JURNAL ILMIAH AGRIPEAT FAPERTA UNPAR


HASIL DAN KUALITAS RUMPUT GAJAH (Pannisetum puspureum) YANG DIBERI LIMBAH BIOGAS CAIR KOTORAN TERNAK PADA LAHAN GAMBUT PEDALAMAN == Sih Winarti,1) Robertho Imanuel 1) dan Yecolin Araini2)
16 Februari 2013, 2:12 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

HASIL DAN KUALITAS  RUMPUT GAJAH (Pannisetum puspureum) YANG DIBERI LIMBAH BIOGAS CAIR KOTORAN TERNAK PADA LAHAN GAMBUT PEDALAMAN

(Yield and Quality of elephant grass given the biogas waste liquid manure on peatland)

Sih Winarti,1) Robertho Imanuel 1) dan Yecolin Araini2)

1 ) Dosen Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya, 2) Staf pada Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah

E-mail : sih_winarti@yahoo.com

 

ABSTRACT

This study aims to determine the yield and  quality of elephant grass given the biogas waste liquid manure on peatlands.The experiment was conducted in the field Jl. Tingang Km 10, Palangka Raya. The design used in this study was a randomized block design with 6 treatment of liquid organic fertilizer that is 0, 2, 4, 6, 8 and 10 mL/L water with 5 replicates. The result showed that the liquid organic fertilizer with increasing doses until the dose of 8 mL/L water grass production increased significantly. Best  grass production is obtained with liquid organic fertilizer 6 mL/L water  is 8 t ha-1, while the best quality of elephant grass obtained with liquid organic fertilizer 8 mL/L water with a protein content 11,70 %, 57,89 % crude fiber,  77,62 % water content, 33,48 % C-organic and 9,20% fat.

 Keyword : Yield and Qualit, biogas, elephant grass, peatland

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dan kualitas rumput gajah yang diberi limbah biogas cair kotoran ternak pada lahan gambut pedalaman, yang dilaksanakan di lahan pekarangan Jl.  Tingang Km 10 Palangka Raya. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 (enam) perlakuan dosis pupuk organik cair limbah biogas : 0, 2, 4, 6, 8, 10 mL/L air diulang 5 kali.  Hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian pupuk organik cair dengan dosis yang semakin tinggi sampai dengan dosis 8 mL/L air, produksi rumput gajah meningkat secara nyata.  Produksi rumput gajah tertinggi diperoleh dengan memberian pupuk organik cair 6 mL/L air yaitu 8 t ha-1, sedangkan kualitas rumput gajah terbaik diperoleh dengan pemberian pupuk organik cair 8 mL/L air dengan kandungan protein 11,70 %, serat kasar 57,89 %; kadar air 77,62%; C-organik 33,48%; dan lemak 9,20 %.

Kata kunci : Hasil dan Kualitas, Biogas, Rumput Gajah, gambut



JAMUR KONSUMSI LOKAL PADA DAERAH KALAMPANGAN DAN POTENSINYA TERHADAP PATOGEN Colletotrichum capsici == Adrianson Agus Djaya*, Yanetri Asi Nion, Ici Piter Kulu dan Sumarlan
16 Februari 2013, 2:11 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

JAMUR KONSUMSI LOKAL PADA DAERAH KALAMPANGAN DAN POTENSINYA TERHADAP PATOGEN Colletotrichum capsici

(Local Edible Mushrooms in Kalampangan and Its Potential Against Pathogen Colletotrichum capsici)

Adrianson Agus Djaya*, Yanetri Asi Nion, Ici Piter Kulu dan Sumarlan

Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,

Unviersitas Palangka Raya, Indonesia

*adriansondj@yahoo.com

ABSTRACT

Study of biological diversity, dominance, ecological, and to get local edible mushroom isolates, then to know the ability of mushroom isolates in suppressing the pathogen Colletotrichum capsici were done in July 2010 to February 2011​​. Observation method used in the field, then continued in the laboratory for activity in vitro. Biodiversity index (H’) and dominance index (C) of local edible mushrooms Kalampangan, both located at the former location of fire (the value of H’= 0.22 and the value of C= 0.18) and unburned locations (the value of H’= 0,29, and the value of C= 0.07) was still low. The types of local edible mushroom of the interview there were eight known types of mushroom such as kulat siau, kulat bantilung, kulat kritip, kulat bitak (Ear mushroom), kulat puti (oyster mushroom), kulat bango, kulat maharu, and kulat mata pelanduk (mushroom name in Dayak Ngaju language), but the type of edible mushroom found during the observation there were only two types namely kulat kritip (Schizophyllum commune) and kulat bitak (Auricularia sp). Both fungi are living huddled on wooden sticks, twigs die, the dead stump. Kulat kritip was more dominant than bitak. Kulat kritip dominant grows on burned sites but kulat bitak prefer on unburned sites. Antagonist dual culture test results showed that the kulat kritip isolates inhibited the growth of pathogenic C. capsici to 41%, whereas the kulat bitak not have the ability to suppress pathogen.

