 2007 until January 2008. Research using factorial completely randomized design, with the first factor is application of Trichoderma sp. Plk-1 isolates (with Trichoderma sp., Trichoderma sp. + manure chicken manure), while the second factor is the incubation time of manure (without incubation, incubation of 4 weeks, and 8-week incubation). The control group was treated without Trichoderma inoculation and chicken manure. The results showed that the application of Trichoderma isolates Plk-1 and chicken manure were significantly inhibits the development of disease up to age 4 wap (week after planting) did not cause the formation of sclerotium pathogens (4 weeks after planting). The addition of chicken manure to increase the effectiveness of antagonists was to be very good up to 100%. The longer incubation time of chicken manure which is accompanied by the addition of Trichoderma isolates Plk-1 tended to further improve plant resistance to stem rot disease due to renovation process of organic material will get better and viability sclerotia decreased.

Simak

Baca secara fonetik

Keywords: Trichoderma isolates Plk-1, incubation time, chicken manure, stem rot disease

ABSTRAK

Pengaruh waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam dikombinasikan dengan pemberian Trichoderma  sp. isolat Plk-1 dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang pada tanaman jagung manis pada tanah gambut telah diteliti dari bulan Juni 2007 sampai Januari 2008.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan faktor pertama adalah aplikasi Trichoderma  sp. isolat Plk-1 (dengan Trichoderma sp., Trichoderma sp. + pupuk kandang kotoran ayam), sedangkan faktor kedua adalah waktu inkubasi pupuk kandang (tanpa inkubasi, inkubasi 4 minggu, dan inkubasi 8 minggu). Perlakuan kontrol adalah perlakuan tanpa diinokulasi Trichoderma dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 dan pupuk kandang kotoran ayam sangat nyata menghambat perkembangan penyakit hingga umur tanaman 4 mst dan menyebabkan tidak terbentuknya sklerotium patogen (4 minggu setelah tanam). Penambahan pupuk kandang kotoran ayam meningkatkan  efektivitas antagonis menjadi sangat baik  hingga mencapai 100%. Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam yang disertai dengan  penambahan Trichoderma isolat Plk-1 cenderung semakin meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit busuk pangkal batang karena proses perombakan bahan organik akan semakin baik dan viabilitas sklerotia semakin menurun.

Kata Kunci : Trichoderma isolat Plk-1, waktu inkubasi, pupuk kandang ayam, penyakit busuk batang

 

 

 


PENDAHULUAN

Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii Sacc., merupakan jamur patogen yang inangnya sangat banyak, dilaporkan mempunyai tanaman inang antara 200-500 spesies (Punja, 1988). Infeksi jamur ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil hingga 80% (Widyanti, 2001). Jamur ini relatif sulit dikendalikan karena selain mempunyai banyak inang juga dapat membentuk sklerotium yang mampu bertahan di dalam tanah dalam waktu lama (Semangun, 2001). 

Sklerotium umumnya tidak mati oleh tindakan pengendalian kimiawi. Penggunaan jamur antagonis Trichoderma sp.sejauh ini telah teruji kemampuannya dalam mengendalikan jamur patogen tular tanah  seperti Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dan F. o. f.sp. cubense (Darnetty et al., 2003). Isolat-isolat lokal Trichoderma spp. asal Kalimantan Tengah memiliki kemampuan antagonis yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan F. o.  f.sp. cubense  secara in vitro (Saraswati et al., 2004).  Trichoderma isolat Plk-1 menunjukkan kemampuan yang lebih baik, namun keefektipan penggunaannya di lapangan dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium masih cukup rendah  (Mulyani dan Djaya, 2006).

Lahan gambut memiliki potensi cukup besar sebagai alternatif pengembangan pertanian di Kalimantan Tengah, namun memiliki kendala sehubungan dengan tingkat kesuburannya yang rendah. Gambut yang belum terdekomposisi sempurna biasanya kurang subur. Bahan organik merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah.  Peranan mikroorganisme tanah terhadap dekomposisi  bahan organik sangat besar (Lestari, dan Indrayati,  2000).      Trichoderma sp.  merupakan jamur saprofit tanah yang mampu merombak bahan-bahan organik untuk digunakan sebagai  sumber nutrisinya.  Pemberian pupuk kandang diperkirakan akan meningkatkan kemampuan dan aktivitas jamur tersebut sebagai antagonis terhadap jamur S. rolfsii

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam pada tanah gambut terhadap efektivitas Trichoderma  sp. isolat PLK-1 dalam menekan intensitas serangan S. rolfsii pada tanaman jagung manis pada tanah gambut.

BAHAN DAN METODE

Isolat S. rolfsii, Trichoderma sp. dan Bahan Tanaman.  Trichoderma sp. isolat Plk-1 dan isolat S. rolfsii merupakan koleksi Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Isolat diremajakan pada media potato dextrose agar (PDA), diinkubasikan pada suhu ruang selama 7 hari. Selanjutnya isolat diperbanyak pada substrat dengan komposisi  serbuk gergaji, dedak dan beras jagung (perbandingan 2 : 2: 1), untuk digunakan di lapangan sebagai inokulum maupun antagonis. 

Media tanam merupakan tanah gambut pedalaman pada tingkat kematangan hemik diambil dari lokasi yang belum pernah ditanami. Media tanam yang sudah dikering anginkan  dimasukkan dalam polibag dan ditambahkan pupuk Urea (6 g polibag-1), SP-36 (4,5 g polibag-1), dan  KCl (3,5 g polybag-1), substrat Trichoderma sp. dan pupuk kandang, selanjutnya diinkubasikan sesuai dengan perlakuan.  Patogen S. rolfsii  diberikan sebanyak 10g polibag-1 bersamaan dengan penanaman benih jagung manis, sedangkan Trichoderma diberikan sebanyak 1,2 kg polibag-1.Trichoderma diaplikasikan bersamaan dengan inkubasi pupuk kandang ayam, sedangkan S. rolfsii diinokulasikan bersamaan pada saat benih ditanam.

Rancangan dan Perlakuan.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama aplikasi  Trichoderma isolat Plk-1 (T1), aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 + pupuk kandang kotoran ayam (T2). Faktor kedua waktu inkubasi pupuk kandang ayam yaitu tanpa inkubasi (W0), waktu inkubasi 4 minggu (W1) dan waktu inkubasi 8 minggu (W2).  Setiap perlakuan diulang empat kali, keseluruhan terdapat 24 satuan percobaan.

Jumlah Sklerotium, Intensitas Penyakit, dan Efektivitas Antagonis.  Jumlah sklerotium  dihitung pada minggu keempat setelah tanam dengan metode wet sieving technique (Punja et al., 1985) dengan cara mengambil sampel media tanam sebanyak 10 gram, sampel tanah dicuci dengan air mengalir dalam ayakan 600 mm. Hasil ayakan dikeringanginkan dan sklerotia dihitung menggunakan hand tally counter.  Gejala penyakit busuk batang diamati pada pangkal batang dengan memberi nilai skor 0 =            tanaman sehat, 1= gejala nekrosis dengan luasan ½ lingkar batang, 2 = gejala nekrosis antara ½ – ¾ lingkar batang, 3        = gejala nekrosis telah melingkari batang, bercak cokelat telah meluas, dan kulit batang kadang-kadang sobek, 4 = batang yang terserang mulai terkulai dan sebagian daun layu, dan 5 = tanaman mati (Yusnita dan Sudarsono, 2004).  Intensitas penyakit (IP)  digunakan untuk menentukan keparahan serangan S. rolsii dengan rumus Djatmiko et al. 2000).

 IP = {∑(nixvi)/(NxZ)} x 100%

dimana i : 0-5, ni : jumlah tanaman yang bergejala dengan nilai skor tertentu, zi : nilai skor gejala, N : jumlah total tanaman yang diamati, dan Z : nilai skor gejala tertinggi.

Efektivitas antagonis ditentukan dengan rumus (Sukamto, 2003)

Ea = IPk-Ipp/IPk x 100%

Dimana :

 Ea = efektivitas antagonis, IPk = intensitas

penyakit pada kontrol (tanpa perlakuan), dan  IPp= intensitas penyakit dengan perlakuan. Nilai keefektifan antagonis ditentukan dengan kategori Sangat Baik (Ea > 69 %), Baik (Ea = 50-69 %), Kurang Baik (Ea = 30-49 %), dan Tidak Baik (Ea < 30 %).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Sklerotium.  Ketika menginfeksi tanaman S. rolfsii mengeluarkan asam oksalat dan sejumlah enzim yang dapat menyebabkan kebocoran elektrolit sel inang yang terserang.  Selain itu dalam proses infeksinya, sklerotia dapat dihasilkan dalam jumlah banyak baik di permukaan tanaman yang terserang atau di permukaan tanah sekitar tanaman.  Pada percobaan ini, sklerotia terbentuk pada perlakukan pemberian Trichoderma saja, walaupun jumlahnya cenderung menurun dengan lamanya waktu inkubasi.  Sedangkan pada perlakuan interaksi pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dan waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam patogen tidak membentuk sklerotium (Tabel 1). 

Tabel 1. Rerata Jumlah Sklerotium (4 mst)

Trichoderma (g/polybag)

Lama inkubasi (minggu)

 

W0

W1

W2

 
 

T1

19.00 c

10.75 b

13.00 b

 

T2

0.25 a

0.25 a

0.25 a

 

BNJ 5 %

8.5

 

Keterangan :     Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan menurut uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%

 

                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.        Interaksi pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dan waktu inkubasi pupuk kandang kotoran ayam

Hal ini akibat peranan dari jamur Trichoderma isolat Plk-1 sebagai antagonis yang mampu menekan perkembangan  S.rolfsii dan menghambat pembentukan sklerotium sebagai struktur bertahan patogen pada media yang kaya akan bahan organik.  Menurut Yulianti (1996), penambahan bahan organik (pupuk kandang)  ke dalam tanah akan meningkatkan aktivitas mikroba antara lain actinomycetes, bakteri dan jamur.  Genera Trichoderma, Aspergillus, dan Penicillium adalah jamur yang sering ditemukan meningkat populasinya pada tanah yang kaya akan bahan organik, dan seringkali bersifat antagonis terhadap jamur-jamur patogen tanah seperti S. rolfsii. Perlakukan Trichoderma ditambah dengan pemberian pupuk kandang ayam sampai dengan inkubasi 8 minggu mampu menekan pembentukan sklerotium (Gambar 1).  Sesuai dengan hasil penelitian Yulianti (1996), bahwa pupuk kandang ayam setelah diinkubasikan satu bulan mampu menurunkan viabilitas sklerotia S. rolfsii, kemampuan penurunan viabilitas dan degradasi sklerotia semakin besar dan habis setelah tiga bulan inkubasi.