Key words: Local edible mushroom, Kalampangan, potential, Colletotrichum capsici

 

ABSTRAK

Penelitian untuk mengetahui keanekaragaman hayati, dominasi, ekologi, dan mendapatkan isolat jamur konsumsi lokal serta mengetahui kemampuan isolat jamur konsumsi lokal dalam menekan patogen Colletotrichum capsici pada bulan Juli 2010 sampai Februari 2011 telah dilakukan. Metode observasi digunakan di lapangan yang kemudian dilanjutkan di laboratorium untuk kegiatan uji in vitro. Indeks keanekaragaman hayati (H) dan indeks dominasi (C) jamur konsumsi lokal pada daerah Kalampangan, baik yang berada di lokasi bekas terbakar (nilai H’= 0,22 dan nilai C= 0,18) maupun lokasi tidak terbakar (nilai H’= 0,29 dan nilai C= 0,07) masih rendah. Jenis-jenis jamur konsumsi lokal hasil wawancara diketahui ada delapan jenis yaitu kulat siau, kulat bantilung, kulat kritip, kulat bitak (jamur kuping), kulat puti (jamur tiram), kulat bango, kulat maharu dan kulat mata pelanduk (nama jamur dalam bahasa Dayak Ngaju), tetapi jenis jamur yang ditemukan selama pengamatan hanya terdapat dua jenis yakni kulat kritip (Schizophyllum commune) dan kulat bitak (Auricularia sp). Kedua jamur tersebut hidup bergerombol pada batang kayu, ranting mati, tunggul kayu yang mati. Kulat kritip lebih dominan dari pada kulat bitak. Kulat kritip dominan tumbuh di lokasi bekas terbakar, sedangkan kulat bitak dominan tumbuh di lokasi yang tidak terbakar. Hasil uji antagonis dual culture menunjukkan bahwa isolat kulat kritip mampu menghambat pertumbuhan patogen C. capsici sampai 41%, sedangkan isolat kulat bitak tidak mempunyai kemampuan dalam menekan patogen.

Kata kunci : Jamur konsumsi lokal, Kalampangan, potensi, Colletotrichum capsici



PENGARUH WAKTU APLIKASI PUPUK KANDANG SAPI DAN PUPUK ORGANIK (PETROGANIK) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annum Linn.) == M. Nuzaid Fajrin 1, Mofit Saptono 2, Syahrudin2, Kamillah2
16 Februari 2013, 2:10 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

PENGARUH WAKTU APLIKASI PUPUK KANDANG SAPI DAN PUPUK ORGANIK (PETROGANIK) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annum Linn.)

(Effect of Application Time of Cow Manure and Organic Fertilizer (PETROGANIK) on Growth and production Big Pepper (Capsicum Annuum LINN.))

M. Nuzaid Fajrin 1, Mofit Saptono 2, Syahrudin2, Kamillah2

1  Mahasiswa Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya;

2   Dosen Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya.

ABSTRACT

This study aims to determine the best application time using cow manure and fertilizer Petroganik on growth and yield of hot pepper (Capsicum annuum Linn.). This study using Completely Randomized Design (CRD) consisting of two factors: time of fertilizer application and type of organic fertilizer. When an application is made that is 1 week before planting, 2 weeks before planting, 3 weeks before planting, 4 weeks before planting and 5 weeks before planting, and organic fertilizer used is cow manure and fertilizer Petroganik. The result showed that the interaction of treatment time and type of organic fertilizer application of organic fertilizer to give real effect on the number of productive branches, fruit number and weight of fresh chili. The average number of productive branches obtained is 7.00 at the time of application of cow manure 2 weeks before planting. The average number of fruit and fruit fresh weight of each chili namely 9.25 and 63.92 grams at the time of fertilizer application Petroganik 5 weeks before planting.