Pemberian Trichoderma isolat Plk-1 dengan  penambahan pupuk kandang kotoran ayam tanpa inkubasi maupun yang diinkubasikan selama 4-8 minggu nyata menghambat pembentukan sklerotium.  Tersedianya bahan organik pada media tumbuh mampu menyediakan nutrisi yang cukup bagi mikroba antagonis sehingga koloninya berkembang cepat dan menghambat perkembangan koloni S. rolfsii. 

Pengamatan mikroskopis pada biakan oposisi Trichoderma isolat Plk-1 dan S. rolfsii memperlihatkan adanya malformasi miselium yang dilanjutkan dengan  degradasi dan lisisnya miselium patogen. Trichoderma isolat Plk-1 diduga mengeluarkan enzim selulase yang mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii dan miselianya mengalami lisis.  Kemampuan Trichoderma sp. memparasit jamur patogen merupakan komponen penting dalam mekanisme pengendalian hayati penyakit  tanaman.  Mulya dan Harmen (2003) melaporkan kemampuan T. harzianum mendegradasi dinding sel Phytophthora capsici karena menghasilkan enzim endoglukanase atau carboxymethyl cellulase (CMC-ase) yang termasuk dalam kompleks enzim selulase.

Intensitas Penyakit.  Gejala penyakit pada kontrol mulai terlihat pada umur 3 hari setelah inokulasi (hsi) dan semua tanaman pada kontrol menjadi layu dalam waktu yang singkat (umur 7 hsi).  Perlakuan aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 pada media tanam tanpa penambahan pupuk kandang ayam nampaknya belum mampu menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang (Tabel 2). Tingginya intensitas penyakit pada perlakuan tersebut diasumsikan bahwa Trichoderma isolat Plk-1 kurang mampu berkembang secara optimal pada media tanah gambut hemik yang memiliki tingkat dekomposisi pertengahan, sehingga koloninya kurang berkembang dengan baik bila dibandingkan dengan patogen S. rolsii. Pada perlakuan ini masih terdapat serangan penyakit busuk pangkal batang.

Tabel 2. Rerata Intensitas Serangan Penyakit Busuk Pangkal  Batang (Sclerotium rolfsii)

 

Umur Tanaman

 (mst)

Perlakuan

Waktu Inkubasi

W0

W1

W2

1

T1

24.00 b

41.50 b

28.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

19.66

2

T1

32.50 c

31.00 c

21.00 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

6.92

3

T1

36.50 b

25.50 b

44.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

20.07

4

T1

44.00 b

37.50 b

34.50 b

T2

0.00 a

0.00 a

0.00 a

BNJ 5 %

18.85

Keterangan :     Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan menurut uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%              

 

Kurang optimalnya  perkembangan Trichoderma dalam tanah  gambut akibat kurang tersedianya sumber nutrisi  berupa bahan organik yang bersumber dari pupuk kandang kotoran ayam.  Walaupun Trichoderma dapat mengkoloni pada media gambut ini namun laju perombakan bahan organik tidak dipengaruhi oleh populasinya. Menurut Lestari dan Indrayati (2000), semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang maka rasio C/N tanah gambut yang diinokulasi Trichoderma cenderung menurun.  Hal ini menunjukkan bahwa pelapukan bahan organik berlangsung dengan baik.  Bahan organik merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah. Peranan mikroorganisme tanah, antara lain Trichoderma, terhadap dekomposisi bahan organik sangat besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.   Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 pada media tanam tanpa penambahan pupuk kandang ayam.

  

Pemberian Trichoderma yang disertai dengan penambahan pupuk kandang ayam tanpa diinkubasi, inkubasi 4 dan 8 minggu nyata menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang mulai umur 1 mst (Tabel 2). Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang asumsinya pelapukan bahan organik pada tanah gambut oleh Trichoderma semakin baik, sehingga unsur-unsur hara seperti nitrogen, fosfor,  kalium, kalsium dan magnesium yang diperlukan oleh tanaman menjadi tersedia. Ketersediaan unsur-unsur tersebut diasumsikan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan  mampu mengimbas ketahanan tanaman yang pada akhirnya melindungi tanaman dari serangan patogen S. rolfsii. Lestari dan Indrayati (2000) melaporkan bahwa unsur hara N, P, dan K, serta pH tanah gambut meningkat akibat perombakan bahan organik dengan pemberian Trichoderma. Selain itu, menurut Yulianti (1996), pupuk kandang ayam setelah diinkubasikan satu hingga tiga bulan mampu menurunkan viabilitas sklerotia S. rolfsii dan terjadi degradasi sklerotia.  Hal inilah yang menyebabkan penurunan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang.

Efektivitas Antagonis. Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 dengan penambahan  pupuk kandang kotoran ayam  mempunyai efektivitas pengendalian sangat baik hingga mencapai 100%. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan Trichoderma dan pupuk kandang kotoran ayam walaupun tanpa diinkubasi efektivitasnya masih sangat baik bila dibandingkan dengan aplikasi Trichoderma tanpa penambahan pupuk kandang kotoran ayam (Tabel 3)

 

Tabel 3. Rerata Efektivitas Antagonis (%)

No.

Perlakuan

Efektevitas

Rerata

Kriteria

1

  2

    3

   4

 

1

T1W0

44.19

   38.10

  42.52

    5.38

 

28.90

TB

2

T1W1

3.49

  40.95

  59.84

    19.35

 

26.38

TB

3

1W2

33.7

  60

  29.92

    25.81

 

32.60

KB

4

T2W0

100

   100

  100

   100

 

100

SB

5

T2W1

100

   100

  100

   100

 

100

SB

6

T2W2

100

   100

  100

   100

 

100

SB

Keterangan :     TB = Tidak Baik; KB = Kurang Baik;

SB = Sangat Baik.

         

Efektivitas antagonis yang sangat baik sebagai akibat tersedianya bahan organik yang cukup dan terdekomposisi dengan baik, sehingga mekanisme antagonis yang dimiliki oleh Trichoderma dapat berjalan dengan baik.  Mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma sp. yaitu berupa kompetisi, mikoparasit dan antibiosis. Mikoparasit merupakan mekanisme yang paling berperan, karena Trichoderma sp. menghasilkan enzim litik, terutama kitinase dan ß 1-3 glukanase yang dapat mengakibatkan lisisnya dinding sel jamur patogen (Elfina et  al., 2001).

Hasil analisis tanah pada perlakuan Trichoderma dengan pupuk kandang ayam menunjukkan pengaruh yang lebih baik pada kondisi kimia tanah gambut yaitu terjadi peningkatan pH tanah (5,2),  penurunan rasio C/N (33,55), peningkatan N-total (1,92%), kadar P (346,33 ppm) dan K-dd (2,88 me/100g) (Kamillah et al., 2007).  Kondisi ini sangat mendukung perkembangan dari antagonis, karena unsur-unsur hara hasil dekomposisi bahan organik pada tanah gambut  merupakan sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan Trichoderma. Menurut Yulianti (1996), pupuk kandang ayam mempunyai kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang sapi ataupun babi, antara lain adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium.

 

KESIMPULAN

Aplikasi Trichoderma isolat Plk-1 yang disertai dengan penambahan pupuk kandang ayam tanpa diinkubasi, inkubasi 4 dan 8 minggu sangat nyata menghambat pembentukan sklerotia sekaligus menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang hingga umur 4 mst.  Semakin lama waktu inkubasi pupuk kandang asumsinya pelapukan bahan organik pada tanah gambut oleh Trichoderma semakin baik, sehingga unsur-unsur hara seperti nitrogen, fosfor,  kalium, kalsium dan magnesium yang diperlukan oleh tanaman menjadi tersedia.

Penambahan pupuk kandang kotoran ayam meningkatkan   efektivitas antagonis Trichoderma isolat Plk-1 menjadi sangat baik  hingga mencapai 100% sampai umur 4 mst.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Sdri. Kamillah SP., MP selaku ketua Tim Hibah Penelitian PHK A-2 tahun 2007. 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darnetty, Y. Liswarni, dan N. Litania.  2003.  Uji Kemampuan Tiga Spesies Trichoderma dalam Menekan Pertumbuhan F.o. f.sp. cubense Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang Secara In Vitro. Didalam : Prosiding Kongres XVII dan Seminar Ilmiah Nasional; Bandung,  6-8 Agustus 2003.  Bandung: Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. hlm 116 – 118

Djatmiko, H.A. , Kharisun, Prihatiningsih N. 2000. Potensi Trichoderma harzianum, Pseudomonas fluorescens dan Zeolit Terhadap Penekanan Layu Scelrotium, Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Kedelai. J. Penel. Pert. Agron. 4: 14-24.

Elfina, Y., Mardinus, T. Habazar, dan A. Bachtiar.  2001.  Studi Kemampuan Isolat-isolat Jamur Trichoderma spp. yang Beredar di Sumatera Barat untuk Pengendalian Jamur Patogen Sclerotium rolfsii pada Bibit Cabai.  Di dalam:  Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah;  Bogor, 22-24 Agustus 2001.  Bogor: Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. hlm 167 – 173

Kamillah, R.B. Mulyani, Basuki, S. Wibowo, dan L. Widyastuti.  2007.  Pengaruh Lama Waktu  Inkubasi Trichoderma isolat Plk-1 dan Pupuk Kandang Kotoran Ayam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis pada Tanah Gambut Pedalaman.  Laporan Penelitian PHK A-2, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya.