Keywords: large peppers, cow manure, fertilizer Petroganik, time applications.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu aplikasi terbaik dengan menggunakan pupuk kandang sapi dan pupuk Petroganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (Capsicum annum Linn.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu waktu aplikasi pupuk dan jenis pupuk organik. Waktu aplikasi yang dilakukan yaitu 1 minggu sebelum tanam, 2 minggu sebelum tanam, 3 minggu sebelum tanam, 4 minggu sebelum tanam dan 5 minggu sebelum tanam, dan pupuk organik yang digunakan yaitu pupuk kandang sapi dan pupuk Petroganik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan waktu aplikasi pupuk organik dan jenis pupuk organik memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah cabang produktif, jumlah buah dan berat segar cabai besar. Rata-rata jumlah cabang produktif yang diperoleh yaitu 7,00 pada waktu aplikasi pupuk kandang sapi 2 minggu sebelum tanam. Rata-rata jumlah buah dan berat segar buah cabai besar masing-masing yaitu 9,25 dan 63,92 gram pada waktu aplikasi pupuk Petroganik 5 minggu sebelum tanam.

Kata kunci : cabai besar, pupuk kandang sapi, pupuk Petroganik, waktu aplikasi



EFEKTIVITAS PESTISIDA NABATI SIRSAK TEMBAKAU MENGIMBAS KETAHANAN BUAH CABAI BESAR PASCAPANEN TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA == Rahmawati Budi Mulyani dan Adrianson Agus Djaya
16 Februari 2013, 2:09 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

EFEKTIVITAS PESTISIDA NABATI SIRSAK TEMBAKAU  MENGIMBAS  KETAHANAN BUAH CABAI BESAR PASCAPANEN TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA

(Effectiveness  Soursop Tobacco Phytopesticides Induce Resistance To Antracnose Disease

On Pepper Postharvest)

Rahmawati Budi Mulyani dan Adrianson Agus Djaya

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Email :  rahmawati.mulyani@yahoo.com

 ABSTRACT

Anthracnose disease on pepper cause reduce production to 60%. Another alternative for disease control is to use phytopesticides from plants. Soursop and tobacco is a plant species that can be used as a phytopesticide materials, because these plants produce secondary metabolites such as phenols and alkaloids.  The application extracts of soursop tobacco on generative phase induce pepper plants resistance against infection of pathogen anthracnose in storage. Testing method in the laboratory use method of dye and test the effectiveness of extracts in vitro using Completely Randomized Design Simplified with E0 = not application soursop tobacco extracts and E1 = with application soursop tobacco  extract. Results show there is not difference from the treatment was observed. However, application of soursop tobacco extracts still have a tendency to slow incubation period (4.29 days to 5.26 days), reduce the  anthracnose wide symptoms (22.47%), lowering the disease intensity to be 82.5%, inhibits the growth diameter of the colony of C. capsici (9.3%) and reduce the number of germinated conidia (31.8%). Soursop tobacco extract is applied to the generative phase not been able to optimally induce resistance and protect against post-harvest pepper anthracnose disease.

Key words: phytopesticide,  induce resistance, anthracnose disease

 

ABSTRAK

Penyakit antraknosa pada tanaman cabai dapat menurunkan produksi sampai 60%.  Alternatif cara pengendalian penyakit tersebut adalah dengan pemanfaatan pestisida nabati yang berasal dari tumbuhan seperti sirih dan tembakau. Tumbuhan ini menghasilkan senyawa metabolit sekunder berupa fenol dan alkaloid. Aplikasi ekstrak sirih dan tembakau pada saat tanaman cabai memasuki fase generatif diharapkan dapat mengimbas ketahanan buah cabai  terhadap infeksi patogen antraknosa (C. capsici) di penyimpanan. Pengujian di laboratorium menggunakan metode celup dan uji efektivitas ekstrak secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap Sederhana dengan perlakuan E0 = tidak diaplikasi ekstrak sirsak tembakau dan E1 = aplikasi ekstrak sirsak tembakau. Tidak terdapat perbedaan yang nyata dari perlakuan ekstrak sirsak tembakau terhadap parameter yang diamati, namun demikian aplikasi ekstrak sirsak tembakau cenderung memperlambat masa inkubasi (4,29 hari menjadi 5,26 hari), mengurangi luas gejala antraknosa (22.47 %), menurunkan intensitas serangan penyakit menjadi 82,5%, menghambat pertumbuhan diameter koloni C. capsici (9,3%) dan mengurangi jumlah konidia yang berkecambah (31,8%).  Ekstrak sirsak tembakau yang diaplikasikan pada fase generatif tanaman cabai belum mampu secara optimal mengimbas ketahanan dan melindungi buah cabai pasca panen terhadap penyakit antraknosa.