Lestari, Y., dan L. Indrayati.  2000.  Pemanfaatan Trichoderma dalam Mempercepat Perombakan Bahan Organik pada Tanah Gambut. Dalam Prosiding Seminar Hasil Peneltian Tanaman Pangan Lahan Rawa.  Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. hlm 160-165

Mulya, K., dan M. Harmen. 2003.  Degradasi Dinding Sel Phytophthora capsici oleh Enzim Karboksimetil Selulase Asal Trichoderma harzianum.  J. Penelitian Tanaman Industri 9 (2). p. 74-79 

Mulyani, R.B., dan  A.A. Djaya. 2007. Kajian Ketahanan Terimbas Beberapa Kultivar Pisang Lokal Terhadap Penyakit Layu Fusarium dengan Trichoderma spp. Isolat Kal-Teng. Jurnal Agripeat  8 (1). Hlm 1-8

Punja, Z.K.  1988.  Sclerotium (Athelia) rolfsii, a pathogen of many plant species.  Dalam Sidhu GS (ed.) Advances in Plant Pathology San Diego: Academic Pr. Hlm 523-534

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Yulianti, T.  1996.  Hubungan Antara Populasi Mikroorganisme pada Pupuk Kandang dengan Pengendalian Penyakit Tanaman.  Didalam : Kumpulan Makalah Penunjang Seminar Regional III PFI Komda Jateng dan DIY.  Salatiga,  9 November 1996. 9 hlm (makalah 1-13)

­­

 

 

 

 

 

Yustina dan Sudarsono. 2004. Metode Inokulasi dan Reaksi Ketahanan 30 Genotipe Kacang Tanah terhadap Penyakit Busuk Batang Sclerotium.  Hayati 11 (2) : hlm 53-58

Sukamto, S. 2003. Pengendalian Secara Hayati Penyakit Busuk Buah Kakao dengan Jamur Antagonis Trichoderma harzianum. Prosiding Kongres Nasional XVII dan Seminar Ilmiah PFI, Bandung 6-9 Agustus 2003. Hlm 134 – 137

Widyanti.  2001.  Uji Daya Hasil dan Respon terhadap Penyakit dari Berbagai Kacang Tanah Unggul Nasional (Skripsi) Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.



Pertyumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kedelai == Erina Riak Asie dkk
18 Juni 2011, 3:29 pm
Filed under: Penelitian

PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS KEDELAI ( Glycine max L. Merr.)

PADA TANAH GAMBUT PEDALAMAN DENGAN  PEMBERIAN

KOMBINASI AMELIORAN DAN N, P, K  

(Growth and Yield of three varieties of soybean (Glycine max L. Merr.) on Inland Peat Soil

 Fertilized by  ameliorant combination and N, P, K)

 Erina Riak Asie 1), Titin Apung Atikah1), Hajianur2)

1) Dosen Jurusan BDP Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

               2) Alumni Jurusan BDP Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok bifaktorial, faktor pertama adalah kombinasi dosis amelioran dan N, P, K  yang terdiri atas 5 taraf, yaitu A0 : 0 ton ha-1 dolomit + 22,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A1 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A2 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl); A3 : 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea ; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); dan A4 : 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg   ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl) ; faktor kedua adalah varietas kedelai (V) terdiri atas 3 varietas, yaitu V1 : varietas Wilis; V2 : varietas Baluran dan V3 : varietas Rajabasa. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi antara pemberian kombinasi dosis amelioran dan N, P, K dengan varietas kedelai  terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Ketiga veriaetas yang diujicobakan memiliki respons yang sama terhadap pemberian amelioran dan N, P, K.  Pemberian kombinasi amelioran bersama pupuk N, P, K dengan dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl) dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman.

Kata kunci: amelioran, N, P, K, varietas kedelai, gambut pedalaman

 

ABSTRACT

This study aims to determine the effect of the combination of ameliorant and N, P, K on growth and yield of three varieties of soybean in inland peat soil. The design used was randomized block design (RBD) bifaktorial, the first factor is the combination dosage ameliorant and N, P, K which consists of five levels; A0 : 0 ton ha-1 dolomit + 22,5 ton ha-1 chicken manure + (75 kg ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A1 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 chicken manure + (75 kg    ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A2 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 chicken manure + (37,5 kg ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl); A3 : 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 chicken manure + (75 kg ha-1 urea ; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); dan A4 : 4 on ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 chicken manure + (37,5 kg   ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl) ; second factor is the soybean varieties, consists of three varieties : V1 : varietas Wilis; V2 : varietas Baluran dan V3 : varietas Rajabasa.  Results showed that there was no interaction between dosage combination of ameliorant and N, P, K with soybean varieties on the growth and yield of soybean. Three varieties tested have a similar response on ameliorant and N, P, K. Giving ameliorant combination with fertilizer N, P, K with a dosage of 2,0 ton ha-1 dolomite + 15,0 ton ha-1 chicken manure + (37,5 kg ha-1 urea, 50 kg ha-1 SP 36; 50 kg ha-1 KCl) can increase growth and yield. 

Keywords: ameliorant, N, P, K, soybean variety, inland peat soil.

 


PENDAHULUAN

 

Kedelai merupakan komoditi tanaman pangan yang penting artinya. Sebagai bahan makanan, kedelai banyak mengandung protein, lemak dan vitamin serta unsur mineral lainnya. Kebutuhan masyarakat akan kedelai setiap tahun terus meningkat baik untuk bahan makanan, keperluan industri maupun untuk bahan makanan ternak. Kebutuhan kedelai dalam negeri tidak seimbang dengan produksinya, sehingga untuk mengatasi hal tersebutIndonesiaperlu mengimpor kedelai. Setiap tahunIndonesiaharus mengimpor kedelai lebih dari 1juta ton (BPS, 2009).

Kendala peningkatan produksi kedelai dalam negeri saat ini semakin beragam.  Konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian mempengaruhi luas areal pertanaman kedelai secara nasional.  Perluasan areal pertanaman kedelai masih dimungkinkan, yaitu dengan memanfaatkan tanah-tanah marjinal yang masih tersedia cukup luas, seperti tanah gambut. 

Terbatasnya pemanfaatan tanah gambut sebagai lahan pertanian karena adanya faktor-faktor pembatas pertumbuhan tanaman, terutama pH dan  kandungan hara yang rendah (Munir, 1996),  sehingga untuk meningkatkan produktivitas tanaman pada kondisi lahan demikian, diperlukan upaya antara lain penanaman varietas unggul yang toleran terhadap kemasaman tanah dan penggunaan amelioran sebagai bahan pembenah tanah serta pemupukan. 

Beragam sifat yang perlu diperbaiki pada tanah gambut pedalamn tidak mungkin hanya dengan aplikasi satu jenis amelioran saja, tetapi diperlukan perpaduan dari beberapa amelioran yang saling bersinergi dan dikombinasikan dengan pemberian pupuk anorganik untuk memperbaiki kendala budidaya kedelai pada tanah gambut.  Beberapa amelioran yang telah digunakan untuk ameliorasi tanah gambut antara lain kapur, abu, tanah mineral, dan pupuk organik.  Menurut Najiyati dkk., (1995),  penggunaan amelioran secara tunggal belum mampu meningkatkan hasil tanaman secara nyata, hal itu disebabkan masing-masing amelioran memiliki kelebihan dan kekurangan.  Selain itu, penggunaan amelioran secara tunggal akan memerlukan dosis yang cukup tinggi.

Penggunaan kapur dan pupuk kotoran ayam akan dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan sifat kimia tanah, namun masih belum mampu menyediakan unsur hara makro seperti N, P dan K yang diperlukan tanaman dalam jumlah relatif besar.  Oleh karena itu, pemberian kombinasi amelioran yang diberikan bersama dengan pupuk N, P, K bervariasi dosis diduga dapat meningkatkan produktivitas tanah gambut melalui perbaikan sifat-sifat tanah tersebut secara keseluruhan.

Bertitik tolak dari uraian tersebut, pengaruh pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K pada tanah gambut pedalaman terhadap tiga varietas kedelai masih perlu dikaji, karena setiap varietas mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap lingkungan dan tindakan budidaya.

 

BAHAN DAN METODE

 

Penelitian dilakukan di lahan petani yang bertempat di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli sampai Oktober 2009.

Bahan-bahan yang digunakan adalah benih kedelai (Varietas Wilis, Baluran, Rajabasa), dolomit, pupuk kotoran ayam, pupuk N, P, K, yang bersumber dari Urea, SP-36 dan KCl serta Pestisida. Alat-alat yang digunakan adalah alat pengolahan tanah, alat-alat pemeliharaan dan pengamatan tanaman.

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah kombinasi dosis amelioran dan N, P, K (A) yang terdiri atas 5 taraf yaitu : A0 : 0 ton ha-1 dolomit + 22,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A1 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg  ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); A2 : 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl); A3 : 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea ; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl); dan A4 : 4 on ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg   ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl). Faktor kedua adalah varietas tanaman kedelai (V) yang terdiri atas 3 varietas, yaitu : V1 : varietas Wilis; V2 : varietas Baluran dan V3 : varietas Rajabasa.

Variabel yang diamati adalah luas daun, bobot kering tanaman, dan hasil biji per petak.

Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis sidik ragam (Uji F) pada taraf α. = 0,05. Apabila terdapat pengaruh perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf  α  = 0,05.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Luas Daun

            Luas daun merupakan salah satu variabel yang dapat menjadi indikator pertumbuhan maupun sebagai variabel yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diberikan.

Pengaruh interaksi antara kombinasi amelioran bersama N, P, K dengan varietas terhadap luas daun tanaman kedelai tidak teruji nyata. Sedangkan faktor tunggal pemberian kombinasi amelioran bersama N, P, K berpengaruh nyata.  Luas daun tanaman yang diberi amelioran tunggal berupa dolomit (A0), lebih rendah dibandingkan luas daun tanaman yang diberi dua jenis amelioran, yaitu dolomit dan pupuk kotoran ayam (A1 – A4) pada berbagai kombinasi dosis N, P, K (Tabel 1).

Pemberian kombinasi dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg    ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl) mampu meningkatkan luas daun tanaman dibandingkan dengan perlakukan lainnya, namun tidak berbeda nyata dengan luas daun tanaman yang diberi 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl.

 

Tabel 1. Luas daun (cm2) tiga varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman dengan pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K pada umur 42 hst.

Kombinasi

Amelioran (A)

Varietas (V)

 

Rerata

V1

V2

V3

A0

A1

A2

A3

A4

  831,78

1303,31

1256,44

1143,90

1026,57

  997,43

1305,33

1324,89

1227,21

1046,22

  917,34

1632,89

1070,67

1085,33

1002,03

  915,52 a

1413,84 c

1217,33 bc

1152,15 ab

1024,94 ab

Rata-rata

1112,40

1180,22

1141,65

 

BNJ 5 %

A = 259,00

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNJ α = 0,05

Hal ini menunjukkan bahwa perpaduan dosis amelioran mampu mengurangi pemakaian pupuk anorganik sampai setengan dari dosis rekomendasi.  Pada kombinasi dosis amelioran 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam mampu memperbaiki kondisi kesuburan tanah gambut, sehingga mampu meningkatkan ketersediaan hara melalui peningkatan pH dan suplai unsur hara dari pupuk kotoran ayam, sehingga dengan setengah dosis rekomendasi N, P, K, yaitu masing-masing sebesar  37,5 kg ha-1 urea ; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl, mampu mendukung pertumbuhan tanaman kedelai yang terlihat dengan semakin besarnya luas daun. Pertambahan luas daun tanaman dengan pemberian kombinasi 2 jenis amelioran merupakan salah satu indikator kecukupan unsur nitrogen yang disuplai oleh pupuk kotoran ayam dan pupuk N yang bersumber dari Urea.  Hal itu ditunjang dengan peningkatan pH tanah akibat pemberian dolomit yang akan semakin meningkatkan ketersediaan unsur N di dalam tanah. Nitrogen merupakan unsur yang dapat mengatur penggunaan fosfor, kalium dan unsur hara lainnya (Rosmarkam dan Yuwono, 2002), sehingga suplai N yang tepat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Nitrogen berfungsi memperbaiki pertumbuhan vegetatif tananaman dan penting untuk pembentukan protein. Nitrogen merupakan bahan penting penyusun asam amino dan esensial untuk pembelahan dan pembesaran sel (Loveless, 1991), yang karenanya berlangsung pertumbuhan tanaman, antara lain pertambahan luas daun.

 

Bobot Kering Tanaman

Tanaman selama masa hidupnya atau selama masa tertentu membentuk biomassa yang digunakan untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Oleh karena itu, perubahan akumulasi biomassa dengan umur tanaman yang tercermin melalui bobot kering tanaman akan terjadi sehingga dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan.

            Pengaruh interaksi antara kombinasi dosis amelioran dan N, P, K dengan varietas tidak teruji nyata.  Pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K berpengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman. Pemberian amelioran tunggal berupa dolomit (A0) belum mampu meningkatkan bobot kering tanaman dibandingkan dengan pemberian 2 jenis amelioran (A1-A4) (Tabel 2).  Hal itu disebabkan karena pemberian dolomit dan pupuk kotoran ayam secara bersamaan akan saling bersinergi untuk memperbaiki kondisi kesuburan tanah gambut pedalaman yang memiliki pH dan kandungan basa yang rendah.  Dolomit adalah salah satu amelioran dengan kandungan Ca2+ dan Mg2+ yang tinggi sehingga mampu meningkatkan kejenuhan basa dan pH tanah.  Sedangkan pupuk kotoran ayam adalah amelioran yang memberikan efek yang baik bagi perbaikan kesuburan tanah gambut karena mengandung unsur hara lengkap.

Kelemahan kapur sebagai amelioran ialah karena kandungan unsur haranya tidak lengkap, sehingga pemberian kapur perlu diikuti dengan pemberian pupuk N, P, K.  Sedangkan kelemahan pupuk kotoran ayam sebagai amelioran adalah karena kemampuannya meningkatkan kandungan basa dan pH terbatas, sehingga memerlukan dosis yang cukup banyak dalam aplikasinya.  Oleh karena itu, pemberian kedua amelioran itu perlu dilakukan secara bersamaan sehingga bisa mengatasi kelemahan dari pemberian tunggal amelioran itu.

 

 

 

Tabel 2.  Bobot kering tanaman (g) tiga varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman dengan pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K pada umur 42 hst.

Kombinasi Amelioran (A)

Varietas (v)

 

Rerata

V1

V2

V3

A0

A1

A2

A3

A4

10,49

11,42

12,92

11,62

9,64

11,06

13,89

11,79

11,71

11,90

10,79

13,63

11,55

12,43

11,32

10,78 a

12,98 b

12,09ab

11,92 ab

10,95 a

Rata-rata

11,22

12,07

11,94

 

BNJ 5 %

A = 1,67

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda menurut uji BNJ α = 0,05

 

Diimbangi dengan pemberian pupuk N, P, K akan semakin meningkatkan produkstivitas tanah gambut dalam menunjang pertumbuhan tanaman kedelai yang ditunjukkan dengan semakin tingginya bobot kering tanaman pada tanaman yang diberi dua jenis amelioran dibandingkan dengan tanaman yang hanya diberi amelioran tunggal.  Hal itu berkaitan erat dengan ketersediaan unsur N, P, K akibat perbaikan pH karena pemberian dolomit.  Peran unsur N dan P dalam pertumbuhan sangat penting.  Kekurangan N dan P akan menghambat pertumbuhan tanaman (Fitchner dan Schulze, 1992 ; Bethlenfalvay et al., 1998). Goldsworthy dan Fisher (1996) mengemukakan bahwa pertumbuhan tanaman terlihat pada perkembangan akar, daun dan batang yang berhubungan dengan proses pembelahan sel atau pembentukan jaringan yang dapat dipelajari melalui bobot kering tanaman.  Pembelahan dan pembesaran sel sangat memerlukan unsur hara N, P, dan K.

 

   Bobot Kering Biji per Petak

Pengaruh interaksi antara kombinasi dosis amelioran dan N, P, K dengan verietas tidak teruji nyata. Pengaruh faktor tunggal pemberian amelioran dan N, P, K teruji nyata. Bobot biji yang dihasilkan oleh tanaman yang diberi amelioran tunggal (A0) lebih rendah dibandingkan dengan bobot biji tanaman yang diberi dua jenis amelioran (Tabel 3). 

 

Tabel 3.           Bobot kering biji per petak (g) tiga varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman dengan pemberian kombinasi amelioran dan      N, P, K.

Kombinasi Amelioran (A)

Varietas (v)

 

Rerata

V1

V2

V3

A0

A1

A2

A3

A4

61,98

84,27

54,80

74,63

62,63

53,82

103,31

84,13

69,02

68,58

62,86

82,53

77,64

67,25

65,83

59,55a

90,04b

86,18b

70,30a

65,68a

Rata-rata

67,66

75,77

71,22

 

BNJ 5 %

A = 15,67

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda menurut uji BNJ α = 0,05

Hal itu karena adanya sinergi dari kedua jenis amelioran dalam memperbaiki sifat-sifat tanah gambut pedalaman. Sejak pertumbuhannya, tanaman yang diberi dua jenis amelioran (A1 – A4) menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman yang hanya diberi amelioran tunggal (A0).

            Daun merupakan organ tanaman tempat terjadinya proses fotosistesis, dengan semakin luasnya daun tanaman sampai batas tertentu akan diikuti oleh peningkatan proses fotosintesis yang terlihat dengan semakin tingginya bobot kering tanaman. Pemberian dolomit bersama dengan pupuk kotoran ayam mampu meningkatkan pH dan ketersediaan unsur hara. Dengan demikian, ketersediaan unsur hara N, P, K, baik yang berasal dari pupuk kotoran ayam maupun dari pupuk N, P, K, dapat memenuhi kebututahan tanaman, yang terlihat dari lebih luasnya daun tanaman dan lebih beratnya bobot kering tanaman pada ketiga varietas yang diberi kombinasi dua jenis amelioran tersebut. Pasaribu dan Suprapto (1993) mengemukakan bahwa suplai hara N , P, K yang tepat sangat membantu pertumbuhan tanaman untuk mencapai hasil kedelai yang tinggi.  Hasil penelitian Selvakumari et al., (2000) menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan suplai nutrien, memperbaiki aerasi, memperluas zona perakaran dan meningkatkan absorbsi hara sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman.

            Bobot biji kering per petak tertinggi diperoleh pada pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K pada dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg    ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl) atau kombinasi dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg    ha-1 urea; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl)

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan, disimpulkan bahwa dalam upaya perbaikan dan pengembangan budidaya tanaman kedelai pada tanah gambut pedalaman, pemberian dua jenis amelioran yang dipadukan dengan pemberian N, P, K berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tiga varietas kedelai.  Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir berikut :

1.  Aplikasi perpaduan dari dua jenis amelioran yang dipadukan dengan pupuk N, P, K mampu bersinergi dan teruji lebih baik bila dibandingkan dengan aplikasi satu jenis amelioran saja. Perpaduan itu mampu meningkatkan luas daun dan bobot kering tanaman serta bobot kering biji per petak.

2.   Ketiga verietas yang diujicobakan memberikan respons yang sama terhadap pemberian kombinasi amelioran dan N, P, K.

3.   Hasil biji kering per petak tertinggi diperoleh pada kombinasi dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (75 kg   ha-1 urea; 100 kg ha-1 SP 36 ; 100 kg ha-1 KCl) atau kombinasi dosis 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37.5 kg   ha-1 urea; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl)

 

Saran

      Berdasarkan hasil penelitian, untuk meningkatkan hasil tanaman kedelai pada tanah gambut pedalaman dianjurkan untuk menggunakan dosis kombinasi amelioran 2 ton ha-1 dolomit + 15,0 ton ha-1 pupuk kotoran ayam + (37,5 kg   ha-1 urea; 50 kg ha-1 SP 36 ; 50 kg ha-1 KCl).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Pusat Statistik. 2009.  http://www.bps.go.id.

Bethlenfalvay, G.J., M.S. Brown, R.L. Franson, and K.L. Mihara.1998.  The Glycine-Glomus-Bradyrhizobium Symbiosis.  Nutritional Morphological and Physiological Responses of Nodulating Soybean to Georaphic Isolates of Mycorrhyza Fungus Glomus mossae.  Physiol. Plant. 76 : 226-232.

Fitchner, K., and E.D. Schulze.  1992.  The Effect of Nitrogen Nutrition on Growth and Biomass Partititoning of Annuals Originating from Habitats of Differents Nitrogen Availability.  Oecologia 92: 236-241.

Goldssworthy, P.R. dan N.M. Fisher.  1996.  Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik  Terjemahan Tosari. GadjahMadaUniversity Press,Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lovelles, A. R.  1991.  Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik.  Gramedia Pustaka Utama,Jakarta.

Munir, M.  1996.  Tanah-tanah Utama di Indonesia.  Pustaka Jaya,Jakarta.

Najiyati, S., Lili Muslihat dan IN.N. Suyadiputra.  2005.  Panduan Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan.  Wetlands International –Indonesia,   Bogor.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono.  2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius, Yogyakarta.

Selvakumari, G., M. Baskar, D. Jayanthi, and K.K. Mathan.2000.  Effect of Integration of Flays with Fertilizers and Organic Manures on Nutrient Availability, Yield and Nutrient Uptake of Rice in Alfisols. J. Indian Soc.  Soil Sci. 48(2):268-278.