Kata kunci  :  pestisida nabati, ketahanan terimbas, penyakit antraknosa



SISTEM TUMPANGSARI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) DENGAN KEDELAI (Glycine max L.) PADA BERBAGAI WAKTU TANAM DI LAHAN BERGAMBUT == Trisendi*, Siti Zubaidah**, Hastin Ernawati NCC**
16 Februari 2013, 2:08 pm
Filed under: Penelitian | Tag:

SISTEM TUMPANGSARI  JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) DENGAN KEDELAI (Glycine max L.) PADA BERBAGAI WAKTU TANAM DI LAHAN BERGAMBUT

(Intercropping System Of Sweet Corn (Zea mays saccharata sturt) With Soybean (Glycine max l.) On Various Time Planting In The Peaty Land)

 Trisendi*, Siti Zubaidah**, Hastin Ernawati NCC**

*Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Jurusan Budidaya Pertanian

** Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi Jurusan Budidaya Pertanian,

Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

 ABSTRACT

This study aims to determine the effect of both soybean planting time on growth and yield of sweet corn and soybean and to determine intercropping sweet corn with soybean which is the most efficient. The study design used were 5 treatments namely monoculture sweet corn, soybean planting time 10 days before planting sweet corn, soybean planting time along with sweet corn, soybean planting time 10 days after planting sweet corn, soybean monoculture. Variables observed on soybean were plant height, leaf number, leaf area, dry weight, number of pods, seed weight. While sweet corn were plant height, leaf number, leaf area, dry weight, cob weight. The results showed that intercropping soybean planting time 10 days before planting sweet corn influenced plant height, number of seed per plot, seed weight per plot and seed weight per plant. The best planting time for intercropped soybean with sweet corn was  soybean planting time 10 days before planting sweet corn  treatment with LER value 1.41.

 Keywords: Intercropping, sweet corn, soybeans, planting time, peaty land.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu tanam kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dan kedelai serta mengetahui tumpangsari jagung manis dengan kedelai yang paling efisien. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 5 taraf perlakuan, yaitu monokultur jagung manis, waktu tanam kedelai 10 hari sebelum tanam jagung manis, waktu tanam kedelai bersamaan dengan jagung manis, waktu tanam kedelai 10 hari setelah tanam jagung manis, monokultur kedelai. Variabel yang diamati pada kedelai adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot brangkas kering, jumlah polong, bobot biji. Sedangkan jagung manis adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot brangkas kering, bobot tongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tanam kedelai dalam sistem tumpangsari jagung manis dan kedelai berpengaruh nyata pada bobot tongkol jagung manis per petak. Sedangkan pada tanaman kedelai berpengaruh nyata dan sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, bobot biji per petak dan bobot biji per pertanaman. Saat tanam yang paling baik adalah perlakuan waktu tanam kedelai 10 hari sebelum tanam jagung manis dengan nilai NKL 1,41.

Kata kunci : Tumpangsari, jagung manis, kedelai, waktu tanam, lahan bergambut.



SISTEM TUMPANGSARI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) DENGAN KEDELAI (Glycine max L.) PADA BERBAGAI WAKTU TANAM DI LAHAN BERGAMBUT == Trisendi*, Siti Zubaidah**, Hastin Ernawati NCC**
16 Februari 2013, 1:59 pm
Filed under: Penelitian

SISTEM TUMPANGSARI  JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) DENGAN KEDELAI (Glycine max L.) PADA BERBAGAI WAKTU TANAM DI LAHAN BERGAMBUT

(Intercropping System Of Sweet Corn (Zea mays saccharata sturt) With Soybean (Glycine max l.) On Various Time Planting In The Peaty Land)

 Trisendi*, Siti Zubaidah**, Hastin Ernawati NCC**

*Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Jurusan Budidaya Pertanian

** Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi Jurusan Budidaya Pertanian,

Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

 ABSTRACT

This study aims to determine the effect of both soybean planting time on growth and yield of sweet corn and soybean and to determine intercropping sweet corn with soybean which is the most efficient. The study design used were 5 treatments namely monoculture sweet corn, soybean planting time 10 days before planting sweet corn, soybean planting time along with sweet corn, soybean planting time 10 days after planting sweet corn, soybean monoculture. Variables observed on soybean were plant height, leaf number, leaf area, dry weight, number of pods, seed weight. While sweet corn were plant height, leaf number, leaf area, dry weight, cob weight. The results showed that intercropping soybean planting time 10 days before planting sweet corn influenced plant height, number of seed per plot, seed weight per plot and seed weight per plant. The best planting time for intercropped soybean with sweet corn was  soybean planting time 10 days before planting sweet corn  treatment with LER value 1.41.