Pasaribu, D., dan S. Suprapto. 1993.  pemupukan NPK pada Kedelai. p.159-170. Dalam S. Somaatmadja, Ismunadji, Sumarmo, M.Syam, S.O. manurung, dan Yuswandi (ed.)  Kedelai.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,Bogor.

 



Efek Perlakuan Jarak Tanam == Lilies Supriati dkk
18 Juni 2011, 3:28 pm
Filed under: Penelitian

EFEK PERLAKUAN JARAK TANAM TERHADAP PERKEMBANGAN  PENYAKIT

Helminthosporium maydis DAN Curvularia sp. PADA Zea mays saccharata Sturt

DI TANAH GAMBUT PEDALAMAN

(Effect of Plant Spacing to Disease Intensity Helminthosprium maydis and Curvularia sp.

 of Zea mays saccharata Sturt In Peatlands)

 

Lilies Supriati1), Jepriono Nipisa2), Ici Piter Kulu1) dan Dewi Saraswati1)

1)      Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian

2)      Alumni Jurusan Budidaya Pertanian

 

 

ABSTRACT

 

The aim of this study was to know diseases intensity and leaf spots Curvularia sp. on Zea mays saccharata  with plant spacing in peatlands. This research used Randomized Block Design (RBD) with four plant spacings , namely 60 cm x 30 cm, 60 cm x 60 cm, 60 cm x 30 cm x 60 cm, and 60 cm x 60 cm x 60 cm. The results showed that on 60 cm x 60 cm x 60 cm and 60 cm x 60 cm plant spacing, diseases intensity of leaf blight disease (Helminthosporium maydis Nisik)  and leaf spotting diseases (Curvularia sp) were lower than 60 cm x 30 cm, and 60 cm x 30 cm x 60 cm until 8 weeks after planting.

Key words: Zea mays saccharata, plant spacing, Helminthosporium maydis, Curvularia sp.

 

 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan intensitas serangan penyakit hawar daun H. maydis dan bercak daun Curvularia sp. pada tanaman jagung manis karena perlakuan jarak tanam di tanah gambut pedalaman.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan jarak tanam, yaitu 60 cm x 30 cm, 60 cm x 60 cm, 60 cm x 30 cm x 60 cm, dan 60 cm x 60 cm x 60 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm menunjukkan intensitas serangan  penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis) dan penyakit bercak daun (Curvularia sp.) nyata lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm, dan 60 cm x 30 cm x 60 cm hingga umur 8 mst.

Kata Kunci : Zea mays saccharata, jarak tanam, H. maydis, Curvularia sp.

 


PENDAHULUAN

Jagung manis merupakan salah satu varietas jagung yang memiliki keistimewaan karena kadar gula lebih tinggi dibanding jagung biasa.  Kadar gula jagung manis berkisar 13-14%, sedangkan pada jagung biasa hanya 2-3%. Selain memiliki keunggulan akan rasa manis, faktor lain yang menguntungkan adalah masa produksinya lebih cepat dibandingkan jagung biasa, dengan umur panen rata-rata 60-70 hari setelah tanam (Purwanto, 2000).  Salah satu kendala dalam meningkatkan dan mempertahankan produksi jagung adalah serangan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Helminthosporium sp. Penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 59%, terutama bila infeksi terjadi sebelum bunga betina keluar (Pakki, 2005). Spesies yang dominan menyerang pertanaman jagung di dataran rendah adalah Helminthosporium maydis,  sedangkan penyakit lainnya yang juga menyerang daun jagung adalah bercak daun Curvularia sp. Selain menyerang daun juga sebagai seed born diseases (Semangun, 1994). Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida terhadap kedua jenis penyakit ini kurang mampu apabila penanaman dilakukan pada musim hujan, karena tercucinya fungisida akibat air hujan.  Cara pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara kultur teknis, yaitu mengatur jarak tanam. Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk menciptakan kondisi faktor lingkungan yang dibutuhkan tanaman tersedia secara merata bagi setiap tanaman dan mengoptimasi penggunaan faktor lingkungan yang tersedia. Jarak tanam yang diatur sedemikian rupa dapat menekan intensitas serangan penyakit pada tanaman dan tidak menguntungkan bagi perkembangan patogen. Menurut Cahyono (2002), pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan jenis tanaman akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengaturan jarak tanam akan mempengaruhi populasi tanaman persatuan luas, pada jarak tanam yang rapat populasi tanaman menjadi lebih besar sehingga meningkatkan kelembaban yang dapat menstimulir berkembangnya patogen  dan kurang sesuai bagi persyaratan tumbuh tanaman, serta tanaman menjadi peka terhadap serangan penyakit.  Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan penyakit hawar daun H. maydis dan bercak daun Curvularia sp., pada tanaman jagung  manis di tanah gambut pedalaman karena perbedaan perlakuan jarak tanam.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kalampangan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan jarak tanam yaitu: 60 x 30 cm, 60 x 60 cm, 60 x 30 x 60 cm dan 60 x 60 x 60 cm, setiap perlakuan diulang 6 kali.

  Bahan yang diperlukan adalah: benih jagung manis varietas Sweet Boy, pupuk kotoran ayam, dolomit, pupuk urea, SP-36, KCl, insektisida Sidametrin 50 EC. Alat yang digunakan berupa peralatan olah tanah, kamera, alat-alat gelas di laboratorium, timbangan analitik  dan  mikroskop binokuler elektrik.

           Pengolahan tanah dilakukan dengan pencangkulan, kemudian dibuat bedengan berukuran 2 x 3 m.  Jarak antar bedengan 0,5 m dan jarak antar kelompok 1 m.  Di sekeliling lahan dibuat parit drainase untuk memudahkan pembuangan kelebihan air. Aplikasi pupuk organik kotoran ayam  (10 ton.ha-1) dilakukan bersamaan dengan pemberian dolomit dengan dosis 4 ton.ha-1, dengan masa inkubasi satu minggu .  Penanaman dilakukan setelah masa inkubasi, pada bedengan dibuat lubang tanam dengan ditugal sedalaman ±3 cm.  Setiap lubang tanam ditanam 1 benih jagung, kemudian ditutup dengan tanah.   Aplikasi pupuk urea (dosis 200 kg.ha-1) dilakukan saat tanam dilanjutkan pada umur 3 dan 5 mst, masing-masing diberikan 1/3 dosis.  Pupuk SP-36 (dosis 150 kg.ha-1) dan KCl (dosis 100 kg.ha-1) diberikan seluruhnya pada saat tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak sekitar 15 cm dari tanaman dengan kedalaman ± 10 cm.  Pemeliharaan tanaman meliputi: penyiraman, penyiangan, penyulaman, pembubunan,  dan pengendalian hama berdasarkan ambang kendali.  Pengendalian hama secara kimiawi menggunakan insektisida Sidametrin 50 EC  dilakukan mulai umur  2  mst   dengan   konsentrasi  2 ml.l-1 air.   Sidametrin berbahan aktif  sipermetin   50 g.l-1 bersifat racun kontak dan perut, dengan volume larutan semprot 500 l.ha-1.  Panen jagung manis dilakukan pada saat rambut tongkol telah bewarna coklat, tongkol terisi penuh dan bila biji ditekan menggunakan kuku akan mengeluarkan cairan berwarna putih susu atau tanaman telah berumur sekitar 9 mst.

Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah: intensitas serangan penyakit (%) dilakukan 7 kali pengamatan dengan interval 1 minggu sekali.  Pengamatan dilaksanakan pada umur 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 mst.  Intensitas serangan penyakit dihitung menggunakan rumus berdasarkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1998), sebagai berikut:

              z

          ∑ (ni x vi)

             i = o

I =                                x 100%

               Z x N

 

Keterangan :

I    =   Intensitas serangan (%)

ni  =   Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh (daun) dengan skala kerusakan vi

vi  =   Nilai skala kerusakan ke-i

N  =   Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh (daun)  yang diamati

Z   =   Nilai skala kerusakan tertinggi

 

Kategori skala kerusakan intensitas serangan penyakit dianggap tidak mutlak yang digunakan sebagai pedoman seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Kategori Skala Kerusakan Penyakit.

Intensitas serangan

Kategori

Tidak ada kerusakan pada daun

0

Kerusakan daun  1 – 5 % dari luas daun terserang

1

Kerusakan daun  5 – 25 % dari luas daun terserang

3

Kerusakan daun  25 – 50 % dari luas daun terserang

5

Kerusakan daun 50 – 75 % dari luas daun terserang

7

Kerusakan daun 75 – 100 % dari luas daun terserang

9

Sumber :    Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1998)

Pengamatan pendukung yang dilakukan meliputi :

  1. Pengukuran suhu dan kelembaban menggunakan Hygrometer,  alat diletakkan pada masing-masing bedengan perlakuan dengan jarak 30 cm di atas permukaan tanah, diamati pada pagi hari pukul 06.00 wib.
  2. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan menggunakan  lux meter dengan mengukur intensitas sinar datang diatas kanopi dengan sinar diteruskan kanopi.   Pengukuran dilakukan pada umur  3-8 mst.   Jumlah sinar tersekap oleh kanopi diperoleh dengan cara menghitung selisih antara sinar datang dengan sinar yang diteruskan kanopi.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F taraf α 5% dan 1%, bila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf α 5%.

 

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Serangan Penyakit Hawar Daun (Helminthosporium sp.)

Terdapat tiga species Helmintosporium yang menyerang tanaman jagung di dunia, yaitu H. tursicum, H. maydis dan H. carbonum (Semangun, 1994), sedangkan species Helminthosporium yang menyerang tanaman jagung di Indonesia ada dua, yaitu H. maydis dan H. tursicum (Sudjono, 1998 dalam Pakki, 2007).  Berdasarkan pengamatan terhadap gejala serangan penyakit hawar daun, terdapat bercak berwarna kelabu dengan panjang ± 4 cm dan lebar hingga 0,6 cm.  Bercak sejajar dengan tulang daun.  Berdasarkan pengamatan mikroskopis, konidia panjang dan bengkok seperti perahu dengan jumlah sekat 5-11.  Berdasarkan identifikasi terhadap gejala dan bentuk mikroskopis tersebut, penyakit hawar daun yang menyerang tanaman jagung manis di Kalampangan disebabkan oleh H. maydis  (Semangun, 1994).  Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sudjono (1998) dalam Pakki (2007) yang menyatakan bahwa di Indonesia baru terdapat dua species Helminthosporium yang menyerang tanaman jagung, yaitu H. tursicum dan H. maydis, dimana species H. maydis banyak ditemukan menyerang tanaman jagung pada dataran rendah.  

Hasil uji beda rata-rata menunjukkan perlakuan jarak tanam yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas serangan penyakit hawar daun (Tabel 2).  Pada Tabel 2 menunjukan intensitas serangan penyakit hawar daun pada jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam lainnya hingga pengamatan umur 8 mst, dan intensitas serangan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm.

Tabel 2. Nilai Rata-rata Intensitas Serangan Penyakit Hawar Daun (Helminthosporium maydis Nisik)  pada tanaman jagung manis umur 5, 6, 7 dan 8 mst.

Perlakuan

Intensitas Penyakit (%)

5 mst

6 mst

7 mst

8 mst

60x30cm

2,22b

6,72b

10,56b

13,47c

60x60cm

0,96a

2,90a

5,66a

8,38a

60×30 x 60cm

1,33ab

5,86b

8,46b

10,55b

60 x60 x60cm

0,74a

2,71a

5,45a

7,50a

BNT 5 %

0,83

1,63

1,87

2,86

 

Hal itu mengindikasikan bahwa pada perlakuan jarak tanam yang rapat dapat memicu perkembangan intensitas serangan penyakit menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan jarak tanam yang lebih lebar.  Kondisi ini dapat dilihat pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm intensitas serangan penyakit H. maydis selalu meningkat pada setiap waktu pengamatan.  Sedangkan pada jarak tanam yang lebih lebar (60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm) intensitas serangan penyakit yang terjadi lebih rendah dibandingkan jarak tanam yang sempit.  Balitbangtan (2010) melaporkan pada lahan yang relatif terbuka (jarak tanam lebih lebar) dapat mengurangi serangan penyakit, kelembaban semakin berkurang sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.

Djafarudin (2000) menyatakan bahwa kebanyakan penyakit diperkuat oleh kelembaban yang tinggi, maka penanaman dan penyebaran biji yang terlalu rapat akan membantu serangan penyakit.  Oleh karena itu, jarak tanam harus diatur sedemikian rupa sesuai dengan kesuburan tanah dan sifat dari tajuk tanaman.  Jumar (2000) menambahkan rerata suhu udara yang baik untuk pertumbuhan yang optimum adalah sekitar 17 0C, dengan rerata suhu udara minimum 10 0C dan suhu udara maksimum harian adalah 24­­­­ 0C dan rerata kelembaban udara yang tinggi dapat mendukung berkembangnya penyakit yang disebabkan cendawan.

Helminthosporium maydis merupakan spesies yang dominan di pertanaman jagung pada dataran rendah.  Berdasarkan hasil pengukuran suhu di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui suhu rata-rata masing-masing perlakuan adalah : jarak tanam 60 cm x 30 cm  suhu di sekitar tanaman 27,86oC, jarak tanam 60 cm x 60 cm suhu rata-rata 28,86oC, jarak tanam 60 cm x 30 cm x 60 cm suhu rata-rata 28,57oC, dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm suhu rata-rata di sekitar tanaman sebesar 29,43 oC. Spesies H. maydis ditemukan pada dataran rendah dengan suhu optimum 20−30oC,  pada keadaan suhu ini H. maydis lebih berkembang dibanding spesies Helminthosporium lainnya. Perkembangan H. maydis terhambat pada suhu 35oC, dan suhu terbaik untuk perkembangannya sekitar 30oC dengan sebaran hari hujan tinggi selama musim tanam dan kelembaban sekitar 90 %, serta radiasi matahari harian rendah, sekitar 41,20%  (Pakki, 2005).   Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban udara di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui kelembaban rata-rata antara 47,29 – 51% dan kurang dari 83,20%.  Keadaan kelembapan yang demikian kurang mendukung perkembangan H. maysdis, terutama pada produksi pemencaran konidium sehingga intensitas serangan juga rendah. Jamur melepaskan banyak konidium pada siang hari setelah satu malam yang panas dengan kelembaban nisbi di atas 90%. Suhu optimum untuk pembentukan konidium adalah 20-26 0C. Untuk sporulasi tidak diperlukan air bebas, tetapi diperlukan suatu masa gelap dan agar dapat terjadi infeksi harus ada air bebas.  Infeksi memerlukan waktu 6-18 jam pada suhu 18-27 0C (Semangun, 1994).  Oleh sebab itu, pada hasil penelitian ini intensitas serangan penyakit hawar daun yang terjadi masih tergolong ringan < 25%.   Sudjono (1990) menambahkan, bahwa dengan curah hujan yang rendah (6,0 −16,5 mm/bulan) pada musim kemarau, intensitas penyakit hawar daun sangat rendah dibanding pada musim hujan dengan curah hujan 210−480 mm/bulan. Perkembangan penyakit tersebut berkaitan dengan suhu dan kelembaban, pada musim kemarau, suhu udara meningkat dan kelembaban pada siang hari menurun. Sebaliknya, pada musim hujan, suhu siang hari lebih rendah dan stabil serta kelembaban cenderung lebih tinggi dengan variasi tidak ekstrim. Kondisi tersebut mengakibatkan sporulasi H. maydis meningkat atau spora di udara cukup tersedia sehingga peluang terjadinya infeksi cukup besar. Akibatnya, intensitas serangan selalu lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Intensitas serangan H. maydis juga dipengaruhi oleh iklim. Pada sebaran hari hujan lebih tinggi dengan kelembaban lebih besar (83,20 %) dan sebaran radiasi harian matahari yang rendah (38,15%) cukup kondusif bagi perkembangan H. maydis.  Berdasarkan hasil pengukuran penyekapan sinar pada kanopi, rata-rata radiasi di sekitar tanaman pada jarak tanam 60 cm x 60 cm sebesar 39,72% dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm rata-rata radiasi sebesar 41,32%.  Keadaan radiasi di sekitar tanaman yang lebih besar dari 38,15% ini, menyebabkan intensitas serangan H. maydis lebih rendah.

Pengaturan jarak tanam mempengaruhi jumlah populasi tanaman persatuan luas, pada jarak tanam yang rapat jumlah populasi tanaman menjadi lebih besar. Hal ini dapat meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman yang dapat menstimulir berkembangnya patogen sehingga  tidak sesuai dengan persyaratan tumbuhnya tanaman dan menyebabkan tanaman menjadi peka terhadap serangan penyakit (Cahyono, 2002).  Muis (2007) mengemukakan bahwa menanam secara berjajar akan menurunkan suhu dan kelembaban relatif di bawah kanopi dan penetrasi sinar matahari, kondisi seperti ini tidak menguntungkan bagi perkembangan penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung.

Intensitas Serangan Penyakit Bercak Daun Curvularia sp.

Hasil identifikasi bentuk gejala serangan penyakit bercak daun dan pengamatan mikroskopis terhadap bentuk konidia, penyebab penyakit bercak daun pada tanaman jagung manis di Kalampangan disebabkan oleh Curvularia lunata.  Dengan ciri konidia bersekat 1-3, sel nomor dua lebih besar dan lebih gelap (http://pir.uniprot.org/taxonomy/5503, 2010).  Hasil uji beda rata-rata menunjukkan perlakuan jarak tanam yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas serangan penyakit bercak daun Curvularia sp. (Tabel 3).  Pada Tabel 3 menunjukan intensitas serangan penyakit bercak daun pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam lainnya hingga pengamatan umur 6 mst, dan intensitas serangan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm.    Sedangkan pada pengamatan umur 8 mst intensitas serangan nyata lebih tinggi hanya terjadi pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm dibanding perlakuan jarak tanam lainnya.

Sama seperti penyakit hawar daun, perkembangan penyakit bercak daun Curvularia sp. sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama suhu dan kelembaban.  Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban udara disekitar tanaman pada 8 mst diketahui kelembaban rata-rata antara 47,29–51,00% dan kurang dari 90%, keadaan mikroklimat yang demikian kurang mendukung perkembangan penyakit Curvularia sp.  Perkembangan penyakit bercak daun sangat dipengaruhi oleh kelembaban.  Kelembaban nisbi yang diperlukan paling rendah 95% yang berlangsung selama 6-8 jam.  Dalam cuaca kering, penyakit baru berkembang banyak bila tanaman berumur 70 hari, sedang dalam cuaca lembab terjadi pada umur 40-45 hari.

Tabel 3. Nilai rata-rata Intensitas Serangan Penyakit Bercak Daun (Curvularia sp)  pada tanaman jagung manis umur 5, 6, 7 dan 8 mst

Perlakuan

Intensitas Penyakit (%)

5 mst

6 mst

7 mst

8 mst

60x30cm

1,40b

2,28b

4,01c

5,36b

60x60cm

0,59a

0,93a

2,01a

2,54a

60×30 x 60cm

0,96b

1,91b

2,90b

3,47a

60 x60 x60cm

0,37a

0,86a

1,79a

2,28a

BNT 5 %

0,53

0,68

0,81

1,47

 

  Hasil penelitian Supriati (2001) menunjukkan bahwa intensitas serangan penyakit bercak daun Curvularia sp. tertinggi terjadi pada perlakuan tanpa fungisida dengan intensitas serangan 35,78% dan tergolong dalam serangan sedang, penelitian dilakukan pada musim kering bulan April-Juni. Berdasarkan hasil pengukuran suhu di sekitar tanaman pada 8 mst diketahui suhu rata-rata masing-masing perlakuan jarak tanam 60 cm x 30 cm 27,86 oC, jarak tanam 60 cm x 60 cm 28,86 oC, jarak tanam 60 cm x 30 cm x 60 cm 28,57 oC, dan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm 29,43 oC.  Perkembangan penyakit bercak daun terjadi pada suhu optimum 24-30 ºC.  Pada suhu yang relatif rendah diperlukan waktu yang lebih panjang (Semangun, 1994). 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian efek perlakuan jarak tanam terhadap perkembangan penyakit hawar daun dan bercak daun Curvularia sp. pada tanaman jagung manis di tanah gambut pedalaman disimpulkan sebagai berikut :

  1. Perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm nyata dapat menurunkan intensitas serangan  penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis Nisik) hingga umur 8 mst.
  2. Perlakuan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 60 cm serta 60 cm x 30 cm x 60 cm nyata dapat menurunkan intensitas serangan  penyakit bercak daun (Curvularia sp) hingga umur 8 mst.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).  2010.  Tanam Padi Jajar Legowo Di Lahan Sawah, Buletin Pertanian Edisi Pebruari 2010 : 09-32. 