 Keywords: Intercropping, sweet corn, soybeans, planting time, peaty land.

 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu tanam kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dan kedelai serta mengetahui tumpangsari jagung manis dengan kedelai yang paling efisien. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 5 taraf perlakuan, yaitu monokultur jagung manis, waktu tanam kedelai 10 hari sebelum tanam jagung manis, waktu tanam kedelai bersamaan dengan jagung manis, waktu tanam kedelai 10 hari setelah tanam jagung manis, monokultur kedelai. Variabel yang diamati pada kedelai adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot brangkas kering, jumlah polong, bobot biji. Sedangkan jagung manis adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot brangkas kering, bobot tongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tanam kedelai dalam sistem tumpangsari jagung manis dan kedelai berpengaruh nyata pada bobot tongkol jagung manis per petak. Sedangkan pada tanaman kedelai berpengaruh nyata dan sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, bobot biji per petak dan bobot biji per pertanaman. Saat tanam yang paling baik adalah perlakuan waktu tanam kedelai 10 hari sebelum tanam jagung manis dengan nilai NKL 1,41.

 Kata kunci : Tumpangsari, jagung manis, kedelai, waktu tanam, lahan bergambut.



KEMAMPUAN Pseudomonas KELOMPOK FLUORESCEN DARI KABUPATEN TABALONG MENEKAN PERTUMBUHAN Ralstonia solanacearum SECARA In Vitro == Elly Liestiany, Edwin Noor Fikri dan Endang Susilowati DH
16 Februari 2013, 1:58 pm
Filed under: Penelitian

KEMAMPUAN Pseudomonas KELOMPOK FLUORESCEN DARI  KABUPATEN TABALONG MENEKAN PERTUMBUHAN Ralstonia solanacearum  SECARA In Vitro

(The ability of Pseudomonas fluorescens Group of Tabalong Regency In inhibiting the growth of Ralstonia solanacearum in vitro)

 

Elly Liestiany1, Edwin Noor Fikri1 dan Endang Susilowati D. H2

1 Staf Pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unlam

2 Alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unlam

ABSTRACT

This research was aimed to get Pseudomonas isolate of Fluorescens group which has antagonistic characteristic specipically derived from Tabalong Regency,  in inhibiting the growth of Ralstonia solanacearum in vitro.  R. solanacearum was isolated from wilt – symptomed banana tree taken from the farmers garden in Murung Pudak Subdistrict, wheareas Pseudomonas of Fluorescens group was isolated from Tanta Subdistrict, Murung Pudak and Tanjung Subdistrict, Tabalong Regency.  The bacteria isolates obtained were then determined by using phenotiphic characteristic test.  The observation was done within 24 hours after inoculation by measuring the inhibition zone formed using pecaliper.  The in vitro antagonistic test result showed that three isolates of Pseudomonas of Fluorescens group, i.e ; isolate Pf1 MP from Murung Pudak Subdistrict, isolate Pf2 TT from Tanta Subdistrict and isolate Pf3 TJG from Tanjung Subdistrict could inhibit the growth of        R. solanacearum.

 

Key Words  :   Bacterial wilt, Pseudomonas fluorescens, Ralstonia solanacearum.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat Pseudomonas kelompok Fluorescens yang bersifat antagonisme spesifik lokasi dari Kabupaten Tabalong untuk menekan pertumbuhan Ralstonia solanacearum secara in vitro.  R. solanacearum diisolasi dari tanaman pisang bergejala layu yang diambil di kebun petani di Kecamatan Murung Pudak sedangkan Pseudomonas kelompok Fluorescens diisolasi dari Kecamatan Tanta, Murung Pudak dan Tanjung dari Kabupaten Tabalong.  Isolat-isolat bakteri yang diperoleh dideterminasi dengan melakukan pengujian sifat-sifat fenotip.  Pengamatan dilakukan      24 jam setelah inokulasi dengan mengukur diameter zona penghambatan yang terbentuk menggunakan jangka sorong.  Hasil uji antagonisme in vitro menunjukkan bahwa ketiga isolat Pseudomonas kelompok fluorescens yaitu isolat Pf1 MP dari Kecamatan Murung Pudak, isolat Pf2 TT dari Kecamatan Tanta dan isolat Pf3 TJG dari Kecamatan Tanjung mampu menekan pertumbuhan R. solanacearum.

Kata Kunci :  Layu bakteri, Pseudomonas fluorescens, Ralstonia solanacearum.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.