Cahyono, B. 2002. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis : Analisis Kelayakan, Secara Intensif, Jenis Kubis Putih. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Djafarudin. 2004. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. 1998. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Proyek Pengendalian Hama Terpadu.  Jakarta.

http://pir.uniprot.org/taxonomy/5503.  Akses 18 Juli 2010.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Muis, A.  2007.  Pengelolaan Penyakit Busuk pelepah (Rhizoctonia solani Kuhn.) pada Tanaman Jagung.   Jurnal Litbang Pertanian 26(3) : 100-103. 

Pakki, S.  2005.  Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun (Helminthosporium sp.) Pada Tanaman Jagung.  Jurnal Litbang Pertanian 24(3) : 101-108. Purwanto.  2000.  Tehknik Budidaya Jagung Manis.  Bina Bangsa.  Bogor.

Semangun, H.  1994.   Penyakit-penyakit Tanaman Pangan Di Indonesia.  Gadjah Mada university Press.  Yogyakarta.

Sudjono, M.S. 1990.  Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.   Bogor.

Supriati, L.  2001.  Efektifitas Lima Jenis Fungisida terhadap Serangan Penyakit Bercak Daun Curvularia sp.  pada Tanaman Jagung Manis. Agripeat 2(1) : 20-23.



Pertumbuhan Tanaman Jagung ==== Gusti Irya dkk
18 Juni 2011, 3:26 pm
Filed under: Penelitian

PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG PADA PEMBERIAN KOMPOS

TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN KOMBINASI DOSIS PUPUK NPK

(The growth of maize applied by palm oil empty bunch compost combined with NPK fertilizers)

Gusti Irya Ichriani, Yustinus Sulistiyanto, Siti Zubaidah, Panji Surawijaya, Ruben S. Tinting

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Email : ichriani@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian bertujuan membandingkan pertumbuhan tanaman jagung setelah pemberian  kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kombinasi dosis pupuk NPK yang berbeda.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap  Faktorial. Faktor pertama : kompos TKKS 4 taraf dosis perlakuan (0, 5, 10, 15 ton.ha-1) dan faktor kedua : pupuk NPK  3 taraf dosis perlakuan yaitu  (tanpa pupuk NPK;  Pupuk N 100kg.ha-1 + pupuk P 50kg.ha-1 + pupuk K 25kg.ha-1;  Pupuk N 200kg.ha-1 + pupuk P 100kg.ha-1 + pupuk K 50kg.ha-1), terdapat 12 kombinasi perlakuan dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung pada umur 3-5 mst. Dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk N-100;P-50;K-25 mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain.

Kata Kunci : Kompos tandan kosong kelapa sawit, kombinasi pupuk NPK, tanaman jagung

ABSTRACT

The study was aimed to compare the growth of maize after applied by palm oil empty bunch (POEB) compost and combination doses of NPK fertilizers. This study used completely randomized factorial design. The first factor: Doses of  POEB compost were 4 levels (0, 5, 10, 15 ton.ha-1) and the second factor: the combination doses of NPK fertilizers were 3 levels (without NPK fertilizers; 100kg.ha-1 of N fertilizer + 50kg.ha-1 of P fertilizer + 25kg.ha-1 of K fertilizer; 200kg.ha-1 of N fertilizer + 100kg.ha-1 of P fertilizer + 50kg.ha-1 of K fertilizer), obtained 12 treatments combined and each combinated of treatment repeated 4 times. The results showed that an interaction between doses of POEBcompost and combination doses of NPK fertilizers gave a significant effect on the vegetative growth of maize in 3-5 weeks after planting. The doses of POEB compost 5 ton.ha-1 and the combination fertilizers of  N-100, P-50, K-25 have a significantly different effect compared with other combinations of treatments.

combinations of treatments.

Key words :Palm oil compost, combination of NPK fertilizers, maize

 


PENDAHULUAN

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan perkebunan maupun industri kelapa sawit. Keadaan agroklimat yang mendukung, masih adanya ketersediaan lahan, letak geografis yang strategis dan ketersediaan tenaga kerja yang cukup banyak menjadi modal utama dalam pengembangan industri kelapa sawit. Akan tetapi, dari produktivitas kelapa sawit di Indonesia masih sedikit di bawah Malaysia yaitu 3,04 ton TBS/ha sedangkan Malaysia 3,83 ton TBS/ha. Berdasarkan data pada tahun 2007 usaha perkebunan di Kalimantan Tengah didominasi oleh perkebunan kelapa sawit yang diusahakan oleh sektor swasta maupun perkebunan rakyat yaitu 610.588,65 ha (Pemerintah Daerah Kalteng, 2007).

Keberadaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit merupakan sumber limbah padat dan cair yang besar yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu limbah padat yang dihasilkan adalah tandan sawit kosong (TKKS) yang jumlahnya sekitar 22 -23% atau 220 -230 kg dari jumlah tandan buah segar (TBS) yang diolah. Potensi limbah padat TKKS di Indonesia pada tahun 2004 mencapai 18.2 juta ton (Politeknik Citra Widya Edukasi, 2008). Tandan kosong kelapa sawit merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara utama yang diperlukan tanaman. Dalam setiap ton TKKS mengandung unsur hara N, P, dan Mg setara dengan 3 kg Urea, 0,6 kg CIRP, 12 kg MOP dan 2 kg Kiserit (Loong et.al., 1987 dalam Darnoko dan Sembiring, 2005). Beberapa penelitian penggunaan TKKS dalam bentuk kompos pada tanaman hortikultura memberikan hasil yang cukup baik (Darmosarkoro et.al., 2000 dalam Darnoko dan Sembiring 2005). Selain tanaman hortikultura, TKKS sebagai sumber hara dapat digunakan pada tanaman pangan seperti jagung sehingga sangat berpotensi untuk mengurangi kebutuhan terhadap pupuk anorganik.

Produksi jagung di Kalimantan Tengah terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan jagung. Pada tahun 2005 produksi jagung mencapai 2.400 ton dengan luas areal tanam 1.447 ha, meningkat menjadi 7.367 ton di tahun 2006 dengan luas tanam 2.569 ha (Badan Pusat Statistik, 2006). Kecenderungan untuk peningkatan produksi jagung ini memerlukan input produksi yang lebih banyak termasuk keperluan pupuk. Kesulitan memperoleh pupuk anorganik dan harga yang mahal menjadi momentum untuk mengupayakan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dengan menggunakan bahan organik. Keberadaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Kalimantan Tengah ini diharapkan dapat bersinergi dengan pertanian tanaman pangan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemanfaatan limbah padat TKKS sebagai bahan organik untuk penambah unsur hara tanah sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung.

Penelitian ini bertujuan membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman indikator yaitu tanaman jagung setelah pemberian dosis kompos TKKS dan kombinasi dosis pupuk NPK yang berbeda.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan selama 10 (sepuluh) bulan di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian UNPAR dan Laboratorium Analitik UNPAR. Tandan kosong kelapa sawit diperoleh dari Perkebunan Besar Swasta PT BISMA DHARMA KENCANA di Katingan dan tanah  untuk media tanam yang berupa tanah mineral (podsolik merah kening = PMK) juga diambil di wilayah sekitar PBS PT BISMA DHARMA KENCANA.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  TKKS, tanah PMK, bioaktivator Tricoderma, kompos TKKS, pupuk N dari pupuk Urea, pupuk P dari pupuk SP-36 dan pupuk K dari pupuk KCl, bahan pembuat kompos (dedak, sekam padi, gula pasir, air), benih jagung, polibag 10 kg, plastik klep, plastik sampling, terpal plastik,  karung plastik dan kertas label. Alat yang digunakan terdiri dari neraca analitik, timbangan 10 kg dan 20 kg, meteran, termometer alkohol, sprayer, oven, pH meter, pengocok tanah, ayakan > 2mm, gunting, alat pengaduk dan jangka sorong, alat pencacah TKKS (parang) dan  alat-alat tulis.

Penelitian ini merupakan penelitian percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis kompos TKKS dengan 4 taraf perlakuan dan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK dengan 3 taraf perlakuan. Perlakuan kombinasi yang diperoleh sebanyak 12 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi diulang 4 kali. Total satuan percobaan adalah 12 x 4 =  48 satuan percobaan.

Faktor yang diujikan terdiri atas  :(1) kompos TKKS (K) 4 taraf dosis perlakuan yaitu 0 ton.ha-1 (K0), 5 ton.ha-1 (K5), 10 ton.ha-1 (K10), dan  15 ton .ha-1 dan (2)  pupuk NPK (P) 3 taraf  dosis perlakuan yaitu : Tanpa pupuk  (P1);  pupuk N 100 kg.ha-1 + pupuk P 50 kg.ha-1 + pupuk K 25 kg.ha-1 (P2); dan pupuk  N 200 kg.ha-1 + pupuk P 100 kg.ha-1 + pupuk K 50 kg.ha-1 (P3).

 

Tabel 1. Hasil analisis tanah yang digunakan sebagai media tanam

No

Parameter Analisis

Hasil Analisis

No

Parameter Analisis

Hasil Analisis

1

pH H2O 1 :2,5

4,51

6

Mg-dd (me.100g-1)

0,18

2

N-total (%)

0,16

7

Kejenuhan Basa (%)

3,19

3

P-tersedia (ppm)

15,99

8

KTK (me.100g-1)

22,32

4

K-dd (me.100g-1)

0,04

9

Al-dd (me.100g-1)

0,39

5

Ca-dd (me.100g-1)

0,46

10

H-dd (me.100g-1)

0,20

Sumber : Hasil analisis tanah di UPT. Laboratorium Dasar dan Analitik, UNPAR


Pelaksanaan

Tanah mineral yang sudah ditimbang dan dicampur dengan masing-masing perlakuan, diinkubasi 1 minggu dengan tetap mempertahankan kadar airnya. Sebelumnya tanah sudah dianalisis pendahuluan (Tabel 1). Polibag disusun dengan jarak tanam 40 x 70 cm. Setelah masa inkubasi, benih jagung ditanam pada kedalaman 2 cm sebanyak 2 biji per polibag.

Untuk parameter penelitian pertumbuhan tanaman jagung pada perlakuan pemberian kompos TKKS dan pupuk NPK meliputi  tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), dan diameter batang (cm), ketiga parameter ini diukur  pada umur 3,4,5, 6 dan 7 mst, berat basah tajuk (gram),berat basah akar (gram), berat kering tajuk (gram), berat kering akar (gram), pengamatan 4 parameter ini dilakukan setelah dilakukan panen pada 12 mst.

Data hasil pengamatan diolah dengan menggunakan Uji F dengan taraf  a 5% untuk melihat pengaruh faktor-faktor atau interaksi dari kombinasinya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Apabila terdapat pengaruh nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT taraf a 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan antara dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh interaksi yang nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang pada 3-5 mst serta pada jumlah daun pada 3 mst. Faktor tunggal masing-masing yaitu dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada semua periode pengamatan.

Tabel 2, 3 dan 4 menunjukkan nilai rata-rata dan hasil uji DMRT terhadap tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun akibat pengaruh perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK yang diberikan.  Berdasarkan data rata-rata hasil pengamatan dan hasil uji DMRT terhadap tinggi tanaman (Tabel 2) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan K5P1 (dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk  N-100;P-50;K-25) memberikan pengaruh yang berbeda nyata di 3 mst. Pada 4-5 mst antara K0P2, K5P1, dan K15Pmemberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan lainnya. Namun di antara ketiga kombinasi perlakuan tersebut, interaksi perlakuan  K5P1 menunjukkan pengaruh yang paling positif terhadap tinggi tanaman jagung.

Pada Tabel 3. memperlihatkan diameter tanaman jagung yang menunjukkan pola hasil analisis yang hampir sama dengan parameter tinggi tanaman. Pada 3 mst,  interaksi perlakuan K5P1 memiliki pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain, sedangkan pada 4 mst interaksi perlakuan K5P1, K10P0, K10P1, dan K15P2 memberikan pengaruh yang sama, hal yang juga terjadi pada K5P1 dan  K10P0  di 5 mst. Namun kombinasi perlakuan K5P1 menunjukkan pertumbuhan diameter batang yang paling besar dibandingkan kombinasi perlakuan lain yang juga mempunyai pengaruh yang sama.

Analisis DMRT terhadap jumlah daun tanaman jagung pada 3 mst menghasilkan interaksi perlakuan K5P1 memberikan pengaruh berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya (Tabel 4).  Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun akibat adanya interaksi kombinasi perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK. Terjadinya interaksi ini mengindikasikan bahwa tanah yang digunakan pada penelitian memerlukan kedua perlakuan tersebut supaya dapat digunakan sebagai media pertanaman. Berdasarkan hasil analisis tanah, tanah yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah.

Tabel 2.  Rerata tinggi (cm) tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata tinggi (cm) tanaman pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

30,13

39,70a

51,73a

64,63a

74,68

86,95

K0P1

40,53

53,98ab

70,35ab

88,90abc

102,30

120,23

K0P2

36,95

55,25ab

75,20b

95,78c

107,53

122,78

K5P0

31,80

45,30ab

57,73a

72,78abc

81,85

95,43

K5P1

35,55

61,20b

80,48b

97,05c

107,15

118,58

K5P2

31,05

41,20a

55,13a

66,88ab

75,83

86,88

K10P0

33,38

49,15ab

69,30ab

85,13abc

95,85

108,68

K10P1

30,40

44,68ab

63,53ab

77,73abc

85,53

97,38

K10P2

31,93

45,33ab

62,53ab

76,75abc

85,60

98,23

K15P0

29,45

41,95a

59,85ab

76,05abc

91,78

105,75

K15P1

32,13

42,78a

57,88a

73,03abc

82,93

98,13

K15P2

37,00

54,98ab

75,43b

94,78bc

109,03

126,15

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom berbeda menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

Tabel 3.  Rerata diameter batang tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata diameter (cm) batang pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

0,443

0,483a

0,575a

0,768a

0,910

1,033

K0P1

0,490

0,580a

0,783ab

1,013ab

1,125

1,208

K0P2

0,463

0,565a

0,800ab

1,118ab

1,180

1,223

K5P0

0,443

0,520a

0,663ab

0,865ab

0,895

0,963

K5P1

0,580

0,798b

1,110b

1,273b

1,330

1,380

K5P2

0,428

0,515a

0,635ab

0,758a

0,808

1,110

K10P0

0,503

0,673ab

0,990b

1,233b

1,280

1,310

K10P1

0,443

0,580a

0,910b

0,983ab

1,078

1,195

K10P2

0,445

0,568a

0,768ab

0,970ab

1,065

1,168

K15P0

0,420

0,505a

0,708ab

0,920ab

1,078

1,368

K15P1

0,468

0,568a

0,703ab

0,920ab

1,063

1,200

K15P2

0,548

0,680ab

0,975b

1,110ab

1,245

1,365

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom berbeda menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

Tabel 4.   Rerata jumlah daun (helai) tanaman jagung pada umur 2-7 mst pada perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK

Perlakuan

Rerata jumlah daun (helai) pada umur

2 mst

3 mst

4 mst

5 mst

6 mst

7 mst

K0P0

1,75

3,00a

3,50

3,75

4,00

4,50

K0P1

2,75

3,75ab

4,50

4,50

5,50

5,75

K0P2

2,00

3,50ab

4,25

4,50

4,25

5,50

K5P0

2,75

2,75a

3,75

3,75

4,00

4,25

K5P1

3,25

4,50b

5,00

4,75

4,75

5,25

K5P2

2,50

2,75a

3,25

3,25

3,50

3,75

K10P0

2,75

3,75ab

5,00

5,00

5,25

5,25

K10P1

2,50

3,25a

4,25

4,00

4,00

5,25

K10P2

2,50

3,00a

3,75

4,25

4,25

5,25

K15P0

2,50

3,00a

4,00

4,00

5,50

5,25

K15P1

2,75

3,00a

3,75

4,25

4,50

5,00

K15P2

2,50

3,50ab

4,25

4,50

5,50

5,25

Keterangan :   huruf-huruf superskrip pada kolom menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata menurut uji DMRT a = 0,05

 

Pengaruh interaksi perlakuan tersebut baru terlihat nyata pada 3-5 mst, ini dikarenakan tanaman jagung sebagai tanaman indikator mulai memerlukan asupan hara cukup besar dari media tanam untuk menunjang pertumbuhan vegetatifnya. Namun setelah  5 mst, pengaruh perlakuan tidak berpengaruh nyata, diduga diakibatkan asupan hara yang tersedia sudah sangat rendah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman.

Penggunaan TKKS sebagai bahan dasar kompos memerlukan waktu relatif cukup lama untuk menghasilkan kompos yang benar-benar matang. Kandungan C yang tinggi dalam TKKS mempengaruhi kecepatan dekomposisi bahan ini. Hasil analisis jaringan terhadap TKKS memperlihatkan rasio C/N TKKS yang tidak diberi  bioaktivator adalah 72,8% sedangkan TKKS yang diberi bioaktivator EM dan Trichoderma masing-masing memiliki rasio C/N 68,2% dan  70,5%.  Jadi walaupun telah dibantu dengan penambahan bioaktivator, TKKS tetap memerlukan waktu lebih lama (>2 bulan) untuk proses dekomposisinya.

Masih tingginya rasio C/N pada kompos TKKS yang diberikan ke media tanah menyebabkan proses dekomposisi relatif masih aktif. Dalam proses dekomposisi untuk bahan kompos yang memiliki rasio C/N tinggi memerlukan banyak  unsur  N untuk membantu mikroba merombak bahan kompos tersebut. Menurut  Sudiarto dan Gusmaini (2004) pemberian bahan organik dengan rasio C/N tinggi akan memicu pembiakan mikroba atau mengakibatkan immobilisasi unsur N untuk sementara waktu, namun seiring menurunnya rasio C/N  dan sebagian mikroba mati, maka  melalui proses dekomposisi unsur hara menjadi tersedia kembali. Oleh karena diduga unsur N dari pupuk N yang diberikan ke tanah juga digunakan mikroba untuk perombakan sehingga diduga terjadi persaingan kebutuhan unsur N antara tanaman indikator dengan mikroba perombak. Hal ini ditunjukkan dari hasil pengamatan parameter pertumbuhan vegetatif  yang memperlihatkan indikasi bahwa semakin besar dosis kompos TKKS dan semakin besar dosis pupuk NPK yang diberikan maka pengaruhnya tidak berbeda nyata dengan tanpa diberi kompos TKKS.

Berdasarkan hasil analisis jarigan kompos TKKS unsur-unsur hara seperti P, K, Ca, dan Mg yang sangat tinggi (Tabel 2). Namun rendahnya tingkat dekomposisi bahan kompos menyebabkan unsur-unsur tersebut tidak dapat termineralisasi dan tidak tersedia bagi tanaman. Unsur-unsur tersebut cenderung mengalami immobilisasi dalam bentuk unsur organik. Secara umum akar tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah dalam bentuk unsur-unsur anorganik yang terlarut dalam larutan tanah bukan dalam bentuk unsur organik. Hal ini menyebabkan tanaman jagung dalam penelitian ini mengalami defisiensi unsur hara, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

 

KESIMPULAN

 

  1. Interaksi perlakuan dosis kompos TKKS dan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung yaitu tinggi tanaman dan diameter batang pada 3-5 mst kecuali jumlah daun hanya pada 3 mst.
  2. Dosis kompos TKKS 5 ton.ha-1 dan dosis pupuk N-100;P-50;K-25 mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan kombinasi perlakuan lain.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pengelola PHK A-2 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya yang telah sepenuhnya mendanai penelitian ini melalui kegiatan Research Grant pada Tahun Anggaran 2009.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Pusat Statistik. 2006. Kalimantan Tengah dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah.

Darnoko, D dan Sembiring. 2005. Sinergi antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Pertanian Melalui Aplikasi Kompos TKS untuk Tanaman Padi. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit 2005 : Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Pemupukan dan Pemanfaatan Limbah PKS. April 2005. Medan.

Indriani, Y.H. 2007. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Matoa. 2009. Membuat kompos. http://matoa.org/

Nawansih, O., T. Hanum dan F. Nurainy. 2008. Kajian Penggunaan Inokulum pada Proses Pengomposan Bagasse. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Lampung.

Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah. 2007. Informasi Umum Kalimantan Tengah. www.kalteng.go.id.2007.

Politeknik Citra Widya Edukasi. 2008. Cara Mudah Mengomposkan Tandan Kosong Kelapa Sawit. politeknikcitrawidyaedukasi.blogspot.com

Sudiarto dan Gusmaini. 2004. Pemanfaatan Bahan Organik In Situ untuk Efisiensi Budidaya Jahe yang Berkelanjutan. Jurnal Litbang Pertanian Vol 23 No2. Hal  37-45. www.pustaka.deptan.go.id/pdf




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.